cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
PENGARUH SUMBER BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KENTANG DI KABUPATEN KERINCI, JAMBI Edi, Syafri; , Yardha; , Mildaerizanti; , Mugiyanto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Quality seed supply is the main problem in potato farming. The assessment was aimed at analyzing sourcesof potato seeds’effect on yields and farmers’income. The study was conducted in Baru Pulau Sangkar Village,Batang Merangin District, Kerinci Regency on May to December 2003. Sources of seeds were (i) improved seeds ofBBU Pangalengan, West Java, and (ii) farmers’local seed of Kayu Aro, Kerinci Regency. The treatment was fertilizerrates, namely of Urea (150 kg/ha), SP-36 (450 kg/ha), KCl (300 kg/ha), ZA (150 kg/ha), and organic fertilizer (6,000kg/ha). Highest yield was achieved through application of improved seeds, namely 15,850 kg/ha with income of Rp29,030,000/ha, production cost of Rp 13,291,000/ha, and profit of Rp 15,739,000 or B/C ratio of 1.18. The localseeds’yield was 13,750 kg/ha with income of Rp 17,287,500, total cost of Rp 13,291,00, and profit of Rp3,996,500/ha or B/C ratio of 0.30. yield break event point of both seeds was 8,935.13 kg/ha and price break evenpoints of improved and local seeds were Rp 838.55/kg and Rp 966.62/kg, respectively.Key words: Solanum hybrid seed, indegenous seed, farm analysisPermasalahan dalam melakukan budidaya kentang selalu dihadapkan pada ketersediaan bibit bermutu, sehinggausaha pengembangan kentang sering tidak optimal. Permasalahan ini tidak saja berlaku untuk Provinsi Jambi, akantetapi secara umum dirasakan oleh petani kentang di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruhsumber bibit terhadap pertumbuhan dan hasil usahatani kentang; dan mendapatkan informasi tentang kelayakanusahatani tanaman kentang dalam rangka meningkatkan produksi serta penerimaan petani. Penelitian dilaksanakan diDesa Baru Pulau Sangkar, Kecamatan Batang Merangin Kabupaten Kerinci pada ketinggian 800 m dari permukaanlaut dengan jenis tanah Andisol pada bulan Mei sampai Desember 2003. Sumber bibit yang diuji berasal dari (1) bibitunggul BBU Pengalengan Jawa Barat; dan (2) bibit lokal petani Kayu Aro Kabupaten Kerinci. Pemupukanmenggunakan dosis anjuran BPTP Jambi yaitu urea 150 kg, SP-36 450 kg, KCl 300 kg, ZA 150 kg dan pupuk organik6.000 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan produksi tertinggi diperoleh pada sumber bibit unggul 15.850 kg/ha,jumlah penerimaan Rp. 29.030.000,- dengan biaya produksi Rp. 13.291.000,- dan keuntungan bersih Rp. 15.739.000,-serta B/C ratio 1.18, sedangkan untuk sumber bibit lokal hasil 13.750 kg/ha, jumlah penerimaan Rp. 17.287.500,-biaya produksi Rp. 13.291.000,- dan keuntungan bersih Rp. 3.996.500,- serta B/C ratio 0,30. Titik Impas Produksiuntuk kedua sumber bibit tercapai pada hasil 8935,13 kg/ha, sedangkan Titik Impas Harga untuk bibit unggul telahtercapai pada harga Rp. 838,55/kg dan untuk sumber bibit lokal Rp. 966,62/kg.Kata kunci : bibit kentang unggul, bibit kentang lokal, analisis usahatani
EFISIENSI FAKTOR PRODUKSI LADA PADA POLA USAHATANI INTEGRASI DAN POLA TRADISIONAL DI SULAWESI TENGGARA Sahara, Dewi; , Sahardi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study conducted on November to December 2003 was aimed at analyzing production factor efficiency ofpepper farmers in Southeast Sulawesi. Survey was carried out to collect data from 14 participating farmers whointegrated goats into pepper farms for three years and 16 traditional pepper farmers. The data were analyzed usingseparate linear regressions for both samples. Land area, nitrogen fertilizer, and organic fertilizer positively affectedpepper production of both groups of farmers. However, fungicide had negative effect on production. SP-36 fertilizeralso had negative effect on production of traditional farmers. Both groups of farmers were not efficient in allocatingproduction factors. Nitrogen fertilizer and fungicide were not efficiently applied by the participating farmers.Nitrogen, SP-36, and organic fertilizers, fungicide, and labor were not efficiently applied by the traditional farmers. Itis necessary to use production factors efficiently to achieve optimal pepper production.Key words: efficiency, production factors, integrated farming system, traditional farming system, pepper.Penelitian efisiensi penggunaan faktor produksi pada pola usahatani lada di Sulawesi Tenggara telahdilakukan pada bulan November hingga Desember 2003. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi perilaku petanidalam menggunakan input produksi sehingga diperoleh gambaran tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi.Penelitian menggunakan metode survai dan pengamatan partisipatif terhadap 14 petani yang telah mengintegrasikanternak kambing ke dalam usahatani lada selama tiga tahun dan 16 petani lada tradisional. Data dianalisismenggunakan regresi linear berganda untuk mengestimasi fungsi produksi. Analisis dilakukan secara terpisah antarapola usahatani integrasi tanaman lada dengan ternak kambing dan pola usahatani secara tradisional. Hasil analisisregresi fungsi produksi pada kedua pola usahatani tersebut menunjukkan bahwa luas lahan, pupuk anorganik N, danpupuk organik berpengaruh positif, sedangkan fungisida berpengaruh negatif terhadap produksi. Selain fungisida,pupuk SP-36 pada pola tradisional juga berpengaruh negatif. Dilihat dari tes efisiensi alokatif maka kedua polausahatani lada belum efisien secara ekonomis. Hal ini ditunjukkan oleh belum efisiennya penggunaan pupukanorganik N, dan berlebihnya fungisida pada pola integrasi, sedangkan pada pola tradisional faktor produksi yangbelum efisien adalah pupuk urea dan pupuk kandang, sedangkan pupuk SP-36, fungisida dan tenaga kerja sudah tidakefisien lagi penggunaannya. Oleh karena itu untuk mencapai produksi optimal dan keuntungan maksimal maka perludilakukan penambahan input produksi yang belum efisien dan menguranginya apabila sudah berlebih.Kata kunci : efisiensi, faktor produksi, pola integrasi, pola tradisional, lada
PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP MUTU FISIK DAN CITARASA KOPI ARABIKA VARIETAS S 795 DI BALI , Rubiyo; Kartini, Luh; Mas Sri Agung, IGA.
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Study on effects of cow manure rates and fermentation periods on quality of Arabica coffee was carried outin Belantih Village, Kintamani District, Bangli in 2002-2003. The experiment used a randomized split block designwith two treatments and each of four replications, namely cow manure rates (P) and fermentation period (F). Therewere 6 levels of P treatment, namely 5, 10, 20, 30, 40, and 60 kg/tree/year. F treatment consisted of 4 levels, namely12, 24, 36, and 48 hours. Combination of two treatments improved significantly physical quality, except the beans ofL size and all components of coffee tastes. Cow manure of 5 kg/tree/year and fermentation periods of 12 to 24 hourswere able to produce quality beans and good coffee taste. Cow manure rate of 5 kg/tree/year with fermentation periodof 24 hours produced highest M-size beans (18.43%), with lowest Ss-size beans (10.07%). Best coffee aroma wasfound in manure rate of 5 kg/tree/year with fermentation period of 12, 24, and 36 hours. Flavor scores of manure rateof 5 kg/tree/year with all fermentation periods, except that of 48 hours, were higher than those of 60 kg/tree/year.Highest strength (7.30) was found on the rate of 5 kg/tree/year with 24 hour of fermentation. Acid or bitter taste waslower on the coffee tree at applied with 60 kg/tree/year than that applied with 5 kg/tree/year. Lower rate of manureapplication was able to produce optimal quality coffee beans than that applied by the farmers, namely 60 kg/tree/year.Key words: cow manure, coffea arabica, fermentation, physical quality, flavor, Bali.Penelitian mengenai pengaruh dosis pupuk kandang sapi dan lama fermentasi terhadap mutu hasil KopiArabika telah dilakukan di Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Bangli pada tahun 2002-2003. Rancanganpercobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua perlakuan, yaitudosis pupuk kandang (P) dan lama fermentasi (F). Perlakuan dosis pupuk kandang (P) terdiri dari enam level, yaitu :5, 10, 20, 30, 40, dan 60 kg/pohon/tahun. Perlakuan lama fermentasi (F) terdiri dari empat level, yaitu : 12, 24, 36, dan48 jam. Fermentasi dilakukan dengan cara basah terhadap biji kopi yang telah dikupas. Perlakuan dilakukan empatkali ulangan. Untuk mengetahui beda antarperlakuan digunakan uji DMRT. Secara statistik, kombinasi keduaperlakuan, yaitu dosis pupuk kandang dan lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap semua komponen mutu fisikkopi, kecuali jumlah biji ukuran L dan semua komponen citarasa kopi. Secara umum, pemupukan dosis 5kg/pohon/ tahun dengan kombinasi lama fermentasi 12 jam sampai 24 jam sudah dapat menghasilkan biji KopiArabika Varietas S 795 dengan mutu fisik yang baik dan dapat menghasilkan seduhan kopi dengan mutu citarasa yangbaik pula. Dosis pupuk 5 kg/pohon/tahun dengan lama fermentasi 24 jam menghasilkan jumlah biji ukuran M tertinggi(18,43 %) dengan jumlah biji ukuran Ss terendah (10.07%). Aroma kopi terbaik (skor 7,00) diperoleh pada perlakuandosis pupuk 5 kg/pohon/tahun dengan lama fermentasi 12, 24, dan 36 jam. Skor perisa pada perlakuan dosis pupuk 5kg/pohon/tahun dengan semua perlakuan lama fermentasi, kecuali 48 jam lebih tinggi dibandingkan skor padaperlakuan 60 kg/pohon/tahun. Demikian juga dengan dosis pupuk 5 kg/pohon/tahun dengan lama fermentasi di atas 24jam memberikan skor kekentalan tertinggi (7,30). Namun, untuk keasaman dan rasa pahit, dosis pupuk 60kg/pohon/tahun memiliki skor yang lebih rendah dibandingkan dosis 5 kg/pohon/tahun. Rasa asam atau pahit yangterlalu tinggi tidak dikehendaki dalam citarasa kopi. Berdasarkan keunggulan mutu fisik dan citarasa kopi yangdihasilkan, aplikasi pupuk kandang yang lebih sedikit namun dapat menghasilkan produk dengan kualitas yangoptimal ini dapat menggantikan dosis pupuk kandang yang selama ini diterapkan oleh petani, yaitu 60 kg/pohon/ tahun.Kata kunci: pupuk kandang, Coffea arabica, fermentasai, mutu fisik, citarasa, Bali
PENGGUNAAN LIMBAH KAKAO TERFERMENTASI UNTUK PAKAN AYAM BURAS PETELUR Guntoro, Suprio; Rai Yasa, I Made
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Native chicken plays important role in egg and meat production in Bali. Sharp price of feed since themonetary crisis encourages the farmers to get alternative cheap feed. Assessment on fermented cacao wastes toreplace rice bran in layer native chicken ransom was conducted in Tukad Aya Village, Jembrana Regency, Bali lastingfrom July to December 2002. The experiment was using a completely randomized design with three treatments andeach of 60 chicken. The treatments were P0, i.e., feed ransom as practiced by the farmers (with out cacao wastes), P1(feed ransom with11 percent of cacao waste), and P2 (feed ransom with 22 percent of cacao waste). The resultsshowed that P2 improved significantly egg production from 31.33 percent (P0) to 35.53 percent (P2). Cacao waste didincrease egg weight significantly and tended to reduce Feed Conversion Ratio from 5.68 (P0) to 4.49 (P2). Cacaowaste treatments also did not reduce physical quality and nutritional contents of the eggs. The treatment was able toincrease the farmers’ income from Rp 221,142/100 chicken/month to Rp 376,677/100 chicken/month or an increaseR/C ratio from 1.65 to 2.34.Key words: native chicken, cacao waste fermented egg productionAyam Buras mempunyai peranan penting sebagai penghasil telur maupun daging di Bali. Melonjaknya hargapakan, semenjak krisis moneter menyebabkan banyak peternak ayam buras yang menerapkan pola intensifmenghentikan usahanya. Karena itu perlu upaya mencari bahan pakan alternatif yang murah. Penelitian tentangpemanfaatan limbah kakao terfermentasi sebagai pengganti dedak dalam ransum ayam buras petelur telah dilakukandi Desa Tukad Aya – Kabupaten Jembrana Bali selama enam bulan (Juli s/d Desember 2002). Penelitian disusundalam Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan ransum, dengan 60 ekor ayam per perlakuan. Ke-3 perlakuantersebut yaitu (P0) mendapat ransum sesuai dengan cara petani (tanpa limbah kakao). (P1) dengan ransum yangmengandung 11 persen limbah kakao. Kelompok III (P2) dengan ransum yang mengandung 22 persen limbah kakao.Hasil penelitian menunjukkan penggunaan limbah kakao 22 persen dalam ransum menyebabkan meningkatnyaproduksi telur dari rata-rata 31,33 persen (PO) menjadi 36,53 persen (P2) dan secara statistik berbeda nyata (P<005).Pemberian limbah kakao sebagai pengganti dedak juga menyebabkan meningkatnya berat telur, sebaliknya konsumsipakan cenderung menurun dari 72,1 gram/ekor/hari menjadi 69,79 gram/ekor/hari, walaupun secara statistik tidaknyata. Sebagai akibatnya, Feed Convertion Ratio (FCR) menurun secara nyata (P<0,05) dari 5,68 (PO) menjadi 4,49(P2). Penggunaan limbah kakao sebagai pengganti dedak juga tidak berpengaruh negatif terhadap kualitas fisikmaupun nilai gizi telur. Dengan menurunnya FCR, maka secara ekonomis penggunaan limbah kakao sebagaipengganti dedak secara keseluruhan (22 persen) mampu meningkatkan kuntungan petani dari Rp. 221.142 /100 ekorper bulan menjadi Rp.376.677 /100 ekor/bulan sehingga RC ratio meningkat dari 1,65 menjadi 2,34. Dari hasilpenelitian ini ternyata penggunaan limbah kakao sebagai komponen ransum ayam Buras petelur cukup prospektifuntuk dikembangkan.Kata kunci : ayam buras, limbah, kakao, fermentasi produksi telur
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI KAPAS TRANSGENIK DI SULAWESI SELATAN Syam, Amiruddin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed at assessing financial feasibility of transgenic (Bollgard) and non-transgenic cotton farmingsystems in south Sulawesi in 2001. Survey method was used in this study through interview of 75 farmers consistingof 25 transgenic and 10 non-transgenic cotton farmers in Bulukumba Regency (dry land), 30 transgenic farmers inBantaeng Regency (dry land), and 10 transgenic cotton farmers in Gowa Regency (rain fed lowland). Both transgenicand non-transgenic cotton farming systems were feasible financially. However, profits of transgenic farming systemwas higher than that of non transgenic. Gross B/C ratios of transgenic and non-transgenic cotton farming systems inBulukumba Regency were each of 2.93 and 1.39. Meanwhile, gross B/C ratios of transgenic cotton farming systemsin Bantaeng and Gowa Regencies were 2.69 and 3.67, respectively.Key words: farming system, transgenic, financial analysis, South Sulawesi.Untuk melihat kelayakan finansial usahatani kapas transgenik (Bollgard) dan kapas nontransgenik diSulawesi Selatan telah dilakukan penelitian di Kabupaten Bulukumba, Bantaeng, dan Gowa pada musim tanam 2001.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan finansial usahatani kapas transgenik dannontransgenik. Metode yang digunakan adalah metode survai dan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) denganwawancara petani responden sebanyak 75 orang, terdiri atas petani kapas transgenik 25 orang dan 10 petani kapasnontransgenik (Kabupaten Bulukumba) yang diusahakan di lahan kering, 30 petani kapas transgenik (KabupatenBantaeng) yang diusahakan di lahan kering, dan 10 petani kapas transgenik (Kabupaten Gowa) yang diusahakan dilahan sawah tadah hujan. Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani kapas transgenik dan nontransgenik di tigakabupaten contoh layak secara finansial. Akan tetapi keuntungan dari usahatani kapas transgenik lebih besar daripadausahatani kapas nontransgenik. Tingkat keuntungan yang dicapai petani kapas ditandai dengan nilai Gross B/C Ratioyaitu sebesar 2,93 petani kapas transgenik dan 1,39 petani kapas nontransgenik (Kabupaten Bulukumba). Sedangkannilai Gross B/C Ratio petani kapas transgenik di Kabupaten Bantaeng dan Gowa masing-masing sebesar 2,69 dan3,67.Kata kunci : sistem usahatani, transgenik, analisis finansial, Bollgard, Sulawesi Selatan
KAJIAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Eucheuma cotonii) DENGAN SISTEM DAN MUSIM TANAM YANG BERBEDA DI KABUPATEN BANGKEP SULAWESI TENGAH Amin, Muh.; Rumayar, T. P.; N.F., Femmi; Kemur, D.; Suwitra, IK
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The assessment was conducted in Apal Village, Bangkep Regency since March to November 2002. It aimedat determine seaweed growing practice and planting season suitable with the local waters, applicable, and enable toimprove fisheries’ income. In addition, it was intended to create employment and to explore coastal resourcesoptimally. The assessment was carried out using a randomized split block design with three treatments, namelycontrol (T0), usual planting rows (T1), and three furrow planting rows (T2), and each of five replications. Plantingwas carried out in four planting seasons representing those of west to east (BT), east (T), east to west (TB), and west(W) and were subsequently on April, June, August, and October 2002. Average weight of seaweed of T2 treatmentduring 50 days of growing showed highest yields. In the same planting season, T0 and T2 were not differentsignificantly. Among the planting seasons, the highest average weights were found for planting on October-November2002 for all treatments. The highest productions the seaweed planted on October 2002, namely 55.09, 52.99, and55.09 kilograms for T0, T1, and T2, respectively. The yields attained were 2.20, 2.12, and 2.20 kg/m2 for T0, T1, andT2, respectively. Highest daily growth rates were achieved during October-November 2002 planting season, namelyT0 (4.4%), T1 (4.7%), and T2 (4.7%). Return to costs ratios of each treatment were 2.3 (T2), 2.2 (T0), and T1.Key words: growing practice, planting season, Eucheuma cotonii.Pengkajian dilaksanakan di Desa Apal Kabupaten Bangkep dari bulan Maret-November 2002, bertujuanuntuk mendapatkan informasi sistem dan waktu tanam rumput laut yang sesuai dengan perairan setempat, mudahdilakukan dan dapat meningkatkan pendapatan petani-nelayan. Di samping itu membuka peluang kesempatan kerjadan berusaha yang kondusif serta dapat memanfaatkan sumberdaya pesisir secara optimal. Rancangan penelitian yangdigunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol (T0), jalur tanam biasa(T1), dan jalur tanam legowo tiga (T2) dengan masing-masing lima ulangan. Penanaman dilakukan empat kali musimtanam yang masing-masing mewakili peralihan musim barat ke musim timur (BT), musim timur (T), peralihan darimusim timur ke musim barat (TB), dan musim barat (B) yang secara berurutan jatuh pada bulan April, Juni, Agustus,dan Oktober tahun 2002. Hasil pengamatan rata-rata bobot akhir rumput laut selama 50 hari pemeliharaanmenunjukkan bahwa sistem legowo tiga pada hampir semua musim tanam masih memberikan hasil terbaik. Untukwaktu tanam, sistem tanam tali rentang dan legowo tiga tidak berpengaruh terhadap waktu tanam yang sama.Sedangkan untuk masing-masing waktu tanam, bobot akhir rata-rata tertinggi diperoleh pada periode penanamanOktober - November untuk setiap perlakuan. Untuk semua sistem tanam, produksi terbesar diperoleh pada musimtanam Oktober, masing-masing 55,09 kg pada sistem tanam tali rentang maupun legowo tiga, dan 52,99 kg pada jalurbiasa. Sedangkan untuk produktivas, masing-masing 2,20 kg/m2 untuk sistem tali rentang maupun sistem legowotiga, dan 2,12 kg/m2 untuk sistem jalur biasa. Pada laju pertumbuhan harian, periode penamanan Oktober - Novembermemperlihatkan hasil yang terbaik pada masing-masing teknologi yaitu 4,4 persen pada sistem tali rentang, 4,7 persenpada sistem tanam biasa, dan 4,7 persen pada sistem tanam legowo tiga. Untuk analisis usahatani, pendapatan bersihtertinggi diperoleh pada perlakuan sistem tanam jalur legowo tiga dengan R/C ratio 2,3, diikuti dengan tali rentangR/C ratio 2,2 dan sistem jalur biasa R/C ratio 1,6.Kata kunci : sistem tanam, waktu tanam, rumput laut
USAHA PEMBENIHAN IKAN HIAS CUPANG (Betta splenders) DI KABUPATEN SERANG Diani, Susanti; , Mustahal; Sunyoto, Pramu
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The fighting fish (Betta splenders) is one of ornamental fish with high economic value. The price of malefish is about Rp 5,000 to Rp 1,000,000 per fish. Demand for the fish in Serang Regency is satisfied by the fish raisersfrom other regencies. Seedling technique for the fighting fish is available at the Fresh Water Fisheries ResearchInstitute and the hobbyists but the fighting fish raisers in Serang Regency still rely on natural stocks for live feedsupply. The assessment aimed at applying and disseminating seedling technique for the fighting fish, and improvingfish raisers in Serang Regency. Assessment was conducted on January to December 2002 with nine cooperatingfarmers classified into three groups. Nine pairs of the fighting fish parent stocks of Serit type were spawned in nineaquaria of 20 x 20 x 25 cm3 . There were three treatments with three replications, namely (A) male fish was separatedafter spawning, (B) male fish was separated after the larvae were three days old, and (C) male fish was separated afterthe larvae were seven days old. The larvae were fed with Moina sp until 14 days old, fed with Moina sp and Daphniasp for 14-30 days old, and fed with Daphnia sp and the mosquito larvae of Chironomus sp for 30-45 days old. Totalegg produced varied from 408-815 eggs per female parent. Fertilization rates were 80.5-94.5 percent and hatchingrates were 74.5-95.8 percent. Egg incubation periods were 25-31 hours. Survival rates of B treatment in 14 and 45days old were each of 87.5 and 87 percent, while those C treatment were each of 82.0and 81.5 percent, and those Atreatment were each of 81.5 and 80.0 percent. Profit earned from fighting fish breeding was Rp 3,390,000 perspawning period of 1.5 months.Keywords: Betta splenders, seedling, separation of male fish, survival rate, proitabilityIkan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu jenis ikan hias yang mempunyai nilai ekonomis tinggidan banyak terdapat di pasaran. Harga ikan cupang jantan berkisar Rp. 5.000,- - Rp. 1.000.000,- per ekor. DiKabupaten Serang kebutuhan ikan cupang masih dipenuhi dari berbagai daerah di luar Serang, seperti Tangerang,Bogor, Sukabumi, dan Jakarta. Kabupaten Serang merupakan salah satu daerah potensial yang dapat dikembangkanuntuk usaha pembenihan ikan cupang. Teknologi pembenihan ikan cupang sudah tersedia di Balai Penelitian Ikan AirTawar maupun di pihak swasta, namun di Kabupaten Serang para petani ikan cupang untuk penyediaan jasad pakan(pakan hidup) masih tergantung dari alam. Dengan menerapkan sistem budidaya pakan hidup yang berkesinambunganpada usaha pembenihan ikan hias cupang di tingkat petani, maka akan mendukung keberhasilan produksi benih.Tujuan pengkajian adalah untuk menerapkan dan menyebarluaskan teknologi pembenihan ikan cupang danmeningkatkan pendapatan petani di Kabupaten Serang. Pengkajian dilakukan bulan Januari-Desember 2002 yangdilaksanakan secara partisipatif. Petani kooperator berjumlah sembilan orang yang dibentuk menjadi tiga kelompok.Induk cupang yang digunakan sembilan pasang adalah jenis “Serit” dan dipijahkan dalam sembilan akuariumberukuran 20x20x25 cm. Perlakuan yang diberikan adalah: A. Induk jantan diambil setelah pemijahan selesai. B.Induk jantan diambil setelah burayak berumur tiga hari. C. Induk jantan diambil setelah burayak berumur tujuh hari.Semua perlakuan diulang tiga kali. Pemeliharaan burayak sampai umur 14 hari diberi pakan Moina sp, umur 14-30hari di beri pakan Moina sp dan Daphnia sp, umur 30-45 hari diberi pakan Daphnia sp dan larva nyamuk Chironomussp. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa jumlah telur berkisar 408-815 butir per ekor induk. Derajat pembuahanberkisar 80,5-94,5 persen, dan penetasan 74,5-95,8 persen. Masa inkubasi telur ialah 25-31 jam. Kelangsungan hidup293Usaha Pembenihan Ikan Hias Cupang (Betta splenders) di Kabupaten Serang (Susanti Diani, Mustahal, dan PramuSunyoto)benih pada umur 14 dan 45 hari pada perlakuan B mencapai 87,5 dan 87,0 persen jauh lebih baik bila dibandingkandengan perlakuan C yaitu 82,0 dan 81,5 persen dan perlakuan A. 81,5 dan 80,0 persen. Secara ekonomis keuntunganyang diperoleh dari usaha pembenihan ikan cupang cukup tinggi yaitu Rp. 3.390.000/1,5 bulan/periode pemijahan.Kata kunci : Betta splenders, pembenihan, pemisahan induk jantan, kelangsungan hidup, tingkat keuntungan
KAJIAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL YANG BERPENGARUH TERHADAP ADOPSI INOVASI USAHA PERIKANAN LAUT DI DESA PANTAI SELATAN KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA , Subagiyo; , Rusidi; Sekarningsih, R.
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study, conducted on August to November 2002, was intended to identify social factors affectingadoption of fisheries business innovation in the three coastal villages in Bantul Regency. Respondents of the studywere 20 boat-owners and 50 workers. The study applied survey method. Data was analyzed using descriptive statisticsand path analysis. Internal factors (individual characteristics, motivation, organizational involvement, impersonalcommunication, mass media exposures, cosmopolitan level), external factors (government policy, social system, andsocial norms), and fishermen’s perception on innovation (comparative advantage, compatibility, complexity, trialing,and observation) positively affected adoption of fisheries business innovation. Adoption was carried through agents ofchange. The social impact found was new business opportunity employing productive labor force which in turn it willimprove fishermen’s income.Key words: social factors, adoption, innovation, marine fisheries, BantulPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor sosial yang mempengaruhi adopsi inovasi usahaperikanan di desa pantai selatan Kabupaten Bantul, proses adopsi inovasi usaha perikanan serta dampak sosialnyaterhadap nelayan di desa kawasan pantai selatan Kabupaten Bantul. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustussampai dengan Nopember 2002 di tiga desa pantai selatan Kabupaten Bantul. Jumlah sampel sebanyak 70 respondenyang terdiri dari 20 responden nelayan pemilik dan 50 responden nelayan tekong/anak buah kapal. Penelitian inidilakukan dengan menggunakan survai. Untuk menganalisis data yang diperoleh digunakan analisis statistik deskriptifdan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal (karakteristik individu,motivasi, keterlibatan dalam organisasi, komunikasi impersonal, terpaan media massa, tingkat kosmopolitan), faktoreksternal (kebijakan pemerintah, sistem sosial dan norma-norma sosial), dan persepsi nelayan terhadap sifat-sifatinovasi (keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, triabilitas, dan observabilitas) berpengaruh positif terhadapadopsi inovasi usaha perikanan. Proses adopsi inovasi usaha perikanan pada masyarakat desa pantai selatanKabupaten Bantul mengikuti pola umum dalam proses adopsi inovasi yaitu melalui agen-agen perubahan (nelayanyang sudah terlebih dahulu mengadopsi usaha perikanan). Dampak sosial yang terjadi adalah terbukanya peluangusaha baru sehingga terserapnya tenaga kerja usia produktif yang pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatanpara petani/nelayan.Kata kunci : faktor-faktor sosial, adopsi inovasi, perikanan laut, Bantul
PEMETAAN DAN PENGELOLAAN STATUS KESUBURAN TANAH DI DATARAN WAI APU, PULAU BURU Noto Susanto, Andriko
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research was aim to make map of soil fertility status and its management on farmland in Plain of Wai Apu,Buru Island have been conducted at 25.400 ha area, in year 2000. Evaluate of soil fertility status conducted in eachsoil-mapping unit and delineated with landscape mapping approach. Result of research that soil fertility status in Plainof Wai Apu is very low, low, middle and high, with wide respectively 17.145, 5.182, 1.549 and 1.542 ha. Limitingfactor to soil fertility is lowering of cation exchange capacities (CEC), C-Organic, K2O, P2O5 and base saturation.Alternative of land management suggested is improving C-organic and CEC which at the same time also can improvesoil nutrient content by giving organic materials like manure, straw compost (rich of K), chicken waste and guano(rich of P), accompanied with giving of inorganic manure like N, P, and K pursuant to soil chemical analysis. At areawith landform undulating to hilly needed conservation act, while mangrove forest, river border forest and sago whichis damage to be rehabilitated, while which still natural to be defended.Key words : mapping, soil fertility, Buru islandPemetaan status tanah dapat digunakan untuk mengetahui faktor pembatas kesuburan tanah pada suatu areasehingga dapat dilakukan pengelolaan tanah berdasarkan faktor pembatas yang ditemukan. Penelitian ini bertujuanuntuk memetakan status kesuburan tanah dan alternatif pengelolaannya pada tanah-tanah pertanian di Dataran WaiApu, Pulau Buru telah dilakukan pada areal seluas 25.400 ha. Evaluasi status kesuburan tanah dilakukan pada tahun2000, terhadap setiap satuan unit tanah yang didelineasi berdasarkan pendekatan landscape mapping. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa status kesuburan tanah di Dataran Wai Apu adalah sangat rendah, rendah, sedang dan tinggidengan luasan berturut-turut 17.145, 5.182, 1.549 dan 1.542 ha. Faktor pembatas kesuburan tanah yang ditemukanadalah rendahnya nilai kapasitas tukar kation (KTK), C-organik, K2O, P2O5 dan kejenuhan basa. Alternatifpengelolaan tanah yang disarankan adalah meningkatkan C-organik dan KTK yang sekaligus juga dapat meningkatkankandungan hara dalam tanah, dengan cara memberikan bahan organik seperti pupuk kandang, kompos jerami(kaya K), kotoran ayam dan guano (kaya P), yang disertai dengan pemberian pupuk anorganik N, P, dan Kberdasarkan analisis kimia tanah. Pada areal dengan bentuk wilayah berombak sampai berbukit diperlukan tindakanpengawetan tanah dengan menanggulangi erosi, sedangkan daerah hutan mangrove, sagu dan hutan sempadan sungaiyang rusak dianjurkan untuk direhabilitasi sedangkan yang masih utuh untuk dipertahankan.Kata kunci : pemetaan, kesuburan tanah, Pulau Buru
KERAGAAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA PENYULUH DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN Sulaiman, Fawzia; Rusastra, I Wayan; Subaidi, Ahmad
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Information of research results is an output and the main asset of the Assessment Institute of AgriculturalTechnology (AIAT). This information of research result needs to be formulated into easily understood information,using the most suitable media before being disseminated to various prospective users. In this respect, professionalswho deal with innovation transfer need to possess adequate knowledge and skills to ensure an efficient and effectiveflow of information from its source to intended audiences. The effort to increase the efficiency and effectiveness ofthe information flow of agricultural research result was the justification to merge the Institute for AgriculturalInformation (IAI) and AIAT. This institutional integration also brought the consequence of the involvement ofextentionists, who were the main professional staff of IAI, into the AIAT working system. After 10 years ofintegration, the increase of efficiency and effectiveness of innovation transfer at AIAT has not resulted as expected.This poor performance of innovation transfer is among others resulted from the unfavourable working condition ofextentionists in fulfilling their role and function within the AIAT working system. The objective of this study was toidentify constraints being faced by AIAT extentionists in fulfilling their role and function at AIAT. Results of thestudy indicated that the capacity of AIAT extentionists was a resultant or a product of existing policies and workingcondition within the Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) and AIAT, and at otherrelated agricultural institutions outside the IAARD. In this respect, AIAT extentionists were in agreement with almostall constraints being stated as hypotheses in this study. The AIAT extentionists indicated that their performance was aresultant of internal and external constraints within their working system as follows: (a) professional capacity of AIATextentionists, (b) professional performance of AIAT extentionists, (c) structural problems, (d) working facilities andsupporting administration, (e) external factors. Thus, efforts to increase the performance of AIAT extentionists shouldstart from implementing policies and various activities being needed to alleviate those five constraints mentionedabove.Key words: extentionist, innovation transfer, perceptionInformasi hasil penelitian dan pengkajian merupakan aset intelektual dan keluaran utama dari BPTP (BalaiPengkajian Teknologi Pertanian) yang perlu dikemas ke dalam “bahasa” yang mudah dimengerti sebelumdisampaikan kepada beerbagai khalayak penggunanya. Penyelenggara proses alih teknologi membutuhkanpengetahuan dan keterampilan yang memadai, agar alur teknologi ini dapat mengalir dengan efisien dan efektif darisumbernya kepada berbagai khalayak penggunanya. Hal ini melatarbelakangi pengintegrsian Bali Informasi Pertanianke dalam BPTP, yang juga menbawa konsekuensi masuknya penyuluh, yang merupakan staf fungsional utama di unitkerja eks BIP ke dalam sistem kerja BPTP. Setelah 10 tahun pengintegrasian BIP ke dalam BPTP, ternyatapeningkatan efisiensi dan efektivitas sistem alih inovasi pertanian belum seperti yang diharapkan. Penyebabnya antaralain kurang kondusifnya pelaksanaan tugas pokok dan fungsi penyuluh BPTP. Dengan demikian, perlu adanyaidentifikasi kendala yang dihadapi penyuluh BPTP dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Tujuan pengkajianini adalah untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi penyuluh BPTP dalam melaksanakan tugas pokok danfungsinya di BPTP. Hasil kajian mendapatkan bahwa potensi/kapasitas penyuluh BPTP merupakan produk atau luarandari kondisi kerja dan kebijakan yang ada, baik kebijakan internal Badan Penelitian dan PengembanganPertanian/BPTP maupun kebijakan instutusi pertanian terkait di luar Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.334Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.3, Nopember 2005 : 333-351Penyuluh mempunyai persepsi setuju dengan hampir semua hipotesis yang merupakan kendala dalam pelaksanaantugas pokok dan fungsinya. Hal ini mengindikasikan bahwa penyuluh mempunyai persepsi bahwa potensi/kapasitasnya merupakan resultante dari kendala eksternal dan internal di lingkugan kerjanya, yaitu: (a) potensi/kapasitas penyuluh, (b) permasalahan struktural, (c) kinerja fungsional penyuluh, (d) fasilitas kerja dan dukunganadministrasi, dan (e) faktor-faktor eksternal di luar Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian/BPTP. Dengandemikian, upaya peningkatan kinerja penyuluh BPTP perlu didahului dengan implementasi kebijakan dan berbagaikegiatan yang diperlukan dan berkaitan dengan kelima kendala internal dan eksternal tersebut.Kata kunci: penyuluh, alih inovasi, persepsi

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue