cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Pengembangan Inovasi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Pengembangan Inovasi Pertanian diterbitkan empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Majalah ini merupakan majalah ilmiah yang memuat naskah ringkas orasi dankebijakan pertanian dalam arti luas. Tulisan dan gambar dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya.
Arjuna Subject : -
Articles 62 Documents
PEMBERDAYAAN PETERNAK UNTUK MENINGKATKAN POPULASI DAN PRODUKTIVITAS SAPI POTONG BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL Diwyanto, Kusuma; Rusastra, I Wayan
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 6, No 3 (2013): September 2013
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v6n3.2013.105-118

Abstract

Pengembangan sapi potong pada dasarnya sejalan dengan eksis-tensi potensi dan diversifikasi sumber daya alam dan sumber pangan lokal untuk kedaulatan dan kemandirian pangan. Ma-kalah ini membahas secara komprehensif pemberdayaan peter-nak sapi potong sesuai dengan UU No. 18 tahun 2009 dan PP No. 6 tahun 2013 tentang Pemberdayaan Peternak. Dimensi utama pemberdayaan peternak mencakup inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan dalam bentuk model pengembangan sapi potong. Model pemberdayaan peternak yang prospektif untuk meningkatkan populasi dan produktivitas adalah pengem-bangan sapi potong sistem integrasi, yang mencakup integrasi sapi-tanaman pangan dan integrasi sapi-kelapa sawit. Inovasi pakan, pengelolaan kompos, dan aplikasi inseminasi buatan (IB) merupakan komponen teknologi penting dalam mencapai sasaran peningkatan populasi, produktivitas, dan pendapatan peternak. Syarat kecukupan pengembangan dan pemberdayaan yang perlu dipertimbangkan adalah: (1) impor ternak dan daging sapi merupakan kebijakan jangka pendek dan harus sejalan dengan prinsip kedaulatan dan kemandirian pangan; (2) dibu-tuhkan optimalisasi instrumen kebijakan impor dan harus dalam satu paket kebijakan dengan pengembangan sistem logistik daging sapi; dan (3) mencegah marketing inefficiency by law dengan melakukan deregulasi sistem distribusi dan sistem tata niaga ternak dan daging sapi.
PENYAKIT KARAT PADA KRISAN DAN PENGENDALIAN RAMAH LINGKUNGAN DALAM ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015 Hanudin, Hanudin; Marwoto, Budi; Djatnika, I.
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 8, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v8n1.2015.11-20

Abstract

Mutu bunga krisan merupakan salah satu faktor penting dalam menghadapi persaingan global dan menjadi indikator utama keberhasilan pengelolaan usaha tani krisan. Berbagai faktor dapat menurunkan mutu bunga potong/pot krisan, di antaranya cekaman lingkungan fisik, serangan penyakit, dan lemahnya sumber daya manusia. Di antara ketiga faktor tersebut, serangan penyakit paling berpengaruh terhadap mutu produk florikultura. Pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), tuntutan terhadap penerapan standar keamanan pangan dan lingkungan makin tinggi seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan lingkungan. Tuntutan tersebut berimplikasi terhadap praktik budi daya tanaman pertanian, termasuk krisan. Penggunaan bahan kimia sintetis yang berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan tidak dapat dipertahankan lagi. Tulisan ini membahas penyakit pada tanaman hias, epidemiologi penyakit, prinsip pengendalian penyakit ramah lingkungan, dan penerapannya menyongsong era MEA pada 2015. Sejak pengembangan industri krisan di Indonesia pada 1980-an, usaha krisan menghadapi kendala utama serangan penyakit. Besarnya kerugian yang diakibatkan oleh serangan penyakit ditentukan oleh tipe epidemiologi. Untuk mencegah kerugian akibat infeksi penyakit, perlu penerapan pengendalian penyakit ramah lingkungan dengan prinsip melakukan tindakan yang tepat pada saat patogen berada dalam fase perkembangan yang paling lemah dengan menggunakan tindakan yang memerhatikan kelestarian lingkungan dan keamanan pangan.
Soil Test Technology for Developing Fertilizer Recommendations of Lowland Rice Al-Jabri, Muhammad
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 6, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v6n1.2013.11-12

Abstract

Soil test technology is an invaluable tool in determining the     availability of soil nutrient status accurately in accordance with     plant requirement. Application of inorganic fertilizer continuously     at a rate that exceeds the plant needs can lead to nutrient imbalance     due to the decreasing soil pH and accumulation of P and K in     the soil resulting in nutrient disorder. This problem can be solved     by specific location nutrient management supported with soil test     technology. Utilization of soil test technology in balanced fertilizer     application needs to be supported by P and K nutrient status maps,     soil test kit, and fertilizer recommendation software. In the future,     development of soil test technology aimed to improve land     productivity and fertilizer efficiency by improving site-specific     balanced fertilizer application integratedly with inorganic and     organic fertilizers and other materials as soil conditioner. Strategies     for developing soil test technology include: (1) replacing the     original soil analysis method using a single nutrient soil analysis     (SNSA) with multi-nutrient soil analysis (MNSA) and validating     it in paddy soil in Indonesia; (2) validating and updating P and     K nutrient status maps of 1:250,000 scale and 1:50,000 scale     periodically; (3) developing soil test kit not only to measure P and     K nutrient status, but also other nutrients such as N, S, Ca, and     Mg; (4) establishing networks and linkages between soil testing     laboratories and farmer groups in order to socialize balanced     fertilizer recommendations; (5) improving the Regulation of the     Minister of Agriculture No. 40/2007 regarding to the recom-     mendation for N, P, and K fertilizer on rice to improve the accuracy     of site-specific fertilizer recommendations; and (6) closing soil     test technology to farmers as end-user to form an integrated ground     test clinic (mobile soil test). This last strategy is to complement     the achievement of good agricultural practices (GAP), which is     associated with precision farming including the nature of the soil,     plants, and site-specific fertilizer recommendations in exact rate,     time, and application method.    
SWASEMBADA GULA: ANTARA POTENSI, KENYATAAN, DAN HARAPAN Soetopo, Deciyanto
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 3 (2014): September 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v7n3.2014.135-142

Abstract

Pemerintah Indonesia mencanangkan swasembada gula pada 2014, dimulai sejak 2009. Namun, produksi gula hingga musim giling 2013 belum menggembirakan sehingga sulit menggapai swasembada tepat waktu. Sebelum kemerdekaan, Indonesia pernah menjadi negara pengekspor gula, namun produksi gula terus menurun hingga akhirnya menjadi negara pengimpor gula terbesar kedua setelah Rusia. Pada tahun 2013, produksi gula sekitar 2,6 juta ton, mendekati posisi ketika Indonesia menjadi pengekspor gula pada tahun 1930-an dengan produksi 2,9 juta ton. Namun, pencapaian produksi saat ini lebih disebabkan oleh perluasan area tebu. Peningkatan produksi melalui perluasan area di masa depan sulit diandalkan karena adanya kendala terkait dengan kependudukan, kepemilikan/status lahan, dan alih fungsi lahan. Peningkatan produksi gula ke depan perlu difokuskan pada peningkatan produktivitas, rendemen, efisiensi industri gula, dan rekayasa sosial. Pemanfaatan sumber daya genetik untuk mendapatkan varietas tebu dengan produktivitas >120 t/ha dan rendemen >12% masih sangat memungkinkan. Teknologi budi daya cukup tersedia, walaupun terjadi pergeseran usaha tani tebu dari lahan beririgasi ke lahan kering. Selain itu, posisi Indonesia sebagai negara tropis memungkinkan usaha tani tebu memperoleh hasil optimum dengan memanfaatkan intensitas cahaya secara maksimum. Saat ini yang diperlukan ialah motivasi yang tinggi, perencanaan yang baik dan fokus, dengan menghindari usaha yang cenderung instan untuk mewujudkan swasembada gula dalam waktu dekat.
MENELISIK TITIK KRITIS PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN Munarso, S. Joni; Richana, Nur
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v7n1.2014.41-49

Abstract

Agroindustri memberikan kontribusi positif dan mendominasi pangsa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, tren kontribusi ini menurun dari 27,83% pada 2006 menjadi 25,49% pada 2011. Kelesuan agroindustri ini perlu segera diatasi untuk mencapai target pembangunan pertanian melalui peningkatan nilai tambah. Selaras dengan itu, peran teknologi pengolahan hasil pertanian sebagai komponen penting dalam pengembangan agroindustri perlu dikaji, mengingat teknologi yang tersedia belum digunakan secara maksimal oleh pengguna. Pengembangan teknologi pengolahan hasil pertanian memiliki empat titik kritis, yaitu tahap penyusunan komponen teknologi, perakitan paket teknologi, pengembangan model agroindustri, dan implementasi model agroindustri. Pada setiap titik kritis ini terdapat masalah yang berpotensi menghambat penerapan teknologi. Minimnya keterlibatan calon pengguna dalam perancangan penelitian memunculkan kebingungan dalam mengarahkan hasil perakitan teknologi. Filosofi quick yielding research sering mendorong terjadinya penghilangan tahap perakitan paket teknologi, yang berakibat munculnya masalah teknis dalam pengembangan moral maupun implementasi model agroindustri. Tahap perakitan paket teknologi menjadi titik terlemah saat ini. Penguatan infrastruktur dan program riset serta penguatan modal sosial (social capital) pada tahap pengembangan model agroindustri merupakan kebijakan strategis untuk mendukung pengembangan teknologi menuju kemantapan penerapannya dalam pembangunan agroindustri.
TEKNOLOGI INOVATIF BUDI DAYA SAYURAN LAHAN KERING BERBASIS PENGELOLAAN HARA TERPADU MENUJU TERWUJUDNYA EKONOMI BIRU (PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN) Hilman, Yusdar
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 6, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v6n4.2013.157-167

Abstract

Sayuran umumnya diusahakan secara intensif di lahan kering dataran tinggi tanpa menerapkan teknologi konservasi lahan untuk mengendalikan erosi dan penurunan kesuburan tanah. Untuk mengatasi masalah ini, petani sayuran umumnya meng-gunakan pupuk kimia pada dosis tinggi. Namun upaya ini tidak dapat meningkatkan hasil, bahkan hasil sayuran cenderung menurun akibat lahan terdegradasi. Penggunaan pupuk kimia dosis tinggi mengakibatkan terjadinya akumulasi nitrat dalam tanah dan air, mengganggu siklus hara tanah, menghambat rege-nerasi humus, mematikan cacing tanah, menurunkan kandungan mikroorganisme tanah, dan menguras bahan organik tanah. Pengelolaan hara terpadu merupakan pendekatan inovatif untuk menjaga kesuburan tanah dan pasokan hara tanaman pada taraf optimum untuk keberlanjutan produktivitas sayuran. Ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan manfaat dari berbagai sumber hara tanaman seperti pupuk kimia, pupuk organik, dan pupuk hayati secara terpadu. Upaya peningkatan produksi sayuran di lahan kering menghendaki penerapan teknologi inovatif yang ramah lingkungan yang bernuansa ekonomi biru. Pola ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing, produktivitas, dan nilai tambah produk yang dihasilkan.
PERCEPATAN PERAKITAN VARIETAS UNGGUL PADI DENGAN BANTUAN PEMULIAAN NON-KONVENSIONAL Soemantri, Ida Hanarida
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 6, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v6n2.2013.62-73

Abstract

Beras adalah bahan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia, yang jumlahnya sekitar 238 juta jiwa pada tahun 2012 dan bertambah dengan laju 1,49%/tahun. Keadaan ini meng-isyaratkan kebutuhan beras akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Penyediaan beras untuk memenuhi kebutuhan penduduk dihadapkan pada berbagai masalah, seperti perubahan iklim, hama dan penyakit, kekeringan, keracunan Fe dan Al, dan sali-nitas. Salah satu upaya untuk menanggulangi masalah tersebut adalah penggunaan varietas unggul. Pemuliaan tanaman secara konvensional telah menghasilkan berbagai varietas yang memi-liki sifat-sifat unggul, namun pemuliaan konvensional sering menghadapi hambatan ketiadaan sumber gen suatu sifat, lama-nya waktu pemuliaan, dan sistem seleksi yang kompleks. Oleh karena itu, diperlukan bantuan pemuliaan non-konvensional. Perakitan varietas unggul secara konvensional tidak tergan-tikan, namun dengan bantuan pemuliaan non-konvensional seperti kultur antera, seleksi menggunakan marka molekuler (marker aided selection, marker assisted back crossing), teknik penyelamatan embrio, dan rekayasa genetik, peluang untuk mendapatkan varietas unggul baru yang diinginkan menjadi lebih besar dan lebih cepat. Kendala yang dapat diatasi dengan memadukan pemuliaan konvensional dan non-konvensional adalah inkompatibilitas, lamanya waktu proses pemuliaan, kompleksitas sistem seleksi, dan ketiadaan gen donor dalam koleksi plasma nutfah padi budi daya, termasuk spesies liarnya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pemuliaan padi secara konvensional dan non-konvensional menjadi sangat penting.
PERCEPATAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN KERING IKLIM KERING DI NUSA TENGGARA Mulyani, Anny; Nursyamsi, Dedi; Las, Irsal
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v7n4.2014.187-198

Abstract

Wilayah Nusa Tenggara memiliki iklim kering dengan curah hujan kurang dari 2.000 mm/tahun. Sekitar 72% wilayahnya berbukit dan bergunung dengan solum tanah dangkal dan berbatu. Kondisi ini menjadi tantangan dalam pengembangan pertanian. Oleh karena itu, Balitbangtan melaksanakan kegiatan percepatan pengembangan pertanian di lahan kering beriklim kering sejak tahun 2010 sampai sekarang. Hasil identifikasi sumber daya alam dan sosial ekonomi menunjukkan permasalahan utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian ialah curah hujan rendah, ketersediaan air terbatas, serta produktivitas dan indeks pertanaman rendah (IP < 100). Di beberapa lokasi terdapat sumber air permukaan (sungai, embung, dam parit, mata air) dan air tanah yang belum dimanfaatkan. Oleh karena itu, Balitbangtan melakukan eksplorasi sumber air dan desain distribusinya dengan sistem gravitasi untuk dimanfaatkan pada musim kemarau untuk area 5-15 ha. Selanjutnya, masyarakat diperkenalkan dengan inovasi teknologi varietas unggul, pengelolaan hara (pupuk organik, pupuk hayati, pembenah tanah), pembuatan kandang komunal, dan pengelolaan limbah menjadi kompos. Pembelajaran yang dapat diambil dari kegiatan ini ialah sulitnya mengubah etos kerja dan kebiasaan petani untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam secara optimal. Ke depan, selain teknik budi daya, diperlukan pendampingan dan pembinaan kelembagaan secara intensif, termasuk memotivasi petani dalam pengembangan pertanian di wilayahnya.
TEKNOLOGI PENGELOLAAN AIR MENUNJANG OPTIMALISASI LAHAN DAN INTENSIFIKASI PERTANIAN DI LAHAN RAWA PASANG SURUT Noor, Muhammad
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v7n2.2014.95-104

Abstract

Lahan rawa pasang surut berperan penting dan strategis dalam peningkatan produksi pangan ke depan, mengingat terbatasnya lahan subur serta tingginya laju pertambahan penduduk, konversi lahan, dan fragmentasi pemilikan lahan usaha tani. Lahan rawa pasang surut luasnya mencapai 23,25 juta ha, 11,11 juta ha di antaranya berpotensi dikembangkan sebagai lahan pertanian produktif, namun baru sekitar 5,27 juta ha yang dibuka dan dimanfaatkan. Pengelolaan air di lahan rawa pasang surut tidak cukup hanya memanfaatkan gerakan pasang, tetapi memerlukan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelindian dan memperbaiki kualitas tanah sehingga produktivitas lahan menjadi lebih baik. Kearifan lokal petani di lahan rawa dapat dimanfaatkan untuk memperkaya teknologi pengelolaan air sehingga dapat meningkatkan produksi dan pendapatan usaha tani dengan memerhatikan dinamika tanah, biodiversitas, dan kelestarian lingkungan. Strategi pengelolaan air dalam mendukung optimalisasi lahan dan intensifikasi pertanian perlu ditempuh melalui: (1) refocusing daerah sasaran dengan penentuan zonasi pengelolaan air yang didasarkan pada perilaku tata air dan hidrologi setempat; (2) perbaikan dan pembangunan infrastruktur jaringan tata air; (3) pemantauan dan pengembangan perencanaan sepanjang masa pemanfaatan lahan; (4) peningkatan kegiatan diseminasi teknologi pengelolaan air melalui pelatihan dan penyuluhan; dan (5) refocusing penelitian dan pengembangan teknologi pengelolaan air untuk mendukung peningkatan produktivitas dan intensitas tanam.
KINERJA PENERAPAN PASCAPANEN JAGUNG DI INDONESIA DAN DUKUNGAN KEBIJAKAN Swastika, Dewa K.S.; Mayrowani, Henny; Rusastra, I Wayan
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v7n1.2014.1-10

Abstract

Perkembangan industri peternakan yang sangat pesat telah meningkatkan kebutuhan pakan pabrikan yang menggunakan jagung sebagai komponen utamanya. Permasalahannya ialah pabrik pakan lebih menyukai jagung impor karena jagung dalam negeri kurang memenuhi standar mutu. Mengandalkan pasokan jagung dari impor mempunyai risiko ketergantungan pada negara lain yang berdampak negatif terhadap stabilitas industri peternakan dalam negeri. Oleh karena itu, selain meningkatkan produksi, kualitas jagung dalam negeri perlu diperbaiki dengan menerapkan penanganan pascapanen yang tepat.Tulisan ini membahas kinerja penerapan pascapanen jagung ditingkat petani dan kebijakan pendukungnya. Sampai saat ini, program pembangunan pertanian masih terkonsentrasi padaupaya peningkatan produksi. Perhatian terhadap pascapanen sangat kecil, yang tercermin dari sangat kecilnya anggaran untuk meningkatkan kinerja pascapanen jagung. Akibatnya, kehilangan hasil masih tinggi dan kualitas produk rendah. Pengetahuan petani tentang pascapanen yang terbatas dan kurangnya dukungan alsintan pascapanen menjadi kendala bagi petani dalam menerapkan teknologi pascapanen. Ironisnya, pemerintah selama periode 2006-2010 cenderung memberi bantuan mesin-mesin besar berteknologi tinggi bernilai miliaran rupiah, seperti silo yang sebenarnya belum dibutuhkan petani. Bantuan alat pemipil jagung yang sangat dibutuhkan petani justru sangat kecil. Ke depan, diperlukan perbaikan kebijakan yang berorientasi pada bantuan yang benar-benar dibutuhkan petani. Selain itu, harus ada perjanjian antara pemberi dan penerima bantuan agar alsintan bantuan dimanfaatkan sesuai perjanjian disertai sanksi yang jelas dan tegas.