cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
ISSN : 20891490     EISSN : 2406825X     DOI : -
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS): This journal should coverage Islam both as a textual tradition with its own historical integrity and as a social reality which was dynamic and constantly changing. The journal also aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies; and solving the dichotomy between ‘orthodox’ and ‘heterodox’ Islam. So, the journal invites the intersection of several disciplines and scholars. In other words, its contributors borrowed from a range of disciplines, including the humanities and social sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
An orientation to be a good millennial Muslims: state and the politics of naming in islamizing Java Askuri Askuri; Joel C Kuipers
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v9i1.31-55

Abstract

Traditionally, Javanese names pretend to be social classifications (priyayi class, santri class, abangan class, lower class, noble class, etc.) and as a marker of time or condition when they were born. In the last 30 years, however, the naming tradition has been increasingly abandoned by a new generation of parents in Java by taking on new names that have never existed in Javanese treasury of names: its linguistic variation is wider and has a future-oriented meaning for their children. Does the shift of meaning in naming have a close connection with Islamization in Java, since this change involves a large number of Arabic names which are one of the Islamic registers in this country? With a naming approach that processed almost one million names from Bantul, this research proves clearly about the indirect role of the state in the growth of Islamic orientation of new generation of parents in Java. They want to connect the future of their children with Islam. Millennial Muslims generation has been indirectly shaped by this new generation of parents through naming, in which new world that parents want to build for their children is linked to Islam through the Arabic names that have the orientation to become a good Muslim in the millennial era. Secara tradisional, nama-nama Jawa bisa menjadi penanda klasifikasi sosial (kelas priyayi, kelas santri, kelas abangan, kelas bawah, kelas bangsawan, dan lain-lain), sekaligus sebagai penanda waktu atau kondisi ketika mereka dilahirkan. Namun, dalam 30 tahun terakhir, tradisi penamaan tersebut semakin ditinggalkan oleh generasi baru orang tua di Jawa dengan menggunakan nama-nama baru yang tidak pernah ada dalam perbendaharaan nama Jawa: variasi linguistiknya lebih luas dan memiliki makna berorientasi masa depan. Apakah pergeseran makna dalam penamaan memiliki hubungan yang dekat dengan Islamisasi di Jawa, mengingat perubahan ini melibatkan sejumlah besar nama Arab yang merupakan salah satu register keislaman di negeri ini? Dengan pendekatan penamaan yang memproses hampir sejuta nama penduduk di Kabupaten Bantul, penelitian ini membuktikan dengan jelas tentang peran negara secara tidak langsung dalam pertumbuhan orientasi keislaman generasi baru orangtua di Jawa. Mereka ingin menghubungkan masa depan anak-anak mereka dengan Islam. Generasi Muslim milenial telah secara tidak langsung dibentuk oleh generasi baru orang tua ini melalui penamaan, di mana dunia baru yang mereka inginkan untuk anak-anak mereka terkait dengan Islam melalui nama-nama Arab yang memiliki orientasi untuk menjadi Muslim yang baik di era milenial.
The global war on terror, American foreign policy, and its impact on Islam and Muslim societies Ahmad Fuad Fanani
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v1i2.205-255

Abstract

The global war on terror that was started after 11/9 tragedy has continued untilto date. The global war on terror not only shaped the new political balance in theinternational world, but also influenced the relationships between the U.S. andWestern countries with Muslims countries and Muslims around the world. This isbecause the war on terror has positioned Islam and Muslims in negative imageas the serious threat to the West. Many people stated that the 11/9 tragedy is theevidence of “the clash of civilizations” between Islam and the West. As a result,some observers argue that the war on terror is the war against Islam based onthe clash of civilizations thesis. However, others rebut this argument by explainingthe facts that many Islamic countries supported to the war on terror. In fact,Islam has many schools of thought and cannot be understood in single understanding.Importantly, Islamic extremist movements are not the mainstream groupin Muslims societies. This article will examine the relationship between the waron terror and the clash of civilizations thesis. It also assesses the Islamic worldand Muslims response toward this agenda. It will argue that the war on terror is not war against Islam, but the war against terrorist groups and radical Muslimswhich often hijacked Islam.Perang global atas teror yang diprakarsai Amerika Serikat sebagai tanggapanterhadap tragedi 11 September 2011 terus berlanjut hingga hari ini. Diskursus initidak hanya memengaruhi keseimbangan politik dalam percaturan international,namun juga mempunyai dampak yang signifikan terhadap relasi antara Islamdan Barat. Hal ini karena Islam dan kaum Muslim ditempatkan pada posisi yangnegatif dan menjadi ancaman nyata terhadap Barat. Berkaitan dengan itu,masyarakat banyak yang mempercayai bahwa tragedi 11 September adalah buktinyata dari tesis “benturan peradaban” antara Islam dan Barat. Dalam hal ini,banyak pengamat juga meyakini bahwa the global war on terror adalah perangmelawan Islam berdasarkan analisis benturan peradaban. Namun, sebagianpengamat membantah bahwa perang ini adalah perang melawan Islam denganmenunjukkan bukti banyak negara Muslim yang bergabung dengan agenda ini. Disamping itu, Islam juga mempunyai banyak mazhab pemikiran dan tidak bisadipahami menjadi hanya satu pemahaman. Gerakan Islam ekstremis pun, tidakmenjadi arus utama dalam masyarakat Islam. Artikel ini akan menganalisishubungan antara the global ar on terror dan benturan antarperadaban. Jugaakan dibahas respon dunia Islam dan masyarakat Muslim terhadap agenda globalini. Berkaitan dengan itu, artikel ini akan berargumen bahwa the global waron terror bukanlah perang melawan Islam, namun perang melawan teroris danMuslim radikal yang seringkali membajak Islam.
al-Shahaba wa Muwaqif al-Shi`a al-Ithna `Ash`ariya al-Salbiya Tujahuhum:`Ard wa Rudud Muhammad Kholid Muslih
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v2i2.267-291

Abstract

Dalam pandangan Ahli Sunnah para sahabat memiliki tempat yang pentingdan strategis dalam Islam; karena melalui mereka seluruh ajaran Islam yangdibawa oleh Rasulullah sampai kepada umatnya, Para Sahabat yangmenyaksikan secara langsung turunnya waktyu dengan penjelasan danpenjabaran serta penerapannya, juga menjadi bagian terpenting dari matarantai tranmisi ilmu dan wahyu dalam Islam. Karena itulah para Sahabatmenempati posisi penting di hati Ahli Sunnah. Hal ini berbeda secara totaldengan sikap Syi’ah 12 Imam; karena pengaruh doktrin Imamah yangdiyakini sebagai salah satu rukun Islam, Syi’ah 12 Imam memiliki sikapnegatif terhadap sahabat. Dengan metodolog diskriptif analisis kritismakalah ini mencoba untuk mengurai sikap Syi’ah 12 terhadap Imam
Globalization and the thought of unity in diversity of Badiuzzaman Said Nursi in the light of his magnum opus Risala-i Nur Mohammad Ajmal
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v4i1.135-153

Abstract

Badiuzzaman Said Nursi had always looked at the world as one componentglorifying the one creator and testifying to His greatness. The universality hebelieved in, came into contradiction with the universality that results fromglobalization as it is generally understood and illustrated. People of economicallyless auspicious countries become themselves agents of globalization intheir own places. This is why the effects of globalization are more harmfulthan those of colonialism. Globalization recruits its soldiers from among peopleit invades and expands to swallow the remnants of their culture and selfesteemby making them follow the model of those who are more powerfuland who possess more.Badiuzzaman Said Nursi selalu memandang dunia sebagai salah satu komponenuntuk memuliakan Sang Pencipta dan menyaksikan kebesaran-Nya. Universalitasyang dipercayainya, berlawanan dengan universalitas yang dihasilkan dariglobalisasi seperti yang umum dipahami dan digambarkan. Masyarakat dariNegara-negara yang secara ekonomis kurang beruntung menjadikan diri mereka sendiri sebagai agen globalisasi di negara mereka sendiri. Inilah sebabnyamengapa efek globalisasi lebih berbahaya daripada kolonialisme. Globalisasimerekrut tentaranya dari kalangan orang-orang yang menjadi sasaran serangnyadan menelan sisa-sisa kebudayaan mereka serta harga diri dengan membuatmereka mengikuti model mereka yang lebih kuat dan memiliki kelebihan.
The roots of gender bias: misogynist hadiths in pesantrens Marhumah Marhumah
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 2 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v5i2.283-304

Abstract

Women are regarded as “the second class” by some people in pesantrens. Thisknowledge has rooted in hadiths cited in the books studied and implementedin many pesantrens. To counteract  this  tendency,  it  is  therefore  important  touse  a  feminist  approach  to  review  and  criticize  the books which  can  also beused  to understand and  solve  the problems of mis-interpretation of  religioustexts. The misogynist hadiths have been widely circulated and taught in pesantrenunder  the authority of Kyai  (male  religious  clerics) and nyai  (female  religiouscleric) who  have  the  authority  to  decide which  hadiths  are  allowed  to  betaught and socialized in religious teachings and sermons. This is because manyteachers emphasize the importance of preserving tradition and religious normsdisegarding gender bias. Some feminist activists have tried to reform the mindsetsof pesantren leaders both male and female by changing the authoritarian modelof  leadership  to  a  democractic  one. To  do  this, new  historical,  sociologicaland anthropological approaches are required to re-interpret and contextualizemisogynist  hadiths.Perempuan  dianggap  sebagai warga  “kelas  dua”  dalam  beberapa  kitab  yangdiajarkan di pesantren. Pengetahuan ini memiliki akar yang kuat dalam hadith-hadith  yang  dikutip  dalam  buku-buku  yang  diajarkan  di  pesantren. Untuk melawan  arus  kecenderungan  ini,  penting  untuk menggunakan  pendekatanfeminis  dengan meninjau  kembali  dan mengkritik  kitab-kitab  tersebut.Pendekatan ini dapat digunakan sebagai cara untuk memahami dan menyelesai-kan masalah kesalahan tafsir pada teks teks keagamaan. Hadith-hadits misoginis(membenci perempuan) diajarkan secara luas di pesantren di bawah wewenangPak Kyai  atau  Ibu Nyai  yang menentukan  kitab-kitab mana  yang  boleh  dandilarang di pesantren. Para guru tersebut lebih mementingkan menjaga tradisidan norma-norma agama yang seringkali bias jender. Beberapa aktivis feministelah mencoba mereformasi  pola  pikir  para  pengasuh  pesantren  baik  lakimaupun perempuan dari kepemimpinan yang otoriter ke kepemimpinan yangdemokratis. Untuk  itu,  pendekatan-pendekatan  historis,  sosiologis  danantropologis  yang  baru  diperlukan  guna memahami  ulang  hadith-hadithmisoginis  tersebut.
The rights of the child in Islam: their consequences for the roles of state and civil society to develop child friendly education M. Abdul Fattah Santoso
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 1 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v7i1.101-124

Abstract

Islam as a religion concerned with justice and respect places great emphasis on human rights and responsibility. Child as a small human also has certain rights categorized into social, educational and financial rights. The social rights are divided into two categories: before birth and after birth. The social rights before birth includes right to noble parent having character and right to unborn child while the social rights after birth includes rights to lineage, suckle and nutrition, and being received by the Muslim society. The educational rights cover rights to life, general care and socialization as well as basic education, just and equal treatment, and physical education. The financial rights encompass rights to livelihood, property and inheritance. Such rights of the child guaranteed by Islam absolutely have relevance with the Convention on the Rights of the Child (CRC) adopted by the United Nations General Assembly in 1989. For enabling children to enjoy their rights, parental care plays role as a main foundation. But state and civil society organization also have key roles to play in this regard. A child friendly education may be a manifestation of social responsibility of state and civil society organization to respect and fulfill the rights of child. Such education provides a safe, clean, healthy and protective environment as well as meaningful learning for children with diverse abilities and backgrounds. Islam sebagai agama yang memperhatikan keadilan dan penghormatan memberikan penekanan yang tinggi pada hak asasi manusia dan tanggung jawab. Anak sebagai manusia kecil juga memiliki hak-hak yang dikategorisasikan ke hak-hak sosial, pendidikan, dan financial. Hak-hak sosial terbagi ke dalam duakategori: sebelum dan sesudah kelahiran. Hak-hak sosial sebelum kelahiran mencakup hak mendapatkan orangtua yang baik dan memiliki karakter, dan hak untuk tidak digugurkan dari kandungan, sementara hak-hak sosial sesudah kelahiran berupa hak mendapat silsilah keturunan yang jelas, hak mendapat air susu ibu dan gizi, dan hak diterima sebagai warga masyarakat Muslim. Adapun hak-hak pendidikan meliputi hak untuk hidup (sebagai prasyarat), hak memperoleh pengasuhan umum, hak sosialisasi, sebagaimana juga hakpendidikan dasar, hak perlakuan yang adil dan setara, serta hak pendidikan fisik. Sedangkan hak-hak finansial terdiri dari hak mendapatkan nafkah, hak memiliki harta, dan hak memperoleh warisan. Hak-hak anak yang dijamin oleh Islam tersebut ternyata relevan dengan Konvensi Hak-hak Anak yang disepakati dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada 1989. Untuk memungkinkan anak mendapatkan hak-haknya, perlindungan orangtua memainkan peranan sebagai landasan utama. Namun, dalam hal ini negara dan organisasi masyarakat sipil dapat juga memainkan peranan masing-masing. Pendidikan ramah anak dapat menjadi suatu perwujudan tanggung jawab sosial negara dan organisasi masyarakat sipil dalam menghormati dan memenuhi hak-hak anak. Pendidikan tersebut memberikan suatu lingkungan yang aman, bersih, sehat, dan protektif, serta pembelajaran penuh makna bagi anak-anak dengan keanekaragaman kemampuan dan latar belakang.
The threat of IS proxy warfare on Indonesian Millennial Muslims M Affan
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 2 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v8i2.199-223

Abstract

So far, terrorism tends to be considered using asymmetric warfare methods rather than proxy warfare methods. Even though some terror attacks around the world carried out by people inspired by terrorism indicate that terrorist groups such as IS are carrying out proxy warfare methods. Based on this problem, the following article will describe the threat of IS terrorism through proxy warfare. The aims of this research to map the threat of IS proxy warfare on Indonesian Millennial Muslims. By using library research methods, this research is expected to have positive implications for the efforts to deradicalize terrorism among Indonesian Millennial Muslims. The conclusion of this research obtained shows that the advancement of communication technology has facilitated IS to spread its terrorism in Indonesia through online magazine propaganda in Bahasa Indonesia. This effort is really a threat for Indonesian Millennial Muslims who are very active in using the internet daily. In this way, IS seeks to influence Indonesian Millennial Muslims to become their proxy in running nikayah operations independently. Thus, the threat of terrorism throughout the world has also evolved from the threat of asymmetric warfare to the threat of proxy warfare, especially to Millennial Muslims.Sampai sejauh ini, terorisme cenderung dianggap menggunakan metode peperangan asimetris daripada peperangan proksi. Meski begitu, beberapa serangan teror di seluruh dunia yang dilakukan oleh orang-orang yang terinspirasi terorisme mengindikasikan bahwa kelompok teroris semacam IS sedangmenjalankan metode peperangan proksi. Berdasarkan permasalahan ini, artikelberikut akan menjelaskan ancaman terorisme IS melalui peperangan proksi.Tujuan dari penelitain ini adalah memetakan ancaman peperangan proksi ISpada Muslim Milenial Indonesia. Dengan menggunakan metode penelitianpustaka, penelitian ini diharapkan dapat berimplikasi positif pada usahaderadikalisasi terorisme pada Muslim Indonesia. Kesimpulan penelitian sendirimenunjukkan bahwa kemajuan teknologi komunikasi telah memfasilitasi ISuntuk menyebarkan terorisme di Indonesia melalui propaganda majalah daringdalam Bahasa Indonesia. Upaya ini benar-benar menjadi ancaman bagi MuslimMilenial Indonesia yang sangat aktif menggunakan internet setiap hari. Dengancara ini, IS berusaha mempengaruhi Muslim Milenial Indonesia untuk menjadiwakil mereka dalam menjalankan operasi nikayah secara mandiri. Dengandemikian, ancaman terorisme diseluruh dunia juga telah berevolusi dariancaman peperangan asimetris kepada ancaman peperangan proksi khususnyapada Muslim Milenial.
Al-Muqarabah al-manhajiyyah bayn al-mi'yariyyah wa al-tarikhiyyah wa atsaruhuma fi al-fkir al-diny: ru'yah naqdiyah Abas Mansur Tamam
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v2i1.109-131

Abstract

Dalam diskursus pemikiran modern, pendekatan dan metode menempati posisi problematik karena mampu melahirkan ragam pemikiran akibat ragam pendekatan. Aspek ini juga merupakan dasar bagi orientasi-orientasi pemikran dalam diskursus pemikiran Islam modern. Pendekatan normativisme menjadikan teks-teks al-Qur'an dan hadis pijakan dasar keberagamaan, sementara itu pendekatan historisisme menjadikan realitas sebagai titik tolak bagi keberagamaan. Dalam pandangan penganut pendekatan historisisme, perubahan realitas merupakan pintu masuk bagi relativitas   pemikiran-pemikiran   agama   dan  skeptisisme   bagi   keberadaan sesuatu  yang  mapan seputar  agama.  Sementara  itu,  penganut  pendekatan normativisme,   seiring   dengan  fokus   perhatian   mereka  terhadap   realitas, menolak  kecenderungan pendekatan  historisisme mengingat adanya  prinsip- prinsip mapan dalam agama yang  tidak akan  berubah mengikuti  perubahan waktu dan tempat.  Di samping  itu, ada juga aspek-aspek yang selalu berubah dan tunduk kepada  perubahan waktu dan tempat.
Jamaah kraton: the Muslim new agers from Pekalongan Noor Aida
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v2i2.191-214

Abstract

The objective of this research was to know Muslim New Age identity, how theNew Age practitioners identify themselves as Muslim and apply religiosity, attitudeand expression in their personal and social life. This research discussesabout the religious experiences perceived by those practitioners of ShamballaMulti Dimension Healing.It was a qualitative research using analytical descriptive method, in which theresearcher tried to describe the Muslim New Agers identity by explaining theirritual and their perception about their religion and tradition. The location of thisresearch was in Pekalongan, because it is a good example to describe how NewAge impact to religion and tradition by describing how some Arabian MoslemPekalongan conducted some New Age activities.The research finding shows that Jamaah Kraton from Pekalongan feel comfortablewith New Age because of two main reasons: the fascinating teaching andthe charismatic leader. Moreover, they able to negotiate their religious identityproblem by passing over and mixed all religion’s teaching which has no contrarywith their main religion and tradition, Islam and Arab tradition. If they find anycontradiction (in common definition of other Muslim), they will not feel that theyconduct heresy, and the comfort ability they had picturing of a ‘merger and crossover’,‘a creation of a mixed cultures and’ and ‘syncretism’.Di Indonesia, terutama sejak awal 1990-an, kita menyaksikan penuhnya tempatkajian tasawuf dan maraknya buku-buku tentang ini. Bahkan fenomena bangkitnyaspiritualitas ini sudah pula memasuki kalangan profesional dan bisnis, berkatkehadiran KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dengan Manajemen Qolbu, atau M.Arifin Ilham dengan gerakan zikir, atau Ary Ginandjar dengan pelatihan ESQ.Teknik reiki dan meditasi modern seperti Anand Asram dan Brahma Kumarisjuga digemari di kalangan kaum muda dan paruh baya, tidak terkecuali denganReiki Shamballa yang tergolong baru di Indonesia, juga berkembang pesat disebuah kota kecil, Pekalongan. Teknik ini dikombinasikan dengan sufisme Islamoleh Jamaah Kraton, sebuah grup diskusi Islam di Pekalongan.Subyek penelitian ini adalah sejumlah anggota dan penggerak dari Jamaah Kratonyang sudah melangsungkan diskusi dan latihan meditasinya selama bertahuntahun.Kebanyakan anggotanya adalah Arab keturunan yang sudah lama hidup diIndonesia. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasimendalam selama beberapa bulan di Pekalongan. Penelitian ini berguna untukmemberikan batasan tentang identitas seorang Muslim yang melakukan spiritualitasNew Age. Pada dasarnya penelitian ini untuk melihat kegiatan religius dan jugamemaparkan pandangan keberagamaan anggota Jamaah Kraton sebagai seorangArab, Muslim, dan praktisi New Age.Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang Arab dan Muslim New Age padaawalnya merupakan seorang Muslim dan Arab seperti kebanyakan. Ketikadihadapkan dengan keragaman yang ada, mereka mengambil sikap negosiasi,dan melakukan passing over serta membentuk identitas hybrid. Dengan cara inimereka merasa bahwa Islam yang mereka yakini adalah Islam yang dikehendakioleh Nabi Muhammad. Penelitian ini juga menemukan bahwa agama dan tradisimereka membentuk identitas mereka sebagai seorang yang universal inklusif.
The need of discoursing social theology in Muslim Southeast Asia Azhar Ibrahim
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v4i1.1-23

Abstract

This paper highlights and evaluates the significance of an emerging social theologicaldiscourse in contemporary Muslim Southeast Asia. It emerged partlyas a response to the traditional Islamic theology inasmuch as the revivalistdakwah activism that became prominent since the 1970s. This emerging discourseis part of the continuity and extension of the reformist voices whichhave evolved since the late 19th century. As a theology, it puts discourse aboutGod as its premium but extend its focus on the social dimension of faith inGod, of the social message of the religion, and the social responsibility of theman and community of faith in God, and to their fellow human beings. Todaythere are several books and articles written which can be classified as belongingto this genre of social theology. In Indonesia this discursive theologycan be found in rational, humanistic, transformative cultural, and the oppressedtheologies. It opens a wider realm of participation and engagement,where theology is no longer the exclusive affairs of experts, but inclusive of thelay intellectuals who are not necessarily from a strictly religious background.It also enables the Muslim public to comprehend critically and to cope creativelywith rapid social change, and its attendant problems. Theology is, afterall, a human enterprise, albeit it’s strong religious commitment. To harnessthe potentiality of the social theology, calls for its recognition. Herein lies the need to start studying and engaging them discerningly, or to advance its criticaldimensions for the benefits of the larger Muslim public.Paper ini menyoroti dan mengevaluasi pentingnya wacana teologi sosial yangmuncul dalam periode kontemporer Muslim Asia Tenggara. Teologi sosialmuncul sebagian sebagai tanggapan terhadap teologi Islam tradisional karenaaktivisme dakwah revivalis yang semakin menonjol sejak tahun 1970-an. Wacanayang muncul di sini merupakan bagian dari kontinuitas dan perluasan suarareformis yang telah berkembang sejak akhir abad ke-19. Sebagai teologi, teologisocial menempatkan wacana utama tentang Tuhan tetapi memperluas fokusnyapada dimensi sosial iman kepada Allah, pesan sosial agama, dan tanggungjawab sosial dari komunitas iman kepada Allah, dan terhadap sesama manusia.Saat ini ada beberapa buku dan artikel yang ditulis yang dapat diklasifikasikansebagai milik genre teologi sosial. Di Indonesia teologi diskursif ini dapatditemukan dalam teologi-teologi rasional, humanistik, budaya transformatif,dan teologi kaum tertindas. Ini membuka sebuah dunia yang lebih luas bagipartisipasi dan keterlibatan, di mana teologi tidak lagi urusan eksklusif paraahli, tetapi termasuk para intelektual awam yang tidak harus berasal dari latarbelakang agama secara ketat. Hal ini juga memungkinkan masyarakat Muslimuntuk memahami secara kritis dan kreatif dalam mengatasi perubahan sosialyang cepat dan problem yang muncul. Di luar itu semua, teologi sosial adalahurusan manusia, dengan komitmen keagamaan yang kuat. Untuk memanfaatkanpotensi dari teologi sosial, diperlukan panggilan untuk pengakuan. Di sinilahletak kebutuhan untuk mulai mengkaji dan melibatkan teologi sosial, ataumengedepankan dimensi kritis dari teologi sosial agar bermanfaat lebih besarmasyarakat Muslim.

Page 7 of 21 | Total Record : 210


Filter by Year

2011 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 13, No 1 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 12, No 2 (2022): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 12, No 1 (2022): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 2 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 1 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 2 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 2 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 2 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 1 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 2 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 1 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 2 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 1 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 2 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 1 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 2 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies More Issue