cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
UJI PERTUMBUHAN STEK CEMARA SUMATRA Taxus sumatrana (Miquel) de Laub. Henti Hendalastuti R.; Atok Subiakto; Iskandar Z. Siregar; Supriyanto Supriyanto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.3.289-298

Abstract

Cemara sumatra (Taxus sumatrana (Miquel) de Laub.) merupakan pohon penghasil taxane, zat aktif obat berkhasiat penyakit kanker. Perbanyakan bibit cemara sumatra bermasalah, karena sulitnya mendapatkan benih dan perkecambahan benihnya memerlukan perlakuan khusus. Teknik stek merupakan alternatif yang potensial untuk perbanyakan bibit jenis ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang pengaruh media terhadap pertumbuhan akar stek cemara sumatra. Sumber bahan stek berasal dari pohon dewasa yang tumbuh alami di Gunung Kerinci, Jambi. Media yang digunakan terdiri dari campuran serbuk kelapa : sekam padi (1:1 v/v), serbuk kelapa : sekam padi : tanah (1:1:1 v/v), dan serbuk kelapa : sekam padi (2:1 v/v).  Pengamatan terhadap perkembangan akar stek cemara sumatra dilakukan dengan menggunakan prosedur mikroteknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari semua variabel yang diamati, media hanya berpengaruh nyata terhadap kemampuan berakar stek.  Ketiga media yang dicobakan, campuran serbuk kelapa dan sekam padi pada perbandingan 2:1 v/v memberikan hasil terbaik untuk kemampuan berakar (66,7%).  Hasil dari pengamatan pertumbuhan dan perkembangan akar diketahui bahwa akar pada stek cemara sumatra berasal dari sel-sel meristem pada kambium
PENGARUH HUTAN DALAM PENGATURAN TATA AIR DAN PROSES SEDIMENTASI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) : STUDI KASUS DI DAS CISADANE Edy Junaidi; Surya Dharma Tarigan
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2011.8.2.155-176

Abstract

Peranan hutan dalam mengatur aliran sungai, baik debit aliran maupun debit sedimen, telah lama menjadi perhatian. Para ahli hidrologi berpendapat peranan hutan dalam mengatur aliran sungai dan sedimentasi hanya berlaku pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mempunyai luasan sempit ( < 100 km2), tidak berlaku untuk DAS-DAS yang mempunyai luasan >100 km2. Guna mengantisipasi kelemahan kelemahan penelitian sebelumnya, penelitian yang mengkaji peranan penutupan lahan hutan terhadap aliran sungai dan proses sedimentasi pada DAS dilaksanakan pada DAS dengan luasan sempit (< 100 km2), sedang (100 km2 - 500 km2) dan luasan lebar (> 500 km2). Penelitian ini memanfaatkan model hidrologi SWAT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji peranan penggunaan lahan hutan dalam pengaturan tata air dan sedimentasi yang terjadi pada suatu DAS dengan beberapa luasan tanpa mengabaikan peranan penggunaan lahan lain. Pada luasan DAS lebar, keberadaan hutan kurang berperan dalam mengatur tata air dan proses sedimentasi. Keberadaan lahan hutan berperan dalam mengatur tata air dan proses sedimentasi pada luasan sedang dan sempit.
MODEL KEBERHASILAN DAN MANAJEMEN PENANGKARAN CUCAK RAWA (Pycnonotus zeylanicus) Dini Ayu Lestari; Burhanuddin Masy’ud; Jarwadi Budi Hernowo
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2017.14.2.99-100

Abstract

ABSTRACTStraw-headed bulbul (Pycnonotus zeylanicus) is a popular singing bird widely traded in Indonesia. Captive breeding is one of the conservation efforts to increase the population outside the natural habitat, the refore research on captive breeding models is important. The objective of the study is mainly to describe the management and determine the model of straw-headed bulbul captive breeding. The study was conducted on May-July 2015 in 10 different captive breeding facilities in Bogor and Depok Districts. Data were collected through observations, measurement, and interview. Principal Components Regression with the stepwise methods was used to analyze the success model of captivity breeding. The study found that the captive breeding management has been operated appropriately to ensure its productivity, as demonstrated by the natality and mortality models. The natality model Y1 = 64.70 + 57.48 PC1 showed that captivity duration, higher parent productivity, and higher egg hatchability increase natality rate. The mortality model, Y2 = 19.10 – 4.23 PC2, showed that greater operational and capital costs incurred as well as longer treatment duration are able to suppress mortality.Key words: Captive breeding, management, principal components regression, straw-headed bulbul, success model.ABSTRAKBurung Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus, Gmelin 1789) merupakan salah satu burung berkicau terkenal dan marak diperdagangkan di Indonesia. Upaya konservasi untuk meningkatkan populasi di luar habitat alaminya adalah melalui penangkaran sehingga penelitian mengenai model keberhasilan penangkaran penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manajemen penangkaran pada lokasi penelitian dan menentukan model keberhasilan penangkaran cucak rawa. Penelitian dilakukan pada sepuluh penangkaran yang berlokasi di Kabupaten Bogor dan Depok. Penelitian dilakukan selama tiga bulan mulai Mei hingga Juli 2015. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung, pengukuran, dan wawancara. Data selanjutnya dianalisis menggunakan regresi komponen utama dengan metode stepwise untuk menentukan model keberhasilan. Hasil studi menunjukkan bahwa manajemen penangkaran yang sudah beroperasi hingga saat ini dinilai tepat untuk memenuhi kebutuhan produktivitas, seperti yang ditunjukkan dalam model perkembangan reproduksi berdasarkan angka kelahiran dan kematian. Model kelahiran Y1 = 64,.70 + 57,48 PC1 menunjukkan bahwa semakin lama menangkarkan, jumlah induk produktif banyak, dan daya tetas telur tingi maka semakin besar kelahiran. Model kematian Y2 = 19,10 – 4,23 PC2 menunjukkan bahwa semakin besar biaya operasional dan modal serta semakin lama durasi waktu perawatan maka angka kematian dapat ditekan.Kata kunci: Penangkaran, manajemen, regresi komponen utama, cucak rawa, model keberhasilan.
PENGARUH DOSIS DAN FREKUENSI APLIKASI PEMUPUKAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT Shorea ovalis Korth Nanang Herdiana; Abdul Hakim Lukman; Kusdi Mulyadi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.3.289-296

Abstract

Penelitian untuk memperoleh informasi tentang besarnya pengaruh dosis dan frekuensi pemberian pupuk NPK  terhadap  pertumbuhan bibit Shorea ovalis Korth.  (Blume.)  asal anakan alam telah dilakukan di persemaian dan laboratorium Balai Penelitian Kehutanan Palembang pada bulan Maret-Juni 2007. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Faktorial Kelompok dengan tiga kali ulangan.  Perlakuan yang diuji meliputi lima taraf dosis pupuk akar (0; 0,25; 0,50; 0,75; dan 1,00 gram/bibit) dan dua taraf frekuensi pemupukan (satu dan dua bulan sekali). Parameter yang diamati adalah persentase hidup, pertambahan tinggi, diameter, dan jumlah daun serta indeks kualitas semai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk berpengaruh sangat nyata (p < 0.001) terhadap parameter tinggi dan indek kualitas semai serta berpengaruh nyata terhadap parameter persentase hidup bibit dan jumlah daun, sedangkan  perlakuan frekuensi pemupukan berpengaruh nyata hanya terhadap parameter tinggi bibit. Interaksi antar perlakuan yang diuji tidak berpengaruh terhadap semua parameter.  Perlakuan yang memberikan pengaruh terbaik terhadap semua parameter pertumbuhan adalah dosis pupuk 0,25 gram/bibit dan frekuensi satu bulan sekali.
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PADA BERBAGAI TIPE HUTAN UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN ZONA RIMBA DI TAMAN NASIONAL BATANG GADIS Wanda Kuswanda; Bambang S. Antoko
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.4.337-354

Abstract

Pengelolaan zonasi Taman Nasional Batang Gadis (TNBG)  harus direncanakan secara komprehensif sehingga dapat menjembatani  kepentingan pelestarian dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi ilmiah mengenai keanekaragaman jenis tumbuhan pada berbagai tipe hutan dan strategi pengelolaan zona rimba. Kawasan zona rimba di TNBG mencapai ± 65.947 ha yang meliputi hutan primer, hutan sekunder, dan lahan kritis. Plot penelitian secara keseluruhan seluas 1,6 ha (40 plot) yang dibagi menjadi 10 plot pada setiap tipe hutan. Hasil penelitian tumbuhan teridentifikasi sekitar 117 jenis dan sekitar 14,5% termasuk famili  Dipterocarpaceae. Indeks keanekaragaman jenis setiap  tingkat pertumbuhan ada pada selang 2,5 sampai 3,5. Indeks kemiripan jenis tumbuhan di empat tipe hutan cukup rendah, rata-rata di bawah 50%. Alternatif rencana aksi yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan zona rimba adalah patroli dan pengamanan kawasan, pengembangan penelitian dan ilmu pengetahuan, pengayaan pada tipe hutan sekunder dan lahan kritis, penataan lokasi wisata ekologi terbatas, dan pengaturan kembali pemanfaatan hasil hutan non kayu.
DINAMIKA LUAS BIDANG DASAR PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR Ismayadi Samsoedin
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.3.271-280

Abstract

Kegiatan eksploitasi hulan produksi  di  Indonesia  telah  dilakukan    selama  lebih  dari  30 tahun. lnformasi tentang kondisi  hutan  terkini  terutarna luas bidang  dasar sangat diperlukan  untuk mengetahui  produktivitas hutan seteluh kegiatan penebangan. Penelitian  dilakukan  pada kawasan hutan bekas tebangan milik  PT. lnhutani I dan II  di  Kalimantan  Timur.  Data dikumpulkan dari 16  petak ukur permanen berukuran  masing-masing  satu  hektar,  terdiri  dan masing-masing   empat  petak  di LOA-5, 10, dan  30 tahun  serta ernpat petak di lokasi  hutan  primer  yang belum  ditebang. Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa 30 tahun setelah eksploitasi, produktivitas hutan kembali tinggi  yang ditunjukkan dengan tingginya  jumlah pohon (577 pohon/ha)  dan luas bidang dasar  (46,9  m2/ha),  sehingga tidak  berbeda nyata dengan  hutan  primer (605 pohon/ha,  45,8 rn2/ha), sedangkan produktivitas  LOA-5  (50 I  pohon/ha, 28,5 m2/ha) dan  10 tahun (501 pohon/ha,  32,6 m2/ha)  masih lebih  rendah  dibandingkan  hutan  primer.  Dalam  penelitian ini,  tidak  dijumpai  adanya indikasi  perubahan struktur  tegakan yang diukur dari sebaran kelas diameter
SEBARAN DAN KEPADATAN POPULASI SIAMANG (Symphalangus syndactylus Raffles, 1821) DI CAGAR ALAM DOLOK SIPIROK DAN SEKITARNYA, SUMATERA UTARA Rozza Tri Kwatrina; Wanda Kuswanda; Titiek Setyawati
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.1.81-91

Abstract

Siamang (Symphalangus syndactylusRaffles, 1821) merupakan satwa primata yang di Indonesia hanya dapat dijumpai di Pulau Sumatera dan saat ini populasinya terancam akibat tingginya laju kerusakan habitat di wilayah ini. Distribusi siamang di habitat aslinya sebagian besar hanya tinggal pada kawasan konservasi dan kawasan lindung lainnya.  Informasi distribusi dan kepadatan populasi siamang di habitat aslinya merupakan sarana penting dalam upaya pelestarian secara insitu. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang sebaran dan kepadatan populasi siamang di Cagar Alam Dolok Sipirok (CADS), Sumatera Utara. Metode jalur transek (line transect method) digunakan untuk menduga populasi siamang, dan komposisi kelompok diduga berdasarkan fase umurnya. Siamang yang dijumpai di CADS dan sekitarnya sebagian besar tersebar pada ketinggian 900-1.200 m dpl. Jumlah populasi siamang yang dijumpai adalah 24 individu, tersebar dalam tujuh kelompok. Sebanyak 81,8% kelompok atau individu dijumpai di hutan lahan kering primer, sedangkan sisanya sebanyak 9,1% dijumpai di hutan lahan kering sekunder dan pinggiran sungai di dekat pertanian lahan kering. Rata-rata ukuran kelompok adalah 3,43 individu/kelompok dengan kepadatan kelompok sebesar 3,71 kelompok/km2. Dugaan kepadatan siamang adalah 9,91±3,4 individu/km2 dengan nilai CV 0,22. Distribusi umur siamang menunjukkan bahwa kelas umur bayi dan anak paling sedikit di antara kelas umur lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa populasi siamang di CADS dan sekitarnya berpotensi mengalami penurunan pada masa yang akan datang. Pengayaan habitat sangat diperlukan sebagai upaya konservasi secara in-situ siamang tersebut.
PEMBIAKAN VEGETATIF STEK JENIS Koompassia excelsa (Becc.) Taub. SISTEM KOFFCO Rayan Rayan
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.2.141-146

Abstract

Koompassia excelsa (Becc.) Taub. adalah salah satu jenis tumbuhan inang penghasil madu. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi mengenai penghasil anakan jenis Koompassia excelsa (Becc.) Taub. dengan pembiakan vegetatif stek dengan sistem KOFFCO. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Dipterokarpa Samarinda, dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 2 x 3 dan 3 kali ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 30 bahan stek. Faktor pertama 2 taraf  yaitu S0 = stek pucuk dan S1 = stek batang. Faktor yang kedua adalah zat perangsang akar yang terdiri dari 3 taraf yaitu P0 = tanpa zat perangsang akar (kontrol), P1 = pemolesan zat perangsang akar Rootone-F, dan P2 = perendaman bagian stek dengan zat perangsang akar atonik selama 1 jam dengan konsentrasi larutan 100 ml/1liter air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase stek menjadi anakan secara keseluruhan adalah sebesar 82,4% dari stek yang diakarkan. Perlakuan stek batang meghasilkan anakan sebanyak 76% dan stek pucuk 88,67% dan setelah dianalisis kedua perlakuan tersebut di atas berpengaruh sangat nyata. Sedangkan hasil yang diperoleh dari perlakuan pemberian zat perangsang akar  Rootone-F dengan cara dioles, perendaman bagian stek yang akan tumbuh akar pada larutan atonik dengan konsentrasi 100 mml/liter air selama 1 jam dan kontrol stek menjadi anakan berturut-turut sebanyak 80%, 84%, dan 83%, dan setelah dianalisis tidak berbeda nyata.
PERUBAHAN KANDUNGA KARBON TANAH PADA TEGAKAN Paraserianthes falcataria (L) Nielsen DI SUKABUMI, JAWA BARAT Harris Herman Siringoringo; Chairil Anwar Siregar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.5.477-489

Abstract

Karbon tanah dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.   Oleh karena itu, mempelajari perubahan kandungan karbon tanah di bawah tegakan hutan tanaman adalah sangat penting. Tujuan utama penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang perubahan kandungan karbon dengan cara membandingkan kandungan karbon tanah, kerapatan tanah, dan simpanan  karbon tanah kumulatif pada tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi awalnya (hutan sekunder). Penelitian dilaksanakan   pada jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim B (curah hujan tahunan 2.929 mm) di Desa Buniwangi, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan karbon tanah lebih tinggi pada lapisan permukaan tanah dan menurun pada lapisan tanah yang lebih bawah.  Karbon tanah pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P. falcataria dan vegetasi baseline tidak menunjukkan perbedaan, yaitu berturut-turut 1,52-3, 16 % dan  1,24-3,21 %. Sedangkan kerapatan tanah (BD) pada tegakan P. falcataria lebih tinggi daripada kerapatan tanah pada vegetasi baseline  pada kedalaman 0-30 cm, yaitu berturut-turut 0,83-0,86 glee dan  0,73-0,76  glee. Sementara simpanan karbon tanah kumulatifpada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P.falcataria sedikit lebih tinggi daripada vegetasi baseline walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan, yaitu sebesar59,43 ton/ha dan 51, 16 ton/ha secara berurutan. Si stem tegakan hutan tanaman rakyat jenis P. falcataria belum memberikan pengaruh yang berarti terhadap peningkatan kandungan karbon tanah dan simpanan karbon tanah kumulatif pada saat tegakan berumur 6-7 tahun.
EFEKTIVITAS PEMBENTUKAN GAHARU DAN KOMPOSISI SENYAWA RESIN GAHARU PADA Aquilaria spp. Erdy Santoso; Luciasih Agustini; Irnayuli R. Sitepu; Maman Turjaman
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.6.543-551

Abstract

Gaharu terjadi melalui proses patologis yang unik akibat respon terhadap infeksi jamur pada pohon pembentuk gaharu, seperti Aquilaria spp.   Pembentukan gaharu ditandai oleh proses pencoklatan jaringan batang pada area terinfeksi akibat akumulasi resin, yaitu metabolit sekunder yang merupakan senyawa penentu kualitas gaharu. Standar untuk menentukan kualitas resin gaharu masih sulit ditemukan. Penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang efektivitas 14  jamur pembentuk gaharu dalam membentuk gejala kecoklatan pada gaharu dari jenis Aquilaria spp. dan komposisi resin pada gaharu alami dan buatan. Fusarium solani Ga-7a adalah jamur yang paling efektif dalam menginduksi gejala kecoklatan secara vertikal, yaitu 12,7 cm, tetapi dua jamur: F. solani Ga-4a dan Cylindrocarpon sp. Ga-8b menghasilkan jarak kecoklatan terpendek, yaitu 2,23 dan 2,13 cm. Jarak horizontal terlebar didapat pada batang yang diinduksi oleh F. solani  Ga-4b and F. triticum Ga-3, yaitu 3,27 dan 3,03 cm. Cylindrocarpon sp. Ga-8b menghasilkan jarak yang paling sempit, yaitu 1,50 cm. Analisis dengan gas chromatography mass spectrophotometry mengindikasikan bahwa kelas kamedangan alami terdiri dari 120 senyawa resin dan umumnya  tergolong  sesquiterpenoid (C 15 ) atau senyawa turunannya. Enam dari isolat yang diujikan berpotensi menginduksi senyawa methyl-hexadecanoate dan/atau palmitic acid; hexadeconoic acid, yang memiliki kemiripan yang rendah dengan senyawa dari kelas kamedangan. Penelitian selanjutnya pengaruh faktor biotik dan abiotik dalam pembentukan gaharu artifisial seyogyanya segera dilakukan.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue