cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Evaluasi Daya Hasil dan Adaptasi Klon- klon Harapan Krisan Antoro Wasito; Budi Marwoto
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n3.2003.p1-6

Abstract

Lima belas klon harapan krisan ditanamkan di lokasi dengan tinggi 700 , 800 , dan 1.200 m di atas permukaan laut menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, pada bulan Oktober 2000 sampai dengan Maret 2001. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh klon-klon krisan yang berdaya hasil tinggi untuk persiapan pelepasan varietas baru. Luaran yang diharapkan adalah lima klon krisan yang berdaya hasil tinggi dan adaptif terhadap kondisi lingkungan di sentra-sentra produksi krisan. Hasil penelitian mendapatkan lima klon krisan yang adaptif dan berdaya hasil tinggi yang selanjutnya dapat direkomendasikan untuk pelepasan varietas baru. Kata kunci; Krisan; Klon harapan; Daya hasil; Adaptasi ABSTRACT. Fiveteen promising clones of chrysanthemum were planted at three locations with eleva- tion 700, 900, and 1,200 m. above sea level. A randomized design with three replications, and conducted from October 2000 to March 2001. The objective of this experiments was to evaluate the potential yield and adaptation of breeder promising clones related to selection method on chrysanthemum breeding program for releasing varieties. The results showed that five clones of chrysanthemum possesed superior characteristics i.e high yielding potential and adaptive that should be recommended for releasing varieties.
Laju Perubahan Mutu Kubis Bunga Diolah Minimal pada Berbagai Pengemasan dan Suhu Penyimpanan Darkam Musaddad; I S Setiasih; R Kastaman
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n2.2013.p184-194

Abstract

Pengolahan minimal merupakan salah satu invensi teknologi penting dalam mengatasi dinamika sosial konsumen yang dalam memenuhi kebutuhannya menginginkan kecepatan, kemudahan, dan keamanan. Namun demikian, luka akibat pengolahan minimal dapat mempercepat penurunan mutu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengemasan terhadap perubahan mutu kubis bunga diolah minimal (KBDM) selama penyimpanan pada berbagai suhu. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisiologi Pascapanen, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang mulai dari Bulan Januari sampai Juni 2012. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok pola split plot diulang tiga kali dengan suhu penyimpanan sebagai petak utama, terdiri atas empat taraf yaitu 0, 5, dan 10 oC dengan RH 90±2%, serta suhu kamar dengan RH 80 ± 5% dan teknik pengemasan sebagai anak petak terdiri atas empat taraf (tanpa bungkus, dibungkus stretch film, dibungkus PE 0,03, dan dibungkus PE 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pengemasan menggunakan pembungkus terbukti meningkatkan hasil guna pendinginan dalam mempertahankan mutu KBDM. Pada penyimpanan suhu dingin, kemasan dengan pembungkus PE 0,05 menunjukkan laju penurunan mutu paling lambat, sedangkan pada penyimpanan suhu kamar, tingkat penurunan mutu KBDM paling lambat ditunjukkan oleh kemasan dengan pembungkus stretch film. Hasil penelitian ini memberikan informasi teknologi penanganan segar sayuran diolah minimal, sehingga dapat disimpan lebih lama.
Kompatibilitas Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Trichoderma harzianum untuk Mengendalikan Ralstonia solanacearum pada Tanaman Kentang Budi Marwoto; Hanudin -; Hersanti -; Agus Muharam
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p173-180

Abstract

ABSTRAK. Dalam usaha budidaya kentang dijumpai berbagai kendala yang menekan produktivitas tanaman.  Salah satu kendala yang paling penting yaitu patogen tular-tanah yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum E. F. Smith. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa patogen ini dapat menimbulkan kehilangan hasil tanaman kentang  40–100%. Salah satu alternatif yang paling prospektif dalam mengendalikan R. solanacearum ialah dengan mengaplikasikan mikrob antagonis yang diisolasi dari alam. Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Trichoderma harzianum merupakan mikrob antagonis yang mampu mengendalikan patogen yang terbawa tanah sampai 70% dan mampu meningkatkan produksi tanaman sampai 40%. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi kompatibilitas mikrob antagonis dan dapat mengendalikan R. solanacearum pada tanaman kentang.  Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, dan Laboratorium Bakteriologi Balai Penelitian Tanaman Hias,  pada bulan Maret sampai dengan Desember  2009. Dari hasil penelitian ini diperoleh dua nomor isolat bakteri yaitu P. fluorescens yang diisolasi dari rizosfer krisan, Segunung (Pf2), B. subtilis berasal dari IPB (Bs 12), dan satu isolat T. harzianum berasal dari Universitas Gadjah Mada (Th 1) kompatibel pada media yang banyak mengandung protein (King’s B), tetapi tidak kompatibel pada media yang banyak mengandung karbohidrat (potato dextrose agar). Indikatornya ialah indeks kompatibilitas ≤1. Aplikasi B. subtilis secara tunggal merupakan perlakuan yang paling efektif mengendalikan R. solanacearum pada kentang. Hal tersebut ditunjukkan oleh persentase penekanan perlakuan tersebut paling besar (35,27%) bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, kecuali perlakuan gabungan antara Bs 12, Pf 2, dan Th 1 yang sama-sama menunjukkan persentase penekanan sebesar 35,27%.ABSTRACT. Hanudin, Marwoto, B, Hersanti, and Muharam, A 2012. Compatibilities of Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, and Trichoderma harzianum to Control Ralstonia solanacearum on Potato.   Among the vegetable crops cultivated by farmers, potato is the most important one.  In cultivating the crop, farmers has faced many problems, the most important one is wilt disease caused by Ralstonia solanacearum E. F. Smith.   Based on the available data known that the disease reduces 40–100% of the total production.  One of the alternative methods control which was more environmentally friendly applied by the use of antagonistic microbes isolated from the soil.  Bacillus subtilis, P. fluorescens, and T. harzianum were abundance in the soil and easily be isolated from rhizosfer.  The bacteria are reported to be effective to control soilborn pathogens in the field.  Based on the preliminary research proven that the bacteria could reduce 70% of the total soilborn pathogens in the soil and increase crop production up to 40%.  The objective of  this study was to determine information of compatibilities between antagonistic microbe and bacterial wilt which had control on potato. The research  were conducted in Laboratory and  Greenhouse of the Padjadjaran University, Indonesian Vegetable Research Institute, and Indonesian Ornamental Crops Research Institute, on March to December 2009. The results showed that  isolates of P. fluorescens (Pf2), B. subtilis (Bs12),  and T. harzianum (Th1) were compatible on medium which containing protein (King’s B), but were not copmatible on medium containing carbohydrate (PDA). The indicator is compatibility index ≤1. Single application of B. subtilis  was  effective to  control  R. solanacearum on potato, suppression wilt biggest (35,27%), if compared with other treatments except combination between Bs 12, Pf 2, and Th 1 treatments was 35,27 % too. 
Penyakit Layu Panama pada Pisang: Observasi Ras 4 Fusarium oxysporum f. sp. cubense di Jawa Barat N Nasir; Jumjumidang -; Y Meldia
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n4.2003.p269-275

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui keberadaan ras 4 F. oxysporum f. sp. cubense (Foc) di daerah pertanaman pisang rakyat di Jawa Barat, serta kultivar pisang yang diserangnya. Ras 4 adalah ras Foc yang paling ganas dari patogen tular tanah ini. Pengumpulan data di lapang dilakukan selama 10 hari pada bulan Oktober 1999. Uji ras 4 dengan volatile odour test (VOT) dilakukan di laboratorium Penyakit Balai Penelitian Tanaman Buah Solok, dari bulan Nopember 1999 sampai dengan Februari 2000. Penentuan lokasi pengambilan sampel didasarkan pada daerah yang terserang layu panama yang disebabkan oleh Foc yang diinformasikan oleh Dinas Pertanian Tk. I Jawa Barat. Uji VOT untuk setiap isolat diulang sebanyak lima kali. Selama di lapang, berhasil dikoleksi 18 isolat Foc yang berasal dari 12 kultivar pisang di tujuh lokasi. Enam belas (88,8%) dari 18 isolat menghasilkan aroma aldehid saat VOT dilakukan. Satu isolat tidak menghasilkan aroma aldehid, sedangkan satu isolat lagi tidak dapat dimurnikan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa penyakit layu panama yang menyerang pertanaman pisang di Jawa Barat, didominasi oleh Foc ras 4. Penelitian ini juga mengindikasikan pentingnya pemetaan sebaran Foc, untuk mendukung pengembangan agribisnis pisang Indonesia di masa depan. Kata kunci: Pisang; Fusarium oxysporum f. sp. cubense; Ras 4; Penyakit layu panama; VOT ABSTRACT. The study was  purposed to  investigate F. oxysporum f. sp. cubense (Foc) race 4 in bananas in West Jawa, and cultivars affected. Race 4 is the most virulence race of this soilborne pathogen. Data were collected within 10 days during October 1999. Volatile odour test (VOT) was conducted at the laboratory of Plant Pathology of the Indonesian Fruit Research Institute in Solok, from Novem- ber 1999 to February 2000. Sampling area was chosen on the basis of affected area by panama wilt disease those in- formed by Dinas Pertanian Tk. I, of West Jawa. The test of each isolate was replicated fives times. During this study, 18 Foc isolates have been collected derived from 12 cultivars in seven areas. Sixteen (88,8%) of the 18 isolates pro- duced aldehyde when they were tested with the VOT. One isolate did produce aldehyde odour, while another was con- taminated. Results of this study indicated that panama wilt disease in West Jawa, was dominated by Foc race 4. It also indicated how important of the Foc map was in supporting the future of commercial banana plantations development in Indonesia.
Perubahan Morfologi dan Toleransi Tanaman Kentang Terhadap Suhu Tinggi Tri Handayani; Panjisakti Basunanda; Rudi Hari Murti; Eri Sofiari
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n4.2013.p318-328

Abstract

Cekaman suhu tinggi terjadi apabila suhu lingkungan melebihi suhu optimum yang diperlukan tanaman. Tanaman kentang mengalami berbagai perubahan morfologi tanaman dan umbi, serta penurunan produksi umbi, sebagai respons terhadap suhu tinggi. Penelitian bertujuan untuk mempelajari perubahan morfologi tanaman dan umbi kentang serta toleransi klon-klon kentang terhadap suhu tinggi, dilaksanakan pada Bulan Juli sampai Oktober 2012 di Lembang, 1.250 m dpl. (suhu rerata 20,4°C) dan Subang, 100 m dpl. (suhu rerata 30°C). Dua puluh klon kentang ditanam dalam rancangan acak kelompok lengkap, tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu tinggi menyebabkan tipe tumbuh tanaman lebih tegak, batang memanjang, ukuran daun mengecil, serta permukaan umbi tidak teratur. Toleransi terhadap cekaman suhu tinggi dapat dilihat dari perbedaan produksi umbi pada kondisi lingkungan normal dengan lingkungan tercekam suhu tinggi. Klon Atlantik M, CIP 395195.7, N.1, dan Ping 06 bersifat toleran terhadap cekaman suhu tinggi berdasarkan kecilnya perubahan produksi akibat suhu tinggi. Produksi umbi per tanaman keempat klon tersebut di Subang berturut-turut 188,28; 137,03; 122,58; dan 121,49 g. Klon-klon tersebut dapat dijadikan sebagai materi dalam perbaikan varietas toleran suhu tinggi maupun dalam perbaikan teknologi budidaya kentang di dataran medium.
Teknologi Haploid Anyelir: Studi Tahap Perkembangan Mikrospora dan Seleksi Tanaman Donor Anyelir Suskandari Kartikaningrum; A Purwito; G A Watimena; Budi Marwoto; D Sukma
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n2.2011.p101-112

Abstract

Pengembangan teknologi haploidisasi merupakan salah satu terobosan yang diharapkan mampu mempercepat kebangkitan industri florikultura di Indonesia. Teknologi tersebut dapat menghasilkan tanaman homozigot murni atau tanaman haploid ganda. Tujuan penelitian ialah (1) mengetahui tahap perkembangan bunga, mikrospora, dan viabilitasnya, (2) mendapatkan medium inisiasi yang potensial untuk kultur anter atau mikrospora anyelir. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dan Laboratorium Microtechnique, Departemen Agronomi, Institut Pertanian Bogor, mulai September 2009 sampai dengan Oktober 2010. Bahan tanaman yang digunakan ialah lima genotip Dianthus chinensis. Pengamatan mikrospora dengan pengecatan menggunakan DAPI dan FDA, seleksi medium inisiasi, dan tanaman donor dilakukan dalam penelitian ini. Penelitian ini menghasilkan lima genotip D. chinensis yang memiliki kecepatan anthesis yang relatif sama, yaitu berkisar antara 14-16 hari, mempunyai ciri-ciri spesifik, yaitu adanya perubahan warna anter pada fase perkembangan kuncup bunga yang sama dan pada genotip V11, V13, dan V15 yang memiliki ukuran mikrospora bervariasi. Jumlah mikrospora per anter terbanyak ditemukan pada genotip V11, yaitu 30.400. Rasio tahap perkembangan mikrospora berubah sejalan dengan perubahan tahap perkembangan kuncup bunga dengan persentase late-uninucleate tertinggi (44,64%) pada saat kuncup bunga mencapai ukuran antara 1,31 dan 1,51 cm, dan belum ada perubahan warna anter. Viabilitas mikrospora berkisar antara 40-60% dan persentase tertinggi ditunjukkan oleh genotip V11. Fase perkembangan mikrospora T3 (ukuran kuncup 1,31-1,50 cm, warna anter putih) berpotensi untuk pengujian lebih lanjut. Medium inisiasi yang dipilih ialah medium M2 dan M5 yang akan diuji lebih lanjut. Genotip V11 ditetapkan sebagai tanaman donor utama, sedang genotip lain yang berpotensi yaitu V13 dan V15. Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai langkah awal pembuatan protokol kultur anter tanaman anyelir.The development of haploid technology is one of the breakthrough innovation to fasten the revival of floriculture industry in Indonesia. Homozygous double haploid plants can be produced through this technology. The aims of this research were to determine (1) flower development stage, microspores, and survival, (2) isolation techniques and medium having the potential for initiation of anther or microspores culture of carnation. The study was conducted at the Tissue Culture Laboratory, Indonesian Ornamental Crops Research Institute, Segunung, and the Microtechnique Laboratory, Department of Agronomy, Bogor Agricultural University, from September 2009 to October 2010. Five genotypes of Dianthus chinensis were used in this study. Periodically observations of anther morphology, DAPI and FDA staining, selection of medium, and donor plants were done in this research. The results showed that the D. chinensis genotypes tested had relatively the same growth speed of anther ranged from 14 to 16 days, special characteristics in color change of anther of the flower bud stage development of the same genotype and variation of microspore size among the genotypes V11, V13, and V15. The highest number of microspores per anther was presented in genotype V11 (30,400). The ratio of microspore developmental stage changed in line with flower bud development stage with the highest percentage of late-uninucleate (44.64%) at flower bud size between 1.31 to 1.51 cm, and there was no change in color of anther. Microspore viability ranged between 40 and 60%, and the highest percentage shown by genotype V11. Microspore development phase of  T3 (bud size 1.31-1.50 cm, white anther color) had potential for further testing. The selected initiation media were M2 and M5, which will be examined further. Genotype V11 designated as a major donor plant, while the other potential genotypes were V13 and V15. The results of this study are useful as a first step to develop anther culture protocol on carnation.
Evaluasi Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Pepaya Hibrida di Wilayah Pengembangan Bogor Sunyoto Sunyoto; L Oktariana; D Fatria; Hendri Hendri; Kuswandi Kuswandi
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n3.2015.p193-200

Abstract

Keragaan pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan hasil interaksi antara potensi genetik tanaman dengan lingkungan tempat tumbuhnya. Untuk mengetahui tanggapan genotipe terhadap lingkungan perlu dilakukan evaluasi dengan menanam berbagai varietas tanaman di wilayah pengembangan. Tanaman yang mempunyai penampilan fenotipe unggul dan adaptif di wilayah pengembangan akan dipilih menjadi kandidat varietas unggul. Tujuan penelitian adalah mendapatkan pepaya hibrida yang mempunyai penampilan fenotipik terbaik. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Dramaga, Bogor (Jawa Barat) pada bulan Januari sampai Desember 2012. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Setiap unit perlakuan terdiri atas lima tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hibrida P 24 mempunyai karakter unggul paling banyak (lima karakter), yaitu tinggi tanaman paling rendah, diameter batang lebih besar, jumlah buah lebih banyak, ukuran buah kecil, dan padatan total terlarut cukup tinggi. Hibrida P 21 dan P 31 mempunyai keunggulan jumlah buah cukup banyak, ukuran buah sedang, daging buah agak tebal dan keras. Beberapa dari hibrida F terpilih terbukti memiliki keunggulan karakter morfologi sehingga potensial dikembangkan sebagai komoditas unggul di tanah air.
Evaluasi Resistensi 26 Genotip Kentang terhadap Penyakit Busuk Daun di Cibodas, Lembang - Kusmana
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n1.2004.p1-6

Abstract

Evaluasi Resistensi 26 genotip kentang terhadap penyakit busuk daun telah dilaksanakan di Cibodas Lembang,Kabupaten Bandung(1.400 m dpl), mulai bulan Sep tem ber 2000 sampai dengan Pebruari 2001. Rancangan percobaanyang digunakan adalah petak terpisah dengan petak utama adalah perlakuan proteksi dan nonproteksi sedangkansebagai anak petak adalah 26 genotip kentang. Percobaan diulang dua kali. Setiap petak perlakuan terdiri dari 10tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan genotip yang resisten terhadap serangan penyakit busuk daun.Dihasilkan delapan genotip yaitu R5, R9, LBr-2, LBr-40, LBr-46, R1R2, R3R4, dan cruza -148 dengan nilai AUDPCuntuk masing-masing genotip berkisar antara 9 - 219, sedangkan nilai AUDPC untuk genotip pembanding gra nolaadalah 1786. Potensi hasil tertinggi pada plot disemprot fungisida dihasilkan oleh genotip LBr-46 (45,8 t/ha), LBr-40(35,4 t/ha), yungay (30,8 t/ha), R8 (29,9 t/ha) desiree (29,7 t/ha), dan spunta (23,4 t/ ha) nyata lebih tinggi daripadagra nola (23,0 t/ha). Sementara pada plot tanpa disemprot fungisida hasil tertinggi dicapai oleh genotip LBr-40 (27,7t/ha), LBr-2 (22,8 t/ha), LBr-46 (22,0 t/ha), dan gra nola hanya (0,6 t/ha). Fungisida masih diperlukan sekalipun untukgenotip yang resisten karena dapat memberikan penambahan hasil yang sangat berarti seperti pada klon LBr-40 danLBr-46.Re sis tance eval u a tion of 26 po tato ge no types to late blight at Cibodas, Lembang.Eval u a tion of re sis tance of 26 po tato ge no types against late blight was con ducted at Cibodas, Lembang, Bandung1400 m el e va tion from Sep tem ber 2000 un til Feb ru ary 2001. The ex per i men tal de sign used was split plot with tworep li ca tions. Spray ing and non spray ing with fun gi cides were the main plot. Whereas, the 26 ge no types were the sub -plot. Each treat ment plot con sisted of a 10 plants. The ob jec tive of the re search is to ob serve the re sis tance and highyield ing ge no types. The re sults in di cated that 7 ge no types were re sis tance to late blight they were R5, R9, LBr-2,LBr-40, LBr-46, R1R2R3R4 and cruza -148. The AUDPC scores for those ge no types ranged form 9 to 219. Whereas,va ri ety Gra nola was had AUDPC score of 1786. The high est yield ing ge no types from pro tected plot were showed byLBr-46 (45.8 t/ha), LBr-40 (35.4 t/ha ), yungay (30.8 t/ha), R8 (29.9 t/ha) desiree (29.7 t/ha), and spunta (23.4 t/ ha)was sig nif i cantly higher than gra nola (23.0 t/ha). Whereas, the high est yield ing from un pro tected plot were showed byLBr-40 (27.7), Lbr- 2 (23.9 t/ha), and LBr-46 (22.0 t/ha) . Whereas, Gra nola was yielded 0.6 t/ha only. Ap pli ca tionfungisides in small quan tity for re sis tance ge no types such as LBr-40 and LBr-46 is still needed to obtaint higheryield ing.
Perbanyakan Massa Anggrek Dendrobium Gradita 10 Secara In Vitro Melalui Embriogenesis Somatik Fitri Rachmawati; A Purwito; N.M.A. Wiendi; N.A. Mattjik; Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p196-209

Abstract

Ketersediaan protokol perbanyakan massa anggrek Dendrobium secara in vitro memiliki peranan penting dalam mendukung pengembangan industri benih di dalam negeri. Penelitian ini bertujuan mendapatkan teknologi perbanyakan massa Dendrobium Gradita 10 melalui embriogenesis somatik. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Anggrek Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, Pacet, Cianjur, mulai bulan Maret sampai dengan Desember 2012. Penelitiandisusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Jenis eksplan, media, periode subkultur, dan kepadatan kalus diujicobakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun planlet dan media ½ Murashige & Skoog (MS) + 1 mg/l Thidiazuron (TDZ) + 0,5 mg/l N6-benzyladenine (BA) merupakan jenis eksplan dan media terbaik untuk induksi kalus embriogenik hingga 80% dengan waktu pembentukan kalus tercepat (26,3 hari setelah kultur). Proliferasi kalus embriogenik terbaik terdapat pada media ½ MS + 0,3 mg/l TDZ + 0,1 mg/l α-naphthalene acetic acid (NAA) dengan kepadatan kalus 2–3 g kalus/25 ml medium. Pertumbuhan kalus embriogenik teroptimal terdapat pada periode subkultur yang ke-2. Konversi kalus embriogenik menjadi embrio somatik mencapai 79% pada subkultur ke-3 ditemukan pada media ½ MS + 0,05 mg/l BA. Perkecambahan embrio maksimal dengan 21,7 planlet per gerombol embrio ditemukan pada media ½ MS + 0,05 mg/l BA. Keberhasilan pengembangan teknologi perbanyakan massa anggrek Dendrobium Gradita 10 secara in vitro melalui embriogenesis somatik diharapkan memiliki dampak besar terhadap pengembangan teknologi perbanyakan massa benih untuk jenis Dendrobium yang lain.
Pengaruh Pemberian Sulfur dan Blotong terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah pada Tanah Inseptisol Hatta Muhhamad; S Sabiham; A Rachim; H Adjiuwana
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n2.2003.p95-104

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh sulfur dan blotong terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah di tanah inseptisol. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Kebun Percobaan Jeneponto pada bulan Januari sampai April 2000 dengan rancangan acak lengkap pola faktorial dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah sulfur yang terdiri atas enam taraf dan blotong sebagai faktor kedua yang terdiri atas tiga taraf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot kering tanaman umur satu bulan, bobot umbi saat panen, bobot umbi kering eskip, dan  kelas  umbi dipengaruhi secara nyata oleh sulfur, blotong, dan interaksinya. Sedangkan susut bobot umbi tidak dipengaruhi oleh sulfur, blotong, dan interaksinya. Pemberian 40 ppm sulfur dan 75 g/pot blotong menghasilkan umbi kering eskip dengan bobot tertinggi. Kata Kunci : Allium ascalonicum; Blotong; Sulfur; Hasil; Inseptisol. ABSTRACT. The aim of this experiment was to determine the effect of sulphur and sugarcane filter mud on the growth and yield of shallot. The experiment was con- ducted at Glass House of Jeneponto Experimental Garden on January to April 2000 by using a complete randomised design with factorial pattern consisted of two factors, each treatment was replicated four times. The first factor was sulphur consisted of six rates, and the second factors was filter mud with three rates. The result showed that the plant dry weight one month old, bulbs harvested weight, bulbs weight, bulbs grade were significantly affected by sulphur, sugar cane filter mud, and their interaction. While losses of bulbs weight are not significantly affected by sulphur, filter mud, and their interaction. Application 40 ppm sulphur and 75 g/pot sugarcane filter mud were resulted bulbs highest.

Page 68 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue