cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 421 Documents
Analisis Gerakan Massa untuk Evaluasi Kerusakan Saluran Induk Kalibawang Kabupaten Kulonprogo Dwi Retnowati Narsuka; Sujali Sujali; Bakti Setiawan
Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.417 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13329

Abstract

ABSTRAK Kebijakan pemerintah dalam pengelolaan kawasan hutan Gunung Merapi adalah dengan melalui pembentukan sebagai taman nasional yang berfungsi lengkap meliputi fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sebagian besar merupakan masyarakat petani dan peternak yang mempunyai ketergantungan akan sumber daya hutan yang mempengaruhi persepsi masyarakat akan keberadaan taman nasional. Pengelolaan taman nasional memerlukan peranserta masyarakat dimana telah terdapat keterikatan yang kuat dalam hubungan sosial budaya dan ekonomi antara masyarakat dan keberadaan hutan itu sendiri. Penelitian ini bertujuan mengetahui 1) tingkat pengetahuan masyarakat tentang TNGM, 2) persepsi masyarakat tentang TNGM  3) peranserta masyarakat dalam pengelolaan TNGM serta 4) mengetahui pengaruh tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi serta jarak tempat tinggal dengan batas TNGM terhadap persepsi dan tingkat peran serta masyarakat dalam pengelolaan TNGM.Subyek penelitian ini adalah 120 Kepala Keluarga di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan sampel secara systematic random sampling. Kuesioner dipakai sebagai alat bantu untuk mengukur tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tingkat persepsi dan tingkat peranserta. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis uji korelasi variabel-variabel penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan TNGM, 44,2% dari responden dalam kategori sedang dan 48,3% dari responden dalam kategori tinggi. Apabila dirinci dalam 3 isu utama pengetahuan maka pengetahuan masyarakat mengenai status dan manfaat mayo­ritas dalam kategori sedang (50%), pengetahuan mengenai kondisi TNGM mayoritas tinggi (56,7%) dan mengenai pengelolaan mayoritas tinggi (54,2%). Tingkat persepsi masyarakat mengenai pengelolaan TNGM (dirinci dalam tiga isu utama: mengenai status dan manfaat, kondisi TNGM dan pengelolaan TNGM) dalam kategori sedang atau cukup positif (74,2%). Analisis persepsi menunjukkan tingkat pengetahuan berpengaruh positif terhadap persepsi masyarakat (r=0,406, p=0.000, p<0,05). Peranserta masyarakat dalam pengelolaan TNGM, mayoritas dalam tingkat sedang (74,2%). Analisis peranserta menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan (r = 0,290, p=0.001, p<0,05) dan jarak tempat tinggal dengan batas taman nasional berpengaruh positif terhadap tingkat peranserta masyarakat (r=0,193, p=0,035, p<0,05). ABSTRACT The government policy in the forest area management is by forming the forest area of Mount Merapi as a National Park, being one of conservation areas with comprehensive functions, including the protection of life supporting system, the conservation of the diverse species and ecosystem, and the sustainability use of natural resources. The surrounding neighbourhood of Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) consists of farmers with their rice-fields and farms, having dependency to natural resources available in the TNGM. These dependency too contributes to the public perception on the existence of TNGM. The operation of TNGM should pay attention to residents' necessity as the conservation objective demands the participation of public living around the TNGM, who have close social, cultural, and economic relationship with the forest. The objectives of this research are to identify 1) the public’s knowledge of the determination and management of TNGM (Mountain Merapi National Park), 2) the level of residents’ perception on the management of TNGM, 3) identify the level residents’ parti­cipation on the management of TNGM, and 4) the correlation between education level, knowledge level, economic level, and  the distance between residence to the boundary of TNGM to the perception and participation level of TNGM management.The subject of this research consists of 120 households in Umbulharjo Village, Cangkringan Sub-district, Sleman Regency. The methodology used was the survey research-method with systematic-random sampling technique. Ques­tionnaires were used as tools to record the family’s economic capacity and to measure the level of knowledge, perception, and participation. The correlation between research variables was tested using descriptive analysis technique and correlation test.Results of this research show the category for knowledge level, 44,2% of population at average category and 48,3% of population at high category. Detailed into three aspects, the dominant level of public’s knowledge was average on the status and advantages of TNGM (50%), high on the condition of TNGM (56.7%), and high on the management of TNGM (54.2%). Peoples’s perception level about the management of national park (detailed in three main issues, the people’s perception about the status and advantages of TNGM, the condition of TNGM and the management of TNGM) is in average category or adequately positive (74,2%). Perception analysis shows that knowledge level (r = 0,406, p = 0.000, p<0,05) give positive influence to the people’s perception of TNGM. People’s participation in the management of TNGM is majority in medium participation level (74.2%). Participation analysis shows that knowledge level (r=0,290, p=0.001, p<0,05), and distance between residence to the national park borders give positive influence to participation level (r = -0,193, p=0.035, p<0.05).
Analisis Ketidakpastian dalam Memanfaatkan Lahan Pertanian di Desa Sukasari Kaler Kecamatan Argapura Majalengka Sudrajat Sudrajat
Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.121 KB) | DOI: 10.22146/mgi.32985

Abstract

Abstrak Petani dalam memanfaatkan lahan pertanian selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Di sisi lain petani juga harus mempertimbangkan berbagai jenis komoditi yang akan diusahakan agar tidak gagal panen. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan: (1) mengindentifikasi jenis ketidakpastian yang sering dihadapi petani  dalam  memanfaatkan lahan pertanian; dan  (2) menganalisis pengaruh ketidakpastian terhadap pertimbangan petani dalam menentukan jenis komoditi yang akan diusahakan. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan petani, sedangkan data sekunder dari beberapa instansi terkait. Pengukuran ketidakpastian dilakukan menggunakan metode skala likerts. Analisis data di lakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menemukan adanya keragaman jenis  ketidakpastian yang selalu dihadapi petani dalam pemanfaatan lahan pertanian dan ketidakpastian tersebut  telah dijadikan dasar oleh petani untuk mempertimbangan jenis komoditi yang akan diusahakan.Abstract Farmers in utilizing agricultural land always faced with uncertainty. On the other hand, farmers should also consider various types of commodities which will be endeavored that no crop failure.  Based on the above, the research is conducted with the objectives: (1) to identify the kinds of uncertainties often faced by farmers in utilizing agricultural land for farming activities; (2) to analyzes the influence of uncertainty on the consideration of farmers in determining the type of commodity to be cultivated. The data collected consist of primary data and secondary data. Primary data was obtained from interview with farmer while secondary data from several related institutions. Measurement of uncertainty is done using likerts scale method. Data analysis is done descriptively qualitative. The results of the study found that the diversity of types of uncertainty often faced by farmers in agricultural land use and the uncertainty has been used as a basis by farmers to consider the types of commodities to be cultivated.
Analisis Metode Support Vector Machine (Svm) untuk Klasifikasi Penggunaan Lahan Berbasis Penutup Lahan pada Citra Alos Avnir-2 Khikmanto Supribadi; Nurul Khakhim; Taufik Hery Purwanto
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3561.387 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13067

Abstract

ABSTRAK Perkembangan teknologi penginderaan jauh berkembang pesat terutama pasca perang dingin. Teknologi penginderaan jauh sangat baik dijadikan data pembuatan peta penggunaan lahan, karena kebutuhan pemetaan yang semakin tinggi terutama untuk mendeteksi perubahan penggunaan lahan. Untuk mendapatkan informasi penggunaan lahan dari citra penginderaan jauh diperlukan metode khusus, terutama untuk pengolahan citra penginderaan jauh secara digital. Salah satu metod e pengolahan citra penginderaan jauh adalah metode Metode Support Vector Machine (SVM). Metode Support Vector Machine (SVM) merupakan metode learning machine (pembelajaran mesin) satu kelas dengan metode jaringan syaraf tiruan yang dapat mengenali pola dari masukan atau contoh yang diberikan dan juga termasuk ke dalam supervised learning. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh masing-masing parameter pada metode SVM serta kombinasi yang paling menghasilkan akurasi tertinggi, serta menganalisa kemampuan metode Support Vector Machine (SVM) untuk pembuatan peta penggunaan lahan berdasarkan penutup lahan skala 1:100.000. Klasifikasi penggunaan lahan berbasis penutup lahan dengan metode Support Vector Machine (SVM) menggunakan data spektral, data spasial berupa data kemiringan dan data filter tekstur mean. Data filter tekstur mean yang digunakan adalah data masing-masing band maupun gabungan dari semua band dengan processing window 3x3, 5x5, 7x7, 9x9. Skema klasifikasi yang digunakan adalah skema klasifikasi penggunaan lahan menurut BPN tahun 2012 dengan modifikasi disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Hasil penelitian menunjukan hasil klasifikasi metode Support Vector Machine (SVM) pada data spectral menghasilkan akurasi keseluruhan 78,8845% dan kappa 0,7524. Pada penambahan data kemiringan menghasilkan akurasi keseluruhan 80,7973% dan 0,7755 untuk nilai kappa. Penggabungan data spectral dan filter tekstur mean dengan processing window 9x9 pada band gabungan 1, 2, 3 dan 4 ternyata semakin menaikan tingkat akurasi keseluruhan hasil klasifikasi menjadi 92,8619% dan kappa 0,9163. Sedangkan pada simulasi gabungan antara data spektral, data kemiringan dan data filter tekstur ternyata menghasilkan akurasi yang lebih tinggi lagi terutama jika pada simulasi tekstur mean menggunkan semua band tekstur mean dengan processing window 9x9, akurasi keseluruhan yang diperoleh sampai 92,8951% dan kappa mencapai 0,9170. ABSTRACT The development of remote sensing technology developed rapidly , especially after the cold war . Remote sensing technology is very well used as the data of land use map-making , because of the higher mapping needs , especially to detect changes in land use . To obtain land use information from remote sensing image takes a special method , especially for remote sensing image processing digitally . One e metod remote sensing image processing method is a method of Support Vector Machine ( SVM ) . Methods Support Vector Machine ( SVM ) is a machine learning method ( machine learning ) of the class with a method of neural network that can recognize patterns of input or examples given and also belong to the supervised learning . This study aims to analyze the influence of each parameter on the method of SVM and most combinations yield the highest accuracy , and analyze the ability of the method Support Vector Machine ( SVM ) to manufacture land use map based on 1:100,000 scale land cover . Classification of land use land cover with a method based Support Vector Machine ( SVM ) using the spectral data , the slope of the spatial data in the form of data and data filters mean texture . Data are the mean texture filter used is the data of each band as well as a composite of all the bands with processing window 3x3 , 5x5 , 7x7 , 9x9 . Classification scheme used is a land use classification scheme according BPN 2012 with modifications adapted to the conditions on the ground . The results showed the results of the classification method Support Vector Machine ( SVM ) spectral data resulted in an overall accuracy and kappa 0.7524 78.8845 % . In addition the slope of the data resulted in an overall accuracy of 80.7973 % and 0.7755 for the kappa value . Merging data spectral and texture mean filter with 9x9 window processing on the combined bands 1 , 2 , 3 and 4 turned out to be more and raise the level of the overall accuracy of the classification results into 92.8619 % and 0.9163 kappa . While the combination of simulated spectral data , the slope of the data and the data turns out to produce a texture filter higher accuracy , especially if the texture simulations use the mean of all the mean texture band with 9x9 processing window , obtained an overall accuracy up to 92.8951 % and kappa reaches 0 , 9170. 
KAJIAN PEMANFAATAN DAN KELAYAKAN KUALITAS AIRTANAH UNTUK KEBUTUHAN DOMESTIK DAN INDUSTRI KECIL-MENENGAH DI KECAMATAN LAWEYAN KOTA SURAKARTA JAWA TENGAH Taufik Indrawan; Totok Gunawan; Sudibyakto Sudibyakto
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.363 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13404

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Laweyan merupakan salah satu daerah di Kota Surakarta yang merupakan daerah perkotaan dengan kepadatan penduduk 11.271 jiwa/km2. Di Kecamatan Laweyan banyak terdapat industri kecil-menengah khususnya industri batik yang notabene membutuhkan airtanah dalam jumlah besat dalam proses produksinya disamping juga banyak industri lain yang beragam jenisnya. Berdasarkan kenyataan tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian tentang pemanfaatan airtanah untuk kebutuhan domestik dan industri kecil-menengah dan kualitas airtanah yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan domestik di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengkaji pemanfaatan airtanah untuk kebutuhan domestik dan industri kecil-menengah di wilayah Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. 2) Menganalisis kualitas airtanah untuk kebutuhan domestik di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kebutuhan airtanah untuk keperluan domestik di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta adalah 183 lt/kapita/hari dan pemanfaatan airtanah  untuk keperluan domestik di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta dalam satu tahun adalah sebesar 7.353.795,53 m3. Sedangkan pemanfaatan airtanah untuk keperluan industri kecil-menengah di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta pada tahun 2010 adalah sebesar 910.173,50 m3. Berdasarkan hasil uji laboratorium diketahui bahwa dari parameter fisika yang diuji menunjukkan kadar TDS sebesar 213-368 mg/l. Dari parameter kimia yang diuji menunjukkan pH sebesar 8,2-8,6, kadar Fe < 0,193 mg/l, kadar amonia sebesar 0,0257-0,0569, kadar phenol sebesar 0,0215-0,0254, kadar Cr total < 0,0157, dan dari parameter biologi diketahui kandungan bakteri total coliform sebesar > 1600 MPN / 100 ml. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa airtanah di Kecamatan Laweyen tidak memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan.  ABSTRACT Sub Laweyan is one area in the city of Surakarta, which is urban areas with a population density of 11,271 people/km2. In Sub Laweyan there are many small-medium scale industries, especially the batik industry which incidentally require groundwater in the number besat in their production processes as well as many other industries that various kinds. Based on the fact that researchers interested in conducting research on the use of groundwater for domestic and small-medium scale industries and the quality of groundwater used for domestic needs in the District Laweyan Surakarta. The purpose of this research are 1) studying the use of groundwater for domestic and small-medium scale industries in the District Laweyan Surakarta. 2) analyze the quality of groundwater for domestic needs in the District Laweyan Surakarta. The results showed that the need for groundwater for domestic purposes in the District Laweyan Surakarta is 183 liter / capita / day and the use of groundwater for domestic purposes in the District Laweyan Surakarta in one year amounted to 7,353,795.53 m3. While the use of groundwater for small-medium scale industries in the District Laweyan Surakarta in 2010 amounted to 910,173.50 m3. Based on laboratory test results is known that the physical parameters that were tested showed levels of TDS of 213-368 mg / l. From the chemical parameters tested showed a pH of 8.2 to 8.6, Fe content <0.193 mg / l, ammonia content of 0.0257 to 0.0569, 0.0215 to 0.0254 for phenol content, total Cr levels < 0.0157, and the biological parameters known to contain total coliform bacteria amounted to> 1600 MPN / 100 ml. Based on this study concluded that the groundwater in the District Laweyen not meet quality standards that have been determined. 
HIDROSTRATIGRAFI DAN HIDROKIMIA AIRTANAH DI SEKITAR ROWO JOMBOR KECAMATAN BAYAT-KLATEN Langgeng Wahyu Santosa
Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.922 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13224

Abstract

ABSTRAK Untuk mempelajari tipe akuifer dan asal usul serta karakteristik airtanah, model hidrostratigrafi dan hidrokimia merupakan salah satu model yang dapat diterapkan. Hidrostratigrafi adalah suatu model untuk menggambarkan stratum geologis penyusun akuifer, yang di dalamnya berisi informasi tentang karakteristik airtanah. Hidrokimia merupakan model untuk menelusur asal usul pembentukan airtanah, yang didasarkan pada analisis komposisi ion-ion penyusunnya. Penyusunan hidrostratigrafi didasarkan pada hasil pendugaan geolistrik, sedang penentuan tipe hidrokimia airtanah dengan metode Diagram Piper Segiempat (Square Piper Diagram). Penelitian ini dilakukan di sekitar lembah Rawa Jombor, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Tujuan utama penelitian ini adalah : (a) mengetahui tipe akuifer dan tipe hidrokimia airtanah, dan (b) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi variasi karakteristik airtanah dan asal usul airtanah payau/asin di daerah penelitian. Manfaat penelitian ini adalah sebagai dasar untuk menentukan lokasi dan kedalaman sumur bagi penyediaan sumber air bersih di daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembah Rawa Jombor secara umum tersusu ole 2 tipe akuifer, yaitu akuifer bebas dan tertekan. Akuifer bebas meliputi akuifer bebas primer yang tersusun oleh endapan lempung pasiran volkan Merapi Muda, dan akuifer bebas sekunder yang tersusun oleh batugamping porous atay sekis-filit dengan banyak retakan dan sisipan kuarsa. Pada akuifer bebas primer banyak terdapat lensa-lensa airtanah payau-asin yang bervariatif antara satu tempat dengan tempat lain. Akuifer yang paling dalam adalah akuifer tertekan yang dibatasi oleh batuan malihan sekis-fill atau batugamping keras yang relatif kedap air. Pada umumnya akuifer tertekan terdapat di bagian timur rawa pada kedalaman >20 meter dan di bagian selatan rawa pada kedalaman >30 meter. Tipe hidrokimia airtanah di daerah penelitian dikelompokkan menjadi 5 tipe, yaitu tipe I (air bikarbonat, tawar), tipe II (air semi karbonat tawar), tipe III (air evaporite, payau-asin), tipe IV (air sulfat, payau), dan tipe Va yang merupakan awal pertukaran kation. Tipe III dan IV merupakan airtanah payau hingga asin yang banyak terdapat di bagian utara Rawa Jombor, yaitu di Tawang, Lebak, Bugel, dan Tanjungsari. Berdasarkan hidrostratigrafinya, airtanah kelompok ini merupakan lensa-lensa airtanah payau atau asin yang terdapat setempat-setempat pada akuifer bebas. 
Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas Manusia pada Ekosistem Terumbu Karang Netty Dahlah Uar; Sigit Heru Murti; Suwarno Hadisusanto
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2673.203 KB) | DOI: 10.22146/mgi.15626

Abstract

INFILTRASI TANAH DI KECAMATAN NGUTER KABUPATEN SUKOHARJO, PROPINSI JAWA TENGAH Setyawan Purnama
Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.098 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13262

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah uniuk mengetahui laju infiltrasi tanah di daerah penelitian serta menganalisis pengaruh faktor penggunaan lahan dan jenis tanah terhadap besar kecilnya laju infiltrasi di daerah penelitian. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan pengukuran infiltrasi dengan menggunakan ring infiltrometer ganda. Penentuan titik pengukuran dilakukan secara purposive sampling dengan memperhatikan faktor penggunaan lahan dan jenis tanah, sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan persamaan Horton.Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju infiltrasi tanah di daerah penelitian berkisar antara 0,002 cm/menit dan 0,079 cm/menit, dengan rata-rata 0,0132 cm/menit. Nilai ini tergolong rendah, sehingga diperkirakan di daerah penelitian terjadi limpasan permukaan yang cukup tinggi. Ditinjau dari faktor penggunaan lahan, tegalan mempunyai laju infiltrasi tertinggi, disusul oleh permukiman dan terendah adalah sawah. Ditinjau dari faktorjenis tanah, jenis Mediteran mempunyai laju infiltrasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan pada jenis Grumusol. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa perbedaan jenis tanah relatif lebih berpengaruh terhadap laju infiltrasi air Ice dalam tanah dibandingkan dengan perbedaan penggunaan lahan. Berdasarkan agihannya, daerah yang terletak di dekat Bengawan Solo umumnya mempunyai nilai laju infiltrasi yang lebih besar dibandingkan dengan daerah yang berada lebih jauh dari sungai. Untuk kapasitas infiltrasi hal ini berlaku sebaliknya.
Interpretasi Perubahan Penduduk Indonesia Dengan Menggunakan Beberapa Peta AGIHAN = The Interpretation of Indonesian Population Changes Using Some Distribution Maps Sudarsono Km
Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.693 KB) | DOI: 10.22146/mgi.5266

Abstract

Conducting a macro research on population which covers the entire territory of Indonesian and compiling the findings on maps appears to be an arduous procedure. In this respect, population distribution maps may save much time and funds. Although scarcely available, population distribution maps may yet be taken into consideration if it concerns geographical population studies. Comparison and interpretation of phenomena such as population changes in every province may already reveal distribution patterns and interrelated factors. The shortcomings of the used distribution maps for this article are complemented by secondary data.
DINAMIKA MASYARAKAT DAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG LINGKUNGAN DI KAWASAN BANDUNG UTARA Siti Fadjarajani
Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.49 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13319

Abstract

ABSTRAK Konversi lahan pertanian dinamika sosial dan semakin ekspansif diperkirakan mungkin telah mempengaruhi pengetahuan lingkungan dari Bandung di Area Utara, dan mempengaruhi fungsinya sebagai daerah penyangga untuk dirinya sendiri dan sekitarnya. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang efek dinamika masyarakat setempat dan tanah pertanian konversi pada kelestarian lingkungan studi Bandung Utara area.the dianalisis sembilan variabel, yaitu, tekanan penduduk atas tanah, status sosial, status ekonomi, gaya hidup , dan persepsi nilai tanah, perilaku spasial, perubahan ukuran tanah, perubahan kepemilikan tanah, dan perubahan penggunaan lahan. Sampel keluarga yang memiliki atau digunakan untuk lahan pertanian sendiri di Bandung di Area Utara, yang 416 KK. Mereka dipilih secara acak dengan teknik probability sampling. Kuesioner, teknik observasi wawancara, dan lapangan diadopsi untuk mengumpulkan data. Data dianalisa lebih lanjut dengan menerapkan deskriptif, pendekatan jelas dan teknik regresi berganda. Analisis dilakukan untuk menemukan tekad, R-square korelasi Spearman, dan koefisien t- student. Hasil analisis deskriptif dan korelasi menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara dinamika masyarakat dan konversi lahan pertanian serta pengaruhnya terhadap pengetahuan lingkungan di Bandung di Area Utara. Temuan kuantitatif menunjukkan bahwa status sosial, persepsi nilai tanah, perubahan ukuran tanah, dan perubahan kepemilikan tanah adalah variabel yang dapat digunakan untuk memprediksi pengetahuan lingkungan dan dampak positif dan signifikan terhadap pengetahuan tentang lingkungan. Variabel yang terkait dengan dinamika masyarakat dan konversi lahan pertanian dapat menjelaskan 27,6% dari pengetahuan lingkungan di Bandung di Area Utara, dan 72,4% oleh penyebab lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Temuan tersebut mungkin menjadi sumber Ilmu Sosial Ilmu (IPS) pendidikan dan pengembangan instruksional, yang dapat memiliki efek pada masyarakat dan lingkungan mereka.  ABSTRACT Social dynamics and increasingly expansive farm land conversion estimated might have influenced knowledge of environmental of Northern Bandung Area, and affected its function as a buffer area for itself and surrounding areas. It was therefore necessary to conduct a study on the effects the local community dynamics and farm land conversion on environmental sustainability of Northern Bandung Area.The study analyzed nine variables, namely, the pressure of population on land, social status, economic status, life style, and perception of land value, spatial behavior, changes in land size, changes in land ownership, and changes in land use. Samples were families who own or used to own farm lands in Northern Bandung Area, are 416 KK. They were randomly selected by a probability sampling technique. Questionnaire, interview, and field observations techniques were adopted to collect data. Data were further analyzed by applying a descriptive, explanatory approach and multiple regression technique. Analysis was carried out to find determination, Spearman’s R-square correlation, and t-student coefficients. The result of descriptive and correlation analysis show that there was a positive and significant correlation between community dynamics and farm land conversion as well as their effects on knowledge of environmental in Northern Bandung Area. Quantitative findings show that social status, perception of land value, changes in land size, and changes in land ownership are variables which can be used to predict knowledge of environmental and their positive and significant impacts on the knowledge of environmental. Variables related to community dynamics and farm land conversion can explain 27.6% of knowledge of environmental in Northern Bandung Area, and 72.4% by other causes is not explained in this research. Those findings may become a source of Social Studies Science (IPS) education and instructional development, which can have effects on community members and their environment.
Analisis Geomorfologi Untuk Rekonstruksi Tata Ruang Kuno Di Wilayah Pantai Karst Krakal, Gunungkidul Sunarto Sunarto
Majalah Geografi Indonesia Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.814 KB) | DOI: 10.22146/mgi.12755

Abstract

Ditinjau dari kondisi fisik wilayah Pantai Krakal yang datar, terdapat sumber air tawar, dan bemiaterial aluvium; maka meskipun wilayah pantai ini sekarang berupa lahan tegal, namun pada masa lampau dimungkinkan sekali menjadi lahan hunian. Jika Pantai Krakal dahulunya merupakan lahan hunian, maka yang menarik untuk diteliti adalah bagaimana tata ruang kuno di wilayah Pantai Krakal tersebut. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini merekonstrukri tata ruang kuno di wilayah Pantai Krakal berdasarkan analis geomorfologi. Cara penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu tahap kerja pralapangan,tahap kerja lapangan, dan tahap pascalapangan. Pada tahap pralapangan dilakukan studi pustaka dan pengumpulan data sekunder. Pada tahap kerja lapangan dilakukan orienrasi lapangan, Penentuan lokasi sampel secara purposif, ekskavasi untuk memperoleh penampang tegak tanah, sehingga diperoleh data stratigrafi, penyidikan sifot­ sifal tanah, pengamatan material penyusun, pengamatan penggunaan lahan, pengamatan sumber air tawar, dan pembuatan sketsa penampang geomorfologi. Pada tahap pascalapangan dilakukan analis data secara induktif-eksplanasi dengan berdasar pada konsep sebab-akibat dan merekonstruksi bentuklahan dalam kaitannya dengan penggunaan lahan kuno, sehingga diperoleh tata ruang kuno. Hasil yang diperoleh menunjukan, bahwa di wilayah Pantai Krakal terdapat empat satuan bentuklahan dengan persebaran dari selatan ke utara adalah pelataran pantai, beting gisik, dataran aluvial karst, dan kerucut karst sinoid. Berdasarkan karakteristik masing-masing saluan bentuklahan itu dapal diketahui tata ruang danpemanfaatan lahan kuno di wilayah Pantai Krakal. Pemukiman terletak di kaki kerucut karst sinoid, terutama : yang di dekatnya di jumpai sumber air tawar. Perladangan terdapat di dataran aluvial pantai karst, karena pada unit ini telah terbentuk tanah Mediteran dari material endapan Terra Rossa. Kegiatan nelayan dari penduduk masa lampau terletak di pelataran pantai dan beting    gesik, karena lokasinya di dekat garis pantai. Pekuburan terlerak di beting gesik karena materialnya masih lepas-lepas, sehingga mudah digali untuk penguburan.

Filter by Year

1988 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 2, No 3 (1989) Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 1 (1988) Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia More Issue