cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal AgroBiogen
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19071094     EISSN : 25491547     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal AgroBiogen memuat artikel primer dan sekunder hasil penelitian bioteknologi dan sumberdaya genetik tanaman, serangga, dan mikroba pertanian. Jurnal ini diterbitkan tiga kali setahun pada bulan April, Agustus dan Oktober oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
Control of Anthracnose Disease (Colletotrichum gloeosporioides) Using Nano Chitosan Hydrolyzed by Chitinase Derived from Burkholderia cepacia Isolate E76 Yadi Suryadi; Tri P. Priyatno; I Made Samudra; Dwi N. Susilowati; Tuti S. Sriharyani; Syaefudin Syaefudin
Jurnal AgroBiogen Vol 13, No 2 (2017): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v13n2.2017.p111-122

Abstract

Anthracnose (Colletotrichum gloeosporioides) is one of the important diseases of fruit crops that need to be controlled. This study was aimed to obtain the best formula of hydrolyzed nano chitosan and its potensial in controlling anthracnose. The hydrolyzed chitosan was prepared using chitinase enzyme extracted from Burkholderia cepacia isolate E76. Chitosan nanoparticles were synthesized using ionic gelation method by reacting hydrolyzed chitosan (0.2%) with Sodium tripolyphosphate (STPP) (0.1%) as cross-linking agent using 30–60 minutes stirring condition. The bioactivity of the nano chitosan formula was tested to C. gloeosporioides under in vitro and in vivo assays. The specific enzymatic activity of the purified chitinase was higher (0.19 U/mg) than that of crude enzyme (supernatant) with the purity increased by 3.8 times. Of the four formula tested, Formula A (hydrolyzed chitosan to STPP volume ratio of 5 : 1 with 60 minutes stirring condition) was found good in terms of physical characteristic of the particle. The formula nano chitosan particle had the spherical-like shape with an average particle size of 126.2+3.8 nm, polydispersity index (PI) of 0.4+0.02, and zeta potential (ZP) value of 27.8+0.2 mV. Nano chitosan had an inhibitory activity to C. gloeosporioides in vitro up to 85.7%. Moreover, it could inhibit 61.2% of C. gloeosporioides spores germination. It was shown that nano chitosan was also effective to reduce anthracnose disease severity in vivo when applied as a preventive measure on chili and papaya fruits. This study could be used as a reference for further fruit coating application using nano chitosan as a promising postharvest biocontrol agent to C. gloeosporioides.
Keragaman Genetik Dua Puluh Aksesi Plasma Nutfah Jatropha spp. Menggunakan Marka Simple Sequence Repeat Kristianto Nugroho; Rerenstradika T. Terryana; Reflinur Reflinur; Puji Lestari; Karden Mulya; I Made Tasma
Jurnal AgroBiogen Vol 13, No 1 (2017): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v13n1.2017.p17-24

Abstract

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan salah satu tanaman yang potensial sebagai penghasil energi alternatif bahan bakar fosil. Informasi mengenai keragaman genetik genus Jatropha spp. sangat penting untuk menentukan arah kegiatan pemuliaan ke depan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keragaman genetik 20 aksesi plasma nutfah Jatropha spp. asal Indonesia dan Thailand menggunakan 20 marka SSR. Sebanyak 129 alel berhasil dideteksi dengan rentang 4-9 alel per lokus dan rerata 6,5 alel. Nilai diversitas gen sebesar 0,53 hingga 0,86 dengan rerata 0,75, sedangkan nilai PIC sebesar 0,49 hingga 0,84 dengan rerata 0,71. Sebanyak 12 marka memiliki nilai PIC > 0,70 dan bersifat informatif untuk membedakan individu jarak. Rerata frekuensi alel utama yang diperoleh sebesar 37% dengan rentang 18–55%. Sebanyak 7 marka SSR mampu membedakan genotipe heterozigot dengan nilai heterozigositas sebesar 0,05 hingga 0,11 dengan rerata 0,03. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa 20 aksesi Jatropha spp. memisah menjadi dua klaster utama pada koefisien kesamaan 0,70. Klaster pertama terdiri atas 17 aksesi J. curcas, sedangkan klaster kedua terdiri atas 3 aksesi, yaitu J. podagrica, J. gossypifolia, dan J. multifida. Data keragaman genetik yang diperoleh pada penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar pemilihan tetua persilangan dalam rangka menghasilkan varietas unggul baru dengan karakter kadar minyak tinggi sesuai yang diharapkan.
Gen dan QTL Pengendali Umur pada Kedelai Tasma, I Made
Jurnal AgroBiogen Vol 9, No 2 (2013): Agustus
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v9n2.2013.p85-96

Abstract

Traits that control time of flowering andmaturity in soybean determine harvesting time of a soybeancultivar. In Indonesia, early maturing soybean cultivars areimportant at short period growing seasons due to the watershortage in dry planting season. Shorter period of growingseason would increase the crop harvest index. Geneticdiversity of the present soybean germplasm collection islow. Diversity improvement through introduction fromcountries with four seasons faced difficulty due todifferences in growth adaptability. Technology for developinggermplasm with a broader adaptation will facilitategermplasm movement from a more diverse environmentalgrowth. The objective of this review was to describe howthe time of flowering and maturity are controlled in soybean.The review is supported by flowering time mechanism ofthe model plant Arabidopsis thaliana as the genetics offlowering time has been intensively studied in this modelplant. Transition from vegetative to reproductive developmentis the outcome of the activation of genes responsiblefor floral organ formation. Initial activation is generally theresult of environmental cues indicating the appropriate timeto flower. Studies from Arabidopsis showed that transitionfrom vegetative to reproductive stage is complex involvingmany genes and several genetic pathways. In soybean, timeof flowering and maturity are controlled by at least ninegenes, E1 to E8 and Dt1. The genes interact with daylengthand temperature. Major and minor QTLs controlling thetraits were identified using various mapping populations.The major QTLs were detected at various populations withdiverse genetic backgrounds tested at diverse environmenttalconditions. Some of the QTLs were associated with the Egenes and some others were not. Several Arabidopsisflowering gene homologous sequences were also mappedon the soybean genome. The E gene markers and the QTLswith large effect for reproductive traits are breeder targetsfor breeding and development of soybean photoperiodinsensitive germplasm. Genes for flowering time isolatedfrom Arabidopsis can be used to develop transgenicsoybean with broader adaptation. Technology for developmentof soybean germplasm with broader adaptation willfacilitate the soybean germplasm movement from diverseenvironmental growth conditions to support systematic andsustainable national soybean breeding programs.
Keragaman Jeruk Fungsional Indonesia Berdasarkan Karakter Morfologis dan Marka RAPD Farida Yulianti; Norry E. Palupi; Dita Agisimanto
Jurnal AgroBiogen Vol 12, No 2 (2016): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v12n2.2016.p91-100

Abstract

Identifikasi variabilitas genetik tanaman jeruk diperlukan dalam pengelolaan sumber daya genetik dan proses seleksi dalamprogram pemuliaan. Tujuan penelitian adalah mempelajari keragaman lima belas aksesi jeruk fungsional Indonesiaberdasarkan karakter morfologis dan marka molekuler. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman, BalaiPenelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Malang, Jawa Timur. Keragaman morfologis didasarkan pada hasilpengamatan morfologi, sedangkan keragaman molekuler didasarkan pada hasil amplifikasi marka RAPD. Keragamanmorfologis dan molekuler dianalisis menggunakan program DARWin5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragamanmorfologis jeruk fungsional Indonesia lebih tinggi dibanding dengan keragaman molekulernya. Keragaman tertinggiberdasarkan karakter morfologis terjadi antara Citrumelo dan Carrizo Citrange dengan Lemon seedless (79%), sedangkankeragaman tertinggi berdasarkan marka RAPD terjadi antara Lemo Swangi dan Lemon seedless (49%). Pita DNA spesifikditemukan oleh marka OPH15(235,280) pada aksesi Jari Budha, Etrog Citron, dan Lemon seedless, marka OPD07(400) danOPC17(416) pada aksesi dengan daun tipe trifoliata (Troyer Citrange, Citrumelo, dan Carrizo Citrange) dan OPH04(583) danOPD07(330) pada aksesi Keprok Tening.
Embriogenesis Somatik Tidak Langsung pada Tanaman Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) Menggunakan Sistem Kultur Suspensi, Perendaman Sesaat, dan Media Padat Imron Riyadi; Darda Efendi; Bambang S. Purwoko; Djoko Santoso
Jurnal AgroBiogen Vol 12, No 1 (2016): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v12n1.2016.p37-44

Abstract

Metode kultur in vitro yang tepat akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pada proses penggandaan kalus dan induksiembriogenesis somatik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas tiga metode kultur jaringan, yaitu sistem kultursuspensi, sistem perendaman sesaat (SPS) atau temporary immersion system (TIS), dan media padat, untuk proliferasi kalusdan pembentukan embrio somatik secara tidak langsung pada tanaman sagu “Alitir” yang berasal dari Merauke, Papua. Bahantanaman atau eksplan awal yang digunakan adalah kalus remah hasil induksi dari kultur meristem pucuk tunas anakan sagu.Kalus tersebut dikulturkan pada media Murashige dan Skoog (MS) modifikasi dengan penambahan 2,4-D 5,0–15,0 mg/l dikombinasikandengan kinetin 0,1 mg/l menggunakan ketiga metode kultur sehingga terdapat dua belas kombinasi perlakuan.Hasil penelitian menunjukkan bobot segar kalus tertinggi sebesar 12,0 g/bejana dicapai pada metode kultur suspensi denganpenambahan 2,4-D 15,0 mg/l dikombinasikan dengan kinetin 0,1 g/l. Perolehan jumlah embrio somatik tertinggi dicapai padametode kultur suspensi dengan penambahan 2,4-D 5,0 mg/l dikombinasikan dengan kinetin 0,1 g/l sebesar 384,7 buah/bejana.Daya hidup kultur sagu terbaik dan tertinggi (100%) diperoleh pada metode kultur suspensi pada semua perlakuankonsentrasi 2,4-D. Selama proses induksi embrio somatik, terjadi perubahan warna kalus dari sebagian besar kekuninganmenjadi krem dan putih-kekuningan.
Front Matter JA Vol 13 No 2 Jurnal Agrobiogen
Jurnal AgroBiogen Vol 13, No 2 (2017): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v13n2.2017.p%p

Abstract

Evaluasi Keragaman Genetik Jagung Inbrida Berdasarkan Sepuluh Marka Simple Sequence Repeat Sutoro Sutoro; Puji Lestari; Andari Risliawati; Kristianto Nugroho; R. Neni Iriany
Jurnal AgroBiogen Vol 13, No 2 (2017): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v13n2.2017.p83-90

Abstract

Keragaman genetik jagung inbrida diperlukan untuk mendapatkan jagung hibrida yang berpotensi hasil tinggi. Keragaman inbrida dapat dievaluasi melalui analisis molekuler dengan marka simple sequence repeat (SSR). Tujuan  enelitian ini adalah mengevaluasi keragaman genetik jagung inbrida yang berlatar belakang genetik berbeda dengan marka SSR dan mengelompokkannyasebagai panduan untuk pembentukan jagung hibrida. Sebanyak sepuluh marka SSR digunakan untuk mengelompokkan 32 jagung inbrida yang memiliki latar belakang genetik yang berbeda. Analisis dilakukan di Laboratorium BiologiMolekuler, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, pada bulan Maret 2017. Data polimorfisme SSR pada jagung inbrida dianalisis secara statistik dan filogeninya menggunakan perangkat lunak NTSYS. Hasil analisis keragaman genetik menunjukkan adanya perbedaan antarinbrida, termasuk inbrida yang dihasilkan dari satu populasi jagung bersari bebas. Total sepuluh marka SSR mampu membedakan alel homozigot dan heterozigot jagung inbrida. Dari hasil pengelompokan jagung inbrida pada tingkat kesamaan 68% diperoleh dua klaster. Klaster pertama terdiri atas 30 inbrida, sedangkan klaster kedua hanya terdiri atas inbrida Al-46 dan 22-9-5-4-17-5. Pasangan inbrida dengan jarak genetik terjauh adalah inbrida 22-9-5-4-17-5 dan 23-4-9-7-2-9, dan inbrida CML161/Nei 9008 dan 22-9-5-4-17-5. Inbrida tersebut potensial untuk dijadikan sebagai tetua dalam menghasilkan hibrida karena jarak genetiknya yang relatif jauh.
Front Matter JA Vol 12 No 2 Jurnal Agrobiogen
Jurnal AgroBiogen Vol 12, No 2 (2016): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v12n2.2016.p%p

Abstract

Organogenesis dan Krioterapi Tebu untuk Mengeliminasi Sugarcane Streak Mosaic Virus Ika Roostika; Sedyo Hartono; Deden Sukmadjaja
Jurnal AgroBiogen Vol 12, No 2 (2016): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v12n2.2016.p109-118

Abstract

Penggunaan bibit bebas virus menjadi salah satu cara pengendalian penyakit virus yang efektif. Beberapa macam teknikkultur jaringan dilaporkan mampu mengeliminasi virus di dalam jaringan tanaman. Tujuan penelitian adalah mengetahuirespons tiga varietas tebu terhadap teknik organogenesis dan krioterapi serta untuk mengetahui kemampuan kedua tekniktersebut dalam mengeliminasi Sugarcane streak mosaic virus (SCSMV). Bahan tanaman yang digunakan adalah varietas tebuPS862 asal Cirebon, PS881 asal Jember, dan PSJK922 asal Malang yang terinfeksi SCSMV. Induksi kalus dilakukan denganmenggunakan media MS yang ditambah dengan 2,4-D 3 mg/l dan kasein hidrolisat 3 g/l. Terdapat tiga macam perlakuansubkultur (SK0, SK1, dan SK2). Regenerasi tunas dilakukan pada media MS dengan penambahan BA 0,3 mg/l, IBA 0,5 mg/l,dan PVP 100 mg/l. Teknik krioterapi yang diterapkan adalah vitrifikasi dengan tahapan prakultur menggunakan sukrosa 0,3 Mselama 3 hari, loading dengan larutan LS selama 10 menit, dehidrasi dengan larutan PVS2 selama 40 menit, krioterapi dengannitrogen cair selama 1 jam, deloading dengan larutan RS selama 30 menit, pemulihan, dan regenerasi. Indeksing virusdilakukan secara RT-PCR menggunakan primer spesifik SCSMV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga varietas mampumembentuk kalus dan tunas, baik tanpa atau melalui proses subkultur. Di antara tiga varietas yang diuji, hanya PS862 asalCirebon yang mampu bertahan hidup pasca-perlakuan krioterapi. Teknik organogenesis hingga dua kali subkultur tidakmampu mengeliminasi SCSMV, walaupun telah dilakukan subkultur hingga dua kali. Teknik krioterapi dapat mengeliminasiSCSMV dengan proporsi sebesar satu pertiga (33,3%).
Potensi Sumbangan Kapas Bt untuk Peningkatan Produksi Kapas di Indonesia Bahagiawati Bahagiawati; Nurliani Bermawie
Jurnal AgroBiogen Vol 13, No 2 (2017): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v13n2.2017.p137-146

Abstract

Indonesia termasuk lima belas besar negara penghasil tekstil di dunia. Namun, bahan dasar industri tekstil ini, yaitu kapas, 99,5% masih diimpor, padahal lahan potensial untuk penanaman kapas terbilang cukup besar. Ada beberapa hal yang memengaruhi produksi kapas, antara lain belum tersedianya benih kapas bermutu tinggi yang tahan serangan hama dan penyakit. Teknologi rekayasa genetika telah terbukti menghasilkan benih kapas transgenik berpotensi hasil tinggi yang tahan hama utama. Pada tahun 2001–2002, Indonesia pernah menanam kapas transgenik (kapas Bt) terbatas di tujuh kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. Pada waktu itu, produksi rerata kapas Bt mencapai 220% lebih tinggi daripada kapas lokal Kanesia. Namun karena beberapa hal penanaman kapas Bt dihentikan. Setelah penanaman kapas Bt terhenti selama lebih kurang 12 tahun, produksi kapas nasional tetap rendah dan cenderung menurun sehingga impor kapas terus meningkat. Kondisi yang berbeda bila dibandingkan dengan negara lain seperti India yang mengalami perkembangan pesat penanaman kapas Bt. Pada tahun 2014, India telah menjadi negara pengekspor kapas utama di dunia mengalahkan Cina dan Amerika Serikat. Berdasarkan pengalaman Indonesia menanam kapas Bt dan keberhasilan yang telah dibuktikan oleh negara lain terutama India dalam meningkatkan produksi kapas, untuk meningkatkan produksi kapas nasional, Indonesia perlu mempertimbangkan untuk menanam kembali kapas Bt di sentra produksi kapas di Indonesia. Tujuan tinjauan ini adalah memberikan informasi tentang pengalaman Indonesia menanam kapas Bt, potensi kapas Bt, dan kebijakan yang disarankan untuk meningkatkan produksi kapas nasional.