cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02161192     EISSN : 25414054     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian (J.Pascapanen) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian pascapanen pertanian. Jurnal ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 258 Documents
Optimasi Sintesis Metil Oleat Menggunakan Biokatalis Lipase dari Kecambah Biji Jatropha Curcas L. Chusnul Hidayat; M. Danu P. Kuntoro; Pudji Hastuti; Djajeng Sumangat; Tatang Hidayat
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n2.2008.1-9

Abstract

Biji jarak pagar (Jatropha curcas) menghasilkan lipase selama proses perkecambahan sehingga dapat digunakan sebagai sumber lipase yang relatif murah. Lipase ini telah digunakan untuk proses esterifikasi asam oleat dengan methanol. Namun demikian, kondisi optimum proses esterifikasi tersebut belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi optimum proses esterifikasi menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM). Desain percobaan terdiri dari 3 faktor dan 3 taraf (Box-Behnken). Faktor yang dievaluasi adalah suhu, lama reaksi dan rasio molar substrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor suhu, lama reaksi dan rasio molar substrat berpengaruh signifikan terhadap yieldmetil ester. Faktor yang paling berpengaruh adalah rasio molar substrat. Efek interaksi dari ketiga faktor tidak signifikan terhadap yield metil ester. Kondisi optimum proses esterifikasi adalah suhu reaksi 39,5oC, selama 64,4 menit dengan rasio molar asam oleat dengan methanol 2:2. Jumlah metil ester yang terbentuk adalah 522 µmol. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa yield mendekati hasil prediksi dengan RSM. Hal ini menunjukkan bahwa lipase jarak pagar berpotensi sebagai biokatalis pada sintesis metil ester.Optimization on synthesis of methyl oleate using indigenous biocatalyst from Jatropha curcas seedsJatropha seeds produce lipase during. germination. It is useful as lipase resources. Lipase is used for the esterification of oleic acid with methanol. However, the optimum conditions of the process is not yet known. The objectives of the research was to determine the optimum conditions for the synthesis of methyl oleate from oleic acid and methanol using response surface methodology (RSM), and using Box-Behnken type of design with 3 factors. Factors such as molar substrate ratio of oleic acid to methanol, temperature and reaction time were evaluated. The results show that the effect of temperature, reaction time and substrate molar ratio on the yield of methyl oleate were significant. The most significant effect on yield was substrate molar ratio. The interaction effect of the factors on methyl ester yield was not significant. The optimum conditions for methyl oleate synthesis was at temperature of 39,5oC for 64.4 minutes and the molar ratio of oleic acid to methanol of 2:2. The produced methyl oleate was 522 µmol. From the verification data, the yield was not significantly different with the predicted data using RSM. It can also be concluded that the acetone-dried germinated jatropha lipase is a potential biocatalyst for the synthesis of methyl ester.
Pengaruh Larutan Pengawet dan Cara Sterilisasi Terhadap Sifat Fisik, Kimia, Mikrobiologi serta Sifat Organoleptik Produk Lada Hijau dalam Larutan Garam nFN Widaningrum; Tri Marwati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n1.2007.44-56

Abstract

Terjadinya kecenderungan penurunan ekspor lada Indonesia memicu munculnya pemikiran untuk menambah sekaligus menjamin kelangsungan pendapatan petani serta meningkatkan nilai ekonomi lada, melalui diversifikasi produk lada. Salah satu produk diversifikasi lada yang dapat diterima di pasar internasional dan potensial dikembangkan di Indonesia adalah lada hijau dalam larutan garam. Komposisi larutan pengawet seperti garam dan asam sitrat serta cara sterilisasi sangat menentukan mutu produk lada hijau dalam larutan garam. Berdasar latar belakang tersebut maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi garam dan asam sitrat sebagai larutan pengawet dan cara sterilisasi terhadap sifat fisik, kimia, mikrobiologi dan organoleptik lada hijau dalam larutan garam. Lada hijau segar diperoleh dari Serang, Banten. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi karakterisasi buah lada hijau segar, proses pengolahan lada hijau dalam larutan garam dan karakterisasi lada hijau dalam larutan garam yang dihasilkan. Percobaan dirancang secara Acak Lengkap Faktorial dengan dua kali ulangan. Faktor pertama yaitu konsentrasi garam dapur (A), A1= 10%, A2= 12% dan A3 = 14%. Faktor kedua konsentrasi asam sitrat (B), B1= 1,5%, B2 = 2,0 % dan B3 = 2,5 %. Faktor ketiga adalah cara sterilisasi (C), C1= air mendidih (100°C) dan C2 = autoklaf (121°C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi garam berpengaruh nyata terhadap pH larutan produk; konsentrasi asam sitrat berpengaruh nyata terhadap tekstur produk, pH buah lada, pH larutan produk; sedangkan cara sterilisasi secara tunggal berpengaruh nyata terhadap pH buah lada, kejernihan larutan produk dan jumlah mikroba (TPC) lada hijau dalam larutan garam. Melalui kajian terhadap hasil penelitian tersebut, lada hijau dalam larutan garam 10% dan asam sitrat 1,5% sebagai larutan pengawet serta sterilisasi dengan air mendidih merupakan kombinasi perlakuan yang optimal.Effect Of Preservative Solution And Sterilization Method On Physical, Chemical, Microbiological And Organoleptic Properties Of Green Pepper In Brine.Decreasing trend on Indonesian pepper export activity triggered the opinion to add a guarantee farmer's income continuity, and to improve economic value of pepper, through product diversification. One of pepper product diversification which can be accepted in international market and potential tp be developed in Indonesia is green pepper in brine. Composition of preservative solution (i.e. salt and citric acid) and sterilization method effects the quality of green pepper in brine. The objective of this study was to know the effect of salt and citric acid concentration and sterilization method on physical, chemical, microbiological and organoleptic properties of green pepper in brine. Fresh green pepper berries were obtained from Serang, Banten. The experiments done were: characterization of fresh green pepper berries, processing of green pepper in brine, and characterization of green pepper in brine. The process was designed in Factorial Completely Randomized Design, with two replicates. First factor was salt concentration (A), AI= 10%, A2= 12% and A3 -14%. Second factor was citric acid concentration (B), B I= 1,5%, B2 = 2,0 % and B3 = 2,5 %. Third factor was sterilization method (C), C I - boiling water (T 100oC),and C2 = autoclave (T 121oC). Results showed that concentration of salt had an effect on pH of product's solution; concentration of citric acid had effects on product's texture, pH of green pepper berries and pH of product's solution; while sterilization method had effects on pH of green pepper berries, the clarity of product's solution and total plate count (TPC) on green pepper in brine. By studying the research results, green pepper in brine processing used 10% salt and 1,5% citric acid as preservative solution combined with boiling water sterilization was the optimum treatment combination.
Pendugaan Umur Simpan Pasta Tomat Kental Dalam Kemasan Botol Plastik Dengan Metode Akselerasi Ermi Sukasih; nFN Sunarmani; Agus Budiyanto
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n2.2007.72-82

Abstract

Pasta tomat kental merupakan salah satu bentuk olahan konsentrat buah tomat dengan total padatan terlarut tinggi sehingga bersifat kurang voluminous dan memudahkan transportasi serta distribusinya. Untuk menjamin bahwa pasta tomat belum mengalami kerusakan sampai di tangan konsumen, maka diperlukan informasi tentang masa simpan. Salah satu cara untuk menduga umur simpan secara cepat adalah dengan metode Accelerated Storage Studies (ASS) melalui pendekatan metode Arhenius. Ada empat produk pasta tomat yang diduga umur simpannya yaitu K (kontrol: pasta tomat tanpa bahan tambahan), P (pasta tomat ditambah pengawet), PP (pasta tomat ditambah pengawet dan pewarna), PPG (pasta tomat ditambah pengawet, pewarna dan gula). Pasta tomat disimpan dalam tiga suhu yakni suhu 40°C, suhu kamar (28°C) dan ruangan berpendingin udara (20°C). Penelitian diulang sebanyak tiga kali. Analisis dilakukan terhadap parameter mutu kritis yaitu tingkat kecerahan warna dan penerimaan. Analisis dilakukan setiap dua minggu selama delapan minggu penyimpanan. Pasta tomat dengan parameter kritis tingkat kecerahan warna, kontrol mempunyai dugaan umur simpan yang paling lama yaitu pada penyimpanan suhu 7°C, 15°C, 2YC dan 30°C masing-masing mempunyai dugaan umur simpan sebesar 97,93 : 91,90; 85,29 dan 82,32 hari. Sementara berdasarkan parameter kritis penerimaan konsumen, PPG (pasta tomat dengan penambahan pengawet, pewarna dan gula) mempunyai dugaan umur simpan paling lama, pada penyimpanan suhu 7°C, 15°C, 25°C dan 30°C masing-masing mempunyai dugaan umur simpan sebesar 87,72 ; 54,41; 31,05 dan 23,78 hari. Shelf Life Prediction Of Heavy Tomato Paste In Plastic Bottle Using Accelerated Storage MethodHeavy tomato paste is a concentrated product having high total soluble solid (TSS) so that it is less voluminous easy for transportation and distribution. Information on product shelf life is required to ensure that product is recei ved by consumers in excellent condition. An accelerated storage studies (ASS) with Arrhenius model was developed to predict the product shelf life. Four different types of product were employed in this study, i.e. tomato paste without preservatives and colourants (K), tomato paste with preservatives (P), tomato paste with preservatives and colourants (PP), and tomato paste with preservatives, colourant and sugar (PPG). The products were kept at 40"C, 28°C and 20°C, and the experiments were done in triplicates. Parameters observed were colour lightness and consumers acceptance. The product were analysed every two weeks for eight weeks of storage. In term of colour ligtness, K had the longest predicted shelf life at 7°C, 15°C, 25°C and 30°C with the shelf lives 97.93 : 91.90; 85.29 and 82.32 days, respectively. PPG had the longest predicted shelf life in terms of consumers acceptance at 7°C, 15'C, 25°C, 30'C with the shelf lives 87.72 ; 54.41, 31.05 and 23.78 days, respecttively. These results were confirmed with results of normal storage experiments.
Pengaruh Cara Pembumbuan dan Suhu Penggorengan Vakum Terhadap Sifat Kimia dan Sensori Keripik Buncis (Phaseolus radiatus) Muda nFN Widaningrum; Nurdi Setyawan; Dondy A Setyabudi
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n2.2008.45-54

Abstract

Di Indonesia, ketersediaan sayuran senantiasa berlimpah sepanjang tahun.  Dalam upaya memperpanjang masa simpan sayuran, diperlukan teknologi yang dapat mengurangi kerusakan dan kebusukan sayuran.  Salah satu teknologi tersebut yaitu melalui penggorengan vakum.  Tujuan penelitian ini yaitu untuk mempelajari karakteristik sayuran buncis muda siap santap yang diolah dengan menggunakan penggorengan vakum.  Penelitian dimulai dengan persiapan, pencucian dan perendaman sayuran  buncis muda dalam larutan CaCl2 (1000 ppm, t=30’).  Pada metode pembumbuan kering, buncis muda diblansir dengan uap, sedangkan untuk metode pembumbuan basah, buncis muda direbus dengan dengan bumbu.    Kemudian dilakukan penggorengan vakum dengan tiga perlakuan suhu (60-70°C, 70-80°C, dan 80-90°C) pada tekanan vakum -72 cmHg.  Percobaan dilakukan sebanyak 4 kali ulangan.  Produk dikemas dalam aluminium foil.  Dari hasil penelitian diperoleh rendemen keripik  buncis muda sebesar 13,58-14,17% dengan waktu penggorengan vakum 1,08-1,41 jam.  Untuk kedua metode pembumbuan, diperoleh komposisi kimia pada keripik buncis muda sebagai berikut: kadar air 6,33-7,39%; abu 4,45-6,10%; lemak 33,95-42,93%; protein 10,86-12,24%;  serat kasar 11,94-14,10%; asam lemak bebas (FFA) 0,62-0,70%; vitamin C: 0,27-0,46 mg/100g; dan vitamin A 135,54-265,39 ppm.  Pada uji organoleptik (sensori), panelis menilai bahwa interaksi perlakuan suhu dan perbedaan cara pembumbuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap semua parameter (warna, aroma, tekstur, rasa, kerenyahan, dan penerimaan secara umum keripik buncis muda).  Namun secara faktor tunggal, panelis menilai bahwa bumbu berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap rasa dan suhu berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kerenyahan keripik  buncis muda.  Pada umumnya panelis menyatakan agak suka sampai suka untuk semua parameter sensori keripik  buncis muda yang dihasilkan. Effect of Difference Technique of Flavoring and Vacuum Frying Temperature on Chemical and Sensory Properties of Young Chickpea (Phaseolus radiatus) ChipsIn Indonesia, availability of vegetables is guaranteed all year long. In the effort to prolong its storage time, technology to lessen damages and rot of vegetable is needed. One of technologies was through vacuum frying. Target of this research was to get processing technology of ready to eat young chickpea as vegetable chips. Research started with preparation of young chickpea, and soaked them in CaCI2 solution (1000 ppm, 1=30'). For wet flavoring method, young chickpea was boiled with flavor, meanwhile for dry flavoring method, young chickpea was steam blanched. After that, young chickpea then vacuum fried at 60-70°C, 70-S0°C, and SO-90°C with vacuum pressure -72 cmHg. Products then packaged in alumunium foil. Research was conducted with 4 replication. Research result showed that yield of young chickpea chips were 13.5S-14.17% with vacuum frying time range 1.08-1.41 hours. For both flavoring methods on young chickpea chips, moisture was 6.33-7.39%; ash 4.45-6.10%; fat 33.95-42.93%; protein 10.S6-12.24%; crude fiber 11.94-14.10%; free fatty acid (FFA) 0.62-0.70%; vitamin C 0.27-0.46 mg/100g; and vitamin A l35.54-265.39 ppm. Sensory evaluation showed treatment interaction of different way of flavor and temperature did not have significant effect (P>0,05) to all parameter (color, odor, texture, taste, crispyness and acceptability of chickpea chips). But as individual factor, panelists assess that flavor had significant effect (P<O,05) to chickpea chips taste, meanwhile temperature had significant effect (P<O,05) to crispy ness of chickpea chips. In general, panelists expressed rather like for all parameter of chickpea Chips sensory evaluation.
Optimasi, Produksi dan Karakterisasi Rhamnosidase dari Aspergillus niger RH-ase-H Winda Haliza; Ermi Sukasih; Iceu Agustinisari
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n1.2007.9-17

Abstract

Penelitian ini bertujuan melakukan optimasi kondisi proses, produksi rhamnosidase dan karakterisasi rhamnosidase dari Aspergillus niger RH-ase-H. Rancangan komposit pusat dari metodologi respons permukaan digunakan untuk mengoptimasi kondisi suhu dan pH dalam produksi rhamnosidase. Suhu dan pH merupakan faktor penting yang memberi efek terhadap produksi rhamnosidase. Model polimonial ordo kedua ditentukan melalui analisis regresi pada data percobaan. Nilai optimum untuk suhu dan pH adalah 37,5°C dan 6,5 dengan nilai prediksi maksimum produksi rhamnosidase adalah 82,05 U/mg protein. Selanjutnya, dilakukan produksi rhamnosidase dalam 1 l media produksi pada kondisi pH dan suhu optimum. Enzim diperoleh dari hasil dialisis kemudian dikarakterisasi. Enzim memiliki aktivitas optimum pada suhu 60ºC dan pH 4 serta memiliki kemampuan menghidrolisis naringin pada jus jeruk, tertinggi sebesar 50,01% pada konsentrasi enzim 27,8 U/ml dan suhu 20ºC menggunakan media jus jeruk siapsaji.Optimization, production and characterization of Rhamnosidase from Aspergillus niger RH-ase-H.The aims of the research were optimization, production and characterization of rhamnosidase from Aspergillus niger R-ase-H. Central composite design is one of response surface methodology which used to optimize the cultivation component for enhancing rhamnosidase production. Temperature and pH were important factor affecting rhamnosidase production significantly. A second-order polynomial was determined by the multiple regression analysis of the experimental data. The optimum value for temperature and pH were 37.5°C and 6.5 with a predicted value of maximum rhamnosidase production of 82.05 U/mg protein. Then, a production of rhamnosidase on 1 L production medium at optimal condition process was made. After all dialysis, rhamnosidase was characterized for temperature and pH optimum. Rharnnosidase from Aspergillus niger RH-ase-H have optimum activity at temperature 60°C and pH 4. This enzyme was able to hydrolyses naringin in citrus juice, reached 50.01% with enzyme concentration of 27.8U/mL at 20°C.
Kemampuan Rhamnosidase Dari Isolat Kapang Untuk Hidrolisis Naringin Jeruk Siam Ermi Sukasih; Winda Haliza; Endang Yuli Purwani; Iceu Agustinisari; nFN Setyadjit
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n1.2008.41-50

Abstract

Rasa pahit pada olahan buah jeruk seperti jus dapat mengurangi preferensi konsumen. Saat ini enzim yang dapat mengurangi rasa pahit pada jeruk masih sulit diperoleh secara komersial. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi, memproduksi kapang dan menguji aktivitas enzim rhamnosidase yang dihasilkan. Isolasi kapang dilakukan terhadap sampel kulit, pulp dan jus jeruk Siam yang telah rusak. Seleksi dilakukan dengan metode plating menggunakan dua media yaitu RB dan G19. Ada lima isolat kapang penghasil enzim rhamnosidase yang berhasil diidentifikasi yakni: Penicillium brefeldianum, Penicillium restrictum, Aspergillus niger Rha-ase B, Aspergillus niger Rha-ase F dan Aspergillus niger Rha-ase H. Aktivitas spesifik enzim rhamnosidase maksimum dari kelima isolat kapang tersebut berturut-turut adalah: 189,34 U/mg protein, kultivikasi hari ke-7; 186,82 U/mg protein, kultivikasi hari ke-5; 456,18 U/mg protein, kultivikasi hari ke-6; 159,38 U/mg protein, kultivikasi hari ke-6 dan 386,63 U/mg protein, kultivikasi hari ke-2. Filtrat enzim rhamnosidase dari kapang A.niger Rha- ase H mempunyai kemampuan terbesar menurunkan kadar naringin pada larutan naringin konsentrasi 1000 ?g/ml dengan waktu kontak tiga jam yaitu sebesar 40,97 %.Effectivity of Rhamnosidase From Fungi Isolate on Hydrolisis of Naringin From Siam CitrusBitterness at many Siam citrus products like juice will decrease of cunsurner preferences. Now, enzyme that is able to reduce bitterness is difficult to be found commercially. The objectives of research were to isolate of mold, to produce and to know enzyme rhamnosidase activity from mold isolate. Isolation of mould was conducted at sample from skin of Siam, citrus juice and pulp which have been destroyed. Selection was conducted by plating method used two media that were RB and G 19. There were 5 identified isolates mould that produce rhamnosidase enzyme, namely: Penicillium brefeldianum, Penicillium restrictum, Aspergillus niger Rha-ase B, Aspergillus niger Rha-use F and Aspergillus niger Rha-ase H. %. The maximum spesific activity of rharnnosidase enzyme for 5 isolates as follows: 189.34 U I protein mg for 7th day cultivation; 186.82 U I protein mg for 5th day cultivation; 456.18 U I protein mg for 6th day cultivation; 159.38 U I protein rug for 6th day cultivation and 386.63 U I protein mg for 2nd day cultivation. To 3h contact at room temperature, rharnnosidase enzyme crude from A.n.iger Rha-ase H the biggest ability degrade 1000 1 g/ml naringin concentration that is equal to 40.97%.
Penentuan Bahan Kering Buah Mangga Secara Intact Menggunakan Near Infrared Spectroscopy Diding Suhandy; Sulusi Prabawati; nFN Yulianingsih; nFN Yatmin
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n2.2008.10-17

Abstract

Untuk membangun cara pengukuran bahan kering buah mangga secara on-plant (buah masih di pohon) diperlukan sebuah cara pengukuran bahan kering yang bersifat tidak merusak. Pada studi ini, dilakukan penggunaan NIR Spectroscopy untuk pengukuran bahan kering buah mangga secara tidak merusak. Spektra buah mangga diambil menggunakan sebuah spektrometer portabel pada mode absorbans pada dua titik berbeda. Nilai aktual bahan kering buah mangga diukur secara merusak dengan mengeringkan sampel pada suhu 70ºC selama 96 jam. The Partial Least Squares (PLS) regression digunakan untuk membangun persamaan kalibrasi. Hasil penelitian menunjukkan NIR Spectroscopy berhasil mengukur bahan kering buah mangga dengan  koefisien korelasi (r) antara nilai prediksi dan aktual sebesar 0,93, standar eror prediksi (SEP) sebesar 0,89 dan bias sebesar 0,12. Determination of Dry Matter in Intact Mango Fruit Using Near Infrared SpectroscopyTo establish a method to determine the dry matter non destructively on-plant measurement of dry matter in mango fruit, should be done. In this work, near infrared (NIR) Spectroscopy for non destructive measurement of dry matter in mango fruit was investigated. Using a portable spectrometer, spectra for each sample were acquired in absorbance mode at two different positions. The actual value of dry matter of mango was measured by drying the mango sampled at 70°C for 96 h. The Partial Least Squares (PLS) regression was used to develop a calibration equation. The NIR Spectroscopy method successfully determined the dry matter of mango fruits with correlation coefficient (r) between predicted and actual values was with 0.93, standard error of prediction (SEP) of 0.89 and bias of 0.12.
KARAKTERISASI SERA MOCAF (MODIFIED CASSAVA FLOUR) DARI UBIKAYU VARIETAS MANIS DAN PAHIT nurud diniyah; Nugraha Yuwana; nFN Maryanto; Bambang Herry Purnomo; Achmad Subagio
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v15n3.2018.114-122

Abstract

Mocaf (tepung kasava termodifikasi/Modified Cassava Flour) dapat dibuat dari berbagai varietas ubikayu dengan lama fermentasi yang bervariasi. Hasil samping dari produksi Mocaf berupa komponen tidak lolos ayakan 100 mesh yang disebut “Sera”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan varietas (Cimanggu dan Kaspro) dan lama fermentasi (0, 12, dan 24 jam) terhadap sifat fisikokimia sera Mocaf. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu varietas ubikayu dan lama fermentasi. Parameter yang dianalisis meliputi sifat fisik dan kimia seperti derajat putih, densitas kamba, proksimat, kadar serat kasar, dan kadar hemiselulosa-selulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sera Mocaf dari ubikayu varietas Cimanggu dan Kaspro memiliki karakteristik berupa derajat putih berkisar 84,61-86,05%, densitas kamba 0,58-0,75 g/mL, kadar air 11,79-13,73%, kadar abu 0,61-2,68 %, kadar protein 1,31-2,34 %, kadar lemak 1,50-2,14 %, kadar serat kasar 18,11-22,76 %, kadar hemiselulosa 29,20-34,21 %, dan kadar selulosa 18,47-21,89 %. Sera sebagai limbah Mocaf masih berpotensi digunakan sebagai bahan baku produk tinggi serat seperti cone es krim, roti tawar, dan cookies. (modified cassava flour) from sweet and bitter cassava varietiesMocaf (Modified Cassava Flour) can be made from various varieties of cassava with various duration of fermentation. The by-product of Mocaf, a component that does not pass 100-mesh sieve, is called “Sera”. The aim of this study was to determine the effect of different cassava varieties (Cimanggu and Kaspro) and duration of fermentation (0, 12, and 24 h) on the physicochemical properties of Mocaf sera. The experimental design used in this study was Randomized Block Design with 2 factors, namely cassava varieties and fermentation duration. Parameters observed included physical and chemical properties, i.e. whiteness, bulk density, proximate crude fiber and hemicellulose-cellulose content. The results showed that the characteristics of sera Mocaf from Cimanggu and Kaspro varieties were as follows: 84.61-86.05% whiteness, bulk density of 0.58-0.75 g /mL, moisture content of 11.79-13.73%, ash content of 0.61-2.68%, protein content of 1.31-2.34%, fat content of 1.50-2.14%, crude fiber content of 18.11-22.76%, hemicellulose content of 29.20-34.21%, and cellulose content of 18.47-21.89%. Sera as the waste of Mocaf processing had potential to be utilized as raw material for high fiber products such as ice cream cone, bread, and cookies.
Pengaruh Konsentrasi Oleoresin Dan Komposisi Bahan Penyalut Terhadap Karakteristik Mikroenkapsulasi Oleoresin Jahe ( Zingiber Officinale) Dengan Metode Spray Draying Niken Harimurti; Nhadira Nhestricia; Sri S. Yuliaru; Sri Yuliani
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n2.2007.83-90

Abstract

Oleoresin jahe, seperti halnya oleoresin dari rempah lain, merupakan hasil ekstraksi rempah yang memiliki profil flavour atau perisa yang mendekati rempah segar. Dalam industri makanan dan minuman, perisa dalam bentuk oleoresin lebih dikehendaki daripada rempah segar atau kering karena sifat perisanya yang lengkap, konsisten dan terukur. Akan tetapi, oleoresin mudah mengalami degradasi akibat udara, cahaya, air dan temperatur tinggi, bahkan memiliki umur simpan yang singkat jika penyimpannya tidak tepat. Karakteristik oleoresin yang kental dan lengket juga menyulitkan penanganan dan penggunaannya. Mikroenkapsulasi menawarkan penyelesaian bagi masalah-masalah tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsentrasi oleoresin dan komposisi bahan penyalut terhadap karakteristik milcroenkapsulasi oleoresin jahe, Oleoresin yang digunakan sebagai bahan aktif, diekstrak secara perkolasi dari serb uk jahe emprit dengan pelarut etano!. Mikroenkapsulasi dilakukan dengan metode spray drying menggunakan bahan penyalut maltodekstrin dan natrium kaseinat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dimana konsentrasi oleoresin (faktor A) terdiri atas 4 taraf : A 1= 5%, A2= 10%, A3= 15% dan A4= 20% serta nisbah maltodekstrin terhadap natrium kaseinat (faktor B) terdiri atas 2 taraf: 81= 92,5:7,5 dan B2 = 70: 30 dengan dua ulangan. Spray dryer Lab Plant SD-05 dioperasikan pada temperatur inlet 160"C dan outlet 100°C dan laju umpan IS ml/menit. Parameter yang diamati meliputi total oil, surface oil, oil recovery dan kadar air. Mikrokapsul oleoresin jahe terbaik diperoleh dari perlakuan konsentrasi oleoresin 10% dan nisbah maltodekstrin terhadap natrium kaseinat 92,5:7,5 dengan total oil 2,34%, oil recovery 87,50%, surface oil 0,27%, dan kadar air 4,97%. Effect Of Oleoresin Concentration And Encapsulating Material Compositions On The Properties Of Microencapsulated Ginger Oleoresin Using Spray Drying MethodGinger oleoresin, like other oleoresins is an extractive product of spices that exhibits flavour profiles close to fresh ground spices. In food and beverage industries, oleoresin is more preferable than fresh or dried spices due to its complete flavour characteristics, consistency and measurability. However, oleoresin undergoes degradation easily in the presence of air, light, moisture and heat, and also has short storage life if not stored properly. Oleoresin is available in the form of viscous and sticky liquid, and difficult to handle. Microencapsulation offers solutions to these problems. In these experiments, oleoresin was encapsulated in maltodextrin and sodium caseinate using spray drying technique. Oleoresin was extracted from dried ground emprit ginger with ethanol using percolation technique. This research was aimed at determining the effect of oleoresin concentration and encapsulating material compositions on the properties of microencapsulated ginger oleoresin. Experiments were performed using complete randomized factorial experimental design with two factors. Factor A (oleoresin concentration) consists of: Al ~ 5%, A2= 10%, A3= 15%, A4=20% and factor B (maltodextrin to sodium caseinate ratio) consists of: 81= 92,5:7,5 and 82= 70: 30; each treatment was done in Lab Plant SD-05 Spray dryer was operated at an inlet temperature of 160°C and outlet temperature of lOO°C and a feed rate of 15 ml/min. Parameters investigated are total oil, surface oil, oil recovery and moisture content. The best microcapsule properties was obtained from microcapsules containing oleoresin 10% and maltodextrin and sodium caseinate at the ratio of 92.5:7.5 with total oil of 2.34%, oil recovery of 87.5% and surface oil of 0.27%.
Pemisahan Gum Dari Minyak Jarak Dengan Membran Mikrofiltrasi Sri Yuliani; Ika Amalia Kartika; Niken Harimurti; Djajeng Sumangat
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v5n1.2008.1-9

Abstract

Pemisahan gum (degumming) merupakan salah satu tahap pemurnian minyak nabati yang menentukan mutu produk dan efisiensi proses lanjutan. Dalam penggunaan langsung sebagai bahan bakar, adanya gum dalam minyak dapat menyebabkan penyumbatan aliran minyak melalui saluran atau sumbu dalam kompor. Gum dalam minyak juga dapat mengganggu jalannya proses esterifikasi/transesterifikasi untuk produksi biodiesel. Aplikasi teknologi membran untuk memisahkan gum merupakan alternatif teknik pemisahan gum yang dianggap ramah lingkungan dan hemat energi. Untuk mendapatkan efisiensi pemisahan gum yang tinggi, diperlukan kajian kondisi operasi membran. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kondisi operasi membran (lama filtrasi dan lama backflush) pada fluks dan rejeksi gum (fosfolipid). Lama filtrasi dan lama backflush yang dikaji masing-masing terdiri atas tiga taraf (berturut-turut 2, 4 dan 6 menit, dan 2, 4 dan 6 detik). Membran yang digunakan berupa membran polipropilen dengan ukuran pori 0,01 µm yang dilengkapi dengan pompa diafragma dan dioperasikan pada tekanan 1 bar. Lama filtrasi dan lama backflush berpengaruh pada fluks dan pengurangan fospolipid. Kombinasi perlakuan lama filtrasi 4 menit dan lama backflush 2 detik memberikan pemisahan fosfolipid tertinggi (25,47%), sedangkan fluks tertinggi (8,42 l/m2) diperoleh dari kombinasi perlakuan lama filtrasi 2 menit dan lama backflush 6 detik. Filtrasi membran juga dapat memisahkan fosfolipid non-hydratable yang ditunjukkan dengan menurunnya kadar mineral (kalsium, magnesium dan besi) di dalam minyak jarak.Separation of Gum From Jatropha Oil by Using MicrofiltrasiDegumming is an oil-refining step determining 'product quality and further processing efficiency. In direct use of oil for stove fuel, the presence of gum can block the oil channel or wick. Gum can also lower the efficiency of esterification/transesterification process in biodiesel production. The use of membrane filtration is an environmentally friendly and low energy approach for separating gum. Study on membrane process condition is required to obtain high separation efficiency. This reseach was aimed at investigating the influence of membrane operation conditions (length of filtration and backflushing time) on the oil fluxes and rejections of gum (phospholipid). The experiment was conducted in factorial completely randomised design with two factors (length of filtration and backflushing time) and three levels (2, 4 and 6 minutes, and 2, 4 dan 6 seconds, respectively). A polypropylene membrane (average por; size of 0.01/m) equipped with diaphragm pump was operated at 1 bar for the whole experiments. Length of filtration and backflushing time influenced oil fluxes and rejection of phospholipids. Length of filtration time of 4 minutes and length of backflushing time of 2 seconds gave the highest phospholipid separation (25.47%). The highest flux (8.42 1/m2h) was observed at length of filtration time of 2 minutes and length of backflushing time of 6 seconds. Membrane filtration also separated non-hydratable phospholipids indicated by the decrease in mineral contents (calcium, magnesium, iron) in jatropha oils.

Filter by Year

2004 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Journal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian More Issue