cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
IMAJI
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893892     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal IMAJI (ISSN 2089-3892) ini adalah sebuah terbitan berkala yang bertujuan untuk mewadahi dan mendokumentasikan kreatifitas karya ilmiah desain dalam bidang arsitektur, terutama dosen dan mahasiswa dari lingkungan Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip.
Arjuna Subject : -
Articles 446 Documents
COMMUNITY CENTER DI BSD CITY Almesa Yuli Hasyyati; Eddy Prianto; Atiek Suprapti
IMAJI Vol 1, No 2 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2633.345 KB)

Abstract

Oleh : Almesa Yuli Hasyyati, Eddy Prianto, Atiek Suprapti Budiarto BSD City yang berada di Kota Tangerang Selatan di mana mayoritas penduduknya adalah wargapendatang atau kaum urban diprediksi akan terus meningkat dan tentunya komunitas-komunitas yang ada dikota ini pun akan semakin beragam. Oleh karena itu, dengan semakin bertambahnya penduduk BSD,kebutuhan masyarakat pun makin beragam sehingga dibutuhkan suatu Community Center untuk menampungaktivitas-aktivitas masyarakat yang beragam untuk mewadahi komunitas-komunitas yang berada di dalamnya. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian dan hal-hal mendasar mengenai Community Center,persyaratan perencanaan dan perancangan Community Center, studi banding beberapa fasilitas yang serupadengan Community Center seperti Club House dan referensi Community Center di beberapa negara. Tapakterpilih dari beberapa alternatif tapak yaitu tapak yang berada di Jl. BSD Boulevard Barat BSD City. Selain itujuga dibahas mengenai tata massa dan ruang bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitas yangdipakai dalam perancangan “Community Center di BSD City”. Konsep perancangan menggunakan penekanan desain Green Architecture sesuai dengan konsep yangdiusung BSD City, yaitu sebuah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadaplingkungan alam maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yangdilakukan dengan cara memanfaatkan sumber energy dan sumber daya alam secara efisien dan optimal.Penerapan konsep ini dapat terlihat dari fasad bangunan-bangunan di Community Center yang menggunakanbambu sebagai material utamanya serta penerapan rain water harvesting hampir di seluruh bangunannya.
PENGEMBANGAN KAWASAN OBJEK WISATA PANTAI WIDURI PEMALANG disa ceria; siti rukayah; titien murtini
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.282 KB)

Abstract

Pantai Widuri Pemalang merupaka salah satu potensi wisata yang menjadi prioritas pengembangan wisata di Kabupaten Pemalang(perda no.2 th. 2007). Objek Wisata Pantai Widuri Pemalang menyajikan pemandangan pantai yang masih alami yang merupakan salah satu daya tarik untuk para wisatawan selain fasilitas yang sudah disediakan. Namun kealamian pantai yang seharusnya dirawat dengan baik rusak akibat pengembangan yang diluar kendali yang berasal dari aktivitas wisata. Obyek wisata sebagai tujuan wisatawan harus tetap dipertahankan kualitasnya. Penataan dan pengembangan kawasan wisata dengan pendekatan ekologi diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas obyek wisata dengan memberikan nilai tambah terhadap obyek wisata tersebut dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan, sehingga mampu menarik lebih banyak lagi wisatawan yang datang.
GRAHA LANSIA DI TANGERANG Erna Rita Martiani; Bambang Setioko
IMAJI Vol 1, No 3 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1442.77 KB)

Abstract

Kemajuan di bidang ekonomi, jasa dan perdagangan di Tangerang Selatan dibarengi dengan kemajuan bidang kesehatan dan pendidikan yang bermuara dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat akan usia harapan hidup sehingga menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Angka harapan hidup Provinsi Banten menunjukkan kenaikan dari 62,4 tahun pada tahun 2007 menjadi 68. Dan angka harapan hidup tertinggi dicapai oleh Kabupaten Tangerang Selatan sebesar 68,2 tahun. (Sumber : Dokumen RPJM Prov. Banten Tahun 2007 - 2012). Disisi lain, meningkatnya bidang perekonomian di Tangerang Selatan sendiri, membuat para masyarakatnya memiliki mobilitas yang cukup tinggi dan terkesan melalikan kewajibannya dalam mengurus orang tua, terutama bagi lansia yang memiliki kelemahan kesehatan. Hal ini sangat mencolok ketika kedua orang tua tersebut tidak tinggal dalam satu atap dan jarang menjenguk maka lansia akan merasa terabaikan dan terasingkan. Maka dari sinilah kebanyakan para lansia memiliih untuk tinggal d panti wredha/panti jompo yang ditempat tersebut mereka akan bertemu dengan para lansia lain yang merasa senasib.Kajian diawali dengan mempelajari pengertian dan hal-hal mendasar mengenai lansia dan standar-standar mengenai bangunan bagi lansia, studi banding dilakukan ke Panti Jompo yang di kecamatan-kecamatan di Tangerang. Dilakukan juga tinjauan mengenai pertumbuhan jumlah lansia dan kebutuhan para lansia dip anti jompo dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan universal design. Lokasi tapak yang dipilih adalah tapak yang sesuai dengan persyaratan bangunan bagi lansia. Selain itu juga dibahas mengenai tata massa dan ruang bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitas yang dipakai dalam perancangan “Grha lansia Di Tangerang Selatan”.Konsep perancangan ditekankan desain Universal,yang memiliki 7 prinsip yang sudah dikenal dimana-mana. Prinsip-prinsip itulah yang nantinya akan menjadi pedoman atau dasar adalam mendesain suatu produk maupun rancanngan lingkungan yang dapat digunakan oleh semua kalamngan umur, terutama untuk para lansia. Prinsip tersebut diantaranya : Penggunaan yang Merata, Penggunaan yang Fleksibel, Sederhana dan Intuitif, Informasi yang jelas dan mudah dimengerti, Toleransi akan kesalahan, Meminimalkan usaha dan menghindari bahaya atau hal-hal yang tidak diinginkan, Ukuran dan Ruang untuk Pendekatan dan Penggunaan.
STADION RENANG DI YOGYAKARTA hafidh Al Haq; bambang suyono; edy darmawan
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.481 KB)

Abstract

Yogyakarta menargetkan agar semua fasilitas maupun infrastruktur olahraga dalam keadaan siap. Akan tetapi cabang olahraga renang yang seharusnya menjadi event baru yang nantinya diharapkan mampu menyumbang atlit renang bagi kompetisi nasional dan internasional sepertinya terhambat. Mengingat Stadion Kridosono yang di dalamnya terdapat fasilitas kolam renang akan segera digantikan dengan ruang publik komersil. “Kawasan stadion Kridosono ditengah kota Yogyakarta akan dikembangkan menjadi kawasan bisnis publik. Selanjutnya, fungsi sport center atau pusat olah raga akan dialihkan di stadion Mandala Krida dan area lahan sekitarnya. Kepala Bappeda DIY, Tavip Agus Rayanto mengungkapkan, pemerintah propinsi (pemprop) DIY berencana membangun kawasan bisnis di Kridosono, sehingga harus mencarikan pengganti ruang publik termasuk kolam renang. Sementara ini opsinya adalah di jalan Kenari sebelah timur stadion Mandala Krida. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang kolam renang dan stadion, pengertian dan standar-standar mengenai stadiondi Indonesia, tinjauan dan studi banding mengenai stadion renang yang sejenis. Dilakukan juga tinjauan mengenai Kota Yogyakarta perkembangan hotel di kota tersebut, serta program-program pemerintah yang mendukung adanya stadion renang di Yogyakarta. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan konsep sustainable. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis, dan konstekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 5 alternatif lokasi dengan menggunakan matriks pembobotan. Sebagai kesimpulan, luaran program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SEKOLAH TINGGI MUSIK SEMARANG PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR HI-TECH ahmad alfajar
IMAJI Vol 3, No 3 (2014): jurnal IMAJI - Juli 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.063 KB)

Abstract

Musik adalah salah satu sarana untuk mengekspresikan perasaan dan keindahan yang ada dalam pikiran dan hati manusia. Musik sudah dikenal sejak berabad-abad lamanya dan merupakan hiburan yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Musik juga dianggap sebagai bahasa universal karena dapat dinikmati oleh seluruh kalangan, bangsa, dan aspek kehidupan lainnya serta mampu untuk dijadikan media dalam membangun sebuah kebudayaan. Beberapa tahun terakhir perkembangan musik di Indonesia berkembang dengan cepat. Banyak musisi-musisi maupun band-band yang bermunculan tiap tahunnya dengan membawa ciri mereka masing-masing. Industri-industri musik juga mulai bergerak dengan memberikan kontrak label mereka. Bahkan stasiun-stasiun televisi baik swasta maupun negeri juga memberikan tayangan hiburan musik kepada masyarakat. Terlihat dengan banyaknya program-program musik dari stasiun TV yang berbeda yang ditayangkan dari pagi hingga malam. Pembahasanmenggunakan metode deskriptif,yaitu dengan melakukan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara : studi pustaka/ studi literatur, data dari instansi terkait, wawancara dengan narasumber, observasi lapangan serta browsing internet. Kemudian mendokumentasikan data dan mengadakan studi banding. Datayang telah terkumpul, diidentifikasi dan dianalisa untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik dan kondisi yang ada, sehingga tersusun Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur bangunanSekolah Tinggi Musik Semarang dengan konsep Arsitektur hi-tech.
Olahraga termasuk salah satu bidang yang dapat menaikkan citra bangsa di mata dunia, salah satunya Bulutangkis. Kepopuleran olahraga ini dimulai ketika Indonesia berhasil menorehkan tinta emasnya di kejuaraan-kejuaraan olahraga dunia di era tahun 80-an. siska cahyani; indriastjario indriastjario; budi sudarwanto
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.384 KB)

Abstract

Olahraga termasuk salah satu bidang yang dapat menaikkan citra bangsa di mata dunia, salah satunya Bulutangkis. Kepopuleran olahraga ini dimulai ketika Indonesia berhasil menorehkan tinta emasnya di kejuaraan-kejuaraan olahraga dunia di era tahun 80-an. Dan sampai sekarang, dengan kemenangan atlet Indonesia di ajang Yonex All England Open Badminton Championship 2014, menjadi bukti bahwa PBSI mampu menjaga kejayaan dunia perbulutangkisan. Namun, membina atlet menjadi pemain Pofesional membutuhkan penggojlokan seperti di Pusdiklat, dan kebetulan Semarang tidak mempunyai Pusat Pelatihan, sehingga sulit bersaing dengan daerah lain. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang Bulutangkis, pengertian dan standar-standar mengenai GOR Bulutangkis, serta studi banding beberapa Pusdiklat yang telah ada. Dilakukan juga tinjauan mengenai Kota Semarang, perkembangan Pusdiklat di kota tersebut, serta program-program pemerintah yang mendukungnya. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan penekanan desain Arsitektur Bioklimatik dengan konsep Taman oleh Garret Eckbo sebagai acuan yang dipilih dalam mengembangkan Pusdiklat Bulutangkis ini. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis, dan konstekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 2 alternatif lokasi dengan menggunakan matriks pembobotan. Sebagai kesimpulan, luaran program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.
PENATAAN KORIDOR SENTRA INDUSTRI PATUNG DAN UKIR DESA MULYOHARJO JEPARA Mundofar Mundofar
IMAJI Vol 3, No 3 (2014): jurnal IMAJI - Juli 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1261.694 KB)

Abstract

Kawasan industri Mulyoharjo adalah kawasan pengrajin industri kecil yang memproduksi seni ukir patung dan akar kayu dengan bahan dasar kayu gelondong dan akar utuh yang dibuat dengan mesin-mesin sederhana dan selanjutnya diukur sesuai dengan kebutuhan.Para pengrajin hampir tersebar diseluruh kawasan desa Mulyoharjo Jepara yang merupakan kesatuan unit antara rumah, tempat produksi, serta kios-kios pemasaran hasil produksi (tidak semua) yang berasal dari home industry. Kampung yang kini beridentitaskan “Sentra Industri Patung dan Ukir” masih memiliki berbagai permasalahan.Kawasan ini belum memiliki fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai. Misalnya rumah dan kios yang masih digunakan untuk kegiatan tempat tinggal, kegiatan usaha membuat produk, dan kegiatan pemasaran yang tentu memerlukan kebutuhan-kebutuhan khusus. Padahal jika melihat Peraturan Menteri No. 7 Tahun 1993, maka seharusnya sentra industri yang merupakan pusat kegiatan industri pengolahan harus dilengkapi dengan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang yang baik, sehingga dapat dilakukan usaha pengembangan dan pengelolaan yang optimal. Maka,dibutuhkan pengkajian/usaha penataan kembali kawasan sentra industri patung dan ukir yang sesuai dengan kondisi dan harapan para pengrajin, masyarakat, dan pemerintah. Penataan yang sesuai dengan kemampuan para pelaku, selaras dengan kelangsungan alam dan lingkungan, serta dapat memberi manfaat bagi pengembangan daerah dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, untuk menjawab kebutuhan tersebut, maka diperlukan perencanaan dan perancangan tentang penataan kawasan industri patung dan ukir Mulyoharjo Jepara menjadi sebuah kawasan berwawasan wisata guna peningkatan kualitas kawasan tersebut yang berdasarkan pada penekanan urban desain. Sebagai kesimpulan, luaran program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.
CITY HOTEL DI MEDAN valentino damanik; Eddy hermanto; totok roesmanto
IMAJI Vol 4, No 1 (2015): IMAJI Jurnal Desain Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.402 KB)

Abstract

Kota  Medan yang terletak  dibagian utara pulau Sumatera,  tepatnya terletak  di  provinsiSumatera Utara merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Medansebagai kota metropolitan dan pintu gerbang Indonesia dibagian barat saat ini bisa dikatakan mampuberperan dalam  lingkup internasional maupun nasional.  Sebagai  ibukota  provinsi,  kota  Medanmenjadi  pusat dari  berlangsungnya  hampir  segala aktivitas, baik  di bidang politik,  perekonomian,serta sosial-budaya lingkup Sumatera Utara.  Selain itu,  jika semakin banyak  diadakan hubungandengan negara lain, akan semakin membuka peluang masuknya pengunjung mancanegara, baik yangberkepentingan bisnis maupun berwisata di kota Medan.Guna mengantisipasi kedatangan pengunjung lokal dan mancanegara ke kota Medan denganberbagai tujuan dan kepentingan seperti berwisata, berbisnis, menghadiri konferensi, dan sebagainya,maka  kota  Medan memerlukan adanya fasilitas  pendukung untuk  tempat  tinggal  non-permanenselama beberapa hari atau minggu, yaitu hotel.Dengan keberagaman potensi yang dimiliki kota Medan ini dan agar dapat mengakomodasijumlah pengunjung yang berkunjung ke Sumatera Utara, khususnya kota Medan diperlukan sebuahpenginapan berbintang mengingat  jumlah pendatang lokal dan mancanegara asing yang datangcukup banyak. Sebuah city hotel berbintang empat merupakan gagasan yang tepat untuk dibangundikawasan ini. City hotel  berbintang empat yang direncanakan ini akan didesain denganmemperhatikan beberapa aspek penting yang mendukung terciptanya suatu hotel yang memiliki dayatarik sendiri,  guna menarik  para pengunjung untuk menginap.  Salah satunya  adalah lokasi  yangstrategis, merupakan faktor utama dalam pembangunan agar memiliki prospek yang baik.Kota  Medan yang terletak  dibagian utara pulau Sumatera,  tepatnya terletak  di  provinsiSumatera Utara merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Medansebagai kota metropolitan dan pintu gerbang Indonesia dibagian barat saat ini bisa dikatakan mampuberperan dalam  lingkup internasional maupun nasional.  Sebagai  ibukota  provinsi,  kota  Medanmenjadi  pusat dari  berlangsungnya  hampir  segala aktivitas, baik  di bidang politik,  perekonomian,serta sosial-budaya lingkup Sumatera Utara.  Selain itu,  jika semakin banyak  diadakan hubungandengan negara lain, akan semakin membuka peluang masuknya pengunjung mancanegara, baik yangberkepentingan bisnis maupun berwisata di kota Medan.Guna mengantisipasi kedatangan pengunjung lokal dan mancanegara ke kota Medan denganberbagai tujuan dan kepentingan seperti berwisata, berbisnis, menghadiri konferensi, dan sebagainya,maka  kota  Medan memerlukan adanya fasilitas  pendukung untuk  tempat  tinggal  non-permanenselama beberapa hari atau minggu, yaitu hotel.Dengan keberagaman potensi yang dimiliki kota Medan ini dan agar dapat mengakomodasijumlah pengunjung yang berkunjung ke Sumatera Utara, khususnya kota Medan diperlukan sebuahpenginapan berbintang mengingat  jumlah pendatang lokal dan mancanegara asing yang datangcukup banyak. Sebuah city hotel berbintang empat merupakan gagasan yang tepat untuk dibangundikawasan ini. City hotel  berbintang empat yang direncanakan ini akan didesain denganmemperhatikan beberapa aspek penting yang mendukung terciptanya suatu hotel yang memiliki dayatarik sendiri,  guna menarik  para pengunjung untuk menginap.  Salah satunya  adalah lokasi  yangstrategis, merupakan faktor utama dalam pembangunan agar memiliki prospek yang baik.
STASIUN MRT TERINTEGRASI BLOK M JAKARTA (PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR HIGH-TECH) chistella christella; hermin werdiningsih; eddy darmawan
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.97 KB)

Abstract

Jakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia disokong oleh beberapa daerah seperti Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Depok. Di mana banyak masyarakat atau penduduk yang bertempat tinggal di daerah-daerah tersebut bekerja di Jakarta. Sebagian besar dari mereka menggunakan kendaraan pribadi ditambah dengan penduduk Jakarta yang terus bertambah, mengakibatkan kemacetan selalu ada di Jakarta. DKI Jakarta membutuhkan angkutan massal yang lebih handal seperti MRT yang sudah semetinya menjadi prioritas dan solusi utama untuk mengatasi kemacetan total kota metropolitan Jakarta. Kajian diawali dengan memperlajari pengertian tentang MRT, pengertian dan standar-standar menegenai staasiun MRT, serta studi banding beberapa bangunan stasiun MRT yang telah ada. Dilakuakan juga tinjauan mengenai kawasan terpadu Blok M di Jakarta, tinjauan masterplan pembangunan MRT di Jakarta, serta kebijaksanaan pemerintah yang mendukungnya. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan penekanan desain Arsitektur Hi-Tech dan teori-teori di dalamnya. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis, dan konstekstual. Pemilihan tapak berdasarkan masterplan pembangunan Stasiun MRT di Blok M. Sebagai kesimpulan, luasan ruang yang diperlukan dalam bentuk program ruang, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.
SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) TUNA GRAHITA KOTA CILEGON hidayah khaifah; wijayanti wijayanti; bambang murtomo
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1931.336 KB)

Abstract

Pendidikan merupakan salah satu kunci penting dalam menentukan masa depan suatu bangsa. Pengertian pendidikan sendiri ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Khusus bagi para penyandang cacat disebutkan bahwa warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Pendidikan luar biasa adalah pendidikan yang khusus diselenggarakan bagi peserta didik yang menyandang kelainan fisik ataupun kelainan mental. Sekolah Luar Biasa di Kota Cilegon yang tersebar di kecamatan berbeda hingga saat ini mengalami peningkatan jumlah siswa, dan akan diperkirakan hal ini akan berlanjut hingga beberapa tahun kedepan. Untuk dapat menampung jumlah yang terus meningkat tersebut dan agar dapat mencapai tujuan pendidikan itu sendiri perlu adanya peningkatan fasilitas baik itu berupa pengembangan sekolah maupun penambahan sarana prasarana yang dapat mendukung kegiatan belajar mengajar, latihan dan kegiatan lainnya. Akan tetapi melihat kondisi SLB di kota cilegon saat ini, sulit untuk bisa dikembangkan, dikarenakan lahan yang tersedia cukup kecil. Oleh karena itu Kota Cilegon memerlukan suatu lembaga pendidikan yang di khususkan untuk para penyandang cacat Tuna Grahita. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang Pendidikan luar biasa, pengertian dan klasifikasi Tuna Grahita, Standar pelayanan minimal sekolah luar biasa, serta studi banding ke beberapa SLB yang telah ada. Dilakukan juga tinjauan mengenai Kota Cilegon, perkembangan pendidikan luar biasa di kota Cilegon, serta kajian persebaran SLB yang ada di kota Cilegon. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan konsep Universal Desain yaitu sebuah konsep desain yang mengedepankan fungsi desain yang dapat digunakan oleh semua orang. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis dan konstekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 3 alternatif tapak dengan melakukan penilaian terhadap tapak. Sebagai kesimpulan, luaran program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.