cover
Contact Name
Aditya Mahatidanar Hidayat
Contact Email
adityamahatidanar@gmail.com
Phone
+6281379843467
Journal Mail Official
tekniksipil@ubl.ac.id
Editorial Address
Jl. Z.A. Pagar Alam No 26, Labuhan Ratu, Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 20872860     EISSN : 27456110     DOI : http://dx.doi.org/10.36448/jts.v14i1
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil ini memberikan para peneliti dan praktisi di bidang teknik struktural dan sipil dengan forum unik untuk menyebarkan ide dan teknik baru dengan dampak potensial yang signifikan. Jurnal Teknik Sipil mengundang pengajuan makalah asli, empiris, dan teoretis serta studi kasus dan resensi buku yang mencakup berbagai bidang Teknik Sipil yang terdaftar (namun tidak terbatas pada) sebagai berikut: 1. Konstruksi dan Bahan Bangunan 2. Rekayasa Struktur dan Gempa 3. Mekanika Batuan dan Rekayasa Geoteknik 4. Teknik Lingkungan 5. Ilmu dan Teknik Air 6. Rekayasa Transportasi 7. Teknik Kelautan dan Kelautan
Articles 142 Documents
Pengaruh Penggunaan Semen Pozzolan Tipe-A Terhadap Kuat Tekan Beton Hery Riyanto
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.972 KB) | DOI: 10.36448/jts.v6i1.905

Abstract

Beton merupakan salah satu bahan bangunan konstruksi yang banyak digunakan dalam berbagai struktur.Salah satu bahan pembentuk beton adalah semen.Semen memegang peranan penting dalam pembentukan beton yang memiliki kwalitas dan mutu yang baik.Menurut SK SNI S-04-1989-F mengenai bahan semen, semen yang boleh digunakan untuk pembuatan beton harus dari jenis semen yang ditentukan dalam standar Umum Bahan Bangunan Indonesia dan harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam standar tersebut dan jika menggunakan semen pozzolan, maka semen tersebut harus memenuhi syarat mutu, kimia dan fisika.Lebih lanjut, Rancangan Standar Nasional Indonesia mengenai Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung menyebutkan bahwa semen yang dapat digunakan pada pekerjaan konstruksi harus sesuai dengan semen yang digunakan pada perancangan proporsi campuran.Pemilihan proporsi campuran harus ditentukan untuk menghasilkan kelecakan atau konsistensi yang menjadikan beton mudah dicor, ketahanan terhadap pengaruh lingkungan seperti ketahanan terhadap sulfat, perlindungan korosi. Berdasarkan dari hasil penelitian dan pengujian terhadap kuat tarik balok beton bertulang menggunakan semen pozzolan tipe A didapat kesimpulan sebagai berikut: (1) Penggunaan semen pozzolan tipe A mengakibatkan beton berwarna keputih-putihan, hal ini disebabkan kadar kapur yang dimiliki oleh semen pozzolan tipe A, (2) Penggunaan semen pozzolan tipe A, lebih banyak membutuhkan air dibandingkan dengan semen portland baturaja serta kandungan semen Portland lebih cepat dalam waktu pengikatan awal pada beton, 150 menit pada semen portland baturaja dan 180 menit pada semen pozzolan tipe A dengan penambahan air sebanyak 30%, (3)Pada komposisi 1 semen : 2 pasir : 3 agregat dalam perbandingan volume dengan dimensi diameter 7,1 cm dan tinggi 14,2 cm, pada umur 18, 21 dan 28 hari semakin besar penggunaan pozzolan maka semakin kecil kuat tekan beton tersebut.
Uji Kekakuan Tulangan Baja Pada Sambungan Balok dengan Tulangan Baja Tanpa Tekukan Pada Kedua Ujung Hery Riyanto
Jurnal Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.181 KB) | DOI: 10.36448/jts.v5i1.896

Abstract

Bahan - bahan campuran beton terdiri dari agregat kasar (kerikil), agregat halus (pasir), bahan perekat (semen) dan air secukupnya. Beton mempunyai kekuatan tekan yang cukup besar, namun sangat lemah terhadap kuat tarik. Karena itu penggunaan beton selalu dipadukan dengan bahan yang mempunyai kuat tarik tinggi yaitu baja. Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibandingkan dengan kuat tariknya, dan beton merupakan bahan yang bersifat getas. Nilai kuat tariknya hanya berkisar 9%-15% saja dari kuat tekannya. Beton dengan tulangan baja adalah perpaduan yang sangat kuat, sehingga beton bertulang banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Dalam kenyataannya, tulangan pada struktur beton berfungsi sebagai penahan gaya yang terjadi diatas beton tersebut.Struktur beton tidak mampu untuk menahan gaya tarik, oleh karena itu pada setiap balok -balok beton diberikan tulangan - tulangan yang dapat menahan gaya tarik tersebut. Pengujian beton yang digunakan pada penelitian ini adalah beton kubus dan balok dengan kuat tekan rencana 25 MPa. dengan tulangan besi baja  6 mm untuk sengkang dan 10 mm untuk tulangan utama dan mempunyai panjang 120x15x10 cm. Untuk mendeteksi kuat tekan yang lebih cepat, maka dilakukan pengujian pada umur 7 hari, hingga pada umur 28 hari sesuai dengan spesifikasi. Dari hasil penelitian didapat : (1) Balok bertulang dengan tulangan tanpa sambungan mempunyai nilai kekakuan rata-rata sebesar 175,704 kg/mm, (2)         Balok bertulang dengan tulangan mempunyai sambungan tanpa kait pada kedua ujung mempunyai nilai kekakuan rata-rata sebesar : 160,872 kg/mm, (3) Nilai kekakuan dari beton tulangan tanpa menggunakan sambungan dengan beton tulangan yang menggunakan sambungan tanpa kait pada kedua ujung mempunyai perbedaan kurang lebih 8,38 % lebih besar beton tulangan tanpa sambungan. Hal ini disebabkan dari pengaruh tulangan baja yang sudah tidak murni utuh sehingga mengurangi kekuatan dari baja tersebut.
Optimasi Waktu Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi dengan Metode Jalur Kritis Menggunakan Software Microsoft Project Susilowati SUSILOWATI
Jurnal Teknik Sipil Vol 8, No 1 (2017): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1103.002 KB) | DOI: 10.36448/jts.v8i1.928

Abstract

Suatu proyek terdiri dari berbagai jenis pekerjaan. Antara satu jenis pekerjaan dengan jenis pekerjaan yang lain mempunyai hubungan yang sangat erat. Jenis-jenis pekerjaan itu akan menunjukkan skala besar atau tidaknya suatu proyek. Makin banyak jenis pekerjaan yang akan dilakukan maka makin besar pula skala dari proyek tersebut, demikian pula sebaliknya. Hubungan antara jenis pekerjaan yang satu dengan jenis pekerjaan yang lain pada proyek yang berskala besar akan sangat kompleks, makin kecil skalanya maka hubungan antara jenis pekerjaan akan makin sederhana. Pada beberapa proyek, seringkah terjadi keterlambatan penyelesaian pekerjaan terutama pada waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Metode jalur kritis adalah suatu metode untuk membuat jaringan kerja yang dibuat berdasarkan skala waktu untuk dapat membuat jalur kritis dari jaringan kerja untuk dapat memantau kemajuan atau kemunduran dari suatu pekerjaan sehingga keterlambatan pekerjaan dapat dihindari. Metode jalur kritis sudah merupakan jaringan kerja yang optimal sehingga keterlambatan pada jalur kritis akan mengakibatkan keterlambatan pekerjaan secara keseluruhan yang akan mengakibatkan terjadinya pembengkakan biaya pekerjaan. Dalam Microsoft Project dengan hanya memasukkan jenis kegiatan, durasi serta keterkaitan antar satu kegiatan dan kegiatan yang lainnya dapat dengan mudah didapatkan jalur kritisnya. Tidak perlu membuat jaringan kerja secara manual. Akumulasi waktu pekerjaan dari jalur kritis adalah waktu penyelesaian proyek yang tercepat. Dalam proyek pembangunan Gedung Kantor Pertanahan Kabupaten Tanggamus didapatkan waktu total pelaksanaan proyek yang tercepat adalah 108 hari, lebih cepat 12 hari (2 minggu) dari waktu yang disediakan oleh pemilik proyek yang tercantum dalam dokumen kontrak.
Pengaruh Penambahan Kapur dan Lama Waktu Pemeraman pada Tanah Pasir Berlempung Terhadap Kekuatan Tanah Ronald Nurisko
Jurnal Teknik Sipil Vol 7, No 1 (2016): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.214 KB) | DOI: 10.36448/jts.v7i1.919

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku statis elemen struktur balok beton bertulang pracetak yang disambung dengan sambungan basah. Benda uji yang digunakan adalah balok beton bertulang 30 MPa dengan 6 buah tulangan utama diameter 8 mm yang diletakkan di atas dua tumpuan sendi rol pada masing-masing ujungnya mempunyai penampang prismatis segi empat 10x18 cm2. Sambungan basah adalah sambungan yang menggunakan bahan beton polimer 40 MPa dengan metoda penyambungan menggunakan metoda prepacked. Kajian perilaku statis pada model benda uji untuk mengetahui kekuatan lentur struktur, kekakuan dan pola retak struktur balok akibat beban statis yang diletakkan di tengah bentang. Beban statis adalah beban mempunyai arah dan besar  tetap. Hasil kajian struktur beton yang disambung kemudian dibandingkan dengan struktur yang tanpa sambungan (monolit). Kekuatan balok dengan sambungan basah lebih kecil daripada kekuatan balok monolit. 
Perencanaan Emplasemen Bekry Sepanjang 1500 Meter Lintas Tanjung Karang - Kotabumi A. Ikhsan Karim
Jurnal Teknik Sipil Vol 4, No 1 (2013): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.042 KB) | DOI: 10.36448/jts.v4i1.887

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku statis elemen struktur balok beton bertulang pracetak yang disambung dengan sambungan basah. Benda uji yang digunakan adalah balok beton bertulang 30 MPa dengan 6 buah tulangan utama diameter 8 mm yang diletakkan di atas dua tumpuan sendi rol pada masing-masing ujungnya mempunyai penampang prismatis segi empat 10x18 cm2. Sambungan basah adalah sambungan yang menggunakan bahan beton polimer 40 MPa dengan metoda penyambungan menggunakan metoda prepacked. Kajian perilaku statis pada model benda uji untuk mengetahui kekuatan lentur struktur, kekakuan dan pola retak struktur balok akibat beban statis yang diletakkan di tengah bentang. Beban statis adalah beban mempunyai arah dan besar  tetap. Hasil kajian struktur beton yang disambung kemudian dibandingkan dengan struktur yang tanpa sambungan (monolit). Kekuatan balok dengan sambungan basah lebih kecil daripada kekuatan balok monolit.
Uji Kekakuan Balok Dengan Sambungan Tulangan Baja Metode Sambungan Kait Hery Riyanto
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.687 KB) | DOI: 10.36448/jts.v6i2.910

Abstract

Bahan - bahan campuran beton terdiri dari agregat kasar(kerikil), agregat halus(pasir), bahan perekat(semen) dan air secukupnya sebagai fasilitator reaksi kimia hingga beton mengeras. Beton mempunyai kekuatan tekan yang cukup besar, namun sangat lemah terhadap tarik.Karena itu penggunaan beton selalu dipadukan dengan bahan yang mempunyai kuat tarik tinggi yaitu baja.Beton dengan tulangan baja adalah perpaduan yang sangat kuat, sehingga beton bertulang banyak digunakan sebagai bahan bangunan.Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibandingkan dengan kuat tariknya, dan beton merupakan bahan yang bersifat getas.Nilai kuat tariknya hanya berkisar 9%-l5% saja dari kuat tekannya. Umumnya beton diperkuat dengan batang tulangan baja sebagai bahan yang dapat membantu kelemahan dari beton, terutama pada bagian yang menahan gaya tarik sehingga dapat bekerja sama sebagai komponen struktur bangunan. Dari hasil kesimpulan penelitian maka, rata-rata kekakuan dari balok dengan tulangan tanpa sambungan, lebih besar di bandingkan dengan rata-rata dari balok dengan tulangan dengan sambungan kait.Balok dengan sambungan kait lebih kecil mampu menahan beban dari pada balok yang memiliki hilangan tanpa sambungan, sehingga masih diperlukan metode - metode penyambungan yang lain, agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal.
Study Kekuatan Tanah Dasar Jalan Akibat Perubahan Derajat Kejenuhan Lilies Widojoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 5, No 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (853.042 KB) | DOI: 10.36448/jts.v5i2.901

Abstract

Adanya daur hidrologi yang menyebabkan perubahan musim di Indonesia baik itu dari musim panas ke musim penghujan maupun dari musim hujan ke musim panas mempunyai dampak yang kurang baik terhadap lapisan perkerasan jalan raya. Pengaruh yang sangat terasa yaitu banyaknya jalan yang rusak pada saat musim penghujan yang disebabkan oleh air yang menggenangi jalan. Genangan air pada jalan membuat daya dukung jalan terhadap tekanan yang ada diatasnya yang disebabkan oleh muatan kendaraan yang berlebihan membuat lebih cepatnya kerusakan pada ruas  jalan tersebut. Sistem klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis tanah yang berbeda-beda tetapi mempunyai sifat yang serupa kedalam kelompok-kelompok dan subkelompok berdasarkan pemakaiannya. Sistem klasifikasi memberikan suatu bahasa yang mudah untuk menjelaskan secara singkat sifat-sifat umum dari tanah yang bervariasi tanpa penjelasan yang terinci. Sebagian besar sistem klasifikasi telah dikembangkan untuk tujuan rekayasa didasarkan pada sifat sifat indeks tanah yang sederhana seperti distribusi butiran dan plastisitas. Pada saat sekarang ini ada dua sistem klasifikasi tanah yang umum dan selalu dipakai oleh para ahli teknik sipil. Kedua sistem tersebut memperhitungkan distribusi ukuran butir dan batas-batas Atterberg, adapun sistem-sistem tersebut adalah: Sistem klasifikasi AASHTO dan Sistem klasifikasi Unified. Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di Laboratorium Tanah Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Bandar Lampung didapatkan : (1) Tanah berbutir kasar yang terdiri atas sample tanah Jl. Onta, Jl. Tirtayasa I sangat baik dijadikan sebagai bahan timbunan (Sub Grade) pada jalan raya karena daya ikat antar butirannya sangat baik dan nilai CBRnya besar,(2)           Pasir Gunung Sugih baik dalam mengalirkan air, hal itu disebabkan kecilnya daya serap tanah terhadap air, (3) Untuk tanah Jl. Tirtayasa Ujung, Jl. Beruang dan Jl. Tirtaya Tengah yang merupakan tanah berbutir halus, akan lebih baik jika dipadatkan pada saat derajat kejenuhannya sebesar 25%, hal tersebut disebabkan oleh penyerapan tanah terhadap air yang cenderung besar, jika jenis tanah ini dipadatkan dalam keadaan kering maka tanah jenis ini akan pecah dan tidak akan didapatkan hasil yang diharapkan, (4) Dalam keadaan kering tanah berbutir kasar masih dapat dipadatkan karena butir kasar lebih sedikit membutuhkan air dibandingkan bitiran halus yang bila dipadatkan pada waktu kering justru akan hancur, karena keseragaman butirannya.
Optimasi Waktu Pelaksanaan Proyek Menggunakan Microsoft Project Susilowati SUSILOWATI
Jurnal Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2013): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.256 KB) | DOI: 10.36448/jts.v4i2.892

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku statis elemen struktur balok beton bertulang pracetak yang disambung dengan sambungan basah. Benda uji yang digunakan adalah balok beton bertulang 30 MPa dengan 6 buah tulangan utama diameter 8 mm yang diletakkan di atas dua tumpuan sendi rol pada masing-masing ujungnya mempunyai penampang prismatis segi empat 10x18 cm2. Sambungan basah adalah sambungan yang menggunakan bahan beton polimer 40 MPa dengan metoda penyambungan menggunakan metoda prepacked. Kajian perilaku statis pada model benda uji untuk mengetahui kekuatan lentur struktur, kekakuan dan pola retak struktur balok akibat beban statis yang diletakkan di tengah bentang. Beban statis adalah beban mempunyai arah dan besar  tetap. Hasil kajian struktur beton yang disambung kemudian dibandingkan dengan struktur yang tanpa sambungan (monolit). Kekuatan balok dengan sambungan basah lebih kecil daripada kekuatan balok monolit. 
Optimasi Waktu Pelaksanaan Proyek Menggunakan Microsoft Project Susilowati SUSILOWATI
Jurnal Teknik Sipil Vol 7, No 2 (2016): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.61 KB) | DOI: 10.36448/jts.v7i2.924

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku statis elemen struktur balok beton bertulang pracetak yang disambung dengan sambungan basah. Benda uji yang digunakan adalah balok beton bertulang 30 MPa dengan 6 buah tulangan utama diameter 8 mm yang diletakkan di atas dua tumpuan sendi rol pada masing-masing ujungnya mempunyai penampang prismatis segi empat 10x18 cm2. Sambungan basah adalah sambungan yang menggunakan bahan beton polimer 40 MPa dengan metoda penyambungan menggunakan metoda prepacked. Kajian perilaku statis pada model benda uji untuk mengetahui kekuatan lentur struktur, kekakuan dan pola retak struktur balok akibat beban statis yang diletakkan di tengah bentang. Beban statis adalah beban mempunyai arah dan besar  tetap.Hasil kajian struktur beton yang disambung kemudian dibandingkan dengan struktur yang tanpa sambungan (monolit).Kekuatan balok dengan sambungan basah lebih kecil daripada kekuatan balok monolit.
Penerapan Metode Indeks Bahaya Kecelakaan untuk Anaisis Kasus Lalu Lintas di Lampung Junardi JUNIARDI
Jurnal Teknik Sipil Vol 7, No 1 (2016): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.807 KB) | DOI: 10.36448/jts.v7i1.915

Abstract

Jalan raya sebagai sarana mobilitas kendaraan, juga dirancang untuk semakin lebar, panjang dan bebas dan hambatan. Sayangnya tingkat mobilitas dan akselerasi yang semakin tinggi, nampak menimbulkan persoalan ikutan yakni tingginya angka kecelakaan, sebab itu perlu adanya kajian terhadap indeks bahaya kecelakaan lalu lintas jalan raya di Lampung.Banyak penyebab kecelakaan di jalan diantaranya selain pertambahan penduduk dan kemakmuran yang menyebabkan semakin banyak orang berpergian. Pengkajian lebih mendalam terhadap permasalahan ini sangat diperlukan, dan juga terhadap beberapa faktor yang menimbulkan kecelakaan jalan raya, sebelum tindakan yang efektif dapat dilakukan untuk menangani situasi sekarang. Penggunaan Metode Indeks Bahaya Kecelakaan lebih memberikan gambaran yang jelas tentang bahaya kecelakaan di Propinsi Lampung. Penghitungan laju kecelakaan dengan menggunakan metode indeks bahaya kecelakaan memberikan gambaran yang jelas tentang bahaya kecelakaan yang ada di Propinsi Lampung, karena tiap parameter mempunyai hasil yang sangat jauh berbeda.          Nilai Indeks Bahaya Kecelakaan (AHI) untuk Propinsi Lampung menunjukkan bervariasi. Nilai Indeks Bahaya Kecelakaan (AH1) yang didapat, untuk Bandar Lampung (3,350), Lampung Barat (1,111) dan Lampung Utara (1,023) lebih besar dari satu, ini menunjukkan daerah tersebut mempunyai masalah dalam kecelakaan, sedangkan daerah Lampung Selatan (0,721) dan Lampung Tengah (0,889) tidak menunjukkan adanya masalah kecelakaan yang serius.  Jadi nilai indeks bahaya kecelakaan yang paling besar adalah daerah Bandar Lampung dengan nilai AHI 3,350.

Page 6 of 15 | Total Record : 142