cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. purworejo,
Jawa tengah
INDONESIA
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
ISSN : 23030631     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ADITYA adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai media publikasi hasil karya ilmiah. Terbit dua kali setahun tiap bulan November dan Mei. Redaksi menerima artikel dari kalangan mahasiswa, budayawan, ahli sastra maupun praktisi pendidikan.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2014): ADITYA" : 15 Documents clear
Onomatope dalam Novel Emas Sumawur Ing Baluwarti Karya Partini B. Isna Siti Mulyani
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.95 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan jenis-jenis onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B, (2) mendeskripsikan bentuk onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B dan (3) mendeskripsikan fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari novel  Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Data yang ada dalam penelitian ini berupa satuan gramatikal yang berwujud kata atau kalimat yang mengandung onomatope pada novel  Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan teknik pustaka, teknik observasi dan teknik simak catat. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis. Dalam penyajian data menggunakan teknik formal dan informal.Hasil penelitian pemerolehan data dan pembahasan yaitu (1) Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. terdapat empat jenis onomatope yang digunakan dalam novel tersebut. Jenis-jenis onomatope yang terdapat dalam novel ialah a) tiruan bunyi benda, b) tiran bunyi hewan, c) tiruan bunyi alam, dan d) tiruan bunyi manusia. Dari semua jenis onomatope ini, memiliki bentuk frasa, yaitu frasa yang terbentuk dari kata mak dan pating dengan kata-kata yang lain sehingga bernilai onomatope, misalnya mak byar, pating pleyot, dan sebagainya, (2)Bentuk dasar onomatope yang digunakan dalam novel ialah bentuk satu silabel, bentuk dua silabel, bentuk tiga silabel tidak ditemukan dalam novel,namun terdapat bentuk multisilabel, dan bentuk frasa. Dari bentuk dasar tersebut ada yang mengalami pengulangan sehingga bentuk onomatopenya menjadi pengulangan satu silabel, pengulangan dua silabel, dan pengulangan tiga silabel. Onomatope berbentuk frasa dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti, terbentuk dari frasa, yang terbentuk dari kata mak dan pating. (3) Fungsi onomatope yang terdapat dalam novel, terbagi menjadi empat fungsi, yaitu sebagai berikut. (a) Penggambaran suasana hati, yaitu: cinta, terkejut, manja, malu, bahagia, dan berani.(b) Memberikan kesan pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan, (c) Mendeskripsikan tentang keadaan, (d) Meniru perbuatan atau benda yang menghasilkan bunyi.   Kata kunci : onomatope, Emas Sumawur ing Baluwarti
Analisis Semiotik dalam Suluk Pakeliran Lakon Retno Sentiko Oleh Ki Seno Nugroho Eka Homsatun
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.405 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan pembacaan heuristik dalam syair Suluk Pakeliran lakon Retno Sentiko oleh Ki Seno Nugroho . 2) mendeskripsikan pembacaan hermeneutik dalam syair–syair tentang Suluk Pakeliran lakon Retno Sentiko oleh Ki Seno Nugroho.Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bersifat deskriptif kualitatif.Sumber data dalam penelitian ini adalah VCD syair Suluk Pakeliran lakon Retno Sentiko oleh Ki Seno Nugroho.Data dalam penelitian ini adalah satuan bahasa teks syair suluk pakeliran oleh Ki Seno Nugroho.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik baca dan teknik catat.Instrumen penelitian yang dipakai adalah peneliti sebagai sumber instrumen dibantu dengan kartu pencatat data.Teknik analisis data digunakan teknik deskriptif kualitatif model analisis konten.Penyusunan data menggunakan teknik induktif yaitu menarik kesimpulan setelah data disajikan. Hasil penelitian dalamcakepan Suluk Pakeliran lakon Retno Sentiko oleh Ki Seno Nugroho ditemukan banyak penyimpangan frasa (kata) dan kalimat (sintaksis) yang disebabkan oleh penggunaan konvensi guru lagu, guru gatra dan guru wilangan, sehingga pembacaan heuristik dianggap sangat membantu pembaca dalam memaknai teks tembang tersebut. Namun hasil pembacaan heuristik yang dilakukan dengan pengembangan frasa dan kalimat belum dapat memaknai teks secara lengkap, karena dalam teks terdapat makna yang lebih luas yang disebabkan konvensi bahasa kiasan sarana retorika dan gaya bahasa pada umumnya, sehingga diperlukan analisis pembacaan hermeneutik. Makna yang didapatkan dari isi syair Suluk Pakeliran lakon Retno Sentiko oleh Ki Seno Nugroho adalahtentang kewaspadaan, nasehat, kesedihan, kemarahan, kebahagiaan, dan kepatuhan prajurit kepada raja.     Kata Kunci: Semiotik,Suluk Pakeliran
Analisis Deiksis dalam Komik Angkara Tan Nendra Karya Resi Wiji S. dalam Majalah Panjebar Semangat Anis Cahyani
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.002 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) jenis dan bentuk deiksis dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. dan (2) pengacuan deiksis dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Subjek penelitian ini adalah komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. Selanjutnya, objek penelitian ini adalah satuan gramatikal berupa kata, frasa, klausa maupun kalimat yang mengandung jenis, bentuk, dan pengacuan deiksis dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. Data dikumpulkan menggunakan teknik dasar dengan metode simak dan teknik lanjutan berupa teknik catat. Kemudian, data dianalisis menggunakan metode content analysis atau analisis isi. Adapun pemaparan hasil analisis menggunakan metode informal. Metode informal tersebut digunakan untuk memaparkan jenis, bentuk, dan pengacuan deiksis dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya (1) tiga jenis deiksis dengan berbagai bentuk deiksisnya dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. dan (2) dua jenis pengacuan dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S., yaitu a) pengacuan endofora, yang mencakup pengacuan anafora dan pengacuan katafora; dan b) pengacuan eksofora. Tiga jenis deiksis dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. tersebut meliputi (a) deiksis persona, (b) deiksis ruang, dan (c) deiksis waktu. Bentuk deiksis persona dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. meliputi (i) bentuk bebas ‘aku’, ‘kula’, ‘kawula’, ‘awake dhewe’, ‘kita’, ‘sliramu’, ‘kowe’, ‘paduka’, ‘panjenengan sakarone’, ‘kowe sakarone’, ‘dheweke’, ‘panjenengane’; (ii) bentuk terikat ‘dak-‘, ‘tak-‘, ‘-ku’, ‘kok-‘, ‘-mu’, ‘-e’, ‘-ipun’; dan (iii) bentuk ketakziman ‘kakang’, ‘dhimas’, ‘adhi’, ‘kisanak’, ‘ngger’, ‘kulup’. Selanjutnya, bentuk deiksis ruang dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. meliputi bentuk ‘kene’, ‘kono’, ‘kana’, ‘iki’, ‘iku’. Selain itu, bentuk deiksis waktu dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. meliputi bentuk ‘saiki’, ‘seprene’, ‘nalika’, ‘mengko’, ‘banjur’, ‘nuli’, ‘sesuk’, ‘candhake’.   Kata Kunci: Deiksis, komik  
Persepsi Masyarakat terhadap Kirab Budaya dalam Nawu Sendhang Seliran di Mataram Islam Sayangan Jagalan Banguntapan Bantul Etmi Amaneti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.506 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1)Mendeskripsikan sejarah munculnya tradisi Nawu Sendhang Seliran dalam Kirab Budaya Ambengan Ageng; (2) Mendeskripsikan Prosesi dari tradisi Nawu Sendhang seliran dalam Kirab Budaya Ambengan Ageng yang ada di Kota Gede; (3) Untuk mengetahui Persepsi Masyarakat terhadap tradisi Nawu Sendhang Seliran dalam Kirab Budaya Ambengan Ageng. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik wawancara yang digunakan yaitu teknik wawancara mendalam, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama . Analisis data digunakan tiga teknik yaitu (1) reduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok; (2) penyajian data, disajikan dalam bentuk sekumpulan informasi yang tersusun dengan baik melalui ringkasan atau rangkuman-rangkuman berdasarkan data-data yang telah diseleksi atau direduksi; (3) verifikasi data, merupakan tinjauan terhadap catatan yang telah dilakukan di lapangan. Teknik keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Selanjutnya, dalam teknik penyajian hasil analisis data digunakan teknik informal. Hasil penelitian yang diperoleh meliputi (1) bentuk sejarah munculnya tradisi Nawu Sendhang Seliran dan Kirab Budaya Ambengan Ageng dilatarbelakangi oleh adanya petilasan kraton Mataran dan diprakarsani oleh lurah pada masa itu. (2) Prosesi dari tradisi Nawu Sendhang seliran dalam Kirab Budaya Ambengan Ageng, diantaranya pembukaan, pentas seni budaya, kirab pasrah gunungan, kirab Ambengan Ageng dan Nawu Sendhang.(3) persepsi masyarakat terhadap tradisi Nawu Sendhang Seliran dalam Kirab Budaya Ambengan Ageng yang setujub dari respoden golongan wong cilik dan kaum ningrat, masyarakat yang berasal dari kaum priyayi tidak mengatakan setuju dan tidak setuju, hanya saja jika bermanfaat bisa dilaksanakan., dan yang tidak setuju dari golongan santri atau tokoh masyarakat. Kata kunci: tradisi nawu sendhang, kirab budaya
Analisis Kalimat Interogatif pada Novel Garuda Putih Karya Suparto Brata April liyanti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.689 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) jenis kalimat interogatif pada novel Garuda Putih karya Suparto Brata; (2) fungsi kalimat interogatif pada novel Garuda Putih karya Suparto Brata. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data berupa novel Garuda Putih karya Suparto Brata. Data penelitian ini meliputi kutipan-kutipan langsung dan tidak langsung novel Garuda Putih karya Suparto Brata. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka, teknik observasi, dan teknik catat. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrument) dibantu dengan kartu data. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis). Teknik penyajian hasil analisis ini dilakukan dengan menggunakan teknik informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kalimat interogatif pada novel Garuda Putih karya Suparto Brata terdiri atas; (1) kalimat interogatif keniscayaan; (2) kalimat interogatif alternatif; (3) kalimat interogatif informatif. Fungsi kalimat interogatif pada novel Garuda Putih karya Suparto Brata meliputi (1) metapesan ketidaksetujuan; (2) metapesan keragu-raguan; (3) metapesan keterkejutan; (4) metapesan ketidaksenangan; (5) metapesan ketidapercayaan; (6) metapesan kemarahan; (7) metapesan fatis; (8) metapesan kekhawatiran; (9) metapesan ajakan; (10) metapesan perintah; (11) metapesan membujuk; (12) metapesan penawaran; (13) metapesan meyakinkan; (14) metapesan menuduh; (15) metepesan kesombongan; (16) metapesan keheranan; (17) metapesan sindiran; (18) metapesan mengejek; (19) metapesan kegembiraan; (20) metapesan keyakinan; (21) metapesan ketakutan; (22) metapesan kesedihan, (23) metapesan mengelak atau berkilah; (24) metapesan kekaguman; (25) metapesan pengalihan pembicaraan.   Kata kunci: kalimat interogatif, novel Garuda Putih
Analisis Penggunaan Interjeksi dalam Novel ‘T Spookhuis (Gedhong Setan) Karya Suparto Brata Ika Kartika Angellya
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.208 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan :  (1) mendeskripsikan bentuk interjeksi dalam novel ‘t Spookhuis (Gedhong Setan) (2) mendeskripsikan fungsi interjeksi dalam novel ‘t Spookhuis (Gedhong Setan), yaitu : (a) bentuk primer (ah, lo, wah, oh, wis, uh, o, hiih, huh, wih, ooo, hmm, e, eh, uuh,). (b) bentuk sekunder (gedheng, jamput, gemang, alaa, edan, astagfirullahaladzim, ayo, aja, apa, wadhuh, aduh, embuh, he-eh, iki, ora. Di dalam bentuk sekunder juga terdapat interjeksi yang berbentuk pengulangan kata seperti: ha-ha-ha, aja-aja, lo-lo-lo-lo, hi-hi-hik, uh-uh-uh, embuh-mbuh-mbuh, dan wis-wis-wis. Bentuk interjeksi memiliki fungsi berbeda-beda: (1) mengungkapkan rasa kecewa (ah, gendheng, lo, ora dan alaa), (2) mengungkapkan rasa kekesalan (oh, la, wes, iki, alaa, uh, embuh dan gemang), (3) mengungkapkan rasa kekaguman (wih, dan wah), (4) mengungkapkan rasa kesenangan (o, ah, hihik, dan ha), (5) mengungkapkan rasa kemarahan (he-eh, wis, ah, embuh dan ora), (6) mengungkapkan rasa harapan (ah, eh), (7) mengungkapkan rasa kepuasan (we dan o), (8) mengungkapkan rasa ketakutan (ah, edan, hmm), (9) mengungkapkan rasa ajakan (ayo), (10) mengungkapkan rasa kekagetan (lo, e, ah, ooo, embuh, apa, huh, wadhuh dan astaghfirullohhal’adzim), (11) mengungkapkan rasa keheranan (o, aneh, la, dan wo), (12) mengungkapakan rasa panggilan (heh), (13) mengungkapkan rasa kesakitan (adhuh), (14) mengungkapkan rasa keterkejutan (lo, ah dan hmm).   Kata kunci: interjeksi, novel ‘t Spookhuis
Analisis Kohesi Gramatikal dan Leksikal dalam Novel Jemini Karya Suparto Brata Wanti Pharny Zulaiha
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.261 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) wujud penanda kohesi gramatikal antarkalimat yang terdapat dalam novel Jemini karya Suparto Brata; (2) wujud penanda kohesi leksikal antarkalimat yang terdapat dalam novel Jemini karya Suparto Brata. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian novel Jemini karya Suparto Brata yang diterbitkan oleh Narasi, Yogyakarta tahun 2012. Objek dalam penelitian ini adalah aspek kebahasaan khususnya kajian penanda kohesi gramatikal dan leksikal dalam novel Jemini karya Suparto Brata. Instrumen Penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah peneliti sendiri yang dilengkapi dengan buku-buku tentang wacana, buku-buku penunjang yang berkaitan dalam penelitian dan nota pencatat data. Teknik pengumpulan data digunakan teknik simak, teknik pustaka dan teknik catat. Dalam teknik analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif. Teknik penyajian analisis data digunakan metode penyajian informal. Hasil penelitian terhadap Analisis Kohesi Gramatikal dan Leksikal dalam Novel Jemini Karya Suparto Brata yaitu: (1) wujud penanda kohesi aspek gramatikal meliputi: reference (pengacuan) terdiri dari pengacuan persona I, pengacuan persona II, dan pengacuan persona III; pengacuan demonstratif terdiri dari demonstratif waktu dan tempat; pengacuan komparatif; subtitution (penyulihan); ellipsis (pelesapan); dan conjungtion (perangkaian) yang terdiri dari konjungsi koordinatif, konjungsi subordinatif, konjungsi urutan, konjungsi penambahan, konjungsi konsensif, konjungsi kausalitas, konjungsi pilihan, konjungsi waktu, konjungsi pertentangan, konjungsi tujuan, dan konjungsi perkecualian; (2) wujud penanda kohesi aspek leksikal meliputi: repetisi (pengulangan) yang ditemukan yaitu repetisi epizeukis dan repetisi anadiplosis; sinonim (persamaan kata); antonim (lawan kata); hiponimi; dan ekuivalensi.   Kata kunci: kohesi gramatikal, leksikal, novel Jemini
Tradisi Begalan di Desa Karangmangu Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap Linda Sefianti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.936 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap: (1) proses pelaksanaan Begalan di Desa Karangmangu Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap, (2) makna simbolik (ubarampe)  yang terdapat dalam acara Begalan di Desa Karangmangu Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap, dan (3) nilai pendidikan yang terkandung dalam tradisi Begalan di Desa Karangmangu Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. Tempat penelitian dilakukan di Desa Karangmangu kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap, waktu penelitian mulai bulan Januari 2014 sampai Juli 2014. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif, datanya dikumpulkan, dideskrisikan, kemudian dianalisis prosesi, makna simbolik, dan nilai pendidikan yang terkandung dalam tradisi Begalan di Desa Karangmangu Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. Sumber data dan data yang dikaji dalam penelitian ini yaitu, pemain Begalan, dan seniman di Desa Karangmangu. Data yang diambil berupa data lisan didapatkan dari wawancara dengan narasumber. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi tak terstruktur, teknik wawancara, teknik dokumentasi yang berwujud foto-foto, video Begalan, dan rekaman hasil wawancara dengan narasumber. Sumber data dibagi menjadi sumber data primer yaitu pemain Begalan, dan informan lain yang mengetahui tentang tradisi Begalan, sumber data sekunder berwujud buku-buku, rekaman, foto-foto, data monografi, serta referensi yang relevan dengan penelitian ini Data dibagi menjadi data primer berupa hasil wawancara dengan narasumber, data sekunder berupa keterangan-keterangan dari buku-buku, rekaman, foto-foto, data monografi, serta referensi yang relevan dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah, (1) proses pelaksanaan Begalan di Desa Karangmangu Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap terdiri dari dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan, (2) makna simbolik (ubarampe) yang terdapat dalam acara Begalan di Desa Karangmangu Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap yaitu makna simbolik pikulan, enthong, kukusan, siwur, munthu, ciri, pari, tebu, ilir, wlira, kendhil, irus, iyan, cepon, kalo, tampah, ikrak, kembang telon, godhong salam, godhong waluh, sapu sada, kuwali, kekeb, dan (3) nilai pendidikan yang terkandung dalam tradisi Begalan di Desa Karangmangu Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap yaitu nilai pendidikan Ketuhanan (religius), nilai pendidikan moral, dan nilai pendidikan sosial atau kemasyarakatan.   Kata kunci: Begalan, folklor, Karangmangu
Analisis Morfologis dalam Antologi Geguritan Sapu (Antologi Geguritan Lan Esai Bengkel dan Sastra Jawa 2012) Rindiantika Fresti Apriliana
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.267 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) proses morfologis dalam antologi geguritan Sapu (Antologi Geguritan lan Esai Bengkel dan Sastra Jawa 2012, (2) perubahan makna akibat proses morfologis pada antologi geguritan Sapu (Antologi Geguritan lan Esai Bengkel dan Sastra Jawa 2012). Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah antologi geguritan Sapu (Antologi Geguritan lan Esai Bengkel dan Sastra Jawa 2012). Data penelitian dalam penelitian ini adalah satuan gramatikal yang berupa kata yang mengalami proses morfologis meliputi afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan kata. Teknik pengumpulan data yang digunakan teknik pustaka, dan teknik simak catat. Instrumen penelitian yaitu peneliti sendiri dan dibantu dengan tabel yang berguna untuk mengelompokkan data. Data dianalisis dengan menggunakan metode agih, dan data disajikan dengan teknik informal.Dalam penyajian data menggunakan teknik formal dan informal. Hasil penelitian pemerolehan data dan pembahasan yaitu (1) proses afiksasi yang meliputi: prefiks {N-} ny- ng- m- n-, {di-}, {a-}, {ke-}, {ka-}, {sa-}, {paN-}, {pa-}, dan {dak-/tak-/kok}; infiks {-um-}, {-er-}, dan {-el-}; sufiks {-e/-ne}, {-i/-ni}, {-a}, {-an}, {-ake}, {-ana}, dan {-ane}; konfiks {ka-,-an}, {N-,-ake}, {pa-,-an}, {paN-,-an}, {sa-,-e}, {N-,-i}, dan {ka-,-ake}; proses reduplikasi meliputi: dwilingga, dwilingga salin swara, dwipurwa, dan dwiwasana; proses pemajemukan meliputi tembung camboran wutuh (2) perubahan makna akibat  proses morfologis pada antologi geguritan Sapu (Antologi Geguritan lan Esai Bengkel dan Sastra Jawa 2012) meliputi: proses afiksasi yang meliputi: prefiks {N-} ny- ng- m- n- dapat membentuk tembung kriya tanduk; infiks {-um-} kriya tanpa lesan dan kaanan; sufiks {-e/-ne} dan {-ane} tembung aran; konfiks {ka-,-an}, {ka-,-ake}, {N-,-i} tembung kriya; reduplikasi dwilingga membentuk tembung aran; dan pemajemukan tembung camboran wutuh akan membentuk satu kesatuan kata dan memiliki makna yang berbeda dengan bentuk dasarnya.   Kata kunci : morfologis, geguritan
Kajian Deiksis dalam Cerita Bersambung Getih Sri Panggung Karya Kukuh S.Wibowo Panjebar Semangat Edisi 23 Maret – 29 Juni 2013 Bastian Triadi
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan: 1) mendeskripsikan jenis dan bentuk deiksis yang terdapat dalam cerita bersambung Getih Sri Panggung karya Kukuh S. Wibowo, 2) mendeskripsikan pengacuan deiksis yang terdapat dalam cerita bersambung Getih Sri Panggung karya Kukuh S. Wibowo Panjebar Semangat. Analisis data menggunakan metode analisis konten. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penggunaan deiksis dalam cerita bersambung Getih Sri Panggung karya Kukuh S. Wibowo. 1) Jenis dan bentuk deiksis yang ditemukan meliputi a) deiksis persona meliputi: deiksis persona pertama tunggal: klitika -ku ‘-ku’ (enklitik), dan dak- ‘ku-‘ (proklitik); kata aku ‘aku’, kene ‘sini’, dan kula ‘saya’, deiksis persona pertama jamak: kata  kene ‘sini’ dan kita ‘kita’; frasa awake dhewe ‘diri kita’ dan  kita sedaya ‘kita semua’. Deiksis persona kedua tunggal: klitika kok- ‘kau’(proklitik) dan –mu ‘-mu’ (enklitik); kata kowe ‘kamu’, mang ‘anda’, kok ‘kau’, sampeyan ‘anda’, sliramu ‘kamu’, dan panjenengan ‘anda’, deiksis persona kedua jamak kowe sakeloron ‘kamu berdua’; deiksis persona ketiga tunggal, yaitu berupa klitika –e ‘-nya’ dan –ipun ‘nya’; kata dheweke ‘dia’, kana ‘sana’, piyambake ‘dirinya’, piyambakipun ‘dirinya’, panjenengane ‘beliau’, dan panjenenganipun ‘beliau’; b) deiksis waktu: deiksis waktu saiki ‘sekarang’, wau ‘tadi’, kapungkur ‘silam’, sesuk ‘besok’, mangke ‘nanti’, dina iki ‘hari ini’, bengi iki ‘malam ini’, dalu menika ‘malam ini’, mentas wae ‘baru saja’, enjing kalawau ‘tadi pagi’, biyen kae ‘dulu’, nalika semana ‘pada saat itu’, kala semanten ‘pada saat itu’, nalika semanten ‘pada saat itu’, dan ewasemanten ‘pada saat itu’; c) Deiksis tempat: tempat kene ‘sini’, kono ‘situ’, kana ‘sana’, mrene ‘ke sini’, mrana ‘ke sana’, mriki ‘ke sini’, mriku ‘ke situ’, ngriki ‘sini’, dan ngrika ‘sana’. 2) Pengacuan yang ditemukan berupa pengacuan endofora (anafora dan katafora) dan eksofora pada pengacuan persona, waktu, dan tempat.   Kata kunci : deiksis, cerita bersambung Getih Sri Panggung

Page 1 of 2 | Total Record : 15