cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PENGARUH JENIS KEMASAN TERHADAP MUTU DAN PERTUMBUHAN SETEK NILAM BERAKAR (Pogostemon cablin Benth) SELAMA PENYIMPANAN MELATI, MELATI; RUSMIN, DEVI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n1.2008.1-6

Abstract

ABSTRAKPenanganan benih yang baik sangat diperlukan untuk mempertahan-kan viabilitas benih nilam yang dikirim ke daerah yang jauh dari kebuninduk. Benih yang tidak dikemas dengan baik akan berakibat menurunnyaviabilitas benih dengan cepat, sehingga pada saat ditanam benih tidakdapat tumbuh (mati). Untuk itu telah dilaksanakan penelitian yangbertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan setek berakarterhadap pertumbuhan nilam. Percobaan dilaksanakan di rumah kaca BalaiPenelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) dari bulan Desember2004 sampai dengan Maret 2005. Percobaan disusun dalam rancanganacak lengkap (RAL) terdiri atas tujuh perlakuan dengan 3 ulangan.Perlakuan yang diberikan adalah : (1) setek nilam dibalut tissue dandibungkus plastik transparan, (2) setek nilam dibalut koran dan dibungkusplastik transparan, (3) setek nilam dibalut cocopeat dan dibungkus plastiktransparan, (4) setek nilam dibalut tissue dan dibungkus karung plastik, (5)setek nilam dibalut koran dan dibungkus karung plastik, (6) setek nilamdibalut cocopeat dan dibungkus karung plastik, (7) kontrol (setek tidakdibalut dan tidak dibungkus). Hasil percobaan menunjukkan bahwapersentase hidup setek berakar nilam yang disimpan selama 7 hari padasemua kemasan kecuali kontrol masih tinggi yaitu >90%. Hampir dariseluruh parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah tunas dan jumlahdaun) yang diamati menunjukkan pengemasan setek nilam dibalut tissuedan dibungkus plastik transparan lebih baik dibandingkan denganpengemasan setek yang lain.Kata kunci : Nilam, Pogostemon cablin, benih, setek berakar, jeniskemasan, pertumbuhan, Jawa BaratABSTRACTEffect of packing materials on the quality and growth ofpatchouli rooted cuttingsGood seed handling should be carried out seriously to maintain thecutting viability of pacthouli especially when the cutting distributed toother region far away from the seed garden. Improper cutting packing willdecrease of viability the cutting very fast and when it is planted the cuttingwill not grow.Therefore, the research was conducted to find out the effectof packing material on the growth of rooted cutting. The experiment wasconducted in the green house of the Indonesian Research Institute forAromatic and Medicinal Crops Bogor from December 2004 to March2005, and it was arranged completely in a randomized design (CRD) with3 replications, consisted of 7 packing treatments. The treatments were : (1)rooted cuttings wrapped using transparent plastic with tissue media, (2)rooted cuttings wrapped using transparent plastic with newspaper media,(3) rooted cuttings wrapped using transparent plastic with cocopeat media,(4) rooted cuttings wrapped using plastic sack with tissue media, (5) rootedcuttings wrapped using plastic sack with newspaper media, (6) rootedcuttings wrapped using plastic sack with cocopeat media, (7) control(unwrapped seedling). The results indicated that after 7 days of storage,rooted cuttings of patchouli were still viable (>90%) in all treatmentsexcept control. Packing of rooted cuttings by wrapping it with transparentplastic with tissue media showed the best growth with more number ofleaves and higher plant compared to other packing treatments.Key words : Patchouli, Pogostemon cablin, seedling, rooted cutting,packing material, growth, West Java
PERANAN Synnematium sp. DALAM PENGENDALIAN Sanurus indecora JACOBI (HOMOPTERA: FLATIDAE) MARDININGSIH, TRI L.; KARMAWATI, ELNA; WAHYONO, TRI EKO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n3.2006.103-108

Abstract

ABSTRAKSanurus indecora merupakan salah satu hama utama yangmenyerang tanaman jambu mete di Propinsi Nusa Tenggara Barat. DiLombok Timur, hama ini diserang oleh cendawan Synnematium sp.Berdasarkan hal tersebut perlu penelitian untuk mengetahui apakahcendawan tersebut dapat digunakan untuk mengendalikan S. indecora.Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peranan Synnematium sp.dalam pengendalian S. indecora dilakukan di Desa Pohgading, KecamatanPringgabaya dan di Desa Wanasaba, Kecamatan Wanasaba, KabupatenLombok Timur dari bulan Juni sampai September 2004. Penelitian terdiriatas dua kegiatan yaitu di tingkat pot (bibit) dan lapang. Penelitian ditingkat pot terdiri atas tiga kegiatan yaitu aplikasi cendawan terhadap telur,nimfa, imago pada bibit jambu mete (10 telur/ serangga/ bibit). Rancanganyang digunakan ialah acak lengkap dengan empat perlakuan dan diulangenam kali. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah telur atau seranggayang mati karena terserang Synnematium sp. mulai satu sampai tujuh harisetelah perlakuan. Penelitian lapang menggunakan rancangan acakkelompok yang disusun secara faktorial dengan dua macam faktor yaitupola tanam dan konsentrasi Synnematium sp. Parameter yang diamatiadalah populasi S. indecora, tingkat serangan, jumlah bunga hermaproditsebelum perlakuan dan jumlah buah yang berkembang. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa cendawan Synnematium sp. yang diaplikasikan padanimfa S. indecora dan bibit menyebabkan kematian serangga tertinggimencapai 98,33%. Kematian serangga pada ketiga macam konsentrasiSynnematium sp. baik pada telur, nimfa dan imago tidak berbeda nyata.Dalam penelitian ini konsentrasi terkecil yaitu 20 g/l atau setara dengankonsentrasi spora 1,64 x 10 8  sudah efektif menyebabkan kematian S.indecora. Penurunan populasi S. indecora oleh Synnematium sp. efektifdengan konsentrasi 20 g/l sebesar 24,14% dibandingkan dengan kontrol.Tingkat serangan berkorelasi positif dengan populasi serangga.Kata kunci: Jambu mete, Anacardium occidentale L., hama, Sanurusindecora, pengendalian hayati, Synnematium sp. NusaTenggara BaratABSTRACTThe role of Synnematium sp. in controling Sanurusindecora JACOBI (Homoptera : Flatidae)Sanurus indecora is one of major pests attacking cashew plants inWest Nusa Tenggara Province. In East Lombok, this insect pest wasattacked by fungi of Synnematium sp. Based on that, the experiment wasconducted to find out whether the fungi could be used to control S.indecora or not. The objective of the experiment was to examine the roleof Synnematium sp. in the controlling S. indecora. It was carried out inPohgading, Pringgabaya and Wanasaba, District of East Lombok fromJune to September 2004. The experiment consisted of two activitiesnamely polybag stage and field activities. Polybag stage activitiesconsisted of three activities namely application of Synnematium sp. oneggs, nymphs, adults on seedling (10 eggs/insect/seedling). Theexperiment was arranged in a completely randomized design with fourtreatments and six replications. Observation was conducted on the numberof dead eggs, nymphs and adults attacked by Synnematium sp. from one toseven days after treatment. While field activities used a randomized blockdesign arranged in a factorial with two factors i. e. plant pattern andconcentration of Synnematium sp. Parameters observed were population ofS. indecora, the degree of attack, the number of hermaphrodite flowersbefore application and the number of developed fruits. Research resultsshowed that Synnematium sp. sprayed to nymphs of S. indecora andseedling caused the highest mortality of S. indecora that reached 98.33%.Mortality of S. indecora on the three concentrations either on eggs,nymphs and direct application to adults was not significantly different. Inthis experiment, the smallest concentration i.e. 20 g/l or equivalent withconcentration of spore 1.64 x 10 8  was effective to cause the death of S.indecora. The decrease of S. indecora population by Synnematium sp. waseffective with concentration of 20g/l as many as 24,14% compared withcontrol. The degree of attack was positively correlated with population ofS. indecora.Key words: Cashew, Anacardium occidentale L., pest , Sanurus indecora,biological control, Synnematium sp. Nusa Tenggara Barat
PENULARAN PENYAKIT KERDIL PADA TANAMAN LADA OLEH TIGA JENIS SERANGGA VEKTOR RODIAH BALFAS; SAMSUDIN SAMSUDIN; SUKAMTO SUKAMTO; IRWAN LAKANI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n4.2007.136-141

Abstract

ABSTRAKPenyakit kerdil merupakan salah satu penyakit penting padatanaman lada (Piper nigrum L.), yang disebabkan oleh dua jenis virus,yaitu Piper Yellow Mottle Virus (PYMV) yang ditularkan oleh kutu putih(Planococcus minor dan Ferrisia virgata); dan Cucumo Mosaic Virus(CMV) yang pernah dilaporkan ditularkan oleh Aphis gossypii. Penelitiantentang penyakit ini telah dilakukan di laboratorium dan rumah kaca untukmengetahui kemampuan serangga vektor P. minor, F. virgata dan A.gossypii dalam menularkan penyakit. Serangga tersebut diberi makanselama 24 jam pada tanaman lada yang terserang penyakit kerdil,kemudian serangga dipindahkan ke bibit lada sehat selama 24 (A. gossypii)dan 48 jam (P. minor dan F. virgata). Pada setiap jenis serangga diuji 1, 3,7 dan 10 ekor per tanaman. Dengan cara yang sama dilakukan pulapengujian lanjutan penularan dengan A. gossypii (sebanyak 10 ekorserangga per tanaman) dengan menggunakan tiga sumber tanaman sakityang berbeda (tanaman sakit asal Bangka, asal Sukabumi dan Bogor).Selain itu dilakukan penularan secara mekanik dengan menggunakanketiga sumber inokulum. Tanaman yang telah diperlakukan diinkubasikandi rumah kaca. Deteksi virus dilakukan dengan ELISA denganmenggunakan antiserum dari Agdia. Hasil penelitian menunjukkan bahwaP. minor dan F. virgata dapat menularkan penyakit kerdil ke tanaman ladahingga 100%, sedangkan penularan dengan A. gossypii tidak menunjukkangejala, tetapi pada pengujian lanjutan dengan A. gossypii memperlihatkanbeberapa tanaman bergejala. Dari penelitian ini terungkap kutu putihmerupakan serangga vektor PYMV yang sangat efisien, sedangkan A.gossypii dapat berperan sebagai vektor CMV dengan kemampuanpenularan masih terbatas.Kata kunci : Piper nigrum L., penyakit kerdil, Ferrisia virgata,Planococcus minor, Aphis gossypii, CMV dan PYMV,penularanABSTRACTTransmission of stunted growth disease on black pepperby three insect vectorsStunted growth disease is one of the most important diseases onblack pepper caused by Piper Yellow Mottle Virus (PYMV) transmitted byMealybugs (Planococcus minor and Ferrisia virgata) and Cucumo MosaicVirus (CMV) transmitted by Aphis gossypii. These experiments wereconducted at laboratory and green house to examine the capability of theinsects in transmitting the disease. The insects were fed on black pepperplant for 24 hours, then transferred to healthy black pepper seedlings for24 hours (A. gossypii) and 48 hours (P. minor and F. virgata). Each plantwas treated with 1, 3, 7 and 10 insects. Other disease transmission test withA. gossypii was carried out using the similar method, but each plant wastreated with 10 insects and used three source plants (disease plant fromBangka,  Sukamulya/Sukabumi  and  Bogor).  Disease  mechanicaltransmission was also carried out to black pepper plant using the threesources of disease plant treated plants were incubated in the glass house.ELISA was used for disease confirmation with antiserum from Agdia.The results showed that high transmission rate (up to 100%) were obtainedin transmission with P. minor and F. virgata . No disease symptoms wereshown in black pepper seedlings treated with A. gossypii. In the othertransmission test, however, some plants showed symptoms. The similarsymptoms were also seen on black pepper plants which were mechanicallyinoculated. The ELISA showed that the plants were positive for CMV.These experiments suggested that P. minor and F. virgata are veryefficient vectors for PYMV, Whereas A. gossypii was confirmed as vectorof CMV of black pepper with limited ability in transmitting the disease.Key words : Black pepper, stunted growth disease, Ferrisia virgata,Planococcus minor, Aphis gossypii, CMV, PYMV,transmissio
KAJIAN MODEL STABILITAS BASIL SECARA KUALITATIF DAN KUANTITATIF UNTUK UJI MULTILOKASI MUSIM PADA TEMBAKAU VIRGINIA RAJANGAN BOJONEGORO ADJI SASTROSUPADI; SUWARSO SUWARSO; ANIKHERWATI ANIKHERWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n4.2005.134-139

Abstract

ABSTRAKKajian model stabilitas hasil dilakukan untuk uji multi lokasi musimpada galur tembakau Virginia rajangan Bojonegoro di tigs lokasi,Kedungadem, Pekuwon dan Sugihwaras, Jawa Timur pada empat musimtanam 1997, 1998, 1999, dan 2001. Tiga lokasi yang dipilih merupakandaerah pengembangan tembakau Virginia Bojonegoro, masing - masingberjarak antara 15 - 20 km satu sama lain. Empat belas galur yang diujimerupakan hasil seleksi sejak tahun 1990. Rancangan percobaan yangdigunakan di setiap lokasi adalah rancangan kelompok dengan tigaulangan. Ukuran petak percobaan 8,6 m x 6,75 m, jarak tanam 90 x 45cm, dengan satu tanaman per lubang. Penentuan stabilitas hasil denganmenggunakan model kualitatif YAU dan HAMBLIN (1994) dan modelkuantitatif menurut PERKINS dan JINKS (1968). Hasil analisismenunjukkan dengan model kualitatif galur nomor 13, 7, 10, 6, dan 5merupakan galur yang stabil dengan hasil rajangan kering di atas hasil rata-ratanya, sedang dengan model kuantitatif galur nomor 9,11,14, 6, dan 10merupakan galur yang stabil dengan hasil ranjangan kering di atas rata-ratanya. Pengukuran stabilitas hasil dengan model kuantitatif lebihinformatif dibandingkan dengan model kualitatif.Kata kunci : Tembakau, Nicotiana tabacum, tembakau Virginia, ujimultilokasi, stabilitas hasil, Jawa TimurABSTRACTStudy of qualitative and quantitative yield stability modelfor season muUilocation test of Bojonegoro sliced VirginiatobaccoStudy of quantitative and qualitative stability model for multi-location-season test of Bojonegoro sliced Virginia tobacco conducted inthree locations: Kedungadem, Pekuwon and Sugihwaras, East Java in1997; 1998; 1999, and 2001. The selected locations were the area of theVirginia tobacco development. The locations were 15-20 km apart fromone another. Fourteen lines of sliced Virginia tibacco tested were the resultof selection since 1990, tested in three locations and four growing seasons.The experiment used a randomized blok design with three replications ineach location. Plot size was 8,6 m x 6,75 m, plant distance was 90 cm x45 cm, one plant per hole. The stability parameters were measured byqualitative model according to YAU and HAMBLIN (1994) andquantitative ones were measured according to PERKINS and JINKS(1968). The result of the analysis using qualitative model showed that linesNo 13, 10, 6, dan 5 were stable genotypes with the yield above its averagewhile based on quantitative model and lines No 9,11,14, 6, dan 10 werestable genotypes with the yield above its average. Measurement of yieldstability using quantitative model was more informative compared toqualitative model.Key words: Tobacco, Nicotiana tabacum, virgina tobacco, multi-locationtest, yield stability. East Java
TANAMAN KECUBUNG (Datura metel L.) SEBAGAI BAHAN BAKU INSEKTISIDA BOTANIS UNTUK MENGENDALIKAN HAMA Aspidomorpha milliaris F. HERWITA IDRIS
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n1.2015.41-46

Abstract

ABSTRAKKecubung (Datura metel L.) adalah salah satu tanaman obattradisional yang berpotensi sebagai sumber insektisida botanis, namunsampai saat ini belum banyak diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui efektivitas tanaman kecubung sebagai bahan insektisidabotanis, terhadap serangga Aspidomorpha milliaris F (Coleoptera:Crysomelidae). Penelitian dilakukan di KP. Laing Solok mulai bulan Aprilsampai Oktober 2012, dengan menggunakan rancangan acak lengkap (9perlakuan dan 3 ulangan). Perlakuan yang diuji adalah ekstrak daunkecubung pada konsentrasi 250, 500, 750, 1000, 1500, 2000, 2500, dan3500 ppm, serta 0 ppm sebagai kontrol. Perlakuan diaplikasikan secarakontak maupun non kontak. Serangga uji yang dipakai pada setiapperlakuan adalah 20 ekor larva instar III, IV, V, VI, dan 10 ekor imago.Parameter pengamatan meliputi persentase kematian, penurunan volumemakan larva dan imago, fekunditas, serta periode prereproduktif imago.Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun kecubung yang diaplikasikansecara kontak lebih toksik dibandingkan dengan non kontak. Ekstrak daunkecubung kosentrasi 3500 ppm bersifat toksik, menolak makan, danmengurangi fekunditas A. milliaris. Tingkat kematian larva A. milliarisinstar III, IV, V, dan VI berkisar 28,46-39,51%, sedangkan penurunanvolume makan sebesar 10,44-15,76%. Fekunditas A. milliaris menurun21,77%. Oleh karena itu, ekstrak daun kecubung dapat dikembangkansebagai insektisida botanis.Kata kunci: kecubung, insektisida botanis, Aspidomorpha milliaris F.ABSTRACTAmethyst (Datura metel L) is one of a potential plants used as rawmaterial of botanical insecticides, but until now it had not been prived.The purpose of the research is to determine the potential of the amethystas a botanical insecticide to Aspidomorpha milliaris F. (Coleoptera:Crysomelidae). The research carried out in Laing Solok ExperimentalGarden from April to October 2012, in a completely randomized design (9treatments and 3 replications). The treatments were amethyst leaf aqueousextract at concentrations of 250, 500, 750, 1000, 1500, 2000, 2500, 3500ppm, and 0 ppm as a control. The treatments were applied contact andnon-contact. Test insects used in each treatment was 20 larvae instar III,IV, V, VI and 10 imagos. Observation parameters include the mortalitypercentage and eating volume decrease of larvae and imago, fecundity,and imago prereproductive period. The results showed that the leaf extractamethyst which were applied contactly was more toxic than the non-contact. The amethyst leaf extracts at 3500 ppm concentration are toxic. Italso could refuse to eat and reduce fecundity of A. milliari. The mortalityrate for larval instar III, IV, V, and VI ranged 28.46-39.51%, while adecrease of eat volume ranged 10.44-15.76%. The fecundity of A.milliaris decreased 21.77%. Therefore, the leaf amethyst extract can bedeveloped as a botanical insecticide.Keywords: amethyst, botanical insecticides, Aspidomorpha milliaris, F
PEMANFAATAN PUPUK HAYATI MIKORIZA UNTUK MENINGKATKAN TOLERANSI KEKERINGAN PADA TANAMAN NILAM MAWARDI MAWARDI; MUHAMAD DJAZULI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n1.2006.38-43

Abstract

ABSTRAKTanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan tanamanatsiri utama di Indonesia. Saat ini sekitar 90% minyak nilam duniadihasilkan oleh Indonesia. Produktivitas dan mutu nilam sangatdipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Salah satu faktorlingkungan abiotik yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan danproduksi nilam adalah cekaman kekeringan. Sampai saat ini informasimengenai toleransi nilam terhadap kekeringan masih sangat terbatas.Untuk itu, sebuah penelitian pemanfaatan pupuk hayati mikoriza untukmeningkatkan toleransi kekeringan pada tanaman nilam dilakukan padakondisi rumah kaca di Balai Penelitian Bioteknologi dan SumberdayaGenetika Pertanian pada bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2003.Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang disusunsecara faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama 2 taraf aplikasi mikorisamasing-masing dengan dan tanpa mikoriza. Faktor kedua adalah 4 tarafcekaman kekeringan dengan tingkat pemberian air (KL) yang berbedamasing-masing (1) tanpa cekaman kekeringan (100% KL), (2) cekamankekeringan rendah (75% KL), (3) cekaman kekeringan sedang (50% KL),dan (4) cekaman kekeringan tinggi (25% KL). Aplikasi mikoriza dilakukan1 bulan setelah tanam (BST), sedangkan perlakuan cekaman kekeringandiberikan 2 BST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilam yang diberimikoriza mempunyai pertumbuhan yang lebih baik. Kekeringan menekanpartumbuhan dan hasil tanaman nilam secara linier. Sebaliknya, cekamankekeringan mampu meningkatkan kadar minyak dan patchouli alkoholdaun nilam. Interaksi antara kedua faktor yang diuji terjadi pada parameterpanjang akar total dan kadar prolina daun nilam. Keberadaan mikoriza didalam akar mampu meningkatkan toleransi terhadap cekaman kekeringan.Kandungan patchouli alkohol daun tertinggi dijumpai pada kombinasiperlakuan aplikasi mikoriza dengan cekaman kekeringan tinggi (25% KL).Kata kunci : Nilam, Pogostemon cablin Benth, mikoriza, cekamankekeringan, pertumbuhan, produktivitas, Jawa BaratABSTRACTUse of mycorhiza bio-fertilizer in increasing droughttolerance of patchouli plant (Pogostemon cablin Benth)Patchouli (Pogostemon cablin Benth) is a primary essential oil inIndonesia. More than 90 percent patchouli oil of the world is produced byIndonesia. Productivity and quality of patchouli oil are strongly affected bygenetic and environmental factors. One of abiotic environment which hasstrongly effected growth and productivity of patchouli is drought stress.The information on the tolerance of patchouli to drought stress is limited.For that purpose, an experiment of the effect of mycorhiza application anddrought stress treatments was conducted at a glass house condition inIndonesian Agricultural Biotechnology and Genetic Resources ResearchInstitute, from January to June 2003. A factorial experiment was arrangedin a completely randomized design (CRD) with three replication. The firstfactor was 2 mycorhiza treatments namely with and without mycorhizainoculation. The second factor were 4 drought stress treatments usingdifferent water application level (FC), i.e. (1) without drought stress (100%FC), (2) lowly drought stress (75% FC), (3) moderately drought stress(50% FC), and (4) highly drought stress (25% FC). Mycorhiza inoculationwas applied 1 month after planting (MAP). While drought stress treatmentswere applied at 2 MAP. The results of observation showed that theinoculation of mycorhiza improved growth performance. Drought stressreduced growth and production components linearly. On the contrary, thedrought stress was able to increase oil and patchouli alcohol contents in theleaf. The interaction between the two factors treatment was found on totalroot length and leaf proline content. The existing of mycorhiza inpatchouli root was able to increase drought stress tolerance. The highestpatchouli alcohol content of leaf was found at mycorhiza application andhighly drought stress (25% FC) combination treatment.Key words: Patchouli, Pogostemon cablin Benth, mycorhiza, droughtstress, growth, productivity, West Java
KETAHANAN BEBERAPA AKSESI KAPAS TERHADAP HAMA PENGISAP DAUN Amrasca biguttula (ISHIDA) I G.A.A. INDRAYANI; SIWI SUMARTINI; B. HELIYANTO B. HELIYANTO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n3.2007.81-87

Abstract

ABSTRAKAmrasca biguttula (Ishida) adalah serangga hama pengisap daunyang sangat potensial menurunkan produktivitas kapas. Pengendaliannyasecara kimiawi menimbulkan banyak masalah lingkungan, sepertipencemaran dan peningkatan resistensi hama terhadap insektisida kimiasintetis. Salah satu solusi dalam masalah tersebut adalah penggunaanvarietas tahan (resisten) yang juga merupakan bagian dari pengendalianhama terpadu (PHT) pada kapas. Penelitian ketahanan beberapa aksesikapas terhadap A. biguttula (Ishida) dilakukan di Kebun Percobaan BalaiPenelitian Tanaman Tembakau dan Serat di Asembagus, Situbondo, mulaiJanuari hingga Desember 2006. Tujuannya adalah untuk mengetahuiketahanan beberapa aksesi kapas terhadap serangan hama pengisap daun,A. biguttula. Sebagai perlakuan adalah 30 aksesi kapas yang ditanamdalam plot berukuran 10 m x 3 m, dengan jarak tanam 100 cm x 25 cm,satu tanaman per lobang. Setiap aksesi disusun dalam rancangan acakkelompok dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlahnimfa A. biguttula per daun, jumlah bulu daun per cm 2 luas daun, danposisi bulu terhadap lamina (tegak/rebah), serta skor kerusakan tanaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap aksesi kapas berpotensiterserang A. biguttula, meskipun tingkat populasi hama ini tidakmenunjukkan perbedaan nyata antar aksesi. Terjadi korelasi negatif (R 2 =0,2425) antara jumlah bulu daun dan populasi nimfa A. biguttula danantara jumlah bulu daun dan skor kerusakan tanaman (R 2 = 0,2027).Berdasarkan jumlah bulu daun, aksesi kapas yang termasuk kategorisedikit berbulu dengan kriteria ketahanan sedikit tahan adalah: AC 134,Stoneville 7, Fai Nai, SHR, CRDI-1, Kanesia 5, Kanesia 8, dan Kanesia 9.Sedangkan aksesi lainnya termasuk kategori tidak berbulu dan pekaterhadap serangan A. biguttula.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, aksesi, hama, Amrascabiguttula (Ishida), toleran, peka, kerusakan, Jawa TimurABSTRACTResistance of several cotton accessions to sucking insectpest, Amrasca biguttula (Ishida)Amrasca biguttula (Ishida) is a sucking insect pest which potentiallyreduces cotton productivity. Its chemical control often cause environ-mental problems mainly air pollution and increase of pest resistance tocertain chemical insecticides. One solution can be used to solve theseproblems is by using resistant variety that is also an integral part of theintegrated pest management (IPM). Study on the resistance of severalcotton accessions to sucking insect pest, Amrasca biguttula (Ishida) wasconducted at the Experimental Station of the Indonesian Tobacco andFiber Crops Research Institute (IToFCRI) in Asembagus, Situbondo, EastJava, from January to December 2006. The objective of the study was tofind out the resistance of cotton accessions to sucking insect pest. Thirtyaccessions of cotton were used as treatment and were planted in plots 10 mx 3 m with plant spacing 100 cm x 25 cm, one plant per hole. Eachaccession was arranged in a randomized block design with threereplications. Parameters observed were number of nymph of A. biguttula,number of leaf hair, leaf hairs position (erect or lie down), and score ofdamage. The result showed that every accession of cotton can be attackedby A. biguttula although the insect population was not significantlydifferent among accessions. There is negative correlation (R 2 = 0.2425)between number of leaf hair and population of A. biguttula and betweennumber of leaf hair and score of plant damage (R 2 = 0.2027). Accessionsthat categorized as lightly hairy and moderately resistant to A. biguttulawere AC 134, Stoneville 7, Fai Nai, SHR, CRDI-1, Kanesia 5, Kanesia 8,and Kanesia 9, while the others were categorized as glabrous andsusceptible to the sucking pest.Key words: Cotton, Gossypium hirsutum, accession, insect pest, Amrascabiguttula (Ishida), tolerant, sensitive, damage, East Jav
PENGARUH KERAPATAN TANAM GALUR HARAPAN KAPAS TERHADAP SISTEM TUMPANGSARI DENGAN JAGUNG PRIMA DIARINI RIAJAYA; FITRININGDYAH FITRININGDYAH; TRI KADARWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.67-72

Abstract

ABSTRAKPengaturan kerapatan tanam pada galur harapan kapas perludilakukan agar penggunaan sumberdaya lebih efisien dan tidakmengganggu tanaman palawija yang ditumpangsarikan. Pengaturantanaman dilakukan sedemikian rupa untuk memberikan ruang tumbuhyang lebih baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.Penelitian kerapatan tanam galur harapan kapas pada sistem tumpangsaridengan jagung dilakukan di lahan petani di Desa Pendem, KecamatanNgaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada lahan kering/tadahhujan dari bulan Desember 2002 hingga Mei 2003. Tujuan penelitianuntuk mendapatkan kerapatan tanam yang sesuai pada galur harapan kapaspada sistem tumpangsari dengan jagung. Percobaan disusun dalamrancangan petak terbagi dengan varietas sebagai petak utama dankerapatan tanaman sebagai anak petak yang diulang 3 kali dan 2 ulanganmonokultur kapas dan jagung. Sebagai petak utama adalah 3 varietas/galurkapas: 88003/16/2, 92016/6, dan Kanesia 7; dan anak petak terdiri daritiga kerapatan tanam : 2 : 2 (2 baris kapas dan 2 baris jagung); 2 : 3 (2baris kapas dan 3 baris jagung); dan 3 : 2 (3 baris kapas dan 2 barisjagung). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan tanam yangsesuai pada galur/varietas harapan kapas adalah kerapatan tanam 3 : 2 (3baris kapas dan dua baris jagung) dengan produksi kapas 1.563,9 kg/hadan jagung 3.840,7 kg/ha. Pada kerapatan tanam tersebut, populasi kapasadalah 32.566 tanaman/ha (81% dari populasi monokultur) dan jagung38.000 tanaman/ha (72% dari monokultur). Produktivitas kapas galur92016/6 mencapai 1.583,9 kg/ha dan nyata lebih tinggi dibanding galur88003/16/2 dan Kanesia 7 pada berbagai kerapatan tanam.Kata kunci :  Gossypium  hirsutum,  Zeamays,  kerapatan  tanaman,tumpangsariABSTRACTArrangement of crop densities for new cotton lines underintercropping system with maizeThe arrangement of crop densities for cotton new varieties/lines isneeded to improve the use of natural resources under intercropping systemwith maize. The field trial on different crop densities for new cotton linesunder intercropping system with maize was conducted in Grobogan,Central Java in rainy season 2002/2003. The purpose of the study was toinvestigate the optimum population for new cotton lines underintercropping with maize. The field experiment was arranged in a SplitPlot Design with three replications. Three new cotton lines/varieties wereallocated to main plots: 88003/16/2, 92016/6, and Kanesia 7. Three croparrangements were allocated to sub-plots: 2 : 2 [2 cotton rows and 2 rowsof maize]; 2 : 3 [ 2 cotton rows and 3 rows of maize] and 3:2 [ 3 cottonrows and 2 rows of maize]. Results showed that the crop arrangement forcotton and maize under intercropping system is 3 cotton rows and 2 rowsof maize, with cotton yield 1,563.9 kg/ha and maize 3,840.7 kg/ha. Cottonyield of 92016/6 is higher than those of 88003/16/2 and Kanesia 7 underthe all crop arrangement tested.Key words: Gossypium hirsutum, Zea mays, crop density, intercropping
PENGARUH SISTEM PENANAMAN TERHADAP PRODUKSI BENIH G0, G1, DAN G2 BEBERAPA VARIETAS TEBU UNGGUL HASIL KULTUR JARINGAN DEDEN SUKMADJAJA; MUHAMMAD SYAKIR
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n3.2014.130-141

Abstract

ABSTRAKPenyediaan benih tebu berdaya hasil tinggi memegang perananpenting  dalam  mendukung  pencapaian  program  swasembada  gula.Produksi benih tebu melalui teknologi kultur jaringan merupakan salahsatu alternatif untuk menyediakan benih bermutu secara masal denganwaktu yang cepat. Salah satu bagian penting dalam program produksibenih tebu adalah penanganan benih hasil kultur in vitro menjadi benihproduksi di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metodepenanaman benih primer (G0), sekunder (G1), dan komersial (G2) daribeberapa varietas tebu hasil kultur in vitro. Penelitian dilakukan di tigalokasi, yaitu Kebun Percobaan Cibinong-Bogor, Ngemplak-Pati, danKlari-Karawang. Percobaan terdiri atas tiga kegiatan: (1) pengaruh mediatumbuh terhadap pertumbuhan plantlet, (2) pengaruh jarak tanam terhadapproduksi benih G1, dan (3) pengaruh jarak tanam terhadap produksi benihG2. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Kelompok,dengan perlakuan pada percobaan pertama adalah media dan tempataklimatisasi, pada percobaan kedua dan ketiga berupa jarak tanam danvarietas. Parameter pengamatan meliputi persentase tumbuh, jumlahbatang per rumpun, jumlah buku, diameter batang, dan tinggi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan polibag dan pot tray merupakan cara terbaik untuk aklimatisasi tebu. Jarak tanam terbaik benihG0 dan G1 varietas PS864 dan SS-57 di KP Cibinong adalah 60 cm × 40cm yang dapat memproduksi budset G1 masing-masing 1,72 dan 1,93 jutaper ha dan benih G2 masing-masing 0,9 dan 1,01 juta per ha. Produksibudset G2 PS864 di Klari pada jarak tanam yang sama menghasilkan 1,94juta per ha, sedangkan produksi budset G2 varietas PS881 dan KidangKencana di KP Ngemplak masing-masing mencapai 2,02 dan 2,18 juta perha. Sementara itu, produksi terbanyak benih G2 varietas Bulu Lawang danPS862 di KP Ngemplak dihasilkan pada perlakuan jarak tanam 100 cm ×20 cm masing-masing sebanyak 2,44 dan 1,41 juta per ha. Produktivitasbenih tebu hasil kultur jaringan dipengaruhi oleh jarak tanam, lokasipenanaman, dan varietas tanaman.Kata kunci: tebu, benih unggul, kultur jaringan, jarak tanam, benih G0,G1, G2 
PEMANFAATAN LIMBAH SAGU SEBAGAI PENGENDALIAN GULMA PADA LADA PERDU MUHAMMAD SYAKIR; M.H. BINTORO; H. AGUSTA AGUSTA; HERMANTO HERMANTO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n3.2008.107-112

Abstract

ABSTRAKLimbah sagu di samping dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahanorganik juga potensial digunakan sebagai amelioran dan herbisida nabati.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh limbah sagu dan carapenyiangan gulma terhadap populasi gulma dan pertumbuhan ladaperdu. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP) Institut PertanianBogor (IPB) dan Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat danAromatik Balittro) dari bulan Mei 2003 sampai April 2004. Penelitianmenggunakan rancangan petak terbagi yang disusun secara faktorial. Carapenyiangan gulma (S) sebagai petak utama dan komposisi limbah sagu(L) sebagai anak petak. Susunan perlakuan sebagai berikut: S 1  =penyiangan bersih dan S 2 = penyiangan terbatas. Komposisi limbahsagu terdiri dari L 0 = tanpa bahan organik; L 1 = 100% limbah sagu, L 2= 100% limbah sagu, dekomposisi 1 bulan, L 3 = 100% limbah sagudekomposisi 2 bulan; L 4 = 75% limbah sagu + 25% kompos; L 5  = 75%limbah sagu + 25% kompos, dekomposisi 1 bulan; L 6 = 75% limbahsagu + 25% kompos, dekomposisi 2 bulan; L 7 = 50% limbah sagu +50% kompos; L 8 = 50% limbah sagu + 50% kompos, dekomposisi 1bulan; L 9 = 50% limbah sagu + 50% kompos, dekomposisi 2 bulan;L 10 = 25% limbah sagu + 75% kompos; L 11 = 25% limbah sagu + 75%kompos, dekomposisi 1 bulan; dan L 12 = 25% limbah sagu + 75%kompos, dekomposisi 2 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwakandungan limbah sagu 75% limbah sagu + 25% kompos dekomposisi2 bulan meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas lada perdu.Limbah sagu dengan 100% dalam bentuk segar dan dekomposisisampai 2 bulan efektif dalam menekan populasi gulma.Kata kunci: Limbah sagu, gulma, lada perduABSTRACTThe use of sago palm waste in controlling weed ondwarf pepperSago palm waste can be used as a source of organic matter;in addition, it can also be used as ameliorant and naturalherbicide. The objective of the research was to find out theeffect of sago palm waste and weeding method on the growth ofdwarf pepper and weed population. The research was conductedat the experimental garden of the Bogor Agriculture Institute andthe Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institutefrom May 2003 to April 2004. The research was arrangedfactorially in split-plot design. The main plot was weedingmethods (S) and a composition of sago palm waste (L) as the subplot. The treatments were as follows: S 1 = clean weeding and S 2= limited weeding. The composition of sago waste were Lo =non organic matter; L 1 = 100% sago waste; L 2 = 100% sagowaste of one month decomposition; L 3 = 100% sago waste of twomonths decomposition ; L 4 = 75% sago waste + 25% compost; L 5= 75% sago waste + 25% compost of one month decomposition;L 6 = 75% sago waste + 25% compost of two monthsdecomposition; L 7 = 50% sago waste + 50% compost; L 8 = 50%sago waste 50% compost of one month decomposition; L 9 = 50%sago waste + 50% compost of 2 months decomposition; L 10 =25% sago waste + 75% compost’ L 11 = 25% sago waste + 75%compost of one month decomposition; and L 12 = 25% sago waste+ 75% compost of two months decomposition. The result showedthat the composition of 75% sago waste + 25% compost of twomonths decomposition increase the growth and productivity ofdwarf pepper. The fresh (75 - 100%) sago palm waste of onemonth  decomposition  was  effective  in  decreasing  weedpopulation.Key words : Sago palm waste, weed, bushy black pepper

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue