cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Hubungan Konsentrasi Hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium Daun Dengan Produksi Buah Sebelumnya Pada Tanaman Jeruk Pamelo Muhammad Thamrin; S Susanto; Anas D Susila; Atang Sutandi
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n3.2013.p225-234

Abstract

Penentuan status hara dengan analisis jaringan daun pada tanaman jeruk lebih tepat menggambarkan konsentrasi hara yang berhubungan dengan perubahan produksi. Penelitian bertujuan menetapkan daun yang tepat untuk diagnosis status hara N, P, dan K pada tanaman jeruk pamelo. Survei dilaksanakan di lahan petani jeruk pamelo Pangkep pada Bulan Maret sampai Juni 2012 dengan ketinggian tempat 17–35 m dpl., dan analisis kimia di Laboratorium Tanah Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. Penelitian menggunakan 150 pohon tanaman jeruk produktif yang berumur 5–8 tahun dengan pengelolaan yang relatif seragam. Pengambilan sampel daun ketiga-empat dan kelima-enam dari terminal dengan posisi cabang bagian atas dilakukan setelah panen. Analisis daun dilakukan dengan metode semi-mikro Kjeldahl untuk N, Spectrophotometer UV-VIS untuk P, dan Flamephotometer untuk K di Laboratorium Tanah BPTP Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun ketiga-empat memiliki korelasi terbaik dengan hasil serta mengandung konsentrasi hara N rendah (1,15–1,38%), P sedang (0,11–0,20%), dan K tinggi (2,31–2,94%). Konsentrasi N, P, dan K optimum dengan produksi relatif 85% masing-masing sebesar 1,77, 0,16, dan 1,67%. Hubungan konsentrasi hara dengan umur tanaman menunjukkan korelasi yang lemah tetapi rasio daun per buah yang tinggi menunjukkan konsentrasi hara N, P, dan K yang menurun, baik daun ketiga-empat maupun kelima-enam. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun rekomendasi pemupukan untuk tanaman jeruk pamelo.
Kemangkusan Biobakterisida terhadap Penyakit Busuk Lunak (Pseudomonas viridiflava) pada Phalaenopsis Waqiah Nuryani; Evi Silvia Yusuf; Hanudin -; Ika Djatnika; Budi Marwoto
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n4.2012.p392-399

Abstract

Penyakit busuk lunak yang disebabkan oleh Pseudomonas viridiflava merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya anggrek Phalaenopsis di Indonesia. Sampai saat ini belum ditemukan teknik pengendalian penyakit tersebut yang paling efektif. Penggunaan biobakterisida sudah diterapkan di luar negeri untuk menekan penyakit busuk lunak pada Phalaenopsis. Tujuan penelitian ialah : (1) jenis bakteri antagonis yang digunakan sebagai bahan aktif biobakterisida, (2) formula biopestisida yang efektif mengendalikan  penyakit busuk lunak (PBL) pada anggrek  Phalaenopsis,  (3) mendapatkan informasi mekanisme penekanan bakteri antagonis, dan (4) memperoleh informasi kerapatan populasi bakteri antagonis yang mengkolonisasi pada daun setelah mendapat perlakuan biobakterisida. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi dan  Rumah Kaca Biokontrol, Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung pada Bulan Januari hingga Desember 2011. Isolat bakteri antagonis nomor  B7 dan B30 disuspensikan ke dalam air steril dan bahan pembawa organik yang mengandung karbohidrat  dan  protein minimal, karbohidrat, dan protein optimal.  Selanjutnya formula tersebut masing-masing diaplikasikan pada daun  Phalaenopsis (metode spraying) sehari sebelum atau setelah inokulasi patogen busuk lunak (cara pin pricking). Rancangan yang digunakan  ialah acak kelompok dengan 15 perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  (1) bakteri antagonis no. B7 dan B30 yang digunakan sebagai bahan aktif biobakterisida digolongkan ke dalam genus Bacillus sp., (2) suspensi bakteri antagonis no. B7 dalam bahan organik yang mengandung karbohidrat dan protein minimal dan diaplikasikan 1 hari sebelum inokulasi dapat menekan serangan PBL dengan persentase penekanan sebesar 33,45%, (3) mekanisme penekanan  penyakit oleh biobakterisida dipengaruhi oleh derajat kolonisasi bakteri anatagonis pada daun anggrek dan efek antibiosis, dan (4) kerapatan populasi bakteri antagonis sebelum aplikasi ialah 9+7x102 cfu/g, selanjutnya meningkat menjadi 8+3 x 103 cfu/g daun selama 3 hari. Aplikasi biobakterisida berbahan aktif bakteri antagonis diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani anggrek dan  mendorong pengembangan industri biobakterisida berbasis sumber daya lokal. Soft rot caused by Pseudomonas viridiflava is one of the most important diseases on  Phalaenopsis production in Indonesia. Untill  now, the effective technique to control the disease  has not been found yet. Meanwhile biobactericide has been widely applied in other countries. The objectives of this research were (1) to determine type of antagonist bacteria used as biobactericide active material, (2)  biopesticide formula wich were effective to control soft rot disease, (3) to get information mechanism of suppressing on antagonist bacteria, and (4)  to examine the population density that colonized on Phalaenopsis orchid leaves  having treated. The study was conducted at Bacteriology Laboratory and Biocontrol Glasshouse of the Indonesian Ornamental Plant Research Institute, started from January to December 2011. Antagonist bacteria isolates no. B7 and B30 were suspended on the sterile water and the organic materials containing minimum or optimum of protein and carbohydrates, respectively. Then those biobactericides were applicated by spraying to the leaves of Phalaenopsis orchids  the day before or after the soft rot inoculation (by pin pricking method). A randomized block design with 15 treatments and three replications  was used in this study. The results showed that (1) antagonist bacteria no. B7 and B30  used as biobactericide active material were grouping in to the Bacillus sp. genus (2) antagonist bacteria isolate no. B7 that suspended in an organic material  containing minimum of carbohydrate-protein was applied 1 day before inoculation (treatment of a1f1 b7) was effective to control P. viridiflava with suppressing at 33.45%, (3) suppressing  mode rate of action of this treatment to suppress this pathogen  was  influenced by the degree of colonization and antibiosis reactions, and (4) the population density of such treatment before application was  9+7 x 102 cfu/g and increased to 8+3 x 103 cfu/g leaf during 3 days. The application of the biobactericides was quite promising  to increase orchids farmers‘ income and to push the development of  national resources  based biobactericide industry.
Peningkatan Produksi dan Mutu Benih Botani Bawang Merah Endah Retno Palupi; Rini Rosliani; Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p26-36

Abstract

Penggunaan true shallot seed (TSS) sebagai bahan tanam dapat meningkatkan produktivitas tanaman sampai 100% dibandingkan dengan penggunaan umbi dan tidak membawa atau menekan penyakit tular benih daripada umbi bibit. Ketersediaan TSS di pasar yang masih rendah dan teknologi pembibitan yang belum dikuasai oleh petani bawang merah menyebabkan penggunaan TSS sebagai bahan tanam masih rendah. Penelitian bertujuan untuk (1) mempelajari sistem perkawinan pada bawang merah dan (2) mempelajari peran serangga penyerbuk dalam meningkatkan produksi dan mutu TSS. Penelitian dilaksanakan di dataran tinggi (Kebun Percobaan Balitsa Lembang, 1.250 m dpl.) dan di dataran rendah (Kebun Percobaan Balitsa Subang, 100 m dpl.) dari bulan Maret–Agustus 2012. Penelitian terdiri atas dua percobaan yang dilaksanakan secara paralel menggunakan bawang merah varietas Bima Brebes. Percobaan pertama disusun menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor. Perlakuannya adalah sistem perkawinan yang dipelajari dengan melakukan penyerbukan silang dan penyerbukan sendiri. Percobaan kedua disusun menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan satu faktor. Perlakuannya adalah percobaan penyerbukan dengan bantuan serangga penyerbuk  Apis mellifera, A. cerana, dan Trigona sp. (Apidae), serta lalat hijau Lucilia sp. (Calliphoridae) masing-masing ke pertanaman yang dikerodong, dan sebagai kontrol digunakan penyerbukan terbuka. Hasil penelitian pertama menunjukkan bahwa bawang merah merupakan tanaman yang partly self-incompatible di mana penyerbukan sendiri dapat menghasilkan benih tetapi jumlah benih yang dihasilkan lebih rendah daripada penyerbukan silang. Mutu benih yang dihasilkan dari penyerbukan silang tidak berbeda dari penyerbukan sendiri, akan tetapi mutu benih dari dataran rendah lebih baik daripada dari dataran tinggi. Hasil penelitian kedua menunjukkan bahwa introduksi A. cerana menghasilkan persentase kapsul bernas dan bobot TSS per umbel paling tinggi (70,7–74% dan 0,45–0,49 g) dan Trigona sp. yang paling rendah (20–27,7% dan 0,08–0,16 g) baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Produksi TSS di dataran tinggi lebih tinggi daripada di dataran rendah karena jumlah umbel per tanaman dan jumlah bunga per umbel yang lebih tinggi, sementara mutu benih dari dataran rendah lebih baik daripada dataran tinggi yang ditunjukkan oleh bobot 100 butir dan daya berkecambah TSS. Implikasi penelitian ini bahwa introduksi lebah madu lokal A. cerana sangat membantu dalam memproduksi benih TSS di dataran tinggi dan dataran rendah.
Preferensi Konsumen Terhadap Krisan Bunga Potong dan Pot Nurmalinda Nurmalinda; Nur Qomariah Hayati
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p363-372

Abstract

Krisan merupakan salah satu jenis bunga potong yang banyak diminati pasar dan konsumen. Permintaan produk tersebut dari tahun ke tahun terus meningkat dan tahun 2012 produksinya mencapai 384.215.341 tangkai. Peningkatan tersebut ternyata juga dipengaruhi oleh adanya perubahan preferensi pasar dan konsumen terhadap produk krisan yang dihasilkan oleh petani dan pengusaha. Untuk mengetahui perubahan preferensi konsumen terhadap produk krisan dilakukan penelitian preferensi pasar dan konsumen terhadap krisan bunga potong dan pot. Tujuan penelitian adalah mengetahui preferensi pasar dan konsumen terhadap bunga krisan potong dan pot. Penelitian dilakukan di DKI Jakarta pada bulan Januari – Desember 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Responden dipilih secara sengaja sebanyak 20 floris dan dekorator sebagai konsumen antara untuk bunga potong dan 40 konsumen rumah tangga untuk bunga pot di DKI Jakarta. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang menjadi pertimbangan utama konsumen floris dekorator dalam pembelian bunga potong krisan adalah jenis bunga, kemudian baru warna bunga, ukuran bunga, bentuk bunga, ketegaran tangkai bunga, ketahanan bunga, dan terakhir baru harga. Berbeda untuk krisan pot, yang menjadi pertimbangan utama konsumen dalam membeli bunga adalah selain warna, juga bentuk bunga, vaselife, ukuran bunga, ketegaran tangkai bunga, dan harga. Krisan potong jenis standar, warna putih, bentuk double, ukuran besar (6–8 cm) untuk standar dan ukuran kecil (2 cm) untuk tipe spray, daya simpan 5–7 hari, tegar, harga Rp1.200,00–Rp1.500,00 per tangkai untuk standar dan Rp1.000,00–Rp1.200,00 per tangkai untuk jenis spray merupakan krisan yang disukai/diminati oleh floris. Untuk krisan pot, jenis standar, warna putih, bentuk double, ukuran sedang (4 cm), daya simpan lebih dari 7 hari, tegar, harga kurang dari Rp15.000,00 per ikat merupakan krisan yang sangat disukai konsumen. Hasil studi preferensi ini selanjutnya dapat dijadikan dasar oleh petani, pengusaha, dan pemulia untuk menghasilkan produk-produk yang sesuai dengan permintaan pasar dan konsumen. 
Fenologi Rhododendron spp. (Subgenus Vireya) Koleksi Kebun Raya Eka Karya Bali Dyan Meiningsasi Putri
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n3.2011.p232-244

Abstract

Hingga saat ini belum banyak data hasil penelitian tentang fenologi Rhododendron spp. Penelitian fenologi Rhododendron spp. sangat dibutuhkan untuk upaya pengembangan pemanfaatan koleksi. Studi fenologi Rhododendron spp. (Subgenus Vireya) telah dilakukan di pembibitan Kebun Raya Eka Karya Bali dari bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2010. Penelitian bertujuan untuk mengetahui fenologi Rhododendron spp. (Subgenus Vireya). Metode yang digunakan ialah model kelas/grading. Dari hasil pengamatan masa berbunga dan berbuah 14 jenis Rhododendron spp. yang dipelajari diketahui bahwa Rhododendron dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: (1). Rhododendron yang berbunga pada bulan–bulan tertentu saja, (2)  Rhododendron yang berbunga sepanjang tahun, dan (3). Rhododendron yang belum atau tidak berbunga. Faktor lingkungan seperti suhu dan kelembaban udara juga mempengaruhi jumlah jenis Rhododendron  yang dapat berbunga dan berbuah. Bulan Mei merupakan bulan di mana paling banyak jenis Rhododendron yang berbunga, sedangkan untuk masa buah siap panen bervariasi tiap tahunnya. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan jumlah koleksi Rhododendron spp. koleksi Kebun Raya Eka Karya Bali, dasar untuk penelitian kawin silang (breeding), dan pengoleksian biji (seed bank).Until now there are a lot of data resulted from phenology researches on of Rhododendron spp. Phenology research of Rhododendron spp. is needed to develop utility of their collection. The phenology study of Rhododendron spp. (subgenus vireya) was conducted at Bali Botanical Garden from January 2008 to Desember 2010. This study aimed to determine the phenology of Rhododendron spp. (subgenus vireya). The method used was the classroom/grading model. From the observation it was known period of flowering and fruiting 14 species of Rhododendron and grouped into three categories, namely: (1) Rhododendron which blooming in certain month only, (2) Rhododendron which blooming throughout the year, and (3) Rhododendron which not or not yet flowering. Environmental factors such as temperature and humidity also affected the amount of Rhododendron species that can flower and bear fruit. May was the appropriate month for flowering of the Rhododendron where most species flowered, while for the fruit ready for harvest varied each year. The results of this study could be used to increase the number of Rhododendron spp. collections in Bali Botanical Gardens, the basis for intercross research (breeding), and collecting of seeds (seed banks).
Aplikasi Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan Strangulasi untuk Induksi Pembungaan di Luar Musim Pada Tanaman Jeruk Keprok (Citrus reticulata) Muhammad Darmawan; Roedhy Poerwanto; S Susanto
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p133-140

Abstract

Paclobutrazol sebagai zat penghambat biosintesis giberelin selama ini telah digunakan secara luas untuk mengatur produksi di luar musim beberapa buah tropika, namun zat ini meninggalkan residu yang panjang. Prohexadion-Ca adalah zat penghambat biosintesis giberelin yang dalam penggunaannya tidak meninggalkan residu, namun belum pernah diuji efektifitasnya dalam mengatur produksi buah di luar musim. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan teknologi produksi buah jeruk di luar musim tanpa meninggalkan residu dalam tanah. Penelitian menggunakan rancangan blok terpisah (split block design). Penelitian berlangsung dari bulan November 2012 sampai Mei 2013. Hasil penelitian menunjukan perlakuan Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan strangulasi dapat mempercepat pembungaan dan meningkatkan jumlah bunga dan buah tanaman jeruk keprok. Perlakuan Prohexadion-Ca dapat mempercepat mulainya muncul bunga  dibandingkan dengan perlakuan Paclobutrazol dan dapat meningkatkan jumlah bunga dan buah sama dengan Paclobutrazol. Penggunaan Prohexadion-Ca dapat dijadikan sebagai teknologi untuk memproduksi buah jeruk di luar musim tanpa meninggalkan residu dalam tanaman.
Analisis Pengelompokan dan Hubungan Kekerabatan Spesies Anggrek Phalaenopsis Berdasarkan Kunci Determinasi Fenotipik dan Marka Molekuler RAPD Kristina Dwiatmini; N.A Mattjik; H Aswidinnor; N.L Touran-Matius
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n1.2003.p16-27

Abstract

Hubungan kekerabatan antara 19 anggrek phalaenopsis dianalisis menggunakan random amplified polymorphic DNA   pada tingkat molekuler dan secara fenotipik menggunakan kunci determinasi dari Sweet. Dendrogram kekerabatan anggrek phalaenopsis tersebut diperoleh dari 300 pola pita DNA dan 27 karakter fenotipik. Hubungan kekerabatan secara genetik dianalisis menggunakan koefisien kemiripan Dice dan jarak genetik secara fenotipik menggunakan koefisien Dist. Korelasi antara keduanya dianalisis menggunakan statistik Mantel dengan prosedur MXCOMP pada program NTSYS. Hasil penelitian menunjukkan hubungan kekerabatan berdasarkan koefisien kemiripan Dice adalah 0,24-0,66 (jarak genetik antara 0,34-0,76), sedangkan jarak taksonomi berdasarkan koefisien Dist adalah 1,42-0,08. Nilai korelasi antara matriks kemiripan dan matriks jarak adalah kecil yaitu -0,38, dengan nilai koefisien determinasi R2  = 0,15. Nilai koefisien determinasi yang kecil menunjukkan bahwa hanya 15% data morfologi dapat digunakan untuk mengestimasi kemiripan genetiknya. Hasil analisis komponen utama menunjukkan terdapat 231 pita yang berperan dalam pengelompokan secara terpisah 19 spesies anggrek phalaenopsis, namun tidak dapat mengidentifikasi pita spesifik untuk karakter atau genotip tertentu. Kata kunci : Kunci determinasi; Kekerabatan genetic; Phalaenopsis; Penanda molekuler RAPD; Analisis pengelompokan. ABSTRACT. Genetic relationships among 19 genotypes of phalaenopsis orchid were investigated us- ing random amplified polymorphic DNA technique at the DNA level and using the determination key introduced by sweet at the phenotypical level. Orchid dendrogram was obtained from banding patterns of DNA and from 27 phenotypic traits scored, using Dice similarity and average taxonomic distances respectively. Correlation between a pair of proximity matrices was tested with the Mantel statistic generated by the MXCOMP procedure in NTSYS-pc software. The results showed that constant similarity coefficient and relative order were obtained with 16 primers (300 DNA bands). Genetic relationships among 19 species of phalaenopsis orchids based on Dice similarity coefficient var- ied from 0.24 – 0.66 (genetic distance 0.34 – 0.76). Cluster analysis based on the determination key indicated that the genetic distance (Dist coefficient) varied from 1.42 – 0.08. Grouping of phalaenopsis species using RAPD technique was different from the one using phenotypic characters as used by Sweet with correlation value -0.38 and coefficient determination value 0.15. A small correlation coefficient indicated that the relationship between variables is weak, meaning that average taxonomic distance could not be used to estimate the genetic similarity. The principal compo- nent analysis showed the relative position of 19 genotypes of phalaenopsis in two and three dimensions (principal component). The same procedure also identified the most important DNA bands (231 bands) having very important roles in the grouping, but failed to identify any specific band for any particular character or genotype.
Penggunaan Rumah Kasa untuk Mengatasi Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Tanaman Cabai Merah di Dataran Rendah Tonny Koestani Moekasan
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n1.2012.p65-75

Abstract

Salah satu dampak perubahan iklim terhadap budidaya cabai merah di dataran rendah ialah peningkatan intensitas serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Penelitian penggunaan rumah kasa untuk mengatasi serangan OPT pada budidaya cabai merah dilakukan di Kecamatan Kersana, Kabupaten  Brebes, Jawa Tengah pada bulan April sampai dengan Oktober 2010. Penelitian ini bertujuan  mengetahui pengaruh rumah kasa terhadap serangan OPT dan produksi cabai merah. Dua macam perlakuan yang diuji ialah (a) budidaya tanaman cabai merah di dalam rumah kasa dan penggunaan pestisida berdasarkan ambang pengendalian OPT dan (b) budidaya tanaman cabai merah di lahan terbuka dan penggunaan pestisida dengan sistem kalender 3 hari sekali. Penelitian dilakukan menggunakan metode petak berpasangan dan tiap perlakuan diulang tiga kali. Petak perlakuan berukuran 137,5 m2, varietas cabai yang ditanam ialah Tit Segitiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan rumah kasa dapat mengurangi serangan OPT sebesar 12–28,52%, sehingga  biaya pestisida dapat dikurangi lebih dari 95% dengan produksi lebih tinggi sebesar 927,53% dibandingkan dengan budidaya tanaman cabai merah di lahan terbuka tanpa rumah kasa. Dengan demikian, penggunaan rumah kasa dapat direkomendasikan sebagai teknologi budidaya cabai merah di dataran rendah.ABSTRACTOne of impacts of climate change is increasing of pests and diseases infestation. Study of use of netting house for suppresing pests and diseases on hot peppers in the lowland area was carried out at Kersana Subdistrict, Brebes District, Central Java from April to October 2010. This study aimed to determine the effect of netting house on pests and diseases infestation and the yield on hot peppers cultivation. The treatments tested were : (a) hot pepper cultivation in the netting house and the use of pesticides based on the control threshold and (b) hot peppers  cultivation in open field and pesticide use every 3 days. The study was conducted with paired comparison and each treatment was repeated three times. The size of every plot was 137.5 m2. Hot pepper variety planted was Tit Segitiga. The results showed that the use of netting house could decrease pests and diseases infestation (12–28,52%), so that pesticide cost could be reduced more than 95% with the yield higher than 927.53% compared with those of hot peppers cultivation in open field. There for the use of netting house can be recommended for hot peppers cultivation in lowland area.
Penggunaan Pupuk NP Cair dan NPK (15-15-15) untuk Meningkatkan Hasil dan Kualitas Buah Tomat Varietas Oval - Subhan; Nunung Nurtika
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n4.2004.p253-257

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pupuk NP cair, dan dosis pupuk NPK (15-15-15) terhadap hasil dan mutubuah tomat varietas oval, pada lahan petani di Kabupaten Garut dengan ketinggian 650 m dpl. Rancangan yangdigunakan ialah petak terpisah dengan ulangan tiga kali. Sebagai petak utama adalah konsentrasi pupuk NP cair,kontrol 2,5 ml/l, dan 5,0 ml/l. Sub plot adalah dosis pupuk NPK (15-15-15), 200, 400, 600, 800, dan 1.000 kg/ha. Hasilmenunjukkan adanya efek interaksi antara NP cair dan pupuk majemuk NPK (15-15-15) pada to tal bobot buah, tinggitanaman, dan kekerasan buah waktu panen. Penggunaan pupuk NP cair 2,5 ml/l yang dikombinasikan dengan NPK(15-15-15) 1.000 kg/ha nyata menaikkan bobot buah dan adanya kecenderungan bahwa penggunaan NP cair yangtinggi diikuti pula penggunaan pupuk majemuk NPK (15-15-15) yang tinggi pula. Pada pupuk NP cair 2,5 ml/l yangdikombinasikan dengan NPK (15-15-15) 800 kg/ha nyata menaikkan kekerasan buah.Kata kunci : Lycopersicum esculentum; Pupuk NP; Pupuk cair; Dosis NPK (15-1-15); Hasil; Kualitas.AB STRACT. Subhan and N. Nurtika. 2004. Uti li za tion of liq uid NP and NPK (15-15-15) fer til iz ers on yield andqual ity of to mato fruit of oval va ri ety. A split plot de sign with three rep li ca tions was used to study ef fect of liq uid NPand NPK (15-15-15) fer til izer on yield and qual ity of to mato fruit of oval va ri ety, on farm ers land at 650 m asl in Garut.A mainplot fac tor con sisted of liq uid NP fer til izer consentrations: con trol, consentration of 2.5 ml/l and 5.0 ml/l. Sub -plot fac tor con sisted of dos ages of NPK (15-15-15) fer til izer 200, 400, 600, 800, and 1,000 kg/ha. Re sults in di catedthat there were in ter ac tion ef fects be tween liq uid NP fer til izer and NPK com pound fer til izer on to tal fruit weight plant,height, and fruit hard ness at har vest. Ap pli ca tion of liq uid NP fer til izer 2.5 ml/l com bined with NPK (15-15-15) 1,000kg/ha sig nif i cantly in creased fruit weight and there was strong ten dency that the higher the liq uid NP consentrationsused the higher the NPK com pound used too. Fruit hard ness was sig nif i cantly in creased by treat ment of liq uid NP fer -til izer 2.5 ml/l com bined with NPK (15-15-15) 800 kg/ha.
Keragaman Genetik Plasma Nutfah Rambutan di Indonesia Berdasarkan Karakter Morfologi Kuswandi Kuswandi; Sobir Sobir; Willy Bayuardi Suwarno
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p289-298

Abstract

Rambutan merupakan tanaman menyerbuk silang sehingga secara alami memiliki keragaman tinggi. Penelitian bertujuan mempelajari kemiripan genetik dan pengelompokan aksesi plasma nutfah rambutan (Nephelium lappaceum) dan kapulasan (Nephelium ramboutan-ake) di Indonesia berdasarkan karakteristik morfologi. Penelitian dilakukan di (1) Kebun Percobaan (KP) Aripan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, (2) KP Subang Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, (3) KP Cipaku Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, dan (4) Kabupaten Limapuluh Kota (Sumatera Barat), pada bulan Juni 2013 sampai Februari 2014. Karakterisasi sifat morfologi dilakukan terhadap 29 aksesi rambutan dan empat aksesi kapulasan mengacu pada descriptor for rambutan yang diterbitkan IPGRI. Perhitungan koefisien ketidakmiripan antaraksesi dilakukan dengan metode Gower. Analisis nominal logistic biplot dilakukan untuk melihat sifat penciri dari suatu kumpulan aksesi. Analisis keragaman genetik dapat membedakan kelompok rambutan dan kapulasan dengan koefisien ketidakmiripan rerata sekitar 55%. Berdasarkan kerapatan tandan, rambutan dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok, yaitu aksesi yang memiliki tandan sangat jarang, jarang, sedang, rapat, dan sangat rapat. Aksesi dengan tandan rapat sampai sangat rapat antara lain aksesi Gendut Kair, Tangkue, dan Aceh Gendut, sedangkan semua aksesi kapulasan memiliki tandan yang sangat jarang. Berdasarkan ketebalan kulit buah, semua aksesi rambutan memiliki ketebalan kulit sedang sampai tebal, sedangkan aksesi Sibabat diketahui memiliki kulit yang sangat tebal.

Page 70 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue