cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
STATUS POPULASI DAN HABITAT BURUNG DI BKPH BAYAH, BANTEN N.M. Heriyanto; R. Garsetiasih; Pujo Setio
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.3.239-249

Abstract

Tujuan  penelitian  ini  adalah  untuk  mendapatkan  informasi  tentang status  populasi,  tipe  habitat,  dan keragaman jenis burung di BKPH Bayah, KPH Banten. Metode pengamatan dilakukan dengan meletakkan plot sepanjang satu km lebar 50 m pada masing-masing habitat. Hasil penelitian menunjukkan, burung yang dijumpai di lokasi penelitian berjumlah 104 jenis yang tercakup dalam 31 famili, 21 jenis di antaranya dilindungi menurut Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999. Satu jenis burung yaitu  Pitta guajana Muller termasuk dalam Appendix II CITES. Habitat burung di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bayah, Banten ada empat tipe yaitu hutan alam, hutan mahoni, hutan jati, dan hutan campuran, di mana hutan campuran mempunyai keragaman jenis burung dan keseimbangan  paling tinggi (H = 3,54 dan E = 0,90). Kepadatan dan keragaman burung di lokasi penelitian didominasi oleh jenis walik jambu (Ptilinopus jambu Gmelin)  sebanyak  240  ekor/km2 dan 0,33,  anis  hutan (Zoothera  andromedae  Latham) sebanyak 150 ekor/km2  dan 0,20, walet serang hitam (Collocalia maxima Linnaeus) sebanyak 120 ekor/km2  dan 0,24, cinenen pisang (Orthotomus sutorius Pennant) 120 ekor/km2  dan 0,23, cica daun sayap biru (Chloropsis cochinchinensis Gmelin) sebanyak 120 ekor/km2 dan 0,17. Pengelolaan secara in-situ telah dilakukan oleh Perhutani dengan mempertahankan hutan alam sebagai hutan lindung, dan meningkatkan kesadaran masyarakat mencegah perburuan liar.
UKURAN MORFOMETRIK BANTENG (Bos javanicus d’Alton, 1823) UNTUK MENDUGA BOBOT BADAN Mariana Takandjandji; Reny Sawitri
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2015.12.1.59-73

Abstract

 Bobot badan banteng  (Bos javanicus d’Alton, 1823) baik di penangkaran maupun di alam perlu diketahui untuk memantau tingkat konsumsi pakan dan kesehatan.   Pengukuran morfometrik (lingkar dan diameter dada, panjang  badan,  tinggi  pundak)  banteng  di  Kebun  Binatang  Surabaya (KBS)  dan  Taman  Safari Indonesia (TSI) II Prigen, Pasuruan bertujuan untuk menduga bobot badan. Penelitian menggunakan banteng di KBS sebanyak sepuluh individu terdiri atas lima jantan dan lima betina sedang di TSI II sebanyak 16 individu, delapan jantan dan delapan betina. Analisis data menggunakan persamaan regresi linier sederhana, analisis keragaman, analisis korelasi antara bobot badan dengan ukuran morfometrik serta menggunakan rumus pendugaan bobot badan berdasarkan Schoorl, Smith dan Winter.   Hasil analisis menunjukkan, ada korelasi positif yang sangat nyata (P > 0,01) antara bobot badan dengan lingkar dada dan diameter dada jantan dan betina pada banteng KBS dan TSI II
EVALUASI PENGGUNAAN BEBERAPA METODE PENDUGA BIOMASSA PADA JENIS Acacia mangium Wild Muhammad Abdul Qirom; M. Buce Saleh2; Budi Kuncahyo
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.3.251-263

Abstract

 Metode  pengukuran  biomasa  sangatlah  beragam  dengan  akurasi  dan ketepatan  yang  berbeda-beda. Keakuratan dan  ketepatan metode pengukuran tersebut perlu dibandingkan untuk  mendapatkan metode terbaik. Tujuan penelitian ini  adalah 1)  mendapatkan besarnya alokasi biomasa  masing-masing bagian tanaman, 2) mendapatkan nilai Biomass Expansion Factor (BEF) dan Root to Shoot Ratio (R) jenis Acacia mangium Willd., 3) mendapatkan persamaan alometrik biomasa masing-masing bagian tanaman, 4) mendapatkan  metode  terbaik  untuk  menduga  biomasa  di hutan  tanaman  Acacia  mangium  Wild.  di Kalimantan Selatan. Pengambilan sampel pohon dilakukan secara destructive sebanyak 30 pohon contoh yang mewakili umur satu, dua, tiga, empat, lima, enam, delapan, dan sembilan tahun.  Berdasarkan pohon contoh tersebut didapatkan data biomasa, Biomass Expansion Factor dan Root to Shoot Ratio (R). Penyusunan model alometrik menggunakan model linear dan non linear. Hasil penelitian menunjukkan alokasi biomasa terbesar pada bagian batang (> 50%) dan ranting menyimpan biomasa terkecil Pada umur 1-9 tahun, besarnya BEF (Mg.m-3) berkisar antara 0,44-0,71 Mg.m-3 dan nilai BEF (Mg.) jenis Acacia mangiumWild. berkisar antara 1,06-1,80. Rata-rata nilai R yakni 0,16. Pada bagian permukan  tanah model alometrik terbaik yakni AGB = - 3.14 + 2.84 lnD dengan koefisien determinasi R2  98,6%. Metode penduga biomase terbaik menggunakan BEF (Mg.Mg) per umur. Penggunaan metode ini membutuhkan persamaan alometrik penduga biomassa batang.
KERAGAMAN BENTHOS SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS EKOSISTEM PERAIRAN HUTAN PRODUKSI Reny Sawitri; M. Bismark
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.5.519-526

Abstract

Kualitas   ekosistem    pcrairan   di  hutan   produksi    dipeugaruhi   olch teknik   penebangan   hutan  secara konvesional  (CNV) dalamhal  ini TPTI a tau ramah  lingkungan  (Re.duced Impact loggiflg, RIL). Penelitian pengaruh  penebangan   terhadap kualitas air bertujuan melihat dari keragaman   dan populasi  benthos  di perairan CNV dan Rll.  dan menjadikan  keragaman  bcnthos  sebagai indikator kualitas perairan.  Metode penentuan   lokasi  pengambilan   contoh  adalah  purposive random  sampling  dan  parameter  yang  diteliti adalah  kualitas fisik dan kimia air, keragaman benthos, serta  tekstur dasar sungai. hasil penelitian menunjukkan  bahwa keragaman benthos di CNV dipengaruhi oleh BOD dan  COD, sedangkan  di perairan RIL, dipengaruhi oleh  DO.  Kandungan hara yang diindikasikan  dari jumlah nitrogen dan fosfat di kawasan RTL lcbih tinggi daripada  di CNV. Dari  15  jenis  benthos  yang teridcnti  likasi di lokasi penelitian  termasuk ke dalam  9 ordo.  Jenis yang penyebarannya  Joas  atau  dengan  frekuensi keberadaannya  tinggi adalah Laccophylus sp. (Coleoptera),   llagenius sp. (Odonata), Palaemonetes sp. (Dccapoda),  dan Macrobrachium  sp. (Decapoda).  Keberadaan  jenis benthos  ini  dipengaruhi   oleh substrat  dasar sungai  di ekosistem perairan, di mana CNV lebih banyak mengandung  tanah  lempung dan liat dibandingkan   dengan di perairan  RJL, sehingga   populasi  benthos lebih tinggi, yaitu  180  individu  per m2 dibandingkan dengan 108, 75  individu per m2.   Keberadaan  jenis  benthos  tersebut  mcnunjukkan kualitas  air tergolong  dalam kategori  bersih,
REKLAMASI LAHAN TERDEGRADASI DENGAN REVEGETASI PADA BEKAS TAMBANG BAHAN BAKU SEMEN A. Pudjiharta; E. Santoso; M. Turjaman
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.3.223-238

Abstract

egiatan reklamasi atau rehabilitasi lahan hutan terdegradasi adalah bagian dari agenda 21 KTT Bumi di Rio de Janerio dan merupakan salah satu dari lima prioritas kebijakan pemerintah (Departemen Kehutanan). Luas lahan hutan terdegradasi di Indonesia telah mencapai kondisi yang mengkhawatirkan meliputi 48,5 juta ha yang terdiri dari 26,6 juta ha lahan di dalam hutan, 21,9 juta ha lahan di luar hutan, dan 11,40 juta ha lahan sebagai konsesi pertambangan. Keadaan seperti itu menyebabkan lahan terdegradasi makin luas. Penelitian uji coba jenis-jenis tanaman telah dilakukan di lahan terdegradasi akibat tambang bahan baku semen di Gunung Putri dan Cibadak. Penelitian ini dimaksudkan untuk mereklamasi lahan terdegradasi akibat tambang bahan baku  semen  secara  vegetatif. Dari  penelitian ini  diperoleh informasi tingkat  survive  tujuh jenis tanaman uji coba setelah umur satu tahun masing-masing adalah : Acacia crassicarpa A. Cunn Et Benth (60%), Khaya anthoteca C.DC (80 %), Gmelina arborea Roxb. (80 %), Dalbergia latifolia Roxb. (83 %), Hisbiscus macrophylla Roxb. (86 %), Acacia mangium Willd (91 %), dan Adenanthera pavovina L (96 %). Beberapa faktor penyebab kegagalan tanaman adalah ternak sapi dan kambing yang dibiarkan berkeliaran, aktivitas manusia dalam kegiatan pertanian di lahan bekas tambang, tanah timbunan relatif baru, sifat tanah dalam keadaan kering keras/padat dan pecah-pecah dan dalam keadaan basah tergenang. 
KERAGAMAN GENETIK DAN SITUS POLIMORFIK TRENGGILING (Manis javanica Desmarest, 1822) DI PENANGKARAN Reny Sawitri; Mariana Takandjandji
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2014.11.1.1-11

Abstract

Trenggiling (Manis javanica Desmarest, 1822) merupakan satwa yang terancam keberadaannya akibat perburuan liar dan perdagangan ilegal, sehingga termasuk satwa dilindungi dan terdaftar pada Appendix IICITES. Upaya penangkaran trenggiling telah dilakukan oleh penangkar satwa di Medan, Sumatera Utara,menggunakan indukan dari alam. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang variabilitasgenetik dan hubungan kekerabatan populasi trenggiling di penangkaran tersebut untuk mencegah perkawinansedarah. Metode yang digunakan adalah analisis sekuen D loop mitokondria (mt) DNA melalui sampel darahKonsentrasi DNA dari 11  individu trenggiling berkisar antara 74,75-1013,25 ng/µl, memiliki delapanmacam haplotipe. Keragaman genetik ke-11 trenggiling sangat rendah (0,00337). Uji Tajima (D = -0,75298)dan uji Fu & Li (0,19158) menunjukkan 11 individu dalam populasi tersebut telah terjadi inbreeding dan berasal dari lokasi yang berdekatan, tetapi  kedua nilai tersebut tidak signifikan (P>0,10). Berdasarkan pohonfilogeni, perkawinan induk trenggiling dapat diatur sebagai berikut: SIB-05/SIB-10 (♂) dapat dikawinkan dengan SIB-08/SIB09 (♀), SIB 01/SIB-07/SIB-03/SIB-06 (♂) dapat dikawinkan dengan SIB-04 (♀),sedangkan SIB-02 (♀) dapat dikawinkan dengan SIB-11 (♂), sehingga laju inbreeding dapat ditekan dan keragaman genetiknya dapat dipertahankan.
EKOLOGI DAN PEMANFAATAN NITAS (Sterculia foetida L.) DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN, NUSA TENGGARA TIMUR Gerson ND Njurumana
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2011.8.1.35-44

Abstract

Penelitian mengenai ekologi dan pemanfaatan nitas (Sterculia foetida L.) bertujuan untuk memperoleh data dan informasi mengenai sebaran ekologi pertumbuhannya pada berbagai mintakat dan jenis tanah serta pemanfaatannya oleh masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan observasi penyebaran pada berbagai mintakat, kemudian melakukan pengambilan koordinat untuk dipetakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nitas memiliki penyebaran pada berbagai mintakat, terutama pada ketinggian di bawah 750 m dpl. Berdasarkan jenis tanah, sebaran dominan pada tanah kambisol, dan berdasarkan kelerengan banyak ditemukan pada kelerengan agak datar. Masyarakat menggunakan kayunya untuk bahan konstruksi ringan dan pengobatan tradisional. Kesimpulan penelitian adalah nitas memiliki sebaran yang luas, baik dari aspek pemintakatan, jenis tanah dan curah hujan, namun sangat terbatas dari aspek kelerengan.
KEKAYAAN JENIS POHON DI HUTAN TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO, JAWA BARAT Andes Hamuraby Rozak; Sri Astutik; Zaenal Mutaqien; Didik Widyatmoko; Endah Sulistyawati
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2016.13.1.1-14

Abstract

ABSTRACTTrees are one of the main important structures in forest vegetation. Other than timber and non-timber product, trees also indirectly provide ecosystem services. Until now, information on tree species richness and its relation to the elevation gradient in Mount Gede-Pangrango National Park (MGPNP) is not exist. The objectives of this research were to estimate the trees species richness and describe the relation between tree diversity to the elevation gradient in this area. A total of 26 plots (size: 20 m x 100 m each) from 1,013 m - 3,010 m asl were laid down and classified into three zones i.e. sub montane (1,000 m-1,500 m asl), montane (1,500 m-2,400 m asl) and subalpine zone (>2,400 m asl). The results showed that tree species richness on this mountain taken from 1,479 enumerated trees was 127 species. Species richness of each zone were 79, 70 and 33 species for sub montane, montane and sub alpine zone respectively. The sub montane zone hold the highest tree species richness. A significant effect of elevation gradient to tree diversity indices was identified. The individual number was positively correlated, while species richness, Shannon-Wiener index and Evenness index were negatively correlated with elevation gradient.Key words: Montane zone, Mount Gede Pangrango National Park, sub alpine zone, sub montane zone, trees.ABSTRAKKelas pohon merupakan unsur penting dalam struktur vegetasi suatu hutan. Nilai penting pohon selain sebagai penghasil kayu dan non kayu juga berperan penting dalam jasa lingkungan. Sampai saat ini, informasi tentang berapa jumlah minimal jenis pohon yang ada di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango belum secara persis diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang jumlah minimal jenis pohon dan keterkaitannya dengan faktor ketinggian tempat di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Sejumlah 26 plot berukuran 20 m x 100 m yang berada pada rentang ketinggian 1.013-3.010 m dpl dibuat dan dikelompokkan dalam tiga zona, yaitu zona sub montana (1.000-1.500 m dpl), zona montana (1.500-2.400 m dpl) dan zona sub alpin (> 2.400 m dpl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total jenis pohon yang terdapat di kawasan ini (yang terdiri dari 1.479 individu pohon), yaitu 127 jenis dengan jumlah jenis pada masing-masing zona adalah 79 jenis (zona sub montana), 70 jenis (zona montana) dan 33 jenis (zona sub alpin). Hasil tersebut menunjukkan bahwa dari 127 jenis pohon yang berhasil dicatat, zona sub montana merupakan zona yang memiliki jenis pohon terbanyak. Selain itu juga, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara ketinggian tempat dengan indeks keragaman pohon. Jumlah individu pohon diketahui memiliki korelasi yang positif dengan faktor ketinggian, sementara jumlah jenis, indeks Shannon-Wiener dan indeks Evenness memiliki korelasi negatif dengan faktor ketinggian.Kata kunci: Pohon, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, zona montana, zona sub montana, zona sub alpine.
PENYEBARAN DAN POPULASI BURUNG PARUH BENGKOK PADA BEBERAPA TIPE HABITAT DI PAPUA Hadi Warsito; M. Bismark
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.1.93-102

Abstract

Keberadaan suatu spesies di suatu tempat sangat tergantung dari adanya sumber pakan dan kondisi habitat yang sesuai. Pada taksa burung, kondisi penutupan lahan, sediaan pakan, dan gangguan dari manusia menjadi sebagian faktor yang dapat mempengaruhi sebaran dan ukuran populasi spesies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sebaran dan populasi burung paruh bengkok (Psittacidae) di beberapa tipe habitat di Papua. Pengamatan yang dilakukan terhadap spesies, populasi, dan kondisi habitat Psittacidae ini menggunakan metode garis transek, pada beberapa hutan di wilayah dalam kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan di Pulau Numfor. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya delapan spesies di daerah hutan campuran Aisandami, tujuh spesies di daerah Werabur, dan lima spesies di Saribi. Di daerah Aisandami, spesies Cacatua galerita Latham, 1790 dan Micropsitta geelvinkiana (Schlegel, 1871) mendominasi populasi dengan sebaran luas. Spesies Lorius lory Linn merupakan yang paling dominan dan tersebar merata di daerah Werabur, sedangkan spesies Eos cyanogenia Bonn dan Eclectus roratus Mull menjadi spesies dominan yang tersebar di wilayah hutan Saribi. Habitat pada ketiga lokasi yang diamati menunjukkan adanya tipe yang beragam, mulai dari hutan campuran, hutan sagu, kebun masyarakat, hutan primer, hutan peralihan, dan hutan pantai. Aktivitas manusia yang tinggal di sekitar habitat memberikan pengaruh cukup besar pada sebaran dan ukuran populasi kelompok spesies yang ada
MODEL ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL RAWA AOPA WATUMOHAI, DI PROVINSI SULAWESl TENGGARA Hendra Gunawan; Merryana K Allo; Indra A.S.L.P. Putri; Maryatul Qiptiyah; M Azis Rakhman
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.5.477-490

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model penyangga Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) yang sesuai dengan karakteristik biofisik, sosial, ekonomi, dan budaya Kriteria dan indikator yang di gunakan di adaptasi dari berbagai sumber yang sudah banyak di terapkan. suatu survei dengan wawancara terstruktur, kuesioner, dan checklist di gunakan untuk menganalisis vegetasi dan transek untuk menginventarisasi satwaliar. Hasil penelitian merekomendasikan model  penyangga yang dapat mengurangi atau menghilangkan tekanan terhadap taman nasional sekaligus juga meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Model penyangga yang dapat berfungsi demikian adalah penyangga ekonomi dan zona pemanfaatan nasional.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue