cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
ISSN : 20891490     EISSN : 2406825X     DOI : -
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS): This journal should coverage Islam both as a textual tradition with its own historical integrity and as a social reality which was dynamic and constantly changing. The journal also aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies; and solving the dichotomy between ‘orthodox’ and ‘heterodox’ Islam. So, the journal invites the intersection of several disciplines and scholars. In other words, its contributors borrowed from a range of disciplines, including the humanities and social sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
Healthy-minded religious phenomenon in shalawatan: a study on the three majelis shalawat in Java Sekar Ayu Aryani
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 1 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v7i1.1-30

Abstract

As a movement, majelis shalawat becomes religious phenomenon that recently flourish in Indonesia, particularly Java. It emerges as urban spirituality like majelis dzikir that previously popular among people. However majelis shalawat is dissimilar with majelis dzikir due to its characters are not sadness, sorrow, and crying; it prefer to express happiness, cheerful, and enjoying religion. These characters indicate a Healthy-minded religious phenomenon, a term which is came  originally from William James and popularized by W.H.Clark. Among many majelis shalawat groups ini Indonesia, the three most famous and biggest are Majelis Shalawat Habib Syech (Surakarta), Habib Luthfi (Pekalongan), and Maiyah Cak Nun (Yogyakarta). This research explores characteristics of majelis shalawat that indicate healthy-mindedness. Furthermore, it also discovers various motivations that lead people (jamaah) to follow the majelis shalawat. Conducting qualitative method and Psychology of Religion approach, and employing interview and observation as method for data gathering, it results several findings. First, as a religious activity, shalawatan reallydepends on the role of its charismatic leader. The charisma of Habib Luthfi, Habib Syech, and Cak Nun is the main attractive factor for jamaah to come. It ; " is because the charismatic leaders have deep understanding of religious knowledge and they also are blessed with certain talent such as beautiful voice and having good skill on music. Besides that, the leaders are often giving smart joke. Second, through shalawatan, people feel happiness and optimistic to face their life, preferring extrovert attitudes, have more free theology, and feels conducive atmosphere for their religious growth. Those are evidences that majelis shalawat has healthy-mindedness characters. Third, people motivation also in in attending majlis shalawat consist of religious escapism, strengthening solidarity and ukhuwah islamiyah, to learn more religious knowledge (thalabul ‘ilmi), and to gain religious transformation.Majelis shalawat sebagai sebuah gerakan merupakan fenomena keagamaan yang marak di Indonesia khususnya Jawa. Kehadirannya lebih sebagai spiritualitas urban namun tampil berbeda jika dibandingkan majelis dzikir yang terlebih dahulu populer. Majelis shalawat tidak menunjukkan cirri sendu, muram, dan tangisan seperti majelis dzikir, namun justru memperlihatkan cirri bahagia, senang, dan menikmati agama. Karakteristik beragama yang demikian oleh Clark dan William James disebut healthy mindedness. Dari beberapa majelis shalawat di Indonesia, tiga yang terbesar adalah Majelis Shalawat Habib Syech (Surakarta), Habib Luthfi (Pekalongan), Maiyah Cak Nun (Yogyakarta). Penelitian ini menelusuri apa saja karakteristik majelis shalawat yang merupakan indikasi healthymindedness, kemudian mengungkap pula ragam motivasi yang mendorong jamaah mengikuti majelis shalawat. Dengan menerapkan metode kualitatif dan pendekatan Psikologi Agama, dan dengan interview serta observasi sebagai alat utama pengumpulan data, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Pertama, sebagai sebuah aktifitas keagamaan, majelis shalawat cukup bergantung dari peran sang tokoh utama pemimpin majelis shalawat. Karisma Habib Luthfi, Habib Syech, dan Cak Nun merupakan daya tarik terbesar bagi jamaah. Hal ini karena selain memiliki kedalaman ilmu agama, para pemimpin karismatik tersebut juga diberkahi dengan kemerduan suara dan kemampuan bermusik, bahkan humor cerdas juga sering muncul sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah. Kedua, dengan mengikuti majeliss halawat, jamaah merasakan kebahagiaan dan optimism dalam menatap kehidupan, mereka bersikap lebih ekstrovet, berteologi secara lebih bebas, dan merasakan situasi yang mendukung untuk perkembangan keberagamaan mereka. Hal-hal tersebut menandakan bahwa majelis shalawat memiliki karakter healthy-mindedness. Ketiga, motivasi jamaah dalam mengikuti majlis shalawat, yaitu untuk mendapatkan jalan keluar yang agamis, menguatkansilaturahim dan ukhuwah islamiyah, mencari ilmu(thalabul ‘ilmi), dan untukmencapai transformasi keagamaan. 
The formulation of welfare state: the perspective of Maqāṣid al-Sharī‘ah Elviandari Elviandari; Farkhani Farkhani; Khudzaifah Dimyati; Absori Absori
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 1 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v8i1.117-146

Abstract

This paper examines empirical facts of market failure and government failure toimprove people’s welfare; capitalism and neo-liberalism do not provide a spacefor states to implement policies for social justice. With regard to the failure of thewelfare state to bring the citizen to fair welfare, this paper offers the formulationof a welfare state based on Maqas}id Al-Shari‘ah. This study employs Maqas}id Al-Shari‘ah developed by Imam Al-Juwaini, Izzu al-Din bin ‘Abd al-Salam, AbuIshaq al-Shatibi and Al-Tahir Ibn ‘Ashur as the methodological framework.It formulates welfare state of maqas}id al-shari‘ah, which is built through thefulfillment of the three levels of individual needs (citizens) (al-D}aruriyah, alhajiyyah and al-tahsiniyah; primary, secondary and suplementary rights), publicneeds (equal distribution; al-hajah al-‘ammah), protection or assurance (alismah),and law enforcement (al-fit}rah (order), equality (al-musawah), freedom(al-h}urriyah), magnanimity (al-samh}ah)). The morality-spirituality-religiosity andtranscendence principles develop the formulation. The maqas}id al-shari‘ahshould be the “soul” of every policies and rules or laws. The development ofthe formulation of welfare state based on Maqas}id al-Shari‘ah will build Islamicman/religious man (citizen), who is prosperous spiritually and materially.Artikel ini mengkaji kenyataan empiris mengenai kegagalan pasar(market failure) dan kegagalan negara (government failure) dalam meningkatkankesejahteraan rakyat, kapitalisme dan neo-liberalisme tidak memberikantempat bagi negara untuk melakukan kebijakan demi keadilansosial. Berdasarkan kegagalan negara kesejahteraan menghantarkanwarga negara menuju kesejahteraan yang berkeadilan maka tulisan inimenawarkan formulasi negara kesejahteraaan berdasarkan Maqas}id al-Shari‘ah. Kajian ini mempergunakan Maqas}id al-Shari‘ah sebagai kerangkametodologis yang dikembang oleh Imam Al-Juwaini, Izzu al-Din bin‘Abd al-Salam, Abu Ishaq al-Shatibi dan Al-Tahir Ibn ‘Ashur. Kajian inimemformulasikan negara kesejahteraan berdasarkan maqas}id al-shari‘ahyang dibangun melalui pemenuhan kebutuhan individu (warga negara)berdasarkan tingkatannya; al-D{aruriyah, al-h}ajiyyah dan al-tah}siniyah (hakprimer, sekunder dan suplementer), kebutuhan publik, (al-h}ujah al-‘as}mmah) terealisasi pendistribusian yang merata, adanya proteksi atau jaminan(al-is}mah) dan tegaknya hukum melalui, al-firah (ketertiban), equality(al-musawah) kesetaraan, freedom (al-h}uriyah) kebebesan, magnanimity (alsamh}ah) toleransi. Formulasi tersebut dibangun dengan landasan moral-spritual - religius dan transendental. Menjadikannya “roh” pada setiapkebutuhan dalam membuat kebijakan, peraturan-peraturan atau perundang-undangan. Dengan terwujdnya formulasi negara kesejahteraaanberdasarkan Maqas}id al-Shari‘ah akan melahirkan islamic man/manusiareligius/karakter (warga negara) yang beriman atau pribadi yang memilikikarakter, sejahtera secara batin (spritual) dan lahir (material).
Rethinking Orientalism of Muslims in Ayaan Hirsi Ali’s Infidel Sadiya Abubakar Isa; Md Salleh Yaapar; Suzana Haji Muhammad
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 2 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v9i2.241-265

Abstract

Edward Said’s Orientalism questions the Western representation of the Eastern ‘other’, especially the Arab Muslims. A misrepresentation that has always treated the orient with inferiority; as barbaric and backward compared to the refined, reasoning and advanced Occident. This form of representation is what Ayaan Hirsi Ali embarked on in her bestselling memoir Infidel (2007). It chronicles her geographical journey from Somalia to Saudi Arabia, Ethiopia, Kenya and the Netherlands, and her flight from Islam to Atheism. A belief system she finds more appealing to reasoning than Islam which is (according to her) backward and barbaric. Her steadfast criticism of Islam is vividly reflected in her memoir, which ascribes the oppression and tribulations of women to Islam, irrespective of geographical or cultural influence. Such claims are tantamount to feminist Orientalism of Muslim women, whose claims of liberating Muslim women and rescuing them from the oppressive Islam cannot be overemphasized. This paper argues that the practices of misogyny are rooted in culture and not Islam. Thus, it investigates three main points which are central to the ‘Islam oppresses women’ debate: Female Genital Mutilation, Early and/or Forced Marriage and Women as sex objects. Edward Said’s Culture and Imperialism as a continuation of Orientalism, propose solutions to the identified problems in Orientalism, which is to unread the misrepresentations by identifying submerged details. Through a contrapuntal reading of Infidel (2007), this study counter-narrates the distortion of Islam by drawing upon authentic Islamic sources. Karya Edward Said Orientalisme mempertanyakan representasi Barat dari “yang lain” di Timur, terutama Muslim Arab. Sebuah penyajian yang keliru yang selalu memperlakukan “orient” dengan inferioritas, sebagai biadab dan terbelakang dibandingkan dengan “Occident”, penalaran dan kemajuan Barat. Bentuk representasi inilah yang memulai Ayaan Hirsi Ali dalam memoarnya yang terlaris, iInfidel (2007). Ini mencatat perjalanan geografisnya dari Somalia ke Arab Saudi, Ethiopia, Kenya, dan Belanda, dan pelariannya dari Islam ke Ateisme. Sebuah sistem kepercayaan yang ia temukan lebih menarik untuk dipertimbangkan daripada Islam yang (menurutnya) terbelakang dan biadab. Kritiknya yang teguh terhadap Islam tercermin dengan jelas dalam memoarnya, yang mengaitkan penindasan dan kesengsaraan wanita dengan Islam, terlepas dari pengaruh geografis atau budaya. Klaim semacam itu sama dengan Orientalisme feminis perempuan Muslim, yang klaimnya membebaskan perempuan Muslim dan menyelamatkan mereka dari Islam yang menindas tidak bisa terlalu ditekankan. Makalah ini berpendapat bahwa praktik misogini berakar pada budaya dan bukan Islam. Oleh karena itu, laporan ini menyelidiki tiga poin utama yang menjadi pusat perdebatan “Islam menindas wanita”: Mutilasi Alat Kelamin Wanita, Pernikahan Dini dan/atau Paksa dan Wanita sebagai objek seks. Karya Edward Said Culture and Imperialism sebagai kelanjutan dari Orientalisme, mengusulkan solusi untuk masalahmasalah yang diidentifikasi dalam Orientalisme, yakni untuk membaca kesalahan representasi dengan mengidentifikasi detail yang terendam. Melalui pembacaan kontrapuntal dari Infidel (2007), penelitian ini membaut kontra-narasi atas distorsi Islam dengan memanfaatkan sumbersumber Islam otentik. 
Prophetic social sciences: toward an Islamic-based transformative social sciences Pradana Boy ZTF
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v1i1.95-121

Abstract

This article discusses of one of the most important type of social sciences developedin Indonesian context. In the midst of debate between Western secularsocial sciences and Islamic social sciences, Kuntowijoyo offered a genuine yetcritical formula of social sciences. The formula called Ilmu Sosial Profetik (ISP)attempted to build a bridge between secular social science and Islamic inclinationof social science. This article describes the position of ISP in the context ofcritical position of Muslim social scientists on the hegemony and domination ofOrientalist tendency in studying Islam. At the end, the author offers a conclusionthat ISP can actually be regarded as Islamic-based transformative science thatcan be further developed for a genuine indigenous theory of social sciences fromthe Third World.Artikel ini membahas salah satu tipe paling penting dari ilmu-ilmu sosial yangdikembangkan dalam konteks Indonesia. Di tengah perdebatan antara ilmu-ilmusosial Barat sekuler dan ilmu social Islam, Kuntowijoyo menawarkan formulayang orisinal dan kritis dalam ilmu sosial. Formula yang kemudian disebut denganIlmu Sosial Profetik (ISP) berusaha untuk membangun jembatan antara ilmu sosial sekuler dan kecenderungan untuk melakukan Islamisasi ilmu sosial. Artikelini menjelaskan posisi ISP dalam konteks posisi kritis ilmuwan sosial Muslim padahegemoni dan dominasi kecenderungan orientalis dalam mempelajari Islam. Padaakhirnya, penulis menawarkan kesimpulan bahwa ISP sebenarnya dapat dianggapsebagai ilmu sosial transformatif berbasis Islam yang dapat dikembangkan lebihlanjut sebagai teori sosial yang berkembang dari Dunia Ketiga.
State and Islamic response to the AIDS in Indonesia Hudriansyah Rahman; Zaki Faddad
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v2i1.29-52

Abstract

This paper explores the historical narrations of AIDS in Indonesia that shape itsconstruction. It will focus on the relation between Governmental and Islamicresponses to HIV/AIDS. In this research, we will focus on the governmental officialcommission on AIDS prevention (KPA) which is concern about HIV and AIDSand MUI as a government Islamic institution. This paper will argued that theresponses of both parties in the Indonesian “narrations” of HIV/AIDS can influencethe practice of AIDS prevention. Government ways to treat AIDS in Indonesiahave changed overtime in line with the development of medical and socialwork efforts to cope with the problem of HIV/AIDS. However the Islamic institutionresponse in Indonesia does not change anymore and seems not to haveseriously attention in the issue of HIV/AIDS, it can be look from the unchangingMUI’s fatwa which is limited the problem of AIDS solely as morality problemMakalah ini akan menguraikan narasi historis tentang AIDS di Indonesia yangmembentuk konstruksi terhadap penyakit ini. Fokus masalah yang akan ditelitiadalah hubungan antara pemerintah dan kelompok Islam dalam merespon HIV/AIDS. Negara dalam hal ini diwakili oleh KPA (Komisi Penanggulangan AIIDS) danMUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai institusi Islam di bawah pemerintah.Makalah ini berargumen bahwa respon kedua kelompok tersebut tersaji dalam suatu narasi penjangkitan HIV/AIDS yang berpengaruh terhadap tindakanpenenanganan AIDS di Indonesia. Cara penanganan pemerintah terhadap AIDSdi Indonesia telah berubah sepanjang waktu sejalan dengan perkembangan medisdan upaya-upaya pada ranah pekerjaan sosial dalam mengatasi masalah AIDS.Namun sebaliknya, respon institusi Islam tidak berubah sama sekali, hal ini dapatdilihat dari fatwa MUI yang masih memandang persoalan AIDS sebagai persoalanmoralitas.
Islamic philanthropy and the private sector in Indonesia Hilman Latief
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v3i2.175-201

Abstract

This paper investigates the growing initiatives within the private sector to orga-nize social welfare activities, and analyzes the way in which zakat (alms) is prac-ticed among Muslim businessmen. The establishment of zakat agencies withinprivate companies has marked the latest trend of the practice of philanthropy inIndonesia. Corporation-based zakat collectors have become new players in therapid growth of the Indonesia’s zakat sector in the past two decades. This paperexamines the following issues: what are the main forces stimulating corpora-tions to set up zakat collectors; what kinds of religious ideas are applied to mo-bilize charities from Muslim workers, and how these concepts are interpretedand practiced within private companies? This paper argues that the inception ofa new concept in zakat practice, such as zakat on corporate wealth, has indi-cated the dynamics process of Islamization of the private sector in Indonesia.Tulisan ini meneliti inisiatif yang tumbuh dalam sektor swasta untuk mengaturkegiatan kesejahteraan sosial, dan menganalisa cara di mana zakat (sedekah)dipraktekkan di kalangan pengusaha Muslim. Pembentukan lembaga-lembagazakat dalam perusahaan swasta telah menandai tren terbaru dari praktek filantropidi Indonesia. Perusahaan berbasis kolektor zakat telah menjadi pemain barudalam pertumbuhan yang cepat dari sektor zakat Indonesia dalam dua dekadeterakhir. Makalah ini membahas isu-isu berikut: apa kekuatan utama merangsang perusahaan untuk mendirikan kolektor zakat, apa jenis ide-ide keagamaan yangditerapkan untuk memobilisasi amal dari para pekerja Muslim, dan bagaimanakonsep-konsep ini ditafsirkan dan dipraktekkan dalam perusahaan swasta? Makalahini berpendapat bahwa lahirnya konsep baru dalam praktek zakat, seperti zakatpada kekayaan perusahaan, telah menunjukkan proses dinamika Islamisasi sektorswasta di Indonesia.
Educational practice: lessons to be learned from madrasah and religious schools in contemporary Southeast Asia Kamaruzzaman Bustamam Ahmad
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 1 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v5i1.29-48

Abstract

This article aims at examining the current portrait of Islamic education inSoutheast Asia. Recently, there have been many studies on the role of madrasahsor religious schools in Islamic education. As Muslim who studies social-anthropology,I would like to approach this issue by examining socio-cultural ofIslamic education in Southeast Asia. Historically, the tradition has been basedon Muslim society at grass root level. The word of madrasah in Southeast Asiahas long history, which called as dayah in Aceh, surau in Minangkabau, pesantrenin Java, pondok in Malaysia, and pho no in Southern Thailand. The role ofmadrasah, then has similarities with the tradition of pesantren, even in someMuslim countries like Indonesia scholars still can differentiate between pesantrenand madrasah. In this study, I examine to philosophical dimension and systemof knowledge reproduction in Islamic education. Finally, I argue thatpesantren or religious school is embedded in Muslim culture.Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan keadaan terkini mengenai pendidikanIslam di Asia Tenggara.Sejauh ini, sudah begitu banyak kajian mengenai madrasah atau pendidikan agama di dalam pendidikan Islam. Sebagai seorangMuslim yang menekuni kajian sosial-antropologi, saya ingin mendekati studiini denganmemaparkansosio-kultural pendidikan Islam di Asia Tenggara.Menurut sejarah, tradisi pendidikan tersebut sudah menggejala dalammasyarakat Muslim pada level akarrumput.Istilah madrasah di Asia Tenggarasudah mengalami perkembangan yang amat pesat, di mana kalau di Aceh dikenaldengan istilah dayah, di Minangkabau dikenal dengan istilah surau, sementaradi Jawa digunakan istilah pesantren, di Malaysia memakai istilah pondok, diThailand Selatan digunakan istilah pho no. Peran madrasah, hamper sama dengantradisi pesantren, kendati di beberapa negara, seperti Indonesia, para sarjanamasih membedakan antara pesantren dan madrasah. Dalam kajian ini, dikupastentang dimensi filosofis dan system reproduksi pengetahuan dalam pendidikanIslam. Akhirnya, saya berargumen bahwa pesantren dan pendidikan agamamerupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam budaya Muslim.
Common identity framework of cultural knowledge and practices of Javanese Islam Sulistiyono Susilo; Ibnu Syato
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 2 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v6i2.161-184

Abstract

Previous literatures apparently argued that Javanese Islam is characterized by orthodox thought and practice which is still mixed with pre-Islamic traditions. By using approach of the sociology of religion, this article tries to explain contextualization of Islamic universal values in local space. The results showed that synthesis of orthodox thought and practice with pre-Islamic traditions is doubtless as a result of interaction between Islam and pre-Islamic traditions during the Islamization of Java. In addition, this study found the intersection of Islam and Javanese culture in the terms of genealogy of culture, Islamic mysticism, orientation of traditional Islamic teachings, and the conception of the power in Javanese kingdom. Since kejawen practices accordance with Islamic mysticism can be justified by the practice of the Muslims. Thus the typology of the relationship between Islam and Javanese culture are not contradictory but dialectical. Finally, a number of implications and suggestions are discussed Berbagai literatur sebelumnya mengenai studi Islam di Jawa umumnya berpendapat bahwa Islam Jawa ditandai dengan pemikiran dan praktek yang masih tercampur dengan tradisi pra-Islam. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi agama, artikel ini mencoba untuk menjelaskan makna dari kontekstualisasi nilai-nilai universal Islam pada lingkup lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis pemikiran dan praktek dengan tradisi pra-Islam merupakan hal yang lumrah sebagai hasil interaksi antara Islam dan tradisi praIslam selama periode Islamisasi. Penelitian ini menemukan persamaan identitas antara Islam dan budaya Jawa dalam hal genealogi budaya, mistisisme Islam, orientasi pengajaran Islam tradisional, dan konsepsi kekuasaan di keratonkeraton Jawa. Karena praktek kejawen dapat dijustifikasi sesuai dengan praktek mistisisme Islam, maka tipologi hubungan antara Islam dan budaya Jawa tidak bertentangan tetapi bersifat dialektis.
Spirituality, dual career family worker, demographic factors, and organizational commitment: evidence from religious affairs in Indonesia Abdul Aziz Nugraha Pratama; Hikmah Endraswati
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 2 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v7i2.277-304

Abstract

The purpose of this study is to specify whether spirituality, age, and tenurehave an effect on organizational commitment and to determine whether themoderating variables, i.e. dual career family worker, moderates the effect ofspirituality, age, and tenure on organizational commitment. The samples ofthe study were 90 staffs and lecturers of three educational institutions under the Ministry of Religious Affairs located in Central Java. They were IAINSurakarta, IAIN Salatiga, and MTsN 1 Surakarta. The research used Moderated Regression Analysis to analyze the data. The results showed that spirituality and tenure positively affect organizational commitment and dual careerfamily worker moderated the effect of spirituality and tenure on organizational commitment. Dual career family worker in this study can be categorized as a quasi-moderation variable.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah spiritualitas, usia,dan masa jabatan berpengaruh terhadap komitmen organisasi dan untukmenentukan apakah dual career family worker sebagai variabel moderasi dapatmemoderasi pengaruh spiritualitas, usia, dan masa jabatan terhadap komitmenorganisasi. Penelitian ini menggunakan 90 karyawan dan dosen sebagai sampeldari tiga institusi pendidikan di bawah Kementerian Agama di Jawa Tengah:IAIN Surakarta, IAIN Salatiga, dan MTsN 1 Surakarta. Teknik analisis yangdigunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Moderasi. Hasilnyamenunjukkan bahwa spiritualitas dan masa jabatan secara positif mempengaruhikomitmen organisasi dan dual career family worker sebagai variabel moderasimampu memoderasi spiritualitas dan masa jabatan terhadap komitmenorganisasi. Dual career family worker dalam penelitian ini dimasukkan sebagaivariabel moderasi kuasi.
A suggestion that Europe is the Muslim Domain: a study from historical and contemporary perspectives Muhammad Aiman Awaluddin; Anisa Safiah Maznorbalia
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v9i1.83-110

Abstract

In the past century saw that Europe associates themselves as a Christian domain until now. The proclamation of Edict of Thessalonica in 380 AD made Nicene Christianity as the state in The Roman Empire and saw a transition from paganism to a Christian domain of Christendom. Since its inception, several edicts have been enacted and several peace treaties have been broken to diminish an idea of multiculturalism within their faith land. The establishment of Muslim rules in the Iberian Peninsula has changed the dominion of Christian. Muslims in Spain introduced convivencia, which saw that Abrahamic religions, Islam, Judaism, and Christianity co-exist together, removing racial, cultural, and religious barriers to embrace each other that nurture spirit of inclusion. The Golden Age of Muslim Civilization gives a piece of evidence that Cordova has become a center of Europe, perhaps the world for scientific knowledge advancement. Subsequently, it contributes to the Renaissance Age in Europe. Additionally, the fall of Constantinople in 1453 under Ottomans reshaping the geography of Europe and permanently marked the term of European Islam. Through tedious analysis of media, reports, and past journals, this article adopted critical analysis in understanding the complexity of the history of Europe, at the same time positioning Islam as part of European culture. The contribution of Islam in Europe seems negligible and less attention has been given. Past researchers tend to overlook and belittle impacts of Islam in the European continent, thus diminish any legitimacy of Islam in Europe. Critical analysis methodology assists the researcher to understand the main issues, review past and present evidence from reliable sources to establish concrete arguments in providing critical evaluation on the issues. It is also a form of the method involving the investigated topics more deeply, by going beneath the surface of reality to explore the truth of a particular issue. The article established its arguments through a historical analysis in Europe starting from ancient time to present situation to give a clear analogy and legitimacy on the presence of Islam in Europe. The finding shows that Islam indeed a part of Europe since the establishment of Umayyad Caliphate and the presence of Islam in Sicily. Moreover, contemporarily, the rising of Muslims, issues of atheism, and secularism prove that Europe is no longer the center of Christianity but already becomes a multicultural society. Pada abad lalu, Eropa mengasosiasikan diri mereka sebagai sebuah domain Kristen sampai sekarang. Maklumat Edict of Thessalonica pada 380 AD menjadikan Kekristenan Nicene sebagai negara di dalam Imperium Romawi dan melihat peralihan dari paganisme kepada suatu domain Kristen atau Kekristenan. Sejak didirikan, beberapa dekrit telah diberlakukan dan beberapa perjanjian damai telah dipatahkan untuk mengurangi gagasan multikulturalisme di dalam tanah kepercayaan mereka. Pendirian aturan Muslim di Semenanjung Iberia telah mengubah kekuasaan Kristen. Muslim di Spanyol memperkenalkan convivencia, yang melihat bahwa agama Abrahamik, Islam, Yudaisme dan Kristen hidup berdampingan bersama-sama, menghilangkan hambatan rasial,budaya dan agama untuk merangkul satu sama lain yang memupuk semangat inklusi. Zaman keemasan peradaban Muslim membuktikan bahwa Cordova telah menjadi pusat Eropa dan mungkin dunia untuk kemajuan pengetahuan ilmiah. Selanjutnya, berkontribusi untuk Renaissance Age di Eropa. Selain itu,jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 di bawah Ottomans membentuk kembali geografi Eropa dan secara permanen menandai istilah Islam Eropa. Melalui analisa yang membosankan tentang media, laporan dan jurnal masa lalu, artikel ini mengadopsi analisa kritis dalam memahami kompleksitas sejarah Eropa, pada saat yang sama memposisikan Islam sebagai bagian dari budaya Eropa. Kontribusi Islam di Eropa tampaknya diabaikan dan kurang mendapatkan perhatian. Peneliti masa lalu cenderung mengabaikan dan meremehkan dampak Islam di benua Eropa, sehingga mengurangi legitimasi Islam di Eropa. Metodologi analisis kritis membantu peneliti untuk memahami isu utama, meninjau bukti-bukti masa lalu dan sekarang dari sumber terpercaya untuk membangun argumen konkret dalam memberikan evaluasi kritis pada masalah yang dibahas. Ini juga merupakan bentuk metode yang melibatkan penyelidikan topik lebih dalam, dengan menjangkau bagian bawah dari permukaan realitas untuk mengeksplorasi kebenaran dari masalah tertentu. Artikel itu menetapkan argumen melalui analisis sejarah di Eropa mulai dari zaman kuno untuk menyajikan situasi dan memberikan analogi yang jelas dan legitimasi di hadapan Islam di Eropa. Temuan ini menunjukkan bahwa Islam memang bagian dari Eropa sejak berdirinya kekhalifahan Umayyah dan kehadiran Islam di Sisilia. Selain itu, bersamaan dengan meningkatnya umat Islam, isu ateisme dan sekularisme merupakan bukti bahwa Eropa tidak lagi menjadi pusat Kekristenan tetapi sudah menjadi masyarakat multikulturalisme.

Page 10 of 21 | Total Record : 210


Filter by Year

2011 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 13, No 1 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 12, No 2 (2022): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 12, No 1 (2022): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 2 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 1 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 2 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 2 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 2 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 1 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 2 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 1 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 2 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 1 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 2 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 1 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 2 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies More Issue