cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
AGRIEKONOMIKA
ISSN : 23019948     EISSN : 24076260     DOI : -
AGRIEKONOMIKA, terbit dua kali dalam setahun yaitu pada April dan Oktober yang memuat naskah hasil pemikiran dan hasil penelitian bidang sosial, ekonomi dan kebijakan pertanian dalam arti umum.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN USAHA AGRIBISNIS PADI PADA BKP5K KABUPATEN BOGOR PROVINSI JAWA BARAT Elih Juhdi Muslihat; Azhar Azhar; Kusmiyati Kusmiyati; Woro Indriatmi
Agriekonomika Vol 4, No 2: Oktober 2015
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v4i2.970

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menentukan sebaran karakteristik penyuluh. (2) Mengidentifikasi persepsi penyuluh tentang kompetensi yang perlu mereka kuasai dalam rancangan usaha agribisnis padi, dan  (3) Menganalisis derajat hubungan antara kompetensi penyuluh dengan rancangan usaha agribisnis padi. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pendekatan korelasional. Korelasi hubungan antara variabel Kompetensi Penyuluh Pertanian dengan variabel Rancangan Usaha Agribisnis Padi. Pemilihan responden dilakukan dengan teknik acak proposional (propotional random sampling). Jumlah Penyuluh PNS yang aktif di BKP5K Kabupaten Bogor sebanyak 77 penyuluh. Dengan menggunakan rumus Slovin, maka jumlah sampel yang diambil pada tingkat kesalahan 5 % ditetapkan sampel sebanyak 60 orang Penyuluh PNS. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa Kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh penyuluh adalah kompetensi umum, sedangkan berkaitan dengan kompetensi  khusus yang harus dimiliki adalah  kemampuan dalam rancangan usaha agribisnis. Kompetensi penyuluh dalam rancangan usaha agribisnis masih rendah. Hal tersebut ditunjukkan bahwapenyuluh menganggap bidang kompetensi khusus bukan merupakan hal yang  prioritas.  Keterbatasan kompetensi  penyuluh  dalam  rancangan usaha agribisnis padi disebabkan karena mereka belum dipersiapkan dengan kemampuan yang cukup dalam bidang tersebut  dan   belum mendapat dukungan penuh dari institusi tempat mereka bekerja, khususnya peningkatan profesionalime dalam rancangan usaha agribisnis. Terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara kompetensi penyuluh dengan Rancangan Usaha Agribisnis dengan koefisien determinasi (ry12) = 0,281. Nilai koefisien determinasi (r2y1) sebesar 0,281 menunjukkan bahwa 28,2% Kompetensi penyuluh dipengaruhi dan   berhubungan  nyata  dengan rancangan usaha agribisnis artinya terdapat hubungan yang positif yang signifikan antara kompetensi penyuluh dengan rancangan usaha agribisnis, bila kompetensi penyuluh ditingkatkan maka akan terjadinya pula peningkatan kemampuan khususnya dalam  rancangan usaha agribisnis. ABSTRACTThis research aims to (1) determine the distribution of the characteristics of agricultural extension workers. (2) Identify the extension workers's perception of competence that need to mastered the preparation of agribusiness plan rice, and (3) to analyze the degree of relationship between competence of agricultural extension workers with the preparation of agribusiness plan rice.This research used survey method with correlation approach. Correlation between variables Competence of Agricultural Extension workers with variable the preparation of  Agribusiness Plan Rice. The selection of respondents was done by using random proportional (proportional random sampling).Extension assume specific areas of competence is not a matter of priority. Limited competence extension workers in the preparation of agribusiness plan rice because they are not prepared with sufficient ability in the field and has not received the support of the institutions in which they work, in particular the increase in professionalism in the preparation of agribusiness plan.There are a significant positive correlation between competence of agricultural extension workers with Agribusiness Plan. The coefficient of determination (r2y1) of 0.281 indicates that 28.2% of Competence of agricultural extension workers and associated real influenced by the agribusiness plan means there is a significant positive relationship between competence of agricultural extension workers to the preparation of agribusiness plan, when competence enhanced of agricultural extension workers will also increase the ability of the especially in the preparation of agribusiness plan.
SEKTOR PERTANIAN MERUPAKAN SEKTOR UNGGULAN TERHADAP PEMBANGUNAN EKONOMI PROVINSI MALUKU Esther Kembauw; Aphrodite Milana Sahusilawane; Lexy Janzen Sinay
Agriekonomika Vol 4, No 2: Oktober 2015
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v4i2.975

Abstract

Pengembangan sektor pertanian merupakan salah satu strategi kunci dalam memacu pertumbuhan ekonomi pada masa yang akan datang. Agroindustri sebagai subsistem agribisnis mempunyai potensi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, karena memiliki peluang pasar dan nilai tambah yang besar. Pembangunan agroindustri dapat menjadi pintu masuk proses transformasi struktur ekonomi dari pertanian ke industri. Penelitian ini menggunakan pendekatan I-O. Tujuan penelitian ini menetapkan subsektor unggulan yang potensial untuk dikembangkan Provinsi Maluku, menganalisa sektor-sektor yang bisa memberikan efek multiplier yang besar, dan mengukur tingkat kontribusi sektor pertanian dan sektor-sektor unggulan dalam pembangunan daerah dan yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengembangkan daerahnya. Penentuan arah dan strategi kebijakan pembangunan wilayah yang berbasis pada kapasitas atau potensi lokal (local spesific) wilayah harus mampu mengidentifikasi dan mengembangkan sektor-sektor unggulan selain memiliki nilai tambah dan mampu memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang memiliki keterkaitan ke depan maupun ke belakang (linkages) terhadap sektornya sendiri dan sektor-sektor lainnya. Percepatan dan pengembangan sektor-sektor unggulan menjadi dasar untuk meningkatkan PDRB. ABSTRACTThe development of agricultural sector is one of the key strategies to spur economic growth in the future. Agro-industry as a subsystem of agribusiness has potential as a driver of economic growth, because it has a market opportunity and a great added value. Agro-industry development can be the entrance to the structural transformation of the economy from agriculture to industry. This study uses the I-O approach. The objective of this study set seed sub-sector with the potential to be developed Maluku province, analyze the sectors that can provide a large multiplier effect, and measure the level of contribution of the agricultural sector and leading sectors in regional development and that can be done by local governments to develop the region. Determining the direction and strategy of regional development policies based on the capacity or potential local (the specific local) area should be able to identify and develop leading sectors in addition has added value and is able to give a multiplier effect (multiplier effect) which is connected to the front and to the rear (linkages) against its own sector and other sectors. Acceleration and development of leading sectors form the basis for increasing the GDP.
GAMBARAN UMUM SEKTOR UNGGULAN DAN KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI JAWA TIMUR (OLAH DATA TABEL INPUT-OUTPUT PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2010) Azizatun Nurhayati; Any Suryantini
Agriekonomika Vol 4, No 2: Oktober 2015
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v4i2.971

Abstract

Pembangunan daerah dilakukan dengan memaksimalkan potensi sumber daya yang ada di suatu daerah. Karena sebagian besar penduduk Indonesia adalah petani, maka penting untuk mengetahui kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian suatu daerah. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi sektor pertanian terhadap multiplier output, pengganda pendapatan, dan pengganda tenaga kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Input Output yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur Tahun 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas tebu berada pada kuadran II, Dari keseluruhan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa (1) Komoditas tebu dapat mendorong berkembangnya industri gula di Jawa Timur, (2) di sektor peternakan, subsektor yang dapat dikembangkan adalah pakan ternak, pemotongan hewan, sapi, kambing dan domba, serta ayam (3) di sektor pengolahan subsektor pengolahan es krim, beras, dan penggilingan padi serta rokok. ABSTRACTLocal development is held by maximizing potential resources in a particular region. In addition, most of Indonesian people are farmers so it’s important to identify the agriculural contribution in local economic. The aim of this study are to study the contribution of agriculture  in ouput multiplier, income multiplier, and employment multiplier. The method which was used in this research was input-output analysis based on Badan Pusat Statistik East Java Province’s data in 2010. From the analysis, we can conclude that the sugarcane was formed in the second quadrant, in which (1)sugarcane comodity promoted the sugar industry in East Java Province (2) in livestock subsector, the woof of livestock industry, animals truncation, sheeps, goats, and chicken husbandry (poultry) were potentially to be developed (3) in processing subsector which was based on agriculture product, ice cream and processing, rice milling and cigarette were potentially to be developed. 
KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI KOPI ARABIKA DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA DI KETINGGIAN SEDANG Ati Kusmiati; Devi Yulistia Nursamsiyah
Agriekonomika Vol 4, No 2: Oktober 2015
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v4i2.976

Abstract

Kopi merupakan salah satu komoditas andalan dalam sektor perkebunan Indonesia. Sebagian besar ekspor kopi Indonesia adalah jenis kopi robusta (94%), dan sisanya adalah kopi jenis arabika. Sedangkan, konsumsi kopi dunia mencapai 70% berasal dari spesies kopi arabika dan 26% berasal dari kopi robusta. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya peluang pasar kopi Arabika lebih besar dibandingkan kopi robusta. Tanaman kopi Arabika sangat cocok tumbuh di dataran tinggi. Namun ada beberapa petani di wilayah dataran sedang tetap membudidayakan Kopi Arabika. Salah satu wilayah tersebut adalah Desa Karangpring Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember yang berada di dekat lereng Gunung Argopuro Oleh karenanya penting melakukan penelitian terkait usahatani kopi arabika di ketinggian sedang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis kelayakan finansial usahatani kopi arabika; (2) menganalisis kepekaan usahatani kopi arabika terhadap kenaikan biaya produksi dan penurunan harga jual kopi; (3) menentukan prospek pengembangan kopi Arabika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan analitis.Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Simple Random Sampling. Metode analisis yang digunakan adalah (1) Kelayakan finansial dengan criteria investasi yaitu NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C, PR dan PP; (2) Analisis sensitifitas dengan melakukan simulasi perubahan kenaikan biaya produksi dan penurunan harga jual kopi; dan (3) Analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan Usahatani kopi arabika di Desa Karangpring Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember secara finansial layak untuk diusahakan dan tidak peka terhadap perubahan biaya pupuk dan harga jual. Prospek pengembangan usahatani kopi arabika di desa Karangpring kecamatan Sukorambi adalah Grey Area artinya berada pada posisi lemah berpeluang. ABSTRACTCoffee is one of superior commodities of plantation sector in Indonesia. Robusta coffee is type of coffee that mostly exported by Indonesia (94%) and Arabica is the next. Moreover, 70% of world coffee consumption is Arabica coffee and 26% is Robusta. It indicates that the opportunity of Arabica coffee is higher than Robusta. Arabica coffee is suitable for high land;however, some farmers in medium land has cultivated the coffee. One of the area for Arabica coffee plantation in medium land is Karangpring Village, SukorambiSubdistrict, Jember Regency. The area located in the slope of Argopuro Mountain. Therefore, it is important to do research on Arabica coffee farming at medium altitude. The research aims to: (1) analyze the financial feasibility of Arabica coffee farming; (2) analyze the sensitivity of Arabica coffee farming toward increase in production cost and decrease in coffee price; (3) determine the prospect of development of Arabica coffee. The research uses descriptive and analytic methods as research method with sampling method of simple random sampling. Methods used for analysis are (1) financial feasibility with investment criteria of NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C, PR and PP; (2) sensitivity analysis through simulation of change in the increase in production cost and decrease in coffee price; and (3) SWOT analysis. Research result shows that Arabica coffee farming at Karangpring Village SukorambiSubdistrict Jember Regency is financially feasible and it is not sensitive to changes in the cost of fertilizer and the selling price. Prospect for development of Arabica coffee farming at the village is in grey area, which is the position of weak but potential.
KERAGAAN USAHATANI DAN PEMASARAN BUAH NAGA ORGANIK Kustiawati Ningsih; Herman Felani; Halimatus Sakdiyah
Agriekonomika Vol 4, No 2: Oktober 2015
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v4i2.972

Abstract

Salah satu faktor penting dalam agribisnis hortikultura adalah kelembagaan pemasaran dan salah satu komoditi yang menjanjikan adalah buah naga organik. Penelitian ini bertujuan mengetahui penerimaan petani dan marjin pemasaran buah naga organik di Kabupaten Pamekasan. Hasil analisis usahatani menunjukkan adanya keuntungan dalam usahatani buah naga organik, hal ini ditunjukkan oleh nilai R/C=2,34. Bila dibandingkan dengan nilai R/C rasio usahatai tembakau Madura yaitu sebesar 1,38 maka dapat disimpulkan bahwa usahatani buah naga organik lebih efisien sehingga dapat dikatakan usahatani buah naga organik dapat dijadikan sebagai alternatif usahatani tembakau Madura. Kisaran (Acquirement) marjin pemasaran antara lembaga-lembaga pemasaran cenderung bervariasi dan timpang. Besarnya marjin pemasaran pada tengkulak dan pedagang pengumpul masing-masing Rp 5.000/kg dan Rp 4.000/kg. Besarnya bagian petani (farmer share) buah naga organik pada tengkulak dan pedagang pengumpul masing-masing 10%dan 10,67%. Secara ekonomi, buah naga organik masih menguntungkan. Keuntungan ini masih dapat ditingkatkan dengan memperbaiki sistem produksi, sehingga produktivitas dapat ditingkatkan. Diperkirakan dengan proses produksi ini dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas, terutama pada tingkat lebih tinggi lagi, sehingga memiliki peluang mengakses pasar lebih luas, khususnya pasar luar negeri (ekspor).  ABSTRACTOne important factor in the agribusiness of horticulture is institutional marketing and one of the commodities that prospecive is organic dragon fruit. This study aims to determine the revenue of farmers and marketing margin of organic dragon fruit in Pamekasan. Results of the analysis showed profit in organic dragon fruit farming, this is indicated by the value of R / C = 2,34. When compared with the value of R / C ratio of Madura tobacco farming in the amount of 1.38 it can be concluded that organic dragon fruit farming more efficient so that it can be said dragon fruit organic farm can be used as an alternative to tobacco Madura farming. Range (acquirement) marketing margin between marketing agencies tend to vary and lame. The amount of marketing margin on middlemen and traders respectively Rp 5,000 / kg and Rp 4,000 / kg. The portion of the farmer (farmer share) organic dragon fruit on middlemen and traders respectively 10% and 10.67%. Economically, organic dragon fruit is still profitable. This advantage can be increased by improving the production system, so that productivity can be improved. It is estimated that the production process can improve the quality and quantity, especially at higher levels, so it has the opportunity to access larger markets, especially foreign markets (exports).
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN USAHA SKALA MIKRO (MICRO ENTERPRISE) KUB BAJRAH GUNAH KLAMPIS BANGKALAN PADA PRODUK TERASI, PETIS DAN KERUPUK IKAN Dwi Ratna Hidayati
Agriekonomika Vol 5, No 1: April 2016
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v5i1.1467

Abstract

Potensi lestari sumber daya ikan (SDI) laut Indonesia sekitar 6,4 juta ton per tahun. Seiring dengan hal tersebut, potensi bahan baku perikanan yang sedemikian besar mendorong tumbuhnya usaha-usaha pengolahan makanan berbahan dasar ikan terutama usaha skala mikro kecil menengah, khususnya di wilayah-wilayah sentra penghasil perikanan seperti di kecamatan Klampis. Salah satu Kelompok Usaha Bersama (KUB) skala mikro yang mengusahakan produk berbasis hasil perikanan adalah KUB “Bajrah Gunah” yang berlokasi di Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan yang memproduksi petis, terasi dan kerupuk ikan. Namun demikian,usaha skala mikro (micro enterprise) seringkali terkendala berbagai permasalahan terutama dibidang pemasaran, apalagi dalam kondisi harus bersaing dengan perusahaan skala menengah ataupun industri skala besar lainnya. Komunikasi pemasaran merupakan kata kunci strategis untuk memainkan peran produk lokal agar bisa berkembang oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh usaha skala mikro KUB Bajrah Gunah. Metode analisis yang digunakan adalah SWOT analysis yang datanya diperoleh hasil Focus Group Discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemasaran yang harus dilakukan adalah perbaikan label sebagai sarana komunikasi dan promosi terhadap pelanggan, Perluasan jejaring, model serta saluran komunikasi pemasaran untuk membidik target konsumen yang lebih luas melalui penambahan media komunikasi pemasaran selain handphone, seperti web dan blog, serta pembuatan sarana promosi lainnya seperti leaflet, banner serta ikut serta dalam jejaring pameran yang lebih luas, branding yang kuat dengan label yang lebih marketable, perbaikan kemasan yang sesuai bagi seluruh produk yang ada, pelatihan secara kontinu  serta berjenjang dari pihak terkait serta plang papan nama KUB di dekat jalan utama untuk menginformasikan keberadaaan KUB Bajrah Gunah.
Fisheries Recources Status of Rasbora (Rasbora sp) in Rawa Pening, Semarang, Central Java: Bioeconomic Analysis Nopisari, Dian Ayunita NN. Dewi
Agriekonomika Vol 5, No 1: April 2016
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v5i1.1342

Abstract

Rasbora (Rasbora sp) is natural resources which have potency to catch in Rawa Pening Swamp. Total production of rasbora was 11,930 kg in 2014. The research objectives to analyzed rasbora bioeconomic status with Maximum Sustainable Yield (MSY), Maximum Economic Yield (MEY), and Open Access (OA) indicators in Rawa Pening. Bioeconomic analysis for Rasbora used Gordon-Schaefer Model. Primary data obtained with census and the total respondents were 31 gillnet fishers. Primary data were gillnet efforts, price and cost of rasbora fishing. Secondary data used Rasbora (Rasbora sp) production for 10 years from 2003-2012. The result of Gordon-Schaefer model for Maximum Sustainable Yield produced of rasbora (CMSY) of 44,100 kg/year with fishing efforts (EMSY) 21,000 efforts/year. The Maximum Economic Yield status (CMEY) 35,916.08 kg/year with effort maximum (EMEY) of rasbora 11,953 efforts/year. Meanwhile, limitation of the rasbora production in Open Access Equilibrium (COAE) was 43,000 kg/year and effort maximum (EOAE) 23,766 efforts/year. Rasbora resources in Rawa Pening status is in underfishing condition.
PEMASARAN TERNAK DOMBA DI PASAR HEWAN PALASARI KABUPATEN INDRAMAYU B. Wibow; S. Rusdiana; U. Adiati
Agriekonomika Vol 5, No 1: April 2016
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v5i1.1468

Abstract

Penelitian dilakukan di Pasar hewan Palasari Indramau Jawa Barat, penentuan data dilakukan dengan metoda survey lapang dipasar hewan, pengambilan data dilakukan melalui wawancara terhadap 10 pedagang kecil, 10 pedagang besar, 10 calo ternak domba dan konsumen ternak domba, data primer dan data skunder dianalisis secara diskriptif dan kuantitatif. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui rantai pemasaran ternak domba di pasar hewan Palasari Indramayu. Hasil Penelitian rantai pemasaran ternak domba mempunyai 3 (tiga) mata rantai hingga pada konsumen akhir, pada masing-masing mata rantai memiliki margin pemasaran tersendiri, yaitu rantai pemasaran I, II dan III, masing-masing rantai pemasaran menentukan nilai share, dengan keuntungan yang berbeda, diperoleh rantai pemasaran I pedagnag kecil nilai share sekitar 2%/ekor, rantai pemasaran II pedagang besar nilai share sekitar 2%/ekor dan rantai pemasaran III para calo nilai share sekitar 1,5%/ekor. Rantai pemasaran I pedagang kecil nilai jual ternak domba jantan dewasa awal sekitar Rp 2.300.000/ ekor dan nilai jual akhir pada konsumen sekitar Rp 2.476.815/ ekor, dengan peningkatan nilai harga sekitar Rp 128.813.38/ekor, rantai pemasaran II pedagang besar nilai jual ternak domba jantan dewasa awal sekitar Rp 2.392.920/ekor dan nilai jual akhir pada konsumen sekitar Rp 2.428.813,8/ekor, dengan peningkatan nilai harga sekitar Rp 128.813.38/ekor dan rantai pemasaran III calo nilai jual ternak domba jantan dewasa awal sekitar Rp 2.346.000/ekor dan nilai jual akhir pada konsumen sekitar Rp 2.428.813,8/ekor, dengan peningkatan nilai harga sekitar Rp 35.893,8/ekor.
SEJARAH PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT AGRARIS AKIBAT PEMBANGUNAN WADUK DI BANJARNEGARA, JAWA TENGAH Kuntoro Boga Andri
Agriekonomika Vol 5, No 1: April 2016
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v5i1.1021

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui sejarah dari pengaruh perubahan lingkungan ekologis pada masyarakat agraris yang terjadi akibat pembangunan waduk. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Hasil dari penelitian memperlihatkan pembangunan proyek PLTA Panglima Besar Soedirman telah merubah secara mendasar masyarakat agraris serta budaya pertanian di lokasi penelitian. Hilangnya lahan berarti juga merubah lahan usaha bagi mereka. Mereka yang beralih mata pencaharian ke sektor perikanan dihadapkan banyak kendala. Perkembangan sektor perdagangan dan jasa sangat dipengaruhi oleh situasi desa yang ada. Perubahan juga mengakibatkan memudarnya lembaga tradisional yang biasa hidup dalam masyarakat agraris. Juga terjadi degradasi dalam birokrasi Desa dan perubahan tipe ekonomi keluarga dari basis ke tipe upahan. Anggota keluarga yang tadinya memiliki sikap familinisme kuat berubah ke individualisme. ABSTRACTThe study was conducted to observe the history of the effect of environmental change toward an agrarian community as a result from the dam construction. This study used qualitative method, which present the descriptive data of the observed people and the societies. It was revealed the dam development had a significant effect of the change of agriculture communities in the studied area.  Most people, moved from the agricultural to fisheries and service sector. Some problems occurred in the community that change their occupation to the fisheries sector as well as the trading and the service sectors uncertainly. The changed also ensuring losts of the agricultural institution as well as degradation and declining on the activities of village bureaucracy. There were a transformation of the family income type from the basis type to be the hired worker type, and relationship from familial type to be individual type. 
KAJIAN KETERKAITAN PRODUKSI, PERDAGANGAN DAN KONSUMSI SAYURAN HIDROPONIK UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI KONSUMSI DI KOTA PALEMBANG Muhammad Arbi
Agriekonomika Vol 5, No 1: April 2016
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v5i1.1359

Abstract

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan melalui observasi dan wawancara langsung dengan pelaku usaha budidaya sayuran dengan sistem hidroponik berdasarkan tuntutan daftar pertanyaan yang diajukan meliputi identitas pengusaha, proses pemasaran/perdagangan. Sementara pengambilan sampel untuk konsumen dilakukan dengan metode penarikan sampel kemudahan, yaitu sampel diambil berdasarkan kemudahan bagi peneliti dengan cara mewawancarai konsumen yang sedang membeli sayuran hidroponik. Operasional teknis wawancara dilakukan satu per satu, satu konsumen selesai menjawab semua pertanyaan baru mewawancarai responden lainnya. Dalam hal ini peneliti menetapkan responden untuk dijadikan sampel sebanyak 40 konsumen. Data sekunder merupakan data-data yang mendukung penelitian yang akan  melengkapi data primer. Lokasi penelitian ditentukan dengan sengaja (purposive sampling), sedangkan sampel penelitian ditetapkan dengan metode Cluster sampling. Pada daerah contoh ini diambil masing-masing 1 pengusaha tanaman sayuran organik dengan sistem hidroponik. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana peta sebaran produksi tanaman sayuran hidroponik dan mengkaji bagaiman peta perdagangan sayuran hidroponik serta untuk mengethui  karakteristik konsumen sayuran hidroponik di Kota Palembang. Hasil penelitian menunjukkanbahwa  jumlah pengusaha sayuran  hidroponik di Kota Palembang saat ini jumlahnya masih cukup terbatas dan belum tersebar secara merata di setiap wilayah sehingga hal ini berpengaruh terhadap jumlah produksi dan permintaan pasar. Terdapat dua pengusaha sayuran hidroponik yang masih aktif diantaranya di  PPLH-Unsri Kecamatan Ilir Barat I  dengan produksi jumlah rata-rata produksi sebanyak 1.6 ton/tahun dan di Kediaman Bapak Adie Alqodri di Kecamatan Ilir Timur I dengan jumlah rata-rata produksi 3,3 ton/tahun. Sementara untuk mekanisme pemasaran  produk sayuran hidroponik dilakukan dengan cara promosi lewat media internet, selebaran, dan dengan mengikuti ajang pameran. Selain itu pemasaran sayuran dilakukan dengan cara kerjasama dengan pihak supermarket diantarnya carrefur, hypermart, dan diamond serta ada juga konsumen yang datang sendiri ke tempat