cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
PENGARUH DUKUNGAN LEMBAGA DAN PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL TERHADAP PENINGKATAN KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU Lutfi Humaidi; Aida Vitayala S Hubeis; E Oos M Anwas
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v23n1.2020.p27-51

Abstract

Extension agents can make social media learning media without having to rely on conventional media and the support of relevant institutions. The purpose of this research was analyze the effect of institutional support and social media utilization on increasing the competency of agricultural extension agents. The unit of research analysis is agricultural extension agents. The research was determined by the census method that all agricultural extension agents in Riau Islands Province were 90 people. Data collection was carried out through questionnaire interviews, in-depth interviews, and observations. Analysis of the data in the study included: (1) Descriptive analysis in the form of frequency distribution, percentage and average score with the help of Microsoft Excel and Statistical Package for The Social Science (SPSS) version 20.0. and (2) Inferential analysis with Partial Least Square (PLS) through the help of the SmartPLS 3.0 application. The results showed that institutional support, use of social media, and competency of agricultural extension agents were in the low category. Institutional support and the use of social media have a direct and very real effect on the competency of agricultural extension agents.     Keywords: competency of extension agents, institutional support, social media ABSTRAKPenyuluh dapat menjadikan media sosial sebagai media belajar tanpa harus bergantung pada media konvensional dan dukungan lembaga terkait. Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh dukungan lembaga dan pemanfaaatan media sosial terhadap kompetensi penyuluh pertanian. Penelitian dilakukan pada Juni sampai Oktober 2019 di Provinsi Kepulauan Riau. Unit analisis penelitian adalah penyuluh pertanian. Unit analisis penelitian adalah penyuluh pertanian di Provinsi Kepulauan Riau yang berjumlah 90 orang. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan didukung pengamatan langsung terhadap 90 orang penyuluh dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Analisis data dalam penelitian mencakup: (1) analisis deskriptif berupa distribusi frekuensi, persentase dan rataan skor dengan Statistical Package for The Social Science (SPSS) versi 20.0 dan (2) analisis inferensial dengan Partial Least Square (PLS) menggunakan SmartPLS 3.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan lembaga dan pemanfaatan media sosial berpengaruh secara langsung dan sangat nyata terhadap kompetensi penyuluh pertanian. Dukungan lembaga berada pada kategori rendah, sedangkan media sosial dalam kategori sedang namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh penyuluh pertanian.Kata kunci: dukungan lembaga, kompetensi penyuluh, media sosial                              
PENGARUH BIOCHAR DAN PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKTIVITAS PADI PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN KABUPATEN MEMPAWAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT Rusli Burhansyah; Agussalim Masulili
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n2.2019.p175-188

Abstract

ABSTRACT The study aims to obtain specific technology packages for the location of rice cultivation using biochar and organic fertilizer in rainfed lowland in Mempawah District. The experiment was conducted at farmer area of Anjungan Melancar village, Anjongan sub-district, Mempawah Regency, from April to October 2016. The study consisted of 3 packages with Randomized Block Design, 3 replications. The first factor is the farmer technology cultivation package (control), the second factor of the biochar technology package (A), the third factor of the straw composting package (B). The assessment area is 2.3 ha. Soil sampling and soil chemical properties were analyzed prior to the study and after the study. From the results of variance indicate that packet of technology A (Biochar) and pack B (Straw Compost Fertilizer) do not have real effect to vegetative growth (plant height, number of tillers). Package technology A (biochar) effect on grain production with 33.46% increase compared to control. Employment benefits in rice farming are not yet competitive compared to the minimum daily wage in non-agricultural sectors. From the partial budget analysis shows the biochar technology package can provide an additional profit for farming around Rp 2,460,500, - per hectareKeywords: biochar, straw compost, farm profit ABSTRAKKajian bertujuan untuk  mendapatkan  paket teknologi spesifik lokasi  budidaya padi  penggunaan biochar dan pupuk organik pada lahan sawah tadah hujan  di Kabupaten Mempawah. Penelitian dilaksanakan di lahan petani desa Anjungan Melancar, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah, mulai bulan April sampai dengan Oktober 2016. Penelitian terdiri dari 3 paket dengan Rancangan Acak Kelompok, 3 ulangan. Faktor pertama adalah paket budidaya teknologi petani (kontrol), faktor kedua paket teknologi biochar (A), faktor ketiga paket budidaya kompos jerami (B). Luas pengkajian 2,3 ha. Pengambilan contoh tanah dan analisis sifat kimia tanah dilakukan sebelum kajian dan setelah kajian. Dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa paket teknologi A (Biochar) dan paket B (Pupuk Kompos Jerami) tidak berpegaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman, jumlah anakan). Paket teknologi A (biochar) berpengaruh pada produksi gabah dengan meningkatan 33,46% dibandingkan kontrol. Imbalan tenaga kerja pada usahatani padi belum kompetifif dibandingkan dengan upah harian minimum di sektor non pertanian. Dari analisis anggaran parsial menunjukkan paket teknologi biochar dapat memberikan tambahan keuntungan usahatani sekitar Rp 2.460.500,- per hektarKata kunci : biochar,  kompos jerami, keuntungan usahatani
TANGKAPAN SERANGGA HAMA PADI PADA LAMPU PERANGKAP DI LAHAN SAWAH IRIGASI DATARAN RENDAH Eko Hari Iswanto; Dede Munawar; - Rahmini
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v23n1.2020.p107-120

Abstract

Light Trap as Insects Monitoring Tools in Lowland Irrigated Rice Agroecosystem. Development of insect population in the rice field can be monitored by light traps. Insects that caught in light trap as indicator of their population in the field. The research purpose was to determine the insects flight that caught in light trap at lowland irrigated rice field. Three units of light trap with 160 watts were used in the rice field, the distance between light trap was 300-500m. Observation of traped insects were conducted during six planting seasons [2013/2014 wet season (WS), 2014/2015WS, 2015/2016WS, 2014 dry season (DS), 2015 DS and 2016 DS]. The result showed that the number of insects trapped in light traps were different each years and seasons. The insects’ species trapped in light trap were yellow stemborrer (Scirpophaga incertulas), pink stemborrer (Sesamia inferens), leaf folder (Cnaphalocrosis medinalis), black bug (Scotinophara sp), brown planthopper macropterous (Nilaparvata lugens) and mole cricket (Gryllotalpa sp.). These insects had different population pattern each wet or dry season in every years. Rice black bug (Scotinophara sp) were the highest insect trapped each seasons. Light trap could be a useful tool for insects monitoring and population reducing in the rice field.Keywords: dry season, insect pest, light trap, wet season  ABSTRAK Perkembangan populasi serangga di pertanaman padi dapat diketahui dengan bantuan lampu perangkap. Serangga yang tertangkap pada lampu perangkap merupakan indikator keberadaan serangga tersebut di pertanaman. Tujuan penelitian untuk mengetahui tangkapan serangga hama padi pada lampu perangkap di lahan sawah irigasi dataran rendah. Tiga unit lampu perangkap dengan daya sebesar 160 watt di gunakan pada hamparan tanaman padi, dengan jarak antar lampu perangkap 300-500 m. Pengamatan dilakukan masing-masing pada 3 musim tanam penghujan (MH) dan musim tanam kemarau (MK) yaitu pada MH 2013/2014, MH 2014/2015, MH 2015/2016, MK 2014, MK 2015 dan MK 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tangkapan serangga hama berbeda-beda pada setiap tahun maupun antar musim hujan dengan musim kemarau. Serangga hama yang tertangkap antara lain penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens), pelipat daun (Cnaphalocrosis medinalis), kepinding tanah (Scotinophara coarctata), wereng cokelat (Nilaparvata lugens), dan anjing tanah (Gryllotalpa sp.). Setiap serangga mempunyai pola tangkapan yang berbeda pada setiap musim dan setiap tahunnya. Di antara serangga hama yang tertangkap, kepinding tanah merupakan serangga yang paling banyak tertangkap di setiap musim. Lampu perangkap dapat dijadikan alat monitoring perkembangan sekaligus mengurangi populasi serangga hama di pertanaman.Kata kunci: musim kemarau, serangga hama, lampu perangkap, musim hujan
PENGKAJIAN PAKET TEKNOLOGI PEMUPUKAN BAWANG MERAH DENGAN BENIH UMBI MINI DI KABUPATEN CIREBON Atin Yulyatin; Meksy Dianawati; Yati Haryati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n3.2019.p353-360

Abstract

ABSTRACT                 Assessment of Fertilization Technology Package Shallot Using Mini Bulb in Cirebon District. One of the main problems on the increasing shallot production is the limitation of high-quality plant materials. The use of mini bulbs on their cultivation is expected as one of the solutions.  The cultivation using these materials is almost the same as conventional ones.  Some benefits would be obtained when using mini bulbs as seeds, it is more efficient because it does not require a lot of its volume and the resulting production can be higher.  Generally, shallot cultivation at many farmer levels is less profitable caused by the use of excessive chemical fertilizers, so it is necessary to have proper fertilization studies. The purpose of this assessment was to compare the application of technology packages based on Balitsa fertilization recommendation with the farmer’s one using mini bulbs as plant materials on Bima Brebes shallot cultivation. The research was carried out in Cukang Akar Village, Pabedilan Sub District, Cirebon District from August 2014 to January 2015. Parameters observed were plant height, number of tillers, weight, diameter, and length of bulbs, total bulbs per plant and production as well as production costs, profits and B/C. Plant growth data were analyzed descriptively and further tested using the t-test at the 5% confidence level. The results of the assessment showed that there was no significant difference between both treatments, the technology packages and the farmers were one on all parameters, but the application of technology packages was more profitable 114.240 IDR per hectare, with B/C value was 1.13.  Keywords: shallot, fertilizer, mini bulb ABSTRAK Salah satu kendala utama yang dihadapi dalam usaha peningkatan produksi bawang merah adalah terbatasnya ketersediaan benih bermutu. Penggunaan benih umbi mini diharapkan menjadi salah satu solusinya. Budidaya bawang merah dengan menggunakan benih asal umbi mini hampir sama dengan umbi konvensional. Penggunaan umbi mini mempunyai kelebihan yaitu lebih efisien karena tidak memerlukan volume benih yang banyak dan produksi yang dihasilkan dapat lebih tinggi. Secara umum, budidaya bawang merah di tingkat petani banyak yang kurang menguntungkan, salah satunya disebabkan penggunaan pupuk kimia berlebihan, sehingga perlu pengkajian pemupukan yang tepat. Tujuan pengkajian adalah membandingkan penggunaan paket teknologi berdasarkan teknologi rekomendasi pemupukan Balitsa dengan cara petani pada budidaya bawang merah dengan menggunakan benih umbi mini. Pengkajian dilaksanakan di Desa Cukang Akar, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon  pada bulan Agustus 2014–Januari 2015. Varietas bawang merah yang digunakan adalah Bima Brebes. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan, berat umbi, diameter umbi, panjang umbi, jumlah umbi per tanaman dan produksi serta biaya produksi, keuntungan dan B/C. Data pertumbuhan tanaman dianalisis secara deskriptif dan diuji lanjut t-test pada taraf kepercayaan 5%. Hasil pengkajian menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara perlakuan paket teknologi dan cara petani pada semua parameter, namun aplikasi paket teknologi lebih menguntungkan Rp. 114.240 per hektar, dengan nilai nisbah B/C 1,13. Implikasinya keuntungan yang diperoleh petani lebih tinggi.Kata kunci: bawang merah, pemupukan, umbi mini
EFISIENSI TEKNIS DAN FAKTOR PENENTU INEFISIENSI USAHATANI PADI DENGAN DAN TANPA MENGGUNAKAN COMBINE HARVESTER DI KABUPATEN INDRAMAYU Dadan Permana; Anna Fariyanti; Yusalina Yusalina
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v23n1.2020.p53-71

Abstract

 Combined harvested performance to the technical efficiency and determinants factor of the rice farm in Indramayu Regency. Combine harvester is an agricultural tool and machine used to help the process of harvesting and threshing rice. The role of combining harvester in rice farming is to reduce yield losses caused by conventional harvests. Loss of yield can reduce the production and productivity of rice farming. The study aims to evaluate the performance of the combine harvester through technical efficiency approach andinefficiency determinantsrice farming in Indramayu Regency. Technical efficiency and inefficiency determinants were analyzed with the Stochastic Frontier Analysis (SFA) approach. The total sample used was 84 respondents. The results of analysis explain farmers that  use the combined harvester are more technical efficient than not using combined harvester. The average value of the technical efficiency farms that use a combiene harvester are 0.80, while the average value of technical efficiency of the farms that do not use a combine harvester are 0.69. Production inputs that have a significant effect on production include a significant area of land at 1 percent level, pesticides at 10 percent level and a significant level of labor at 1 percent. Inefficiency factors that can increase technical efficiency include the use of a combined harvester and the use of certified seeds where each significant level are significant at 1 percent level. The combine harvester gives significant influence on increasing technical efficiency in order to increase the productivity of rice farming. Keywords: combine harvester, technical efficincy, inefficiency, SFA  ABSTRAK Combine harvester merupakan alat dan mesin pertanian yang digunakan untuk membantu proses pemanenan dan perontokan tanaman padi. Peran combine harvester dalam usahatani padi salah satunya untuk menekan kehilangan hasil yang disebabkan oleh cara panen konvensional. Kehilangan hasil penen dapat menurunkan produksi dan produktivitas usahatani padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja combine harvester melalui pendekatan efisiensi teknis dan faktor-faktor penentu inefisiensi pada usahatani padi di Kabupaten Indramayu. Efisiensi teknis dan faktor-faktor penentu inefisiensi dianalisis dengan pendekatan Stochastic Frontier Analysis (SFA). Total sampel yang digunakan sebanyak 84 responden. Hasil analisis didapat bahwa usahatani yang cara penennya menggunakan combine harvester lebih efisien secara teknis dibandingkan usahatani yang cara panennya tidak menggunakan combine harvester. Nilai rata-rata efisiensi teknis petani yang menggunakan combiene harvester sebesar 0.80, sedangkan nilai efisiensi teknis petani yang tidak menggunanakan combine harvester sebesar 0.69. Input produksi yang berpengaruh signifikan dan dapat meningkatkan produksi usahatani padi diantaranya adalah luas lahan signifikan pada taraf nyata 1 persen, pestisida signifikan pada taraf nyata 10 persen dan tenaga kerja signifikat pada taraf nyata 1 persen. Faktor-faktor inefisiensi yang dapat meningkatkan efisiensi teknis diantaranya adalah penggunaan combine harvester  dan penggunaan benih bersertifikat, dimana masing-masing signifikan pada taraf nyata 1 persen. Combine harvester telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan efisiensi teknis sehingga dapat meningkatkan produktivitas usahatani padi. Kata kunci: combine harvester, efisiensi teknis, inefisiensi, SFA
PENGARUH BATUAN INDUK DAN KIMIA TANAH TERHADAP POTENSI KESUBURAN TANAH DI KABUPATEN KEPULAUAN SULA, PROVINSI MALUKU UTARA Himawan Bayu Aji; Amiruddin Teapon
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n3.2019.p342-352

Abstract

ABSTRACT Effect of Source Rocks and Soil Chemical Towards Land Fertility Potential in Sula Kepulauan District, North Maluku Province. The study aimed to determine the condition of soil fertility potential. Parameters used as the basis of assessment of potential fertility of the soil were the type of main rock, weathering processes and mineral content of the native rock while chemically research was emphased on organic matter content, soil pH, CEC, base saturity and essential nutrients (N, P, K). General lithology in the study area were grouped into rocks and rock volkan sediman. Aluvio-marine sedimentary rocks and aluvio-collovium were deposition materials from a variety of rocks in the study contained a number of nutrients and organic matter. Meanhile volkan rocks included basalt and andesite-granidiorit neutral to alkaline. Contained elements that produced fertile lands both physically and chemically. Based on the analysis, the average soil was classified as slightly acid (pH 5.6). The lower layers of soil reaction on average relatively was acidic (pH 5.1). Soil organic matter in the form of organic-C showed the top layer of a low average (1.58%), whilst the layer below average was very low (0.83%). CEC soil layers above and below the average were moderate (20.66 me/100 g) and (19.6 me/100 g). Base saturations (KB) to these two layers of soil on top and below the average were classified as moderate (55%) and (51%). Levels of nitrogen (N-total) topsoil with layers below average are low valued (0.18%) and (0.11%). Classified as very low, phosporus level in both layers were above the average which were 5.40 ppm and 3.10 ppm respectively. Potassiums were very low in the second layer of 5.13 mg/100 g and 3.81 mg/100 g. The parameters used to assess soil fertility status were CEC, KB, P2O5 which were extracted with HCl 25%, and K2O was extracted with HCl 25% and C-organic soil. Potential assessment of soil fertility status based on lithology and soil chemistry acquired the status of soil fertility was low.Keywords: potential soil fertility, maint rock, chemical  ABSTRAK Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesuburan tanah potensial. Parameter yang dijadikan dasar penilaian potensi kesuburan tanah adalah jenis, proses pelapukan, dan kandungan mineral batuan induk sedangkan secara kimia penelitian ditekankan pada kandungan bahan organik, pH tanah, KTK, KB, dan unsur hara esensial (N, P, K). Secara umum litologi di wilayah studi dikelompokan ke dalam batuan sediman dan batuan volkan. Batuan sedimen aluvio-marine dan aluvio-koluvium merupakan bahan-bahan endapan dari berbagai batuan di wilayah studi yang banyak mengandung unsur hara dan bahan organik. Batuan volkan meliputi andesit-basal dan granidiorit bersifat netral sampai basa, mengandung unsur-unsur yang menghasilkan tanah-tanah subur baik secara fisik maupun kimia. Berdasarkan hasil analisis tanah pH rata-rata tergolong agak masam (pH 5,6). Lapisan bawah reaksi tanah rata-rata tergolong masam (pH 5,1). Bahan organik tanah dalam bentuk C-organik menunjukkan pada lapisan atas rata-rata rendah (1,58%), sementara lapisan bawah rata-rata sangat rendah (0,83%). KTK tanah lapisan atas maupun bawah rata-rata tergolong sedang (20,7 me/100 gram) dan (19,6 me/100 gram). Kejenuhan basa (KB) tanah pada keduan lapisan atas dan bawah rata-rata tergolong sedang yaitu (55%) dan (51%). Kadar nitrogen (N-total) tanah lapisan atas sama dengan lapisan bawah rata-rata tergolong rendah (0,18%) dan (0,11%). Kadar fosor (P2O5) tergolong sangat rendah, di kedua lapisan atas rata-rata sebesar 5,40 dan 3,10 me/100g. Unsur hara kalium (K2O) sangat rendah pada kedua lapisan 5,13 mg/100 gram dan 3,81 mg/100 gram. Parameter yang digunakan untuk menilai status kesuburan tanah yaitu KTK, KB, P2O5 yang diesktrak dengan HCl 25%, sedangkan K2O diekstrak dengan HCl 25% dan C-organik tanah. Penilaian potensi status kesuburan tanah berdasarkan litologi dan kimia tanah diperoleh status kesuburan tanah tergolong rendah.Kata kunci: kesuburan tanah potensial, batuan induk, kimia
ANALISIS KELAYAKAN DAN PERSPEKTIF PENGEMBANGAN PENGOLAHAN SAGU DI SULAWESI TENGGARA Zainal Abidin; Bungati -; Musadar -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n3.2019.p307-319

Abstract

Feasibility and Perspective Analysis of Sagu Processing Development in South Sulawesi. Sago starch has an important role both as a staple food and a material for making various other processed food products. Sago processing can produce both wet sago and dried sago starch. The study was conducted to determine the feasibility of the sago processing business and its development perspective in Southeast Sulawesi. The study was conducted in South Konawe District in March - December 2017. Data were collected through field observations of the Biosagu Sejahtera Farmer Group in Matalamokula Village, North Moramo Sub District which has wet and dry sago production units. The data collected were the production capacity of wet sago and dry sago, the price of sago trees, the price of wet sago and dry sago, the production costs include labor costs, fuel costs, packaging costs as well as the costs of depreciation of tools and machinery. Data were analyzed using a profit equation. The results showed that the production of wet sago starch on a processing scale of 12 sago trees (1 production cycle) was feasible because it provided a profit of 7,314,000 IDR with Production-Break Even Point (PBEP) of 2,359 kg and Price BEP of 1,493 IDR and RCR value was 1.93. Likewise, dry sago production business was feasible with an RCR of 2.18; BEP from the production and price were 460 kg and 7,571 IDR respectively and provided profit of around 6,435,000 IDR. Thus the production of wet sago and dry sago can be alternative non-farm employment in rural areas. Perspective of sago processing in Southeast Sulawesi in the future is quite good due to the several supports such as availability of sago plantation area, the availability of human resources, the technology available as well as policies and regulations from the government. The demand for sago in the future will be influenced by the demand to substitute commodities that are still imported such as wheat and sugar as well as products that have a large domestic use, namely bioethanol. The development of sago in the future needs to respond to changes in demand by changing the management model with conventional management to modern technology. Tepung sagu memiliki peran penting baik sebagai bahan pangan pokok maupun sebagai bahan pembuatan berbagai produk olahan pangan lainnya. Pengolahan sagu dapat menghasilkan tepung sagu basah dan tepung sagu kering. Kajian dilakukan untuk mengetahui kelayakan usaha pengolahan sagu serta perspektif pengembangannya di Sulawesi Tenggara. Penelitian dilakukan di Kabupaten Konawe Selatan bulan Maret – Desember tahun 2017. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan terhadap Kelompok Tani Biosagu Sejahtera Desa Matalamokula, Kecamatan Moramo Utara yang memiliki unit produksi sagu basah dan unit produksi sagu kering. Data yang dikumpulkan  adalah kapasitas produksi sagu basah dan sagu kering, harga pohon sagu, harga sagu basah dan sagu kering, biaya produksi meliputi biaya tenaga kerja, biaya bahan bakar, biaya kemasan serta biaya penyusutan alat dan mesin, analisis data dilakukan menggunakan persamaan keuntungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha produksi tepung sagu basah pada skala pengolahan 12 pohon sagu (1 siklus produksi) layak diusahakan karena memberikan keuntungan sebesar Rp 7.314.000, dengan nilai Titik Impas Produksi (TIP) dan Titik Impas Harga (TIH) masing-masing 2.359 kg dan Rp 1.493 serta nilai RCR sebesar 1,93. Usaha produksi sagu kering layak dilakukan dengan nilai RCR sebesar 2,18; nilai TIP dan TIH masing-masing 460 kg dan Rp 7.571 serta memberikan keuntungan sebesar Rp 6.435.000. Usaha produksi sagu basah maupun sagu kering dapat menjadi alternatif lapangan kerja non farm di pedesaan. Perspektif pengolahan sagu di Sulawesi Tenggara ke depan cukup baik karena ditunjang ketersediaan areal pertanaman sagu cukup luas, ketersediaan sumberdaya manusia, teknologi hingga dukungan kebijakan dan regulasi. Permintaan sagu ke depan akan dihela oleh permintaan untuk mensubstitusi komoditas-komoditas yang selama ini masih diimpor seperti gandum dan gula maupun produk yang pemanfaatannya dalam negeri cukup besar yaitu bioetanol. Pengembangan sagu juga perlu merespon perubahan-perubahan permintaan tersebut dengan mengubah model pengelolaan dengan teknologi konvensional menjadi teknologi modern.
FENOTIP DAN PRODUKTIVITAS BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU PADI PADA AGROEKOSISTEM LAHAN SAWAH DI KABUPATEN MAJALENGKA Yati Haryati; Irma Noviana
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v23n1.2020.p73-81

Abstract

Phenotype and Productivity of Several New High Yielding Rice Varieties in the Wetland Agro-ecosystem in Majalengka District. The high yielding varieties that have good adaptability to certain growing environments can be introduced for the development of productive, effective and efficient rice farming in the future. The adaptation assessment of new varieties was carried out in Jatitengah Village, Jatitujuh Sub District, Majalengka District in the first dry season (April to July 2017). The study activities used a Randomized Block Design (RBD), with treatments consisting of 5 varieties, namely Inpari 38, 39, 41, 42 and 43 with 5 replications. The study was conducted on farmers' land with treatment plots adjusted to the farmer’s natural plots. The parameters observed were plant height, number of productive tillers, number of panicles per clump, panicle length, number of filled grains per panicle, number of empty grains per panicle, weight of 1000 grains and productivity. Agronomic performance data were analyzed using the Duncan Test followed by multiple distance test (DMRT) using SAS version 9.0 for windows and farm analysis was measured by the R/C value. The results of the study showed that there was agronomic diversity in plant growth and the number of productive tillers and yields and components of rice yield among varieties. Inpari 43 variety provided productive tillers, panicle lengths, number of filled grains per panicle, number of empty grains per panicle which were higher than other varieties. The productivity of this variety was 7.70 t.ha-1, and R/C value of 2.20. Therefore, Inpari 43 can be used as an alternative to rotating varieties in the same agroecosystem and season in the paddy fields of Majalengka District.Keywords: rice, new high yielding varieties, paddy fieldsABSTRAK Varietas unggul baru (VUB) yang mempunyai daya adaptasi baik terhadap lingkungan tumbuh tertentu dapat diintroduksikan untuk pengembangan usahatani padi yang produktif, efektif dan efisien pada masa yang akan datang. Pengkajian adaptasi VUB dilaksanakan di Desa Jatitengah, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka pada MKI                          (Bulan April - Juli 2017). Kegiatan pengkajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan perlakuan  5 (lima) varietas, yaitu Inpari 38, 39, 41, 42, dan 43 dengan 5 (lima) ulangan. Kajian dilakukan di lahan milik petani dengan petak-petak perlakuan disesuaikan dengan petak alami. Parameter yang diamati tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah malai per rumpun, panjang malai, jumlah gabah isi per malai, jumlah gabah hampa per malai, bobot 1000 butir dan produktivitas. Data keragaan agronomis dianalisis menggunakan Uji Duncan dilanjutkan dengan uji jarak berganda (DMRT) menggunakan SAS versi 9.0 for windows dan analisis usahatani diukur dengan nilai R/C. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat keragaman agronomi dalam pertumbuhan tanaman dan jumlah anakan produktif maupun hasil dan komponen hasil tanaman padi antar VUB. Varietas Inpari 43 memberikan jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah isi per malai, jumlah gabah hampa per malai relatif lebih baik dibandingkan varietas lainnya. Produktivitasnya mencapai 7,70 t/ha dan nilai R/C 2,20. Dengan demikian, VUB Inpari 43 dapat dijadikan alternatif untuk pergiliran varietas pada agroekosistem dan musim yang sama di lahan sawah Kabupaten Majalengka.Kata kunci: padi, varietas unggul baru, lahan sawah
DINAMIKA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN NON PERTANIAN PADA RUMAH TANGGA PETANI PADI DI KABUPATEN SIGI PROVINSI SULAWESI TENGAH Femmi Norfahmi; R. Winandi; R Nurmalina; N Kusnadi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v23n1.2020.p1-10

Abstract

 Dynamics and Factors Affecting Non-Farming Income in Rice Farmer Household in Sigi District, Central Sulawesi Province. Agricultural business households that control relatively small rice fields (0.19 hectares) in Central Sulawesi Province amounted to 35,009 farmer households. Meanwhile, the increasing demands for living necessities encourage farmers to diversify their sources of income by working in the non-agricultural sector. This study aimed to analyze the dynamics and factors that influence farmers' household incomes from non-agricultural work. The study was conducted in 2016 carried out in Sigi District, Central Sulawesi Province. The study site was selected purposively using two time points data (2008 and 2015). Data were analyzed descriptively and quantitatively (regression with the Ordinary Least Square single equation model. The results of the study showed that diversification of livelihoods in non farming was done more by male household members than women. Nonfarm jobs tended to reduce the allocation of outpoured work in agriculture. The contribution of income from non farming was greater than men compared to women household time allocation on nonfarm jobs increases total household income of farmers. Factors affecting household income were the allocation of male and female workloads on non-agricultural work, labor costs on work in rice farming, male and female education in the household.Keywords: non farming income, rice farmers, labors  Abstrak Rumah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan sawah relatif sempit (0,19 hektar) di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 35.009 rumah tangga petani, sementara tuntutan kebutuhan hidup semakin meningkat mendorong rumah tangga petani untuk melakukan diversifikasi sumber pendapatan dengan bekerja di sektor non pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga petani dari pekerjaan non pertanian. Penelitian dilakukan pada tahun 2016 yang dilaksanakan di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Penentuan lokasi penelitian secara sengaja (purposive), menggunakan data dua titik waktu (2008 dan 2015).  Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif (regresi dengan model persamaan tunggal Ordinary Least Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi mata pencarian di non pertanian lebih banyak dilakukan oleh anggota rumah tangga pria dibandingkan wanita. Pekerjaan non pertanian cenderung menurunkan alokasi curahan kerja di pertanian. Konstribusi pendapatan dari non pertanian lebih besar berasal dari pria dibandingkan wanita. Alokasi waktu rumah tangga pada pekerjaan non pertanian meningkatkan total pendapatan rumah tangga petani. Faktor-faktor mempengaruhi pendapatan rumah tangga yaitu alokasi curahan kerja pria dan wanita pada pekerjaan non pertanian, upah tenaga kerja pada pekerjaan di usahatani padi, pendidikan pria, dan wanita dalam rumah tangga. Kata kunci: pendapatan non pertanian, petani padi, tenaga kerja
PENGARUH PEMBERIAN KONSENTRAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KECERNAAN PAKAN PADA PENGGEMUKAN SAPI BALI Ni Luh Gede Budiari; I Putu Agus Kertawirawan; I Nyoman Adijaya; I Made Rai Yasa
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v23n1.2020.p83-92

Abstract

ABSTRACTThe Effect of Providing Concentrate to Growth And Feed Digestibility on Bali Cattle FatteningResearch on the effect of giving concentrate on the growth and digestibility of feed in Bali cattle fattening has been carried out in the Rare Angon farmers group, Gelgel village, Klungkung district, Klungkung regency, Bali from March - September 2018. The study used a Randomized Complete Block Design (RCBD) with 3 feed treatments. The treatments tested were R0: Cows given forage + 1.0 kg concentrate / tail / day (without soy flour) + 5 ml bio cas / head / day, R1: Cows given forage + 1.0 kg concentrate / tail / day (5% soy flour) + 5 ml bio cas / tail / day, and R2: Cows given forage + 1.0 kg concentrate / tail / day (10% soy flour) + 5 ml bio cas / tail /day. The parameters observed were daily body weight gain, feed consumption, feed conversion, dry matter digestibility, energy digestibility and protein digestibility. Observation data were analyzed by analysis of variance, if the treatment had a significant effect (P <0.05), it was followed by a 5% LSD test. The results showed that feed treatment had no effect on weight gain, consumption of BK rations, FCR, and protein digestibility. The treatment significantly affected the digestibility coefficient of dry matter and energy digestibility. R1 treatment gives the highest coefficient of dry matter digestibility and energy digestibility not significantly different from R2 but the two treatments are significantly different from R0. Increasing soybean flour to 10% in concentrate has           not been followed by a significant increase in the daily weight gain of fattening cattle with an average of R1 (0.69 kg / head / day), R2 (0.68 kg / head / day) ) and the lowest is R0 (0.64 kg / head / day).Keywords: concentrate, growth, feed digestibility, fattened Bali cattleABSTRAKPenelitian pengaruh pemberian konsentrat terhadap pertumbuhan dan kecernaan pakan pada penggemukan sapi bali telah dilaksanakan di Kelompok Ternak Rare Angon,  Desa Gelgel, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali dari bulan Maret  - September 2018. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan pakan. Perlakuan yang diuji adalah R0:  Sapi-sapi diberikan hijauan + 1,0 kg konsentrat/ekor/hari (tanpa tepung kedelai) +  5 ml bio cas/ekor/hari, R1:  Sapi-sapi diberikan hijauan  + 1,0 kg konsentrat/ekor/hari  (5% tepung kedelai) +  5 ml bio cas/ekor/hari, dan R2:  Sapi-sapi diberikan hijauan + 1,0 kg konsentrat/ekor/hari  (10% tepung kedelai) + 5 ml bio cas/ekor/hari. Parameter yang diamati adalah pertambahan bobot badan harian, konsumsi ransum, konversi ransum, koefisien cerna bahan kering, kecernaan energi dan kecernaan protein.  Data pengamatan dianalisis dengan sidik ragam, jika perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) maka dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pakan tidak berpengaruh terhadap pertabahan berat badan, konsumsi BK ransum, FCR, dan kecernaan protein.  Perlakuan berpengaruh nyata terhadap koefisien cerna bahan kering dan kecernaan energi.  Perlakuan R1 memberikan koefisien cerna bahan kering dan kecernaan energi yang tertinggi tidak berbeda nyata dengan R2 namun kedua perlakuan berbeda nyata dengan R0. Peningkatan pemberian tepung kedelai sampai 10% pada konsentrat belum diikuti oleh peningkatan pertambahan berat harian ternak sapi penggemukan secara nyata dengan rata-rata berturut-turut R1 (0,69 kg/ekor/hari), R2 (0,68 kg/ekor/hari) dan terendah dihasilkan R0 (0,64 kg/ekor/hari).Kata kunci:  konsentrat, pertumbuhan, kecernaan pakan, sapi bali penggemukan

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue