cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
ISSN : 20891490     EISSN : 2406825X     DOI : -
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS): This journal should coverage Islam both as a textual tradition with its own historical integrity and as a social reality which was dynamic and constantly changing. The journal also aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies; and solving the dichotomy between ‘orthodox’ and ‘heterodox’ Islam. So, the journal invites the intersection of several disciplines and scholars. In other words, its contributors borrowed from a range of disciplines, including the humanities and social sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
The Muslim Millennial family typology: the role of Muslim family circumflex model to avoid parents’ violent behavior against children in Indonesia Supaat Supaat; Salmah Fa'atin
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v9i1.57-81

Abstract

The shifting phenomena of a Muslim family function in the millennial era, in sociological perspective, require an effort of adjustment in the patterns of family behavior interactions. The role of family leader as the main breadwinner is not the only principle because a stay at home dad is one of alternatives for Indonesian couples to foster their family. Circumflex model on marital and family pattern system, according to Olson, is specifically designed for planning treatment and effective results on marital and family therapy. A healthy Muslim family will function properly including diminishing parents’ violent behavior against their children. This study explores the Muslim family typology in the millennial era based on Circumflex model in the dimensions of cohesion,adaptability, and communication, and respectively it encloses the roles of each type in reducing parents’ violent behavior against their children. This article occupies qualitative method and education psychological approach. Based on the interview and observation as the primary tools for data collection, this research reveals two findings. Firstly, the common Muslim family typology in millennial era based on Circumflex model includes the types of extreme, midrange, and balanced. In fact, the balanced type of Muslim family promotes appropriate functions in the dimensions of cohesion and adaptability. Secondly,the balanced type of Muslim family is capable to bring harmony to the family,and assist the individual to override the difficult time during the family life. Thus, it will eliminate the parents’ violence behavior to their children. Fenomena pergeseran fungsi keluarga muslim di era millenial, dalam prespektif sosiologi, menuntut upaya penyesuaian dalam pola interaksi perilaku keluarga. Peran kepala keluarga sebagai pencari nafkah tunggal tidak menjadi satusatunya acuan, karena pria menjadi bapak rumah tangga (stay at home dad) merupakan salah satu alternatif bagi beberapa pasangan dalam membangun suatu keluarga di Indonesia. Model sirkumpleks dari sistem pola keluarga dan perkawinan, menurut Olson, secara khusus dirancang untuk perencanaan treatment dan hasil yang efektif pada marital dan familiy therapy. Keluarga muslim yang “sehat” akan dapat berfungsi secara memadai, termasuk dalam upaya meredam perlaku kekerasan orangtua pada anak. Penelitian ini menelusuri tipe pola keluarga muslim di era millenial berdasarkan model sirkumpleks,yakni dimensi kedekatan keluarga (cohesion),dimensi adaptabilitas keluarga(adabtability) dan dimensi komunikasi (communication), kemudian mengungkap peranan masing-masing tipe dalam upaya meredam perilaku kekerasan orangtua pada anak. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan Psikologi Pendidikan. Berdasarkan interview dan observasi sebagai alat utama pengumpulan data, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Pertama,tipe umum pola keluarga muslim di era millenial berdasar model sirkumpleks adalah tipe ekstrem (extreme), tipe rentang tengah (mid range) dan tipe seimbang (balanced). Keluarga yang berfungsi memadai adalah keluarga yang bertipe seimbang dimensi kedekatan dan adabtabilitasnya. Kedua tipe tersebut yang mampu mewujudkan keharmonisan keluarga, dan sangat membantu individu dalam melewati masa-masa sulit ketika menemui problem kehidupan, sehingga meniscayakan perilaku kekerasan orangtua pada anak akan tereleminir.
Debating shura and democracy among British Muslim organizations Bambang Arif Rahman
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v1i2.229-252

Abstract

Shura as the system of representation of the Muslim’s voice in, typically, theIslamic state is often confronted with the West representation system namelyDemocracy. Some Islamic scholars believe that Shura is still the best system forMuslims to vote for their need in the state. However, as Islam is not a monolithicdoctrine, some other Muslim groups have another alternative view to representtheir political opinion to the state by, surprisingly, practicing democracy. In brief,Shura is still placed God instructions as the reference of all decisions which aremade in the council. Otherwise, democracy merely stands its policy on the people.Both systems have a long tradition processes to find their recent way in thisglobal age. And the British Muslims have to realize that they live in a developedcountry like Britain and still have to be Muslim. Giving challenging condition, HizbutTahrir, Tablighi Jama’at, and Muslim Council of Britain, three prominent MuslimOrganizations in England, have different attitude towards democratic Britain tovoice their representation. On the one hand, Hizbut Tahrir strictly rejects the ideaof democracy as its goal is to establish the Islamic Caliphate in the world. And onanother hand, Tablighi Jama’at tends to stay away from the political issue, includingits representation, as the core of this organization is only preaching in apeaceful way. Finally, Muslim Council of Britain as the umbrella of small-medium Muslim organizations in England, in fact is involving in the system of British democracy.Shura sebagai sistem perwakilan seringkali diperbandingkan dengan sistemperwakilan Barat, yaitu demokrasi. Beberapa tokoh umat Islam percaya bahwashura masih merupakan sistem perwakilan yang terbaik untuk menyuarakankeinginan umat Islam terhadap negara. Namun demikian, karena Islam bukanmerupakan doktrin yang kaku, ada beberapa kelompok Muslim lain yang memilikipandangan berbeda di dalam mengemukakan aspirasi politiknya terhadap negara,yang justru menggunakan sistem demokrasi. Secara singkat, sistem shura masihmenempatkan ajaran-ajaran Tuhan sebagai acuan untuk memutuskan segalapersoalan dalam dewan. Sedangkan demokrasi membuat kebijakan semata-mataberdasarkan pada suara manusia. Kedua sistem ini memiliki proses tradisionalyang panjang untuk mencapai bentuknya seperti sekarang ini. Sementara itu,Muslim Inggris harus menyadari bahwa mereka hidup di negara maju dan harustetap ber-Islam. Menghadapi kondisi yang menantang ini, tiga organisasi Islamterkemuka di Inggris seperti Hizbut Tahrir, Tablighi Jama’ah, dan Muslim Councilof Britain memiliki sikap berbeda untuk menyatakan suara mereka terhadappemerintah Inggris yang demokratis. Satu sisi, Hizbut Tahrir dengan keras menolakide demokrasi dikarenakan cita-cita mereka adalah mendirikan kekhalifahan Islamdi dunia. Sementara di sisi yang lain, Tablighi Jama’ah cenderung menghindariisu politik, termasuk keterwakilan mereka. Terakhir, Muslim Council of Britainyang merupakan payung bagi organisasi-organisasi Islam kecil-menengah diInggris pada kenyataannya ikut serta di dalam sistem demokrasi Inggris. 
Ahmadiyah, conflicts, and violence in contemporary Indonesia Nina Mariani
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v3i1.1-30

Abstract

This article examines conflicts and violence experienced by Ahmadiyah commu-nity in Indonesia after reformasi era. In spite of diversities among Muslims inIndonesia, Ahmadiyah (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) has been experiencing someforms of violence both from other Muslims and government. The number ofviolence has risen dramatically after the issuing second fatwa from Majelis UlamaIndonesia in 2005 and the Joint Ministerial Decree (SKB) on Ahmadiyah. Thoseforms of violence are issuing decree on banning Ahmadiyah, sealing the mosquesand banning of doing religious activities, and mobbing the mosques and houses,including killing. Furthermore, this paper argues that Indonesia’s goverment doesnot take its responsibility to protect its people particularly from minorities groups,even some local governments also do violence towards Ahmadiyah community.Artikel  ini  membahas  konflik  dan  kekerasan  yang  dialami  oleh  komunitasAhmadiyah di Indonesia setelah masa reformasi. Walaupun Muslim di Indonesiasangat beragam, Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengalami beberapa bentukkekerasn baik dari Muslim yang lain maupun dari pemerintah. Jumlah kekerasnayang menimpa mereka meningkat tajam setelah dikeluarkannya fatwa sesat keduadari MUI pada tahun 2005 dan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri mengenai Ahmadiyah. Berbagai bentuk kekerasan yang menimpa mereka yaitupengeluaran peraturan pelarangan keberadaan Jemaat Ahmadiyah di berbagaiprovinsi, penyegelan masjid dan pelarangan melakukan aktifitas keagamaan,penyerangan  masjid-  masjid  dan  rumah-rumah  warga  Ahmadiyah,  bahkanpembunuhan.  Selain  itu,  pemerintah  pusat  sepertinya  tidak  melaksanakankewajibannya untuk melindungi warganya, terutama dari kalangan minoritasbahkan beberapa pemerintah lokal justru melakukan kekerasan terhadap wargaAhmadiyah di daerahnya.
Teaching religions in Indonesia Islamic Higher education: from comparative religion to Religious Studies Media Zainul Bahri
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 2 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v4i2.155-188

Abstract

This article focuses on how the study of Comparative Religion conducted in Indonesian Islamic higher institutions, i.e. on both UIN Yogyakarta and Jakartasince the beginning of the New Order (1960s) to Reform era (2014). The focus of the study was on models/approaches and main issues. In general, for more than half a century, the comparative study of religion is not been done for academic purposes an sich. Just within the new last decade that theoretical studies of Comparative Religion began developed. Another important thing that the study of Comparative Religion in Indonesia, although mostly referring to the methodological sources of the West and the Middle East, but ithas always been associated with religious and cultural context of Indonesia.Therefore, the study on both UIN Yogyakarta and Jakarta always deliver courseson religions that live in Indonesia alongside with Indonesian contemporary issues. In the reform era, though still using Comparative Religion’s term, butit looks religious studies such as used in the West. Thus, its “form” or “clothes”is Comparative Religion but it is religious studies. Artikel ini fokus pada bagaimana studi Perbandingan Agama yang dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam Indonesia, yaitu pada UIN Yogyakarta dan Jakarta sejak awal Orde Baru (1960) Reformasi era (2014). Fokus penelitian adalah pada model/pendekatan dan isu-isu utama. Secara umum, selama lebih dari setengah abad, studi perbandingan agama tidak dilakukan untuk tujuan akademik an sich. Hanya dalam dekade terakhir studi teoritis Perbandingan Agama mulai dikembangkan. Hal lain yang penting bahwa studi Perbandingan Agama di Indonesia, meskipun sebagian besar mengacu padasumber-sumber metodologi Barat dan Timur Tengah, tetapi selalu dikaitkan dengan konteks agama dan budaya Indonesia. Oleh karena itu, penelitian pada kedua UIN Yogyakarta dan Jakarta selalu memberikan kursus tentang agamayang hidup di Indonesia bersama dengan isu-isu kontemporer Indonesia. Dalamera reformasi, meskipun masih menggunakan istilah Perbandingan Agama, tetapitampak sebagai religious studies seperti yang digunakan di Barat. Dengan demikian,“bentuk” atau “pakaian”nya adalah Perbandingan Agama bahkan religious studies.
Indonesian Muslim killings: revisiting the forgotten Talang Sari tragedy (1989) and its impact in post authoritarian regime Wahyudi Akmaliah
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 1 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v5i2.1-34

Abstract

Although the Talang Sari tragedy as a part of the representation of Indonesian Muslim oppression during the authoritarian regime, it is relatively lesser known for Indonesian public. The avoidance of the most Indonesian Muslim who did not support it is one of those facts. Indeed, they did a less attention to talk and to articulate the case to the public. This paper intends to revisit the case of the Talang Sari as one of the unsolved human rights violation during the authoritarian regime. It is not only exploring the case and also examining the context of violence, but also tracing dynamic of the case during and post of authoritarian regime by the emergence of Islah agreement as cultural impu- nity to forget the past for many victims. The questions deals with in this paper are following: what kind of conditions that made the Talang Sari was happen- ing in East Lampung in 1989, South Sumatra during the Suharto presidency? How did the Suharto regime control the discourse of the tragedy in Indone- sian public that eventually encourage most Indonesian Muslim did not actively respond the killings? Although the reformasi era gives an opportunity break silences by asking justice to the current Indonesian government on hu- man rights violation, why those cases, especially the Talang Sari, are unsolved? This paper divided into three parts to answering the questions. Firstly, it is to understand the case of Talang Sari by discussing the context of the New Order’s policy on Indonesian Muslim and its political ideology. Secondly, it is to read deeply mass media in making discourse on the case as one of the triggers for most Indonesian Muslim did not respond it. Thirdly, it is to analyze the Islah agreement (reconciliation in Islamic term) as the primary factor that contrib- uted why cultural impunity has seemingly embedded to bring justice to the victims of violence generally in the post of Suharto regime. Meskipun Peristiwa Talang Sari sebagai bagian dari representasi penindasan masyarakat Muslim Indonesia selama rejim otoriter berkuasa, peristiwa itu jarang diketahui oleh publik Indonesia. Pengabaian kebanyakan Muslim Indo- nesia yang tidak mendukung upaya penyelesaian kasus tersebut adalah salah satu buktinya. Bahkan, mereka tidak membicarakan dan mengangkat kasus Talang Sari di ruang publik. Artikel ini bermaksud melihat kembali peristiwa Talang Sari sebagai salah satu kasus pelanggaran yang belum diselesaikan. Selain mengeksplorasi kasus, menjelaskan konteks kekerasan, artikel ini juga menelusuri dinamika kasus tersebut sebelum dan pasca rejim Orde Baru, khususnya seiring dengan kemunculan Islah sebagai Impunitas Kultural untuk melupakan masa lalu oleh sebagaian korban. Pertanyaannya yang diajukan dalam artikel ini adalah: kondisi-kondisi semacam apa yang membuat kasus Talang Sari terjadi di Lampung Timur pada tahun 1989, Sumatera Selatan saat presiden Suharto berkuasa? Bagaimana rejim Suharto mengontrol wacana peristiwa tersebut yang membuat kebanyakan masyarakat Islam Indonesia tidak menanggapi peristiwa tersebut? Meskipun pasca rejim Orde Baru memberikan kesempatan untuk menyelesaikan kasus tersebut dengan mendesak untuk mengajukan keadilan kepada pemerintah Indonesia, mengapa peristiwa Talang Sari tidak atau belum diselesaikan hingga sekarang?. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya membagi penjelasan ini kepada tiga bagian. Pertama, memahami kasus Talang Sari dengan mendiskusikan konteks kebijakan rejim Orde Baru dalam menghadapi umat Islam dan ideologi politiknya. Kedua, membaca lebih dalam media cetak dalam membuat wacana peristiwa tersebut melalui liputan yang dibuat. Asumsi ini diajukan karena liputan media tersebut menjadi salah satu penyebab mengapa kebanyakan umat Islam tidak merespon peristiwa tersebut. Ketiga, menganalisis persetujuan Islah, rekonsiliasi dalam perspektif Islam sebagai faktor utama yang memberikan kontribusi terhadap impunitas kultural untuk membawa keadilan ke jalan yang lebih sulit kepada korban secara umum pasca rejim Suharto.
Islam, gay, and marginalization: a study on the religious behaviours of gays in Yogyakarta Koeswinarno Koeswinarno; Mutolehudin Mustolehudin
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 1 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v7i1.125-152

Abstract

0px; " Man does not intend to be born gay, whose existence is not welcomed in the society including within his spiritual religious expressions. In Wonosobo, in the year of 2016, a marriage ceremony almost happened between a male and a male. This phenomenon is interesting to be studied in detail. In a specific way, this article uncovers the religious behaviours of gays in Yogyakarta. Usingan anthropological approach, the researchers were directly involved in the subjects’ lives in the social, economic, cultural, and religious aspects. In texts, same-sex relationships were found in the narratives of Prophet Luth written in the Al-Quran books Al-A’raf verse 81, Al-Shu’ara’ verses 165-166, An-Nisa verse 16, and Hud verses 77-83. These verses are used as the basis for rejecting homosexuality. From the social life happening in Yogyakarta there arise conflicts between the gays and their families so that they run away from their families to join gay communities and form economic and even religious groups.Furthermore, in their citizenship status, there is marginalization or administrative abuse for their identities in the identification card.Manusia tidak berniat untuk dilahirkan sebagai gay, yang keberadaannya tidak disambut baik di masyarakat termasuk dalam ungkapan spiritualnya. Di Wonosobo, pada tahun 2016, sebuah upacara pernikahan hampir terjadi antara sesama jenis lelaki. Fenomena ini menarik untuk dikaji secara detail. Artikel ini mengungkap perilaku religius kaum gay di Yogyakarta. Dengan menggunakan pendekatan antropologis, peneliti secara langsung terlibat dalam kehidupan subyekdalam aspek sosial, ekonomi, budaya, dan agama. Dalam teks, hubungan sesama jenis ditemukan dalam narasi Nabi Luth yang ditulis dalam buku Al-Quran AlA’raf ayat 81, ayat Al-Shu’ara 165-166, An-Nisa ayat 16, dan ayat-ayat Hud 77- 83. Ayat-ayat ini digunakan sebagai dasar untuk menolak homoseksualitas. Dalam kehidupan sosial di Yogyakarta, timbul konflik antara kaum gay dan keluarga mereka. Konflik ini membuat mereka melarikan diri dari keluarga dan bergabung dengan komunitas gay dan membentuk kelompok ekonomi dan bahkan kelompok keagamaan. Dalam status kewarganegaraan, mereka mengalami marginalisasi atau penyalahgunaan administratif dalam kartu identitas mereka.
Building peace through mystic philosophy: study on the role of Sunan Kalijaga in Java Waston Waston
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 2 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v8i2.281-308

Abstract

This paper aims to study the teachings of peace invented in the Javanese tradition particularly by Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga was a Muslim saint in the 15th century AD who taught mystical-philosophical teachings. His role permeates in the Javanese tradition so peaceful values that are embedded in its teachings still be traced and developed. We conducted a literature study on the role, influence and legacy of Sunan Kalijaga. We focused on his philosophical approach to religious thought as oppose to the mystical aspect. Our findings show that Sunan Kalijaga succeeded in using proper choice of words to combine Islamic values and predominant cultural elements (e.g., Hinduism, Buddhism). Therefore, instead of using the Arabic terms, Sunan Kalijaga used many old Javanese and Sanskrit terms commonly used in the 15th-16th century Javanese society. As an implication, Sunan Kalijaga created terms that are less Islamic but loaded with Islamic values. His examination is not only inherited into terms, but also practices, symbols and institutions. Among those Javanese traditions, some of them are critically important in supporting peace-building. This paper reaps the peaceful values of the Sunan teachings in the hope of countering the stream of extreme ideologies that have recently flooded the public. Paper ini bertujuan mengunduh ajaran damai yang ditanam dalam tradisi Jawaterutama yang disemai oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah seorang walipada abad ke 15 M yang memiliki ajaran bersifat mistis-filosofis. Hingga saat ini,pengaruh Sunan Kalijaga sangat terasa dalam tradisi Jawa sehingga nilai-nilaidamai yang ada dalam ajarannya masih dapat ditelusuri dan dikembangkan.Dengan menerapkan studi pustaka, data-data dalam riset ini dikumpulkan darisumber-sumber yang mengkaji Sunan Kalijaga, peran, pengaruh, dan warisanwarisannya.Oleh karena corak pemikiran keagamaan Sunan Kalijaga bersifatmistis-filosofis, maka aspek mistisisme dan pendekatan filsafat juga digunakandalam tulisan ini. Paper ini memaparkan temuan bahwa dalam pratiknya, SunanKalijaga melakukan permainan bahasa yang dengan cara tersebut ia berhasilmemadukan antara nilai-nila i keislaman dengan unsur buda y a dominanyang telah ada sebelumnya yaitu Hindu dan Buddha. Oleh karena itu, alihalihmenggunakan istilah Arab, Sunan Kalijaga justru banyak menggunakanistilah Jawa Kuna dan Sansekerta yang lazim digunakan dalam masyarakat Jawaabad 15-16. Hasil dari upaya tersebut, Sunan Kalijaga menghadirkan istilahistilahyang tampaknya kurang Islami namun sarat muatan nilai-nilai Islam.Ijtihad Sunan Kalijaga tidak hanya terwariskan menjadi istilah-istilah, namunjuga menjadi praktik, simbol bahkan melembaga. Dari beberapa bentuk tradisijawa yang diwariskan Sunan Kalijaga dapat diambil bebera p a nilai pentingyang mendukung iklim damai. Paper ini memetik nilai-nilai damai ajaran sangSunan tersebut dengan harapan dapat membendung arus ideologi ekstrim yangakhir-akhir ini semakin membanjiri ruang publik.
Muslims in Britain: questioning Islamic and national identity Ai Fatimah Nur Fuad
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v2i2.215-240

Abstract

Islamic identity has been a central issue since the emergence of Islam in theseventh century. Muslims have been interacted with many symbols of religiousidentity since this early time of Islam. Every generation of Muslims has their ownway to show their religious identity. Muslims in Britain are also still continuing tosearch for religious identity. They seek to re-evaluate their identity and constructa sense of what it means to be a Muslim in Britain today. This article would like toelaborate several discussions on Muslims’ identities in Britain. There are twodifferent opinions on this issue. The first opinion comes from Muslims who believethat a Muslim individual should choose to be either a Muslim or a British.They argue that national values differ from religious norms. The second, however,states that one Muslim can be both a Muslim and a British at the same time.For them, there is no contradiction between being a Muslim and being a Britishcitizen. They argue that nationality and faith can be combined in Muslim individualswho live in Britain.Identitas keIslaman telah menjadi isu utama sejak awal kemunculan Islam padaawal ketujuh Masehi. Sejak awal, Muslim sudah berinteraksi dengan berbagaisymbol identitas keagamaan. Setiap generasi Muslim memiliki cara tersendiriuntuk menunjukkan identitas kegamaan mereka. Begitu juga dengan generasi Muslim saat ini di Inggris, mereka masih mencari identitas keagamaan mereka.Mereka berusaha mengevaluasi kembali dan mencari makna bagaimana menjadiMuslim di Inggris. Artikel ini ingin mengelaborasi beberapa diskusi mengenaiidentitas Muslim di Inggris. Terdapat dua perbedaan pandangan terkait hal ini.Pendapat pertama datang dari Muslim yang percaya bahwa seorang Muslim harusmemilih menjadi Muslim atau seorang warga Inggris. Mereka berpendapat bahwanilai-nilai nasional Inggris berbeda dari norma-norma agama. Namun yang kedua,menyatakan bahwa seorang Muslim bisa menjadi Muslim Inggris pada waktubersamaan. Bagi mereka, tidak ada perbedaan untuk menjadi Muslim atau menjadiwarga Negara Inggris. Mereka berpendapat bahwa keimanan dan nasionalismebisa disatukan dalam diri seorang Muslim yang tinggal di Inggris.
Minority groups in Ottoman Turkey before 1856: different arrangements of the Jews and the Christians under Millet system Syahrul Hidayat
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v4i1.25-30

Abstract

One of the exceptionalities of the Middle East is the existence of sectarianidentities along with late modern institutions, such as nation state. Whilemodern states in the region struggle for coexistence, imperial authorities, especiallyOttoman, was relatively successful to endure its rule over differentidentities as minority across region. It is recorded that the Ottomans’ longhistory as imperium is supported by their ability to develop and implementsystem to incorporate different identities under their rule known as milletsystem. Historical exploration as used in this paper suggests that the conceptwas adopted from Islamic teologic tradition in respond to the reality of mixturesociety in newly conquered territories which resembles the character ofthe Ottomanism itself since Suleyman. The mundane aspect of the milletsystem can be seen from the way of the Ottomans’ rulers handling the majorminority groups such as Greeks and Jews based on their personal or social andeconomic capabilities. One of the obvious beneficial relations with the groups is the ability to do trading and fill positions in foreign services that lead particulargroup to enjoy better position in bureaucracy and society. The differences,in fact, have influenced the arrangement and treatment of the Ottomanrulers towards them over time which were also heavily affected by politicalchanging in the case of the Greeks for example. Therefore, the arrangements ofthe minority groups are based on mutual benefit that suits both objectiveswhich was able to last for centuries. However, it is also found that the Greeksand Jews’ ability to survive is heavily based the character of Ottoman bureaucracywhich is patrimonial. In that case, patronage relation is important andacknowledgement on merit and achievement is rarely found.Salah satu aspek yang membuat kawasan Timur Tengah berbeda adalahkeberadaan identitas-identitas yang bersifat sektarian bersamaan dengandibangunnya lembaga-lembaga modern, seperti negara bangsa. Sementara konsepnegara terkini di kawasan itu berjuang untuk mempertahankan kehidupanssecara bersama, penguasa-penguasa kerajaan seperti Ottoman, dapat dikatakanberhasil mempertahankan kekuasaannya atas kelompok-kelompok masyarakatkecil dengan identitas yang berbeda di berbagai wilayah. Tercatat bahwa sejarahpanjang Ottoman sebagai sebuah kerajaan didukung oleh kemampuan merekauntuk membangun dan menerapkan sebuah cara yang dikenal dengan milletuntuk menerima dan menyerap identitas yang berbeda di bawah kekuasaanmereka. Penelusuran sejarah seperti yang dilakukan di dalam tulisan inimenyarankan bahwa istlah millet itu diambil dari tradisi teologi Islam sebagaitanggapan terhadap realitas kemajemukan masyarakat di daerah-daerah yangbaru ditaklukkan dan ini pada dasarnya menggambarkan ciri khas dari carapandang Ottoman sejak Suleyman. Unsur keduniaan dari sistem tersebut dapatdilihat dari cara penguasa-penguasa Ottoman menangani kelompok-kelompokminoritas yang utama seperti Yunani dan Yahudi yand didasarkan ataskemampuan perorangan ataupun kelebihan ekonomi dan sosialnya. Salah satucontoh nyata hubungan yang saling menguntungkan dengan mereka adalahkemampuan untuk berdagang dan mengisi jabatan-jabatan di kantor hubunganluar negeri yang membuat sebagian dari mereka menikmati posisi yang lebihbaik di pemerintahan maupun masyarakat. Perbedaan-perbedaan itu, padakenyatannya, telah mempengaruhi pula penanganan dan perlakuan penguasapenguasaOttoman terhadap mereka dalam jangka waktu yang lama yang juga dipengaruhi oleh perubahan politik seperti yang terjadi pada kelompok Yunani.Karenanya, penanganan yang berbeda terhadap kelompok-kelompok minoritasitu pada dasarnya saling menguntungkan dan hal itu sesuai dengan kebutuhankedua belah pihak dan mampu bertahan dalam kurun waktu berabad-abad.Selain itu, tulisan ini juga mengungkap bahwa kemampuan kelompok Yunanidan Yahudi untuk mempertahankan posisi mereka di hadapan penguasabergantung kepada karakter birokrasi Ottoman sendiri yang bersifat patrimonial.Dalam kasus ini, hubungan yang bersifat patronase menjadi penting danpengakuan terhadap prestasi dan pencapaian kerja dapat dikatakan jarangditemukan.
Coping with religious tolerance and gender equality: comparing Islam and good governance perspectives Ridho Al-Hamdi
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 2 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v5i2.163-193

Abstract

Using  literature  review  and  in-depth  analysis,  the  study  is  going  to  examinethe  comparative  perspective  between  Islam  and  the West  in  addressing  twomain public  issues,  i.e.  religious  tolerance  and  gender  equality. More  specifi-cally, this study will provide the policy, agenda and strategy of Islam and goodgovernance  in  coping with  those  two  issues. Therefore,  the  finding  of  thestudy is that Islam and good governance precisely have no distinctive concept,policies, agendas and  strategy.  In contrast, both of  them obviously agree  thatreligious  tolerance  and  gender  equality  is  important  for  human  lifesustainability. The  result, Muslim  communities have  to  disseminate  the no-tion of  the  compatibility between  Islam  and  good  governance  to  the world.Menggunakan  review  literatur  dan  analisis mendalam,  penelitian  ini  akanmenguji  perspektif  komparatif  antara  Islam  dan Barat  dalam menjawab  duamasalah umum utama , yaitu toleransi beragama dan kesetaraan gender . Lebihkhusus,  penelitian  ini  akan menyoroti  kebijakan,  agenda  dan  strategi  Islamdan pemerintahan yang baik dalam menjawab   dua masalah di atas. Temuan studi ini adalah bahwa Islam dan pemerintahan yang baik justru tidak memilikikonsep yang khas, kebijakan, agenda dan  strategi. Sebaliknya, keduanya  jelasmenyepakati bahwa toleransi beragama dan kesetaraan gender penting untukkeberlanjutan  kehidupan manusia. Hasilnya, masyarakat Muslim  harusmenyebarluaskan gagasan kompatibilitas antara Islam dan pemerintahan yangbaik kepada dunia.

Page 9 of 21 | Total Record : 210


Filter by Year

2011 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 13, No 1 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 12, No 2 (2022): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 12, No 1 (2022): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 2 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 1 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 2 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 2 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 2 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 1 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 2 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 1 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 2 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 1 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 2 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 1 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 2 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies More Issue