cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02161192     EISSN : 25414054     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian (J.Pascapanen) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian pascapanen pertanian. Jurnal ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 258 Documents
Seleksi dan Optimasi Proses Produksi Bakteriosin dari Lactobacillus sp Sri Usmiati; Tri Marwati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n1.2007.27-37

Abstract

Bakteriosin sebagai agen biopreservatif sangat potensial digunakan untuk mengendalikan beberapa bakteri kontaminan pada daging dan produk daging, tetapi secara komersial ketersediaanya masih sedikit dan harganya sangat mahal, padahal koleksi bakteri asam laktat (BAL) sebagai produsernya di Indonesia tersedia cukup banyak. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mendapatkan bakteri calon penghasil bakteriosin yang potensial dari beberapa isolat bakteri Lactobacillus sp. yang mampu menekan pertumbuhan Escherichia coli, Salmonella thypimurium, dan Listeria monocytogenes, serta kondisi optimum proses produksi bakteriosin. Penelitian dilakukan dengan dua tahap yaitu pemilihan isolat dan optimasi proses produksi bakteriosin. Pemilihan isolat meliputi kegiatan: pertama yaitu aktivasi isolat dan penghitungan jumlah koloni. Parameter yang diamati adalah visualisasi adanya kekeruhan pada media cair nutrien broth serta jumlah koloni isolat yang telah aktif. Kedua merupakan kegiatan produksi bakteriosin dan aktivitas penghambatan. Parameter pengamatan adalah didapatkannya bakteriosin dari isolat terpi lih dan hasi l uj i terhadap bakteri E.coli , S. thypimurium, dan L.monocytogenes. Ketiga adalah mencari kurva dan fase pertumbuhan isolat terpilih. Parameter yang diamati yaitu nilai pH, optical density (OD) kultur pada media MRS dan nilai log dari jumlah koloni isolat terpilih yang diplot ke dalam bentuk kurva sigmoid (S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat yang paling potensial sebagai calon produser bakteriosin adalah SCG 1223. Kondisi optimum produksi bakteriosin yang memiliki daya hambat representatif adalah pH 5, suhu 33,5 oC selama 9 jam inkubasi dengan penghambatan terhadap S.thypimurium sebesar 638,803 mm2/ml, E.coli sebesar 623,264 mm2/ml dan L.monocytogenes sebesar 509,434 mm2/ml.Selection And Optimation Of Process Of Bacteriocin Production From Lactobacillus sp,Bacteriocin as biopreservative agent was potential to suppress some contaminant bacteria on meat and meat products, but commercial availability still limited and costly. On the other hand, the availability of lactic acid bacteria collection as a source of bacteriocin producer in Indonesia is abundant and cheap. For this reason, bacteriocin from some potential Lactic Acid Bacteria (LAB) need to be produced to suppress contaminant bacteria on meat and meat products. The objectives of research were to select bacteria as bacteriocin producer from some isolate Lactobacillus sp which suppress growth of Escherichia coli, Salmonella thypimurium, dan Listeria monocytog enes, and to optimize the process of bacteriocin production. The research was done by two steps activities, i.e. potential isolate selection and optimization of bacteriocin production process. Isolate selection activity included: firstly, isolate activation and counted number of colony. The parameters were visualization of turbidity the liquid nutrient broth and number of colonies isolate activated. Secondly, step to produce bacteriocin and its inhibition. The parameters were bacteriocin production of selected isolate and result of its inhibition on E.coli, Suhypimurium. dan Limonocytogenes, Thirdly, activity to obtain the curve and growth phase of selected isolate. The parameters of observation were pH, optical density (00) of culture on MRS media and log number of selected isolate colony which has been plotted on sigmoid curve (S). Result of research showed that isolate which was selected as bacteriocin producer was SCG 1223. The optimum condition for bacteriocin production which was optimum in inhibition were pH 5, temperature 33.5°C for 9 hours incubation which has inhibition on S.thypimurium 638.803 mm2/ml, E.coli 623.264 mm2/ml and L.monocytogenes 509.434 mm2/ml,
Produksi Selulase Oleh Trichoderma viride Pada Media Tongkol Jagung Dan Fraksi Selulosanya Titi C. Sunarti; Nur Richana
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n2.2007.57-64

Abstract

Penggunaan enzim pendegradasi selulosa (selulase) untuk hidrolisis biomassa yang mengandung lignoselulosa, merupakan salah satu bagian dari proses produksi bioetanol. Penelitian ini mempelajari pemanfaatan tongkol jagung terdelignifikasi dan fraksi selulosanya sebagai substrat untuk produksi selulase oleh Trichoderma viride menggunakan kultivasi media padat dan media Andreoti yang dimodifikasi dari Mandels. Selulase yang dihasilkan dikarakterisasi dan digunakan untuk sakarifikasi selulosa menghasilkan gula sederhana dan selo-oligosakarida. Komposisi gula diamati melalui perubahan derajat polimerisasi dan nilai ekuivalen dekstrosa. Fraksi selo-oligosakarida yang larut air diidentifikasi dengan HPLC. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa fraksi selulosa merupakan bagian terbesar dari tongkol jagung yaitu sekitar 43%. Selulase dari tongkol jagung terdelignifikasi bekerja optimal pada pH 4,8 dan suhu 50°C,aktivitas spesifik FP-ase 2,178 U/mg dan CMC­ ase 0,110 U/mg; sedangkan selulase dari fraksi selulosa tongkol jagung bekerja optimal pada pH 5,0 dan suhu 40°C, aktivitas FP-ase 0,190 U/mg dan CMC-ase 0,078 U/mg. Hasil hidrolisis sebagian besar adalah selo-oligosakarida dengan DP 14,8-62,2 atau DE 1,61-6,77. Kromatogram memperlihatkan fraksi terlarutnya sebagian besar adalah glukosa. Selulase dari tongkol jagung terlihat lebih aktif pada selulosa amorf, sedangkan selulase dari fraksi selulosa aktif pada selulosa kristalin. Production Of Cellulases By Trichoderma Viride From Corn­ Cob And Its Cellulose Fraction MediaThe use of cellulose degrading enzyme (cellulases) for hydrolysis of ligno­ cellulosic biomassa is a part of bio-ethanol production process. In this experiment the delignified corn-cob and its cellulose fraction were used as substrates for cellulase production by Trichoderma viride using modified Andreoti medium from Mandels and solid-state cultivation system. The crude cellulases were characterized and applied for saccharification of cellulose to produce simple sugars and cello-oligosaccharides (COS's). The compositions of sugars were monitored by measuring the changes in degree of polymerization and dextrose equivalent. The soluble fractions of COS's were identified and determined by HPLC. The results showed that cellulose was the largest fraction of corn-cob flour (43%). The cellulase from delignified corn-cob had an optimum activity at pH 4.8 and temperature 50°C, with specific activities of 2.178 U/mg of FP-ase and 0.110 U/mg of CMC-ase, while for cellulase from cellulose fraction had an optimum activity at pH 5.0 and temperature 40°C with specific activities of 0.I 90 U/mg of FP-ase and 0.078 U/mg of CMC-ase. The main hydrolyzate products were COS's with chains length of DP 14.8-62.2, and DE 1.61-6.77. The chromatograms of COS's soluble fraction mainly contained glucose. The cellulase from deJignified corn-cobs was active in amorphous region of cellulose while cellulase from cellulose fraction was more active in crystalline region.
Pengaruh Bakteri Probiotik Terhadap Mutu Sari Kacang Tanah Fermentasi Sri Usmiati; Tyas Utami
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n2.2008.27-36

Abstract

Kacang tanah adalah sumber bahan pangan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi minuman fermentasi. Kacang tanah dan olahannya rentan terhadap kontaminasi aflatoksin. Salah satu cara untuk menguranginya adalah memanfaatkan bakteri asam laktat probiotik sebagai agensia fermentasi yang dapat mengikat aflatoksin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi penggunaan bakteri asam laktat probiotik yang mampu mengikat aflatoksin terhadap mutu sari kacang tanah fermentasi yang aman dikonsumsi. Penelitian meliputi kegiatan: (1) seleksi bakteri asam laktat, (2) penentuan rasio kacang tanah dengan air untuk minuman fermentasi sari kacang tanah, (3) penyimpanan minuman sari kacang tanah fermentasi pada suhu 4°C selama 14 hari, (4) uji sensoris produk minuman sari kacang tanah fermentasi, dan (5) fermentasi sari kacang tanah yang terkontaminasi aflatoksin menggunakan kultur terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lactobacillus acidophilus SNP2 terpilih sebagai starter dalam fermentasi sari kacang tanah berdasarkan kemampuan menurunkan pH paling cepat dan sifat sensoris produk yang paling baik. Rasio kacang tanah dengan air 1:10 pada suhu 37°C selama 18 jam terpilih dalam fermentasi sari kacang tanah yang menghasilkan produk dengan nilai pH 3,58 dan jumlah sel 1,94x109 CFU/ml. Penyimpanan produk selama 9 hari pada suhu 4°C minuman sari kacang tanah fermentasi secara sensoris menjadi sangat asam dengan konsistensi lebih menggumpal. Fermentasi sari kacang tanah terkontaminasi aflatoksin menggunakan Lactobacillus acidophilus SNP2 dapat menurunkan aflatoksin sebesar 8,55 %. Effect of Probiotic Bacteria on Quality of Fermented Groundnut Extract Groundnut is a source of foods which is potential to be developed as fermented groundnut extract drinks. Groundnut and its processed products are easy to be contaminated by aflatoxin. To reduce groundnut aflatoxin contamination can be done by using probiotic lactic acid bacteria as fermentation agent to trap aflatoxin. The objective of the research was to find out the possibility of using probiotic lactic acid bacteria to ferment groundnut extract which could trap aflatoxin. The research included activities: (1) selection of lactic acid bacteria for groundnut extract fermentation, (2) determination the ratio of groundnut and water in fermented groundnut extract, (3) storage the fermented groundnut extract on 4°C for 14 days, (4) sensory test of fermented groundnut extract, and (5) fermentation of groundnut extract which was contaminated by aflatoxin using selected culture. Result of research showed that Lactobacillus acidophilus SNP2 was selected culture based on capability in reducing pH and sensory properties of fermented groundnut extract. The best ratio between groundnut and water in fermentation process was 1:10 at 37°C for 18 hours produced fermented drinks with pH 3.58 and cell count of 1.94xlO' CFU/m!. Storage of fermented groundnut extract for more than 9 days, caused the drinks became very sour and more coagulated consistency. Fermentation of groundnut extract contaminated by aflatoxin using Lactobacillus acidophllus SNP2 could reduce aflatoxin concentration for 8.55%.  
Formulasi Dan Karakterisasi Shampo Anti Jamur Dengan Penambahan Ekstrak Lengkuas Merah Christina Winarti; nFN Hernani; Rini Budiarti
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n2.2007.97-104

Abstract

Lengkuas merah (Alpinia galanga) sudah terbukti berkhasiat sebagai anti jamur dengan bahan aktif seperti eugenol, kaemferol, galangin, dan asetokavikol asetat. Penggunaan ekstrak lengkuas merah dalam prod uk sampo diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah lengkuas merah selain sebagai upaya penemuan altematif sumber sediaan obat yang lebih aman bagi penderita infeksi kulit kepala. Penelitian ini bertujuan untuk, (I) mengetahui efektivitas sampo dengan penambahan ekstrak lengkuas merah terhadap jamur penyebab infeksi kulit kepala, (2) mengetahui pengaruh penambahan ekstrak lengkuas merah terhadap karakteristik produk sampo, dan (3) untuk mengetahui kesukaan konsumen terhadap produk sampo dengan penambahan ekstrak lengkuas merah. Pada penelitian ini dilakukan formulasi sampo dengan penambahan bcberapa konsentrasi ekstrak lengkuas merah. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal dengan 4 variasi konsentrasi ekstrak lengkuas merah yaitu D,S %, 1%, 2% dan 3 %. Sebagai kontrol dibuat formula tanpa penambahan ekstrak lengkuas. Parameter yang diamati meliputi pH, kadar air, kadar alkali bebas, stabilitas emulsi, viskositas, uji daya hambat dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampo dengan penambahan ekstrak lengkuas merah cukup efektif menghambat jamur Tricophyton mentagropytes dan Microsporum canis dengan diameter daerah hambat masing-masing 29-34 mm dan 32,3-36 mm. Penambahan ekstrak lengkuas merah ternyata mempengaruhi karakterisrik sampo, nilai pH, kadar air, kadar alkali bebas, dan stabilitas emulsi lengkuas merah memenuhi standar (SNI 06-2692-1992). Berdasarkan karakteristik sampo, stabilitas produk dan uji preferensi, maka formula sampo ekstrak lengkuas merah yang disarankan adalah dengan konsentrasi ekstrak lengkuas merah 0,5 % Formulation and characterization of antifungal shampoo containing red galangal (Alpinio galanga) extractRed galangal has been proven as antifungal containing bioactive compounds such as eugenol, kaempferol, galangin, and I'-Acetoxychavicol Acetate. Incorporation of red galangal extract into shampoo is a promising approach to increase added value of red galangal which mostly used as spices. Besides, antifungal shampoo with red galangal extract is safer than those with synthetic antifungal active material. The aims of the research were to find out (J) effectiveness of red galangal shampoo in inhibiting scalp-infecting fungi, (2) effect of addition of red galangal extract on the characteristics of shampoo, and (3) preferences of red galangal shampoo. Experiments were conducted by incorporating red galangal extract into shampoo added at four different concentrations (0.5%, 1%, 2% and 3 %). Shampoo without galangal extract was used as a control. Research was performed using Single Factor Completely Randomized Design with four levels of red galangal extract concentrations. The response parameters measured included pH, moisture content, free alkali, emulsion stability, viscosity, inhibitory test and preference test of the shampoo. Result showed that red galangal shampoo effectively inhibited T mentagropytes and M. canis with inhibition zone of 29-34 mm and 32.3-36 mm, respectively. Addition of red galangal extract affected the characteristics of shampoo. Value of pH, moisture content, free alkali, and emulsion stability of the shampoo with red galangal extract were in the range of Indonesian National Standard for shampoo (SNI 06-2692-1992). The viscosity of shampoo with 3 % extract addition was higher than that of Indonesian National Standard. Statistical analysis showed that the level of addition of red gal an gal extract influenced pH value, moisture content, viscosity, and emulsion stability of shampoo. Shampoo with O.S % red galangal extract was recommended.
Pembuatan Resin Fenolik Dari Destilat Cairan Kulit Biji Mete Sebagai Bahan Baku Vernis Tatang Hidayat; Illah Sailah; Ani Suryani; Titi C. Sunarti; nFN Risfaheri
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n1.2008.21-31

Abstract

Destilat cairan kulit biji mete (CNSL) merupakan cairan yang diperoleh dari hasil destilasi CNSL dengan komponen utamanya kardanol. Salah satu pemanfaatan destilat CNSL yang prospektif yaitu sebagai sumber fenol dalam pembuatan resin fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi proses pembuatan resin fenolik dari destilat CNSL yang sesuai sebagai bahan baku vernis, baik untuk pemakaian di dalam (interior) maupun di luar (eksterior). Tahapan penelitian, yaitu 1) karakterisasi destilat CNSL dan 2) pembuatan resin fenolik dari destilat CNSL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terbaik pembuatan resin fenolik dari destilat CNSL dicapai pada nisbah mol formaldehida terhadap destilat CNSL 0,9:1 dengan pH 3. Reaksi metilolasi pada suhu 100oC memerlukan waktu yang relatif lama, yaitu 9,0 jam. Meningkatnya suhu reaksi dari 100 menjadi 120oC mempercepat waktu reaksi metilolasi dari 9,0 jam menjadi 4,0 jam. Reaksi metilolasi destilat CNSL (kardanol kasar) dengan formaldehida memenuhi pola reaksi ordo kedua. Konstanta laju reaksi metilolasi (k) meningkat secara eksponensial dengan semakin tingginya suhu reaksi sesuai dengan persamaan k=116.104.360,02 e–7.230,7 (1/T). Suhu reaksi metilolasi tidak berpengaruh nyata pada karakteristik dan sifat film resin yang dihasilkan. Lapisan film resin memiliki waktu kering yang cukup singkat, yaitu waktu kering sentuh 3,0 jam dan kering keras 6,0 jam. Secara umum, karakteristik dan sifat lapisan film resin yang dihasilkan cukup baik kecuali daya lekat dalam media besi dan daya lenturnya. Resin yang dihasilkan sudah memadai untuk digunakan sebagai bahan baku vernis kayu untuk pemakaian di dalam (interior) karena kekerasan lapisan film yang tinggi. Sebagai bahan baku vernis kayu untuk pemakaian di luar (eksterior) masih perlu perbaikan dalam sifat daya lenturnya.Production of Phenolic Resin From Cashew Nut Shell Liquid Distillate as Raw Material for VarnishCNSL distillate is a liquid which is obtained from CNSL distillation with cardanol as the main component. One of prospective utilization of CNSL distillate that is as a source of phenol in phenolic resin production. The objective of this research was to get the best process condition of phenolic resin production from CNSL distillate as raw material for interior and exterior varnish. The stages of experiment, were: 1) characterization of CNSL distillate and 2) phenolic resin production from CNSL distillate. The optimal condition in phenolic resin production was achieved at mole ratio of formaldehyde to CNSL distillate 0,9: I and pH 3. Methylolation reaction at 100°C needed 9.0 hours to be completed. The increasing of methylolation reaction temperature from 100 to ] 20°C was able to reduce reaction lime from 9.0 hours to 4.0 hours. Methylolation reaction formaldehyde with CNSL distillate (crude cardanal) fulfilled second order reaction pattern. Constant of reaction rate (k) increased exponentially with increasing the temperature according to equation ke I 16.104.360,02e-7230.7(IIT). Temperature of methylolation reaction did not effect to the characteristic and properties of resin film. Resin film has short dry time i.e. touch-dry 3.0 hours and hard-dry 6.0 hours. Generally, characteristic and resin film properties show very good result except the adhesion on steel and its flexibility. Based on the properties of its film, phenolic resin produced has been fulfilled for using as raw material in interior wood varnish because of good hardness properties. While for exterior wood varnish, the improvement on its flexibility properties is still needed.
Ekstraksi Xilan dari Tongkol Jagung Nur Richana; Tun Tedja Irawadi; M. Anwar Nur; Illah Sailah; Khaswar Syamsu; Yandra Arkenan
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n1.2007.38-43

Abstract

Tongkol jagung merupakan limbah jagung terbesar (45%) yang mengandung xilan sekitar 12% dan belum banyak dimanfaatkan. Tongkol jagung mempunyai prospek untuk bahan baku industri xilan, yang merupakan bahan baku industri furfural, gula xilitol, dan bahan baku untuk media pertumbuhan bakteri xilanase. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode ekatraksi xilan dari tongkol jagung dan karakterisasi xilan yang dihasilkan. Ekstraksi xilan dari tongkol jagung dilakukan dengan dua tahap yaitu proses delignifikasi menggunakan NaOCl (0,5; 1,0; 2,5; 5 dan 7,5%) kemudian pengendapan xilan dengan perlakuan rasio supernatan dan etanol 1:1; 1:2; 1:3; dan 1:4. Ekstrak xilan selanjutnya diuji kelarutan pada pelarut organik, asam, alkali, air panas dan dingin. Analisis kualitatif dan kuantitatif xilan dilakukan dengan Khromatografi Cair Kinerja Tinggi . Hasi l penelit ian menunjukkan kombinasi perlakuan konsentrasi NaOCl 0,5% dan perbandingan supernatan:etanol 1:3 (v/v), menghasilkan rendemen xilan tertinggi (12,95%). Analisis dengan Khromatografi Cair Kinerja Tinggi menghasilkan khromatogram xilan dengan kemurnian 97,47%. Xilan yang dihasilkan sangat larut dalam alkali (NaOH 1%), larut dalam air panas dan dingin.Extraction Of Xylan From Corn CobCorn cob is the biggest part of corn waste (45%) which contain about 12% xylan which has not been utilized. Corn cob can be used as raw material of production of xylan. Xylan is the raw material for furfural, xylitol industry, and growth medium for microorganism producing xylanase.The objectives of this research was to find out the method of extracting the xylan, and characterization of xylan produced. The extraction procedure were done in two steps, firstly delignification using NaOCI (0.5; 1.0; 2.5; 5 and 7.5%) and then precipitation using ethanol with the ratio of ethanol and supernatant (I: I; 1:2; 1:3; and 1:4). The solubility of xylan produced in organicsolvent, acid, alkaline solvent and in cold and hot water was observed. Quantitative and qualitative analysis of xylan were done using High Performance Liquid Chromatography. The research result showed that the highest yield (12.95%) whith purity (97.47%) was produced by 0.5% NaOCI and 1 : 3 ratio of ethanol and supernathant combination treatment. The highest solubility of xylan was in alkaline solvent (NaOH 1%), and soluble in hot and cool water.
Teknologi Pemurnian Ekstrak Lengkuas (Alpinia Galanga) Secara Adsorpsi Christina Winarti; nFN Hernani; Tri Marwati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n2.2007.65-71

Abstract

Ekstrak lengkuas (Alpinia galanga) dengan menggunakan pelarut etil asetat diketahui mampu menghambat pertumbuhan jamur penyebab penyakit kulit, seperti jamur Tricophyton mentagrophytes dan Microsporum canis karena mengandung bahan aktif asetoksi-khavikol asetat. Untuk pengembangannya diperlukan dukungan teknik pemurnian ekstrak sehingga diperoieh mutu yang lebih baik dan kadar bahan aktifnya lebih tinggi. Penelitian pemurnian ektstrak lengkuas dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan jenis adsorben dan eluen yang mampu meningkatkan mutu dan kadar bahan aktifnya. Percobaan disusun dengan Rancangan Acak Lengkap Faktorial, dimana faktor pertamanya jenis adsorben (A), A, : silika, A2: amberlite dan A,: florisil dan faktor kedua adalah jenis larutan pengelusileluen (B), B, : metanol dan B, : etanoi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemurnian ekstrak lengkuas secara adsorpsi dengan kombinasi perlakuan adsorben silika dan eluen etanol menghasilkan rendemen dan mutu serta bahan aktif aseroksi khavikol asetar yang lebih tinggi dibanding periakuan lainnya. Dengan kornbinasi perlakuan tersebut, dihasilkan rendemen ekstrak murni 84,33%, mutu (pH4,45, total padatan terlarut 70,79%, sisa pelarut 0,67%), diameter daerah harnbat jamur 14,67 mm dan kadar bahan aktif asetoksi-khavikol asetat 0,863%. Purification Of Galangal Extract By Adsorption TechniqueEthyl acetate extract of galangal could inhibit the growth of skin-infected fungi such as Tricopliyton mentagrophytes and Microsparum canis due to its active compound acetoxychavicol-acetate. Development of purification technique was required to enhance the quality of galangal extract. The aim of this research was to find out type of adsorbent and eluent for producing high quality of galangal extract. Research was arranged using Factorial Complete Randomized Design with two factor. The first factors was type of adsorbent (A): Al= silica; A2 = amberlite and A3 = f1orisil; while second factor was type of eluent (B): B I = methanol and B2 = ethanol. Result showed that purification process using silica adsorbent and ethanol produced high yield, and acetoxychavicol acetate content yield 84.33% (pH 4.45, total soluble solid 70.79%, solvent residue 0.67%) fungal inhibitory diameter 14.67 min and the content of acetoxychavicol acetate 0.863%.
Pengaruh Suhu dan Waktu Ekstraksi Terhadap Karakter Pektin dari Ampas Jeruk Siam (Citrus nobilis L) Agus Budiyanto; nFN Yulianingsih
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n2.2008.37-44

Abstract

Produksi jeruk selama tiga tahun terakhir (2005 - 2007) cenderung meningkat.  Jumlah produksi jeruk yang tinggi mengakibatkan harga jual menurun sehingga perlu dilakukan pengolahan. Pengolahan jeruk dalam bentuk konsentrat dan jus jeruk akan menghasilkan limbah berupa ampas jeruk.  Salah satu komponen ampas jeruk adalah pektin yang merupakan komponen fungsional pada industri makanan dan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu dan waktu ekstraksi terhadap karakteristik pektin ampas jeruk Siam.  Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor. Faktor A (suhu) dan B (waktu) terdiri atas tiga taraf, dengan masing-masing tiga ulangan. Faktor A adalah A1 = 65oC, A2 = 80oC, dan A3 = 95oC, sedangkan faktor B yaitu B1 = 40 menit, B2 = 60 menit dan B3 = 80 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pektin bermetoksil rendah yaitu 4,87 – 6,95% (kurang 7%) dengan rendemen pektin 13,67 – 16,32% dan kadar air 7,94-11,91% (kurang dari 12%). Kadar galakturonat pektin (minimal 65%)  dihasilkan dari ekstraksi dengan suhu 95oC selama 40, 60 dan 80 menit serta pada suhu 80oC selama 80 menit.  Berdasarkan hasil karakteristik pektin, kondisi optimum ekstraksi pektin adalah perlakuan pada suhu ekstraksi 95oC selama 40 menit. Effect of Temperature and Time of Extraction on Characters of Pektin Extracted From Siam Citrus (Citrus nobilis L) Pulp Indonesian citrus production during the last three years (2005 - 2007) tends to increase. Amount of high citrus production result price, therefore requires processing. Simple citrus processing of citrus concentrated citrus juice and juice would produce waste, such as pulp. Pectin is one of compounds of citrus pulp which has a role componens in food and pharmateutical industries. The objective of this research was to study influence of extraction temperature and time toward Siam citrus pulp pectin characteristic. The research used factorial completely randomized design with two factors. A and B factors were consisted of three levels which each the factor used three replication. A factor were A, = 65"C, A, = SO°C,A3 = 95°C, while B factor were B, = 40 minutes, B2 = 60 minutes and B3 = SO minutes. The result showed that the yield of pectin was around 13.67 _ 16.32%, low methoxyl pectin with rnethoxyl content about 4.S7 _ 6.95% «7%) and water content 7.94 _ 11.91% « 12%). The galacturonat content «65%) were produced from extraction at temperature 95uC during 40, 60 and 80 minutes and 80°C during 80 minutes. Based on pectin characteristic result, the optimum condition of pectin extraction is treatment of temperature 95'C during 40 minutes.
Pemilihan Pelarut pada Pemurnian Ekstrak Lengkuas (Alpinia galanga) secara Ekstraksi nFN Hernani; Tri Marwati; Christina Winarti
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n1.2007.1-8

Abstract

Lengkuas (Alpinia galanga) merupakan salah satu tanaman biofarmaka. Secara farmakologis, ekstrak lengkuas mempunyai aktivitas sebagai anti jamur, anti kanker, anti tumor, antioksidan, sitotoksik, karminatif, dan anti ulcer. Untuk mendapatkan produk biofarmaka dari ekstrak murni lengkuas diperlukan proses pemurnian, antara lain dengan ekstraksi pelarut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan memilih jenis pelarut yang tepat untuk pemurnian ekstrak lengkuas secara ekstraksi pelarut, dengan mempelajari parameter rendemen, mutu dan kadar senyawa aktif dari ekstrak murni yang dihasilkan. Percobaan dilakukan dengan menggunakan 2 jenis pelarut yaitu heksan dan toluen dengan konsentrasi 60, 70 dan 80 % yang disusun dalam rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasar analisis rendemen, mutu dan kadar bahan aktif ekstrak murni, pelarut yang paling sesuai untuk pemurnian ekstrak lengkuas adalah heksan 80%. Rendemen ekstrak murni lengkuas yang dihasilkan dari pelarut tersebut adalah 57,84 %, dengan komponen mutu yaitu pH 3,94 ; total padatan terlarut 82,89%; sisa pelarut 0,18 % dan kadar senyawa aktif 1’-asetoksikhavikol asetat adalah 0,88 %.Selection of solvent on purification of galangal (Alpinia galanga) extract by solvent extractionGalangal is one of the medicinal plants since its extract pharmacologically acts as antifungal, anti cancer, anti tumor, antioxidant, cytotoxic, carminative, and anti ulcer. To produce biopharmacological product from galangal extract need a further purification process such as solvent extraction. The aim of the research was to find out the proper solvent on galangal extract purification by solvent extraction. Parameters observed were yield, quality and active compound content of the purified extract. The experiments used two solvents, i.e hexane and toluene with the concentration of 60, 70 and 80% and arranged using completely randomized design. The result showed that based on yield, quality and active compound content analyses of purified extract, the proper solvent on extraction process was 80% hexane. By those solvent, purified extract gave 57.84% on yield, quality component such as pH 3.94; 82.89% total soluble solid; 0.18% solvent residue and 0.88% l' -acetoxychavicol acetate content as active compound
Identifikasi Dan Uji Keamanan Asap Cair Tempurung Kelapa Untuk Produk Pangan Slamet Budijanto; Rokhani Hasbullah; Sulusi Prabawati; nFN Setyadjit; nFN Sukarno; Ita Zuraida
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n1.2008.32-40

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keamanan pangan asap cair tempurung kelapa untuk produk pangan dengan uji toksisitas akut dan identifikasi komponen volatil menggunakan Gas Chromatography- Mass Spectroscopy (GC-MS). Uji toksisitas akut asap cair dilakukan dengan menentukan nilai LD50 atau dosis tunggal suatu zat yang diharapkan akan membunuh 50% hewan percobaan, berdasarkan OECD 402 (2001) Guidelines for the Testing of Chemicals. Tiga ekor mencit digunakan untuk setiap perlakuan. Dosis yang diujikan adalah 0, 50, 500, 5.000, dan 15.000 mg/kg bobot badan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa nilai LD50 asap cair tempurung kelapa lebih besar dari 15.000 mg/kg bobot badan mencit. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.74 Tahun 2001, asap cair tempurung kelapa dengan nilai LD50 lebih besar dari 15.000 mg/kg, maka termasuk bahan yang tidak toksik dan aman digunakan untuk produk pangan. Identifikasi komponen volatil asap cair tempurung kelapa diawali dengan mengekstrak bahan tersebut menggunakan diklorometan sebagai pelarut. Hasil analisis GC-MS menunjukkan terdapat 40 komponen yang teridentifikasi dari asap cair, dengan 7 komponen yang dominan yaitu 2-Methoxyphenol (guaiacol), 3,4-Dimethoxyphenol, Phenol, 2-methoxy-4-methylphenol, 4-Ethyl-2-methoxyphenol, 3-Methylphenol, dan 5-Methyl-1,2,3-trimethoxybenzene. Selain itu, tidak ditemukan adanya senyawa-senyawa Policyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) yang bersifat karsinogenik termasuk benzo[a]pyrene dalam asap cair tempurung kelapa.Identification and Safety Test on Liquid Smoke Made From Coconut Shell for Food ProductThe objective of this research was to study the food safety of coconut shell liquid smoke for food products by acute toxicity test and identification of volatile compounds by means of Gas Chromatography- Mass Spectroscopy (GC-MS). Acute toxicity test of these product were assessed by determination of L050 dose (the single dose which causes the death of half the test animals) based on OECD 402 (2001) Guidelines for the Testing of Chemicals. Three mice were used for each step. The dose used were 5 fixed levels, i.e. 0, 50, 500, 5000, and 15000 mg/kg body weight. Results indicated that LO,o dose of this liquid smoke were more than 15.000 mg/kg body weight of mice. Based on regulation by the Indonesian Government (Regulation 74/RII2001), liquid smoke with LDso value more than 15.000 rug/kg body weight of mice, is not toxic and safe for food products. Identification of volatile compounds of liquid smoke was started by extracted these product using dichloromethane as a solvent. Result of GC-MS showed that liquid smoke comprised 40 components. From GC-MS spectra were identified 7 peaks of a higher proportions. They were identified as 2-Methoxyphenol (guaiacol), 3,4-dimethoxyphenol, Phenol, 2- methoxy-4-rnethylphenol, 4-Ethyl-2-methoxyphenol, 3-Methylphenol, and 5-Methyl-I.2.3-trimethoxybenzene. Neither benzo[a]pyrene nor other polycyclic aromatic compounds with carcinogenic properties were found in the liquid smoke.

Filter by Year

2004 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Journal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian More Issue