cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02161192     EISSN : 25414054     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian (J.Pascapanen) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian pascapanen pertanian. Jurnal ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 258 Documents
Optlmasi Kecukupan Panas Pada Pasteurisasi Santan Dan Pengaruhnya Terhadap Mutu Santan Yang Dihasilkan Ermi Sukasih; Sulusi Prabawati; Tatang Hidayat
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v6n1.2009.34-42

Abstract

Santan mengandung air yang tinggi serta lemak dan protein sehingga menyebabkan produk ini mudah rusak. Hal ini memerlukan teknologi untuk mempertahankannya, salah satu teknologi pengawetan yang telah populer dan murah adalah dengan pasteurisasi. Permasalahannya adalah belum ada data suhu dan waktu pasteurisasi untuk santan, sehingga perlu dihitung kecukupan panas untuk memperoleh kondisi optimal pasteurisasi. Pasteurisasi santan dilakukan pada tiga suhu (65,75 dan 85°C) selama (0,5,10,15 dan 20) menit, kemudian dilakukan penghitungan jumlah mikroba setelah pemanasan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketahanan panas populasi mikroba santan (nilai D) adalah D65°C = 12,89 menit. D75°C = 10,95 menit, D85°C = 3,55 menit. Perubahan suhu yang menyebabkan reduksi mikroba sebesar satu nilai D (nilai z) adalah 35,71°C. Nilai pasteurisasi (nilai P) santan dengan sistim pasteurisasi 4D adalah 16,3 menit, suhu dan waktu yang optimal untuk pasteurisasi santan adalah 75°C selama 31,2 menit. Pemanasan berpengaruh nyata terhadap kadar air, protein, derajat putih, viskositas, bilangan peroksida, total mikroba, stabilitas emulsi, respon kesukaan aroma. Faktor pemanasan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar abu, kadar lemak, bilangan asam dan FFA, penampakan umum serta respon kesukaan warna. Heat Adequacy Optimization On Coconut Milk Pasteurization And The Effect On QualityCoconut milk contains a large number of water, fat and protein that makes the coconut milk perishable. It needs a technique to preserve the coconut milk. One of well known and cheapest preservation method is pasteurization. However there is no data about temperature level and optimum time of pasteurization process of coconut milk. For that reason the heat adequacy of coconut milk to get the optimum time of pasteurization has to be identified. This research was done using three level of temperature (65°C,75°C and 85°C) with five levels of heating time (0.5, 10, 15 and 20 m). The amount of microorganism in pasteurized coconut milk was counted. The results showed that thermal resistant microorganism of coconut milk (D value) are as follows: D65°C = 12.89 m, D75°C = 10.95 m, D85°C = 3.55 m with z alue equal to 35.71°C. P value for 4D coconut milk pasteurization is 16.3 m. The optimum temperature and time of coconut milk pasteurization were 75°C for 31.2 m. Heating treatment significantly affected parameters viz. water content, protein, whiteness degree, viscosity. peroxidation value, total plate count, emulsion stability and liking responses on flavor of coconut milk. However, there was not any significant for ash content, fat acid value, free fatty acid, appearance and liking responses in colour.
Penggunaan Iradiasi UV-C untuk Mengurangi Kerusakan dan Mempertahankan Kualitas Duku Segar Anny Yanuriati; nFN Parwiyanti; Sulusi Prabawati; nFN Yulianingsih
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v6n2.2009.69-75

Abstract

Pencoklatan kulit dan pertumbuhan jamur menyebabkan penampilan duku tidak menarik, mengurangi nilai ekonomi dan menghambat perkembangan area pemasaran duku segar. Iradiasi UV-C digunakan untuk menghambat kerusakan dan memperpanjang umur simpan duku segar. Duku yang telah dipanen selama 1 hari dikelompokkan menjadi 2, sebagian dilepas dan sisanya dibiarkan tetap melekat pada tangkai. Duku bertangkai dipapar iradiasi UV-C selama 0, 20, 30, dan 40 detik, sedangkan duku tanpa tangkai dipapar iradiasi UV-C selama 0 dan 30 detik, sebelum disimpan pada 29±2oC selama 9 hari. Persentase duku yang memiliki kulit coklat berdasarkan skala yang telah ditetapkan, pertumbuhan jamur, kerusakan aril dan perubahan komposisi kimia diuji pada hari ke-5, 7, dan 9 penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, paparan iradiasi UV-C tidak efektif digunakan untuk mengurangi kerusakan dan memperpanjang umur simpan duku tanpa tangkai. Namun, kerusakan duku yang masih melekat pada tangkai dapat dihambat secara nyata disertai paparan iradiasi UV-C selama 40 detik. Setelah 9 hari penyimpanan, tidak ada pertumbuhan jamur maupun kerusakan aril pada duku tersebut dengan kadar vitamin C nyata dan total padatan terlarut dan kadar asam total secara tidak nyata lebih tinggi. Sekitar 67,74% buah duku tersebut belum mengalami pencoklatan kulit dan 22,58% baru mulai coklat <10%. Iradiasi UV-C dapat digunakan sebagai metode yang efektif untuk mengurangi kerusakan pascapanen dan memperpanjang umur simpan sampai 9 hari pada suhu 29±2oC. Application of UV-C irradiation to decrease the spoilage and maintain quality of fresh lanzonesSkin browning and fungus growth can cause the unattractive performance, reduce the economic value and limit the market area development of fresh lanzones. UV-C irradiation was used to prevent spoilage and extend the shelf-life of fresh lanzones. One day harvested lanzones were divided into 2 conditions, a half of the fruit were detached from its raceme (detaching lanzones) and the others were kept attaching on its raceme (attaching lanzones). The attaching lanzones were exposed to UV-C irradiation for 0, 20, 30, and 40 seconds, while the detaching Ian zones were exposed to UV-C irradiation for 0 and 30 seconds, prior to storage at 29±2 °C for 9 days. The percentage of lanzones having browning skin was calculated based on fixed scale, and fungus growth, aril damage, chemical composition changes were examined on 5, 7 and 9 days of storage. UV-C irradiation was not effective to reduce the spoilage of detaching fruits. However, spoilages of attaching fruits were significantly reduced by UV-C irradiation for 40 seconds. After 9 days of storage no fungus growth and aril damages were detected on the fruit with significantly higher level of vitamin C and no significantly higher levels of total soluble solids and titratable acidity. About 67.74% of the fruit had no browning skin and 22.58% of the fruit had browning skin less than 10%. UV-C could be used as an effective method to reduce the spoilage and lengthening the shelf life of fresh lanzones for 9 days at 29±2 oC.
Penurunan Indeks Glikemik berbagai Varietas Beras Melalui Proses Pratanak Sri Widowati; B.A. Susila Santosa; Made Astawan; nFN Akhyar
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v6n1.2009.1-9

Abstract

Prevalensi penyakit degeneratif seperti diabetes melitus (DM) terjadi akibat perubahan gaya hidup masyarakat. Saat ini, jumlah penderita DM di Indonesia sekitar 14 juta jiwa. Diet pangan ber-indeks glikemik (IG) rendah akan membantu dalam  pencegahan primer dan pengendalian DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penurunan IG beras dan perubahan mutu gizinya akibat proses pratanak. Prinsip proses pratanak yaitu perendaman gabah di dalam air (60ºC, 4 jam), pengukusan (20 menit), pengeringan I (100ºC, k.a. 18-20%) dan pengeringan II (60ºC, k.a. ≤ 12%). Hasil penelitian menunjukkan proses pratanak dapat meningkatkan kadar amilosa (15,44-26,32% menjadi 19,35-27,23%) dan serat pangan (4,67-7,57% menjadi 8,19-10,27%), tetapi menurunkan daya cerna pati in vitro (62,21-78,63% menjadi 36,40-49,74%). Proses pratanak menunjukkan hasil positif untuk memproduksi beras IG rendah, karena kemampuannya dalam menurunkan IG (54,43-97,29 menjadi 44,22- 76,32). Reducing glycemic index on some rice varieties using parboiled processing.Degenerative diseases such as diabetes mellitus (DM) become prevalence to the people' health due to the changing of lifestyles. Nowadays, the number of Indonesian diabetics around 14 million people. Diet of low glycemic index (GI) foods will assist in primarly production and controlling of DM. This research was aimed to evaluate reducing of GI rice and its nutritional quality changing due to parboiled processing. The basic process of parboiled rice i.e. rough rice steeping in waters (60·e, 4 h), steaming (20 minutes). drying I (100 °C. m.c. 18-20%) and drying II (60·e. m.c. d" 12%). Result showed that_parboiled processing increased rice amylose (15.44-26.32% to 19.35-27.23%) and dietary fiber content (4.67-7.57% to 8.19-10.27%), but reduced in in vitro starch digestibility (62.21-78.63% to 36.40-49.74%). Parboiled processing shared positive result in providing low GI rice, because of its capability in reducing GI (54.43-97.29 to 44.22-76.32).
Penggunaan Tepung Dan Pasta Dari Beberapa Varietas Ubjalar Sebagai Bahan Baku Mi Nur Richana; nFN Widaningrum
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v6n1.2009.43-53

Abstract

Ubijalar dapat menjadi sumber makanan pokok alternatif bagi masyarakat Indonesia. Salah satu alternatif pengolahan ubi jalar adalah dengan mengolahnya menjadi mi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknologi pengolahan mi, tanpa terigu dari ubi jalar dalam upaya meningkatkan citra dan nilai tambah ubi jalar. Perlakuan yang diterapkan adalah bentuk olahan setengah jadi dari ubijalar yaitu bentuk tepung dan pasta ubi jalar, serta perlakuan varietas ubi jalar yaitu Kidal (kuning), Ayamurazaki (ungu), Sari (oranye), dan Jago (putih). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen untuk pasta lebih besar karen a masih mengandung air yang tinggi, namun demikian berdasarkan berat kering rendemen pasta (11,79-24,58%) tidak berbeda nyata dibanding tepung (14,47-21,26%). Sifat fungsional pati ubijalar yaitu rasio amilosa dan amilopektin berturut-turut adalah 19,76-24,0% dan 75,12-80,24%, viskositas puncak berkisar antara 72-348BU dan viskositas balik 110-130BU. Mi ubi jalar kering dengan bahan baku tepung ubi jalar dan tapioka (80:20), dan dari pasta ubi jalar dengan tapioka (70:30 tapioka) mempunyai komposisi kimia yang tidak berbeda. Kadar air mi kering yang dihasilkan berkisar 4,63-4,69%, abu 1,31-1,35%, lemak 0,96-1,12, protein 0,28-0,74%, serat 0,58-3,91 % dan pari 29,23-81,38%. Waktu optimum pemasakan mi ubi jalar dari tepung dan pasta 4,04-4,41 menit. Daya serap air mi ubi jalar dari tepung adalah 21,22-60,43% sedangkan dari pasta 53,89-55,08%. Kehilangan padatan akibat pernasakan mi ubi jalar dari tepung (4,43-15,33%) dan pasta 15,03-16,41 %. Uji organoleptik mi dari pasta (nilai kesukaan rata-rata 3,8), secara umum lebih disenangi dibanding dari tepung ubijalar (rata-rata nilai kesukaan 3,5). Panelis paling menyukai produk mi ubi jalar dari varietas Kidal (rata-rata skor 3,95). Usage Of Flour And Paste Of Some Varieties Of Sweetpotato As Raw Material For NoodleSweetpotato can used as alternative of staple food source for Indonesian people. One of alternatives of sweetpotato processing was noodle. The aim of this research was to get processing technology of non­ wheat noodle made from sweetpotato to increase its image and added value. Treatment done were flour, pasta, and sweetpotato varieties; they were Kidal (yellow), Ayamurazaki (purple), Sari (orange), and Jago (white). Yield of pasta was bigger because still contained high level of moisture, however, dry based weight yield of paste (11,79-24,58%) were not significantly different compared to flour (14,47-21,26%). Ratio of amylose and amylopectin were 19,76-24,0% and 75,12-80,24% respectively, peak viscosity 72-348 BU and set-back viscosity 110-130 BU. Sweetpotato dry noodle made from sweetpotalo flour and tapioca (80:20) and from sweetpotato flour pasta and tapioca (70:30) had not from different in chemical compositions. Moisture content of dry noodle were 4,63-4,69%, ash 1,31-1,35%, fat 0,96-1,12%, protein 0,28-0,74%, fiber 0,58-3,91 %, and starch 29,23-81,38%. Cooking optimum time from sweetpotato flour and pasta were 4,04-4,41 minutes. Water absorption power of sweetpotato noodle from flour were 21,22-60,43%, meanwhile from paste were 53,89-55,08%. Loss of solids because of cooking from sweetpotato noodle from flour were 4,43-15,33% and paste 15,03-16,41 %. Organoleptic test of noodle from pasta (rate of hedonic value was 3,8), generally much more preferred by panelists compared to sweetpotato flour (rate of hedonic value was 3,5). The most preferred sweetpotato noodle chosen by panelists was made from Kidal variety (rate of hedonic value was 3,95).
PREPARASI DAN KARAKTERISASI BEADS KALSIUM ALGINAT YANG MENGANDUNG NANOEMULSI MINYAK SAWIT MERAH (Elaeis guineensis jacq.) DENGAN METODE GELASI IONIK Kun Tanti Dewandari; Gazali Sofwan; Herawan T
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v15n2.2018.99-105

Abstract

Salah satu bahan alam yang kaya akan antioksidan adalah minyak sawit merah seperti karoten, tokoferol dan tokotrienol. Enkapsulasi adalah suatu teknologi untuk melindungi komponen bioaktif (polifenol, mikronutrien, enzim, dan antioksidan) dari lingkungan yang merugikan dan untuk mengontrol rilis target yang dituju dengan menyalut menggunakan bahan tertentu. Tujuan penelitian ini menghasilkan beads kalsium alginat yang mengandung nanoemulsi minyak sawit merah serta karakterisasinya. Beads dihasilkan dengan metode gelasi ionik antara natrium lginat dengan penaut silang kalsium klorida. Variasi konsentrasi natrium alginate meliputi 1% (formula 1), 2% (formula 2), 3% (formula 3) dan 4% (formula 4). Beads yang dihasilkan untuk formula 1 dan 4 berbentuk tidak terlalu bulat cenderung gepeng dan berekor, sedangkan formula 2 dan 3 berbentuk bulat gepeng dan berwarna orange-orange tua. Ukuran rata- rata formula 1 dan 3 adalah sebesar 710-1180 μm, formula 2 dan 4 berturut-turut adalah 50:50 pada ukuran 500-710 dan 710-1180 μm dan >1180 μm. Kadar air beads yang dihasilkan berkisar antara 5%-10%. Beads yang dihasilkan kembali daya mengembang berturut- turut untuk formula 1dan 2, formula 3 dan 4 adalah 3 kali, 2,5 kali dan 1,5 kali dari bobot awal. Kandungan karoten dalam keempat formula yaitu, 9,802%, 2,462%, 1,106% dan 0,150%. Efisiensi penjerapan dari keempat formula yaitu 9,8005%, 2,461%, 1,108% dan 0,1485%. Pada uji pelepasan secara in vitro dalam medium asam klorida 0,1N pH 1,2 dan medium dapar fosfat pH 7,4 rata-rata karoten terlepas pada menit ke 15 sedangkan dapar fosfat pH 6 rata-rata karoten terlepas pada menit ke 30 dan 60. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah formula I dengan kandungan karoten paling tinggi yaitu sebesar 9,802% Preparation And Characterization Of Calcium Alginate Beads Containing Red Palm Oil Nanoemulation (Elaeis Guineensis Jacq.) By Ionic Gelation MethodOne of the natural materials containing rich antioxidants is red palm oil such as carotenes, tocopherols and tocotrienols. Encapsulation is a technology used to protect a material by coating it using certain material. The objective of this study is to produce calcium alginate beads containing red palm oil nanoemultion and its characterization. The process of producing beads was by using ionic gelation method, with varying concentrations of sodium alginate 1% (formula 1), 2% (Formula 2), 3% (Formula 3) and 4% (formula 4), with cross-linker calcium chloride. The shapes of beads produced for formula 1 and 4 were not too round, tended to be flattened and caudate, while formula 2 and 3 were flattened round and dark orange. The average sizes of formula 1 and 3 were equal to 710-1180 μm, formula 2 and 4 were respectively 50:50 on the size of 500-710 and 710-1180 μm and > 1180 μm. The resulting beads water content ranged from 5% -10%. The expandig power of beads reproduced were repsectively formula 1 and 2, formula 3 and 4 were 3 times, 2.5 times and 1.5 times of the initial weight. Carotene content in the four formulaae were, namely, 9.802%, 2.462%, 1.106% and 0.150%. The entrapment efficiency of the four formula were 9.8005%, 2.461%, 1.108% and 0.1485%. In the in vitro release testing in the medium of chloric acid 0,1N pH 1.2 and medium of phosphate buffer pH 7.4 of average carotene was released in minute 15 while phosphate buffer pH 6 of average carotene was released in minute 30 and 60. The best formula was formula I that has highest carotene content 9,802%.
PENURUNAN INDEKS GLIKEMIK BERAS PRATANAK DENGAN BAHAN BAKU GABAH KERING PANEN (GKP) Rahmawati Nurdjannah; Sarah Anita Apriliani; Sri Widowati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v15n2.2018.106-114

