cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 427 Documents
STRATEGI PENGUATAN KAPASITAS KELOMPOK TANI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN SITUBONDO Agus Supriono; Cahyoadi Bowo; A. Syaffari Kosasih; Tuti Herawati
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 10, No 3 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2013.10.3.139-146

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi dalam kegiatan penguatan kapasitas kelompok tani hutan rakyat di Kabupaten Situbondo yang sedang giat mengembangkan hutan di lahan milik. Permasalahan yang dikaji meliputi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja tani, dan strategi yang efektif dan efisien untuk menguatkan kelompok tani hutan rakyat. Pendekatan analisis yang digunakan adalah analisis matrik evaluasi faktor internal dan ekternal serta strategi interaksi SWOT. Berdasarkan hasil penelitian diketahui adanya 9 faktor kekuatan internal, 9 faktor kelemahan internal, 7 faktor peluang eksternal, serta dan 4 faktor ancaman ekternal. Secara umum kondisi kelembagaan kelompok tani berada dalam posisi kuat secara internal dan dapat efektif memanfaatkan peluang serta sekaligus meminimalkan pengaruh negatif dari ancaman eksternal yang ada. Strategi yang dipilih untuk memperkuat kelompok tani adalah strategi memanfaatkan kekutan dan peluang. Artinya bahwa potensi keunggulan yang dimiliki berupa faktor-faktor kekuatan internal yang ada dapat dikelola menjadi kekuatan pendorong guna meraih peluang-peluang serta sekaligus meminimalkan pengaruh negatif dari ancaman eksternal.
PENGARUH ARANG KOMPOS DAN INTENSITAS CAHAYA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAYU BAWANG Nanang Herdiana; Hengki Siahaan; Teten Rahman S.
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 5, No 3 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (960.693 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2008.5.3.139-146

Abstract

Kayu bawang (Dysoxylum amorooides) merupakan salah satu jenis pohon lokal di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu yang potensial  dikembangkan untuk hutan tanaman kayu pertukangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh  penambahan arang kompos pada media dan pemberian naungan terhadap pertumbuhan bibit kayu bawang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan splitplot dengan intensitas cahaya sebagai petak utama dan persentase arang kompos sebagai anak petak. Faktor intensitas cahaya terdiri  atas 4 taraf: 9.057 lux, 7.363 lux, 6.607 lux dan  5.697  lux. Perlakuan  penambahan arang  kompos pada media tanam terdiri atas 5 taraf : 0%, 10%, 20%, 30% dan 40%. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa pemberian arang kompos dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter bibit kayu bawang umur 3 bulan di persemaian. Pada perlakuan penambahan arang kompos 40%, peningkatan pertumbuhan tinggi dan diameter masing-masing sebesar 65,5% dan 46,6% dibandingkan dengan pertumbuhan bibit pada media tanpa arang kompos. Pertumbuhan   tinggi dan diameter bibit terbaik ditunjukkan oleh perlakuan intensitas cahaya 7.363  lux tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan intensitas cahaya 9.057 lux.  
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN KELESTARIAN PRODUKSI PLTAWAY BESAI DI PROVINSI LAMPUNG Bambang Soeharto; Cecep Kusmana; Dudung Darusman; Didik Suharjito
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.555 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.1.25-34

Abstract

Alih guna lahan hutan menjadi sistem penggunaan lainnya akan menimbulkan masalah terhadap suplai air sebagai fungsi penyedia jasa lingkungan secara kuantitas maupun kualitas Skenario perubahan penggunaan lahan juga dikuantifikasikan untuk mengetahui komposisi penggunaan lahan di Sumber jaya yang memberikan pendapatan maksimum bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Total PLTA di Kecamatan Sumber jaya, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung dipengaruhi oleh komposisi penggunaan lahan. Simulasi didasarkan pada skenario perubahan penggunaan lahan (skenario 1: 13% monokultur; skenario 2: 61% agroforestri berbasis kopi; skenario 3: 23% hutan; skenario 4: 30% hutan dan skenario 5: 84% hutan) untuk memprediksi total pendapatan PLTA yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total pendapatan PLTA yang memberikan keberlanjutan terjadi ketika 61% total area ditutupi oleh agroforestry berbasis kopi dan total pendapatan terendah terjadi ketika total areal ditutupi 84% hutan. Sebaliknya penghutanan seluruh areal di Kecamatan Sumber jaya kecuali lahan padi, hortikultur dan perumahan akan menurunkan total pendapatan PLTA sebesar 13,5%.
PEMILIHAN JENIS HIBRID ULAT SUTERA YANG OPTIMAL UNTUK DIKEMBANGKAN DI DATARAN TINGGI DAN/ATAU DATARAN RENDAH Lincah Andadari
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 13, No 1 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1305.024 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2016.13.1.13-21

Abstract

ABSTRACTOne constraints in natural silk industryin Indonesia is slow production and poor quality of cocoon. This is due to theuse of same type of worm for diverse locations. This study aimed to obtain best silkworm for highlands and/orlowlands rearing. Four silkwormhybrids from Forest R&D Centre and one commercial hybrid from Perhutani weretested The experimental design using a split plot design in a randomized block design.The main plot was locationaltitude (highland and lowland) and subplot was silkworm hybrids (P3H-1, P3H-2, P3H3, P3H-4, and C301). Theresults showed that the rate of hatching silkworms were not affected by the hybrids and altitudes with hatchingpercentages were above 96 %Three hybrids namely P3H-1, P3H-2, and P3H-4 are suitable to be reared in lowlands.Two hybrids namely P3H-2 and P3H-3 are suitable for highlands. Hybrids P3H-2 are potentially reared in lowlandand highland.Keywords: Hybrid, productivity, silkwormABSTRAKSalah satu kendala dalam usaha persuteraan alam di Indonesia adalah masih rendahnya produksi dan kualitas kokon.Hal ini akibat penggunaan jenis ulat yang sama untuk lokasi yang beragam. Penelitian ini bertujuan untukmendapatkan bibit ulat sutera yang optimal untuk dikembangkan di dataran tinggi dan/atau dataran rendah. Ulatsutera yang diujikan yaitu 4 hibrid ulat sutera dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan 1 hibrid dari PerumPerhutani. Penelitian menggunakan Rancangan Split Plot dalam Rancangan Acak Kelompok. Petak utama berupalokasi dataran rendah dan dataran tinggi dan anak petak terdiri atas 5 jenis ulat sutera (P3H-1, P3H-2, P3H-3, P3H-4dan C301). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penetasan ulat sutera tidak dipengaruhi oleh jenis ulatsutera maupun ketinggian lokasi pemeliharaan, dengan persentase penetasan di atas 96%. Ulat sutera yang cocokdikembangkan di dataran rendah adalah hibrid P3H-1, P3H-2 dan P3H-4. Jenis hibrid yang sesuai untukdibudidayakan di dataran tinggi yaitu P3H-2 dan P3H-3. Hibrid P3H-2 potensial untuk dikembangkan dataranrendah dan di dataran tinggi.Kata kunci: Hybrid, produktivitas, ulat sutera
EFISIENSI SELEKSI AWAL PADA KEBUN BENIH SEMAI Eucalyptus pellita Efficiency of Early Selection in Seedling Seed Orchards of Eucalyptus pellita Budi Leksono
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.439 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2010.7.1.1-13

Abstract

Efisiensi seleksi merupakan saat yang paling kritis dalam program pemuliaan pohon karena akan menentukan waktu yang paling optimal dalam kegiatan seleksi, yaitu pada saat peningkatan genetik (genetic gains) per tahun maksimum dalam satu siklus pemuliaan. Efisiensi seleksi dapat diketahui dengan melihat tren waktu dari parameter genetik, yaitu rasio antara korelasi peningkatan genetik per tahun terhadap peningkatan genetik pada umur daur melalui seleksi tidak langsung (indirect selection). Tren waktu dari parameter genetik pada pertumbuhan diameter dan tinggi dianalisis dengan menggunakan data umur 1 (satu) sampai dengan 6 (enam) tahun untuk mengetahui efisiensi seleksi awal pada 7 (tujuh) kebun benih semai Eucalyptus pellita di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Riau. Kebun benih semai pada setiap lokasi terdiri atas tiga provenan dari Papua Nugini. Penggabungan jumlah kuadrat dan jumlah hasil perkalian, diperoleh dari analisis varian pertumbuhan pada ketiga provenan tersebut dan digunakan untuk menaksir parameter genetik di setiap lokasi. Oleh karena parameter genetik pada akhir daur (8 tahun) dalam studi ini tidak tersedia, maka pada umur tersebut dilakukan ekstrapolasi dengan menggunakan fungsi regresi dari tren parameter genetik pada umur yang lebih muda. Varian fenotipik dan varian genetik dihitung pada setiap umur yang dikonversi setara dengan akar variannya dan kemudian dianalisis dengan regresi linier menggunakan rerata pertumbuhan sebagai variable bergantung. Tren dari korelasi umur muda-dewasa dihitung dengan menggunakan modifikasi fungsi Richard dengan rasio rerata pertumbuhan pada umur yang lebih tua terhadap rerata pertumbuhan pada umur yang lebih muda sebagai variabel bergantung. Hasil analisis menunjukkan bahwa seleksi lebih awal selalu memberikan peningkatan genetik yang lebih tinggi dibandingkan seleksi pada akhir daur. Efisiensi seleksi awal atau umur optimum untuk melakukan seleksi yaitu pada saat peningkatan genetik per tahun maksimum, ditemukan pada umur 3 - 5 tahun di ketiga lokasi.
KERAGAAN HUTAN DIPTEROCARPACEAE DENGAN PENDEKATAN MODEL STRUKTUR TEGAKAN Farida Herry Susanty; Endang Suhendang; I Nengah Surati Jaya; Cecep Kusmana
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2013.10.4.185-199

Abstract

Ragam kondisi hutan menunjukkan perbedaan struktur, komposisi jenis dan nilai potensi serta variasi kerapatan tegakan. Kebutuhan dan peran penting model struktur tegakan dalam pengelolaan hutan terutama dalam pengaturan hasil menjadi tuntutan penyediaan perangkat kuantitatif untuk berbagai variasi kondisi hutan Dipterocarpaceae di Indonesia. Tujuan penelitian adalah menentukan model struktur tegakan hutan Dipterocarpaceae hutan bekas tebangan berdasarkan data runtun waktu. Penelitian dilaksanakan di hutan penelitian Labanan Kabupaten Berau Propinsi Kalimantan Timur. Data diperoleh dari hasil pengukuran plot permanen pada hutan alam bekas tebangan dengan tiga teknik penebangan yang berbeda yaitu (a) penebangan ramah lingkungan dengan limit diameter 50 cm (RIL 50), (b) RIL 60, (c) teknik konvensional dan (d) hutan primer sebagai kontrol. Total luas plot permanen adalah 48 Ha. Penentuan model struktur tegakan terbaik berdasarkan fungsi kemungkinan maksimum famili sebaran yang dicobakan meliputi fungsi eksponensial, gamma, lognormal dan Weibull. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan kerapatan dan bidang dasar tegakan, tingkat pemulihan tegakan sekitar 85%tercapai pada jangka waktu 17 tahun setelah penebangan dengan teknik penebangan yang berbeda. Fungsi famili sebaran terpilih yang sesuai untuk kelompok jenis Shorea spp, Dipterocarpaceae non Shorea, Non Dipterocarpaceae dan semua jenis adalah berbentuk lognormal.
PEMUPUKAN NPK PADA TANAMAN Eucalyptus camaldulensis Dehnh DI LAHAN SAVANA, KABUPATEN SUMBA TIMUR, PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR I Komang Surata
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.329 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2009.6.1.9-18

Abstract

Tanah marginal di daerah savana pulau Sumba, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya mempunyai kekurangan unsur hara makro seperti N, P, dan K. Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman E. camaldulensis dalam rehabilitasi lahan kritis di daerah ini diperlukan pemupukan NPK. NPK adalah pupuk kompleks anorganik yang mengandung Nitrogen (N), Phosphor (P), dan Kalium (K) yang dikenal dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman pada tanah-tanah marginal. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dosis optimum pemupukan NPK terhadap pertumbuhan tanaman E. camaldulensis di lapangan. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan 4 dosis pupuk NPK antara lain: 0, 50, 100, 150 g /pohon , yang terdiri 3 ulangan dengan 49 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan NPK nyata meningkatkan persen tumbuh dan tinggi serta tidak nyata meningkatkan diameter tanaman E. camaldulensis pada umur 15 bulan. Persen tumbuh dan tinggi tanaman yang terbaik dihasilkan dengan menggunakan konsentrasi pupuk NPK 50 g/pohon. Urutan persen tumbuh yang terbaik sampai terendah adalah pada perlakuan dosis : 50, 0, 100, 150 g/pohon, dengan nilai masing-masing persen tumbuh 67,35; 40,24; 18,36; 12,24 %. Pemupukan NPK lebih dari 50 g/pohon menyebabkan pertumbuhan tanaman lebih rendah dari pada kontrol.
PROPAGASI TIGA VARIETAS MURBEI MELALUI TEKNIK KULTUR JARINGAN Nursyamsi Nursyamsi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.154 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.2.75-82

Abstract

Penelitian propagasi tiga varietas murbei melalui kultur jaringan bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Benzyl Amino Purin (BAP) yang tepat untuk perbanyakan murbei (Morus sp.) varietas KI 14, KI 29 dan KI 41. Eksplan diperoleh dari tunas aksilar dari cabang yang direndam air. Eksplan ditanam pada media MS0 (Media MS tanpa zat pengatur tumbuh). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial. Faktor I adalah konsentrasi BAP (2,2,5 dan 3 mg/l). Faktor II adalah varietas murbei (KI 14, KI 29 dan KI 41) dan setiap perlakuan diulang 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang tercepat bertunas adalah B V (BAP 3 mg/l, varietas KI 29), jumlah tunas yang terbanyak diperoleh pada perlakuan varietas KI 14 dan perlakuan BAP konsentrasi 3 mg/l, dan panjang tunas yang tertinggi diperoleh pada varietas KI 14.
PENGARUH PENUTUPAN MULSA ORGANIK TERHADAP PERKEMBANGAN GULMA HUTAN TANAMAN NYAWAI (Ficus variegata Bl) Acep Akbar
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1424.319 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2016.13.2.95-103

Abstract

ABSTRACTAbundant weeds hamper tree growth and increase the risk of forest fire in the plantation forest. This study aimed r to determine the effect of organic mulching on the weed growth under nyawai stand. The experiment was designed using factorial in randomized complete block design. The results found the presence of 11 types of weeds, dominated by alang-alang (Imperata cylindrica L. Raeusch) and jepangan (Clibadium surinamense L.). Alang-alang organic mulch had the slowest decomposition process and alang-alang mulching for 3 months supressed weed growth. Organic mulching had no significanteffect to height and diameter growth of nyawai stand and to crown diamete nyawai. The highest additional nutrient phosphorus and potassium were generated from Piper aduncum mulching,and nitrogen from jepangan mulching.Keyword: Nyawai, organic mulch, plantation, weedsABSTRAK Kehadiran gulma yang berlimpah menimbulkan gangguan pertumbuhan pada tanaman pokok dan meningkatkan risiko kebakaran di hutan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mulsa organik terhadap perkembangan gulma tegakan nyawai. Penelitian menggunakan rancangan faktorial dalam rancangan acak kelompok. Hasil penelitian menunjukkan adanya 11 jenis gulma yang didominasi oleh rumput alang-alang (Imperata cylindrica L. Raeusch) dan jepangan (Clibadium surinamense L.). Mulsa organik alang-alang memiliki laju dekomposisi paling lambat dan pemberian mulsa organik alang-alang selama 3 bulan mampu menekan kehadiran gulma. Penutupan mulsa organik tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter nyawai maupun diameter tajuk nyawai. Mulsa Piper aduncum L. menghasilkan tambahan unsur hara phospor dan kalium tertinggi adapun mulsa rumput jepangan meningkatkan unsur hara nitrogen yang tertinggi.Kata kunci: Gulma, hutan tanaman, mulsa organik, nyawai
SIDIK CEPAT BIOKATALISASI AIR ASAM TAMBANG PADA LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA Rapid Assessment of Acid Mine Drainage on Ex-coal Mining Land Enny Widyati; Rahayu Widyastuti; Ratnawati Lantifasari
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2063.197 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2010.7.1.51-58

Abstract

Salah satu hambatan terberat dalam kegiatan rehabilitasi lahan bekas tambang adalah air asam tambang (AAT). AAT merupakan oksidasi mineral sulfida dengan melepaskan sulfat sehingga dapat menurunkan pH tanah secara drastis. Apabila AAT dikatalis oleh kelompok bakteri pengoksidasi sulfur (BOS), maka laju dari proses tersebut akan dipercepat 500.000 - 1.000.000 kali lipat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas biokatalisasi pemasaman lahan bekas tambang batubara. Aktivitas biokatalisasi dapat diketahui dengan cepat (2 - 3 hari) melalui uji biological acid producing potential (BAPP). Untuk meyakinkan uji BAPP ini pada tanah baik yang memberikan hasil positif maupun negatif dilakukan isolasi BOS, sebagai kontrol adalah media tanpa tanah. Hasil uji menunjukkan bahwa dari 24 contoh tanah yang diuji 22 contoh tanah (91% ) memberikan hasil positif. Hal ini ditunjukkan dengan pH kultur selalu di bawah 3,5 yang mengindikasikan bahwa proses pemasaman lahan dikatalis secara biologi oleh bakteri. Pengujian katalisasi biologis oleh bakteri menggunakan uji BAPP mempunyai akurasi 80%. Salah satu bakteri yang ditemukan mengkatalis pemasaman lahan adalah Thiobacillus ferrooxidans.

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2023): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 17, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 2 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 1 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 1 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 1 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2014): JPHT Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 3 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 5 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 4 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 3 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 2 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 5 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 4 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 2 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 3 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 2 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 1 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 1 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 3 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 2 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 3 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 2 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2004): JPHT More Issue