cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02161192     EISSN : 25414054     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian (J.Pascapanen) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian pascapanen pertanian. Jurnal ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 258 Documents
Stabilitas Bakteri Asam Laktat Pada Pembuatan Keju Probiotik Susu Kambing Winiati Puji Rahayu; Triana Setyawardani; nFN Miskiyah
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n2.2010.110-117

Abstract

Susu kambing adalah salah satu sumber protein hewani yang berpotensi untuk dikembangkan. Keunggulan susu karnbing antara lain kadar laktosa rendah, ukuran globula lemak yang kecil, kadar MCFA (Medium Chain Fatty Acid) dan kadar nukleotida yang tinggi. Susu kambing juga merupakan sumber isolat bakteri asam laktat (BAL) yang bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian ini telah berhasil mengisolasi BAL probiotik Lactobacillus rhamnosus dan Lactobacillus plantarum I selanjutnya digunakan untuk mengbasilkan keju fungsional. Penelitian dikerjakan dalam tiga tahapan, yaitu : (1) pemeliharaan dan persiapan kultur BAL, (2) Pembuatan keju dan uji stabilitas BAL, (3) analisis organoleptik dan proksimat keju. Keju lunak probiotik dengan isolat probiotik L. rhamnosus dan L. plantarum l mempunyai stabilitas BAL selama 4 minggu penyimpanan dengan jumlah BAL 10° log CFU/g. Keju yang dihasilkan mempunyai aroma yang sama dcngan keju kambing komersial, tetapi berbeda tekstur dan rasa (P<0,05) terhadap keju kambing komersial. Tekstur keju lunak probiotik mernpunyai kisaran rataan kekerasan 0,115-0,452 N. Kekerasan tekstur secara statistik berbeda nyata (P<O,05) untuk keju lunak dengan penggunaan BAL probiotik berbeda. Komposisi kimia keju probiotik memiliki kadar air 56,38-60,58%; kadar protein 13,57-17,40%; lemak 17,66-20,42%; dan kadar abu 2,69-3,19%. Stability Of Lactic Acid Bacteria (LAB) In Probiotic Cheese From Goat MilkGoat milk has low content of lactose, high MCFA, protein and nucleotides. in addition, goat milk is the natural source of lactic acid bacteria that have beneficial effect to the health. This research successfully isolated Lactobacillus rhamnosus and L. plantarum I and then applied those bacteria to cheese made from goat milk. This study was done in three stages, i. e. (1) Preparation of lactic acid bacteria culture, (2) probiotic cheese making and stability testing, (3) chemical analysis and sensory test of the probiotic cheese. LAB in isolate probiotic soft cheese with L. rhamnosus and L. plantarum I was viable for 4 weeks of storage with the number of LAB 10° log CFU/g. The flavor of the resulting cheese was similar to that of commercial goat cheese, but its texture and taste were different (P<0.05) from commercial goat cheese. The hardness of probiotic soft cheese ranged from 0.115 to 0.452 N and the value were significantly different (P<0.05) for soft cheese incomporated different probiotic LAB. The chemical composition of probiotic cheese was moisture 56.38-60.58%; protein 13.57-17.40%, fat 17.66-20.42% and ash 2.69-3.19%.
Teknologi Pemanfaatan Tepung Jagung Untuk Pembuatan Emping Stik nFN Suarni
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n1.2010.23-31

Abstract

Emping stik jagung adalah sejenis makanan ringan dari tepung jagung dengan olahan modifikasi dari emping stik melinjo. Penelitian pembuatan emping stik jagung telah dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan dan Kimia, Balitsereal Maros dan Laboratorium Pengujian Balai Besar Pascapanen Bogor, menggunakan Rancangan Acak Lengkap dua faktor antara varietas Anoman-I, Lokal Soppeng, Lokal Pulut Soppeng, dan lama pengukusan (20, 30, 40 menit), dengan tiga kali ulangan. Hasil uji organoleptik terhadap rasa dan kerenyahan menunjukkan bahwa .panelis lebih menyukai varietas Lokal Pulut dengan pengukusan adonan 20 menit, Sedangkan dari segi warna, panelis lebih menyukai varietas Anoman-I dengan waktu pengukusan adonan 30 menit. Kandungan kimia tidak berpengaruh terhadap waktu pengukusan dan produk, kecuali kandungan amilosa. Kandungan amilosa tepung jagung varietas Lokal Pulut Soppeng relatif rendah yaitu 3,4%, sehingga waktu dan suhu gelatinisasinya relatif rendah 14,5 menit pada suhu 51,76°C. Utilisation Of Maize Flour For Corn Stick Cracker ProductionCorn stick is made from maize using a process modified from melinjo (Gnetum gnemon) chip processing chip was carried out at the Laboratory of Food Processing and Chemistry of Research Institute for Cereals and Laboratory of Chemistry of Indonesian Centre for Agricultural Postharvest Research, Bogor, using Completely Random Design. Treatments consisted of two factors, i.e. corn varieties (Anoman-I, Local non waxy Soppeng and waxy local Soppeng) and steaming time (20, 30, 40 minutes) with three replications. Organoleptic test on taste and crispiness showed that panelists preferred Waxy- local variety with dough steaming of 20 minutes, while the result on color parameter, panelists choice was the Anoman-I variety with 30 minutes dough steaming. Steaming time did not influence chemical composition of corn flour except amylum content. Amylum content of Lokal Waxy variety was only 3.4% and its gelatinization was 14.5 minute at 51.76°C.
Pengaruh Etanol dan Larutan Basa Terhadap Mutu Sabun Transparan Dari Bahan Baku Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil) Sari Intan Kailaku; Andi Nur Alamsyah; nFN Risfaheri
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n2.2010.75-85

Abstract

Minyak kelapa konvensional telah lama digunakan sebagai bahan sabun, sampo, krim dan produk perawatan tubuh lainnya. Karakteristik minyak kelapa murni memiliki kandungan asam lemak jenuh dan aroma yang lebih baik dibandingkan minyak kelapa konvensional sehingga memberikan keunggulan tersendiri dalarn pemanfaatan minyak kelapa murni untuk produk perawatan kulit dan kecantikan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan minyak kelapa murni dalam pernbuatan sabun transparan sekaligus untuk mengetahui konsentrasi dan komposisi terbaik bahan-bahan lainnya. Rancangan percobaan yang diterapkan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah kemurnian etanol (70 dan 95%), sedangkan faktor kedua adalah jumlah larutan basa (15, 20 dan 25%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisikokimia terbaik didapatkan dengan penggunaan kemurnian etanol 95% dan jumlah basa 25%. Produk yang dihasilkan mempunyai karakteristik pH 10,26, kadar air 33,15%, kadar asam lemak bebas 0,3%, ketengikan 0,026 mg malondialdehida/kg minyak, bilangan penyabunan 43,59, nilai kekerasan 2,87 kg/cm2 dan nilai kejernihan 94,6%. Effect of Etanol Purity and Solution VCO Base on the Quality of Transparent SoapConventional coconut oil has been used as raw material for soap, shampoo, cream and other body care products. The characteristics of virgin coconut oil, which contains saturated fatty acid and better aroma compared to conventional coconut oil, give its own superiority in the utilization of virgin coconut oil for skin care and beauty products. This experiment was conducted to exploit the quality of virgin coconut oil in the making of transparent soap and also to determine the best concentration and composition of other ingredients. Experiment design used in this research was Completely Randomized Factorial Design with 2 treatment factors and 3 replicates. The first factor was the purity of ethanol (70 and 95%) and the second factor was the amount of lye (base solution) used (15, 20 and 25%). The result of experiment showed that the best physicochemical properties were gained by using of 95% ethanol purity and 25% base. The product characteristic was pH 10.26, moisture content 33.15%, free fatty acid content 0.3%, rancidity 0.026 mg malondialdehyde/kg oil, saponification value 43.59, hardness 2.87 kg/cm2 and transparency 94.6%.
SIFAT FISIKOKIMIA DAN FUNGSIONAL PATI DARI MOCAF (MODIFIED CASSAVA FLOUR) VARIETAS KASPRO DAN CIMANGGU nurud diniyah; Achmad Subagio; Riri Nur Lutfian Sari; Nugraha Yuwana
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v15n2.2018.80-90

Abstract

Singkong varietas manis (Cimanggu) dan pahit (Kaspro) dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan MOCAF. Ekstraksi pati MOCAF dapat dipengaruhi oleh lama fermentasi dan varietas singkong. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh perbedaan lama fermentasi terhadap sifat fungsional pati dari MOCAF dengan dua varietas singkong Kaspro dan Cimanggu. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal yaitu lama fermentasi (0, 12, 24 jam) dan varietas sebagai kelompoknya (Cimanggu dan Kaspro) dengan 3 kali ulangan. Parameter yang dianalisis yaitu sifat fisik (densitas kamba dan warna), sifat kimia (kadar protein, lemak, abu dan karbohidrat) serta sifat fungsional pati MOCAF (swelling power, solubilitas, daya serap air dan daya serap minyak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi 24 jam dari singkong varietas Kaspro memiliki nilai tertinggi yaitu bulk density 0,7505±0,0158 (g/mL), swelling power 7,4516±0,1185 (g/g), solubility 1,9294±0,2456 (%), water absorption capacity (WAC) 12,0000±1,0000 (mL/g) dan oil absorption capacity (OAC) 17,6667±0,5774 (mL/g), lightness 89,9433±0,1079 dan whitness index 85,9113±0,0821 serta kadar protein, lemak, abu dan karbohidrat berturut-turut (0,6094±0,04; 0,3666±0,12; 0,1849±0,03 dan 86,0125±0,42 %). Penggunaan varietas yang berbeda sebagai bahan baku MOCAF, menunjukkan hasil bahwa singkong dengan kadar sianida tinggi juga memiliki pati lebih tinggi (Kaspro), memiliki sifat fungsional (bulk density, swelling power, solubility, WAC, OAC) yang lebih baik sehingga dapat digunakan untuk keperluan dunia industri yang lebih luas. Functional Properties of Starch MOCAF (Modified Cassava Flour) from Cassava Variety Kaspro and CimangguCassava from sweet (Cimanggu) and bitter (Kaspro) varieties can be used as raw material to produced MOCAF. MOCAF’s starch extraction can be influenced by time of fermentation and variety of cassava. The aim of this research is to determine the effect of time fermentation on the functional properties of MOCAF starch which made from two varieties of cassava (Kaspro and Cimanggu). Randomized Block Design (RAK) with the single factor, time of fermentation (0, 12, 24 hours) and varieties as its group (Cimanggu and Kaspro) with triplicate was used in this research. The physical properties ( bulk density, colour), chemical properties (protein, fat, ash and carbohydrate) and functional properties of MOCAF starch (swelling power, solubility, water absorption capacity and oil absorption capacity) were evaluated. The result showed that Kaspro variety and time of fermentation 24 hour had the highest value of bulk density 0,7505±0,0158 (g/mL), swelling power 7,4516±0,1185 (g/g), solubility 1,9294±0,2456 (%), WAC 12,0000±1,0000 (mL/g) dan OAC 17,6667±0,5774 (mL/g), lightness 89,9433±0,1079, whiteness index 85,9113±0,0821, protein, fat, ash and carbohydrate content respectively 0,6094±0,04; 0,3666±0,12; 0,1849±0,03 and 86,0125±0,42 %. The varieties of cassava with highest cyanide content (Kaspro) also highest in starch content shows that has better functional properties (bulk density, swelling power, solubility, WAC, OAC) so it can be used to widely application for industrial.
Kinerja Enzim Naringinase Dan CMC Dalam Mengurangi Tingkat Kepahitan Jus Jeruk Siam nFN Setyadjit; Lani Kasigit; nFN Suyanti; Wisnu Broto; Ridwan Thahir; Dwi Setyaningsih
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n1.2010.32-42

Abstract

Dalam rangka mengurangi rasa pahit pada jus jeruk siam berbagai perlakuan telah dicoba antara lain penggunaan enzim naringinase dan CMC. Naringinase berbagai konsentrasi hingga 1,5 gil dengan berbagai waktu inkubasi hingga 4 jam pada suhu 30°C mampu menurunkan kandungan naringin hingga 50%. Optimum perlakuan adalah 1 g/l dengan waktu inkubasi 3 jam. Perlakuan CMC saja hingga 0,3% berhasil menurunkan kandungan naringin hingga 19%. Dengan meningkatnya penambahan CMC maka PTT dan kekentalan jus jeruk siam juga meningkat, tetapi tidak mempengaruhi pH total asam dan vitamin C. Kombinasi perlakuan enzim naringinase 1 g/l selama 3 jam yang dilanjutkan dengan penambahan CMC hingga 0,3% mampu menurunkan kandungan naringin hingga tinggal 30% saja, yang berarti lebih efektif dibandingkan dengan perlakuan enzim saja maupun naringin saja, dan merupakan bukti adanya efek sinergis antara keduanya. Penambahan hingga maksimum 0,2% CMC adalah yang direkomendasikan karena peningkatan lebih dari konsentrasi ini dapat mempengaruhi kesukaan jus. The Performance Of Naringinase And CMC On Debittering Citrus Siam Juice.To debitter the citrus siam juice, naringinase and CMC have been applied into the juice. Naringinase of various concentration up to 1 g/l with incubation time up to 4 h at 30°C reduced concentration of naringin up to ca. 30 %. Optimum concentration was 1 g/l for 3 h. CMC vof various concentration up to 0.3% reduced the naringin content up to 10 %. However, the pH and viscosity were increased affected by the treatment but not total acidity, vitamin C and pH. At combination 1 g/l enzim for 3 h followed by CMC lip to 0.3 % were able to reduce the naringin concentration up to 30% left over. There is an indication of synergistic effect. Recommended treatment was 1 g/l naringinase for 3 h at 30°C followed by addition of 0.2 % CMC, since above the level the juice taste has been imparted.
Optimasi Kondisi Isomerisasi Eugenol Dari Minyak Daun Cengkeh Menggunakan Metode Permukaan Respon Edy Mulyono; Ani Suryani; Djumali Mangunwidjaja; Dwi Setyaningsih
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n2.2010.86-93

Abstract

Eugenol merupakan komponen utama minyak cengkeh yang kandungannya dapat mencapai 70-95 % tergantung dari bahan baku yang digunakan (bunga, tangkai, dan daun), Dengan kandungan eugenol yang tinggi, minyak cengkeh merupakan sumber bahan baku isoeugenol yang potensial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi proses optimum proses isomerisasi eugenol dari minyak daun cengkeh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan percobaan dan analisis deskriptif. Hasil analisis ragam pada tahap isomerisasi isoeugenol rnenunjukkan konsentrasi katalis rhodium trichloride trihydrate dengan waktu pemanasan berpengaruh nyata terhadap kadar produk (isoeugenol, cis-isoeugenol dan trans-isoeugenol) dan jumlah bahan yang menguap, Hasil optimasi dengan menggunakan response surface method menunjukkan taraf faktor perlakuan berupa 1.) konsentrasi katalis 0,16% dan 2,) waktu pemanasan selama 10 menit merupakan perlakuan yang memberikan respon yang optimal dengan nilai desirability (D) 0,691, Kombinasi perlakuan ini memberikan nilai respon pada kadar isoeugenol 86,25%, kadar cis-isoeugenol 18,73%, kadar trans-isoeugenol 67,54% dan jumlah bahan menguap 12,28%, Hasil analisis spektroskopi FTIR dan HNMR menunjukkan pita serapan adalah identik antara isoeugenol hasil isomerisasi dengan standar. Hasil analisis FTIR dari sampel isoeugenol menunjukkan pita serapan gugus OH pada angka gelombang 3498,87 cm-1 std. 3496,94 cm-1), pita serapan di angka gelombang 2846,93 cm-1 (std. 2846,93 cm-1) menunjukkan adanya gugus OCH3 gugus C-C aril (cincin aromatis) pada angka gelombang 1598,99 cm-1 (std. 1598,99 cm-1) dan gugus CH, pada angka gelombang 2935,66 cm-1 (std, 2935,66 cm-1). Sedangkan hasil analisis dengan HNMR menunjukkan posisi pergeseran kimia (a) gugus metil (-CH3) sebagai identitas senyawa isoeugenol, yaitu sebesar 1,812 ppm (std. 1,814 ppm) berbentuk doublet untuk 3H dari -CH3. Hasil identifikasi juga menunjukkan bahwa senyawa isoeugenol yang diperoleh lebih dorninan dalam bentuk trans isoeugenol. Spektrum FTIR menunjukkan bahwa pita serapan trans-isoeugenol (= CH) yang berlokasi di angka gelombang 962,4 cm-1 sedangkan cis-isoeugenol terletak di angka gelombang 792,7 cm-1. Sedangkan hasil spektrum HNMR untuk puncak H pada pergeseran kimia a=6,1 dan 3=5,95 ppm, Optimization of Eugenol Extraction from Clove Leaf Using Response Surface MethodologyEugenol is the main component of clove oil. Its content can reach 70-95% depending on the raw materials (flower, stem, and leaves) used for distillation, With a such high content of eugenol, clove oil is a potential source for synthesis of isoeugenol through isomerization process" The purpose of this study was to determine the optimum process condition of eugenol isomerization process, The method used in this research is the experimental design and descriptive analysis, Results of analysis of variance showed that the concentration of catalyst rhodium trichloride trihydrate and beating time significantly affected the content of product (isoeugenol, cis-isoeugenol, trans-isoeugenol) and the amount of material evaporated, The result of optimization by using response surface method showed that level of treatment factors i.e. I) Catalyst concentration of 0,16%, and 2) Heating time for [0 minutes, were treatments that provides the most optimal response to the desirability value (D) 0,691. These level of treatment factors gave the response value at isoeugenol content of 86.25%, cis-isoeugenol content of 18.73%, trans-isoeugenol content of 67,54%, and the amount of evaporated material 12,28%, The FTIR spectroscopic and HNMR, analysis showed characteristic absorption bands are identical between the isomerization and isoeugenol standards, The result of FTIR analysis of isoeugenol samples showed absorption band of OH group at 3498,87 cm-1 (std. 3496,94 cm-1), absorption band at 2846,93 cm-1 (std. 2846.93 cm-1) which indicates the group OCH 3 C-C aryl group (aromatic ring) at 1598,99 cm-1 (std. 1598,99 cm-1) and CH3 group at 2935,66 cm-1 (std. 2935,66 cm-1) 'While the results of the analysis with HNMR indicate the position of chemical shift (3) of methyl group (-CH 3) as the identity of isoeugenol compound which is 1,812 ppm (std. 1,814 ppm) in the form of doublets for the 3H from -CH 3, The identification results also showed that the isoeugenol obtained was more dominant in the form of trans isoeugenol. FTIR spectra showed that the absorption band of trans-isoeugenol (=CH) was located at 962.4 cm-1 where as the cis-isoeugenol was located at 792,7 cm-1, While the results of HNMR spectrum for peak of H was located at ppm 3=6.1. and a=5,95,
Teknologi Pembuatan Bubuk Sari Jambu Biji Merah (Psidium Guajava L.) Dengan Metode Foam-Mat Drying Sandi Darniadi; Iyan Sofyan; Dede Z. Arief
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n1.2010.1-6

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bubuk sari jambu biji merah dengan kualitas fisik, kimia, dan organoleptik terbaik menggunakan metode Foam-Mat Drying. Produk berbentuk bubuk merupakan salah satu cara pengolahan buah yang lebih praktis dalam penggunaan sehingga akan meningkatkan nilai ekonomisnya. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor, yaitu konsentrasi dekstrin (5%), (7,5%), dan (10%) dan konsentrasi Tween 80 (0,3%), (0,4%), dan (0,5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik dalam pembuatan bubuk sari jambu biji merah dengan metode foam­mat drying diperoleh dari konsentrasi dekstrin 10% dan Tween 80 0,5% dengan rendemen 24,92%, kedispersian 21,27 detik, tingkat kecerahan/L * 77,58, tingkat kemerahan/a* 12,86, tingkat kekuningan/b* 20,59, kadar gula total 52,95%, dan secara sensori disukai oleh panelis. Technology Of Red Guava (Psidium Guajava L.) Juice Powder Using Foam-Mat Drying MethodA research has been conducted with an objective to obtain red guava (Psidium guajava L.) juice powder with the best physical, chemical, and organoleptic quality using foam-mat drying method. The red guava juice powder is more practical in using and will increase its economic value. The experimental design used was Randomized Complete Block Design with two factors replicated three times, i.e. dextrin concentrations of 5%; 7.5%, and 10%, Tween 80 concentrations of 0.3%; 0.4%; and 0.5%. The results showed that the best treatment was obtained from the dextrin concentration of 10% and Tween 80 concentration of 0.5% with the yield 24.92%, dispersion in 21.27 seconds, the brightness/L * of 77.58, the level of redness/a * of 12.86, the level of yellowish/b of * 20.59, total sugar 53.78%, and preferred sensory properties.
Karakteristik Es Krim Labu Kuning (Cucurbita Moschata) Menggunakan Pengemulsi Pati Jagung (Zea Mays L.) Dan Pati Garut (Maranta Arundinacea L.) Nanan Nurdjannah; Sri Usmiati; Agus Budiyanto
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n1.2010.43-52

Abstract

Buah labu kuning disamping mengandung a-karoten yang tinggi juga mempunyai aroma dan rasa yang disenangi. Dalam rangka penganekaragaman produk labu kuning telah dicobakan pembuatan es krim dengan menggunakan puree labu kuning sebagai salah satu bahan baku sumber a-karoten dan penambah flavor serta pati jagung dan garut sebagai bahan pengemulsi dalam campuran es krim (ICM=lce Cream Mixture). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik es krim yang dibuat menggunakan puree (bubur buah) labu kuning (Cucurbita moschata) sebagai bahan baku sumber a-karoten, serta pati jagung (Zea mays L) dan pati garut (Maranto arundinacea L) sebagai bahan pengemulsi. Penelitian didesain menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 3X2 yaitu: (i) tiga konsentrasi puree labu kuning (50%, 55%, 60%), dan (ii) dua jenis bahan pengemulsi: pati garut dan pati jagung. Dua faktor tersebut dikombinasikan secara acak, setiap perlakuan diulang tiga kali. Parameter pengukuran terdiri atas sifat fisik es krim yang meliputi overrun (%), dan kecepatan meleleh (menit/100g), serta mutu organoleptik terhadap rasa dan tekstur es krim menggunakan metode hedonik oleh 15 panelis semi terlatih dengan skala penilaian 1 sampai 5 (1 = sangat tidak suka, 2=agak tidak suka, 3=suka, 4=agak sangat suka, 5= sangat suka). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan puree labu kuning serta pati jagung dan atau pati garut dalam ICM mempengaruhi persentase overrun dan kecepatan meleleh, namun tidak berpengaruh terhadap rasa dan tekstur. Diantara perlakuan yang dicobakan, penggunaan puree labu kuning 60% dan pari jagung menghasilkan es krim yang memiliki overrun tertinggi dan lambat meleleh, kandungan a-karoten yang tinggi (12,45 i g/g), serta rasa dan tekstur yang paling disukai panelis. Penggunaan pengemulsi pati jagung sebagai bahan pengemulsi dalam pembuatan es krim lebih baik dibandingkan dengan pati garut. Characteristic Of Pumpkin Ice Cream (Cucurbita Moschata) Using Starch Of Maize (Zeo Mays L.) And Arrowroot (Maranto Arundinacea L.) As StabilizerBeside a high content of a-carotene, pumpkin also has a pleasent flavor. in order to diversify pumpkin product, the observation of pumpkin as usage a source of vitamin (a-carotene) and flavoring enhancer along with maize (Zea mays L.) and arrowroot (Maranto arundinacea L.) starch as emulsifier in ice cream making was done The aim of the research was to find out the physical properties and palatability of ice cream made from puree of pumpkin (Cucurbita moschala) as the a-carotene source and flavor enhancer, and the addition of maize and arrowroot starch as emulsifier. The research was designed using Completely Randomized Block Design (CR.BD) factorial pattern 3x2 with 3 replication i.e: (i) three concentration levels of pumpkin puree (50%, 55%, 60%), and (ii) two kinds of emulsifier (maize and arrowroot starch). Parameters observed were physical properties of ice cream covering: overrun (%) and melting rate (minute/100 g), and the quality of organoleptic including taste and texture using hedonic method by 15 semi-trained panelist with five rank (1= very unlike, 2=rather unlike, 3=like, 4= rather like, 5= like very much). Research results indicated that the use of pumpkin puree with the addition of maize and arrowroot in ICM (Ice Cream Mixture) influenced the overrun percentage and melting rate, but didn't give effects on taste and texture. The use of pumpkin puree 60% and addition of maize starch produced highest ice cream overrun and lowest melting rate, high a-carotene content (12.45 i g/g), with taste and texture most preferred by panelist. The use of maize starch as emulsifier in ice cream making was better than that of arrowroot starch.
Pengaruh Pulsing, Lama Penyimpanan Stok Dan Suhu Peragaan Terhadap Masa Kesegaran Bunga Potong Alpinia purpurata Ira Mulyawanti; Christina Winarti; nFN Widaningrum; nFN Yulianingsih; Dwi Amiarsi
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n2.2010.94-102

Abstract

Bunga potong Alpinia purpurata mempunyai sifat mudah layu dan rusak, yaitu dengan masa kesegaran yang hanya mampu bertahan 4-5 hari. Salah satu cara untuk mempertahankan kesegaran bunga potong adalah dengan penggunaan larutan perendam (pulsing) dan holding. Penyimpanan dingin juga dapat dijadikan alternatif dalam mempertahankan kesegaran bunga polong. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pulsing dan lama penyimpanan dingin terhadap masa peragaan bunga Alpinia yang diperagakan di suhu ruang (29-30°C) dan suhu 20-22°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pulsing terhadap bunga potong Alpinia purpurata dapat meningkatkan masa peragaannya dibandingkan dengan tanpa pulsing, yaitu 16,3 hari dengan pulsing sukrosa (pa), 13,5 hari dengan pulsing gula dan 10,7 hari dengan tanpa pulsing. Sedangkan lama penyimpanan stok bunga pada pendingin suhu 15°C dan tempat peragaannya tidak mernberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap rnasa kesegaran bunga potong Alpinia purpurata, namun semakin lama bunga disimpan pada suhu 15°C kemekarannya menjadi terhambat. Influence Of Pulsing, Stock Storage And Display Temperature On The Vase Life Cut Of Alpinia purpurataAlpinia purpurata cut flowers have withered and easily damaged, and the freshness only 4-5 days. One way to maintain the freshness of cut flowers is using pulsing and holding solution. Cold storage can also be used as an alternative in maintaining the freshness of cut flowers. The research aims to determine the influence of pulsing and cold storage for vase life period of Alpinia purpurata flower on the display at ambient (29-30°C) and temperature 20-22°C. The results showed that the pulsing of cut flowers Alpinia purpurata can improve its display period (16.3 days on sucrose pa pulsing, 13.5 on sugar pulsing and 10.7 all no pulsing). While, the stock period in the cold room (l5°C) and temperature of the display room gave no difference effect on the flower freshness, the longer the flowers are stored in cold room, the bud opening are delayed.
Pati Sagu Termodifikasi HMT (Heat Moisture-Treatment) Untuk Peningkatan Kualitas Bihun Sagu Dian Herawati; Feri Kusnandar; nFN Sugiyono; Ridwan Thahir; Endang Yuli Purwani
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n1.2010.7-15

Abstract

Pati sagu alami mempunyai profil gelatinisasi tipe A (puncak viskositas tinggi yang diikuti oleh pengenceran cepat selama  pemanasan). Modifikasi pati sagu dengan metode HMT (heat-moisture treatment) dapat menggeser tipe gelatinisasi sagu menjadi tipe C (tidak mempunyai puncak viskositas dan tidak mengalami penurunan viskositas selama pemanasan) sehingga pati sagu termodifikasi yang diperoleh dapat diaplikasikan untuk produk bihun sagu. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendapatkan kondisi HMT optimum untuk produksi pati sagu temodifikasi dengan gelatinisasi tipe e (2) memperoleh tingkat substitusi pati sagu temodifikasi yang menghasilkan bihun sagu dengan kualitas yang baik, Pati sagu diatur kadar airnya hingga mencapai 26-27%, kemudian dipanaskan pada suhu 110°C dengan berbagai waktu (4, 8 dan 16 jam) pada kondisi tidak dicuci dan dicuci terlebih dahulu , Terhadap pati sagu termodifikasi yang diperoleh dilakukan analisis profil gelatinisasi. Pati termodifikasi dengan profil gelatinisasi tipe e dikarakterisasi dan diformulasikan pada bihun sagu. Bihun sagu tersubstitusi dianalisis yang terdiri atas susut masak, lama pemasakan, tekstur dan kualitas sensori. Pati sagu termodifikasi HMT selama 4 jam dengan perlakuan pencucian memperlihatkan profil gelatinisasi tipe C serta mempunyai ukuran granula yang lebih besar, kekuatan gel yang lebih tinggi, derajat putih yang lebih rendah, sineresis yang lebih rendah, dan kandungan pati yang lebih rendah bila dibandingkan dengan pati alaminya. Tingkat substitusi pati sagu termodifikasi HMT yang mencapai 50% dapat meningkatkan kualitas bihun sagu yaitu menurunkan lama pemasakan, meningkatkan kekerasan dan memperbaiki kualitas sensori (memperbaiki kekerasan, elastisitas, kelengketan dan penerimaan secara keseluruhan). Heat Moisture Treatment Modified Sago Starch For Quality Improvement Of Sago BihonNative sago starch has A type gelatinization profile (high peak viscosity and followed by fast thinning during heating). HMT (heat-moisture treatment) can alter the sago starch gelatinization profile from A type to e type (no peak viscosity and no breakdown during beating), so the modified sago starch can be used for bihon-type noodle. The objectives of this research were to: (1) obtain optimum condition of HMT to produce modified sago starch with C type gelatinization profile and (2) obtain modified sago starch substitution level to improve sago bihon-type noodle quality. Sago starch was adjusted to 26-27% moisture content and exposed to HMT at 110°C for various times (4.8 and 16 hours) with washing or without washing treatment. HMT modified sago starch was analyzed for gelatinization profiles. The modified starch with C type gelatinization profile was characterized and formulated into bihon-type noodle. HMT substituted bihun-type noodle was analyzed for cooking loss, cooking time, texture (texture analyzer method) and sensory quality. HMT sago starch with 4 hours at washing treatment showed e type pasting profile and larger granule size, larger gel strength, lower degree of whiteness, lower syneresis and lower starch content than those of native sago starch. The substitution of native sago starch with 50% HMT sago starch improved the characteristic of sago bihon-type noodle quality, i.e. lower cooking time, higher hardness and better sensory quality in term of hardness, chewiness, stickiness and overall acceptability.

Filter by Year

2004 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Journal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Pascapanen Pertanian Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian More Issue