cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Konstruksi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 378 Documents
PENGATURAN PENGGUNAAN LAHAN DI DAERAH HULU DAS CIMANUK SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR Adi Susetyaningsih
Jurnal Konstruksi Vol 10 No 01 (2012): Jurnal Kontruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.786 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.10-01.107

Abstract

Sungai Cimanuk merupakan salah satu sungai besar yang ada di wilayah propinsi Jawa Barat. DAS Cimanuk merupakan salah satu penopang utama sumberdaya air di Jawa Barat. Meningkatnya lahan kritis di daerah hulu DAS Cimanuk dapat mengancam kelangsungan Sungai Cimanuk sebagai salah satu sumberdaya air di Jawa Barat ini. Mengingat DAS sebagai satu kesatuan ekosistem maka perencanaan  penggunaan lahan yang utuh  sangat penting dan merupakan konsekuensi logis untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan DAS Cimanuk sebagai sumberdaya air di propinsi Jawa Barat. Upaya untuk menyelamatkan hulu DAS Cimanuk dapat dilakukan melalui pendekatan administrative maupun teknis. Pendekatan adminstratis  dilakukan dengan kebijakan pengawasan yang ketat terhadap perubahan tata ruang di daerah hulu. Disamping itu perlu pula dibentuk komunitas-komunitas dari masyarakat di sekitar DAS yang bisa mengelola lahan kritis menjadi lahan konservasi yang produktif.  Secara teknis upaya  dilakukan dengan membangun cekdam di sepanjang DAS yang berfungsi menampung lumpur yang terbawa arus sungai. Lumpur atau kerikil yang tertampung di cekdam tersebut nantinya boleh dimanfaatkan warga, untuk dijual. Dengan demikian, limbah alam itu memiliki nilai ekonomi. Keterkaitan faktor penggunaan lahan dengan kemampuan sungai menyediakan sumberdaya air adalah kemampuannya dalam memberi sanggahan (buffer) terhadap masukan atau resapan  curah hujan sehingga tidak menimbulkan sedimentasi dan debit air yang berlebih (banjir) akibat besarnya aliran permukaan
EVALUASI KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) PUBLIK PADA KAWASAN PADAT LALULINTAS (Studi Kasus : Jl. Guntur Kecamatan Garut Kota) Ayu Sri Rahayu Hartami
Jurnal Konstruksi Vol 13 No 1 (2015): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1128.049 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.13-1.244

Abstract

Jalan Guntur merupakan salah satu bagian dari wilayah BWK 1 yang dimana berdasarkan survei lapangan volume lalulintas Jalan Guntur mencapai 1988 smp/jam. Kondisi RTH di Jalan Guntur masih belum memenuhi kelayakan dimana RTH di kawasan tersebut masih minim. Metode  yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yaitu didapat dari  hasil observasi lapangan dan ditunjang dengan data dari instansi - instansi terkait. Jalan Guntur merupakan kawasan jalan dengan keadaan lalulintas yang selalu padat, Lalulintas Harian Rata – rata (LHR)  selalu meningkat karena dipengaruhi oleh laju pertumbuhan kendaraan yang selalu meningkat setiap tahunnya. Dampak dari hal tersebut adalah peningkatan kadar zat pencemar diudara ambien yang menunjukan peningkatan pula setiap tahun. Jalan Guntur termasuk kedalam  Jalan Lokal kelas III A dimana Kondisi RTH Jalan Guntur masih belum mencapai 20 – 30%, RTH yang tersedia di Jalan Guntur baru mencapai ± 13% sehingga perlu penambahan RTH  ± 7 – 17% dimana RTH ini dapat ditempatkan disepanjang trotoar Jalan Guntur dengan menempatkan pot – pot tanaman di sepanjang jalan tersebut dengan jenis tanaman yang memiliki fungsi sebagai penyerap polusi udara.
ANALISIS KEKUATAN BAJA CANAI DINGIN (COLD FORMED STEEL) SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK ELEMEN STRUKTUR BALOK RUMAH SEDERHANA YANG MERESPON GEMPA Andika Wiguna; Eko Waluyodjati
Jurnal Konstruksi Vol 13 No 1 (2015): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1202.756 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.13-1.253

Abstract

Balok adalah komponen struktur yang memikul beban – beban gravitasi, seperti beban mati dan beban hidup. Komponen struktur balok merupakan kombinasi  dari elemen tekan dan tarik. Hasil riset yg cukup intensif terhadap perilaku baja canai dingin yang telah dituangkan di dalam design code di berbagai negara seperti Australia Standard(AS/NZS), American Iron and Steel Institute (AISI), British Standard (BS code) dan Eurocode telah meningkatkan kredibilitas baja canai dingin sebagai elemen struktur yang sama dengan baja biasa (hot-rolled steel) dan beton bertulang. Perhitungan pembebanan dihitung berdasarkan Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung (PPPURG 1987), yang terdiri dari analisa pembebanan, ketentuan – ketentuan pembebanan, struktur yang dianalisa yaitu struktur balok. Analisa pembebanan pada perhitungan struktur balok ini menggunakan analisa portal 2D. Perhitungan pembebanan dimulai dari beban atap, beban angin, beban dinding, beban lantai dan pengekivalenan beban lantai, sampai beban berat sendiri balok, balok yang di analisa menggunakan balok tipe LC12730 ( toe to toe ) yang nantinya dianalisa dan di cek terhadap Lendutan dan Geser. Dalam penyusunan Tugas Akhir ini bahwa balok mampu menahan beban – beban yang dilimpahkan sesuai dari hasil perhitungan dan kontrol kekuatan terhadap profil baja canai dingin diketahui bahwa profil LC12730 tipe toe to toe  dapat digunakan sebagai elemen struktur balok, dengan didapat Mu 939.200N.mm, Du 5081,7 N, dan Pu 467,8  N, setelah di analisis balok mengalami lendutan sebesar 0,04 cm dan kekuatan kapasitas geser penampang (Pv) sebesar 68580 N.
ANALISA KEPADATAN TANAH PADA TIMBUNAN DI SALURAN IRIGASI DENGAN METODE PENGUJIAN PROCTOR DAN SAND CONE Yuda Yudistira; Sulwan Permana; Ida Farida
Jurnal Konstruksi Vol 13 No 1 (2015): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1751.795 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.13-1.260

Abstract

Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Dalam dunia modern, saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu, jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mengalirkan air tersebut kelahan pertanian. Pengelolaan Infrastruktur Irigasi telah berkontribusi dalam meningkatkan intensitas tanaman padi sawah khususnya pada daerah Irigasi, serta mengupayakan pengelolaan infrastruktur sumber daya air untuk meningkatkan ketersediaan air baku, mengurangi luas areal banjir, dan pengendalian banjir. Tujuan dari penelitian ini Untuk mengetahui kepadatan dari suatu tanah di lapangan secara langsung dengan membandingkan berat isi kering tanah di lapangan dengan berat isi kering tanah laboratorium. Dan Mengetahui karakteristik tanah dari beberapa titik Proctor Test dan Sand cone Test yang akan diambil, sebagai perwakilan yang akan dijadikan sebagai jaringan irigasi Leuwigoong AMS-19 Kabupaten Garut. Data pemadatan tanah dengan menggunakan Proctor Test dan Sand cone Test ini bisa berguna sebagai bahan acuan untuk pemadatan tanah tidak hanya pada pembangunan irigasi tapi juga bisa digunakan untuk pembangunan jalan, jembatan, bangunan gedung, dan lain sebagainya. Metode penelitian yang digunakan dalam analisis ini berdasarkan ketentuan SNI 03-2828-1992 (Metoda Pengujian Kepadatan Lapangan dengan Alat Konus Pasir) dan SNI-R-03-1742-1989 (Cara Uji Kepadatan Ringan Untuk Tanah) dan data penunjang lainnya. Dari hasil analisa yang dilakukan d maks = 1,142 g/cm3 dan Kepadatan tanah maksimum (D) = 9,81 %. Massa air yang membebani tanah timbunan pada saluran irigasi yang dipadatkan yaitu 2.059 kg/detik. Tanah timbunan dengan angka kepadatan tanah lebih dari 95% dan tanah timbunan tersebut dapat menahan massa air lebih dari 2 ton/detik maka bangunan saluran irigasi tersebut berada dalam batas aman, karena tidak aka nada rembesan dan tidak akan tergerus oleh air meski dengan debit maksimal.
ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI BANGBAYANG UPTD SDAP LELES DINAS SUMBER DAYA AIR DAN PERTAMBANGAN KABUPATEN GARUT Endang Adi Juhana; Sulwan Permana; Ida Farida
Jurnal Konstruksi Vol 13 No 1 (2015): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1782.515 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.13-1.261

Abstract

Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, pembangunan saluran irigasi sangat diperlukan untuk menunjang penyediaan bahan pangan, sehingga ketersediaan air di Daerah Irigasi akan terpenuhi walaupun Daerah Irigasi tersebut berada jauh dari sumber air permukaan (sungai). Dalam perencanaan suatu sistem irigasi hal pertama yang perlu dikerjakan adalah analisis hidrologi termasuk mengenai kebutuhan air di sawah (GFR), Kebutuhan air pengambilan (DR), Kebutuhan bersih air disawah (NFR) juga faktor ketersediaan air, dimana jumlah kebutuhan air akan dapat menentukan terhadap perencanaan bangunan irigasi. Dari hasil analisis perhitungan diketahui kebutuhan air untuk luas areal 100 Ha, debit air yang ada pada musim tanam dimusim kemarau sebesar 0.97 lt/dt/Ha, sedangkan kebutuhan air sebesar 1.13 lt/dt/Ha. Dari kedua rencana tersebut kebutuhan air untuk luas areal 100 Ha, debit air yang ada pada musim tanam dimusim penghujan sebesar 1.22 lt/dt/Ha sebanding dengan kebutuhan air di sawah. Alternatif lain agar air yang tersedia bisa mencukupi untuk kebutuhan pertanian diantaranya, penggunaan salah satu sistem yaitu sistem golongan atau sistem gilir , penggantian lapisan air disesuaikan dengan air yang ada dan penggunaan air untuk kebutuhan pertanian di luar saluran irigasi Bendung Bangbayang (saluran irigasi alternatif).
ANALISA SAMBUNGAN BATANG TARIK STRUKTUR BAJA DENGAN METODE ASD DAN METODE LRFD Ghinan Azhari
Jurnal Konstruksi Vol 12 No 1 (2014): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.65 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.12-1.265

Abstract

Analisa ini memberikan penjelasan mengenai sambungan batang tarik dengan berdasarkan metode tegangan kerja (Allowable Stress Design, ASD) dan berdasarkan metode beban terfaktor (Load and Resistance Factor Design, LRFD). Metode ASD dalam perencanaan struktur baja telah cukup lama digunakan, namun beberapa tahun terakhir metode desain dalam struktur baja mulai beralih ke metode lain yang lebih rasional, yakni metode LRFD. Metode ini didasarkan pada ilmu probabilitas, sehingga dapat mengantisipasi segala ketidakpastian dari material maupun beban. Oleh karena itu metode LRFD ini dianggap cukup andal. Metode LRFD untuk perencanaan struktur baja yang diatur dalam SNI 03-1729-2002, berdasarkan pada metode FOSM. Batang tarik umumnya terdapat pada struktur rangka batang, batang tarik ini sangat efektif dalam memikul beban. Batang ini dapat terdiri dari profil tunggal ataupun profil-profil tersusun. Dalam menentukan kekuatan nominal penampang suatu batang tarik, harus ditinjau terhadap tiga macam kondisi keruntuhan yang menentukan, yaitu kondisi leleh dari luas penampang kotor/bruto, di daerah yang jauh dari sambungan, kondisi fraktur/putus dari luas penampang efektif pada daerah sambungan, serta kondisi geser blok pada sambungan. Faktor tahanan komponen struktur yang memikul gaya tarik aksial harus kuat terhadap tarik leleh dan terhadap kuat tarik fraktur. Luas penampang netto batang tarik yang disambung dengan paku keling (rivet) atau baut (bolt) harus dilubangi. Ini mengakibatkan berkurangnya luas penampang yang dibutuhkan untuk memikul gaya tarik, sehingga kekuatan tarik batang akan berkurang, SNI 03-1729-2002 menyebutkan dalam suatu potongan jumlah luas lubang tidak boleh melebihi 15% luas penampang utuh. Dalam metode LRFD untuk menentukan kekuatan nominal penampang suatu batang tarik, harus ditinjau terhadap tiga macam kondisi keruntuhan yang menentukan dari kondisi leleh geser dari luas penampang kotor/bruto, kondisi fraktur/putus dari luas penampang efektif pada daerah sambungan, kondisi geser blok pada sambungan dan dari ketiga kondisi keruntuhan tersebut diambil nilai terkecil yaitu 114 kN. Untuk metode ASD kekuatan batang tarik pada beban maksimum yang dapat dipikul kurang dari 6,3 ton, dan untuk pembebanan sementara kurang dari 8,2 ton.
PERANCANGAN DEWATERING PADA KONSTRUKSI BASEMENT (STUDI KASUS PROYEK LANDMARK RESIDENCE – BANDUNG) Ita Warsita; Sulwan Permana; Ida Farida
Jurnal Konstruksi Vol 12 No 1 (2014): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1174.592 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.12-1.269

Abstract

Dewatering merupakan suatu pekerjaan yang diperlukan untuk mengeringkan lahan galian di bawah muka air tanah dan untuk mengatasi gaya Uplift selama masa konstruksi Basement. Penentuan banyaknya jumlah sumur yang digunakan mengacu dari : Data spesifikasi teknis rencana bangunan, luas galian, dan kedalaman galian, Data penelitian tanah, Pertimbangan kondisi lahan di sekitar proyek, Pengalaman sejenis yang telah dilakukan. Pada  proyek Landmark Residence Apartment Bandung ini digunakan lima belas sumur Dewatering, dua sumur Piezometer, dan dua sumur Recharging. Masing – masing sumur tersebut di bor sampai pada kedalaman minus 20 m dengan diameter sumur 80 cm dan diameter casing PVC 12” untuk sumur Dewatering; diameter sumur  60cm dan diameter casing 2” untuk sumur  Piezometer; dan diameter sumur  80 cm dan diameter casing 12” untuk sumur Recharging. Selain itu ,sejumlah pompa submersible berkapasitas diperlukan untuk membuang air permukaan akibat air hujan via sumpit. intensitas hujan ± 50 mm/jam untuk kota bandung dengan luas galian 2400 m² dan koefisien pengaliran (C) = 0,5 Jumlah air yang harus dibuang 60 m³/jam.
ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI UNTUK DAERAH IRIGASI CIMANUK KABUPATEN GARUT , Sahrirudin; Sulwan Permana; Ida Farida
Jurnal Konstruksi Vol 12 No 1 (2014): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.981 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.12-1.270

Abstract

Air merupakan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan makhluk hidup di dunia ini. Oleh sebab itu perlu adanya keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air, termasuk kebutuhan air pada daerah pertanian dimana air yang di ambil dari sungai melalui saluran irigasi haruslah seimbang dengan jumlah air yang tesedia. Kebutuhan air di daerah pertanian seperti daerah pertanian Bayongbong, khususnya pesawahan di pengaruhi beberapa faktor yaitu ; Evapotranspirasi, perkolasi, penggantian lapisan, dan curah hujan efektif. Mahalnya biaya pembuatan saluran irigasi dan ketersediaan air (Faktor K) irigasi Bayongbong yang berasal dari Bendung Cimanuk yang sangat terbatas merupakan masalah utama pada daerah pertanian Bayongbong. Maka perlu adanya pengkajian mengenai efisiensi kebutuhan air pada daerah irigasi tersebut dengan menganalisis hujan efektif, kebutuhan air irigasi dan ketersediaan air irigasi. Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa Dari kedua rencana tersebut kebutuhan air (DR) untuk luas areal 179 Ha, debit air sangat mencukupi dan bisa dipakai untuk mengairi lahan yang baru, sedangkan hasil perhitungan jumlah kebutuhan air lebih besar dibandingkan dengan air yang tersedia pada musim kemarau. Maka dari itu diperlukan alternatif lain yaitu dengan sistem golongan atau sistem gilir dan penggantian lapisan air disesuaikan dengan air yang ada  agar debit air yang tersedia bisa mencukupi untuk kebutuhan.
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN FASILITAS JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (JPO) (STUDI KASUS PADA FASILITAS JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG DI JL. SOEKARNO HATTA BANDUNG) Edy Supriady Koswara; , Roestaman; Eko Walojodjati
Jurnal Konstruksi Vol 12 No 1 (2014): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.947 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.12-1.271

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana efektifitas pemanfaatan fasilitas jembatan penyebrangan orang yang ada di Jl. Soekarno Hatta Bandung. Seperti kita ketahui bahwa meningkatnya volume kendaraan transportasi menyebabkan jalan tersebut menjadi lebih padat. Tentu saja hal ini menyebabkan pejalan kaki sulit untuk melintasi jalan terutama di jam sibuk seperti di pagi hari saat orang-orang pergi kerja dan pergike sekolah atau di malam hari ketika mereka pulang. Begitupun ketika mereka menelusuri jalan, di trotoar yang sempit. Seperti yang terjadi di setiap kota besar, hal ini terjadi karena permintaan pembangunan ekonomi, perdagangan, dan kemudahan masyarakat untuk mencapai pelayanan sosial, fasilitas umum seperti hotel , pusat perbelanjaan, dll. cenderung pengelompokan di wilayah tertentu. Selain itu, karena lokasi pembangunan dengan yang lain tersebar ke seluruh wilayah, sehingga untuk mencapai tujuan mereka para pejalan kaki harus melintas di jalan tersebut. Namun, keberadaan pejalan kaki di tingkat tertentu sering menyebabkan konflik besar dengan arus kendaraan sampai menyebabkan penundaan lalu lintas dan tingkat angka kecelakaan yang tinggi.
ANALISIS MANAJEMEN RISIKO KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) PADA PEKERJAAN UPPER STRUCTURE GEDUNG BERTINGKAT (STUDI KASUS PROYEK SKYLAND CITY – JATINANGOR) Fahmi Nurul Anwar; Ida Farida; Agus Ismail
Jurnal Konstruksi Vol 12 No 1 (2014): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.761 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.12-1.272

Abstract

Proyek apartemen dapat dikatakan sebagai proyek yang berisiko sangat tinggi karena besarnya bobot pekerjaan dan tingginya struktur yang akan dibangun. Risiko pada proyek konstruksi sangatlah banyak dan bervariasi, diantaranya risiko biaya proyek, produktivitas pekerja, mutu dan waktu pelaksanaan. Risiko yang harus lebih diperhatikan adalah risiko kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Dengan adanya manajemen risiko ini diharapkan kecelakaan kerja yang terjadi dapat dikurangi, sehingga jika terjadi kecelakaan kerja maka dampak dari kecelakaan tersebut tidak akan berpengaruh banyak dan menghambat pekerjaan yang lainnya. Pada penelitian ini akan diidentifikasi bahaya K3, penilaian risiko K3 serta bagaimana cara mengendalikan terhadap risiko K3 yang ada pada pekrejaan upper structure dengan metode penilaian risiko berdasarkan dari NHS Highland yang diadopsi dari AS/NZS 4360:2004 Risk Management. Analisis risiko dilakukan dengan melakukan identifikasi risiko dengan cara review data, interview dan kuisioner. Setelah melakukan identifikasi, nilai dampak dan frekuensi dikalikan untuk mendapatkan nilai tingkat risiko pada tiap faktor risiko. Evaluasi risiko adalah hal selanjutnya yang dilakukan dengan mengurutkan nilai risiko mulai dari yang terbesar sampai terkecil, kemudian melakukan penangan/pengendalian risiko agar tidak berpengaruh besar pada tujuan proyek. Dari hasil penilaian risiko ditemukan risiko yang paling besar adalah potensi risiko beton keropos dalam pekerjaan pengecoran dengan indeks nilai risiko sebesar 10,55.

Page 2 of 38 | Total Record : 378