cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
POPULASI DAN SERANGAN PENGGEREK DAUN (Phyllocnistis citrella Staint) PADA TANAMAN JERUK DAN ALTERNATIF PENGENDALIANNYA Fredrik Depparaba; Denny Mamesah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n1.2005.p%p

Abstract

Observation on population and attack of meneerder (PDJ) and its natural enemies was conducted since Julyto September 2002 in Winowanga village, Lore Utara district, and Poso regency, Central Sulawesi, at 1,200 m abovesea level. This study aimed to evaluate population and attack of PDJ and its natural enemy to set an integrated pestmanagement (IPM) program on citrus. Observation was conducted at the four models of cropping patterns as thetreatments and three location as the replication using a randomized block design. Average population of the pest was2.75 rear/plant and rate of attack was of 19 percent. Natural enemies’ population of the large black ant in thecropping pattern of Arjuna corn variety with local tomato variety among citrus plants was 2.1 heads/plant and that ofspider was 2.0 heads/plant. In the Cropping patern of corn with kidney bean local variety among citrus plants theaverage population of this pest was 1.66 heads/plant and rate of attack was 20.83 percent on the leaves. Naturalenemies’ population of the large black ant was 1.50 heads/plant and that of spider was 1.70 heads/plant. In thecropping pattern of corn among citrus plants the average population of this pest was 1.33 heads/plant and rate ofattack was 9.16 percent. Natural enemyies’ population of the large black ant was 130 heads/plant and that of spiderwas 1.40 heads/plant. In the citrus monoculture cropping pattern the average population of this pest was 2.0 was/plantand rate attack was 18.66 percent. Natural enemies’ population of the large black ant was 1.60 heads/plant and that ofspider was 1.90 heads/plant. These cropping patterns could increase farmers’ income and could be classified as IPMcomponents as long as pests monitoring is carried out every five days.Key words : phylocnistis citrella, population, rate of attack, citrus Pengamatan populasi dan serangan penggerek daun jeruk (PDJ) telah dilaksanakan sejak bulan Juli sampaiSeptember 2002 di Desa Winowanga, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso Sulawesi tengah, pada ketinggian 1200m di atas permukaan laut. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui populasi PDJ dan musuh alami serta seranganhama tersebut pada tanaman jeruk, sebagai dasar untuk menyusun program pengendalian hama terpadu PDJ.Pengamatan dilakukan pada empat model pola tanam sebagai perlakuan dan tiga lokasi sebagai ulangan. Data-datadari hasil pengamatan tersebut kemudian dianalisis menggunakan rancangan kelompok. Hasil pengamatanmenunjukan bahwa populasi dan serangan PDJ beserta musuh alami pada empat pola tanam tersebut adalah sebagaiberikut : (1) Pola tanam jagung varietas Arjuna dengan tomat varietas lokal diantara tanaman jeruk varietas keprok.Rata-rata populasi hama tersebut adalah 2,75 ekor/tanaman dan serangan 19 persen. Musuh alami semut hitam danlaba-laba masing-masing sekitar 2 ekor/tanaman; (2) Pola tanam jagung dan kacang merah varietas lokal diantaratanaman jeruk varietas keprok. Rata-rata populasi hama PDJ adalah 1,6 ekor/tanaman dan serangan 20,0 persen.Musuh alami jenis Dolichoderus sp rata-rata 1,5 ekor/tanaman dan laba-laba 1,7 ekor/tanaman; (3) Pola tanam jagungvarietas arjuna diantara jeruk varietas keprok. Rata-rata populasi hama PDJ 1,3 ekor/tanaman dan serangan sekitar19,0 persen. Musuh alami Dolichoderus sp 1,30 ekor/tanaman dan laba-laba 1,4 ekor/tanaman; (4) Monokultur jeruk.Rata-rata populasi PDJ 2,0 ekor/tanaman dan serangan 18,0 persen. Musuh alami Dolichoderus sp 1,60 ekor/tanamandan laba-laba 1,9 ekor/tanaman. Model pola tanam tersebut dapat meningkatkan pendapatan petani dan dapattergolong komponen-komponen PHT, dengan syarat monitoring hama harus dilakukan intensif setiap lima hari gunamembatasi serangan hama tersebut.Kata kunci : phyllocnistis citrella, populasi, serangan, jeruk keprok
KAJIAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK SAMPAH KOTA MAKASSAR PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum L) Peter Tandisau; A. Darmawidah A.; Warda ;; Idaryani ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

An assessment aimed to find out the benefit application at organic fertilizer from city garbage on red pepperplanting in lowland-after rice with inceptisols Bajeng-Gowa district, South Sulawesi. The study was carried out fromJune to October 2000. Assessment was set in randomized block design with nine treatments and three replications.Treatments consist to several level of organic fertilizers from city garbage and combination of inorganic and organicfertilizers. Result showed that application of landfill’s organic fertilizer (LOF) and its combination with inorganicfertilizer were useful positively in term of growth and yield improvement of red pepper, as well as increased inincome. Application of 50 kg urea + 100 kg SP-36 + 100 kg KCl + 6,0 t LOF/ha resulted the highest production of redpepper (11,872 kg/ha) with net income of Rp. 33.132.000 and VCR of 3,0. The higher rate application of landfill’sorganic fertilizer, the more benefit would be gained. Application of 10,0 t LOF gave fresh fruit production of 9,616kg/ha, higher than that recommended fertilizer of 150 kg urea + 150 kg SP-36 + 150 kg KCl / ha (8,706 kg/ha), andyielded net income of Rp. 23.990.000, and VCR of 1,8. Subsequently, application of 50 kg urea + 20 t LOF / ha stillindicated good yield, fresh fruit production reached was 7,618 kg/ha, with net income of Rp. 22.443.000 / ha, andVCR of 2,5. Recommended fertilizer on red pepper planting in low land after rice with Inceptisols Soil in Bajeng was50 kg Urea + 2-6 t OF TPA/ha.Key words : garbage, organic fertilizers, wetland, Capsicum annum L., South Sulawesi Suatu kajian yang bertujuan untuk melihat manfaat penggunaan pupuk organik sampah dari tempatpembuangan akhir (TPA) pada tanaman cabai telah dilakukan di lahan sawah sesudah padi, pada tanah InceptisolBajeng, Gowa, Sulawesi Selatan. Kajian berlangsung bulan Juni sampai dengan Oktober 2000. Kajian disusunmenurut Rancangan Acak Kelompok dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan (petani representatif dari ulangan).Perlakuan terdiri dari berbagai takaran pupuk organik sampah TPA dengan kombinasi pupuk anorganik dan organik.Hasil kajian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik (PO) TPA dan kombinasinya dengan pupuk anorganikpositif terhadap perbaikan pertumbuhan dan hasil cabai, serta pendapatan. Penggunaan 50 kg urea + 100 kg SP-36 +100 kg KCl + 6,0 t PO TPA tunggal menghasilkan produksi cabai tertinggi (11.872 kg/ha) dengan keuntungan sebesarRp. 33.132.000 dan VCR 3,0. Aplikasi 10 t PO TPA/ha menghasilkan produksi buah segar 9.616 kg/ha, lebih tinggidaripada hasil yang diperoleh dengan penggunaan paket pupuk rekomendasi, 150 kg urea + 150 kg SP-36 + 150 kgKCl/ha (8.706 kg/ha), dengan tingkat keuntungan Rp. 23.990.000, dan nilai VCR sebesar 1,8. Selanjutnya, aplikasi 50kg urea + 2,0 t PO TPA/ha mampu memberi hasil yang cukup menggembirakan, produksi buah segar sebanyak 7.618kg/ha, keuntungan sebesar Rp. 22.443.000 /ha, dan nilai VCR 2,5. Rekomendasi pemupukan pada cabai yangdiharapkan dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi petani adalah 50 kg Urea + 2-6 t PO TPA/ha.Kata kunci : sampah, pupuk organik, lahan sawah, cabai, Sulawesi Selatan
STUDI PERTUMBUHAN BEBERAPA ISOLAT JAMUR TIRAM (Pleurotus spp.) PADA BERBAGAI MEDIA BERLIGNIN Achmad ;; Elis Nina Herliyana; Wartaka ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n3.2008.p%p

Abstract

The Growth Study of Some Oyster Mushroom (Pleurotus spp.) Isolates on Some Ligneous Media. Research to study the growth of some pleurotus isolates on some ligneous media were conducted at Forest Pathology Laboratory, Faculty of Forestry and Biological Science Study Center, Bogor Agricultural University in September 2004 to March 2005. Substances which used were Pleurotus sp.l, Pleurotus sp.6, and Pleurotus sp.8 from Forest Pathology laboratory collection, PDA, MEA, MPA, some natural lignin source to be added to the commercial media. Optimum media for Pleurotus sp.1 is PDA, MEA + bamboo apus dust, and Glenn and Gold modification + sengon wood dust. Pleurotus sp.6 grow best at MPA, MEA + paddy straw dust, and Glenn and Gold modification + paddy straw dust. Optimum media for Pleurotus sp.8 is MPA, MBA + paddy straw dust added media, MEA + paddy hay dust, and Glenn and Gold modification + sengon wood dust. The difference of colony growth is caused by isolate and nutrition of each growth media. Pleurotus sp.6 and Pleurotus sp.8 known produce lyses zone at media which contain lignin source. Lyses zone caused by existence of extrasellular enzyme which secreted by mushroom hype to degrade lignin. All mycellium dry weight of Pleurotus spp. isolat that is given wobble is higher than don't given. Mycellium dry weight from high to low showed by Pleurotus sp.8, Pleurotus sp.6 and Pleurotus sp.l. The difference of colony growth caused by isolat and nutrition of each growth media. Lysis zone at media with lignin source caused by extracellular enzyme activity to degradate lignin source as their nutrition. The difference of mycellium dry weight at both treatment is caused by the response to oxygen in the liquid media. Key words: Pleurotus spp, PDA, MEA, MPA, bamboo dust, sengon wood dust, Glenn & Gold, modification. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan koloni beberapa isolat jamur tiram (Pleurotus spp.) yang dikulturkan pada berbagai media dengan sumber lignin alami, dilakukan dan bulan September 2004 sampai Maret 2005, bertempat di Laboratorium Penyakit Hutan, Fakultas Kehutanan, dan Laboratorium Mikrobiologi dan Biokimia, Pusat Studi Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Bahan yang digunakan adalah Pleurotus sp.1, Pleurotus sp.6, dan Pleurotus sp.8, MEA, MPA, PDA, dan beberapa macam sumber lignin alami yang ditambahkan pada tiga media komersial tersebut. Pleurotus sp.l tumbuh terbaik pada media PDA, MEA + serbuk kayu sengon, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk bambu apus. Pleurotus sp.6 tumbuh terbaik pada media MPA, MEA + serbuk jerami padi, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk jerami padi. Isolat Pleurotus sp.8 tumbuh terbaik pada media MPA, MEA + serbuk kayu sengon, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk jerami padi. Pleurotus sp.6 dan Pleurotus sp.8 menghasilkan zona lisis berbentuk lingkaran coklat kekuningan pada media yang ditambah sumber lignin alami. Bobot kering miselia Pleurotus spp. pada media malt ekstrak cair yang ditambah serbuk jerami padi atau serbuk kayu sengon dengan diberi penggoyangan, lebih tinggi dibanding dengan Pleurotus spp. pada media yang sama tanpa diberi penggoyangan. Bobot kering miselia tertinggi sampai terendah berturut-turut ditunjukkan oleh Pleurotus sp.8, Pleurotus sp.6, dan Pleurotus sp.1 . Kata kunci: Pleurotus spp, PDA, MEA, MPA, serbuk bambu, serbuk kayu sengon, modifikasi Glenn dan Gold
KAJIAN ADOPSI PAKET TEKNOLOGI SISTEM USAHA PERTANIAN KEDELAI DI JAWA TIMUR Pudji Santoso; Agus Suryadi; Herman Subagiyo; Yuniarti ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n1.2003.p%p

Abstract

This study was conducted on irrigated lowland in Bojonegoro district and on dryland in Pasuruandistrict in 1999/2000. Data collection was done through survey method and consisted of farmers’ characteristics,technology applied, productivity and farms’ incomes. The study aimed to get information on (1) adoption anddiffusion levels of the recommended technology, (2) impacts of recommended technology on productivity andfarms’ incomes. Adoption level of recommended technology was higher in lowland in Bojonegoro (67%) thanthat in dry land in Pasuruan (44%). Diffusion level of technology to the non participating farmers in Bojonegorowas higher (55%) than that to the non participating farmers in Pasuruan. Productivity and income of soybeanfarms in Bojonegoro increased by 21and 104 percents, respectively. In Pasuruan, productivity and farms incomesincreased by 11 and 89 percents, respectively. To sustain adoption of recommended technology on soybeanfarming system, it requires (1) on time inputs provision, (2) extension workers’ guidance since planting to postharvest, (3) feasible and stable floor price, (4) farmers’ participation and awareness, and (5) local governments’supports.Key words : farming system pattern, technology, lowland, adoption, diffusionKajian adopsi paket teknologi ini dilakukan di Kabupaten Bojonegoro untuk lahan sawah dan diKabupaten Pasuruan untuk lahan tegal, tahun 1999/2000. Pengumpulan data yang meliputi karakteristik petani,penerapan teknologi serta produktivitas dan pendapatan usahatani kedelai dilakukan dengan metode survai.Kajian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang (1) tingkat adopsi dan difusi paket teknologi anjurandan (2) dampak teknologi anjuran terhadap produktivitas dan pendapatan usahatani. Hasil kajian menunjukkanbahwa tingkat adopsi paket teknologi anjuran untuk lahan sawah di Bojonegoro (67%) lebih tinggidibandingkan paket teknologi anjuran lahan tegal di Pasuruan (44%). Demikian pula paket teknologi anjuranyang terdifusi oleh petani non-peserta di Bojonegoro lebih tinggi dibandingkan di Pasuruan (42%). Produktivitasdan pendapatan usahatani kedelai lahan sawah di Bojonegoro masing-masing meningkat sebesar 21 dan 104persen, sedangkan lahan tegal di Pasuruan meningkat sebesar 11 dan 89 persen. Agar adopsi teknologi budidayakedelai dapat berlanjut, maka diperlukan; (1) penyediaan sarana produksi tepat waktu, (2) bimbingan olehpetugas secara terus menerus, sejak tanam hingga pasca panen, (3) jaminan harga yang layak dan stabil, (4)kesadaran dan partisipasi petani dan (5) dorongan pemerintah daerah.Kata kunci : pola usahatani, teknologi, lahan sawah, adopsi dan difusi
KERAGAAN TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM ASCALONICUM L.) PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK KCL DI LAHAN RAWA LEBAK Muhammad Yasin; Lelya Pramudyani; Aidi Noor; Retna Qomariah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n3.2019.p291-300

Abstract

       Performances of Shallot Plant (Allium Ascalonicum L.) In Various Dosage of KCl Fertilizer In Swampy Land. Swampy land utilization for vegetable crops is a strategic choice for developing agriculture because swampy land has great potential and prospect as a national food source to offset the shrinking of productive land on the island of Java which is converted to the development of non-agricultural sectors. However, the utilization of swampy land requires proper cultivation techniques such as site-specific fertilization including the application of potassium that is an essential nutrient for shallots. Adequate application of potassium fertilizer in plants known can improve crop resistance to pests, increase yields (seeds or tubers), and also improve tuber quality. The aims of this study was to get the dose of KCL fertilizer which provided the highest weight of shallot tubers. The study was conducted in June 2016 - November 2016 in Hulu Sungai Tengah District, South Kalimantan with the type of swampy land, using the Biru Lancor variety and Randomized Block Design with 8 replications. Parameters observed were the percentage of grew plants, wet weight per tuber, number of tubers, diameter of tubers and production. The results showed the use of KCL fertilizer at a dose of 300 kg ha-1 produced the highest yields and dry weight of shallots.    Pemanfaatan lahan rawa lebak untuk tanaman sayuran merupakan pilihan yang strategis karena lahan rawa lebak mempunyai potensi dan prospek besar sebagai sumber pangan nasional untuk mengimbangi penciutan lahan produktif di pulau Jawa yang dialihfungsikan untuk pembangunan sektor non pertanian. Namun pemanfaatan lahan rawa lebak memerlukan teknik budidaya yang tepat seperti pemupukan spesifik lokasi termasuk pemberian kalium yang merupakan hara penting bagi bawang merah. Pemberian pupuk kalium yang cukup pada tanaman telah diketahui dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama penyakit, hasil panen (biji atau umbi), dan juga memperbaiki kualitas umbi.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk KCL yang memberikan bobot umbi bawang merah paling tinggi. Penelitian  dilaksanakan pada bulan Juni 2016 – Nopember 2016 di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan dengan tipe lahan rawa lebak, menggunakan varietas Biru Lancor  dan Rancangan Acak Kelompok dengan ulangan 8 kali. Parameter yang diamati meliputi persentase tanaman yang tumbuh, bobot basah per umbi, jumlah umbi, diameter umbi, dan produksi. Hasil menunjukkan penggunaan pupuk KCL dengan dosis 300 kg ha-1 di menghasilkan produksi dan bobot kering bawang merah paling tinggi. 
KAJIAN ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS UNGGUL PADI GOGO PADA LAHAN KERING DATARAN RENDAH DI KABUPATEN GARUT Endjang Sujitno; Taemi Fahmi; Sumarno Teddy
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v14n1.2011.p%p

Abstract

Development of upland rice is one of the answers in increasing rice production, but the productivity of upland rice in Indonesia is still very low. One reason is the low use of improved varieties. But of the many varieties of upland rice varieties are not all suitable to be developed in a region. To find suitable varieties are developed in a region need to be a study of the introduction of varieties to obtain location-specific adaptive varieties. Assessments conducted in Jatiwangi Village Pakenjeng Sub District Garut District, during the rainy season 2007/2008. Assessment using a randomized block design with upland rice varieties as treatments, varieties used are Situ patenggang, Situ Bagendit, Limboto, Towuti, Stone Tegi and local varieties (Denok) as a comparison, each variety was repeated 4 times. To determine the feasibility of technology to analyze revenue and cost balance (B / C), while for measuring the level of technological excellence applied to farmers to use marginal benefit cost ratio analysis (MBCR). The results showed that the varieties Situ Bagendit generate the highest production (4.5 t/ha). The result of the financial analysis shows Situ Bagendit varieties provide the highest profits with a gross value of B/C 2.04, and the marginal value of B/C at 3.75. Based on the farmerspreferences Situ Patenggang and Situ Bagendit varieties liked enough compared with other varieties.Pengembangan padi gogo merupakan salah satu jawaban dalam meningkatkan produksi padi, tetapi produktivitas padi gogo di Indonesia masih sangat rendah. Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya penggunaan varietas unggul. Namun dari sekian banyak varietas unggul padi gogo tidak semua varietas cocok untuk dikembangkan di suatu wilayah. Untuk mengetahui varietas yang cocok dikembangkan di suatu wilayah perlu suatu kajian introduksi varietas untuk memperoleh varietas adaptif spesifik lokasi. Pengkajian dilaksanakan di Desa Jatiwangi Kecamatan Pakenjeng Kabupaten Garut, pada musim hujan 2007/2008. Pengkajian menggunakan rancangan acak kelompok dengan varietas padi gogo sebagai perlakuan, varietas yang digunakan adalah Situ patenggang, Situ Bagendit, Limboto, Towuti, Batu Tegi dan varietas lokal (Denok) sebagai pembanding, masing-masing varietas diulang sebanyak 4 kali. Untuk menentukan tingkat kelayakan teknologi dilakukan analisis imbangan penerimaan dan biaya (B/C), sedangkan untuk mengukur tingkat keunggulan dari teknologi yang diterapkan petani digunakan analisis marginal benefit cost ratio (MBCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Situ Bagendit menghasilkan produksi paling tinggi (4,5 t/ha). Hasil analisis finansial menunjukkan varietas Situ Bagendit memberikan keuntungan paling tinggi dengan nilai gross B/C 2,04, serta nilai marginal B/C sebesar 3,75. Berdasarkan preferensi petani varietas Situ Patenggang dan Situ Bagendit cukup disenangi dibanding dengan varietas lain.
AKTIVITAS HARIAN PETANI BERDIMENSI JENDER DAN ETNIS (Kasus Beberapa Desa di Sumatera Utara) Wasito ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n2.2004.p%p

Abstract

Daily activities of farmers can show time, working load of a person and their families. It is useful to analyzeand to compare daily activities of groups or ethnics. Dominant ethnics in Deli Serdang and Langkat are Javanese,Tapanuli/Toba, Mandailing, Malay, and Karo. Assessment pattern was not unique, but completed with other studies(PRA and observation), previous assessment, and secondary data. The study was conducted in the villages of HinaiKiri, Kebun Kelapa, and Sungai Ular (Secanggang) (1999), Sidomulio, Sambirejo, Sendangrejo (Binjai) (2000 -2001), Purwobinangun, Namuterasi Pasar 8 (Sei Bingei) (2000 - 2001) (Langkat Districts); Sumberejo, SukamandiHulu, Sukamandi Hilir (Pagar Merbau) (2000), Tanjung Rejo, Tanjung Selamat (Percut Sei Tuan) (2002) (DeliSerdang Districts). Results showed that settlement segregation were based on ethnics. Job segregation was correlatedwith historical aspect. Productive working women of Tapanuli, Karo and Mandailing ethnics as the main incomefamilies’ earners were found more in their original home villages. It was different with those in Langkat or DeliSerdang where ethnic heterogeneity tended to change their daily activities. Social and cultural factors, patriarchalreligious values, or structure and jender ideology tended to create unequal jender.Key words : daily activity, jender, ethnicAktivitas harian petani akan memperlihatkan waktu, beban kerja seorang dan keluarga, berguna untukanalisis dan perbandingan pola kegiatan rutin keluarga, kelompok atau etnis. Etnis-etnis dominan di Deli Serdang danLangkat adalah Jawa, Tapanuli/Toba, Mandailing, Melayu, dan Karo. Pola kajian tidak khusus, mendampingi kajianlain dengan data primer (PPSP dan pengamatan), hasil kajian sebelumnya dan data sekunder. Kajian dilakukan di desaHinai Kiri, Kebun Kelapa, Sungai Ular (Secang`gang) (1999), Sidomulio, Sambirejo, Sendangrejo (Binjai) (2000 -2001), Purwobinangun, Namuterasi Pasar 8 (Sei Bingei) (2000 - 2001) (Kabupaten Langkat); Sumberejo, SukamandiHulu, Sukamandi Hilir (Pagar Merbau) (2000), Tanjung Rejo, Tanjung Selamat (Percut Sei Tuan) (2002) (KabupatenDeli Serdang). Hasil kajian menunjukkan segregasi pemukiman ditemukan berdasarkan etnis. Adanya segregasipekerjaan tidak terlepas dari aspek historis. Kegiatan produktif perempuan pada etnis Tapanuli, Karo atau Mandailingdi daerah asalnya cukup besar (tulang punggung ekonomi keluarga). Hal ini berbeda dengan yang ada di Langkat atauDeli Serdang, heterogenitas etnis cenderung merubah pola aktivitas harian mereka. Faktor sosial budaya, nilai religiyang cenderung patriarkhi, atau struktur dan ideologi jender yang melekat, cenderung menciptakan ketidaksetaraanjender.Kata kunci : aktivitas harian, jender, etnis
PENGGUNAAN LIMBAH KAKAO TERFERMENTASI UNTUK PAKAN AYAM BURAS PETELUR Suprio Guntoro; I Made Rai Yasa
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n2.2005.p%p

Abstract

Native chicken plays important role in egg and meat production in Bali. Sharp price of feed since themonetary crisis encourages the farmers to get alternative cheap feed. Assessment on fermented cacao wastes toreplace rice bran in layer native chicken ransom was conducted in Tukad Aya Village, Jembrana Regency, Bali lastingfrom July to December 2002. The experiment was using a completely randomized design with three treatments andeach of 60 chicken. The treatments were P0, i.e., feed ransom as practiced by the farmers (with out cacao wastes), P1(feed ransom with11 percent of cacao waste), and P2 (feed ransom with 22 percent of cacao waste). The resultsshowed that P2 improved significantly egg production from 31.33 percent (P0) to 35.53 percent (P2). Cacao waste didincrease egg weight significantly and tended to reduce Feed Conversion Ratio from 5.68 (P0) to 4.49 (P2). Cacaowaste treatments also did not reduce physical quality and nutritional contents of the eggs. The treatment was able toincrease the farmers’ income from Rp 221,142/100 chicken/month to Rp 376,677/100 chicken/month or an increaseR/C ratio from 1.65 to 2.34.Key words: native chicken, cacao waste fermented egg productionAyam Buras mempunyai peranan penting sebagai penghasil telur maupun daging di Bali. Melonjaknya hargapakan, semenjak krisis moneter menyebabkan banyak peternak ayam buras yang menerapkan pola intensifmenghentikan usahanya. Karena itu perlu upaya mencari bahan pakan alternatif yang murah. Penelitian tentangpemanfaatan limbah kakao terfermentasi sebagai pengganti dedak dalam ransum ayam buras petelur telah dilakukandi Desa Tukad Aya – Kabupaten Jembrana Bali selama enam bulan (Juli s/d Desember 2002). Penelitian disusundalam Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan ransum, dengan 60 ekor ayam per perlakuan. Ke-3 perlakuantersebut yaitu (P0) mendapat ransum sesuai dengan cara petani (tanpa limbah kakao). (P1) dengan ransum yangmengandung 11 persen limbah kakao. Kelompok III (P2) dengan ransum yang mengandung 22 persen limbah kakao.Hasil penelitian menunjukkan penggunaan limbah kakao 22 persen dalam ransum menyebabkan meningkatnyaproduksi telur dari rata-rata 31,33 persen (PO) menjadi 36,53 persen (P2) dan secara statistik berbeda nyata (P<005).Pemberian limbah kakao sebagai pengganti dedak juga menyebabkan meningkatnya berat telur, sebaliknya konsumsipakan cenderung menurun dari 72,1 gram/ekor/hari menjadi 69,79 gram/ekor/hari, walaupun secara statistik tidaknyata. Sebagai akibatnya, Feed Convertion Ratio (FCR) menurun secara nyata (P<0,05) dari 5,68 (PO) menjadi 4,49(P2). Penggunaan limbah kakao sebagai pengganti dedak juga tidak berpengaruh negatif terhadap kualitas fisikmaupun nilai gizi telur. Dengan menurunnya FCR, maka secara ekonomis penggunaan limbah kakao sebagaipengganti dedak secara keseluruhan (22 persen) mampu meningkatkan kuntungan petani dari Rp. 221.142 /100 ekorper bulan menjadi Rp.376.677 /100 ekor/bulan sehingga RC ratio meningkat dari 1,65 menjadi 2,34. Dari hasilpenelitian ini ternyata penggunaan limbah kakao sebagai komponen ransum ayam Buras petelur cukup prospektifuntuk dikembangkan.Kata kunci : ayam buras, limbah, kakao, fermentasi produksi telur
DETERMINASI PELUANG ADOPSI TEKNOLOGI BUDIDAYA TERNAK AYAM KUB DI PAPUA BARAT Halijah Ijah; Ririen Indriawaty Altandjung
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n2.2019.p215-226

Abstract

Pengkajian budidaya ayam KUB di Papua Barat telah dilakukan di KP Sorong, tahun 2017 yang hasilnya terbukti adaptif dengan kondisi setempat.  Makalah ini bertujuan untuk mengetahui peluang adopsi teknologi budidaya ternak ayam KUB tersebut di tingkat petani. Pengumpulan data dilakukan melalui survey dan observasi lapangan di perkampungan sekitar KP Sorong, yang melibatkan petani yang sudah mencoba mengikuti pemeliharaan ayam KUB yang bersumber dari KP Sorong. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik petani dan data tahapan budidaya yang dilakukan petani dalam membudidayakan ayam KUB serta respon petani terhadap ayam KUB. Bahasan diperkaya dengan data sekunder dan hasil tinjauan yang diperoleh melalui studi pustaka dan penelusuran online. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitati dan kuantitatif yang dipertajam dengan pendekatan SWOT. Hasil analisis memberikan gambaran bahwa pengembangan teknologi budidaya ayam KUB terbukti adaptif di Papua Barat, khususnya di perkampungan sekitar KP Sorong. Faktor-faktor yang diduga menjadi determinasi peluang adopsi teknologi budidaya ayam KUB di Papua Barat, antara lain terkait dengan adanya keharusan untuk memelihara ayam KUB secara intensif, dengan penyediaan pakan yang teratur. Persyaratan itu menuntut perlunya perubahan kebiasaan petani dari biasanya memelihara ayam apa adanya tanpa risiko menjadi kegiatan yang mengandung risiko. Untuk menangkap peluang pengembangan ayam KUB di Papua Barat diperlukan pendampingan teknologi yang intensif melibatkan peneliti dan penyuluh yang kompeten dalam penerapan teknologi budidaya ayam KUB.Kata Kunci: Ayam KUB, adopsi, peluang, determinasi, SWOT.
KAJIAN BUDIDAYA UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) SAMBUNG DI LAMPUNG SELATAN Rr. Ernawati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n2.2010.p%p

Abstract

Assesment on Cassava (Manihot esculenta Crantz) Cultivation using Side Grafting Technologyin South Lampung. The study of cassava oculation technique were conducted on Tegineneng experimentalgarden, South Lampung of June 2007 until Maret 2008. The purpose of this study was to find out thetreatment of cassava occulation technique with plant method (to dam up and maked hole of plant) anddosages fertilizer applied (mixed of Urea,SP36,KCl/2:1:1) i.e. 40, 80, 120, 160 g per plant on growth, yieldsand financial analysis of cassava occulation. Treatments were arranged in Randomized Block Design,three replication.. The result showed that culture technique had no optimum effect on yield tuber of cassavaocculation. Different treatmethode dosages fertilizer applied the same response on percentage of growth,diameter and length of tuber, and tuber yield per plant. But to dam up treatment gave highest tuber yield (5.75kg/plant) than that maked hole of plant (5.12 kg/plant) method. The financial analysis of cassava occulationcultural technique to dam up was more desent (R/C 1.63) than maked hole of plant (R/C 0.71) method.Key words: Assessment, culture technique, cassava, occulation Kajian budidaya ubikayu sambung telah dilakukan di Kebun Percobaan Tegineneng, Lampung Selatanmulai Juni 2007 hingga Maret 2008. Tujuan pengkajian untuk mengetahui pengaruh perlakuan teknik budidayaubikayu sambung dengan cara tanam (menggunakan guludan dan lubang tanam 80 x 80 x 50 cm.), dan dosispemupukan NPK dalam bentuk campuran Urea:SP36:KCl (2:1:1) dengan dosis 40, 80, 120, dan 160 g/tanaman.Parameter yang diamati meliputi komponen pertumbuhan tanaman (presentase tumbuh dan tinggi tanaman),danproduksi umbi (ukuran umbi dan produksi per pohon) pada akhir percobaan (tanaman berumur 9 bulan) sertaanalisis usahataninya. Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok, tiga ulangan. Setiap perlakuanterdiri atas 20 tanaman dengan jarak tanam 2 x 2 m. Masing-masing tanaman diberi pupuk kandang 3kg/tanaman.Hasil kajian menunjukkan bahwa budidaya ubikayu sambung belum menghasilkan umbi yang memuaskan.Perbedaan perlakuan dosis pupuk yang diuji memberikan respon yang sama terhadap presentase tumbuh,ukuran umbi (diameter umbi dan panjang umbi), juga produksi per pohon. Namun rata-rata perlakuan guludanmenghasilkan produksi umbi 5,75 kg/pohon, ini lebih tinggi dibanding dengan perlakuan lubang tanam yanghanya 5,12 kg/pohon. Sebaliknya terhadap tinggi tanaman perlakuan lubang tanam memberikan pertumbuhantanaman lebih tinggi dibandingkan perlakuan guludan. Hasil analisis usahatani budidaya ubikayu sambung yangdigulud (R/C 1,63) lebih layak dibanding dengan perlakuan lubang tanam ( R/C 0,71). Hasil ini lebih rendahdibandingkan dengan usahatani ubikayu biasa (tanpa sambung), untuk itu masih perlu dikaji lebih lanjut.Kata kunci: Kajian, budidaya, ubikayu, sambung

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue