cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal AgroBiogen
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19071094     EISSN : 25491547     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal AgroBiogen memuat artikel primer dan sekunder hasil penelitian bioteknologi dan sumberdaya genetik tanaman, serangga, dan mikroba pertanian. Jurnal ini diterbitkan tiga kali setahun pada bulan April, Agustus dan Oktober oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
Identifikasi Perubahan Karakter Agronomis Padi Transgenik Penanda Aktivasi cv. Asemandi Generasi T1 Atmitri Sisharmini; Aniversari Apriana; Diah Nurmaliki; Tri Joko Santoso; Kurniawan R. Trijatmiko
Jurnal AgroBiogen Vol 9, No 3 (2013): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v9n3.2013.p107-116

Abstract

The activation-tagged populations of transgenic rice cv.Asemandi have been developed by introducing construct ofactivation taq Ac/Ds into rice genom of cv. Asemandi. The T1transgenic rice populations cv. Asemandi containingconstruct of activation taq have been obtained and neededto be characterized. This study aimed to identify the Bastaherbicide resistant plants, transgenic plants containing hptand bar genes, and changes in agronomic traits. Bastaresistant plant was identified by treating leaf with bastasolution. Hpt and bar genes were detected by PCR usingspecific primers. Phenotype characters were identified byobserving and measuring their agronomic parameters. Thestudy results showed that out of 315 rice transgenic cv.Asemandi T1 treated with Basta solution, 176 (55.87%) plantswere indicated to be resistant to Basta. The results of PCRanalysis revealed that eight rice transgenic cv. Asemanditested contained both hpt and bar genes. In general,compared to the nontransgenic plants, there were changesin several agronomic parameters of T1 transgenic plants cv.Asemandi, including plant height, days to flowering, days toharvesting, periods of grain filling, and weight of 100 grains.Correlation analysis showed that there was no correlationbetween days of harvesting to weight of 100 grains intransgenic rice, but there was correlation in nontransgenicrice. Transgenic rice plants cv. Asemandi with changes inthe agronomic characters will be useful for further study,such as to analyze the function of the genes.
Evaluasi dan Identifikasi Marka Penanda Gen Ketahanan Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Padi Lokal Sulawesi Selatan Siti Yuriyah; Siti Nurani; Dwinita W. Utami; Tiur S. Silitonga
Jurnal AgroBiogen Vol 12, No 1 (2016): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v12n1.2016.p11-20

Abstract

Salah satu faktor pembatas produksi padi, di Sulawesi Selatan khususnya, adalah serangan penyakit hawar daun bakteri(HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Upaya yang dipandang efektif untuk mengendalikanpenyakit HDB adalah penanaman varietas tahan. Perakitan varietas padi dengan menggunakan gen-gen tahan dari berbagaikultivar berpeluang menghasilkan varietas tahan HDB. Kultivar lokal berperan sebagai salah satu sumber keragaman genetikuntuk beberapa sifat ketahanan penyakit. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan mengidentifikasi marka penanda genketahanan penyakit hawar daun bakteri pada padi lokal Sulawesi Selatan berdasarkan sistem standar diferensial dan analisismolekuler. Analisis uji ketahanan fenotipe dilakukan menggunakan tiga ras HDB (ras III, IV, dan VIII) dan galur diferensial(galur IRBB). Analisis genotipe dilakukan menggunakan marka molekuler terkait ketahanan terhadap HDB yang ditampilkansebagai dendrogram keragaman. Analisis asosiasi dilakukan dengan analisis gabungan (U-joint) menggunakan generalizedlinear model (GLM). Hasil pengujian ketahanan menunjukkan galur isogenik dengan gen tunggal (IRBB 5, IRBB 7, dan IRBB21), galur isogenik dengan multipel gen (IRBB 50, IRBB 52, IRBB 53, IRBB 54, IRBB 56, IRBB 58, IRBB 64, dan IRBB 66), danaksesi Ase Andele bersifat tahan terhadap ketiga ras uji. Dari uji asosiasi, diperoleh satu marka signifikan yang berasosiasidengan ketahanan terhadap ras III (Xa26-STS2), empat marka signifikan berasosiasi dengan ketahanan terhadap ras IV (Xa1-STS15, Xa4-STS44, xa13-STS51, dan Xa21-STS6), dan dua marka signifikan berasosiasi dengan ketahanan terhadap ras VIII(Xa7-STS57 dan RM 20589).
Keragaman Jumlah Salinan Transgen Galur T0 Padi Kultivar Nipponbare Berdasarkan Analisis qPCR dengan Penanda Gen hptII Aqwin Polosoro; Wening Enggarini
Jurnal AgroBiogen Vol 12, No 2 (2016): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v12n2.2016.p73-80

Abstract

Keragaman Jumlah Salinan Transgen CsNitr1-L pada Galur Transforman T0 Padi Kultivar Nipponbare. Perakitan tanaman transgenik dengan menggunakan bantuan Agrobacterium tumefaciens menghasilkan penyisipan transgen yang berbeda, baik dalam jumlah salinan maupun letak transgen dalam genom tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan kimera dan jumlah salinan pada tiap anakan dalam satu rumpun dan beberapa rumpun padi Nipponbare transforman T0 yang berasal dari kalus yang sama. Gen CsNitr1-L pada plasmid biner pCAMBIA1300 ditranformasikan ke dalam genom tanaman padi kultivar Nipponbare dengan menggunakan A. tumefaciens strain LBA 4404. Analisis molekuler dilakukan terhadap tiga anakan dari masing-masing empat rumpun tanaman Nipponbare transgenik generasi T0 (event 1, 2, 3, dan 4) dan empat kelompok rumpun tanaman T0 yang berasal dari kalus yang sama. Dari masing-masing kelompok tersebut diambil 3 rumpun T0. Hasil analisis qPCR menunjukkan bahwa anakan-anakan yang berasal dari satu rumpun tanaman T0 memiliki jumlah salinan transgen yang seragam. Selain itu, hasil analisis qPCR juga mengungkap bahwa tidak semua tanaman yang berasal dari kalus yang sama memiliki jumlah salinan transgen yang seragam. Implikasi dari hasil ini bahwa setiap rumpun padi T0 yang tumbuh dari kalus hasil transformasi perlu dipisah saat aklimatisasi supaya benih T1 yang dihasilkan seragam.  
Genetic Diversity Analysis of 53 Indonesian Rice Genotypes using 6K Single Nucleotide Polymorphism Markers Joko Prasetiyono; Nurul Hidayatun; Tasliah Tasliah
Jurnal AgroBiogen Vol 14, No 1 (2018): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v14n1.2018.p1-10

Abstract

Indonesia is rich in rice genetic resources, however, only a small number has been used in variety improvement programs. This study aimed to determine the genetic diversity of Indonesian rice varieties using 6K SNP markers. The study was conducted at ICABIOGRAD for DNA isolation and IRRI for SNP marker analysis. Genetic materials were 53 rice genotypes consisting of 49 varieties and 4 check genotypes. SNP markers used were 6K loci. Results showed that among the markers analyzed, only 4,606 SNPs (76.77%) were successfully read. The SNP markers covered all twelve rice chromosomes of 945,178.27 bp. The most common allele observed was GG, whereas the least allele was TG. Dendrograms of the 53 rice varieties analyzed with 4,606 SNPs demonstrated several small groups containing genotypic mixtures between indica and japonica rice, and no groups were found to contain firmly indica or japonica type. Structure analysis (K = 2) with value of 0.8 showed that the 53 rice varieties were divided into several groups and each group consisted of 4 japonica, 2 tropical japonica, 46 indica, and 1 aus rice type, respectively. IR64 and Ciherang proved to have an indica genome, while Rojolele has japonica one. Dupa and Hawara Bunar, usually grouped into tropical japonica rice, were classified as indica type, and Hawara Bunar has perfectly 100% indica type. The results of this study indicated that rice classification (indica-japonica) which is usually classified based only on morphological characters, e.g. grain and leaf shapes, is not enough and classification based on SNP markers should be considered for that purpose.
Variasi Genetik Rice tungro bacilliform virus (RTBV) dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Tengah R. Heru Praptana; Y. B. Sumardiyono; Sedyo Hartono; Y. Andi Trisyono
Jurnal AgroBiogen Vol 13, No 2 (2017): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v13n2.2017.p75-82

Abstract

Tungro merupakan salah satu penyakit penting pada padi yang menjadi kendala dalam peningkatan produksi padi di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi dua virus yang berbeda secara serologis, yaitu Rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV) yang hanya dapat ditularkan oleh wereng hijau, terutama Nephotettix virescens (Distant) secara semipersisten. Informasi keragaman genetik virus tungro diperlukan sebagai pertimbangan dalam pengendalian penyakit tungro menggunakan varietas tahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keragaman genetik RTBV dari tiga daerah endemis virus tungro di Indonesia berdasarkan sekuen basa nukleotida dan asam amino pada open reading frame 2 (ORF2). Isolat RTBV dikoleksi di Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Tengah dengan cara penularan virus tungro secara buatan pada bibit padi varietas TN1 menggunakan wereng hijau hasil tangkapan dari lapangan. Analisis homologi sebagian sekuen DNA ORF2 RTBV menunjukkan bahwa ketiga isolat memiliki variasi kesamaan basa nukleotida dan asam amino, berturut-turut 94-98% dan 97-100%. Ketiga isolat berbeda jauh dengan isolat dari negara lain dengan tingkat kesamaan genetik 77-95% berdasarkan sekuen basa nukleotida dan 82-98% berdasarkan sekuen asam amino. Keragaman dan hubungan kekerabatan genetik ketiga isolat RTBV tidak berkorelasi dengan perbedaan geografis asal isolat. Adanya keragaman genetik antarisolat RTBV mengindikasikan bahwa berbagai strategi penggunaan varietas tahan perlu dilaksanakan untuk menjaga durabilitas ketahanan padi.
Optimasi Regenerasi Padi Indica melalui Jalur Organogenesis Rossa Yunita; Nurul Khumaida; Didy Sopandie; Ika Mariska
Jurnal AgroBiogen Vol 13, No 1 (2017): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v13n1.2017.p35-42

Abstract

Regenerasi tanaman merupakan tahapan penting yang perlu dikuasai sebelum diaplikasikan untuk perakitan varietas unggul secara kultur in vitro. Penelitian bertujuan mengoptimasi teknik regenerasi in vitro beberapa varietas padi indica melalui jalur organogenesis. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial. Materi yang dicobakan, yaitu Ciherang, Inpari 13, Inpara 3, Pokkali, dan IR29. Perlakuan yang diberikan untuk induksi kalus organogenik adalah 2,4-D (0, 1, 3, 5, 7 mg/l) + kasein hidrolisat 3 g/l, untuk regenerasi kalus membentuk tunas adventif adalah BA (0, 1, 5 mg/l) + zeatin (0, 0,1, 0,3 mg/l) + prolin 100 mg/l, untuk multiplikasi tunas adalah MS + thidiazuron/TDZ (0, 0,1, 0,3 mg/l) dan untuk perakar-an adalah IBA (0, 1, 2, 3 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan media terbaik untuk induksi kalus untuk padi varietas Ciherang, Inpari 13, dan Pokkali adalah MS + 2,4-D 3 mg/l, sedangkan untuk varietas Inpari 3 dan IR 29 adalah MS + 2,4-D 5 mg/l. Media terbaik untuk regenerasi tunas untuk varietas Ciherang adalah BA 5 mg/l + zeatin 0,1 mg/l + prolin 100 mg/l, untuk Inpari 13 adalah MS + BA 3 mg/l + zeatin 0,3 mg/l + prolin 100 mg/l, untuk Inpara 3 adalah BA 5 mg/l + zeatin 0,3 mg/l + prolin 100 mg/l dan untuk Pokkali dan IR29 adalah MS + BA 3 mg/l + zeatin 0,1 mg/l. Media terbaik untuk multiplikasi tunas adalah MS + TDZ 0,3 mg/l dan untuk induksi perakaran adalah MS + IBA 2 mg/l. Setiap tahapan kegiatan pembentukan planlet membutuhkan formulasi media yang berbeda.
Multiplikasi Tunas dan Konservasi In Vitro Tanaman Belitung (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) dengan Metode Pertumbuhan Minimal Muhamad Sabda; Nurwita Dewi
Jurnal AgroBiogen Vol 12, No 2 (2016): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v12n2.2016.p101-108

Abstract

In Vitro Shoot Multiplication and Conservation of Belitung (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) using Minimal Growth Conservation Method. Muhammad Sabda and Nurwita Dewi. Belitung is one of potential food crops which has a lot of benefit. Belitung germplasm collection was conserved in the field which is vurnerable to biotic and abiotic stress.  The purpose of this research was to study the effect of  BAP on in-vitro shoot multiplication of belitung, and to study influences of osmoticum (mannitol) and retardan (paclobutrazol) to the growth of belitung culture. Experimental design used in this research was randomized completely design  with three  replications.  Shoot from sucker were used as explant. In study of shoot multiplication, the treatment medium was MS +  BAP (0, 1, 2, 3 mg/l). In study of conservation, the treatment medium was MS + 30 g/l sucrose, ½ MS + 30 g/l sucrose, MS + 15 g/l sucrose, MS + Mannitol (20,  40 and 60 g/l) and MS + Paclobutrazol (1, 2 and 3 mg/ l). The result showed that the addition of Benzyl Amino Purine (BAP) into MS medium increased number of shoot of belitung.  The best medium for micropropagation of belitung germplasm was MS + BAP 3 mg/l. The highest number of shoot (7.6 shoots) was produced by MS +  BAP 3 mg/l medium.  MS + mannitol (20 and 40 g/l) and MS + paclobutrazol (1, 2, and 3 mg/l) medium could reduce the  plant growth. MS + Paclobutrazol 2 mg/l was the best medium for belitung conservation. This media could reduce plant growth during eight months conservation period and prolong subculture interval.
Analisis Molekuler dan Uji Daya Hasil Galur-galur BC2F8 Padi Pup1 Prasetiyono, Joko; Tasliah, Tasliah; Hidayatun, Nurul; Suhartini, Tintin; Soemantri, Ida H.
Jurnal AgroBiogen Vol 12, No 1 (2016): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v12n1.2016.p1-10

Abstract

Perbaikan varietas padi untuk daerah yang memiliki masalah ketersediaan fosfor (P) sangat penting dilakukan. Lokus Pup1sebagai lokus yang berisi gen-gen yang berperan dalam penangkapan P telah dipetakan dengan baik dan marka untuk seleksinyatelah dibuat. Berdasarkan penelitian sebelumnya, telah diperoleh galur BC2F8 persilangan Dodokan × Kasalath (DK),Dodokan × NIL-C443 (DN), Situ Bagendit × Kasalath (SK), Situ Bagendit × NIL-C443 (SN), Batur × Kasalath (BK), dan Batur ×NIL-C443 (BN). Penelitian ini bertujuan menganalisis galur-galur BC2F8 secara molekuler dan mengevaluasi potensi hasil galurgalurtersebut pada kondisi lapang yang berbeda. Penelitian berlangsung mulai bulan November 2013 s.d. Juni 2014. Penelitianmolekuler dilakukan di BB Biogen, Indonesia dan IRRI, Filipina, sedangkan penelitian lapang dilakukan di KP Taman Bogo,Lampung dan lahan petani di Sukabumi, Jawa Barat. Berdasarkan analisis molekuler, diperoleh hasil seluruh galur BC2F8mengandung lokus Pup1, namun ada tiga galur (B5-SK5, B9-SN2, dan C9-BN2) yang mengandung lokus Pup1 dalam kondisiheterozigot. Susunan genom sebagian besar galur Pup1 masih mengikuti susunan genom tetuanya, kecuali B7-SK7, C10-BN3,dan C11-BN4. Galur B1-SK1, B2-SK2, B3-SK3, B4-SK4, B6-SK6, B9-SN2, C4-BK4, C7-BK7, dan C12-BN5 memiliki bobot ubinanlebih banyak dibanding dengan tetua pemulihnya (Situ Bagendit atau Batur) pada kondisi P kurang atau cukup tersedia. GalurB6-SK6 dan C12-BN5 memiliki bobot ubinan lebih banyak dibanding dengan tetua pemulihnya dan varietas cek (Inpago 7 atauInpago 8) pada kondisi P kurang tersedia. Galur-galur tersebut dapat digunakan untuk uji multilokasi.
Front Matter JA Vol 13 No 1 Agrobiogen, Jurnal
Jurnal AgroBiogen Vol 13, No 1 (2017): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v13n1.2017.p%p

Abstract

Isolasi dan Identifikasi Entomopatogen Hirsutella citriformis (Speare) dan Potensi Miselianya sebagai Sumber Inokulum untuk Pengendalian Wereng Cokelat (Nilaparvata lugens Stål.) Wawan, Wawan; Santoso, Teguh; Anwar, Ruly; Priyatno, Tri P.
Jurnal AgroBiogen Vol 13, No 1 (2017): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v13n1.2017.p43-52

Abstract

Hirsutella citriformis merupakan salah satu jamur entomopatogen potensial untuk wereng batang cokelat (WBC), tetapi belum banyak dimanfaatkan karena konidianya sulit diperbanyak sehingga perlu dicari propagul alternatif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi isolat H. citriformis yang menginfeksi WBC dan menguji efektivitas miselianya sebagai alternatif inokulum konidia dalam pengendalian biologis WBC. Identifikasi Hirsutella dilakukan berdasarkan karakter morfologis dan molekuler dan berdasarkan sekuen internal transcribed spacer (ITS). Konidia dan miselia pada berbagai konsentrasi diaplikasikan pada nimfa WBC instar 2–3 dengan cara penyemprotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakter morfologis, isolat jamur entomopatogen asal Bogor yang menyerang WBC di lapangan adalah H. citriformis. Salah satu isolat (Bgr 0716) telah diidentifikasi berdasarkan sekuen ITS dan terkonfirmasi sebagai H. citriformis. Aplikasi miselia isolat Bgr 0716 efektif mengendalikan WBC dengan nilai lethal time 50% (LT50) selama 13,3 hari, tidak jauh berbeda dari nilai LT50 konidia yang terjadi dalam waktu 12,8 hari. Nilai lethal concentration 50% (LC50) miselia sekitar 2,303 g/l, sedangkan nilai LC50 untuk aplikasi konidia adalah sebesar 2,5 × 105 konidia/ml. Dengan nilai LT50 dan LC50 yang relatif rendah tersebut, miselia layak untuk di-aplikasikan dalam skala luas karena produksinya lebih mudah dan cepat dibanding dengan produksi konidia. Oleh karena itu, miselia H. citriformis dapat menjadi propagul aktif sebagai alternatif konidia untuk pengembangan biopestisida efektif terhadap WBC.