Abstract

Mayoritas masyarakat Indonesia menyukai beras dengan tekstur pulen yang memiliki kandungan amilosa rendah dan cenderung memiliki Indeks Glikemik (IG) tinggi. Respon glikemik beras selain dipengaruhi oleh sifat fisiko-kimianya, dipengaruhi juga oleh proses pengolahan, penyimpanan, ratio komponen amilosa dan amilopektin pada pangan, indeks gelatinisasi dan ukuran partikel pati, komponen pangan lain, dan asam-asam organik. Proses pratanak terbukti mampu menurunkan nilai indeks glikemik pada beras gabah kering giling (GKG), namun belum pernah dilakukan pada Gabah Kering Panen (GKP), bila dilihat dari kadar airnya dapat mempercepat proses perendaman,dan menghemat biaya produksi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-April 2016. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Besar Litbang Pasca Panen. Bahan baku yang digunakan adalah GKP dan GKG dari varietas Inpari 24 (beras merah). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah bahan baku (GKP dan GKG) dan faktor kedua adalah lama perendaman (3 dan 4 jam). Parameter analisa yang dilakukan adalah mutu fisik beras, proksimat, serat pangan, gula total, pati, amilosa, daya cerna pati, serat kasar dan Indeks Glikemik. Hasil penelitian menunjukkan mutu fisik beras pra tanak dari bahan baku GKP yang direndam selama 4 jam memiliki kadar beras kepala yang lebih tinggi (92,86%) dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Beras pratanak yang berasal dari GKP dan GKG yang direndam selama 4 jam memiliki nilai Indeks Glikemik yang sama yaitu 62 yang lebih rendah dari bahan baku (IG GKP: 84, IG GKG: 72). Reducing Glycemic Index on Parboiled Rice with Raw Material from Freshly Harvested PaddyThe majority of Indonesian people liked the rice with a fluffier texture that has a low amylose content and tend to have the Glycemic Index (GI) high. Besides rice glycemic response is influenced by the physic-chemical properties, influenced also by the processing, storage, component ratio of amylose and amylopectin in food, gelatinization index and particle size starch. Parboiled process is proven to reduce the glycemic index value of dried paddy (DP), but it has never been done on wet paddy (WP). The study was conducted in February-April 2016. The research was conducted at the Laboratory of the Indonesian Center for Agricultural Postharvest Research and Development. The raw materials used are DHR and DMR of Inpari 24 (brown rice). The study was conducted on a laboratory scale with a completely randomized factorial design of three replications. The first factor is the raw material (DHR and DMR) and the second factor is the soaking time (3 and 4 hours). Parameter analysis performed is physical quality rice, proximate, dietary fiber, total sugar, starch, amylose, starch digestibility, crude fiber, color and the Glycemic Index. Results showed physical quality of rice parboiled of raw materials DHR soaked for 4 hours had levels higher head rice (92.86%) compared to other treatments. Parboiled rice originating from DHR and DMR soaked for 4 hours to have the same value of the glycemic index was 62 lower than the raw material (IG DHR: 84, IG DMR: 72).
UJI FISIK BERAS DAN UJI INDEKS GLIKEMIK NASI (MAYANG PANDAN) PADA BERBAGAI TINGKAT DERAJAT SOSOH Erico Febriandi; Rizal Syarief; Sri Widowati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v15n3.2018.131-137

Abstract

Padi lokal Mayang Pandan asli Bangka Belitung yang telah diolah menjadi beras merah dikonsumsi oleh masyarakat Bangka Belitung secara turun temurun. Pada penelitian sebelumnya tentang Mayang Pandan telah jelaskan bahwa beras merah ini diolah dengan penyosohan dengan derajat sosoh yang berbeda, dan telah di uji sensorisnya sehingga didapatkan nasi merah yang dikonsumsi, penelitian ini bertujuan untuk melihat rendemen beras Mayang Pandan Senilai 66,66% dan nilai indeks glikemik nasi Mayang Pandan dari berbagai tingkat penyosohan. Didapatkan hasil yakni nasi Mayang Pandan dengan Derajat Sosoh (DS) 0% dan 80% yakni 55 (sedang) dan 61 (sedang). DS 0% mendekati klasifikasi rendah karena kandungan gizi yang ada dilapisan aleuronnya masih lengkap, sedangkan DS 80% sudah ada pengurangan kandungan zat gizinya sehingga nilai IG nya lebih tinggi. Pengujian ini dilaksanakan dengan izin persetujuan etik nomor : 02/ IT3. KEPMSM- IPB/ SK/ 2017. Local rice mayang pandan originated from Bangka Belitung that has been processed into brown rice that was consumed by the people of Bangka belitung from generation to generation. In previous study on mayang pandan has been explained that red rice is processed by milling with difference of milling degree and has been tested its sensory so that obtained red rice that was consumed. This study aims to determine the yield of mayang pandan rice (66.66%) and glycemic index of mayang pandan rice from various level of milling. Mayang pandan rice with 0% and 80% of milling degree have glycemic index of 55 (medium) and 61 (medium), respectively. DS 0% closed to the low classification because the nutrients content in the aleuron layer is still complete, whereas nutrients from 80% DS has been reduced so that GI values become higher. This test was conducted by permission of ethical approval number 02 / IT3. KEPMSM- IPB / SK / 2017.
KARAKTERISTIK SOHUN PATI AREN – KENTANG HITAM DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK UMBI BIT, DAUN SUJI, DAN KUNYIT Ervika Rahayu Novita Herawati; Dini Ariani; nFN Miftakhussolikhah; Fela Laila; Yudi Pranoto
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v15n3.2018.147-155

Abstract

Sohun pati aren kentang hitam merupakan sumber karbohidrat alternatif yang dibuat dari 75% pati aren dan 25 % tepung umbi kentang hitam, dengan karakteristik warna hitam kecoklatan sehingga perlu penambahan zat warna alami untuk memperbaiki kenampakan produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik produk dengan penambahan pewarnaan alami, yaitu ekstrak umbi bit, kunyit, dan daun suji. Dalam penelitian ini terdapat 5 variasi penambahan ekstrak, yaitu 0,4; 0,6; 0,8; 1,0 dan 1,2 g daun suji atau umbi bit/mL air, sedangkan ekstrak kunyit ditambahkan sebanyak 0,06; 0,12; 0,18; 0,24; dan 0,30 g kunyit/mL air. Analisis sifat fisik meliputi kuat patah, tensile strength, elongasi dan warna sohun, sedangkan analisis sensoris yaitu uji kesukaan dengan atribut warna, aroma, rasa, dan kesukaan keseluruhan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin banyak ekstrak umbi bit, daun suji, dan kunyit yang ditambahkan dalam sohun aren-kentang hitam akan menurunkan kuat patah, tensile strength, engolasi, dan kecerahan sohun. Sohun aren-kentang hitam dengan penambahan ekstrak daun suji dari 0,4 g daun suji / ml air memiliki sifat fisik dan sensoris yang paling baik. CHARACTERISTIC OF COLEUS ROTUNDIFOLIUS-ARENGA STARCH NOODLE WITH ADDITION EXTRACT FROM BEETROOT, SUJI LEAF, AND TURMERICColeus rotundifolius arenga starch noodle is an alternative carbohydrate source made from 75% arenga starch and 25% C.rotundifolius tuber flour which has a brownish-black color, so the addition of natural coloring agents is needed to fix its physical appearance. The aim of this study is to determine the characteristic of C.rotundifolius arenga starch noodle with addition of natural color, including beetroot, suji leaf, and turmeric extract. The noodle made with five variations concentration 0.4; 0.6; 0.8; 1.0; and 1.2 g of suji leaf or beetroot/ml water, and 0.06; 0.12; 0.18; 0.24; and 0.30 g turmeric/ml water. Physical properties analyzed are compression strength, tensile strength, elongation percentage and color. Sensory properties analyzed are hedonic scoring of color, odor, taste, and overall. The results showed that the higher concentration of beetroot extract, suji leaf extract, and turmeric extract decreased the compression strength, tensile strength, elongation percentage and brightness properties of starch noodle. The best noodle quality is reached with the addition of suji leaf extract from 0.4 g suji leaf /mL water.
Pengaruh Suhu Dan Lama Pengeringan Terhadap Mutu Minyak Kelapa Murni Kun Tanti Dewandari; Andi Nur A. Syah; nFN Risfaheri
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n2.2007.91-96

Abstract

Minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil) adalah produk yang dihasilkan dari daging kelapa segar (non kopra), dengan atau tanpa melalui proses pemanasan yang tinggi serta penambahan bahan kimia. Minyak kelapa murni mengandung asam laurat yang tinggi sehingga sangat potensial sebagai functional food, yaitu sebagai minuman yang mempunyai khasiat obat untuk penyakit degeneratif, anti virus, anti jamur dan bakteri. Terdapat berbagai cara untuk mendapatkan minyak kelapa murni , salah satunya adalah dengan metode mekanis. Dengan cara ini daging kelapa diparut, dikeringkan dan dipres. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi optimum suhu dan lama pengeringan kelapa parut pada produksi minyak kelapa murni. Rancangan yang digunakan pad a penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 2 faktor yaitu suhu dan lama pengeringan kelapa parut, Suhu dan lama pengeringan kelapa parut serta interaksinya memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar air, kadar asam lemak bebas dan kadar asam laurat. Hasil terbaik diperoleh dari kombinasi perJakuan suhu pengeringan 40°C dan lama pengeringan 40 menit dengan kadar air 0,36%, kadar asam lemak bebas 0,0157%, kadar asam laurat 48,7% dan kejernihan 17,24±0,016 NTU. Uji organoleptik memberikan nilai penerimaan pane lis 5,3 hingga 6,1. Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa struktur rongga daging kelapa parut kering mengalami kerusakan yang ditandai dengan pengkerutan, pelipatan dan penggumpalan protein. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam menentukan kondisi ekstraksi minyak kelapa murni dengan metode mekanis untuk menghasilkan minyak kelapa murni dengan mutu yang baik. Effect Of Temperature And Time Of Drying On Virgin Coconut Oil QualityVirgin coconut oil is an oil produced from fresh and mature coconut kernel by mechanical or natural means with or without application of heat. Virgin coconut oil contains high lauric acid. Virgin coconut oil is highly potential for use in functional food as antiviral, antibacterial and antifungi as well as medicine for degeneratif desease. Virgin coconut oil was extracted by mechanical method. In this method, coconut meal was grated, dried and pressed. The objective of this research was to obtain optimum temperature and length of drying time on production of virgin coconut oil. The experimental design used was fectorial complete randomized design with two factors i.e. temperature and length of drying time. Both temperature and lenght of drying time and their interaction influenced moisture content, free fatty acid and lauric acid of virgin coconut oil. The best result was obtained from temperature of drying of 40°C and length of drying time of 40 minutes with moisture content of 0.36%, free fatty acid of 0.0157%, lauric acid 48.7% and turbidity value 17.24±0.016 NTU. Organoleptic test showed that all the products were accepted by panelis with the average score ranged from 5.3 to 6.1. SEM analysis showed that grated coconut has a shrinkage, collapse and damage structure due to coagulation of protein. Results
Sintesis Alkil Poliglikosida (APG) Berbasis Alkohol Lemak Dan Pati Sagu Untuk Formulasi Herbisida Ani Suryani; nFN Dadang; nFN Setyadjit; Agus Sudiman Tjokrowardojo; Mochamad Noerdin N.Kurniadji
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n1.2008.10-20

Abstract

Alkil poliglikosida (APG) merupakan surfaktan nonionik yang biasa digunakan pada formulasi beberapa produk seperti formulasi herbisida, produk-produk perawatan badan, produk kosmetik maupun untuk pemucatan kain tekstil. APG merupakan surfaktan generasi baru yang ramah lingkungan karena bersifat mudah terurai. Bahan baku APG adalah alkohol lemak dari oleokimia minyak kelapa atau minyak inti sawit dan karbohidrat seperti pati. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh surfaktan non ionik APG yang berbasis pati sagu dan alkohol lemak C12 (dodekanol). Penelitian ini memodifikasi proses produksi APG metode dua tahap dengan mencari kondisi optimum suhu proses butanolisis dan rasio mol pati sagu-dodekanol dan mengetahui pengaruhnya terhadap nilai kestabilan emulsi air:xilena, karakterisasi APG dan hasil formulasi herbisidanya serta uji efektivitasnya. Hasil analisis permukaan respon, menunjukkan nilai kestabilan emulsi air:xilena dengan penambahan APG (%) yaitu 72,58% pada suhu proses butanolisis 147,8oC dan pada rasio mol tepung sagu-dodekanol 1:3,27 (b/b). Validasi optimasi menunjukkan nilai kestabilan emulsi air:xilena dengan penambahan APG yaitu 72,3%. Model persamaan optimum Y= 64,29 + 35,53X1 – 29,82X12 - 9,63X2 – 23,09X22 -20,56X1X2 adalah valid sesuai hasil pengujian. APG pada konsentrasi 1% (b/v) dapat menurunkan tegangan permukaan 23,375 dyne/cm dan nilai tegangan antarmuka antara air dan xilene pada konsentrasi 0,4% (b/v) APG adalah 8,17 dyne/cm. Nilai HLB 8,8 sehingga APG yang dihasilkan termasuk surfaktan yang sesuai untuk jenis emulsi minyak dalam air (O/W) dan sebagai bahan pembasah. Sedangkan pH APG kondisi proses optimum sebesar 7,15. Pengamatan aplikasi formulasi herbisida (glifosat dan surfaktan APG) hasil penyimpanan 5 minggu dengan suhu 15oC, suhu ruang (26-29oC) dan 40oC menunjukkan efektivitas yang tinggi. Suhu penyimpanan tidak berpengaruh nyata terhadap efektivitas herbisida.Synthesis of Alkil Polyglycoside From Fatty Alcohol and Sago Starch for Herbicide FormulationAlkyl poliglycosides (APG) is non ionic surfactant which is commonly used in some products like herbicides, personal care products, cosmetics and textile bleachings. APG is new generation of surfactant that is environmental friendly. Raw materials of APG are fatty alcohol from palm oil or palm kernel oil and carbohydrates like starch, that make APG a biodegradable surfactant. The aim of research was to obtain non ionic surfactant alkyl polyglycosides (APG) based on sago starch and fatty alcohol CI2 (dodecanol). This research is a modification of production process of APG two steps method, by optimizing temperatures for butanolysis and mol ratio of sago starch-dodecanol to emulsion stability (water: xylene), characterisisation of APG formulated, herbicide formulation and its hebicide formulation effectiveness. Result of response surface, showed that emulsion stability (water:xylene) added APG (%) was 72.58% at temperature of butanolysis 147.8°C and at ratio of sago starch-dodekanol 1:3.27 (w/w). Validation showed that emulsion stability (water: xylene) with addtion of APG was 72.3%. Equation model of optimum condition was Y= 64.29 + 35.53X, _ 29.82X,' _ 9.63X2 _ 23.09X,'-20.S6X,X2 which similar to experimental data. APG at I % (w/v) was able to decrease surface tension 23.375 dyne/ern and interfacial tension between water: xylene at APG concentration of 0.4% (w/v) was 8.17 dyne/ern. Value of HLB was 8.8 so that this surfactant is classified into emulsion of oil in water (O/W) and wetting agent. APG pH for optimum process was 7.15. Application of herbicide formulate (glyphosate and APG surfactant) that was stored for 5 weeks at temperature of lye, room temperature (26-29°C) and 40°C still showed a high effectiveness. The storage temperature did not effect significantly on herbicide efectiveness.

Filter by Year

2004 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Journal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian More Issue