cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
KAJIAN SISTEM USAHATANI BUAH KESEMEK (Diosphyros kaki L.f) DAN PERMASALAHANNYA DI KABUPATEN GARUT – JAWA BARAT Ridwan, Hilmi; Ishaq, Iskandar
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research was conducted at Barusuda and Giriawas Villages (Cikajang District), and Cisurupan Village(Cisurupan District), Garut Regency, West Java Province from September to October 2002. Data collection wascarried through a survey using semi-structure questionnaires from 50 respondents (producing-farmer, persimmonhome industry owners, intermediate sellers, local community, and agricultural officers). The research aimed toidentify the persimmon agribusiness system. Persimmon farming was carried out in a simple manner characteristizedby: (1) minimum maintenance (without fertilizer and plant protection effort), (2) manual harvest, and (3) diversifiedplants spacing, cultivars and ages of the tress. Yileds of persimmon varied from 25 –200 kg/tree, and yeild of Kapascultivar was higher than that of Reundeu. Average farmer’s tree ownership was 101 trees/farmer. Post-harvestactivities were carried by local intermediate sellers. Benefits of the producing-farmers were 1/43 of thoseagroindustries’owners (Rp 2,283,300.00/year vs. Rp 98,942,500.00/year), and 1/34 times benefit of the localintermediatae-sellers (Rp 2,283,300.00/year vs. Rp 77,931,00.00/year). The producing-farmers were lack of extensionin plants practice. The intermediate sellers and owners of persimmon home industry were lack of knowledges onharvest and post-harvest processes, and processed-fruit products diversification.Key word : Diospyros kaki, farming system, post-harvest, home industry, GarutPenelitian ini di laksanakan di Desa Barusuda dan Desa Giriawas (Kecamatan Cikajang), serta DesaCisurupan (Kecamatan Cisurupan), Kabupaten Garut, Jawa Barat dari Bulan September sampai dengan Oktober 2002,dengan metode survai menggunakan kuesioner semi terstruktur pada 50 responden : (petani-produsen; pengrajinindustri pengolahan kesemek; pedagang-pengumpul; tokoh masyarakat; dan petugas pertanian) untuk dua kecamatan.Teknik pengambilan data dilakukan melalui wawancara; pengamatan langsung, dan pengukuran. Tujuanmengidentifikasi sistem budidaya pada tingkat petani dan sistem pemasarannya, serta permasalahan dan upayapenanggulangannya. Hasil penelitian menunjukan, bahwa budidaya kesemek di tingkat petani masih dilakukan secarasederhana, dengan karakteristik : (1) pemeliharaan minimum (tanpa pupuk dan upaya proteksi tanaman); (2)pemanenan dengan cara manual (dipetik), serta (3) jarak tanam, kultivar dan umur tanaman beragam. Hasil kesemek25-200 kg/ph, kultivar Kapas lebih tinggi dibandingkan kultivar Reundeu. Pemilikan pohon petani rata-rata 101,3ph/org, Penanganan fungsi pascapanen sudah ada, namun dilakukan oleh pedagang-pegumpul (Bandar Lokal) danpengrajin industri pengolahan bukan oleh petani-produsen. Keuntungan petani-produsen setara dengan 1/43keuntungan pengrajin industri pengolahan sale (Rp 2.283.300,00/th-B/C rasio 3,40 vs Rp 98.942.500,00/th-B/C rasio2,14), dan 1/34 dari keuntungan pedagang-pengumpul desa/kecamatan (Bandar Lokal) (Rp 2.283.300,00/th-B/C rasio3,40 vs Rp 77.931.000,00/th-B/C rasio 0,94). Permasalahan pada petani-produsen adalah kurangnya upaya pembinaanpetugas dalam teknik budidaya, terutama dalam rangka peningkatan kuantitas hasil panen dan produksi. Sedangkanpada pedagang-pengumpul dan pengrajin industri pengolahan umumnya mengharapkan bimbingan dan introduksiteknologi alat dan proses pada aspek panen dan pascapanen, serta diversifikasi produk olahan kesemek. Upayapelatihan tentang berbagai aspek dari sistem produksi kesemek juga diperlukan bagi petugas lingkup pertaniansetempat.Kata kunci : kesemek, usahatani, pascapanen, industri pengolahan, Garut
EVALUASI POLA PEMANFAATAN SUMBERDAYA LAHAN DI ANTARA KELAPA DENGAN TANAMAN SELA BERDASARKAN KAJIAN ASPEK SOSIAL EKONOMI DAN KONSERVASI LAHAN Hasni, Husen
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intercropping between coconut trees with other crops has been implemented for a long time. These croppingpatterns do not produce maximal yields due to sosio-economic and land conservation aspects. Evaluating thoseaspects will lead to specific patterns and sustainable farm practices. The study aimed (1) to evaluate intercroppingpatterns between cooconut and other crops based on social-economic and land conservation aspect; (2) to get thespecific intercropping patterns which result in maximal income and minimal environmental degradation. The studywas carried out in Minahasa Regency, North Sulawesi Province, using a survey method with a purposive sampling of120 respondents from two districts, namely Tombatu and Wori. Based on social economic and land conservationaspects analysis, coconut + vanili in Tombatu is the best pattern with Compatible Comparative Value (NKK) of 92.10percent, and the best intercropping pattern in Wori District was coconut + banana with NKK of 92.90 percent. Thosetwo intercropping patterns (vanili and banana) had no limited factors because of god social response, more benefits,and less ecological destruction. The other intercropping patterns with NKK of more than 60 percent had limitedfactors in terms of social economic and land conservation aspects.Key words : land resource conservation, coconut, economic social, North SulawesiProgram pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela di Sulawesi Utara sudahberlangsung lama, namun hasilnya belum sesuai yang diharapkan. Faktor yang diduga menjadi hambatan adalah aspeksosial ekonomi dan konservasi lahan. Dengan evaluasi kedua aspek ini diharapkan ditemukan pola pemanfaatansumberdaya lahan di antara kelapa dengan tanaman sela yang spesifik lokasi dan berkelanjutan. Tujuan penelitianadalah (1) Mengevaluasi pola pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela berdasarkan kajianaspek sosial ekonomi dan konservasi lahan, (2) Mendapatkan pola pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapadengan tanaman sela yang memberikan nilai tambah pendapatan yang maksimal dengan kerugian ekologis yangminimal. Penelitian dilakukan di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan metode survai.Pengambilan sampel dilakukan secara tertuju (purposive sampling) sebanyak 120 sampel di dua kecamatan yaituKecamatan Tombatu dan Kecamatan Wori, masing-masing 60 petani disesuaikan dengan banyaknya polapemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela yang diusahakan petani. Data primer yangdikumpulkan adalah data sosial ekonomi petani dan konservasi lahan berupa pengukuran tingkat erosi sertapengambilan sampel tanah untuk mengetahui ketersediaan hara dari masing –masing pola usahatani tanaman seladiantara kelapa. Berdasarkan kajian aspek sosial ekonomi dan konservasi lahan diperoleh bahwa pola kelapa + vanilidi Kecamatan Tombatu merupakan pola yang yang terbaik untuk diusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif(NKK) sebesar 92,10 persen. Untuk Kecamatan Wori, pola kelapa + pisang adalah pola yang terbaik untukdiusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif sebesar 92,90 persen. Kedua jenis tanaman sela ini adalah tanamansela yang hampir tidak mempunyai faktor pembatas karena secara sosial mendapat respon yang tinggi, secara ekonomilebih menguntungkan dengan kerugian ekologis terkecil. Pola kelapa + cengkeh, kelapa + tomat, kelapa + jagung, dankelapa + padi ladang, walaupun layak diusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif lebih besar dari 60 persennamun masih mempunyai faktor pembatas baik dari aspek sosial ekonomi maupun konservasi lahan.Kata kunci : konservasi sumberdaya lahan, kelapa, sosial ekonomi, Sulawesi Utara
PENGELOLAAN LIMBAH CAIR USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH MELALUI PENERAPAN KONSEP PRODUKSI BERSIH , Hidayatullah; , Gunawan; Mudikdjo, Kooswardhono; N., Erliza
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Development activities should take into account the environment capacity and quality. Dairy farm businesswith scale more than 20 cattle’s and located in same place tends to pollute environment, but better waste managementapplied will give an aditional benefit to the environment. Dairy farm system applying cleaner production was analternative in minimizing cattle waste. This study aimed to evaluate the benefit of dairy farm system life cycleapplying cleaner production and how much the pollutant concentration in liquid waste could be minimized. Datacollected were life cycle process of dairy farm system, waste management system and characteristics of liquid wasteof dairy farm. Water samples collected three times from liquid waste tanks were analyzed in Chemistry LaboratoryFaculty of Mathematics and Life Sciences, University of Sebelas Maret, Solo. The results were compared to thequality standard of liquid waste. The result showed that integrated farming system applying cleaner production asable to increase additional benefit for the farming system (B/C Ratio > 1) and reduced the liquid waste discharged tothe environment. The result, of water quality were (pH = 7.25; Total Dissolved Suspension (TDS) = 804 mg/L; TotalSolid Suspension (TSS) =356 mg/L; Chemistry Oxigen Demand (COD) = 48 mg/L; Biology Oxigen Demand (BOD)= 240 mg/L; Nitrite = 0.06 mg/L; Nitrate = 0.09 mg/L; NH3-N = 0.39 mg/L; H2S = 0.54 mg/L). These concentrationswere still below the maximum quality standard allowed.Key words : dairy cattle, wastes, cleaner production, Solo Kegiatan pembangunan peternakan perlu memperhatikan daya dukung dan kualitas lingkungan. Usahapeternakan sapi perah dengan skala usaha lebih dari 20 ekor dan relatif terlokalisasi akan menimbulkan pencemaranterhadap lingkungan. Pencemaran ini disebabkan oleh pengelolaan limbah yang belum dilakukan dengan baik, tetapikalau dikelola dengan baik, limbah tersebut memberikan nilai tambah bagi usaha peternakan dan lingkungan disekitarnya. Sistem usaha peternakan dengan penerapan produksi bersih merupakan salah satu upaya yang dapatdilakukan dalam meminimisasi limbah ternak. Penelitian tentang Pengelolaan Limbah Cair Sapi Perah MelaluiPenerapan Produksi Bersih ini telah dilakukan di CV. Lembah Hijau Multifarm (LHM) Solo, Jawa Tengah. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan limbah padat dan cair sapi perah melalui penerapan produksibersih dan berapa besar kadar polutan dalam limbah cair ternak dapat diminimisasi. Data yang dikumpulkan meliputiproses daur hidup sistem usaha peternakan, sistem pengelolaan limbahnya dan karateristik limbah cair sapi perah.Contoh air diambil sebanyak tiga kali dan dianalisis di Lab. Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,Universitas Sebelas Maret, Solo dan dibandingkan dengan baku mutu limbah cair. Hasil penelitian menunjukkan daurhidup sistem usahatani yang dilakukan mampu meningkatkan keuntungan bagi sistem tersebut (B/C Ratio >1) danmengurangi limbah yang terbuang ke lingkungan. Hasil analisis kualitas air adalah Derajat Keasaman (pH) = 7,25;Total Dissolved Suspention (TDS) = 804 mg/L; Total Solid Suspention (TSS) = 356 mg/L; Chemistry Oxigen Demand(COD) = 483 mg/L; Biology Oxigen Demand (BOD) = 240 mg/L; Nitrit = 0,003 mg/L; Nitrat = 0,09 mg/L; NH3-N =0,39 mg/L; H2S = 0,54 mg/L. Kadar polutan dalam limbah cair tersebut semuanya masih berada di bawah baku mutulimbah cair maksimum yang diperbolehkan.Kata kunci : usaha peternakan sapi perah, limbah, produksi bersih, Solo
UJI APLIKASI ALAT BANTU DAN PENGERING SEDERHANA DALAM INDUSTRI PENGOLAHAN EMPING MELINJO SKALA RUMAH TANGGA , Yuniarti; Zubaidi, Thohir; Santoso, Pudji
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emping melinjo agroindustry is one of the agribusiness activity which can gives big job opportunity for thewomen. Nevertheless, during doing their work, the women don’t care about their body position, so that there is noworking pleasure and they feel quick tired. Increasing their working pleasure can be done by using right supportingtools that can results the right body position. The main problem faced by the female labour in emping melinjoagroindustry during rainy season is lack of sunlight, consequently quality of the produce will drop sharply. The aimsof this assessment were 1) to determine supporting tools which can increase working pleasure of the female labour,and 2) to test the use of simple drier for increasing drying process efficiency in emping melinjo agroindustry duringrainy season. This assessment had been done in Tanggung and Siraman village, Blitar, from January 2001 toDecember 2001. In this assessment, the modified (introduction) supporting tools were tested by the female labour formaking emping melinjo, then the produces were compared to those using old supporting tools. Introductionsupporting tools which tested were wooden and stone hitting layer, suitable wooden chair, stone-hammer and ironhammer.Drier which tested was simple drier using kerosene as fuel source with low electrical energy. The parameterswhich observed were labour productivity, working pleasure and product quality. The result showed, that the rightsupporting tools which recommended to get working pleasure for female labour in emping melinjo agroindustry werestone hitting layer as high as 30 cm, wooden chair as high as 30 cm and wooden hammer with cylindrical iron at theirtip. These supporting tools resulted same productivity and working pleasure with those old supporting tools, althoughthese introduction tools were new for the female labour. The use of simple drier can saved time and place needed fordrying process of emping melinjo compared to those using sunlight. The use of this simple drier was recommended inrainy season because it can assured the continuity of production and increasing the absorption of working labour andincreasing the labour income.Key words : gnetum geremons, agroindustry, female labour, drier, BlttarAgroindustri emping melinjo merupakan salah satu kegiatan agribisnis yang memberi kesempatan kerja yangluas bagi wanita. Namun demikian, dalam melaksanakan pekerjaannya wanita cenderung tidak mempedulikan posisiatau caranya bekerja, sehingga tidak terasa adanya kenyamanan bekerja. Peningkatan kenyamanan bekerja tenagawanita dapat dilakukan dengan penggunaan alat bantu yang tepat sehingga posisi tubuh benar. Masalah utama yangdihadapi perajin emping melinjo pada waktu musim penghujan adalah kurangnya sinar matahari, sehinggapengeringan tidak dapat dilakukan secara optimal. Pengkajian ini dilakukan dengan tujuan 1) menentukan alat bantuyang dapat meningkatkan kenyamanan bekerja tenaga wanita, dan 2) menguji penggunaan alat pengering sederhanauntuk meningkatkan efisiensi proses pengeringan dalam pengolahan emping melinjo selama musim penghujan.Pengkajian dilakukan di Desa Tanggung dan Siraman, Blitar dari bulan Januari 2001 sampai dengan Desember 2001.Dalam pengkajian ini alat bantu yang telah dimodifikasi (alat bantu introduksi) diuji oleh tenaga kerja wanita untukmengolah emping melinjo, kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil dari penggunaan alat bantu semula. Alatbantu introduksi yang akan dicoba adalah alat bantu alas pemipih emping melinjo dari kayu dan batu, alas duduk darikayu serta pemipih emping melinjo dari batu dan palu besi. Alat pengering yang diuji adalah alat pengering sederhanaberbahan bakar minyak tanah dan berdaya listrik rendah. Parameter yang diamati meliputi produktivitas tenaga kerjawanita, kenyamanan bekerja tenaga wanita serta mutu hasil olah. Hasil pengkajian menunjukkan, bahwa alat bantu138Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.1, Maret 2005 : 137-149yang tepat dan dapat dianjurkan untuk mendapatkan kenyamanan bekerja bagi tenaga wanita dalam pengolahanemping melinjo adalah alat bantu berupa alas duduk setinggi 30 cm, pemipih melinjo dari palu kayu berujung besisilinder dan alas pemipih dari batu setinggi 30 cm. Alat pengering sederhana yang digunakan dapat menghemat waktudan tempat dalam pengolahan emping melinjo dibandingkan dengan penggunaan sinar matahari. Penggunaan alatpengering sederhana dianjurkan untuk musim penghujan karena dapat menjamin kontinuitas produksi danmeningkatkan penyerapan tenaga kerja serta keuntungan perajin.Kata kunci: emping melinjo, agroindustri, tenaga kerja wanita, alat pengering, Blitar
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PELAYANAN JASA ALSINTAN DI SULAWESI TENGAH Hutahaean, Lintje; H. Anasiru, Rahmat; Sarasutha, IGP
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Contribution of agriculture machineries in term of increasing for productivity and resources effectivitycontaint a role and strategically potency. On the other hand, also tend of quality through processing and productdiversication that has added value, need to be supported used to agribussinese development. Based on this case, thegoverment should be done focusly to “Usaha Pelayanan Jasa Alsintan” (UPJA) program. This program aimed toincreasing probability of accessbility of agriculture machinery through UPJA program. This research aimed tofeasibility at the UPJA program with technically, economic, and institutional evaluation. This assesment conductedthrough questionnare and survey that continued to financial analysis. Such as NPV, Net B/C, and IRR. This resultshowed that in the UPJA implementation found that technically, social-culture, economy and policy problem. Thefinancial analysis result showed that capacity of hand tractor for soil preparation phase was 15 ha/seasion indicatedthat is not feasible. Mean while, the result of thresher machine financial, has 15-20 ha/seasion optimal capacity that itfeasibel. On the other hand, the optimal capacity was difficult to gain, caused to this machine must to fight withharvest labour. The alternative solution could be priored to price substitution for hand tractor and neecessary to spreadwide that usefull of the thresherKey words : institution, hand tractor, power thresher, feasibility, Sulawesi TengahAlsintan mempunyai peran dan potensi sangat strategis karena kontribusinya dalam meningkatkanproduktivitas dan efisiensi sumberdaya, di samping peningkatan kualitas produk melalui prosesing dan diversifikasiproduk yang menghasilkan nilai tambah dalam mendukung program pengembangan agribisnis. Oleh karena itu,pemerintah perlu melakukan intervensi dalam pengembangan alsintan. Salah satu bentuk intervensi pemerintah adalahdengan mengembangkan alsintan melalui pola usaha pelayanan jasa alsintan (UPJA) agar petani mampu mengakses,menggunakan alsintan tanpa membeli atau memiliki sendiri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis denganmengevaluasi kelayakan UPJA di Sulawesi Tengah yang ditinjau secara teknis, ekonomis, dan kelembagaan.Pengkajian dilakukan pada tahun 2000 dengan cara survai menggunakan kuesioner berstruktur. Metode untukmengetahui kelayakan usaha jasa alsintan secara ekonomi dengan analisis finansial berupa kriteria NPV, Net B/C, danIRR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan UPJA dengan bantuan SPL-OECF menghadapipermasalahan teknis, sosial budaya, ekonomi, dan kebijakan. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa dengankapasitas olah traktor tangan optimal 15 ha/MT, maka usaha jasa tersebut belum layak. Usaha ini akan layak bilamencapai kapasitas optimal 15-20 ha/MT. Tetapi target kapasitas optimal sulit dicapai karena mesin perontok harusbersaing dengan buruh panen. Alternatif pemecahan masalah yang menjadi prioritas adalah dengan memberi subsidiharga traktor tangan disertai sosialisasi tentang manfaat mesin perontok.Kata kunci : kelembagaan, traktor tangan, mesin perontok, kelayakan, Sulawesi Tengah
PENGKAJIAN INTENSIFIKASI PADI SAWAH BERDASAR PENGELOLAAN TANAMAN DAN SUMBERDAYA TERPADU DI KABUPATEN PINRANG, SULAWESI SELATAN , Arafah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Assessment of lowland rice intensification based on integrated crop and resources management was aimed atidentifying the components required to achieve high yield and income. The study site was purposively chosen on thelowland-rice producing center in Pinrang Regency conducted for two seasons, namely dry season and wet seasons.The observations consisted of cooperating and non-cooperating farmers. Lowland area cultivated by the cooperatingfarmers was 3.0 hectares for each season. The dry and wet seasons lasted from July 17 to November 22, 2001 andFebruary 10 to June 15, 2002. Ciliwung rice variety was transplanted when the seedlings were15 days old. Cropspractice included one seedling per hill, planting space of 25 x 25 cm2 , organic fertilizer made of decomposed straw (2tons/ha), Urea based on leaf color chart (155 kg/ha), SP-36 and KCl based on soil analysis each of 75 kgs/ha,intermitted irrigation, and integrated pests management. On the dry season, cooperating farmers’ income and yieldwere Rp 1,066,504/ha (20.72%) and 1,451 kg/ha (22.25%), respectively, greater than those of non-cooperatingfarmers. On the wet season, the cooperating farmers achieved Rp 1,904,692/ha (51.62%) higher than that of noncooperatingfarmers with yield difference of yields by 2,175 kg/ha (45.35%).Key words : intensification, integrated crop management, Oryza sativa Intensifikasi padi sawah dengan metode pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu ini memperhitungkanketerkaitan dan keterpaduan antara tanaman dan sumberdaya yang ada. Teknik-teknik produksi yang diterapkanmempertimbangkan sinergisme yang ada antara teknik tersebut agar mampu memberikan hasil yang tinggi. Tujuanpengkajian adalah untuk mengidentifikasi komponen-komponen yang diperlukan bagi metode pengelolaan tanamansecara terpadu agar dapat memberikan hasil dan pendapatan yang tinggi dalam intensifikasi padi. Lokasi pengkajianditentukan secara sengaja (Purposive Sampling) pada daerah sawah beririgasi di sentra produksi padi yang merupakandaerah primer dalam pengembangan usahatani padi yaitu, Kabupaten Pinrang yang dilaksanakan pada dua musimtanam yaitu MK dan MH, dengan luas 3,0 ha pada setiap musim. Pengkajian ini melibatkan petani sebagaipelaksana (petani koperator), dan petani nonkoperator yang jumlahnya sama dengan petani koperator. Pengambilansampel ditentukan secara acak sederhana (simple random sampling). Petani nonkoperator ini memiliki lahan sawahyang berada di sekitar pengkajian. Pada musim kering tanam tanggal 17 Juli dan panen tanggal 22 November 2001,sedangkan pada musim hujan tanam tanggal 10 Februari dan panen tanggal 15 Juni 2002. Varietas yang digunakanadalah Ciliwung yang ditanam dengan umur bibit 15 hari, satu batang/rumpun dengan jarak tanam 25 x 25 cm.Pemupukan dengan menggunakan kompos jerami sebanyak 2 t/ha, urea sebanyak 155 kg/ha (berdasar LCC/BWD),SP-36 dan KCl masing-masing 75 kg/ha (berdasar analisis tanah). Pengelolaan air dilakukan secara Intermitten danpengendalian hama dengan metode PHT. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pendapatanyang diperoleh petani koperator dibanding nonkoperator sebesar Rp 1.066.504/ha (20,72 %), dengan selisihpeningkatan produktivitas sebesar 1.451 kg/ha GKP (22,25 %) pada MK dan pada MH peningkatan pendapatansebesar Rp. 1.904.692/ha (51,62 %), dengan selisih peningkatan produktivitas sebesar 2.175 kg/ha GKP (45,35 %).Kata kunci: intensifikasi, Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), Oriza sativa
PENGKAJIAN SISTEM USAHATANI TERPADU PADI-KEDELAI/ SAYURAN-TERNAK DI LAHAN PASANG SURUT , Susilawati; Sabran, M.; Ramli, Rahmadi; Djauhari, Deddy; , Rukayah; , Koesrini
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The assessment was designed to help farmers to cultivate their land optimally. This assessment on integratedrice-soybean/vegetables-livestock farming system in tidal swamp land with B-C type flooding was the on-goingproject conducted in Bungai Jaya Village, Basarang District, Kapuas Regency covering an area of 13 hectaresmanaged by 20 cooperating farmers. Aims of the assessment were: (i) to conduct characterization of the region,farmers, and farming systems, (ii) to analyze farming system performance, (iii) to analyze farm business income, (iv)to study income structure of integrated farming system, and (v) to analyze adoption of introduced technology.Assessment approach was based on farm research by comparing farmers using introduced technology and those whodid not. B-C type tidal swamp land was suitable for integrated farming system applying surjan (sunk an d risen beds)system with a cropping pattern of rice - secondary crops on wet season and soybean – vegetables on dry season, andlivestock on home yards. Introduced technology was able to improve farming system performance and to increasefarmers’ incomes of Rp 9,873,500 on the dry season and Rp 8,887,000 on the wet season or higher than those of noncooperatingfarmers. Average R/C ratios of all crops grown were more than 2.5 implying that the technology wasfeasible to disseminate.Key words : integrated farming system, tidal swamp land, technology adoption, rice, soybeanDalam rangka mendukung program pembangunan pertanian di Kabupaten Kapuas yaitu programpengembangan kawasan pertanian terpadu melalui pemberdayaan lahan dan petani serta menumbuhkan pasar rakyatuntuk meningkatkan pendapatan petani, maka perlu dilakukan suatu pengkajian yang dapat membantu petani dalammengelola lahannya sehingga sesuai dengan potensi lahan yang ada dan sumberdaya yang tersedia. Pengkajianusahatani terpadu padi-kedelai/sayuran-ternak di lahan pasang surut tipe luapan B-C merupakan kegiatan lanjutan,yang dilaksanakan di Desa Bungai Jaya, Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas, dengan luas areal 13 ha danmelibatkan 20 orang petani koperator. Tujuan pengkajian adalah (1) melakukan karakterisasi wilayah, petani dansistem usahatani, (2) melakukan analisis terhadap kinerja teknologi usahatani, (3) melakukan analisis usahatani, (4)mempelajari struktur pendapatan usahatani terpadu, dan (5) melakukan analisis adopsi teknologi introduksi.Pendekatan pengkajian dilakukan secara on-farm research, dengan metode perbandingan berpasangan (pairlycomparison) yaitu membandingkan model usahatani introduksi dengan model usahatani ditingkat petani. Hasilpengkajian menunjukkan bahwa sesuai dengan karakteristik lahan dan petaninya, lahan pasang surut tipe B-Csebaiknya diusahakan secara terpadu dengan sistem surjan dengan pola tanam padi-palawija pada MH dan kedelaisayuranpada MK serta ternak di pekarangan. Secara fisik input teknologi yang diintroduksikan, dapat meningkatkankinerja usahatani dan memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp 9.873.500 pada MK dan Rp 8.887.000 pada MH,lebih besar dari pendapatan petani nonkoperator. Rata-rata R/C semua komoditas yang diusahakan > 2,5, sehinggateknologi ini layak dikembangkan.Kata kunci : usahatani terpadu, lahan pasang surut, adopsi teknologi, padi, kedelai
INTRODUKSI MODEL PTT DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI DI SULAWESI TENGAH D. Mario, Muljady; Anasiru, RH.; Sarasutha, IGP; Hasni, Husen
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

It is still possible to improve potential yield of rice in Central Sulawesi. One of efforts to increase yield isthrough Integrated Rice Crop Management (PTT), namely managing crop, soil, water, and soil nutritional elements toimprove crop growth, and higher, sustainable yield. Results of PTT were promising. Rice yield increased from 3.5tons/ha (Non PTT) to 6 tons/ha (PTT) with farm income of Rp 4,617,500/year and B/C ratio of 1.56. Total productioncost of Non-PTT farmers and PTT farmers were each of Rp 4.1 million/ha and Rp 3.2 million/ha.Key words : rice, integrated farming system, production, income, Central Sulawesi Pencapaian produksi rata-rata padi sawah di Sulawesi Tengah relatif masih jauh dari potensi genetik yangdimiliki oleh tanaman padi (yield gap), sehingga masih terdapat cukup besar peluang untuk meningkatkan produksipadi. Upaya peningkatan produksi padi dilakukan melalui pendekatan model Pengelolaan Tanaman Padi secaraTerpadu (PTT) yakni mengelola tanaman, tanah, air dan unsur hara secara terintegrasi untuk mendapatkanpertumbuhan tanaman yang lebih baik, serta hasil yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Hasil yang dicapai dariintroduksi model PTT ini sangat menggembirakan dan membuka harapan yang besar bagi peningkatan produktivitasdan pendapatan usahatani padi. Peningkatan hasil gabah yang diperoleh sangat signifikan yakni dari rata-rata produksigabah non-PTT sekitar 3,5 t/ha meningkat hingga 6 t/ha dengan pendapatan sebesar Rp 4.617.500/tahun dan nilai B/Csekitar 1,56. Sementara total biaya produksi dari sistem usahatani menggunakan model PTT tidak terlalu jauhberbeda dibandingkan cara petani non-PTT, yaitu Rp. 4,1 juta/ha dibanding Rp. 3,2 juta/ha pada non-PTT.Kata kunci : Oryza sativa, usahatani terpadu, produksi, pendapatan, Sulawesi Tengah
KAJIAN ADOPSI DAN DAMPAK TEKNOLOGI SISTEM USAHA PERTANIAN PADI-UDANG WINDU DI LAHAN SAWAH TAMBAK KABUPATEN LAMONGAN Santoso, Pudji; Muhariyanto, Anang; Irianto, Bambang
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

During 2000 – 2001, AIAT East Java conducted assessment on integrated farming system of rice-tiger prawnin Lamongan regency. This activity was evaluated in July – September 2003. The aim of the evaluation was to obtaindata on (1) adoption level and diffusion of recommended technology, and (2) impact at recommended technology onproductivity and farmer income. Within the evaluation, some information such as farmer characteristics, application ofrecommended technology, productivity and farmer income were collected by survey method. Results indicated that31% of farmers adopted the recommended technology. Subsequently, the recommended technology were diffused tonon-participated farmers. The level of diffusion reached 14%. In addition, the productivity at rice and tiger prawnincreased by 8% and 67% respectively. Finally, farmer income from this farming system increased by 41%. Tocontinue adoption at farming system of rice-tiger prawn, the following requirements are needed: (1) supply ofproduction input on the right time, (2) continue supervision to the farmer, (3) presence of stable and feasible priceassurance and (4) support of local government to increase productivity of integrated farming system of rice-tigerprawn.Key words : farming system, flood plain pond, technical adoption, tigar prawnKajian adopsi dan dampak teknologi ini merupakan evaluasi dari kegiatan sistem usaha pertanian padi-udangwindu yang telah dilakukan BPTP Jawa Timur di Kabupaten Lamongan tahun 2000 dan 2001. Pengumpulan datamenggunakan metode survei yang dilakukan pada bulan Juli-September 2003. Data yang dikumpulkan meliputikarakteristik petani, penerapan teknologi, serta produktivitas dan pendapatan usahatani padi-udang windu. Kajian inibertujuan untuk memperoleh informasi (1) tingkat adopsi dan difusi teknologi anjuran, dan (2) dampak teknologianjuran terhadap produktivitas dan pendapatan usahatani. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat adopsi teknologianjuran yang diadopsi oleh petani peserta mencapai 31 persen. Sedangkan teknologi anjuran yang terdifusi oleh petaninonpeserta mencapai 14 persen. Produktivitas padi dan udang windu meningkat 8 dan 67 persen serta pendapatanusahatani meningkat 41 persen. Agar adopsi teknologi usahatani padi-udang windu dapat berlanjut, maka diperlukan;(1) penyediaan sarana produksi yang tepat waktu, (2) bimbingan oleh petugas secara terus menerus, (3) jaminan hargayang layak dan stabil, dan (4) dukungan pemerintah daerah dalam program peningkatan produktivitas usahatani padiudangwindu.Kata kunci : sistem usahatani, sawah tambak, adopsi teknologi, udang windu
KINERJA PENYULUH PERTANIAN DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS NENAS DI KECAMATAN TAMBANG, KABUPATEN KAMPAR , Bestina; , Bestina; , Supriyanto; Hartono, Slamet; Syam, Amiruddin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study was conducted in Tambang District, Kampar Regency, Riau Province in pineapple agribusinessdevelopment in 2001 and aimed at observing performance of field extension workers and the affecting factors .Primary data were collected using questionnaires from the respondents consisting of 60 farmers, 10 filed extensionworkers, and one Head of Agricultural Extension Service (BPP). The data were processed using both parametric andnon parametric statistics. Performance of the field extension workers in pineapple agribusiness development was notoptimal due to lack of motivation, limited capabilities of the extension workers, and lack of farmers’ participation.Key words: agricultural extension workers, agribusiness, pineapplePenelitian ini dilakukan di Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau pada tahun 2001, dengantujuan untuk melihat kinerja penyuluh pertanian dalam pengembangan agribisnis nenas dan faktor-faktor apa sajayang mempengaruhinya. Data dianalisis secara deskriptif. Pengumpulan data-data primer menggunakan kuesionerdengan mewawancarai responden yang terdiri dari 60 orang petani, 10 orang penyuluh pertanian, dan seorang KepalaBPP. Untuk memperoleh kesepadanan penilaian antara kelompok responden dilakukan uji Konkordasi Kendall.Metode analisis dilakukan dengan uji statistik parametrik dan nonparametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwakinerja penyuluh pertanian dalam pengembangan agribisnis nenas belum optimal. Belum optimalnya kinerja penyuluhpertanian ini disebabkan oleh : motivasi penyuluh dalam melaksanakan tugas hanya sekedar untuk memenuhikewajibannya, kemampuan penyuluh masih terbatas, dan tingkat partisipasi petani dalam pelaksanaan kegiatanusahatani nenas juga sedang.Kata kunci : penyuluh pertanian, agribisnis, nenas

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue