cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014" : 10 Documents clear
Teknik Aplikasi Benzilaminopurin dan Pemeliharaan Jumlah Umbel Per Tanaman untuk Meningkatkan Produksi dan Mutu Benih Botani Bawang Merah (True Shallot Seed) di Dataran Tinggi Rosliani, Rini; Sinaga, Risma; Hilman, Yusdar; Hidayat, Iteu Margaret
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p316-325

Abstract

Pembungaan dan pembentukan biji merupakan kendala dalam produksi benih true shallot seed (TSS) di Indonesia. Aplikasi benzilaminopurin (BAP) dan boron dapat meningkatkan pembungaan, viabilitas serbuk sari maupun produksi, dan mutu benih TSS. Teknik aplikasi BAP yang efisien belum diketahui, sementara jumlah umbel dalam satu tanaman diduga dapat menyebabkan terjadinya persaingan dalam pembentukan kapsul dan biji. Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan teknik pemberian BAP dan pemeliharaan jumlah umbel yang efisien dalam meningkatkan produksi dan mutu benih TSS di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di dataran tinggi Lembang (1.250 m dpl.), pada bulan Maret sampai dengan September 2013 menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu aplikasi BAP 37,5 ppm melalui (1) teknik penyiraman BAP tiga kali, (2) kombinasi teknik aplikasi BAP dengan perendaman + penyiraman dua kali, dan (3) teknik perendaman umbi bibit sebelum tanam, sedangkan faktor kedua yaitu pemeliharaan jumlah umbel per tanaman dengan perlakuan (1) pemeliharaan semua umbel, (2) pemeliharaan tiga umbel pada bunga ke-1 sampai dengan ke-3, (3) pada bunga ke-2 sampai dengan ke-4, dan (4) pada bunga ke-3 sampai dengan ke-5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik aplikasi BAP melalui perendaman saja dan perendaman + penyiraman dua kali umur 1 dan 3 minggu setelah tanam (MST) menghasilkan produksi kapsul dan produksi TSS lebih efisien daripada teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 MST. Teknik aplikasi BAP melalui perendaman + penyiraman dua kali umur 3 dan 5 MST 30% lebih efisien dan 60% lebih efektif dalam memproduksi TSS daripada teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 MST. Namun daya berkecambah pada teknik perendaman + penyiraman lebih rendah daripada penyiraman tiga kali maupun perendaman saja. Pemeliharaan tiga umbel ke-1 sampai dengan ke-3 menghasilkan produksi dan mutu setara dengan pemeliharaan semua umbel. Implikasi penelitian ini adalah teknik produksi TSS yang efisien di dataran tinggi akan mudah dikembangkan oleh pengguna (petani/penangkar benih).
Repelensi Minyak Atsiri Tehadap Hama Gudang Bawang Hasyim, Ahsol; Setiawati, Wiwin; Jayanti, Hadis; Krestini, E H
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p336-345

Abstract

Minyak atsiri yang berasal dari tanaman adalah salah satu bahan yang dapat berfungsi seperti fumigan dan mempunyai prospek untuk digunakan dalam melindungi produk yang disimpan di gudang penyimpanan. Minyak atsiri harus mempunyai kemampuan untuk mengusir serangga hama agar serangga tidak masuk ke dalam umbi bawang merah yang disimpan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh minyak atsiri terhadap aktivitas biologi serangga dewasa dan larva hama gudang bawang Ephestia cautella. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Juni sampai dengan Desember 2012 pada temperatur 27± 2C dan kelembaban 75–80%. Penelitian dilaksanakan dalam empat tahapan kegiatan. Penelitian pertama untuk mengetahui repelensi minyak atsiri terhadap serangga dewasa E. cautella, penelitian kedua untuk mengetahui pengaruh minyak atsiri terhadap penghambatan peneluran imago betina E. cautella, penelitian ketiga untuk mengetahui repelensi larva E. cautella terhadap minyak atsiri, dan penelitian keempat untuk mengetahui pengaruh atsiri terhadap indeks nutrisi larva E. cautella instar-3. Rancangan percobaan yang digunakan ialah rancangan acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan diulang empat kali. Metode penelitian yang digunakan ialah metode pencelupan (dipping methods). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa minyak eucalyptus memiliki persentase repelensi imago E. cautella tertinggi mencapai 46% pada 24 jam setelah aplikasi. Penghambatan peneluran E. cautella pada semua perlakuan minyak atsiri menunjukkan persentase lebih dari 75% dan tidak berbeda nyata tetapi minyak atsiri kayu manis memiliki nilai persentase penghambatan peneluran tertinggi mencapai 85,23%. Perlakuan minyak atsiri akar wangi pada pengamatan repelensi larva E. cautella menunjukkan persentase tertinggi (50%) dengan kelas repelensi 3. Pengaruh minyak atsiri jeruk purut terhadap indeks nutrisi larva E.cautella menunjukkan bahwa minyak atsiri ini dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya, mampu menghambat penyerapan nutrisi larva sehingga dapat mengganggu pertumbuhan larva, dengan nilai laju pertumbuhan relatif (RGR) 0,11 mg/mg/hari. Manfaat penelitian ini adalah dapat menambah informasi tentang kemampuan minyak atsiri dari bahan eucalyptus, serai wangi, akar wangi, kayu manis, dan jeruk purut sebagai sumber insektisida alami yang dapat digunakan secara aman, murah, dan ramah lingkungan dalam upaya pengendalian hama gudang bawang merah E. cautella. 
Pengendalian Getah Kuning Pada Buah Manggis Dengan Irigasi Tetes dan Antitranspiran Chitosan I Nyoman Rai; I Wayan Wiraatmaja; Cokorda Gede Alit Semarajaya; IGK Dana Arsana; NK Alit Astiari
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p307-315

Abstract

Manggis merupakan buah segar terbanyak yang diekspor Indonesia, namun hanya 12,79% dari total produksi buah manggis Indonesia yang layak ekspor karena kualitasnya rendah. Gangguan getah kuning merupakan penyebab utama rendahnya kualitas buah manggis. Penelitian bertujuan mengendalikan getah kuning pada buah manggis dengan irigasi tetes dan antitranspiran Chitosan. Penelitian dilakukan di kebun manggis petani di Desa Munduk Bestala, Kecamatan Seririt, Buleleng, pada musim panas (April–November 2011). Perlakuan yang dicoba terdiri atas dua faktor, disusun secara petak terpisah dengan rancangan acak kelompok dan sembilan ulangan. Faktor utama adalah perlakuan irigasi tetes terdiri atas dua taraf, yaitu dengan irigasi tetes (I) dan tanpa irigasi tetes/kontrol (I (A1), dan 0,30% (A2k), sedangkan subplot adalah konsentrasi antitranspiran Chitosan, terdiri atas tiga taraf yaitu 0% (A). Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara irigasi tetes dan konsentrasi antitranspiran berpengaruh tidak nyata terhadap getah kuning pada buah manggis. Perlakuan irigasi tetes meningkatkan secara nyata persentase buah yang dagingnya tidak bergetah kuning. Buah yang dagingnya tidak bergetah kuning pada perlakuan irigasi tetes mencapai 83,70%, sedangkan pada kontrol hanya 36,30%. Demikian pula pemberian antitranspiran Chitosan menurunkan secara nyata buah yang dagingnya tidak bergetah kuning. Buah yang dagingnya tidak bergetah kuning pada antitranspiran Chitosan konsentrasi 0,15% dan 0,30% masing masing 60,00% dan 64,44%, sedangkan pada kontrol hanya 55,56%. Disamping itu, antitranspiran Chitosan tidak menurunkan proses fotosintesis yang tercermin dari tidak turunnya kandungan gula pereduksi, gula total, dan sukrosa daun. 
Pengaruh Perangkap Likat Kuning, Ekstrak Tagetes erecta, dan Imidacloprid Terhadap Perkembangan Vektor Kutukebul dan Virus Kuning Keriting Pada Tanaman Cabai Merah Neni Gunaeni; Wiwin Setiawati; Yeni Kusandriani
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p346-354

Abstract

Penyakit virus kuning keriting disebabkan oleh virus Gemini merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman cabai merah. Virus ini menjadi penting pada tanaman cabai karena tanaman inang alternatifnya banyak dan vektor pembawanya yaitu serangga Bemisia tabaci yang polyfag dan selalu ada pada setiap musim. Usaha pengendalian yang banyak dilakukan para petani saat ini yaitu pengendalian terhadap vektor virus dengan menggunakan insektisida yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Alternatif cara pengendalian yang efektif yaitu aman bagi lingkungan dan harganya relatif murah. Cara pengendalian penyakit virus tular kutukebul dapat dilakukan melalui penekanan populasi vektor virus. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan cara pengendalian penyakit virus kuning keriting dan populasi vektor virus yang efektif dan ramah lingkungan serta pengaruhnya terhadap hasil tanaman cabai. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang dengan ketinggian 1.250 m dpl. dan tipe tanah Andosol pada bulan Juni sampai Desember 2010. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan empat ulangan dan tujuh perlakuan untuk mengendalikan kutukebul yaitu (1) perangkap likat kuning, (2) ekstrak nabati Tagetes erecta konsentrasi 12,50%, (3) insektisida berbahan aktif imidacloprid 0,02%, (4) kombinasi perangkap likat kuning + ekstrak nabati tagetes, (5) kombinasi perangkap likat kuning + bahan insektisida imidacloprid, (6) kombinasi tagetes + imidacloprid, (7) kombinasi perangkap likat kuning + ekstrak nabati tagetes + bahan aktif imidacloprid, dan (8) tanpa perlakuan (kontrol). Varietas cabai yang digunakan adalah Lembang-2. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan (perangkap + tagetes + imidacloprid), (tagetes + imidacloprid), dan (perangkap + imidacloprid) berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman, dapat menekan vektor, insiden, dan intensitas gejala virus kuning keriting serta hasil panen dibandingkan perlakuan tunggal dan kontrol (tanpa perlakuan) sebesar 15,56–21,61%. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat mengurangi bahan kimia pertanian dan pemanfaatan sumberdaya alam (nabati) untuk menekan perkembangan vektor kutukebul dan virus kuning keriting pada tanaman cabai merah.
Pengaruh Pengairan Separuh Daerah Akar Terhadap Pertumbuhan Daun dan Kualitas Hasil Jeruk Siompu Andi Bahrun; Abdul Wahab; Umarsul Umarsul
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p299-306

Abstract

Teknik pengairan memengaruhi pertumbuhan, hasil buah, dan kualitas buah jeruk Siompu. Salah satu teknik pengairanyang prospektif diteliti untuk meningkatkan kualitas hasil Jeruk Siompu adalah pengairan separuh daerah akar. Penelitian bertujuanuntuk mengetahui pengaruh pengairan separuh daerah akar terhadap pertumbuhan daun dan kualitas buah jeruk Siompu. Penelitianini menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan pengairan yaitu (P0)pengairan seluruh daerah akar (PDA) 20 l air/pohon, (P1) pengairan separuh daerah akar (PSDA) 20 l air/pohon, (P2) PSDA 15 l air/pohon, (P3) PSDA 10 l air/pohon,dan (P4) PSDA 5 l air/pohon. Teknik PSDA yaitu air diberikan hanya pada sebagian daerah akar(satu sisi) tanaman, sedangkan sebagian daerah akar (sisi lainnya) tidak diberikan air atau diberi peluang mengalami kondisi kering,masing-masing dengan interval waktu 8 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PSDA meningkatkan kandungan asam absisat(ABA) daun dan mempertahankan pertumbuhan daun, ukuran buah, sari buah, dan brix seperti perlakuan PDA, tetapi tidak dapatmeningkatkan kualitas buah dan mengurangi kadar K daun. Pada musim kemarau, teknik PSDA 10 l air/pohon atau penghematanair 50% dibanding kontrol dapat direkomendasikan untuk pengairan tanaman jeruk Siompu, meskipun perlu dilakukan studi integrasipengairan separuh daerah akar dengan pemupukan dan mulsa pada musim kemarau.
Teknik Pemberian Benzilaminopurin dan Pemupukan NPK untuk Meningkatkan Produksi dan Mutu Benih 2) 1) True Shallot Seed di Dataran Rendah Rini Rosliani; Yusdar Hilman; Risma Sinaga; Iteu Margaret Hidayat; Ineu Sulastrini
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p326-335

Abstract

Produksi true shallot seed (TSS) di dataran rendah potensial dikembangkan karena ada indikasi pembentukan biji lebih bernas daripada di dataran tinggi. Aplikasi benzilaminopurin (BAP) 50 ppm melalui teknik penyiraman tiga kali dapat meningkatkan pembungaan dan viabilitas serbuk sari bawang merah di dataran rendah. Teknik aplikasi BAP dengan cara perendaman umbi bibit perlu diteliti untuk mengetahui efisiensi penggunaan BAP. Sementara itu pemupukan NPK yang tepat diharapkan dapat memperbaiki produksi TSS di dataran rendah. Tujuan penelitian menentukan teknik pemberian BAP dan pemupukan NPK yang efektif untuk meningkatkan produksi dan mutu benih TSS di dataran rendah. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Subang (100 m dpl.). Penelitian dimulai dari bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2013. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial (dua faktor) dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu aplikasi BAP 50 ppm melalui (1) teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 minggu setelah tanam (MST), (2) teknik perendaman sebelum tanam dan penyiraman pada umur 3 dan 5 MST, dan (3) teknik perendaman sebelum tanam. Faktor kedua yaitu pemupukan NPK terdiri atas (1) NPK 400 kg/ha dengan empat kali aplikasi, (2) NPK 400 kg/ha dengan delapan kali aplikasi, (3) NPK 600 kg/ha dengan empat kali, dan (4) NPK 600 kg/ha dengan delapan kali aplikasi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi BAP dengan teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 MST dan pemupukan NPK 400 kg/ha dengan empat kali aplikasi (setiap 2 minggu) menghasilkan tingkat pembungaan dan produksi TSS yang paling efektif yaitu sekitar 60–70% pembungaan dan 0,6 g TSS/tanaman di dataran rendah Subang. Implikasi penelitian ini adalah produksi TSS di dataran rendah berpeluang untuk dikembangkan dengan memperbaiki tingkat pembungaan yang lebih tinggi.
Studi Adopsi Cabai Merah Varietas Tanjung-2 Hasil Penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat Rofik Sinung Basuki; Idha Widi Arshanti; L Zamzani; Nur Khaririyatun; Yeni Kusandriani; Luthfy Luthfy
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p355-362

Abstract

Kontribusi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) sebagai institusi pemerintah penghasil teknologi baru, termasuk varietas dalam meningkatkan pendapatan petani masih belum diketahui. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat adopsi dan kontribusi cabai merah varietas Tanjung-2 dari Balitsa dalam meningkatkan keuntungan petani serta mengetahui tingkat pengembalian investasi (ROI) biaya penelitian dan diseminasi dari cabai merah varietas Tanjung-2. Penelitian evaluasi ex-post ini dilakukan di Desa Cibeureum, Kabupaten Ciamis pada bulan Agustus-September 2013. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode Fokus Grup Diskusi (FGD) dan wawancara individual menggunakan kuesioner terstruktur. Responden yang diwawancara adalah 15 petani adopter dan 15 petani nonadopter varietas Tanjung-2. Selain itu wawancara informal juga dilakukan terhadap seorang petani kunci di Ciamis, seorang pemulia dan seorang peneliti dari Balitsa yang menghasilkan dan mendiseminasikan varietas Tanjung-2 di Ciamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode tahun 2008–2012 varietas Tanjung-2 telah ditanam petani seluas lebih dari 600 ha yang tersebar di Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Majalengka, Cirebon, Indramayu, Sumedang, dan Cianjur. Khususnya di Kabupaten Ciamis, pada tahun 2012 varietas Tanjung-2 telah diadopsi seluas 140 ha yang tersebar di 10 kecamatan. Adopsi varietas Tanjung-2 di Ciamis dapat meningkatkan profit petani sebesar 52,9 juta rupiah per hektar. Total peningkatan profit yang diterima petani dari adopsi varietas Tanjung-2 seluas 140 ha adalah 7,4 milyar rupiah. Tingkat pengembalian investasi (ROI) biaya penelitian dan diseminasi cabai merah varietas Tanjung-2 di Ciamis adalah sebesar 2.558%. Artinya setiap Rp100,00 yang dialokasikan Balitsa untuk biaya penelitian dan diseminasi varietas Tanjung-2 memberikan peningkatan profit sebesar Rp2.558,00 bagi petani adopter atau 25 kali lipat dari biaya investasi yang dikeluarkan. 
Uji Daya Hasil dan Kualitas Delapan Genotip Kentang untuk Industri Keripik Kentang Nasional Berbahan Baku Lokal Yeni Kusandriani
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p283-288

Abstract

Tanaman kentang di Indonesia ditanam pada dataran tinggi karena memerlukan suhu dingin yaitu 22oC dan temperatur tanah 24oC, pada pertumbuhan awal serta pada pengisian umbi diperlukan temperatur rendah yaitu 18oC. Pengujian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (1.250 m dpl.) dan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut (1.300 m dpl.). Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan varietas kentang berdaya hasil tinggi dan cocok dijadikan sebagai bahan baku keripik kentang dan disukai oleh industri dan petani. Waktu penelitian  dari bulan Mei sampai Oktober 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Genotip yang diuji berjumlah delapan termasuk varietas pembanding Granola dan Atlantic. Populasi tanaman per plot 50 tanaman dengan ukuran plot 12 m2. Jarak tanam yang digunakan 80 x 30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotip Maglia, Medians, dan Amabile menampilkan tinggi tanaman yang  konsisten pada kedua lokasi, sementara untuk genotip 4 dan Atlantic menampilkan tanaman yang lebih tinggi di Lembang. Skor  tanaman paling vigor dihasilkan Amabile (8,7) dan Medians (9).  Potensi hasil tinggi ditampilkan oleh genotip  Maglia (24,0 t/ha dan 25,2 t/ha), Amabile (28,67 t/ha dan 25,70 t/ha), Medians (24,9 t/ha dan 25,7 t/ha)  dan varietas pembanding Atlantic (18,0 t/ha dan 21,0 t/ha) untuk masing-masing lokasi Garut dan Lembang. Genotip Maglia, Amabile, dan Medians memiliki kualitas  yang setara dengan varietas pembanding Atlantic. Nilai specific gravity Medians (1,079), Maglia (1,085), Amabile (1,081), Atlantic (1,076), kadar pati Medians (12,320%), Maglia (9,524%), Amabile (11,248%), Atlantic (8,464), gula reduksi Medians (0,034%), Maglia (0,424%), Amabile (0,305%), Atlantic (0,301%), kadar air Medians (78,175%), Maglia (79,64%), Amabile (80,432%), dan Atlantic (87,00%).
Preferensi Konsumen Terhadap Krisan Bunga Potong dan Pot Nurmalinda Nurmalinda; Nur Qomariah Hayati
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p363-372

Abstract

Krisan merupakan salah satu jenis bunga potong yang banyak diminati pasar dan konsumen. Permintaan produk tersebut dari tahun ke tahun terus meningkat dan tahun 2012 produksinya mencapai 384.215.341 tangkai. Peningkatan tersebut ternyata juga dipengaruhi oleh adanya perubahan preferensi pasar dan konsumen terhadap produk krisan yang dihasilkan oleh petani dan pengusaha. Untuk mengetahui perubahan preferensi konsumen terhadap produk krisan dilakukan penelitian preferensi pasar dan konsumen terhadap krisan bunga potong dan pot. Tujuan penelitian adalah mengetahui preferensi pasar dan konsumen terhadap bunga krisan potong dan pot. Penelitian dilakukan di DKI Jakarta pada bulan Januari – Desember 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Responden dipilih secara sengaja sebanyak 20 floris dan dekorator sebagai konsumen antara untuk bunga potong dan 40 konsumen rumah tangga untuk bunga pot di DKI Jakarta. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang menjadi pertimbangan utama konsumen floris dekorator dalam pembelian bunga potong krisan adalah jenis bunga, kemudian baru warna bunga, ukuran bunga, bentuk bunga, ketegaran tangkai bunga, ketahanan bunga, dan terakhir baru harga. Berbeda untuk krisan pot, yang menjadi pertimbangan utama konsumen dalam membeli bunga adalah selain warna, juga bentuk bunga, vaselife, ukuran bunga, ketegaran tangkai bunga, dan harga. Krisan potong jenis standar, warna putih, bentuk double, ukuran besar (6–8 cm) untuk standar dan ukuran kecil (2 cm) untuk tipe spray, daya simpan 5–7 hari, tegar, harga Rp1.200,00–Rp1.500,00 per tangkai untuk standar dan Rp1.000,00–Rp1.200,00 per tangkai untuk jenis spray merupakan krisan yang disukai/diminati oleh floris. Untuk krisan pot, jenis standar, warna putih, bentuk double, ukuran sedang (4 cm), daya simpan lebih dari 7 hari, tegar, harga kurang dari Rp15.000,00 per ikat merupakan krisan yang sangat disukai konsumen. Hasil studi preferensi ini selanjutnya dapat dijadikan dasar oleh petani, pengusaha, dan pemulia untuk menghasilkan produk-produk yang sesuai dengan permintaan pasar dan konsumen. 
Keragaman Genetik Plasma Nutfah Rambutan di Indonesia Berdasarkan Karakter Morfologi Kuswandi Kuswandi; Sobir Sobir; Willy Bayuardi Suwarno
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p289-298

Abstract

Rambutan merupakan tanaman menyerbuk silang sehingga secara alami memiliki keragaman tinggi. Penelitian bertujuan mempelajari kemiripan genetik dan pengelompokan aksesi plasma nutfah rambutan (Nephelium lappaceum) dan kapulasan (Nephelium ramboutan-ake) di Indonesia berdasarkan karakteristik morfologi. Penelitian dilakukan di (1) Kebun Percobaan (KP) Aripan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, (2) KP Subang Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, (3) KP Cipaku Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, dan (4) Kabupaten Limapuluh Kota (Sumatera Barat), pada bulan Juni 2013 sampai Februari 2014. Karakterisasi sifat morfologi dilakukan terhadap 29 aksesi rambutan dan empat aksesi kapulasan mengacu pada descriptor for rambutan yang diterbitkan IPGRI. Perhitungan koefisien ketidakmiripan antaraksesi dilakukan dengan metode Gower. Analisis nominal logistic biplot dilakukan untuk melihat sifat penciri dari suatu kumpulan aksesi. Analisis keragaman genetik dapat membedakan kelompok rambutan dan kapulasan dengan koefisien ketidakmiripan rerata sekitar 55%. Berdasarkan kerapatan tandan, rambutan dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok, yaitu aksesi yang memiliki tandan sangat jarang, jarang, sedang, rapat, dan sangat rapat. Aksesi dengan tandan rapat sampai sangat rapat antara lain aksesi Gendut Kair, Tangkue, dan Aceh Gendut, sedangkan semua aksesi kapulasan memiliki tandan yang sangat jarang. Berdasarkan ketebalan kulit buah, semua aksesi rambutan memiliki ketebalan kulit sedang sampai tebal, sedangkan aksesi Sibabat diketahui memiliki kulit yang sangat tebal.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue