cover
Contact Name
Agus Hindarto Wibowo
Contact Email
rekavasi@akprind.ac.id
Phone
+6285641246300
Journal Mail Official
bagushind@akprind.ac.id
Editorial Address
Jl. Kalisahak No. 28 Kompleks Balapan Tromol Pos 45 Yogyakarta 55222
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Rekavasi
ISSN : -     EISSN : 23387750     DOI : https://doi.org/10.34151/rekavasi
Jurnal Rekavasi merupakan open acces journal yang diterbitkan Prodi Teknik Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun, setiap bulan Mei dan Desember.
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 2 (2015)" : 8 Documents clear
Desain Mesin Mixing pada Proses Produksi Tempe Menggunakan Quality Function Deployment Berdasarkan Ergonomi Ariantono, Muhammad Rifqi; Oesman, Titin Isna; Simanjuntak, Risma Adelina
Jurnal Rekavasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Rekavasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai dan kapang atau ragi. Industri tempemerupakan industri rumah tangga salah satu yang mengelola industri tempe adalah home industry tempe di bantulmilik Bapak Rasimun. Home industry tersebut memproduksi 200 kg tempe setiap hari. Dalam proses produksi padaperagian terdapat cara kerja yang belum ergonomis Karena proses produksi masih konvesional dan para pekerjabelum memperhatikan higienitas dari produk, sehingga diperlukannya mesin yang dapat merubah cara kerjakonvesional dengan memperhatikan higienitas produk.Perancangan mesin mixing ragi dan kedelai ini menggunakanmetode Quality Function Deployment(QFD) berdasarkan ergonomi.Metode QFD merupakan suatu metode yangterstruktur dalam penggambaran produk yang memungkinkan pengembangan produk untuk menetapkan denganjelas semua keinginan dan kebutuhan konsumen serta mengevaluasi masing-masing kemampuan produk yangditawarkan secara sistematis untuk memenuhi kebutuhan.Metode ergonomi digunakan untuk menyesuaikan mesindengan dimensi tubuh pekerja.Dalam penelitian ini dihasilkan mesin mixing ragi dan kedelai yang memilikikapasitas 5 (lima) kg. mesin tersebut didesain sesuai dengan tubuh pekerja sehingga dapat mengurangi keluhanmuskuloskeletal yang dialami pekerja, meningkatkan higienitas produk dan mempercepat proses produksi, terutamapada bagian peragian.Kata Kunci: Perancangan, Quality Funtion Deployment, Ergonomi
Optimalisasi Biaya Distribusi Produk PT. Madubaru dengan Pendekatan Metode Saving Matrix Dan Generalized Assignment Azizah, Ulfah Nur; Oesman, Titin Isna
Jurnal Rekavasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Rekavasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Madubaru merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang pengolahan dan pembuatan gulakonsumsi dengan lokasi retailer di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) - Jawa Tengah. PT. Madubaru inimempunyai mekanisme distribusi yang tidak optimal dengan melakukan pengiriman produk ke setiap retailer darisebuah gudang kemudian kembali ke gudang dan seterusnya. Hal tersebut menimbulkan permasalahan terkaitpenjadwalan, pengaturan rute, dan pengaturan kapasitas.Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perbandingan hasil metode penyelesaian dalam Supply ChainManagement (SCM) yaitu Saving Matrix dan Generalized Assignment. Tujuan utama dari metode ini adalahperencanaan rute dan penugasan kendaraan dengan biaya distribusi yang optimal. Metode Saving Matrix dilakukandengan membuat suatu matriks penghematan (savings matrix). Matriks ini berisi daftar penghematan yang diperolehjika menggabungkan dua atau lebih retailer dalam satu kendaraan. Metode Generalized Assignment bekerja denganmenentukan seed point atau titik tengah kendaraan, kemudian menghitung biaya penyisipan untuk setiap pelanggan.Hasil dari penelitian yang dilakukan pada 12 retailer diketahui bahwa biaya yang dikeluarkan metode savingmatrix sebesar Rp. 395.222/hari dapat memberikan penghematan lebih besar Rp. 81.593/hari (14 %) dibandingkandengan penggunaan metode generalized assignment Rp. 399.305/hari dengan penghematan sebesar Rp. 77.510/hari(13%) dari biaya sebelumnya sebesar Rp. 476.815/hari. Rute usulan yang optimal juga dihasilkan oleh metodeSaving Matrix (tiga rute dengan total jarak tempuh sebesar 112,45 km) dibandingkan rute usulan yang dihasilkandengan Generalized Assignment (tiga rute dengan total jarak tempuh sebesar 116 km) dari 12 rute sebelumnyadengan total jarak tempuh 263 km. Rute yang dimiliki oleh saving matrix lebih sederhana, fleksibel dan mempunyaikecepatan tinggi daripada generalized assignmentKata Kunci: generalized assignment, saving matrix, supply chain management
Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku dengan Metode Silver Meal Berdasarkan Klasifikasi ABC Untuk Menentukan Persediaan Bahan Baku pada PT. Yogya Presisi Tehnikatama Industri Sengke, Keren Irene; Simanjuntak, Risma; Asih, Endang Widuri
Jurnal Rekavasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Rekavasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Yogya Presisi Tehnikatama Industri merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi produk plastikyang proses produksinya sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku biji plastik. Permintaan konsumen yangsemakin kompleks mengharuskan perusahaan untuk menyediakan bahan baku dengan tepat sehingga prosesproduksi dapat berjalan lancar. Masalah keterlambatan kedatangan bahan baku dari supplier dan kesalahanperhitungan kebutuhan bahan baku juga dapat menjadi masalah dalam persediaan bahan baku produksi, karena itusangat dibutuhkan menejemen yang baik mengenai persediaan bahan baku biji plastik di gudang. Pada penelitian inibahan baku dikelompokkan sesuai kekritisannya menggunakan klasifikasi ABC, kemudian dilakukan prosesperamalan kebutuhan bahan baku dan menghitung Safety Stock. Perhitungan lot size menggunakan metode SilverMeal bertujuan untuk mendapatkan hasil yang paling optimal serta menentukan Reorder Point bahan baku dankemudian melakukan penjadwalan persediaan bahan baku. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh 1 jenis bahanbaku klasifikasi A, 3 bahan baku klasifikasi B dan 10 bahan baku klasifikasi C. Klasifikasi A berarti diharapkanperusahaan lebih fokus terhadap persediaan bahan baku klasifikasi A. Peramalan menunjukkan hasil yang konstansetiap bulannya selama tahun 2016 pada setiap bahan baku. Safety stock berbeda untuk setiap bahan bakunya yaituberkisar 0 sampai 3,9 kg. Lot Size menunjukkan jumlah dan waktu pemesanan yang optimal serta reorder pointberkisar antara 132,5 hingga 63,2 sehingga dengan Lead Time selama 7 hari dapat dilakukan penjadwalanpersediaan bahan baku untuk tahun 2016.Kata kunci: Klasifikasi ABC, lot size, Silver Meal, Penjadwalan bahan baku.
Redesain Alat Pengupas Biji Mete Berbasis Ergonomi dan Quality Function Deployment (QFD) Guna Meningkatkan Kualitas Kesehatan Pekerja Setiawan, Tomi Agus; Oesman, Titin Isna; Parwati, Cyrilla Indri
Jurnal Rekavasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Rekavasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mete merupakan salah satu jenis produk olahan makanan yang sangat digemari oleh masyarakatIndonesia.Para pekerja pengupas biji mete saat ini menggunakan alat yang berbahan kayu dan pada saatmenggunakan alat yang saat ini posisi tubuh membungkuk yang mengakibatkan terasa sakit pada bagian tubuhtertentu leher bagian atas, leher bagian bawah, bahu, pinggang, bokong, pantat, punggung, tangan kanan, lengan danpekerja merasa cepat lelah. Permasalahan ini perlu diatasi dengan meredesain alat pengupas biji mete yangdigunakan pekerja sesuai dengan prinsip ergonomi guna meningkatkan kualitas kesehatan pekerja.Metode yang digunakan meredesain alat pengupas biji mete adalah dengan prinsip Ergonomi dan QualityFunctionDeployment.Kuesioner disebarkan sebanyak 24 eksemplar kepada pekerja untuk mengumpulkan data melalui nordic bodymap, mengumpulkan data tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan untuk mengetahui harapan dari pekerjaterhadap alat pengupas biji mete melalui Quality Function Deployment serta mengumpulkan data antropometriuntuk menentukan desain yang baru sesuai prinsip ergonomi pekerja. Ukuran alat pengupas biji mete yang sudah diredesain lebar dan panjang 41.43 cm, tinggi 52.09 cm, panjang kacip 47.62 cm, dan diameter pegangan 6,65 cm.Hasil dari House Of Quality tingkat kepentingan tertinggi adalah pengoprasian mudah dengan nilai 3.5, sedangkantingkat kepuasan nilai tertinggi adalah pengoprasian mudah dengan nilai 3.21. Redesain alat di uji menunjukanhasil terjadi penurunan keluhan kesakitan pada bagian leher atas 45.8%, leher bagian bawah 33.4%, bahu kanan37.5%, pinggang 29.1%, bokong 37.5%, pantat 33.4%, punggung 33,3%, tangan kanan 16.7%, lengan atas kanan20.8% menunjukan presentase mengalami penurunan dengan menggunakan alat setelah redesain meningkatkankualitas kesehatan pekerja.Kata Kunci : Redesain, Ergonomi, Quality Function Deploymant, Kualitas Kesehatan Pekerja
Analisis dalam Perencanaan Kebutuhan Distribusi Produk Gula Menggunakan Distribution Requirement Planning (DRP) di PT. Madubaru Paramitasari, Dewi; Yusuf, Muhammad
Jurnal Rekavasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Rekavasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Madubaru merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan dan pembuatan gula. Selama iniperusahaan hanya melakukan pengiriman produk sesuai dengan jumlah barang yang dipesan tanpa melakukan suatuperencanaan kebutuhan produk. Hal tersebut dapat mengakibatkan keterlambatan pengiriman maupun kekosonganstok pada daerah distribusi apabila produk yang dipesan tidak dapat didistribusikan secara tepat waktu maupun tepatjumlah.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peramalan jumlah permintaan produk untuk tiga bulan yang akandatang dari setiap lokasi distribusi dan mengetahui perencanaan kebutuhan distribusi produk yang optimal ke setiaplokasi distribusi. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah meramalkan permintaan yang akan datang denganmetode peramalan sesuai pola data dari masing-masing lokasi distribusi. Selanjutnya, membuat Rencana IndukPenjualan (RIP), menentukan teknik ukuran lot, dan safety stock. Tahap yang terakhir yaitu perhitungan DistributionRequirement Planning (DRP).Berdasarkan perhitungan DRP yang telah dilakukan, diketahui teknik ukuran lot yang dipilih berdasarkantotal biaya terkecil untuk setiap lokasi distribusi. Adapun teknik yang dipilih untuk Pamela Swalayan, Lotte Mart,dan Toko Progo yaitu Lot for Lot (LFL). Lion Superindo (Jl. Parangtritis) dan Govinda menggunakan EconomicOrder Quantity (EOQ). Lion Superindo (Sultan Agung), Lion Superindo (Perintis Kemerdekaan), Arta MM, danMirota Nayan Kampus menggunakan Periodic Order Quantity (POQ).Kata Kunci: Permintaan yang akan Datang, Lot Size, Distribution Requirement Planning.
Analisis Dampak Sistem Shift Kerja Terhadap Performansi Karyawan (Studi Kasus Minimarket Indomaret) Itsnaini, Kurnia; Yusuf, Muhammad; Parwati, Cyrilla Indri
Jurnal Rekavasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Rekavasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minimarket Indomaret merupakan salah satu dari beberapa minimarket yang ada di Yogyakarta yangmenggunakan sistem 3 shift untuk memenuhi kebutuhan pelayanan masyarakat selama 24 jam. Hal ini dilakukanuntuk dapat memberikan pelayanan yang baik serta member rasa nyaman kepada setiap konsumen dalamberbelanja. Tetapi tidak jarang karyawan akan menrima dampak, yaitu seperti keluhan stress, penyakit akibat kerja,penurunan adaptasi, dan kelelahan yang berlebihan dari penerapan sistem 3 shift tersebut yang akan berpengaruhkepada kondisi kesehatan dan performansi mereka.Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui dampak diberlakukannya sistem shift terhadap kondisi danperformansi karyawan, mencari perbedaan keluhan/kelelahan dan konsuimsi energi yang diperoleh karyawan untuksetiap shiftnya, serta melakukan perancangan perbaikan shift kerja. Salah satu uji yang dapat digunakan untukmengetahui perbedaan tingkat keluhan/kelelahan dan konsumsi energi karyawan untuk setiap shiftnya adalah OneWay Anova. Serta untuk mengetahui konsumsi energi karyawan dan perbaikan shift kerja digunakan pendekatanergonomi.Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa shift malam mengalami tingkat keluhan/kelelahan dan konsumsienergi tertinggi dibandingkan dengan shift lainnya. Tingkat rata-rata keluhan/kelelahan untuk shift pagi sebesar1,8760, shift siang sebesar 2,0447, dan shift malam 2,3973. Rata-rata konsumsi energi yang dibutuhkan untuk shiftpagi sebesar 0,3473 kkal/menit, shift siang sebesar 0,3918 kkal/menit, dan shift malam sebesar 0,6161 kkal/menit.Kata kunci: konsumsi energi, pendekatan ergonomi, sistem shift kerja.
Analisis Kuantitatif Bullwhip Effect Guna Meningkatkan Efektivitas Distribusi pada PT. Madubaru Ismail, Wahyu; Parwati, Cyrilla Indri
Jurnal Rekavasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Rekavasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kendala yang masih sering dijumpai dalam sistem distribusi produk adanya fenomena BullwhipEffect yaitu simpangan yang jauh antara persediaan yang ada dengan permintaan. Hal ini disebabkan kesalahaninterpertasi data permintaan dan sistem informasi yang kurang terintegrasi di tiap rantai distribusi. Hal itu juga yangdialami oleh PT. Madubaru yang memproduksi produk gula konsumsi.Untuk melakukan perbaikan digunakan pendekatan Supply Chain Management (SCM), dimana didalamnyatidak hanya membahas tentang distribusi produk saja, tetapi juga mengenai persediaan dan sistem informasi yangpenerapan SCM. Adapun tujuan penelitian ini untuk menganalisis Bullwhip Effect dan meminimalisasi total biayapersediaan dengan metode Continous Review.Hasil perhitungan nilai variabilitas menunjukan terjadinya bullwhip effect hampir disemua produk yangdikrimkan ke retailer-retailer. Keseluruhan yang terjadi bullwhip effect antarai lain : MK ½ Kg yang dikirim keretailer Carrefour; ( MK-M, MK-B, MK ½ Kg, Polos 1 Kg, dan Polos ½ Kg) yang dikirim ke retailer Superindo; (MK-M, MK-B, dan MK ½ Kg) yang dikirim ke retailer Indogrosir; (MK-B, MK ½ Kg, dan MK Mnl) yang dikirimke retailer Progo; ( MK-M, MK-B, MK ½ Kg, Polos 1 Kg, Polos ½ Kg, dan MK Mnl) yang dikirim ke retailerMirota, (MK ½ Kg, Polos 1 Kg, Polos ½ Kg, dan MK Mnl) yang dikirim ke retailer Pamella; dan ( MK-M, Polos ½Kg, dan MK Mnl) yang dikirim ke retailer Lotte Mart. Karena masing-masing retailer tersebut memiliki nilaivariasi permintaan sebesar 1,007 sampai 1,762 yang berarti lebih besar dari nilai perbandingan antara fungsi periodedan lead time sebesar 1,005.Dari hasil pengolahan data inventory dengan metode system Q, diperoleh untuk produkgula MK-M dengan total biaya persediaan Rp 229.055.425,6 ; untuk gula MK-B dengan total persediaan Rp534.425.962,1 ; untuk gula MK ( ½ Kg) dengan total persediaan Rp 8.978.662,105; untuk gula Polos (1 Kg) dengantotal persediaan Rp 100.942.837,4 ; untuk gula Polos ( ½ Kg) dengan total persediaan Rp 14.663.860,3 ; dan untukgula MK (Mnl) dengan total persediaan Rp 10.835.204,92.Kata kunci: supply chain management, bullwhip effect, efektivitas.
Analisis Pengukuran Nilai Efektivitas Mesin Produksi dengan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) dan 5-S Sebagai Usulan Penjadwalan Perawatan Mesin pada Divisi Engineering (Studi Kasus PT. Pura Barutama Kudus) Sinurat, Hery Kristanto; Susetyo, Joko; Simanjuntak, Risma
Jurnal Rekavasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Rekavasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Pura Barutama merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Mengalamipersaingan bisnis yang cukup ketat, supaya dapat tetap eksis perusahaan berusaha untuk memproduksi produkdengan standar internasioanl, harga terjangkau di kalangan masyarakat umum. Untuk itu perlu peningkatanefektivitas sehingga biaya produksi yang dikeluarkan menjadi rendah dan kualitas produk yang dihasilkan tinggi.Kerusakan yang terjadi pada mesin bubut sudah melebihi umur teknik dan pemakaian yang secara terus-menerus,sehingga waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perawatan menjadi lebih lama, seperti perbaikan, pengecekandan penggantian komponen, hal ini menyebabkan downtime menjadi lebih lama. Analisis pengukuran nilaiefektivitas mesin produksi dengan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) dan 5-S sebagai usulanpenjadwalan perawatan mesin.Metode OEE didasari oleh 3 faktor yaitu availability, performance dan quality. Nilai OEE diperoleh darihasil perkalian ketiga faktor. Penjadwalan perawatan dilihat dari nilai waktu rata-rata perawatan (MTBM), dandilihat dari nilai waktu rata-rata kerusakan (MTBF).Dari hasil perhitungan diperoleh nilai OEE mesin Bubut 5 tahun 2013 sebesar 79,97%, nilai MTBM sebesar110,54 jam dan nilai MTBF sebesar 250 jam dan nilai OEE mesin bubut 6 tahun 2013 sebesar 80,03% nilai MTBMsebesar 123,08 jam dan nilai MTBF sebesar 256 jam. PT. Pura Barutama dapat melakukan kegiatan perawatanberdasarkan prinsip 5-S dan tindakan perawatan berdasarkan perhitungan Maintainability.Kata Kunci: 5-S, Effectiviness, Maintainability, OEE.

Page 1 of 1 | Total Record : 8