cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
AL-Fikr
ISSN : 14112140     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Al-Fikr diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar. Al-Fikr diterbitkan pertama kali bulan juni 1996 dengan nama jurnal al Fikr : World Journal for Islamic Studies kemudian berubah pada tahun 2002 dengan nama al-Fikr : Jurnal Pendidikan Islam. Al-Fikr adalah jurnal terakreditasi nasional melalui Surat Keputusan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas RI. Nomor 51/DIKTI/Kep/2010 tanggal 5 Juli 2010
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 20 No 2 (2016)" : 9 Documents clear
Indonesian Pluralism and Democracy Under Challenge: A Social Reflection Herdi Sahrasad
AL-Fikr Vol 20 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamic puritanism in Indonesia is getting more and more stronger. Such strong growth of Islamic Puritanism in Indonesia , as he furthered, is playing an important role of the spread of Islamic radical ideology. pluralism would be pushed aside by the conservative Islamic scholars and ulamas in Indonesia, included in Muhammadiyah and NU themselves.  Muhammadiyah and NU,  the two Islamic bastions for pluralism and tolerance, have been facing  strong pressure from of puritant Islamists and fundamentalists who advocate ‘’transnational Islam’’ for the ummah. Indonesian state and society under liberal democracy are still facing uncertainty in the near future because the weakness of law enforcement and legal certainty, also the weakness of the national leadership under the tyranny of capital and oligarchs. 
Dunia Islam dalam Lintasan Sejarah dan Realitasnya di Era Kontemporer Muhammad Saleh Tadjuddin; Mohd. Azizuddin Mohd. Sani; Andi Tenri Yeyeng
AL-Fikr Vol 20 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang sejarah pemikiran dan peradaban di dunia Islam dan melihat realitasnya di era kontempor. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan menggunakan metode analisis sejarah untuk mendapatkan gambaran sejarah perkembangan pemikiran dalam Islam yang dibagi ke dalam tiga priode besar, yaitu Klasik (650 - 1250 M), Pertengahan (1250 - 1800 M) dan Moderen (1800 - sekarang). Periode klasik telah mengukir sejarah kemajuan dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam, periode pertengahan ditandai dengan kemunduran dunia Islam, dan periode modern ditandai dengan kesadaran pemikir Islam akan keterbelakangan yang dialami sehingga muncul beberapa pemikir yang menginginkan kebangkitan kembali dunia Islam. Kesadaran tersebut menyebabkan berbagai upaya dilakukan oleh pemikir Islam, meskipun dalam kenyataannya, dunia Islam dewasa ini masih tetap terbelakang. Dalam kenyataannya, dunia Islam masih berada dalam kondisi kemiskinan dan kebanyakan Negara-negara Islam dieksploitasi oleh Negara-negara Barat maju. Bantuan-bantuan luar negeri untuk menjadikan Negara yang sedang berkembang itu maju, dalam kenyataannya tetap bahkan semakin miskin., sebab bantuan berupa utang luar legeri jumlah bunganya sangat tinggi. Terjadinya keterbelakangan umat Islam disebabkan beberapa faktor, di antaranya dekadensi, sikap fundamentalisme dan konservatisme, dan keterbelakangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. 
Deskripsi Tentang Mediasi di Pengadilan Tinggi Agama Makassar: Perspektif Hukum Islam Wirhanuddin Wirhanuddin
AL-Fikr Vol 20 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap efektivitas mediasi dalam penyelesaian perkara secara damai di Pengadilan Agama wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar, hambatan yang mempengaruhi pelaksanaan mediasi di Pengadilan Agama wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar, serta pandangan hukum Islam terhadap penerapan mediasi di Pengadilan Agama. Pendekatan yang dipergunakan untuk melihat dan memecahkan permasalahan adalah filosofis syar'i, filosofis yuridis, analisis sosiologis sempiris, serta maslahat. Ditemukan fakta bahwa mediasi belum efektif menanggulangi tumpukan perkara di wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar, profesionalisme hakim yang menjalankan fungsi mediator sangat lemah dan mempengaruhi keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama wilayah Pengadilan Tinggi Agama Makassar, serta penerapan mediasi di Pengadilan Agama tidak bertentangan dengan hukum Islam. Masyarakat pencari keadilan di Pengadilan Agama sangat bermanfaat mempergunakan mediasi dalam menyelesaikan perkaranya sehingga berimplikasi terhadap keutuhan keluarga dan terpeliharanya harta yang dipersengketakan dari kehancuran. 
Pengelolaan Muallaf dan Problematikanya di Kota Palu Saprillah Saprillah
AL-Fikr Vol 20 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan pengelolaan muallaf dan segala problematikanya yang dilakukan secara sukarela oleh seorang relawan. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pengamatan terhadap aktivitas keseharian pembinaan muallaf, termasuk aktivitas para muallaf yang terkait dengan keagamaan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembinaan muallaf bersifat eksperimental dan learning by doing. Pembinaan menggunakan dua cara, sistematis (non-formal), dan kultural. Cara yang sistematis digunakan untuk pembinaan terhadap anak-anak, sedangkan cara kultural diterapkan kepada muallaf dewasa. Problem pembinaan antara lain; 1). Kemiskinan yang berimplikasi pada minat belajar yang sangat rendah dan rasa inferior, 2). Sifat mereka yang senang berkelompok mempengaruhi kelancaran pembinaan. 3) Kedatangan “orang-orang baru” secara periodik mengganggu sistem pembinaan, 4). Pembinaan kurang terorganisir dan mengandalkan kemampuan seorang pembina saja, 5). Kemampuan pembina yang relatif kurang memadai untuk melakukan pembinaan yang lebih sistematik. 
Maqamat Makrifat Hasan Al Basri dan Algazali Abdullah Abdullah
AL-Fikr Vol 20 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehidupan di Dunia adalah kesenangan maka seharusnya semua orang menjadikan dunia adalah negeri tempat beramal. Barangsiapa yang bertemu dengan dunia dalam rasa benci kepadanya atau zuhud, akan berbahagialah dia dan beroleh faedah dalam persahabatan itu. Tetapi barangsiapa yang tinggal dalam dunia, lalu hatinya rindu dan perasaannya tersangkut kepadanya, akhirnya dia akan sengsara. Dia akan terbawa kepada suatu masa yang tidak dapat tertahankan deritanya.Tafakur membawa kita kepada kebaikan dan berusaha mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat membawa kepada meninggalkan kejahatan itu. Barang yang fana walau bagaimanapun banyaknya, tidaklah dapat menyamai barang yang baqa (kekal), walaupun sedikit. Awasilah dirimu dari dunia yang cepat datang dan cepat pergi ini, dan yang penuh dengan tipuan.Menurut Hasan al-Basri, zuhud adalah, "memerlakukan dunia ini hanya sebagai jembatan yang hanya sekedar untuk dilalui dan sama sekali tidak membangun apa-apa di atasnya.” Konsep dasar pendirian tasawuf Hasan al-Basri adalah zuhud terhadap dunia, menolak  kemegahannya, semata menuju kepadaAllah, tawakal, khauf, dan raja', semuanya tidaklah terpisah. Jangan hanya takut kepada Allah, tetapi ikutilah ketakutan itu dengan pengharapan. Takut akan murka-Nya, tetapi mengharap karunia-Nya. Bagi Al-Ghazali rasio manusia tidak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan, sedang hati (qalb) bisa mengetahui hakikat segala sesuatu dan mampu mengetahui rahasia Tuhan. Ketika qalbu bersih di waktu itulah Tuhan menurunkan cahaya-Nya kepada seorang sufi, sehingga yang dilihatnya hanyalah Tuhan dan disinilah menunjukkan bahwa seseorang telah sampai ketingkat ma;rifah. Ma’rifah serupa ini diakui oleh ahli sunnah yang menyebabkan tasawuf diterima bagi kaum syariat, yang sebelumnya ditentang oleh mereka karena telah menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam
Pemikiran Teologi Pembebasan Ali Syari’ati Sabara Sabara
AL-Fikr Vol 20 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang pemikiran teologi Ali Syariati khususnya berkaitan dengan konsep teologi pembebasan. Sub pembahasan dalam tulisan ini adalah biografi Ali Syariati, senarai memahami pikiran dan bahasa Ali Syariati, Ali Syariati pandangan dunia dan ideologi, pandangan dunia Tauhid yang membebaskan, serta konsep tentang falsafah penciptaan manusia. Ali Syari’ati memahami agama bukan sekadar berdimensi ritual saja. Menurutnya, agama adalah sumber lahirnya kesadaran (awareness), landasan etik (morality), tanggungjawab (responsibility) dan kehendak bebas (free will) yang mampu menggerakkan pemeluknya menjadi kekuatan pembebas dari determinasi ideologi-ideologi multitheism yang menindas. Tauhid adalah fondasi ideologi pembebasan yang menegasi segala bentuk diskriminasi menuju pada egalitarianisme (persamaan) manusia.Tauhid adalah spirit perlawanan atas kezaliman dan penindasan berdasar pada nilai-nilai keadilan. Dalam pandangan Ali Syari’ati Tauhid adalah ephisentrum kehidupan dan modus eksistensi. Tauhid meniscayakan pandangan dunia yang teosentrik dengan orientasi menuntun manusia dalam gerak evolusi eksistensial menjadi manusia teomorphis, manusia yang mengatribusi sifat-sifat Ketuhanan.
Teori Emanasi dalam Hubungannya dengan Sains: Modern Sebuah Kajian Kritis muhaemin latif
AL-Fikr Vol 20 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Landasan filosofis dari konsep emanasi adalah keinginan untuk menghindarkan Tuhan dari alam yang pluralis dalam rangka memurnikan keesaan Tuhan dari segala hal yang material. Gagasan dasar Islam tentang Tuhan adalah Keesaan-Nya, penciptaan oleh-Nya dari ketidakadaan dan ketergantungan semua ciptaan kepada-Nya. Menurut Al-Kindi, Tuhan adalah yang benar dan tinggi serta dapat disifati hanya dengan sebutan-sebutan yang negatif, seperti Tuhan bukan materi, tidak berbentuk, tidak berjumlah. Untuk membuktikan keesaan Tuhan berikutnya datang al-Farabi dengan teori emanasinya, menurutnya bahwa alam ini memancar dari Tuhan dengan melalui akal-akal yang jumlahnya sepuluh.
Kontroversi Imam Perempuan; Study Maudhu’iy Terhadap Hadist-Hadist Imam Perempuan dalam Shalat Syamsurijal Syamsurijal
AL-Fikr Vol 20 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Issu  imam perempuan landasan hukumnya dimulai dari hadist-hadist Rasulullah SAW, oleh karena itu kajian terhadapnya harus pula dititik beratkan dengan melakukan study terhadap hadist-hadist yang terkait.  Khususnya untuk konteks ini kajian difokuskan pada hadist-hadist tentang imam perempuan yang berasal dari Ummu Waraqah dan juga hadist lain yang terkait dengan persoalan imam perempuan ini. Jumhur ulama menyatakan bahwa hadits dari Abu Daud yang diriwayatkan dari Ummu Waraqah lemah berdasarkan adanya kecacatan pada dua periwayat tadi. Namun hadits yang melarang perempuan menjadi imam shalatpun dinilai oleh banyak ulama lemah karena adanya perawi yang bermasalah. Saya sendiri tidak berani mengambil kesimpulan terhadap keberadaan hadits Abu Daud, meski arah argumentasi dari makalah ini menilai hadits tersebut tidak dhaif. Dengan demikian tidak boleh ditutup kemungkinan perempuan menjadi imam shalat (dengan ma’mum laki-laki), karena ada ulama yang membolehkan hal tersebut.
Respon Masyarakat Kota Makassar Terhadap Program Studi Ilmu Hadis Di UIN Alauddin Makassar Mahmuddin Mahmuddin
AL-Fikr Vol 20 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program studi Ilmu Hadis sebagai program studi yang baru dikembangkan di UIN Alauddin Makassar tepatnya di fakultas ushuluddin, filsafat dan politik. Penelitian dilakuan untuk menjawab permasalahan yaitu bagaiman respon masyarakat Makassar dengan kehadiran program studi ilmu hadis. penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis dengan metode kualitatif.Faktor penyebab kurang minatnya masyarakat Makassar melanjutkan studi di prodi ilmu hadis yaitu antara lain, sejak lama timbul kesan bahwa kajian hadis merupakan salah satu kajian yang sangat sulit dilakukan serta prospek alumni prodi ilmu hadis kurang digunakan. Untuk mengatasi hambatan di atas, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah hendaknya kajian-kajian yang diprioritaskan pada prodi ilmu hadis adalah hal-hal yang berkaitan dengan problema yang terjadi di masyarakat dan sesuai dengan kebutuhannya. Para pimpinan fakultas dapat bekerjasam dengan pemerintah daerah untuk merekrut lulusan/alumni prodi ilmu hadis untuk mengisi lowongan-lowongan tertuntu di kantor pemerintah seperti pada Bagian Agama dan Sosial.

Page 1 of 1 | Total Record : 9