cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 3 (2008): November 2008" : 16 Documents clear
PENGKAJIAN POTENSI, KENDALA DAN PELUANG PENGEMBANGAN PALAWIJA DI PAPUA Malik, Afrizal; Limbongan, Jermia
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In general the assessment aims to investigate the development potency, threat and opportunity of secondary crops especially of corn, soybeans and groundnut in Papua. In particular, the research is to study to what extent the existing technology can be applied by farmers and its probability to the future development. The assessment was conducted in 2006, covering two regions of secondary crops namely Jayapura and Keeroms regency. Data collection was conducted through a survey by involving 190 farmers of corn, soybeans and groundnut which were chosen by simple random design method. Qualitative and quantitative approach were used for data analyses and the results were: (1) The performance of farming systems of corn, soybeans and groundnut in Papua is relatively low due to the low technology adoption, (2) The potency for secondary crops development in Papua still growing up, based on economic, natural resource and conducive agro-climate. The use of such relatively small potency lead to a wide open of opportunity to increase productivity performance of secondary crops i.e. corn, soybeans and groundnut in Papua, (3) the constraint in developing secondary crops is not only caused by economic aspect of farmers but also by low ability and skill of farmers as well as insufficient number of agricultural manpower. To increase productivity and secondary crop products in Papua we need to establish steps to increase the land optimalisation, the introduction of cultivation technology, the improvement of agricultural extension worker and the initiation of micro financial institution growth to accommodate farmers need i.e. Agricultural Micro Financial Institute Key words: Secondary crops, potency, opportunity, threats, Papua   Pengkajian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui potensi, kendala dan peluang pengembangan palawija di Papua. Secara khusus, mempelajari sejauhmana teknologi yang telah diterapkan petani saat ini dan kemungkinan pengembangannya ke depan. Pengkajian dilakukan pada bulan Juni-September 2006 di dua kabupaten sentra palawija yaitu Kabupaten Jayapura dan Keerom Provinsi Papua. Pengumpulan data dilakukan melalui survai terhadap 190 petani jagung, kedelai dan kacang tanah yang terpilih secara acak sederhana sebagai responden. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil kajian menunjukkan: (1) Kinerja usahatani palawija khususnya jagung, kedelai dan kacang tanah di Papua masih relatif rendah, karena penerapan teknologinya rendah. Kendalanya bermuara pada kemampuan modal petani yang lemah, (2) Potensi pengembangan palawija di Papua masih besar, baik ditinjau dan aspek ekonomi maupun ketersediaan sumberdaya alam dan dukungan agroklimat yang kondusif. Pemanfaatan potensi tersebut masih relatif kecil, sehingga terdapat peluang yang besar untuk meningkatkan kinerja produksi pertanian di wilayah ini khususnya jagung, kedelai dan kacang tanah, (3) Kendala pengembangan palawija selain faktor ekonomi, juga rendahnya tingkat pengetahuan petani dan kekurangan tenaga kerja pada saat diperlukan. Untuk lebih meningkatkan produktivitas dan produksi palawija di Papua diperlukan langkah peningkatan optimalisasi pemanfaatan lahan potensial dan introduksi inovasi teknologi budidaya, peningkatan kinerja penyuluh pertanian dan inisiasi tumbuhnya kelembagaan jasa keuangan yang dapat mengakomodasi kebutuhan petani, yaitu Lembaga Keuangan Mikro (LKM) pertanian. Kata kunci: Palawija, potensi, peluang, kendala, Papua
ANALISIS USAHATANI MANGGA GEDONG (Mangifera indica spp) (Studi kasus di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat) Supriatna, Ade; Sudana, Wayan
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Farm Analysis of Mango Gedong (Mangifera indica spp) (Case Study in Cirebon Districts, West Java). This study was conducted in Cirebon District, West Java for two months starting from October to November 2005. The objectives of the research were to analyze: (a) the characteristics of mango farmers, (b) the farming system of mango and (3) the economic feasibility of mango farms. This research was designed by using survey method; the primary data were collected from 50 mango farmers using the method of random sampling while the secondary data were collected from the Local Agriculture Office, the Central Bureau Statistics and the Research Institutions. The results showed that Gedong mango was harvested by farmer in two forms, namely Gedong Biasa and Gedong Gincu. The productivity of Mango was 2.025 kg/ha/year consisted of 1.215 kg of Gedong Biasa and 810 kg of Gedong Gincu. The farming of Gedong Mango was economically feasible giving the average net income of Rp.10,818,670,-/ha/year and benefit cost ratio was 3.44. There are two problems in mango production, firstly some farmers had insufficient capital and quite often get money from money lenders and secondly due to the high fluctuation of mango price which was difficult to predict. The collaboration pattern with agribusiness sectors should be arranged, farmers are expected to get a scheme of credit and good farming guidance and practices. While the agribusiness actors were expected will obtain not only higher quality of mango fruits but also will open an export market opportunity to develop the mango industry processing for product diversification. Key words: Mango, farm, West Java Mangga gedong merupakan komoditas potensial untuk diekspor karena memiliki aroma yang tajam, buahnya berwarna merah dan banyak mengandung serat. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat selama dua bulan mulai bulan Oktober sampai dengan Nopember 2005. Tujuan penelitian adalah menganalisis: (a) karakteristik petani mangga Gedong, (b) keragaan budidaya dan (c) kelayakan ekonomi usahatani mangga Gedong. Penelitian menggunakan metoda survei, data primer dikumpulkan dan 50 petani mangga gedong yang diambil secara acak sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Badan Pusat Statistik dan Lembaga-Lembaga Penelitian. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa mangga Gedong dipanen oleh petani dalam dua bentuk, yaitu bentuk Gedong Biasa dan Gedong Gincu. Produktivitas mangga mencapai 2.025 kg/ha/tahun terdiri atas 1.215 kg Gedong Biasa dan 810 kg Gedong Gincu. Usahatani mangga Gedong layak secara ekonomi dengan rata-rata pendapatan bersih Rp.10.818.670,-/ha/tahun dan nilai B/C 3,44. Permasalahan produksi mangga di tingkat petani, yaitu sebagian petani bermodal lemah sehingga mereka sering terjerumus pada pelepas uang dan fluktuasi harga jual mangga cukup tinggi dan sulit diprediksi. Disarankan agar pola kemitraan dengan pelaku usaha agribisnis perlu dibangun, dimana petani diharapkan mendapat bimbingan cara budidaya yang baik dan mendapat bantuan credit. Sedangkan pelaku agribisnis diharapkan akan memperoleh produk mangga yang berkualitas, mendapat peluang pasar ekspor dan pengembangan industri pengolahan buah mangga untuk diversifikasi produk.Kata kunci: Mangga gedong, usahatani, Jawa Barat
KAMAN EFEKTIVITAS PUPUK NPK (15-15-6-4) PADA PADI DI LAHAN SAWAH IRIGASI KABUPATEN MALANG M. Saeri, Suwono dan Amik Krismawati Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur JL Raya Karangploso Km 4 Malang, Jawa Timur Saeri, M.; , Suwono; Krismawati, Amik
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Effective Assessment of NPK Fertilizer for Irrigated rice in Malang District. The suboptimal rice production on irrigated rice in Malang was due to the low fertilization efficiency. The objective of the single fertilizer and compound fertilizer application study on irrigated rice was to understand the fertilization efficiencies on irrigated rice. The on-farm experiment was conducted at Sekarpuro Village, Pakis District, Malang Regency in the first dry season (April — July 2007) and the types of soil was Regosol with sand loam texture. The design of the experiment was a Randomized Completely Block Design (RCBD), with 13 treatments and 3 replications. Treatments to be tested were : T1 = without fertilizer, T2 = 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T3 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha, T4 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T5 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 200 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T6 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T7 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha, T8 = 200 kg Urea/ha + 100 kg SP-36/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha; T9 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T10 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T11 = 300 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 100 SP-36/ha + 75 kg KC1/ha, T12 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 200 kg NPK Phonska/ha. The data were analyzed using ANOVA and BNT. The results of combining macro inorganic fertilizers and alternative fertilizers showed that treatment (a) where 200 kg Urea combined with 100 kg ZA and 300 kg NPK (15-15-6-4) provided Cibogo dried grains yield with 6.28 t/ha with RC 3.17, thus increasing farmers income to Rp.14,130,000, giving a profit of Rp.9,677,050, with treatment (b) where 200 kg of Urea combined with 100 kg ZA and 200 kg NPK Phonska provided Cibogo dried grains yield with as much as 6,05 t/ha with R/C 3.22 thus increasing farmers income to Rp.13,612,500, giving a profit of Rp.9,380,700. From economical point of view by combining fertilizers gave the economic advantage with higher revenue cost ratio and profit compared to single fertilization system Key words alternative fettilizer, macro anorganic fertilizer, rice, rainfed rice Belum optimalnya produktivitas padi di lahan sawah, antara lain disebabkan oleh rendahnya efisiensi pemupukan. Kajian pemupukan alternatif pada padi sawah dilaksanakan di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang di Musim Kemarau I (April - Juli) tahun 2007, termasuk jenis tanah Regosol dengan tekstur tanah lempung berpasir. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dikaji adalah (1). Tanpa pemupukan, T1 = tanpa pupuk, T2 = 300 kg NPK(15-15-6-4)/ha, T3 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha, T4 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T5 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 200 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T6 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T7 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha, T8 = 200 kg Urea/ha + 100 kg SP-36/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha; T9 = 200 kg Urea.ha + 100 kg ZA/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T10 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T11 = 300 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 100 SP-36/ha + 75 kg KC1/ha, T12 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 200 kg NPK Phonska/ha. Analisis data menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji BNT.Hasil pengkajian penggunaan pupuk makro anorganik yang dikombinasikan dengan pupuk alternatif menunjukkan bahwa (a). 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, memberikan hasil gabah kering giling (GKG) varietas Cibogo sebesar 6,28 t/ha dengan R/C 3,17 dan memberikan penerimaan usahatani sebesar Rp.14.130.000,- keuntungan sebesar Rp.9.677.050,- dan (b). 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 200 kg NPK Phonska/ha memberikan hasil gabah kering giling (GKG) varietas Cibogo sebesar 6,05 t/ha dengan R/C 3,22 dan memberikan penerimaan sebesar Rp.13.612.500,- serta keuntungan sebesar Rp. 9.380.700,-. Kata kunci : pupuk altematif, pupuk makro anorganik, padi, lahan sawah irigasi
PENINGKATAN MUTU DAN DAYA SIMPAN PASTA TOMAT DENGAN CARA BLANSING Dewayani, Wanti; Darmawidah, Andi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Increasing the Quality and Storage Period of Tomato Paste with Blanching Method. Up to the moment, the need of food industry for tomato paste is fulfilled by imported products. Processing raw tomato into tomato paste is one technique that will decrease the import dependency and increase the value added of the tomatoes. The aim of this research was to identify the quality of tomato paste by blanching treatments and the length of storage period. The experiment was arranged in randomized complete block design with two factors. The first factor was blanching treatments before the tomato is processed into tomato paste through four treatments; a) without blanching b) blanching within10 minutes, c) blanching within 20 minutes, and d) blanching within 30 minutes. The second factor was storage period which is divided into four periods i.e. 0, 1, 2 and 3 months. Parameter of quality which was observed was chemical quality (Vitamin C, sugar content, TPT and total acid) and organoleptic characteristics (color, texture, flavor and fondness). The result showed that oval variety can be processed into tomato paste and can be kept for a long time as recommended. However, the best tomato paste was obtained when blanched for 20 minutes and can be stored for 3 months. This tomato paste contained vitamin C 6.075 mg/100 g, sugar level 0.0085% and total acid 0.55%, total soluble solution 27°Brix, in red bright color 80%, aromatic and normal taste and be fond of. Based on fmancial analysis it was known that the farmers can process 200 kg fresh tomatoes into 100 kg tomato paste with profit rate amounting to Rp.1,860,000 with an R/C2.6. Key words: Blanching, processing, storage, tomato paste Selama ini kebutuhan industri pangan di Indonesia akan pasta tomat dipenuhi dari impor. Pengolahan tomat menjadi pasta akan memberi nilai tambah dan mengurangi ketergantungan impor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu pasta tomat yang dihasilkan dan perlakuan blansing dan lama simpan. Percobaan ini dilakukan dengan metode rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah perlakuan blansing sebelum diolah menjadi saus tomat (4 taraf) yaitu tanpa blansing, blansing selama 10 menit, blansing 20 menit dan blansing 30 menit. Faktor kedua adalah perlakuan lama penyimpanan (4 taraf) yaitu 0, 1, 2 dan 3 bulan. Parameter mutu yang diamati adalah mutu kimia (vitamin C, kadar gula, TPT dan total asam) dan organoleptik (warna, tekstur, aroma, rasa dan kegemaran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Oval dapat dibuat pasta dengan perlakuan blansing dan dapat disimpan lama sesuai dengan spesifikasi produk pasta tomat yang dipersyaratkan. Pasta tomat yang terbaik adalah yang diblansing 20 menit dan dapat disimpan 3 bulan. Pasta tomat tersebut mempunyai kandungan vitamin C 6,075 mg/100 g contoh, kadar gula 0,0085 %, total asam 0,55%, TPT 27 °Brix, wawa merah cerah 80%, aroma dan rasa normal serta digemari. Berdasarkan hasil analisis fmansial diketahui bahwa kelompok wanita tani dapat mengolah 200 kg tomat segar menjadi 100 kg pasta tomat dengan keuntungan sebesar Rp.1.860.000 dengan nilai R/C 2,6. Kata kunci : Blansing, penyimpanan, pasta tomat, pengolahan
KAJIAN PENGGUNAAN PUPUK KANDANG PADA DUA VARIETAS KEDELAI ADAPTIF DI LAHAN SULFAT MASAM Sabran, M.; , Koesrini; , Susilawati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Assessment of Soil Manure Applied on Two Varieties Soybean in Acid Sulphate Soils. One factor that cause low productivity of soybean in acid sulphate soils of tidal swamp land is the high acidity of such soils. Effort that could be taken to increase soybean productivity in tidal swamp land are the use of adaptive varieties and soil amelioration. The main objective of this assessment is to determine the effect of soil amelioration, especially the use of soil manure, on soybean yield and the economics feasibility of its application. An experiment have been conducted on acid sulphate soils of tidal swamp land at Bungai Jaya village, Basarang subdistrict, Kapuas district of Central Kalimantan province in rainy season of 2003/2004. The experiment was arranged in a split plot design with four replication. The main plot treatments were two adaptive varieties of soybean, i.e. Lawit and Menyapa; while the subplot treatments were three rates of soil manure application, i.e. 0, 3 t/ha and 6 t/ha. The result of the experiment indicated that application of soil manure up to 3 t/ha increase the yield; whilst further increase of soil manure application rate did not significantly increase soybean yield. The recommended technology, i.e., the use soil manure 3 t/ha, lime 2 t/ha and the Lawit variety give net income to farmer Rp.2.325.000,-, R/C=1,69, and MBCR=3.0. Key words: Soybean, acid sulphate soils, soil manure Salah satu sebab rendahnya produktivitas kedelai di lahan pasang surut adalah tingginya tingkat kemasaman tanah. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kedelai di lahan pasang surut adalah dengan ameliorasi lahan dan penggunaan varietas adaptif. Tujuan utama pengkajian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan amelioran, khususnya pupuk kandang, terhadap hasil kedelai dan kelayakan penerapannya secara ekonomis. Percobaan telah dilaksanakan di lahan pasang surut bertanah sulfat masam di desa Bungai Jaya, kecamatan Basarang, kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah pada MH 2003/2004. Rancangan petak terbagi dengan 4 ulangan digunakan untuk menata perlakuan. Sebagai perlakuan petak utama adalah dua varietas kedelai yang adaptif di lahan sulfat masam yaitu Lawit dan Menyapa; sedangkan sebagai perlakuan anak petak adalah dosis pupuk kandang, yaitu 0,3t/ha dan 6 t/ha. Hasil percobaan ini menunjukan bahwa pemberian pupuk kandang sebesar 3 t/ha meningkatkan hasil kedelai, meskipun penambahan pupuk kandang menjadi 6 t/ha tidak lagi meningkatkan hasil kedelai. Teknologi yang direkomendasikan yaitu peggunaan pupuk kandang 3 t/ha dan kapur 2 t/ha serta varietas Lawit, memberikan pendapatan bersih Rp.2.325.000,-, R/C=1,69, dan MBCR=3,0.Kata kunci: Kedelai, lahan sulfat masam, pupuk kandang
PERANAN LUMBUNG PANGAN DAN PENGGILINGAN PADI DALAM MENDUKUNG PEMBIAYAAN USAHATANI DI SUMATERA SELATAN Hutapea, Yanter; , Hermanto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Role of Rice Barn and Rice Milling Unit to Support farming Finance in South Sumatera. The aimed of this assessment was to know: 1) The performance of rice barn and rice milling unit (RMU) to serve farmer 2) the farmers accessibility to rice barn and RMU. Survey was conducted from March to May 2006 in 8 regencies (OKI, OKU Timur, OKU Selatan, Muara Enim, Lahat, Musi Rawas, Musi Banyuasin dan Banyuasin). Data were collected by interviewing 19 members of rice barn, 25 customers of RMU, 14 rice barn leaders and 21 RMU owners. The result of this assessment showed that the scarcity of capital faced by the farmer household generally in order to develop their farming. The financial institute such as rice barn and RMU in rural areas could be accessed by the farmer to get the operational cost of farming. The average of cash money of rice barn and RMU with magnitude of Rp.25.329.880 dan Rp.46.483.300, respectively. The amount of rice barn have credits and debts with magnitude of 35,71% and 14,28% respectively. Meanwhile, RMU have credits and debts with magnitude of 38,09% and 9,52% respectively. Many of Rice barn and RMU have post-harvest and ploughing facilities, input production supply, besides lending the money that used for production cost. The owner of RMU appear to help farmer easily, nevertheless many of them were not able to fulfill the farmer needs. Rice barn institutes developed by government was not available yet to lend the financial capital for the farmer. Key words : Rice barn, rice milling unit, farmer accessibilityPengkajian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) keragaan lembaga lumbung pangan dan penggilingan padi dalam melayani kebutuhan petani 2) aksesibilitas petani terhadap lembaga lumbung pangan dan penggilingan padi. Survei dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2006 di 8 kabupaten (OKI, OKU Timur, OKU Selatan, Muara Enim, Lahat, Musi Rawas, Musi Banyuasin dan Banyuasin). Data dikumpulkan dengan mewawancarai 19 orang petani anggota lumbung pangan, 25 orang petani pelanggan penggilingan padi, 14 orang pengelola lumbung pangan dan 21 orang pemilik penggilingan padi. Hasil kajian menunjukkan bahwa rumah tangga petani umumnya mengalami masalah keterbatasan modal dalam mengembangkan usahataninya. Lumbung pangan dan penggilingan padi merupakan lembaga ekonomi di perdesaan yang diakses petani untuk mendapatkan modal. Modal tunai rata-rata pada lembaga lumbung pangan dan penggilingan masing-masing sebesar Rp.25.329.880 dan Rp.46.483.300. Sebanyak 35,71% lumbung memiliki piutang dan 14,28% memiliki hutang. Sedangkan penggilingan padi, sebanyak 38,09% memiliki piutang dan 9,52% memiliki hutang. Beberapa di antara lumbung dan pengilingan padi juga memiliki fasilitas untuk pengeringan gabah, pengolahan lahan dan penyediaan sarana produksi selain menyediakan modal untuk biaya produksi usahatani. Pemilik penggilingan padi sering tampil sebagai penolong dengan kemudahan yang diberikannya, meskipun belum semuanya mampu melayani kebutuhan petani. Lumbung pangan sebagai lembaga ekonomi yang dibentuk pemerintah belum mampu berperan penuh dalam melayani kebutuhan petani.Kata kunci: Lumbung pangan, penggilingan padi, aksesibilitas petani
STUDI PERTUMBUHAN BEBERAPA ISOLAT JAMUR TIRAM (Pleurotus spp.) PADA BERBAGAI MEDIA BERLIGNIN , Achmad; Nina Herliyana, Elis; , Wartaka
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Growth Study of Some Oyster Mushroom (Pleurotus spp.) Isolates on Some Ligneous Media. Research to study the growth of some pleurotus isolates on some ligneous media were conducted at Forest Pathology Laboratory, Faculty of Forestry and Biological Science Study Center, Bogor Agricultural University in September 2004 to March 2005. Substances which used were Pleurotus sp.l, Pleurotus sp.6, and Pleurotus sp.8 from Forest Pathology laboratory collection, PDA, MEA, MPA, some natural lignin source to be added to the commercial media. Optimum media for Pleurotus sp.1 is PDA, MEA + bamboo apus dust, and Glenn and Gold modification + sengon wood dust. Pleurotus sp.6 grow best at MPA, MEA + paddy straw dust, and Glenn and Gold modification + paddy straw dust. Optimum media for Pleurotus sp.8 is MPA, MBA + paddy straw dust added media, MEA + paddy hay dust, and Glenn and Gold modification + sengon wood dust. The difference of colony growth is caused by isolate and nutrition of each growth media. Pleurotus sp.6 and Pleurotus sp.8 known produce lyses zone at media which contain lignin source. Lyses zone caused by existence of extrasellular enzyme which secreted by mushroom hype to degrade lignin. All mycellium dry weight of Pleurotus spp. isolat that is given wobble is higher than dont given. Mycellium dry weight from high to low showed by Pleurotus sp.8, Pleurotus sp.6 and Pleurotus sp.l. The difference of colony growth caused by isolat and nutrition of each growth media. Lysis zone at media with lignin source caused by extracellular enzyme activity to degradate lignin source as their nutrition. The difference of mycellium dry weight at both treatment is caused by the response to oxygen in the liquid media. Key words: Pleurotus spp, PDA, MEA, MPA, bamboo dust, sengon wood dust, Glenn & Gold, modification. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan koloni beberapa isolat jamur tiram (Pleurotus spp.) yang dikulturkan pada berbagai media dengan sumber lignin alami, dilakukan dan bulan September 2004 sampai Maret 2005, bertempat di Laboratorium Penyakit Hutan, Fakultas Kehutanan, dan Laboratorium Mikrobiologi dan Biokimia, Pusat Studi Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Bahan yang digunakan adalah Pleurotus sp.1, Pleurotus sp.6, dan Pleurotus sp.8, MEA, MPA, PDA, dan beberapa macam sumber lignin alami yang ditambahkan pada tiga media komersial tersebut. Pleurotus sp.l tumbuh terbaik pada media PDA, MEA + serbuk kayu sengon, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk bambu apus. Pleurotus sp.6 tumbuh terbaik pada media MPA, MEA + serbuk jerami padi, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk jerami padi. Isolat Pleurotus sp.8 tumbuh terbaik pada media MPA, MEA + serbuk kayu sengon, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk jerami padi. Pleurotus sp.6 dan Pleurotus sp.8 menghasilkan zona lisis berbentuk lingkaran coklat kekuningan pada media yang ditambah sumber lignin alami. Bobot kering miselia Pleurotus spp. pada media malt ekstrak cair yang ditambah serbuk jerami padi atau serbuk kayu sengon dengan diberi penggoyangan, lebih tinggi dibanding dengan Pleurotus spp. pada media yang sama tanpa diberi penggoyangan. Bobot kering miselia tertinggi sampai terendah berturut-turut ditunjukkan oleh Pleurotus sp.8, Pleurotus sp.6, dan Pleurotus sp.1 . Kata kunci: Pleurotus spp, PDA, MEA, MPA, serbuk bambu, serbuk kayu sengon, modifikasi Glenn dan Gold
PENERAPAN MODEL PENGELOLAAN TANAMAN DAN SUMBERDAYA TERPADU PADI SAWAH IRIGASI DI KABUPATEN SUMEDANG Nurbaeti, Bebet; Lia Mulijanti, Siti; Fahmi, Taemi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

management by using straw or other organic matter as well as thresher machine, and 4) the development of strategy or the socialization of ICRM is done by conducting plot demonstration units in the field by extension workers in collaboration with local government Key words: Integrated crop management, The implementation of Integrated Crop and Resource Management (ICM) on Paddy in Sumedang District. Synergizes some technology components in ICM can increase yield and production input efficiency as well as to control environmental conservation. The assessment of ICM application on paddy was conducted at 2 places i.e. Cibeureum Wetan and Cibeureum Kulon villages, Cimalaka Sub District, Sumedang District during dry season 2007. In each village there were 20 farmers covering 7.5 ha areas of land. The ICM components consists of: 1) the use of modem and high yielding varieties, 2) the use of certified seeds, 3) the use of balanced nutrient on specific site, 4) the use of organic fertilization, 5) the arrangement of Legowo or Tegel planting system, 6) the planting of young seed (10-17 das) with 1-3 seedlings per hill, 7) the water management, 8) the integrated pest management, and 9) the use of thresher machine. The objectives of this assessment were to study the performance of ICM components, the improvement chance in the field level, the adoption level of users, and the development of strategy. The results showed that: 1) some farmers have not fully implemented the ICM components due to the uncertainty of new ICM technology components, especially the legowo planting system, 2) the implementation of ICM was able to increase yield to15% and production input efficiency by 35­45% (using of seedling) and by 30-66% (using of fertilizer), 3) the implementation chance of ICM at farmer level can be increased through the improvement of water adoption, efficiency Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) padi sawah merupakan strategi pengelolaan tanaman padi yang mensinergiskan berbagai komponen teknologi yang dapat meningkatkan hasil dan efisiensi masukan produksi serta menjaga kelestarian lingkungan. Pengkajian penerapan model PTT padi sawah telah dilaksanakan di tiga kelompoktani masing-masing di Desa Cibeureum Wetan dan Cibeureum Kulon, Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang, pada MK I dan MK II tahun 2007 dengan jumlah petani peserta masing­masing 20 orang dengan luas areal penanaman 7,5 ha. Komponen PTT yang dikaji mencakup: 1) penggunaan varietas unggul barn berdaya hasil tinggi, 2) penggunaan benih bersertifikat, 3) penggunaan pupuk berimbang spesifik lokasi, 4) penggunaan bahan organik, 5) pengaturan tanam legowo atau tegel, 6) penanaman bibit muda (10-17 hss) dengan 1-3 bibit per lubang, 7) pengaturan pengairan, 8) pengendalian OPT secara terpadu, dan 9) penggunaan alat perontok gabah mekanis (mesin). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui kinerja komponen teknologi, peluang perbaikan penerapan ditingkat lapangan, tingkat adopsi oleh pengguna serta strategi pengembangannya. Hasil yang dicapai adalah: 1) sebagian petani belum sepenuhnya melaksanakan PTT sesuai dengan anjuran yang disebabkan petani masih ragu untuk menerima teknologi barn, terutama dalam cara tanam legowo, 2) penerapan PTT yang dilakukan sesuai anjuran dapat meningkatkan hasil panen (GKP) 15 % dan efisiensi masukan produksi terutama dalam penggunaan benih dan pupuk masing-masing 35-40% dan 30­66% bila dibandingkan dengan teknologi petani, 3) peluang penerapan ditingkat pengguna dapat ditingkatkan melalui perbaikan aspek teknologi pengaturan air, penggunaan jerami padi atau bahan organik lain dan penggunaan alat perontok gabah, dan 4) strategi pengembangan atau pemasyarakatan model PTT tersebut adalah dengan melaksanakan unit-unit percontohan di wilayah kerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Kata kunci: Pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu, adopsi, dan efisiensi
PENGKAJIAN POTENSI, KENDALA DAN PELUANG PENGEMBANGAN PALAWIJA DI PAPUA Afrizal Malik; Jermia Limbongan
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n3.2008.p%p

Abstract

In general the assessment aims to investigate the development potency, threat and opportunity of secondary crops especially of corn, soybeans and groundnut in Papua. In particular, the research is to study to what extent the existing technology can be applied by farmers and its probability to the future development. The assessment was conducted in 2006, covering two regions of secondary crops namely Jayapura and Keerom's regency. Data collection was conducted through a survey by involving 190 farmers of corn, soybeans and groundnut which were chosen by simple random design method. Qualitative and quantitative approach were used for data analyses and the results were: (1) The performance of farming systems of corn, soybeans and groundnut in Papua is relatively low due to the low technology adoption, (2) The potency for secondary crops development in Papua still growing up, based on economic, natural resource and conducive agro-climate. The use of such relatively small potency lead to a wide open of opportunity to increase productivity performance of secondary crops i.e. corn, soybeans and groundnut in Papua, (3) the constraint in developing secondary crops is not only caused by economic aspect of farmers but also by low ability and skill of farmers as well as insufficient number of agricultural manpower. To increase productivity and secondary crop products in Papua we need to establish steps to increase the land optimalisation, the introduction of cultivation technology, the improvement of agricultural extension worker and the initiation of micro financial institution growth to accommodate farmers' need i.e. Agricultural Micro Financial Institute Key words: Secondary crops, potency, opportunity, threats, Papua   Pengkajian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui potensi, kendala dan peluang pengembangan palawija di Papua. Secara khusus, mempelajari sejauhmana teknologi yang telah diterapkan petani saat ini dan kemungkinan pengembangannya ke depan. Pengkajian dilakukan pada bulan Juni-September 2006 di dua kabupaten sentra palawija yaitu Kabupaten Jayapura dan Keerom Provinsi Papua. Pengumpulan data dilakukan melalui survai terhadap 190 petani jagung, kedelai dan kacang tanah yang terpilih secara acak sederhana sebagai responden. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil kajian menunjukkan: (1) Kinerja usahatani palawija khususnya jagung, kedelai dan kacang tanah di Papua masih relatif rendah, karena penerapan teknologinya rendah. Kendalanya bermuara pada kemampuan modal petani yang lemah, (2) Potensi pengembangan palawija di Papua masih besar, baik ditinjau dan aspek ekonomi maupun ketersediaan sumberdaya alam dan dukungan agroklimat yang kondusif. Pemanfaatan potensi tersebut masih relatif kecil, sehingga terdapat peluang yang besar untuk meningkatkan kinerja produksi pertanian di wilayah ini khususnya jagung, kedelai dan kacang tanah, (3) Kendala pengembangan palawija selain faktor ekonomi, juga rendahnya tingkat pengetahuan petani dan kekurangan tenaga kerja pada saat diperlukan. Untuk lebih meningkatkan produktivitas dan produksi palawija di Papua diperlukan langkah peningkatan optimalisasi pemanfaatan lahan potensial dan introduksi inovasi teknologi budidaya, peningkatan kinerja penyuluh pertanian dan inisiasi tumbuhnya kelembagaan jasa keuangan yang dapat mengakomodasi kebutuhan petani, yaitu Lembaga Keuangan Mikro (LKM) pertanian. Kata kunci: Palawija, potensi, peluang, kendala, Papua
PERANAN LUMBUNG PANGAN DAN PENGGILINGAN PADI DALAM MENDUKUNG PEMBIAYAAN USAHATANI DI SUMATERA SELATAN Yanter Hutapea; Hermanto ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n3.2008.p%p

Abstract

The Role of Rice Barn and Rice Milling Unit to Support farming Finance in South Sumatera. The aimed of this assessment was to know: 1) The performance of rice barn and rice milling unit (RMU) to serve farmer 2) the farmer's accessibility to rice barn and RMU. Survey was conducted from March to May 2006 in 8 regencies (OKI, OKU Timur, OKU Selatan, Muara Enim, Lahat, Musi Rawas, Musi Banyuasin dan Banyuasin). Data were collected by interviewing 19 members of rice barn, 25 customers of RMU, 14 rice barn leaders and 21 RMU owners. The result of this assessment showed that the scarcity of capital faced by the farmer household generally in order to develop their farming. The financial institute such as rice barn and RMU in rural areas could be accessed by the farmer to get the operational cost of farming. The average of cash money of rice barn and RMU with magnitude of Rp.25.329.880 dan Rp.46.483.300, respectively. The amount of rice barn have credits and debts with magnitude of 35,71% and 14,28% respectively. Meanwhile, RMU have credits and debts with magnitude of 38,09% and 9,52% respectively. Many of Rice barn and RMU have post-harvest and ploughing facilities, input production supply, besides lending the money that used for production cost. The owner of RMU appear to help farmer easily, nevertheless many of them were not able to fulfill the farmer needs. Rice barn institutes developed by government was not available yet to lend the financial capital for the farmer. Key words : Rice barn, rice milling unit, farmer accessibilityPengkajian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) keragaan lembaga lumbung pangan dan penggilingan padi dalam melayani kebutuhan petani 2) aksesibilitas petani terhadap lembaga lumbung pangan dan penggilingan padi. Survei dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2006 di 8 kabupaten (OKI, OKU Timur, OKU Selatan, Muara Enim, Lahat, Musi Rawas, Musi Banyuasin dan Banyuasin). Data dikumpulkan dengan mewawancarai 19 orang petani anggota lumbung pangan, 25 orang petani pelanggan penggilingan padi, 14 orang pengelola lumbung pangan dan 21 orang pemilik penggilingan padi. Hasil kajian menunjukkan bahwa rumah tangga petani umumnya mengalami masalah keterbatasan modal dalam mengembangkan usahataninya. Lumbung pangan dan penggilingan padi merupakan lembaga ekonomi di perdesaan yang diakses petani untuk mendapatkan modal. Modal tunai rata-rata pada lembaga lumbung pangan dan penggilingan masing-masing sebesar Rp.25.329.880 dan Rp.46.483.300. Sebanyak 35,71% lumbung memiliki piutang dan 14,28% memiliki hutang. Sedangkan penggilingan padi, sebanyak 38,09% memiliki piutang dan 9,52% memiliki hutang. Beberapa di antara lumbung dan pengilingan padi juga memiliki fasilitas untuk pengeringan gabah, pengolahan lahan dan penyediaan sarana produksi selain menyediakan modal untuk biaya produksi usahatani. Pemilik penggilingan padi sering tampil sebagai penolong dengan kemudahan yang diberikannya, meskipun belum semuanya mampu melayani kebutuhan petani. Lumbung pangan sebagai lembaga ekonomi yang dibentuk pemerintah belum mampu berperan penuh dalam melayani kebutuhan petani.Kata kunci: Lumbung pangan, penggilingan padi, aksesibilitas petani

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue