cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengaruh Varietas dan Cara Aplikasi GA3 terhadap Pembungaan dan Hasil Biji Bawang Merah di Dataran Tinggi Sulawesi Selatan Nani Sumarni; Neni Gunaeni; Sartono Putrasamedja
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n2.2013.p153-163

Abstract

Masalah utama dalam produksi biji bawang merah (TSS) di Indonesia ialah kemampuan berbunga dan menghasilkan biji TSS masih rendah dan faktor iklim terutama panjang hari yang pendek (<12 jam) dan rerata temperatur udara yang cukup tinggi (>18oC) di Indonesia kurang mendukung terjadinya inisiasi pembungaan. Aplikasi giberelin (GA3) dapat menggantikan seluruh atau sebagian fungsi temperatur rendah dan hari panjang untuk inisiasi pembungaan. Penelitian lapangan dilakukan di dataran tinggi Malino, Sulawesi Selatan dari Bulan Februari sampai Oktober 2012, untuk mengetahui pengaruh varietas-varietas bawang merah Balitsa dan cara aplikasi GA3 terhadap pembungaan dan hasil biji bawang merah. Rancangan percobaan yang digunakan ialah petak terpisah dengan empat ulangan. Petak utama ialah dua varietas bawang merah Balitsa (Mentes dan Pancasona). Anak petak ialah empat cara aplikasi GA3 (tanpa, perendaman bibit dalam GA3, penyemprotan tanaman dengan GA3 pada umur 3 dan 5 minggu setelah tanam, dan kombinasi perendaman bibit dan penyemprotan tanaman dengan GA3). Konsentrasi GA3 yang digunakan ialah 200 ppm. Sebelum ditanam, umbi bibit berukuran besar (5 g/umbi) diberi perlakuan vernalisasi (10oC) selama 4 minggu. Pemupukan yang diberikan ialah 1000 kg/ha NPK 16-16-16 dan 15 t/ha pupuk kandang. Tanaman tagetes ditanam di sekeliling petak-petak percobaan untuk menarik serangga polinator. Naungan plastik transparan dipasang setelah tanaman bawang merah berbunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara varietas dan cara aplikasi GA3 terhadap pertumbuhan tanaman, pembungaan, pembuahan/polinasi, dan hasil biji bawang merah. Varietas bawang merah Pancasona menghasilkan jumlah tanaman yang berbunga dan jumlah umbel bunga per petak tidak berbeda nyata dengan varietas Mentes, namun jumlah umbel bunga yang berbuah dan hasil biji TSS per petaknya nyata lebih tinggi. Cara aplikasi GA3 paling baik dan efisien terhadap pembungaan, pembuahan, dan hasil biji bawang merah (TSS) ialah perendaman umbi bibit selama 30 menit pada larutan 200 ppm GA3. Hasil biji TSS paling tinggi terdapat pada varietas Pancasona dengan cara perendaman umbi bibit sebelum tanam pada larutan 200 ppm GA3 selama 30 menit, yaitu sebesar 205,66 g/12 m2 atau setara 137,11 kg/ha (efisiensi lahan 80%). Hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi petani untuk mandiri memproduksi benih bawang merah yang sehat dan berdaya hasil tinggi.
Uji Adaptasi Klon Kentang Hasil Persilangan Varietas Atlantik sebagai Bahan Baku Keripik Kentang di Dataran Tinggi Pangalengan Kusmana Kusmana
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n4.2012.p342-348

Abstract

Industri besar yang mengolah keripik kentang masih sangat jarang karena terbatasnya bahan baku. Keterbatasan bahan baku tidak hanya terjadi pada industri besar dan menengah, namun industri kecil pun kesulitan untuk mendapatkan bahan baku yang sesuai dengan keinginan pengolah. Tujuan penelitian ialah mendapatkan klon kentang yang sesuai untuk bahan baku keripik dan berdaya hasil tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kampung Cibunian, Desa Pangalengan, Kabupaten Bandung dengan ketinggian tempat 1300 m dpl., dari Bulan September sampai dengan Desember 2011. Penelitian ditata dalam rancangan acak kelompok dengan 20 perlakuan dan tiga ulangan. Jumlah tanaman per plot 20 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotip CV 9 menampilkan hasil tertinggi (31,9 t/ha) diikuti CV 2, (29,2 t/ha), CV 6 (25 t/ha), dan CV 14 (24,4 t/ha) nyata lebih tinggi daripada varietas pembanding Atlantik (9,8 t/ha). Untuk olahan keripik terbaik ialah genotip  CV 4, CV 14, CV 12, CV 9, dan CV 13 menampilkan hasil gorengan sebanding dengan varietas Atlantik. Genotip CV 9 dan CV 14 selain berpotensi hasil tinggi, juga cocok digunakan sebagai bahan baku olahan keripik. Hasil dari penelitian ini diharapkan diperoleh klon baru yang menjadi komponen industri pengolahan kentang, baik skala besar maupun skala rumah tangga.  
Optimasi Jarak Tanam dan Dosis Pupuk NPK untuk Produksi Bawang Merah dari Benih Umbi Mini di Dataran Tinggi N Sumarni; R Rosliani; - Suwandi
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p148-155

Abstract

ABSTRAK. Benih umbi mini bawang merah (shallots set) adalah benih umbi berukuran kecil (<3 g/umbi) yang dihasilkan dari biji botani bawang merah (True Shallot Seeds). Penggunaan benih umbi mini belum umum dilakukan pada budidaya bawang merah di Indonesia. Penelitian bertujuan mendapatkan jarak tanam dan dosis pemupukan NPK untuk produksi umbi bawang merah dari benih umbi mini di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 m dpl.) dengan jenis tanah Andisol, dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2009. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok dengan tiga ulangan dan 12 perlakuan, yaitu tiga taraf jarak tanam (5 x 20 cm, 10 x 20 cm, dan 15 x 20 cm), yang dikombinasikan dengan empat taraf dosis pupuk NPK (½ ; 1,0; 1,5; dan 2,0 dosis NPK standar), dan satu perlakuan kontrol yang menggunakan benih umbi konvensional (5 g/umbi) dengan jarak tanam 15 x 20 cm dan 1,0 dosis pupuk NPK standar. Dosis NPK standar ialah N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, dan K2O 120 kg/ha. Benih umbi mini dan benih umbi konvensional yang digunakan ialah varietas Bima Brebes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tanaman yang berumbi (dapat dipanen) paling banyak (39,10%) terdapat pada perlakuan jarak tanam 15 x 20 cm dan dosis pupuk NPK yang rendah (N 95 kg/ha, P2O5 46 kg/ha, dan K2O 60 kg/ha) menggunakan benih umbi mini dibanding perlakuan yang lain (14,66–33,22%). Perlakuan tersebut juga berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan menggunakan benih umbi konvensional (24,99%). Jarak tanam 15 x 20 cm dengan dosis N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, dan K2O 120 kg/ha merupakan jarak tanam dan dosis pupuk NPK optimal untuk produksi umbi bawang merah asal benih umbi mini, yang menghasilkan bobot umbi kering eskip sebesar 35,48 g/tanaman. Penggunaan benih umbi mini dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil umbi bawang merah, serta mengurangi (tonase) penggunaan benih umbi per satuan luas.  ABSTRACT. Sumarni, N, Rosliani, R, and Suwandi 2012. Optimization of Plant Distance and NPK Dosage to Produce Shallots from Shallots Set in Highland. Shallots set is small seed bulb derived from true shallot seeds (TSS).  Using of the shallots set in shallots production is not common yet in Indonesia. The objective of this research was to find out the optimum plant distance in combination with NPK dosage to produce shallots bulb from shallots set in highland. The experiment was conducted at the Experimental Garden of the Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang (1,250 m asl.) on Andisol soil, from August to December 2009. A randomized complete block design with three replications was applied in the study. There were 12 treatments, viz. three levels of plant distance of 5 x 20 cm, 10 x 20 cm, and 15 x 20 cm that were combined with the application of four levels of standard dosage of NPK, viz. 0.5; 1.0; 1.5; and 2.0 NPK standard dosage, and one treatment as a control using bulb (5 g/set) with 15 x 20 cm planting distance,  and a NPK standard fertilization (N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, and K2O 120 kg/ha). Bima Brebes cultivar was used as a planting material source for developing TSS, mini bulbs, and bulbs as generally applied in conventional cultivation.  Research results revealed that the highest number of bulbed-plant harvested in the experiment 39.10% was recorded on shallots set cultivated using plant distance of 15 x 20 cm and NPK dosage of N 95 kg/ha, P2O5 46 kg/ha, and K2O 60 kg/ha compared to other treatments (14.66–33.22%). The treatment also gave higher results compared to conventional cultivation using bulbs (24.99%). The optimum plant distance and NPK dosage to produce shallots bulb from shallots set in highland was 15 x 20 cm and N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, and K2O 120 kg/ha that resulted in 35.48 g dry weight of shallots bulb per plant. The application of shallots set could increase the quantity and quality of shallots yield, and reduced quantity of bulbs needed per hectare.
Analisis Keragaman Genetik Manggis dalam Satu Pohon S Noorrohmah; Sobir Sobir; Darda Effendi
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p106-112

Abstract

Manggis (Garcinia mangostana) termasuk dalam kelompok Garcinia, merupakan tanaman asli dari Asia Tenggara. Manggis memiliki sistem reproduksi melalui mekanisme apomiksis yang bijinya terbentuk tanpa fertilisasi. Manggis termasuk tanaman apomiksis obligat, progeni yang dihasilkan akan memiliki kesamaan genotip dengan tanaman induk. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan adanya keragaman genetik antaraksesi manggis. Penelitian bertujuan mengetahui keragaman morfologi dan genetik dalam satu pohon. Sampel tanaman yang digunakan berasal dari empat generasi manggis (P1, P2, P3, dan P4) Wanayasa, Purwakarta. Pengambilan sampel berdasarkan ketinggian tanaman dan masing-masing ketinggian dibagi menjadi empat sektor (utara, timur, selatan, dan barat). Penelitian meliputi tiga analisis, yaitu morfologi, molekuler dengan ISSR, dan data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman morfologi dan genetik dalam satu pohon. Keragaman morfologi lebih besar dari pada genetik. Tingkat keragaman morfologi sebesar 18–43%, sedangkan keragaman genetik adalah 2–17%.
Pengaruh Naungan Plastik dan Fungisida Berbahan Aktif Asam Fosfit terhadap Perkembangan Penyakit dan Produksi Tomat (Effect of the Rain Shelters and Fungicide with Phosphorous Acid’s Ingredient on Diseases Infestation and Production of Tomatoes) Eli Korlina; Evy Latifah; Kuntoro Boga Andri
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p89-96

Abstract

Kendala utama yang dihadapi pada budidaya tomat di musim penghujan ialah serangan penyakit tanaman. Upaya yang telah dilakukan petani ialah dengan menggunakan fungisida. Salah satu alternatif cara pengendalian yang ramah lingkungan, yaitu penanaman tomat menggunakan naungan yang dikombinasikan dengan biofungisida. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Karangploso Malang, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, pada bulan Desember 2013 sampai dengan April 2014, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh naungan plastik dan fungisida berbahan aktif asam fosfit terhadap perkembangan penyakit dan produksi tomat. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama ialah sistem tanam (S) terdiri atas S0 (lahan terbuka) dan S1 (naungan plastik). Faktor kedua ialah jenis fungisida (F) terdiri atas F0 (tanpa fungisida) F1 (fungisida berbahan aktif asam fosfit), F2 (fungisida berbahan aktif azoxystrobin 200 g/l dan difenokonazol 125 g/l). Tiap kombinasi perlakuan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naungan plastik dan fungisida tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan lebar kanopi), namun naungan plastik dan fungisida secara tunggal berpengaruh nyata terhadap perkembangan penyakit layu dan busuk kering. Jumlah dan bobot tomat yang diperoleh dari perlakuan di bawah naungan plastik maupun yang diperlakukan dengan fungisida berbahan aktif asam fosfit, lebih tinggi daripada perlakuan lainnya. Penerapan dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menekan penyakit tanaman tomat dan fungisida berbahan aktif asam fosfit dapat dijadikan substitusi fungisida yang sudah ada.KeywordsLycopersicon lycopersicum L; Naungan plastik; Asam fosfit; Penyakit tanaman; ProduksiAbstractThe major constraint of the tomato cultivation during the rainy season is plant diseases’s attack. Farmers have been using chemicals to cope it. Tomato cultivation using rain shelter combined with biofungicides is one of the environmentally friendly technology to control diseases. The study was conducted during December 2013 to April 2014 at Karangploso Experimental Field in Assessment Institute for Agriculture Technology in Malang, East Java. The aim of the study was to determine the effect of rain shelter and phosphorous acid fungicide active ingredient toward development of the tomato’s disease and production. Factorial randomized block design was used with the two factors. The first factor was planting system (S) i.e. S0 (open field) and S1 (rain shelter). The second factor was fungicides (F) i.e (F0 = without fungicide, F1 = the phosphorous acid fungicide active ingredient, and F2 = the fungicide active ingredient is azoxystrobin 200 g/l and difenokonazol 125 g/l). The results showed that the rain shelter and fungicides have no significant effect on plant growth (height and width of the canopy). It was found that the rain shelter as a single factor had affected the development of wilt and leaf spot diseases, significantly. The tomato production under the rain shelter with application active fungicide ingredient phosphorous acid was higher compared to other treatments. Result of this study is expected to be implemented in control of the tomato plant diseases.
Respons Pertumbuhan dan Produksi Pepaya terhadap Pemupukan Nitrogen dan Kalium di Lahan Rawa Pasang Surut - Martias; F Nasution; - Noflindawati; Tri Budiyanti; Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n4.2011.p324-330

Abstract

Pepaya sangat potensial dibudidayakan di lahan rawa pasang surut, tetapi ketersediaan hara dalam tanahnya tergolong rendah. Nitrogen dan kalium merupakan hara yang relatif banyak dibutuhkan pepaya, sehingga budidaya pepaya di lahan rawa pasang surut perlu penambahan hara tersebut melalui pemupukan. Penelitian dilakukan di lahan rawa pasang surut eks proyek lahan gambut (PLG) sejuta hektar di Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah dari bulan Juni 2007 sampai April 2008. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui pengaruh pemberian hara N dan K terhadap pertumbuhan dan produksi pepaya. Benih pepaya yang digunakan ialah varietas Merah Delima. Penelitian disusun dengan rancangan acak kelompok  faktorial dengan tiga ulangan. Faktor I ialah takaran pupuk nitrogen yaitu 0, 125, 250, 375 g/tanaman dan faktor II ialah takaran pupuk kalium (K20) yaitu 0, 150, 300, 450 g/tanaman. Tiap unit perlakuan terdiri atas 10 tanaman. Parameter yang diamati meliputi sifat kimia tanah, pertumbuhan vegetatif, dan produksi tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa  ketersediaan N, P, dan Fe di lokasi penelitian tergolong sangat tinggi, K rendah, sedangkan Ca dan Mg sangat rendah. Pemupukan N hingga taraf 375 g/tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan pertumbuhan vegetatif tanaman pepaya. Namun pada fase produktif (10 bulan setelah tanam), panjang buah secara nyata meningkat dengan pemberian N 250 g/tanaman. Pemberian K2O pada taraf 300g/tanaman secara nyata meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan produksi tanaman (jumlah, bobot, panjang, dan PTT), sedangkan pemberian K2O yang melebihi 300 g/tanaman mengakibatkan penurunan pertumbuhan, produksi, dan kualitas buah. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan penelitian dan penyusunan rekomendasi pemupukan pepaya di lahan rawa pasang surut. Papaya has opportunity to be cultivated in tidal swamp land but the availability of its nutrient in the soil is low.  Nitrogen and potassium are the major nutrients needed by papaya, so that the nutrient should be added through fertilization. The research was conducted in tidal swamp land in Mantangai, Kapuas, Central Kalimantan Province, from June 2007 to April 2008. The objective of this research was to investigate the effect of nutrient N and K on growth and production of papaya in tidal swamp land. Merah Delima variety was used as a seed in this research. The factorial experiment was arranged in a randomized block design with three replications.The first factor was dosage of nitrogen of 0, 125, 250, and 375 g/plant and the second factor was amount of potassium (K2O) from 0, 150, 300, and 450 g/plant. Each unit of treatment consisted of 10 plants. The parameters observed include the chemical properties of soil, vegetative growth, and crop production. The results showed that the availability of  N, P, and Fe at the research location was classified as very high, whereas K was low, Ca and Mg were very low. Nitrogen fertilization up to level 375 g/plant did not significantly increase the vegetative growth of papaya plants because of its high availability of the nutrition on the soil. However, in the productive phase (10 months after planting), fruit length was significantly increased with application of N in dose 250 g/plant. Application of K2O fertilizer on 300/plant increased significantly vegetative growth and yield (number of fruit, fruit weight, fruit length, and TSS), whereas application of more than 300 g/plant decreased their growth, yield, and fruit quality. The results can be used as the basis to arrange and formulate fertilizer recommendation on papaya  which is mainly grown on tidal swamp land.
Pemanfaatan Pupuk Organik Cair dan Teknik Penanaman Dalam Peningkatan Pertumbuhan dan Hasil Kentang A.E. Marpaung; B. Karo; R. Tarigan
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p49-55

Abstract

Kentang merupakan salah satu komoditi hortikultura yang kebutuhannya sangat tinggi di pasaran. Namun saat ini produktivitas kentang masih kurang bagus dan masih dibutuhkan suatu tindakan, sehingga produktivitasnya tinggi. Rendahnya produktivitas di antaranya disebabkan pengelolaan budidaya yang belum optimal. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk organik cair dan teknik penanaman yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kentang. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl., jenis tanah Andisol yang dilaksanakan dari Bulan Agustus sampai Nopember 2012. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas dua faktor, faktor I ialah dosis pupuk organik cair (C0 = tanpa pupuk organik cair, C1 = pupuk organik cair 3 ml/l air, C2 = pupuk organik cair 6 ml/l air, dan C3 = pupuk organik cair 9 ml/l air) dan faktor 2 ialah teknik penanaman (T1 = tanpa mulsa, T2 = memakai mulsa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik cair dengan dosis 6 ml/l air dan teknik penanaman dengan mulsa dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman kentang sebesar 84,48 dan 98,68% pada umur 1bulan setelah tanam dan 2 bulan setelah tanam. Teknik penanaman kentang menggunakan mulsa dapat menekan serangan penyakit Phytophthora infestans sebesar 32,25% dibandingkan penanaman tanpa mulsa. Pemberian pupuk organik cair dengan dosis 6 ml/l air dan penanaman menggunakan mulsa dapat meningkatkan produksi per plot (95,27%) dan persentase kelas umbi besar (44,27 – 128,77%), serta mengurangi kelas umbi kecil (60,93 – 119,04%).
Lesio sebagai Komponen Tanggap Buah 20 Galur dan atau Varietas Cabai terhadap Inokulasi Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides Iteu Margareta Hidayat; Ine Sulastrini; Yeni Kusandriani; A. H. Pemadi
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n3.2004.p161-171

Abstract

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengevaluasi tanggap dari buah cabai pada sta dia hijau dan merah, dan untukmenentukan taraf resistensi dari 20 galur dan atau varietas cabai terhadap inokulasi Colletotrichum capsici danColletotrichum gloeosporioides. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap dengan tiga ulangandan penelitian dilaksanakan di Rumahkasa dan Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran, dari bulan Maretsampai Desember 1999. Tanggap buah cabai terhadap C. capsici dan C. gloeosporioides dievaluasi berdasarkan lebardan panjang lesio, di am e ter lesio, dan nisbah panjang/lebar lesio. Penentuan taraf resistensi berdasarkan taraf bedanyata Duncan P<0,05, dari di am e ter lesio pada hari keempat setelah inokulasi, dan pengelompokan denganmenggunakan pro gram systat. Buah pada sta dia hijau galur No. 327 dan serrano menunjukkan taraf resistensi yanglebih tinggi terhadap C. capsici; sedangkan buah pada sta dia merah jalapeno, serta buah hijau dan merah MC11resisten terhadap C. capsici dan C. gloeosporioides.AB STRACT. Hidayat, I. M., I. Sulastrini, Y. Kusandriani, and A.H. Permadi. 2004. Le sion as com po nent offruit re sponse of 20 lines and or va ri et ies of chilli pep per to in oc u la tion of Colletotrichum capsici andColletotrichum gloeosporioides. The ob jec tives of the ex per i ment were to eval u ate the re sponses of green and redfruits, and to de ter mine the re sis tant level of 20 lines and or va ri et ies of chilli pep per to both fungi through woundinoculation of C. capsici and C. gloeosporioides. The ex per i ment was ar ranged in com pletely ran dom ized de sign withthree rep li cates, and con ducted in Screenhouse and Lab o ra tory, of the In do ne sian Veg e ta bles Re search In sti tute,(IVEGRI) Lembang, from March to De cem ber 1999. The re sponses were eval u ated based on width and length of le -sion, di am e ter of le sion, and the ra tio of length/width le sion. De ter mi na tion of re sis tant level based on Duncan mul ti -ple range test P<0.05 and systat programme on le sion di am e ter at 4 days af ter in oc u la tion. Green fruits of the va ri et iesNo. 327 and serrano showed a higher re sis tance level to C. capsici; whereas red fruits jalapeno as well as green and redfruits of MC11 con sis tently re sis tant to both C. capsici and C. gloeosporioides.
Evaluasi Nilai Heterosis dan Heterobeltiosis Beberapa Persilangan Mentimun (Cucumis sativus L.) pada Berbagai Altitud [Evaluation of Heterosis and Heterobeltiosis Value of Some Cucumber Crosses (Cucumis sativus L.) at Different Altitude] Gungun Wiguna; Uun Sumpena
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p1-8

Abstract

Pemanfaatan efek heterosis dalam perakitan varietas hibrida sering dilakukan untuk meningkatkan produksi hasil pertanian. Identifikasi ekspresi heterosis dan heterobeltiosis dari suatu persilangan perlu dilakukan karena tidak semua persilangan memberikan efek heterosis dan heterobeltiosis yang dikehendaki. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kombinasi persilangan yang menunjukkan nilai heterosis dan heterobeltiosis terbaik untuk karakter kegenjahan, agronomi, dan daya hasil. Evaluasi nilai heterosis dan heterobeltiosis dilakukan terhadap 10 kombinasi persilangan dan lima galur tetua di dua lokasi dengan altitud yang berbeda (100 m dpl dan 1.250 m dpl). Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah ruas, jumlah cabang, umur panen pertama, jumlah buah per tanaman, berat buah per tanaman, berat per buah, panjang buah, dan diameter buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persilangan yang berumur genjah dengan nilai heterosis dan heterobeltiosis negatif dihasilkan oleh persilangan P2 x P5. Kombinasi persilangan yang memiliki potensi produksi tinggi dengan nilai heterosis dan heterobeltiosis positif dan tinggi di dataran tinggi maupun rendah dihasilkan oleh P2 x P5. Persilangan yang memiliki efek heterosis dan heterobeltiosis tinggi untuk beberapa karakter di dataran tinggi dihasilkan oleh P1 x P2. Persilangan yang memiliki efek heterosis dan heterobeltiosis tinggi untuk karakter agronomi di dataran rendah ialah P3 x P4. Ketiga persilangan tersebut dapat diuji lebih lanjut untuk menghasilkan varietas hibrida berumur genjah, karakter agronomi baik, dan produktivitas tinggi.KeywordsCucumis sativus; Heterosis; Heterobeltiosis; Persilangan dialelAbstractUtilization of heterosis effect in developing new hybrid is often done to increase agricultural production. Identification expression of heterosis and heterobeltiosis of a cross is necessary because not all crosses showed desired effect of heterosis and heterobeltiosis. The aims of this study was to identify the cross combinations showed best value of heterosis and heterobeltiosis for early maturity, agronomy, and yield characters. Evaluation of value of heterosis and heterobeltiosis performed on 10 cross combinations and five parental lines at two locations with different altitude (100 m asl and 1,250 m asl). The research was designed using randomized block design with three replications. Data of plant height, number of nodes, number of branches, the time to first harvest, number of fruits per plant, fruit weight per plant, weight per fruit, fruit length, and fruit diameter were collected. The results showed that early maturity cross with the negative value of heterosis and heterobeltiosis produced by cross of P2 x P5. Cross combination that had positive and high value of heterosis and heterobeltiosis for some character on upland generated by P2 x P5. Cross that had a good heterosis and heterobeltiosis effect for some characters in the upland generated by P1 x P2. Cross that had a good heterosis effect on the agronomic characters on lowland was generated by P3 x P4. The three crosses could be tested further for obtained early maturity, good agronomy character, and high yielding hybrid variety.
Respons Pertumbuhan Cabai dan Selada terhadap Pemberian Pukan Kuda dan Pupuk Hayati Rosliani, R., A. Hidayat, dan A. A. Asandhi Rini Rosliani; A. Hidayat; Azis Azirin Asandi
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n4.2004.p258-268

Abstract

Percobaan dilaksanakan di Rumahkasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang 1.250 m dpl dari Juli 2001sampai Januari 2002. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui keragaan pukan kuda dan pupuk hayati terhadappertumbuhan dan hasil sayuran cabai dan selada yang ditanam dalam pot. Rancangan percobaan menggunakan acaklengkap dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas pukan kuda 0,7 kg + 33 g NPK per pot (isi 10 kg) atau setara 20 t/ha+ pupuk NPK 1 t/ha sebagai kontrol, lima dosis pemberian pukan kuda tanpa pupuk NPK dan lima dosis pukan kuda +pupuk hayati (mikroba berguna: lactobacillus, mikoriza, dan saccharomyces) tanpa pupuk NPK. Dosis pukan kudayang digunakan yaitu 1, 2, 3, 4, dan 5 kg per pot atau setara 30, 60, 90, 120, dan 150 t/ha. Hasil percobaanmenunjukkan bahwa pemberian pukan kuda dan pupuk hayati meningkatkan tinggi tanaman dan hasil panen seladaserta meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, luas daun, biomassa tanaman, hasil buah cabai, serapan hara, dankandungan hara tanah. Pukan kuda 3 kg per pot (90 t/ha) atau 2 kg per pot (60 t/ha) dengan pupuk hayati merupakanperlakuan yang terbaik dalam menghasilkan buah cabai. Peningkatan hasil cabai pada kedua dosis tersebutmasing-masing adalah 1.316 dan 1.194% dibandingkan dengan kontrol (0,7 kg per pot pukan kuda + 33 g NPK atau 20t/ha pukan kuda + 1 t/ha pupuk NPK). Untuk tanaman selada, perlakuan terbaik adalah pukan kuda 1 kg per pot (30t/ha) atau meningkatkan 69% dibandingkan dengan kontrol (20 t/ha pukan kuda + pupuk NPK).Kata kunci : Cap si cum annuum; Lactuva sativa; Pukan kuda; Mikroba; Lactobacillus; Mikoriza; Saccharomyces;Kesuburan tanah; Pertumbuhan; HasilAB STRACT. Rosliani, R., A. Hidayat, and A.A. Asandhi. 2004. Re sponse of ap pli ca tion of horse ma nure andbiofertilizer on hot pep per and let tuce growth. Ex per i ment was con ducted in a Screenhouse of In do ne sian Veg e ta -bles Re search In sti tute, 1,250 m asl, from July 2001 un til Jan u ary 2002. The ob jec tive of the ex per i ment was to findout the per for mance of or ganic mat ter and biofertilizer in put on the growth and the yield of hot pep per and let tuceplanted in the pot. The ex per i men tal de sign used was com pletely ran dom ized de sign with three rep li ca tions. The treat -ments con sist of ap pli ca tion of 0.7 kg horse ma nure + 33 g NPK per pot (con tent of 10 kg) or about 20 t/ha or ganic mat -ter + 1 t/ha NPK, five kinds ap pli ca tion of horse ma nure with out syn thetic anorganic fer til izer (NPK), and five kindsap pli ca tion of horse ma nure + biofertilizer (ben e fi cial mi crobe: lactobacillus, my cor rhi za, and saccharomyces) with -out syn thetic anorganic fer til izer (NPK). Dos age of horse ma nure was 1, 2, 3, 4, and 5 kg per pot or about 30, 60, 90,120, and 150 t/ha. The re sults showed that ap pli ca tion of horse ma nure and biofertilizer in creased plant height andyield of let tuce and in creased plant height, leaf area, plant bio mass, yield of hot pep per, its nu tri ent up take, and soil nu -tri ent con tent. Horse ma nure sin gly at 3 kg per pot (90 t/ha) or 2 kg per pot (60 t/ha) + biofertilizer were the best treat -ment in terms of yield of hot pep per. These two dos ages could in crease hot pep per yield by 1,316 and 1,194%,re spec tively, com pared to con trol (0.7 kg horse ma nure per pot + 33 g NPK per pot or about 20 t/ha horse ma nure + 1t/ha NPK). The best treat ment for let tuce yield was 1kg/pot horse ma nure or 30 t/ha horse ma nure). The yield in creasewas 69% com pared to con trol (0.7 kg horse ma nure per pot + 33 g NPK per pot or about 20 t/ha horse ma nure +anorganic NPK fer til izer).

Page 69 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue