cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Hubungan Kepemilikan Aset Produksi terhadap Keputusan Petani untuk Menggunakan Varietas Unggul Baru Pepaya Merah Delima (The Association of Production Assets on Farmer Selection of A New Variety, Merah Delima Papaya) Apri Laila Sayekti; Rima Setiani; Nur Qomariah Hayati; Rizka Amalia Nugrahapsari; Sulusi Prabawati; Khoirun Enisa Maharina; Djoko Mulyono; nFN Puspitasari; nFN Waryat; Muhammad Prama Yufdy
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n2.2020.p177-184

Abstract

Keputusan untuk mengadopsi varietas atau teknologi baru, terutama bagi petani skala kecil,  sangat dipengaruhi oleh kepemilikan sumber daya. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh kepemilikan aset produksi petani terhadap keputusan petani menggunakan Varietas Unggul Baru (VUB) pepaya Merah Delima. Survei dilaksanakan di beberapa sentra produksi pepaya (Sumatra Barat, Riau, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat) melibatkan 46 responden terpilih yang terdiri atas 17 petani pengguna pepaya Merah Delima dan 29 petani penanam pepaya varietas lainnya. Faktor-faktor determinan penggunaan varietas dianalisis dengan menggunakan model regresi Logit dan Tobit. Ketersediaan sarana dan prasarana produksi berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani menggunakan VUB pepaya Merah Delima. Pengaruh sarana dan prasarana produksi terhadap  probabilitas peningkatan penggunaan varietas lebih dominan dibanding pengaruh faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, program pengembangan VUB pepaya Merah Delima lebih lanjut disarankan perlu didukung dengan bantuan penyediaan alat semprot (sprayer) bertenaga mesin atau ditargetkan di lokasi-lokasi yang tidak terlalu bermasalah dengan tata kelola air.KeywordsAdopsi; Pepaya Merah Delima; Varietas Unggul BaruAbstractThe decision to adopt a new variety or technology, especially for small-scale farmers, is heavily influenced by resource ownership. The purpose of this study was to evaluate the effect of farmer production asset ownership on farmers’ decisions to use Merah Delima papaya high yielding variety (HYV). The survey was conducted in several papaya production centers (West Sumatra, Riau, East Java, Central Java, and West Java) involving 46 selected respondents consisting of 17 farmers using Merah Delima papaya and 29 farmers growing other papaya cultivars. The determinants of farmer decision were analyzed using the Logit and Tobit regression models. The results show that the availability of production facilities and infrastructure has significant effects on farmers’ decisions to use Merah Delima papaya HYV. The influence of production facilities and infrastructure on the probability of increasing the usage of Merah Delima papaya is more dominant than the influence of other factors. Therefore, it is recommended that further Merah Delima papaya HYV development program needs to be supported by the assistance of providing farmers with machine-powered sprayers or prioritized at locations that have few water/irrigation management problems.
Analisis Struktur Hierarki Strategi Pengembangan Hortikultura di Lahan Rawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan (Hierarchy Structure Analysis of Horticulture Development Strategy in Swamp Land, Banyuasin Regency, South Sumatra) Rizka Amalia Nugrahapsari; Sulusi Prabawati; Nur Qomariah Hayati; Djoko Mulyono; nFN Hardiyanto; Yeni Eliza Maryana
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n2.2020.p185-196

Abstract

Pengembangan hortikultura di lahan rawa merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi pangan nasional, mengatasi masalah gizi, dan kesejahteraan petani. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan maka diperlukan strategi pengembangan hortikultura di lahan lawa. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan buah/sayur dan merumuskan strategi pengembangan hortikultura di lahan rawa. Penelitian dilakukan di lokasi SERASI, yaitu di Kecamatan Muara Telang, Banyuasin, Sumatra Selatan. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui wawancara 81 orang responden dan Focus Group Discussion (FGD) dengan 18 orang stakeholder. Metode analisis yang digunakan adalah Strength, Weaknesses, Opportunities and Threats (SWOT) dan Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prioritas tujuan dalam pengembangan hortikultura di lahan rawa adalah peningkatan produksi dan keragaman produk yang dapat dicapai melalui strategi pemberdayaan petani dan penerapan teknologi ramah lingkungan dengan menjalin sinergi antaraktor yang paling berperan dalam mencapai tujuan tersebut. Langkah operasional untuk mencapai tujuan ini pada tahap awal pembangunan model adalah dengan memprioritaskan langkah operasional yang memiliki ranking tertinggi, yaitu: (1) penerapan teknologi inovasi hortikultura melalui demplot, (2) sinergi antara teknologi inovasi hortikultura dengan pengalaman petani, dan (3) mengkoordinir kelompok tani dalam penetapan pola tanam. KeywordsAHP; Hortikultura; Rawa; Strategi; SWOTAbstractHorticulture development in swamps land is basically aimed at supporting programs to increase food production, fulfill nutritional needs and improve farmers’ welfare. The main objective of this study was to identify internal and external factors that influence the development of fruit/vegetables and formulate horticultural development strategies in swamp lands. The study was carried out in Muara Telang District, Banyuasin, South Sumatra. The data used are primary data obtained through interviews with 81 respondents and FGD with 18 stakeholders. A combined SWOT and AHP was used to analyze data. The results showed that the priority goals in the development of horticulture in swamps land are increased production and produce diversity that can be achieved through farmer empowerment strategies and the application of environmentally friendly technology. Therefore, it requires synergies between actors who have an important role in achieving these goals. The operational steps to achieve these goals in the early stages of model development are to prioritize activities that have the highest ranking, namely: (1) disseminating/applying horticultural innovation technologies through demonstration plots, (2) building synergies between horticultural innovation technology and farmer experience, and (3) coordinating farmer groups to determine cropping pattern. 
Perbaikan Kelayakan Usahatani Bawang Merah pada Dataran Tinggi di Bali Melalui Perbaikan Teknologi Budidaya (Improving Feasibility of Shallot Farming at High Land in Bali Through the Improvement of Cultivation Technology) Nyoman Ngurah Arya; I Ketut Mahaputra; I Made Budiartana
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n2.2019.p269-278

Abstract

Usahatani bawang merah telah menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian petani di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Namun, biaya usahatani yang dibutuhkan semakin meningkat dan dapat berdampak terhadap penurunan efisiensinya. Pengkajian ini bertujuan menganalisis kelayakan paket teknologi usahatani bawang merah. Pengkajian terdiri atas tiga perlakuan dan 15 ulangan, yakni: p0 = teknologi eksisting (jarak tanam 23 cm x 23 cm + 12,5 – 15 ton pupuk kandang ayam/ha + 330 kg Urea/ha + 300 kg ZA/ha + 360 kg NPK 16:16:16/ha + pestisida kimia); p1 = jarak tanam 20 cm x 15 cm + 5 ton kompos kotoran sapi/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + feromon exi + pestisida kimia; dan p2 = jarak tanam 23 cm x 23 cm+ 5 ton kompos kotoran sapi/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + feromon exi + pestisida kimia. Lahan yang digunakan seluas 1,35 ha melibatkan 15 orang petani. Luas setiap perlakuan adalah 300 m2 sehingga luas lahan yang digunakan pada masing-masing petani adalah 900 m2. Penanaman dilakukan pada April 2106. Kelayakan usahatani dianalisis dengan pendekatan R/C rasio. Hasil analisis menunjukkan bahwa paket teknologi p2 memiliki kelayakan lebih baik daripada teknologi eksisting.KeywordsKelayakan; Feromon exi; Jarak tanam; Kompos sapiAbstractShallot farming has become the main source of income for some farmers in Kintamani District, Bangli Regency. However, the facts that shallot production costs tend to be more expensive over the year may have negative impacts to farm efficiency and farmers’ income. This study was aimed to analyze the feasibility of shallot farming technology packages alternative. The study consisted of 15 replications and three treatments, namely: p0 = existing technology (spacing 23cm x 23cm + 12.5 – 15 tons chicken manure/ha + 330 kg Urea/ha + 300 kg ZA/ha + 360 kg NPK 16:16:16/ha + chemical pesticides); p1 = spacing of 20cm x 15cm + 5 tons cow compost/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + sex pheromone + chemical pesticides; and p2 = spacing of 23 cm x 23 cm + 5 tons cow compost/ha + 500 kg ZA/ha + 600 kg NPK 16:16:16/ha + sex pheromone + chemical pesticides. Land used is 1.35 ha involving 15 farmers. The area of each treatment is 300 m2, so the area of land used in each farmer is 900 m2. Planting was done in April 2106. The feasibility of shallot farming was analyzed by R/C ratio. The result of analysis showed that, technology package on p2 has a better feasibility than existing technology.
Perbaikan Produksi Jamur Tiram Pleurotus ostreatus Strain Florida dengan Modifikasi Bahan Baku Utama Substrat Ety Sumiati; E Suryaningsih; - Puspitasari
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n2.2006.p%p

Abstract

Daya hasil jamur tiram putih masih perlu diperbaiki. Penelitian bertujuan mendapatkan jenis bahan baku alternatif selain serbuk kayu gergaji albasia dengan penambahan bahan aditif berupa bekatul untuk budidaya jamur tiram putih. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah  dengan 3 ulangan. Petak utama adalah bekatul konsentrasi 5, 10, 15, dan 20%. Anak petak 13 jenis bahan baku utama substrat. Bibit jamur tiram putih menggunakan spesies Pleurotus ostreatus strain Florida yang diintroduksi dari Applied Plant Research, Belanda. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran , Lembang  (1.250 m dpl.), Jawa Barat dari bulan November 2003 sampai Mei 2004. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa aplikasi substrat serbuk kayu gergaji albasia dikombinasikan dengan bekatul 5% menghasilkan bobot segar jamur tiram putih tertinggi, yaitu 2.317,36 g/kg bobot substrat basah dengan efisiensi biologis  (EB) 81,03%. Hasil tersebut dicapai selama  65 hari  masa berproduksi dengan jumlah panen 12 kali. Selain serbuk kayu gergaji (SKG) albasia, bahan baku substrat berupa SKG campuran, daun pisang kering, jerami padi, rumput alang-alang, dan bagas/ampas tebu dengan penambahan bekatul antara 5-15%, juga merupakan bahan baku alternatif yang dapat digunakan sebagai baku substrat untuk budidaya jamur tiram putih. Hasil bobot segar jamur tiram dari berbagai jenis bahan baku alternatif, yaitu antara 600 sampai 1.200 g/kg bobot basah substrat dengan nilai EB antara 10 sampai 35%The goal of this experiment was to find out alternatively suitable materials for substrates  other than sawdust combined with the application of rice bran as additive materials. A split plot design with 3 replications was set up. Main plot was rice bran concentrations of 5, 10, 15, and 20%, respectively. Subplot was 13 kinds of substrate materials. The experiment was carried out at Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang (1,250 m asl), West Java from November 2003 to May 2004. Oyster mushroom species used in the experiment was Pleurotus ostreatus strain Florida from Applied Plant Research, The Netherlands. The results of the experiment revealed that application of sawdust albizia in combination with 5% of rice bran produced the highest fresh yield of white oyster mushroom, viz. 2 317.36 g/kg wet substrate with biological efficiency (BE) of 81.03%. This yield was produced during 65 days with  12 times of total number of harvests. Other kinds of substrates, viz. mixed sawdust, dry banana leaves,  rice straw, sedge grass leaves, and sugar cane bagasse in combination with rice bran of 5 to 15%, could be applied as  alternative substrate materials other than sawdust of albizia for cultivating white oyster mushroom. The yield of fresh oyster mushroom using those kinds of alternative substrates mentioned, viz.  600 to 1,200 g/kg wet substrate with BE of 10 to 35%.
Pertumbuhan dan Produksi Pucuk Kenikir pada Beberapa Komposisi Media Tanam dan Interval Pemanenan (The Growth and Shoot Production of Cosmos caudatus with Various Plant Media Composition and Harvesting Interval) Ismail Saleh; Ida Setya Wahyu Atmaja; Ray March Syahadat
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n2.2020.p107-114

Abstract

Kenikir dapat dimanfaatkan sebagai sayuran dengan cara mengonsumsi pucuknya. Kenikir banyak dijumpai sebagai tumbuhan liar sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi pucuk kenikir. Produksi pucuk kenikir dapat dioptimalkan dengan melakukan perbaikan teknik budidaya, salah satunya pengaturan komposisi media tanam dan interval panen pucuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh komposisi media tanam dan interval pemanenan terhadap pertumbuhan dan produksi pucuk kenikir. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2019 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian UGJ, Cirebon. Percobaan dilakukan dalam dua tahap, yaitu pengaruh komposisi media tanam terhadap pertumbuhan dan produksi pucuk kenikir pada panen pertama serta pengaruh interaksi antara komposisi media tanam dan interval pemanenan terhadap produksi pucuk pada panen kedua. Rancangan percobaan pada percobaan pertama menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor, yaitu komposisi media tanam dengan sembilan ulangan dan rancangan percobaan pada percobaan kedua menggunakan RAK faktorial dua faktor. Faktor pertama adalah komposisi media tanam dan faktor kedua adalah interval pemanenan dan diulang sebanyak tiga kali. Komposisi media tanam terdiri atas tanah, tanah : pukan (2:1), dan tanah : pukan (1:1). Interval pemanenan yang dicobakan terdiri atas tiga taraf, yaitu 10, 15, dan 20 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam tanah : pukan (1:1) meningkatkan pertumbuhan dan produksi pucuk kenikir baik pada saat panen pertama maupun panen kedua. Interval pemanenan 20 hari menurunkan produksi pucuk total disebabkan interval pemanenan yang terlalu lama menyebabkan banyaknya pucuk kenikir yang berbunga sehingga menjadi tidak layak untuk dipanen.KeywordsInterval pemanenan; Kenikir (Cosmos caudatus); Media tanam; Pertumbuhan; Produksi pucukAbstractCosmos caudatus can be used as vegetable by its shoots. Cosmos are found as wild plant so that efforts are needed to increase shoot production. Shoot production can be optimized by media composition and harvesting interval. This research objective was to investigate planting media composition and harvesting interval effect on growth and shoot production of cosmos. The research was carried out for three months at Cirebon. The experiment was carried out in two stages: (1) the effect of media composition on growth and shoot at the first harvest and (2) the effect of interaction between media composition and shoot harvesting interval at the second harvest. The experimental design for first experiment used Randomized Block Design (RBD), namely the composition of media of soil, 2:1 soil-manure and 1:1 soil-manure with nine replications. Meanwhile, we used two factor factorial RBD for second experiment. The first factor was the media composition and the second factor was three harvest interval with three replications. The result showed that planting media of soil and manure (1:1) increased the growth and shoot both in the first and second harvesting. The harvesting interval of 20 days decrease the total shoot because many branches to flower so they cannot be harvested.
Evaluasi dan Seleksi Ketahanan Lili Hasil Induksi Mutasi Kimia terhadap Fusarium oxysporum f.sp lilii (Evaluation and Selection for Resistance to Fusarium oxysporum fsp.lilii in Lily) Ridho Kurniati; Budi Marwoto; Evi Silvia; Eka Fibriyanti
Jurnal Hortikultura Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v31n2.2021.p113-122

Abstract

Perakitan varietas tahan penyakit menjadi salah satu cara untuk mengurangi penggunaan pestisida kimiawi. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan tanaman lili tahan penyakit busuk umbi yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum fsp.lilii. Bahan yang digunakan ialah lili Asiatik cv. Purple Maroon hasil induksi mutagen kimia Ethyl Methane Sulphonate (EMS) 0, 0,1; 0,2; 0,3; dan 0,4 ml/l. Media seleksi yang digunakan ialah humus bambu dan pupuk kandang yang telah diberi inokulan cendawan Fusarium oxysporum (105 sel konidia/g media). Hasil evaluasi dan seleksi menunjukkan intensitas serangan tertinggi terjadi pada tanaman kontrol (37,6%) dan sebaliknya pada tanaman mutan.Tanaman lili hasil induksi EMS 0,1; 0,2; dan 0,3 ml/l menunjukkan intesintas serangan rendah yaitu (17,6 dan 19,2%) dan termasuk dalam kelompok tahan terhadap Fusarium, sementara perlakuan EMS 0,4 ml/l menghasilkan mutan agak tahan terhadap Fusarium dengan intensitas serangan 24%. Induksi mutagen kimia EMS tidak menyebabkan perubahan morfologi bunga lili, namun terjadi peningkatan ketahanan terhadap infeksi Fusarium oxysporum fsp.lilii.KeywordsFusarium oxysporum; Ethyl Methane Sulphonate; Varietas tahan penyakitAbstractDisease resistance of ornamental plants induced by chemical mutagen was an option to reduce chemical fungicide. Ethyl Methane Sulphonate (EMS) was a chemical mutagen that was used in this experiment. The objectives of the experiments were to obtain resistant disease of Fusarium oxysporum in Lily. Asiatic lily (Purple Maroon) induced by EMS 0; 0,1; 0,2; 0,3; and 0,4 ml/l were used as materials. Selection media used bamboo media, organic fertilizer, and 105 conidia cel/g media of Fusarium oxysporum inoculant. Lily was induced by EMS 0.1; 0.2 and 0.3 ml/l indicated the low intensity of disease severity index of Fusarium oxysporum fsp.lilii (17.6 and 19.2%). These lilies were resistant to Fusarium oxysporum fsp lilii. Otherwise, lily (EMS 0.4 ml/l) was moderate. None of the flowers morphologically were changed, but there was an increase of resistance to Fusarium oxysporum f.sp.lilii.
Back Mather Mather, Back
Jurnal Hortikultura Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v31n1.2021.p%p

Abstract

Kloning Gen Coat Protein (CP) Carnation Mottle Virus (CarMV) pada Vektor Ekspresi [Cloning of Carnation Mottle Virus (CarMV) Coat Protein Gene into Expression Vector] Diningsih, Erniawati
Jurnal Hortikultura Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v31n1.2021.p51-60

Abstract

Carnation mottle virus (CarMV) termasuk anggota genus Carmovirus dalam famili Tombusviridae. Virus ini banyak ditemukan menginfeksi tanaman anyelir di Jawa Barat dan menyebabkan gejala mottle. Sebagai langkah awal untuk memproduksi antiserum melalui teknik ekspresi gen CP perlu diklon pada vektor yang sesuai. Penelitian ini bertujuan mendapatkan klon CarMV yang berfungsi melalui kloning dan subkloning gen CP CarMV ke dalam vektor ekspresi yang sesuai. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu ekstraksi RNA total dan amplifikasi cDNA CarMV dengan RT-PCR, menggunakan primer spesifik CarMVF dan CarMVR yang mengandung situs enzim restriksi XhoI dan BamHI, kloning dan subkloning DNA sisipan, serta konfirmasi transforman. Rekombinan gen sisipan CP CarMV dalam bakteri dikonfirmasi dengan koloni PCR. Gen CP CarMV berhasil dikloning ke dalam TA vektor pTZ57R/T dan disubkloning ke vektor ekspresi pET28a. Sekuen rekombinan CP CarMV berhasil dikonfirmasi melalui perunutan DNA. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan produksi antigen rekombinan yang melimpah pada bakteri ekspresi dan kondisi yang sesuai.KeywordsDianthus caryophillus L.; Carmovirus; Kloning; Subkloning; Bakteri ekspresiAbstractCarnation mottle virus (CarMV) is a type member of Carmovirus genus in family of Tombusvirus. The virus infects carnation plants in the centre area production of West Java and it cause mottle symptoms. The research aimed to obtain functional clone(s) of CarMV CP gene in suitable expression kloning vector. The research was carried out through several steps, namely total RNA extraction and amplification of cDNA of CP CarMV by RT-PCR using specific primer pairs CarMVF and CarMVR containing restriction enzyme sites XhoI and BamHI, respectively, TA cloning, and subcloning into expression vector pET28a and confirmation of recombinant plasmids by colony PCR. CarMV CP gen was successfully cloned into TA cloning vector pTZ57R/T and subcloned into vector pET28a, alsowere confirmed by DNA sequencing. Future experiment is necessary to be conducted to obtain abundance recombinant antigen production of CarMV CP in suitable expression condition and bacterial host.
Pembentukan Populasi Dasar Krisan (Dendranthema grandiflora Tzelev) untuk Materi Induksi Mutasi Kimia [Population Formation of Chrysanthemum (Dendranthema grandiflora Tzelev) as Materials for Induced Mutation using Chemical Mutagen] Suryawati, nFN; Aisyah, Syarifah Iis; Marwoto, Budi; Kurniati, Ridho
Jurnal Hortikultura Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v31n2.2021.p137-146

Abstract

Induksi mutasi dapat dilakukan pada beberapa materi tanaman. Jenis materi tanaman menentukan keberhasilan terbentuknya mutan. Keberhasilan in vitro mutagenesis dipengaruhi oleh stadia tumbuh bahan tanam yang digunakan selama peroses mutagenesis. Mutagenesis dalam bentuk kalus berpotensi mendapatkan mutan solid. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kalus sebagai materi untuk induksi mutasi kimia serta media produksi kalus terbaik secara in vitro. Bahan yang digunakan yaitu daun plantlet krisan varietas Reagent Pink dan Jaguar Pink. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas tujuh kombinasi perlakuan media dasar MS dengan penambahan beberapa zat pengatur tumbuh. Kalus krisan kedua varietas (Reagent Pink dan Jaguar Pink) dapat terbentuk pada semua kompisisi media. Struktur kalus remah, dengan warna bervariasi hijau kekuning-kuningan hingga cokelat. Ukuran dan bobot segar kalus tidak menunjukkan adanya perbedaan. Media M7 merupakan media yang disarankan untuk produksi kalus sebagai media dasar induksi kalus.KeywordsInduksi mutasi; In vitro; Kalus; KrisanAbstractMutagen induced mutation in many explants and plant materials. These materials were determined mutant. The success of in vitro mutagenesis is influenced by the growing stadia of planting materials used during the mutagenesis process. Mutagenesis in the form of calluses has the potential to obtain solid mutants. The objectives of these studies were to find out materials explant for chemical induce mutation and in vitro media for callus production. Reagent Pink and Jaguar Pink leaf were used as materials. The experiment design was Complete Random Design, with seven treatment of MS (Murashige and Skoog) base medium and the addition of some growing regulatory subtances. Both of chrysanthemum varieties (Reagent Pink and Jaguar Pink) produced calli in all of tested media. The friable calli were obtained. There were same variation color of callus, e.g green, yellowish, and brownish. The variation of size and callus weight were also obtained eventhough it were not significantly different. M7 medium was recommended media for callus production, then it were used for induce mutation materials as based population.
Kelayakan finansial teknologi produksi benih bawang merah asal biji botani (True Seed of Shallot = TSS) (Financial feasibility of True Seed of Shallot seed production technology) Witono Adiyoga; Mathias Prathama; Rini Rosliani
Jurnal Hortikultura Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v31n1.2021.p81-92

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran pada Maret-November 2018. Tujuan penelitian adalah mengestimasi kelayakan finansial teknologi produksi benih bawang merah TSS (True Seed of Shallot). Percobaan lapangan produksi benih dilakukan untuk luasan 1.500 m2. Keragaan usahatani dievaluasi melalui analisis anggaran usaha berdasarkan pencatatan usahatani. Sementara itu, kelayakan finansial dianalisis menggunakan NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return),  B/C ratio (Benefit Cost Ratio) dan PBP (Pay Back Period). Hasil analisis anggaran menghasilkan indikator keragaan produksi benih sebagai berikut: (a) biaya produksi Rp. 255.320.280/hektar, (b) rasio penerimaan-biaya 1,49, (c) titik impas produksi 102 kg/hektar, dan (d) titik impas harga Rp. 1.789.628/kg. Analisis finansial berdasarkan parameter: periode proyeksi 3 tahun; aliran kas 12 bulan; suku bunga 18%/tahun; proporsi modal 40% (sendiri)  dan 60% (kredit); luas lahan 1 hektar; produktivitas 150 kg/ha; dan harga output Rp. 2.500.000/kg menghasilkan NPV = Rp. -108.564.638 (<0), IRR = sampai tingkat bunga 2% masih menunjukkan besaran NPV yang negatif (<18%), Net B/C Ratio = 0,62 (< 1), dan PBP = 1,5 tahun (< 3 tahun). Berbagai kriteria tersebut mengindikasikan bahwa usahatani produksi benih TSS belum dapat dikategorikan layak secara finansial. Analisis sensitivitas menunjuk-kan bahwa kelayakan finansial baru tercapai jika terjadi pengurangan biaya produksi minimal 22%. Kelayakan finansial juga dapat dicapai jika terjadi minimal 15% peningkatan produktivitas atau 15% peningkatan harga benih. Penelitian ini menyarankan studi lebih lanjut untuk mengidentifikasi agroekosistem produksi paling ideal berpotensi produktivitas optimal, serta memperbaiki teknologi produksi benih TSS berorientasi peningkatan produktivitas dan efisiensi penggunaan input. Keywordsproduksi benih; benih biji botani bawang; analisis anggaran;  kelayakan finansialAbstractA trial of 1,500 m2 seed production was conducted in the Indonesian Vegetable Research Institute during March-November 2018. The objective was to assess the financial feasibility of True Seed of Shallot (TSS) seed production technology. Farm performance was assessed by using enterprise budget, NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), B/C ratio (Benefit Cost Ratio), and PBP (Pay Back Period). Budget analysis results in (a) production costs of IDR 255,320,280/ ha, (b) revenue-cost ratio of 1.49, (c) 102 kg/ha yield break-even-point, and (d) IDR 1,789,628/kg price break-even-point. Meanwhile, financial analysis based on some predetermined parameters has provided NPV = IDR -108,564,638 (<0), IRR = up to 2% interest rate still shows negative NPV value (<18%), Net B/C Ratio = 0.62 (<1), and PBP = 1.5 years (<3 years). Those criteria suggest that TSS seed production business is not yet categorized as financially feasible. Sensitivity analysis shows that financial feasibility may be achieved if there is minimally 22% reduced cost of production, or 15% increased yield, or 15% increased seed price. Further studies on identifying the most ideal agro-ecosystem with optimal yield potential, and improving TSS technology with an orientation to increasing yield and input-use efficiency are recommended.

Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue