cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 427 Documents
KERAGAMAN DAN ESTIMASI PARAMETER GENETIK BIBIT MAHONI DAUN LEBAR (Swietenia macropylla King.) DI INDONESIA Mashudi Mashudi; Mudji Susanto; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.829 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2017.14.2.115-125

Abstract

ABSTRACTSwietenia macrophylla King. is an exotic species from Latin America. It had been planted in Indonesia since 1870 by the Dutch. This species is important construction timber in Indonesia. This study aimed to measure variation and genetic parameter estimation of S. macrophylla seedling as material of progeny trial development. The experimental design used Randomized Complete Block Design (RCBD) consisting of two factors, namely the land race (A) (Banjar-West Java, Samigaluh-Kulonprogro, Bondowoso-East Java and Lombok– West Nusa Tenggara) and mother trees (B) (35 mother trees). Five seedlings were recorded and repeated 5 times for each mother tree. In this study factor B nested in factor A. The result showed that land race significantly affected to height, stem diameter, and index of robustness; while the mother trees significantly affected to height, stem diameter, number of leaf, and index of robustness. Individual heritability of height, stem diameter, number of leaf, and index of robustness character were 0.35, 0.40, 0.17, and 0.48 respectively, while family heritability of height, stem diameter, number of leaf, and index of robustness character were 0.74, 0.75, 0.54, and 0.77 respectively. Genetic correlation between height and stem diameter (0.70), height and index of robustness (0.40), number of leaf and index of robustness (0.52) were positive value. While genetic correlation between height and number of leaf (-0.03), stem diameter and number of leaf (-0.46) and stem diameter and index of robustness (-0.67) were negative value.Keywords : Genetic correlation, heritability, land race, Swietenia macrophylla, variation genetic  ABSTRAKMahoni daun lebar (Swietenia macrophylla King.) merupakan jenis eksotik dari Amerika Latin yang telah ditanam di Indonesia sejak tahun 1870 oleh Belanda. Jenis ini merupakan kayu pertukangan yang penting di Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengetahui keragaman dan nilai parameter genetik bibit S. macrophylla sebagai materi untuk membangun uji keturunan. Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok Pola Tersarang yang terdiri dari dua faktor, yaitu ras lahan (Banjar-Jabar, Samigaluh– Kulonprogo, Bondowoso-Jatim, dan Lombok-NTB); dan pohon induk (35 pohon induk). Masing-masing pohon induk diamati 5 bibit dan diulang sebanyak 5 kali. Pada penelitian ini faktor pohon induk bersarang dalam faktor ras lahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa ras lahan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi, diameter batang, dan indeks kekokohan, sedang pohon induk berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi, diameter batang, jumlah daun, dan indeks kekokohan. Nilai heritabilitas individu sifat tinggi, diameter batang, jumlah daun, dan indeks kekokohan berturut-turut sebesar 0,35, 0,40, 0,17, dan 0,48, serta nilai heritabilitas famili untuk sifat tinggi, diameter batang, jumlah daun dan indeks kekokohan berturut-turut sebesar 0,74, 0,75, 0,54, dan 0,77. Korelasi genetik antara tinggi dengan diameter batang (0,70), tinggi dengan indeks kekokohan (0,40), dan jumlah daun dengan indeks kekokohan (0,52) bernilai positif. Sementara itu korelasi genetik antara tinggi dengan jumlah daun (-0,03), diameter batang dengan jumlah daun (-0,46), dan diameter batang dengan indeks kekokohan (-0,67) bernilai negatif.Kata kunci : Heritabilitas, keragaman genetik, korelasi genetik, ras lahan, Swietenia macrophylla   
PERAN MEDIA DASAR DAN KONSENTRASI HORMON PERTUMBUHAN TERHADAP INDUKSI DAN MULTIPLIKASI TUNAS PUCUK KEMENYAN Jayusman Jayusman
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2919.12 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2006.3.1.1-10

Abstract

Salah satu cabang bioteknologi yang telah diterapkan di Indonesia adalah perbanyakan kultur jaringan. Sejumlah tanaman telah berhasil diproduksi secara komersial seperti T grandis dan A. mangium. Saat ini pengembangan jenis-jenis prioritas seperti jenis G. bancanus dan S. benzoine mulai ditangani secara intensif. Urituk itu percobaan ini ditujukan mendapatkan dasar, jenis dankombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang ideal pada fase induksi dan multiplikasi S. benzoine. Pengujian difokuskan pada aplikasi media dasar (MS dan 1h MS) dan aplikasi ZPT BAP, NAA dan Kinetin pada beberapa konsentrasi pada tahap induksi dan multiplikasi S. benzoine, Hasil pengujian  menunjukkan  bahwa inisiasi eksplan pucuk pada media dasar lh MS dengan aplikasi kombinasi ZPT BAP 1 ppm+ IAA 0,05 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap induksi dan kombinasi media dasar MS dengan aplikasi kombinasi BAP 0,5 ppm + NAA 0,01 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap multiplikasi.
KARAKTERISTIK TAPAK, BENIH DAN BIBIT 11 POPULASI JABON PUTIH (Anthocepalus cadamba Miq.) Dede J Sudrajat; Yulianti Bramasto; Iskandar Z Siregar
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.309 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2014.11.1.31-44

Abstract

Jabon putih (Anthocephalus cadamba Miq.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan cepat tumbuh potensial yang tersebar secara alami di sebagian besar pulau-pulau Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik tapak dan keragaman morfofisiologi benih dan bibit jabon putih. Benih dikumpulkan dari 11 populasi alami, yaitu di Sumatera (3 populasi), Jawa (2 populasi), Nusa Kambangan (1 populasi), Kalimantan (2 populasi), Sulawesi (2 populasi) dan Sumbawa (1 populasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jabon putih mempunyai sebaran tempat tumbuh yang sangar luas dan kisaran kondisi tapak secara alami yang cukup beragam. Jenis ini mampu tumbuh baik pada kisaran ketinggian tempat 23–628 m dpl dengan kisaran pH tanah 4,4–6,7 dan tingkat kesuburan rendah hingga tinggi. Karakteristik morfofisiologi benih dan bibit berbeda nyata antar populasi, kecuali untuk karakter panjang radikula. Buah dengan ukuran dan berat yang lebih tinggi berkorelasi dengan pertumbuhan bibit yang lebih baik. Panjang benih berkorelasi dengan waktu rata-rata berkecambah dan panjang radikula. Korelasi juga terjadi antar karakter pada tingkat bibit. Sebagian besar karakter benih dan bibit yang diamati tidak berkorelasi dengan faktor- faktor geoklimat. Koefisien keragaman genotipe untuk semua parameter buah, benih, dan bibit ditemukan lebih tinggi daripada koefisien keragaman lingkungan.
RIAP HUTAN TANAMAN JATI DAN CENDANA DI NUSA TENGGARA TIMUR I Wayan Widhiana Susila
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.769 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2009.6.3.157-185

Abstract

Jenis jati (Tectona grandis) dan cendana (Santalum album) merupakan komoditi yang banyak dikembangkan pada program hutan tanaman selama ini di Timor. Akan tetapi, informasi kuantitatif kedua jenis tanaman tersebut masih relatif kurang, seperti misalnya data riap tegakan. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi riap dan model pertumbuhan untuk pengelolaan tegakan yang lestari. Penelitian jati dilaksanakan di Timor (2 lokasi) pada tahun 1997 – 2004  dan cendana di Alor pada tahun 2004 – 2006 dengan pembuatan dan pengukuran masing-masing petak ukur permanen (PUP) pada setiap lokasi ukuran 3 x 50 x 50 m. Pengukuran/pengamatan ulangan dilakukan  setiap tahun pada bulan yang sama. Riap volume tegakan jati umur 10 tahun di Takari adalah 7,67 m3 ha-1 tahun-1; tegakan jati di Polen pada umur 8 tahun adalah 1,96 m3 ha-1 tahun-1, dan tegakan umur 7 tahun adalah 2,27 m3 ha-1 tahun-1. Riap volume tegakan cendana di Alor pada umur 31 tahun adalah  0,32 m3 ha-1 tahun-1,dan tegakan umur 19 tahun adalah 0,74 m3 ha-1 tahun-1. Model penduga tegakan jati di Takari adalah 1) D (cm) = 5,52356 + 0,08710X, dan 2) T (m) = 2,31488 + 0,18455X dan jati di Polen tahun 1997 adalah1) D (cm) = 2,25149 + 0,19089X, dan 2) T (m) = 2,33788 + 0,15172X. Model penduga tegakan cendana tahun 1976 adalah 1) D (cm) =  6,5412 + 0,0192X , 2) Log T (m) = Log -14,6848 + 6,0541 Log X, dan cendana tahun 1987 adalah 1) D (cm) = 6,9839 + 0,2140 X , 2) Log T (m) = Log -4,4230 +  3,6507 Log X.  Dimana : a)  X = umur tegakan, b) D = diameter tegakan, dan c) T = tinggi tegakan.
ANALISIS FINANSIAL HUTAN TANAMAN CAMPURAN MERANTI MERAH (Shorea spp.) DAN KARET RAKYAT (Hevea brasiliensis) DI HINAS KIRI KALIMANTAN SELATAN Kushartati Budiningsih; Rachman Effendi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.122 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.4.233-240

Abstract

Sampai saat ini pembangunan hutan tanaman penghasil kayu pertukangan belum optimal. Usaha hutan tanaman penghasil kayu pertukangan memang membutuhkan waktu yang relatif lama. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kelayakan finansial usaha budidaya hutan tanaman penghasil kayu pertukangan jenis pola campuran dengan karet (Hevea brasiliensis ) pada skala rumah tangga. Objek penelitian yang dipilih adalah tanaman meranti merah yang dikembangkan masyarakat di Desa Hinas Kiri Kecamatan Batang Alai Timur Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis biaya manfaat usaha budidaya meranti campuran karet yang dilakukan pada tingkat suku bunga 12% diperoleh nilai NPV sebesar Rp14.359.207 dengan nilai BCR 2,70 dan IRR 18%. Usaha budidaya ini sangat sensitif terhadap penurunan baik jumlah produksi getah karet maupun harga getah. Hal tersebut menunjukkan bahwa dari aspek finansial usaha budidaya meranti merah campuran karet layak untuk dikembangkan.
PENGARUH ASAL SUMBER BENIH DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN SENGON Burban Ismail; Hidayat Moko Moko
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2168.832 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2005.2.1.43-50

Abstract

Pembangunan hutan tanaman sengon masih dihadapkan pada kendala asal sumber benih dan jarak tanam yang kurang optimal sehingga produktivitas tanaman masih rendah. Penelitian dengan tujuan untuk menguji asal sumber benih dan jarak tanam sengon telah dilakukan di areal Perum Perhutani di Jumo, Temanggung, Jawa Tengah, sejak September 2003 sampai Desember 2004. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terpisah dengan 7 perlakuan asal sumber benih dan 3 perlakuan jarak tanam dengan  5 ulangan  dan 5 tanaman setiap ulangan. Perlakuan asal sumber benih sebagai petak utama yaitu Biak, Wamena, Ciamis, Subang, Candiroto, Kediri dan Wonogiri, sedangkan perlakuan jarak tanam sebagai anak petak yaitu (2x2) m2,  (2x3) m2  dan (2x4) m2•   Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman dan diameter batang setiap bulan dari 6-9 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asal sumber benih berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan diameter batang tetapi tidak pada perlakuan jarak tanam. Asal sumber benih dari Kediri menunjukkari perlakuan paling baik dilihat dari tinggi tanaman dan diameter batang dibandingkan asal benih yang lain, sedangkanjarak  tanam (2x3) m2 memberikan pertumbuhan tanaman yang paling baik
TAHAPAN PERKEMBANGAN PEMBENTUKAN BUNGA DAN BUAH SUREN (Toona sureni MERR) Aam Aminah; Dida Syamsuwida
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 7, No 3 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.063 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2010.7.3.113-119

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengetahui perkembangan pembentukan bunga dan buah jenis suren (Toona sureni Merr), sehingga diperoleh informasi dan ditentukan waktu yang tepat saat pemberian perlakuan untuk meningkatkan produksi buah/benih serta pemanenannya. Metode penelitian dilakukan dengan observasi langsung terhadap pohon suren yang pernah berbunga dan berbuah serta pengambilan materi untuk seksio pada tegakan di lokasi sekitar Balai Penelitian Teknologi Perbenihan (BPTP) Bogor, kebun masyarakat di Cianjur, Sumedang, Solok (Sumatera Barat), Toraja (Sulawesi Selatan) dan Bedugul (Bali). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perkembangan awal pembungaan dimulai dengan pertumbuhan tunas vegetatif, kemudian membengkak menunjukkan adanya pertumbuhan generatif (primordia bunga). Selanjutnya muncul tunas bunga, bunga mekar (anthesis) dan akhirnya kelopak bunga jatuh. Pada tahap ini ada bunga yang gugur (aborsi) dan ada bunga yang bertahan membentuk bakal buah. Pada tahap pembuahan terlihat tanda pembesaran pada ovula (tempat dimana fertilisasi terjadi) membentuk bakal buah, kemudian terjadi perkembangan buah muda, buah masak dan keluarnya biji dari cangkang buah. Keberhasilan bunga menjadi buah cukup rendah yaitu 9,86%, sedangkan buah muda menjadi tua 65,88%. Ukuran buah (8-11) x (15-23) mm, jumlah benih per buah 19-24 biji, kadar air benih 10%-48% dan daya berkecambah > 50%. Tahap perkembangan pembungaan-pembuahan berlangsung selama 6 bulan dan terjadi dua kali dalam setahun yaitu bulan Februari dan Agustus pada pohon yang berlainan dalam satu areal tegakan suren.
PERSAMAAN ALLOMETRIK JABON (Neolamarckia cadamba Miq) UNTUK PENDUGAAN BIOMASSA DI ATAS TANAH PADA HUTAN RAKYAT KECAMATAN PAKENJENG KABUPATEN GARUT Mohamad Siarudin; Yonky Indrajaya
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.166 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2014.11.1.1-9

Abstract

Penelitian bertujuan untuk membuat persamaan allometrik jenis jabon (Neolamarckia cadamba Miq) untuk mengestimasi biomassadi atas tanah pada tegakan jabon. Sampel 23 pohon jabon dengan kisaran diameter 10,5–30,2 cm diambil dari hutan rakyat. Masing-masing pohon sampel diukur guna menentukan biomassa di atas tanah berdasarkan fraksi pohon (batang, cabang, daun). Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan regresi linier yang ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma. Variabel bebas adalah dbh (diameter at breast height, cm) dan variable tidak bebas adalah biomassa pohon (kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter setinggi dada dapat digunakan sebagai variabel tunggal dalam penyusunan model pendugaan biomassa jabon. Persamaan alometrik pendugaan biomassa di atas tanah untuk jenis jabon bagian batang, cabang, ranting, daun dan total adalah beruturut-turut Y = 0,010 (D)2,999 , Y = 0,001 (D) 3,082, Y = 0,011 (D) 2,135, dan Y = 0,014 (D) 2,958. 
PENGARUH PERIODE KONSERVASI DAN PERLAKUAN PRIMING TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH KESAMBI (Sleichera oleosa) M. Zanzibar M. Zanzibar; Yulianti Bramasto; Safrudin Mokodompit
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 5 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.216 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2009.6.5.281-288

Abstract

Setelah pemanenan, umumnya benih mengalami penyimpanan sementara (periode konservasi). Periode konservasi bertujuan untuk mengkondisikan benih mencapai potensi optimum sebelum mendapatkan penanganan lanjutan, misalnya memberikan perlakuan priming. Prinsip priming adalah mengaktifkan sumber daya internal dan sumber daya eksternal dalam memaksimumkan pertumbuhan kecambah melalui laju pengaturan penyerapan air oleh embrio. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh periode konservasi dan perlakuan priming terhadap kemampuan perkecambahan benih kesambi. Penelitian dianalisis dengan rancangan acak lengkap faktorial, faktor utama adalah periode konservasi (A) dan priming (B). Periode konservasi terdiri dari : 0, 4, 8 dan 12 minggu pada suhu kamar (t = 25o - 27oC, RH = 80 - 90%), sedangkan taraf priming adalah : tanpa priming (kontrol), hidrasi - dehidrasi dengan H2O, PEG 6000 (- 5 dan - 10 bar), KNO3 (- 5 dan - 10 bar) dan abu gosok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa priming-matriconditioning dengan abu gosok merupakan perlakuan terbaik meningkatkan kapasitas perkecambahan, sedangkan penggunaan PEG dan KNO3 berakibat buruk. Benih kesambi memiliki sifat pemasakan lanjutan (after ripening) sehingga membutuhkan penyimpanan sementara sebelum dikecambahkan.
PENGARUH UMUR POHON INDUK TERHADAP PERAKARAN STEK NYAMPLUNG (Calophyllum inophyllum L.) Danu Danu; Atok Subiakto; A. Z. Abidin
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2011.8.1.41-49

Abstract

Tanaman nyamplung ( L.) merupakan salah satu tanaman yang dapat menghasilkan buah sebagai bahan minyak nabati kualitas tinggi. Selain itu, kayunya dapat digunakan sebagai bahan pembuatan perahu dan keperluan lainnya. Pohon ini tumbuh alami di pesisir pantai dan tidak menggugurkan daun. Benihnya tergolong rekalsitran sehingga benihnya tidak dapat disimpan lama. Perbanyakan vegetatif merupakan salah satu teknik untuk mengatasi masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perakaran dari tiga kelompok umur bahan stek yaitu: (a) anakan, (b) pancang (belum berbuah), (c) pohon dewasa. Bahan stek nyamplung asal anakan dapat menghasilkan stek berakar sebanyak 75% dengan panjang akar 14,54 cm, jumlah akar 15 buah per stek dan biomassa akar 0,132 gram per stek. Bahan stek nyamplung asal pancang dapat menghasilkan stek berakar sebanyak 25% dengan panjang akar 9,67 cm, jumlah akar 10 buah per stek, dan biomasa akar 0,094 gram per stek. Bahan stek nyamplung asal pohon dewasa dapat menghasilkan stek berakar 16,11% dengan panjang akar 8,54 cm, jumlah akar 9 buah per stek, biomasa akar 0,10 gram per stek. Perbedaan persentase perakaran antara bahan stek disebabkan kandungan auksin dan nisbah C/N. Bahan stek yang lebih muda cenderung mengandung auksin yang tinggi (96,86 ppm) dengan nisbah C/Nse besar 63,73.

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2023): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 17, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 2 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 1 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 1 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2014): JPHT Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 3 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 5 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 4 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 3 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 2 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 5 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 4 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 2 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 3 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 2 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 1 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 1 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 3 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 2 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 3 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 2 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2004): JPHT More Issue