cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PENGARUH PERBANDINGAN AIR KELAPA DAN PENAMBAHAN DAGING KELAPA MUDA SERTA LAMA PENYIMPANAN TERHADAP SERBUK MINUMAN KELAPA RINDENGAN BARLINA; STEIVIE KAROUW; RONALD HUTAPEA; JUNIATI TOWAHA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n2.2007.73-80

Abstract

ABSTRAKAir kelapa dan daging kelapa muda memiliki rasa dan aroma khas,namun kelezatannya tidak bisa dinikmati setiap saat oleh setiap orang,karena umur simpan kelapa muda terbatas dan sulitnya distribusi. Salahsatu cara yang dapat dilakukan untuk memperpanjang masa simpan danmempermudah distribusi adalah melalui proses pengeringan, misalnyadengan spray drier. Bahan pangan yang dikeringkan dengan spray drierharus berupa suspensi dan hasil akhir bentuk serbuk. Penelitian dilakukandengan mengeringkan campuran air kelapa dan daging buah kelapa mudadengan spray drier. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruhperbandingan antara air kelapa dan daging buah kelapa muda terhadapmutu serbuk minuman kelapa selama penyimpanan. Penelitian disusunsecara faktorial dalam rancangan acak lengkap. Faktor A, kematangan airkelapa : (A1) tua dan (A2) muda. Faktor B, penambahan daging kelapamuda : (B1) 15%, (B2) 20% dan (B3) 25%. Faktor C, lama penyimpanan:(C1) 0 bulan, (C2) 1 bulan, dan (C3) 2 bulan., (C4) 3 bulan dan (C5) 4bulan. Ulangan 2 kali. Pengamatan terdiri dari : kalium, serat pangan,warna, aroma dan rasa, total mikroba, pH, total padatan, total asam dankadar air. Hasil penelitian menunjukkan total padatan Serbuk MinumanKelapa (SMK) berkisar 7,59-9,50%, pH 4,94-5,35 dan total asam 25,85-43,90. Serat pangan 4,70-5,54%, kalium tertinggi pada air kelapa tuadengan penambahan daging kelapa muda 20%, yaitu 1.328,58 mg/100 g.Sedangkan kadar air 5,15- 7,84%. Warna 3,617-3,719 (biasa sampai suka);aroma 3,000 – 3,960 (biasa sampai suka), dan rasa manis 2,500-3,640(suka). Total mikroba SMK 3,72- 4,43 log CFU/g. Kematangan air kelapaberpengaruh terhadap kadar serat pangan. Penambahan daging kelapamuda berpengaruh terhadap kadar serat pangan dan warna. Lamapenyimpanan berpengaruh terhadap total padatan. Interaksi kematangan airkelapa, penambahan daging kelapa muda dan lama penyimpanan ber-pengaruh terhadap pH, total asam, aroma, rasa dan total mikroba.Berdasarkan skor rasa, kadar air, kalium, serat pangan dan total mikroba,maka SMK yang memiliki mutu baik dan berpotensi dikembangkan adalahformula air kelapa tua dengan penambahan 20% daging kelapa muda.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera, pengolahan, serbuk minuman,Sulawesi UtaraABSTRACTEffect of coconut water and young coconut kernel ratioand storage duration to the quality of coconut waterconcentrateCoconut water and young coconut kernel have unique flavor andodour. Since these products can not be kept longer and distributionproblem, so both of them are not available everywhere and anytime.Drying method with spray dryer equipment is a method to extend theproduct life product. Generally, spray dryer is used to make some foodproducts in powder form deriving from suspension. Raw materials used inthis experiment were coconut water from both of young and mature nutand young coconut kernel. The mixture was dried with spray dryer. Theobjective of this research was to find out the effect of coconut water andyoung coconut kernel ratio to the quality of coconut water concentrateduring storage. The experiment was arranged in factorial using completelyrandomized design with 2 replications. Factor A was maturity of coconutwater consist of (A1) young coconut water and (A2) mature coconutwater. Factor B was ratio of young coconut kernel and coconut water :(B1) 15%, (B2) 20%, (B3) 25%. Factor C was : storage duration consistof (C1) 0 month, (B2) 1 month, (B3) 2 months, (B4) 3 months and (B5) 4months. The variables were observed as follow : kalium content, fibercontent, colour, flavor, odour, total plate count, acidity, total soluble solid,total acid and water content. The results showed that coconut waterconcentrate had 7.59-9.50% of total soluble solid, acidity (pH) 4.94-5.35and total acid 25.85-43.90. By using 20% young coconut kernel in maturecoconut water obtained product with fiber content about 4.70-5.54% andhighest potassium content around 1,328.58 mg/100g. Score of organoleptictest as follow : colur is 3.617-3.719 (neither like nor dislike), odour is3.00-3.96 (neither like nor dislike to like) and flavor is sweet about 2.50-3.96 (like). Total plate count of coconut water concentrate is about 3.72-4.43 log CFU/g. Maturity of coconut water affected fiber content. Addingyoung coconut kernel affected total soluble solid. Whereas interaction ofcoconut water maturity, adding coconut kernel and storage durationaffected some variables like pH, total acid, odour, flavor and total platecount. Based on the results of flavour, moisture content, potassiumcontent, fiber content and total plate count showed coconut waterconcentrate had good quality. So it is potential to be developed. The bestformula is FORMULA E which was derived from mature coconut waterwith 20% young coconut kernel.Key words: Coconut, Cocos nucifera, processing, concentrate drink,North Sulawes
KINERJA PASAR PANDAN SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI ANYAMAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA B. SUDJARMOKO; D. LISTYATI; M. HERMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.73-77

Abstract

ABSTRAKTanaman pandan di Indonesia pada umumnya digunakan sebagaibahan baku untuk industri anyaman yang merupakan komoditas ekspor.Introduksi atau pengembangan tanaman pandan menjadi salah satualternatif pada daerah-daerah yang dominan mengguna-kan bahan bakupandan untuk kebutuhan industri, terutama industri anyaman danhandicraft. Untuk mengetahui kinerja pemasaran pandan maka pada bulanJuli-Agustus 2004 telah dilakukan penelitian di Kabupaten Tasikmalaya,Jawa Barat, sebagai sentra penghasil dan industri anyaman pandan diIndonesia. Petani responden dipilih secara acak, demikian pula pedagangpengumpul I, pedagang pengumpul II, dan produsen anyaman pandan.Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan sekunder berupa dataharga deret waktu (time series) dari berbagai sumber. Pendekatan yangdigunakan adalah model Structure - Conduct - Performance, denganpangsa petani dan transmisi harga sebagai indikator kinerja pasar. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani menggunakansaluran pemasaran I (89,25%) dan hanya 10,75% yang menggunakansaluran pemasaran II. Bagian harga yang diterima petani hanya 31,25%pada saluran I dan 37,50% pada saluran pemasaran II. Nilai elastisitastransmisi harga sebesar 0,5148 mengindikasikan bahwa perubahan hargapandan tidak seluruhnya ditransmisikan ke petani produsen. Kinerja pasaryang kurang baik ini terjadi karena struktur pasar yang kurang bersaingdan perilaku pasar yang menjadikan posisi tawar petani lemah berhadapandengan pedagang pengumpul.Kata kunci: Pandanus sp, struktur, perilaku, kinerja pasar, pangsapetani, elastisitas transmisi hargaABSTRACTMarket performance of pandanus as raw material ofhandicraft industry in TasikmalayaPandanus (Pandanus sp.) is the essential raw material of handicraftand potential export commodities. The research was carried out to study ofpandanus performance market. The study was conducted at Tasikmalaya,West Java, as main pandanus handicraft producer, on July-August 2004used survey method. Data collected consisted of primary and secondarydata (time series). The sampling method used was simple randomsampling for farmers, traders I, traders II, and pandanus handicraftproduct. Data analyzed was designed with Structure - Conduct –Performance or SCP model. Farmer share and price transmissionelasticity as main indicator and criteria of analysis. The results showedthat 89,25% farmers used marketing channel I, only 10,75% usedmarketing channel II. Farmers share were only 31,25% on marketingchannel I and 37,50% on marketing channel II. Price transmissionelasticity was 0,5148 indicated that pandanus market had asymmetricprices information. The bad pandanus performance market caused byimperfect market and market conduct while powerless bargaining positionof pandanus farmers.Key words: Pandanus sp., structure, conduct, performance, market,farmers share, prices transmission elasticity
KARAKTERISTIK NANOEMULSI MINYAK SAWIT MERAH YANG DIPERKAYA BETA KAROTEN SHANNORA YULIASARI; DEDI FARDIAZ; NURI ANDARWULAN; SRI YULIANI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n3.2014.111-121

Abstract

ABSTRAKMinyak sawit merah (Red palm oil/RPO) dan β-karoten tidak larutdalam air sehingga sulit diaplikasikan ke dalam produk pangan. Salah satupendekatan untuk meningkatkan kelarutan RPO dan β-karoten adalah emulsifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nanoemulsi RPOdiperkaya β-karoten yang stabil. Penelitian dilaksanakan di LaboratoriumSEAFAST CENTER IPB dari Januari–September 2013. Pada penelitiantahap pertama, nanoemulsi disiapkan melalui tahap-tahap: pengayaan RPOdengan β β-karotenmenggunakan HPH (High Pressure Homogenizer) pada tekanan 34,5 MPadengan 10 siklus. Rasio RPO dan air dalam emulsi adalah 5 : 95; 7,5 :92,5; dan 10 : 90 (b/b), dan persentase Tween 80 sebagai pengemulsiadalah 2,5; 5,0; 7,5; dan 10% (b/b) dari total emulsi. Pada tahap kedua,nanoemulsi disiapkan dengan persentase RPO: 2, 4, dan 6% (b/b) danpengemulsi 1,5; 3,0; dan 4,5% (b/b) dari total emulsi. Hasil penelitiantahap pertama menunjukkan nanoemulsi yang dibuat dengan rasio RPO :air = 5 : 95 dan 7,5 : 92,5 serta pengemulsi 5% (b/b) menghasilkan emulsidengan ukuran droplet 115,1 sampai 145,2 nm dan stabil. Nanoemulsiyang dihasilkan dari penelitian tahap kedua memiliki ukuran droplet 94,9sampai 125,5 nm, dan kadar β-karoten antara 47,6 sampai 130,9 mg/l.Ukuran droplet nanoemulsi yang kurang dari 125 nm dapat dihasilkandengan formula rasio RPO dan pengemulsi kurang dari 2,0.Kata kunci: minyak sawit merah, β-karoten, nanoemulsi, homogenizerABSTRACTRed palm oil (RPO) and β-carotene are insoluble in water. It makescan be used to improve RPO and βThis research is aimed to produce stable RPO nanoemulsion enriched withβ-carotene. The research was conducted in the SEAFAST CENTERLaboratory, Bogor Agriculture University from January to Septemberfollowing steps, i.e. enrichment of RPO with βusing a high pressure homogenizer at a pressure of 34.5 MPa in 10 cycles.The ratio of RPO and water in the mixture were 5 : 95; 7.5 : 92.5; and 10 :10% (w/w) of the total emulsions. In the second stage, nanoemulsionswere prepared on various RPO percentage of 2, 4, and 6% (w/w) andhad a droplet size from 115.1 to 145.2 nm and stable. Nanoemulsions wereresulting from the second stage had droplet size from 94.9 to 125.5 nm,and β-carotene content were 47.6 to 130.9 mg/l. Droplet size ofnanoemulsions is less than 125 nm. It can be produced with RPO andKey words: red palm oil, β-carotene, nanoemulsion, homogenizer
TEKNIK KONSERVASI UNTUK MENEKAN EROSI DAN PENYAKIT LINCAT PADA LAHAN TEMBAKAU TEMANGGUNG DJAJADI DJAJADI; MASTUR MASTUR; A.S. MURDIYATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n3.2008.101-106

Abstract

ABSTRAKMasalah utama pada budidaya tembakau temanggung adalah erosi yangmencapai 42,75 ton/ha dan serangan penyakit lincat yang dapat mematikantanaman sampai 80%. Untuk menekan erosi dan penyakit lincat tersebut telahdilakukan penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2002 di Desa Glapansari,Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung. Tujuannya adalah untukmengetahui pengaruh penerapan teknik konservasi lahan yang dikombinasikandengan pengendalian penyakit lincat terhadap erosi, kadar unsur hara tanahtererosi, sifat fisik tanah, populasi patogen, persentase kematian tanaman, sertahasil tembakau. Perlakuan yang diuji adalah teknologi konservasi lahan yangmeliputi penanaman rumput setaria pada bibir saluran pemotong lahan selebar4 m, dan tanaman flemingia pada bidang vertikal saluran pemotong setinggi 0,5m, serta pembuatan rorak di dasar saluran pemotong lahan yang mempunyaikemiringan 43%. Perlakuan tersebut dikombinasikan dengan teknologipengendalian penyakit “lincat”, yaitu penanaman galur tahan (BC3-C51),pemberian mikrobia antagonis A. fumigatus, penyemprotan dan pemberianpestisida kimiawi. Mikrobia antagonis dan pestisida kimia disemprotkan padalubang tanam sehari sebelum tembakau ditanam. Penanaman bibit rumputsetaria dan flemingia serta pembuatan rorak dilakukan pada tahun 2000, yaitudua bulan sebelum penanaman tembakau musim tanam tahun 2000. Rancanganyang digunakan adalah rancangan acak kelompok yang diulang 6 kali. Disetiap petak perlakuan yang berukuran 22 m x 4 m dipasang sebanyak dua unitbak penampung erosi, yaitu 1 unit bak penampung erosi untuk perlakuankontrol dan 1 unit untuk perlakuan teknik konservasi yang diletakkan di tengahpetak bagian bawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknikkonservasi pada lahan tembakau temanggung dapat menekan besarnya erosidari 30,22 menjadi 16,67 ton/ha/thn atau sebesar 44,84%. Penyemprotanmikrobia antagonis pada lahan dengan teknik konservasi dapat menekanperkembangan populasi patogen lincat dan mengurangi persentase kematiantanaman tembakau. Hasil tembakau yang ditanam pada lahan dengan teknikkonservasi dan aplikasi pengendalian penyakit “lincat” ternyata lebih tinggi42% dibanding hasil tembakau yang ditanam pada lahan kontrol.Kata kunci : Konservasi lahan, erosi, tembakau temanggung, penyakit lincatABSTRACTSoil conservation technique to reduce erosion and soilpathogens of temanggung tobacco landMostly area cropping of temanggung tobacco is located in hilly land, sothat erosion and accumulation of disease are the main problems. To minimizeerosion and disease attacks, research had been done in Glapansari Village,Parakan District, Temanggung in 2002 at site with slope of 43%. The aim wasto know the effect of soil conservation which was combined with soil diseasecontrol techniques on soil erosion, eroded soil element, soil physics, soilpathogens population, percentage of dead tobacco plant, and tobacco yield.The treatments are soil conservation technique, planting of setaria grass andflemingia in ridge terrace and digging of ditch pitch on the base of ridgeterrace. All of the treatments was established in 2000. The soil conservationtreatments were combined with application of antagonistic microbes (A.fumigatus) and cropping of resistant tobacco line (BC3-C51). RandomizedBlock Design with 6 replicates was used in this research. In each treatment of22 m x 4 m plots, two units soil erosion collector were set, one unit was forcontrol treatment (without soil conservation and soil disease control techniquesor local farmer technology treatment) and the other for soil conservationtechniques. Results showed that soil conservation technique reduced soilerosion from 30.22 to 16.67 tones/ha/year or 44.84%. Tobacco land that wastreated with soil conservation and soil pathogen control techniques had less soilpathogen population and death tobacco plant than tobacco land withouttreatments (control). Tobacco yield planted in land with soil conservation washigher 42% than that planted in control land.Key words : Soil conservation, erosion, temanggung tobacco, soil pathogen
BIOSINTESIS MENTHOL PADA BERBAGAI PERIODE PENCAHAYAAN TANAMAN MENTHA (Mentha piperita L.) ROSIHAN ROSMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n1.2007.8-13

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji mekanisme sintesis mentholpada berbagai periode pencahayaan tanaman M. piperita L. Penelitiandilakukan di Instalasi Penelitian Balai Penelitian Tanaman Obat danAromatik, Lembang, Jawa Barat, dari bulan Januari 2000 hingga Juli 2000.Penelitian dilakukan tiga tahap. Tahap pertama membuat variasilingkungan cahaya, tahap kedua penyulingan dan analisis komponenminyak dengan kromatografi gas spektrometer massa dan tahap ketigamerunut lintasan biosintesis menthol. Penelitian menggunakan rancanganacak kelompok 5 perlakuan, yaitu L 0 (panjang hari normal sebagaikontrol), L 1 (pemutusan periode gelap 1 jam, pukul 21.00-22.00 mulaiumur 30 hari), L 2  (pemutusan periode gelap 1 jam, pukul 21.00-22.00mulai umur 60 hari), L 3 (penambahan cahaya 4 jam, pukul 18.00-22.00mulai umur 30 hari), dan L 4 (penambahan cahaya 4 jam, pukul 18.00-22.00 mulai umur 60 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwaperubahan lingkungan mempengaruhi mekanisme sintesis menthol didalam tanaman Mentha piperita L. Perubahan lingkungan mengubahlintasan menthol yang selanjutnya mengubah komponen minyak dan mutumenthol. Tingginya kadar menthol dan rendahnya menthofuran padapenambahan cahaya 4 jam terjadi melalui penghambatan pembentukansenyawa menthofuran dengan mereduksi pulegon menjadi menthol,sehingga menthol meningkat, sedangkan pada perlakuan kontrol terjadioksidasi pulegon ke menthofuran sehingga menthol rendah. Penambahancahaya 4 jam mulai umur 30 hari setelah tanam menghasilkan minyakdengan kadar menthol paling tinggi yaitu 54,89% dan menthofuran palingrendah yaitu 7,83%.Kata kunci :  Mentha, Mentha piperita L., periode pencahayaan, hasil,komposisi minyak, Jawa BaratABSTRACTThe effect of photoperiod on menthol sysnthesis ofMentha piperita L.Research on the effect of photoperiod on menthol synthesis ofMentha piperita L, was carried out at the Experimental Garden of InstituteReseach for Medicinal and Aromatic Crops, Lembang, West Java, fromJanuary until July, 2000. The objective is to study the machanism ofmenthol synthesis in relation with the manipulation of light periode, threesteps were taken: The first step was manipulation of environment using TLlamps (two experiments), the second step was distillation and analisis ofpeppermint oil from their products with gas chromatography and massspectrometry, and the third step was tracing the pathway on mentholbiosynthesis. At the first experiment, 5 treatments were given i.e. (1)control or normal light period, (2) four hours light supplement at the age of30 days and 60 days after planting, and (3) one hour interruption of darkperiod at the age of 30 days and 60 days. The result showed that the effectof light period manipulation can change the pathway of mentholbiosynthesis and oil component and finally the quality of menthol. Fourhours light supplement at the age of 30 days after planting could enhancethe menthol content and reduce menthofuran by blocking the reaction frompulegone to menthofuran, so the pulegone was reduced into menthon andmenthol. Four hours light supplement at 30 days after planting showed thehighest menthol content (54.89%) and the lowest menthofuran (7.83%).Control treatment (normal light period) showed the lowest mentholcontent, due to no reduction of pulegone into menthon, but pulegone wasoxidized into menthofuran. Without additional light the menthol contentdecreased and the menthofuran content increased.Key words : Mentha, Mentha piperita L., oil composition, photoperiod,yield, West Java
POLA PERTUMBUHAN DAN SERAPAN HARA N, P, K TANAMAN BANGLE (Zingiber purpureum Roxb.) ROSITA SMD; MONO RAHARDJO; KOSASIH KOSASIH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n1.2005.32-36

Abstract

ABSTRAKKomoditas bangle belum banyak diteliti termasuk masalahteknologi budidayanya. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari polapertumbuhan dan serapan hara N, P dan K sebagai petunjuk untukpengelolaan kebutuhan hara khususnya N, P, dan K pada budidaya bangle.Penelitian dilaksanakan di lahan petani di Bogor pada bulan Mei 2001sampai Maret 2002. Jenis tanah Latosol dengan ketinggian tempat 250 mdi atas permukaan laut (dpl). Bahan tanaman yang digunakan adalahaksesi unggulan diperoleh dari Jawa Tengah. Pupuk dasar yang digunakanadalah urea 250 kg/ha, SP36 250 kg/ha dan KCl 250 kg/ha serta 20 ton/hapupuk kandang. Ukuran petak 6 x 1,5 m, jarak tanam 50 x 40 cm.Pengamatan pola pertumbuhan dan serapan hara dilakukan pada beberapatingkat umur panen (2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 bulan setelah tanam).Setiap pengamatan terdiri atas 6 contoh tanaman. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pola pertumbuhan tanaman (tinggi, jumlah anakan,jumlah daun, jumlah akar, bobot kering tanaman) semakin meningkatdengan bertambahnya umur tanaman. Produksi minyak atsiri bangle padaumur 10 bulan setelah tanam mencapai 12.10 ml per tanaman. Untukmenghasilkan biomas sebanyak 701,0 g per tanaman dengan hasilsimplisia kering 417,97 g per tanaman, diperlukan serapan hara sebanyak8,48 g N, 1,72 g P, dan 4,02 g K per tanaman. Hara N, P dan Kterakumulasi lebih besar pada rimpang dibandingkan dengan tajuk danakar.Kata kunci : Bangle, Zingiber purpureum Roxb, pola pertumbuhan, lajupertumbuhan, hara tanamanABSTRACTGrowth pattern and nutrient uptake of N, P and K onpurple ginger (Zingiber purpureum Roxb)One of the problems in cultivation of purple ginger (Zingiberpurpureum Roxb) is limited cultivation technology. Therefore, the studyon its growth pattern and nutrient uptake of N, P, and K is very importantto support its cultivation technology. The objective of the research was tofind out data of growth pattern, growth rate, nutrient uptake, and simplisiaquality. Field trial was conducted in farmers land in Bogor from May 2001to March 2002. The soil is latosol and the altitude is 250 m asl. Plot sizewas 6 x 1,5m, and plant spacing was 50 x 40 cm. Observation on thegrowth pattern and nutrient uptake were carried out at different ages of : 2,3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, and 10 months after planting. Six samples were taken atevery growth stage of the plant. The results showed that the growth rateand the nutrient uptake of N, P, and K linearly increased, in line with theincrease of plant ages. Yield of essential oil at 10 MAP was 12.10 ml/plant. The amount of dry weight accumulation was 701.0 g/plant, to produce417.97 g simplisia/plant needed nutrient uptake of N, P and K, respectivelywas 8.48, 1.72 and 4.02 g/plant.Key words : Purple ginger, Zingiber purpureum Roxb, growth pattern,growth rate, plant nutrient
MULTIPLIKASI TUNAS DAN AKLIMATISASI PEGAGAN (Centella asiatica L.) PERIODE KULTUR LIMA TAHUN NATALINI NOVA KRISTINA; DEDI SURACHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n1.2008.30-35

Abstract

ABSTRAKPegagan (Centella asiatica L.) adalah tanaman obat yangmengandung zat asiaticotik sebagai obat alzaimer dan penghalus kulit.Tanaman ini telah diperbanyak sejak tahun 2000. Penelitian dilakukan diLaboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Kelompok PenelitiPlasma Nutfah dan Pemuliaan, Balai Penelitian Tanaman Obat danAromatik, Bogor dari bulan Januari 2000 sampai dengan Juni 2005.Penelitian ini bertujuan untuk melihat daya multiplikasi tunas setiapperiode subkultur dimulai dari tahun kedua sampai periode lima tahun.Media yang digunakan adalah MS + BA 0,1 mg/l. Pengamatan dilakukanpada jumlah tunas, jumlah daun dan visual tunas pada umur 2, 3, 4 dan 5tahun pada dua periode subkultur setiap tahunnya. Penelitian disusundengan rancangan acak lengkap, masing-masing terdiri atas 10 botol yangmerupakan ulangan dan setiap botol terdiri atas 1 eksplan. Untuk re-mediaterhadap tanaman yang terlihat berubah digunakan media MS + BA (0;0,1; 0,2; 0,3) mg/l. Selanjutnya untuk perakaran dilakukan pada media MS+ IAA (0,1 dan 0,2); MS + NAA (0,1 dan 0,2) mg/l serta MS + IBA (0,1dan 0,2) mg/l. Plantlet utuh yang terbentuk selanjutnya diaklimatisasi padamedia tanah + pupuk kandang dan tanah + sekam dengan perbandingan 1 :1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya multiplikasi tunas optimumterjadi pada tahun ketiga, dan memasuki tahun keempat dan kelimamenurun yang diiringi dengan perubahan eksplan yang terlihat padatangkai daun yang terbentuk. Akar terpanjang dan terbanyak yangterbentuk didapat pada media IAA 0,2 mg/l dengan penampilan yangkurus dan rapuh. Keberhasilan aklimatisasi sangat rendah, tetapi plantletmampu beregenerasi dengan baik dan terlihat tumbuh normal. Dari hasilperbanyakan terlihat bahwa jumlah anakan, jumlah daun, panjang stolondan jumlah bunga lebih tinggi dibandingkan yang tumbuh pada mediasekam, berturut-turut : 6,77; 7,30; 46,50 cm dan 8,31. Sementara padamedia sekam komponen yang dominan adalah panjang tangkai daun yakni9,75 cm.Kata kunci : Pegagan, Centella asiatica L., multiplikasi, tunas, aklima-tisasi, penyimpanan, Jawa BaratABSRACTShoot multiplication and acclimatization of gotuloca(Centella asiatica L.) five years after conservation by invitro cultureGotuloca (Centella asiatica L.) is a medicinal crop containingasiaticotic as alzaimer and skin revitalizer. This crop has beenmultiplicated in vitro since 2000. This research was carried out in thelaboratory and glasshouse of Breeding and Germplasm Group in theIndonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute (IMACRI)from January 2000 to June 2005. The objective of the research was to findout the viability of shoots multiplication after two year to five year period,with media MS + BA 0.1 mg/l. The parameters observed were the numberof shoots, the number of leaves at the age 2, 3, 4 and 5 years from twosubculture periods every year. The treatments were arranged in acompletely randomized design, each replication consisted of 10 bottles andeach bottle consisted of 1 explant. After subculture the ex-plant were re-media in medium MS + BA (0; 0,1; 0,2; 0,3) mg/l. The rooting mediabefore glasshouse were : MS + IAA ( 0,1 and 0,2); MS + NAA ( 0,1 and0,2) mg/l; and MS + IBA ( 0,1 and 0,2) mg/l. The plantlets formed wereacclimatized using soil + cattle manure and soil + rice husk withcomparison 1:1. Research result indicated that the optimum viabilitymultiplication was achieved in the third year, and it decreased after thefourth and fifth years with change in explant forming the petiole. Thelongest and plantlet roots were formed through media IAA 0.2 mg/l withbrittle and thin appearance, but the plantlets were able to regenerate betterand grow normal. The acclimatization was not very successful but theplantlets could regenerate and grew normally. The multiplication showedthat the number of stumps, leaves, stolons and flowers were : 6,77; 7,30;46,50 cm and 8,31 respectively. In rice husk media the dominantcomponent was pedicle length 9,75 cm.Key words : Gotuloca, Centella asiatica L., multiplication, shoot,acclimatization, conservation, East Jav
PERANAN FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP POPULASI Helopeltis spp. dan Sanurus indecora PADA JAMBU METE ELNA KARMAWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n4.2006.129-134

Abstract

ABSTRAKUntuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap tingkatserangan serangga hama utama pada pertanaman jambu mete telahdilakukan penelitian di Kabupaten Lombok Barat. Pengamatan padatanaman contoh telah dilaksanakan selama musim kemarau dan musimhujan dari bulan Juni 2004 sampai dengan Maret 2005 di dua tempat yangberbeda keadaannya yaitu Desa Tanah Sebang dan Sambik Jengkel.Keduanya terletak di Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Barat.Dari masing-masing lokasi diamati 40 tanaman contoh secara acak, 20 daripertanaman monokultur dan 20 dari pola tanam campuran jambu metedengan tanaman lainnya. Variabel yang diamati adalah (a) populasiHelopeltis spp. per tanaman, (b) populasi Sanurus indecora per tanaman,(c) banyaknya pucuk terserang Helopeltis spp., (d) banyaknya pucukterserang S. indecora, (e) banyaknya koloni semut per pohon, (f)persentase telur yang terparasit, (g) suhu, kelembaban dan curah hujanharian, (h) jenis tanaman sela yang menjadi tanaman inang alternatif hama,(i) banyaknya musuh/gulma di sekeliling tanaman, (j) jumlah bungahermaprodit dan buah jadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitasserangan dan populasi Helopeltis spp. dan S. indecora jambu meteberbeda antara musim kemarau dan musim hujan. Pada musim kemarau,hanya sisa-sisa serangan Helopeltis spp. pada pucuk yang kelihatan,populasi tidak ditemukan. Populasi S. indecora selalu ada selama musimkemarau. Pada musim hujan yaitu bulan Januari sampai Maret, pucukmulai muncul, populasi dan serangan Helopeltis spp. mulai kelihatan.Tingkat serangan kedua hama tersebut berbeda antara lokasi Tanah Sebangdan Sambik Jengkel. Di Tanah Sebang, persentase pucuk yang diserang S.indecora (23,1%) lebih tinggi dibandingkan dengan pucuk yang diserangHelopeltis (3,8-7,4%), sedang di Sambik Jengkel persentase pucuk yangdiserang Helopeltis spp (43,8-54,6%) lebih tinggi dibandingkan dengan S.indecora (11,5-22,3%). Faktor utama yang memegang peranan adalahtanaman inang alternatif yang berada pada pola tanam campuran, iklimmikro (suhu, kelembaban dan radiasi matahari) serta interaksi antara S.indecora, Helopeltis spp. dan semut predator.Kata kunci : Jambu mete, Anacardium occidentale, faktor lingkungan,Helopeltis spp., Sanurus indecora, populasi, Nusa TenggaraBaratABSTRACTRole of environment factors on the population ofHelopeltis Spp. and Sanurus indecora on cashewplantationAn experiment to find out the effect of environment factors on theattack of insect pests on cashew plantation was carried out in WestLombok District, West Nusa Tenggara Province. The experiment wasconducted in hot and rainy seasons from June 2004 to March 2005 in twolocations : Tanah Sebang and Sambik Jengkel. These were located in thesame district (Kecamatan Kayangan, West Lombok District). In 40 sampleplants were observed : 20 from monoculture and 20 from polyculture(mixed cropping). The variables observed were (a) Helopeltis populationper plant (b) S. indecora population per plant, (c) number of shootsattacked by Helopeltis, (d) number of shoots attacked by. S. indecora, (e)number of ant colonies per plant, (f) percentage of eggs parasitoid, (g)temperature, relative humidity, daily raindrops, (h) type of intercrops asalternative hosts, (i) litters or weeds surrounding the plantation, (j) numberof hermaphrodite flowers and fruits. The research result showed that thepopulation and damage intensity were different between hot and rainyseasons. In dry season, only the symptom of Helopeltis damage was seen.The population S. indecora always existed during the dry season. In therainy season from January to March, shoots started to appear, also thepopulation of Helopeltis. The injury level was different between those twoinsects. At Tanah Sebang the shoots attacked by S. indecora was 23.1%higher than that of Helopeltis (3.8-7.4%), while in Sambik Jengkel, theshoots attacked by Helopeltis was (43.8-54.6%) higher than that of S.indecora (11.5-22.3%). The main factors played roles in the environmentwere alternate hosts, micro climate and interaction between S. indecora,Helopeltis spp. and predator ants.Key words: Cashew, Anacardium occidentale, environment factorsHelopeltis spp., Sanurus indecora, population, West NusaTenggara
PEMBUATAN SERBUK PALA (Myristicafragrans Houtt) INSTAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PENGERING SEMPROT NURDJANNAH, NANAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n4.2005.159-170

Abstract

ABSTRAKProduk utama dari buah pala (Myristicafragrans Houtt) adalah bijipala (tua dan muda) dan fuli. Daging buah pala merupakan bagian terbesardari buah pala (83,3%) tetapi sampai sekarang masih sedikit sekali yangdimanfaatkan di antaranya untuk manisan. Kemungkinan lain peman-faatannya adalah dengan mengolahnya menjadi minuman dalam bentukserbuk pala instan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatanserbuk pala instan dengan menggunakan alat pengering semprot (spraydryer) dengan dekstrin dan maltodekstrin sebagai bahan pengisi. Penelitianterdiri dari penelitian pcndahuluan dan penelitian lanjutan. Penelitianpendahuluan bertujuan untuk mencari temperatur inlet optimum pengeringsemprot untuk memperoleh serbuk instan pala, perbandingan buah paladan air dalam pembuatan sari buah pala, perbandingan sari buah pala dansirup glukosa dalam pembuatan sirup pala serta jenis dan konsentrasibahan pengisi yang akan digunakan pada penelitian lanjutan. Dari hasilpenelitian pendahuluan diperoleh temperatur inlet optimum dari pengeringsemprot adalah 180°C. Perbandingan daging buah pala dan air untukpembuatan sari buah pala adalah 1:1 (b/b). Perbandingan sari buah paladengan sirup glukosa untuk pembuatan sirup pala adalah 1 : 1 (b/b).Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, perlakuan yang dicobakan padapenelitian utama terdiri dari jenis bahan pengisi (Al = dekstrin, A2 =maltodekstrin) dan konsentrasi bahan pengisi ( Bl= 5%, B2=10%,B3=15%). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acakkelompok dengan ulangan 3 kali. Parameter yang diamati adalah rendemendan karakteristik dari serbuk pala instan yang terdiri dari kadar air, kadarabu, kadar total asam tertitrasi, pH, kadar vitamin c dan kelarutan. Untukmenentukan tingkat kesukaan konsumen terhadap serbuk pala instandilakukan uji organoleptik terhadap 20 panelis. Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa jenis dan konsentrasi bahan pengisi berpengaruh terhadapkarakteristik dari serbuk pala instan serta derajat kesukaan dari panelisterhadap serbuk pala instan tersebut. Perlakuan terbaik yang dipilihberdasarkan tingginya rendemen dan karakteristik dari serbuk pala instanserta tingkat kesukaan dari panelis, yaitu dekstrin sebagai bahan pengisipada tingkat konsentrasi 15% pada kondisi proses pengering semprot dankondisi pembuatan sirup seperti di atas.Kata kunci: Pala, Miristicafragrans Houtt, prosesing, buah pala, serbukinstan, dekstrin, maltodekstrin, spray dryer, Bogor, JawaBaratABSTRACTInstant nutmeg (Myristica fragrance Houtt) powderformulation using spray dryerThe main product of nutmeg (Myristicafragrans Houtt) are nutmegseed (mature and immature) and fuly. The meat is the biggest part ofnutmeg fruit (about 83.3%) only small portion is used for sweet products.The other opportunity is to process it for instant powder beverage. Theobjective of this experiment was to formulate the instant nutmeg powderusing spray dryer with dextrin and maltodextrin as the filler substances.The activity consisted of preliminary and main experiments. The aim ofthe preliminary experiment was to find out that the optimum inlettemperature of spray drying process to get nutmeg instant powder, theratio of nutmeg and water to make nutmeg juice, the ratio of nutmeg juiceand glucose syrup to make nutmeg syrup, type and concentration of fillersubtances which would be used in the main experiment. From thepreliminary experiment it was found out that the optimum inlettemperature was 180°C . The ratio of nutmeg shell and water to makenutmeg juice was 1:1 (w/w). The ratio of nutmeg juice and glucose syrupto make nutmeg syrup was 1:1 (w/w). Based on the preliminaryexperiment, the treatments applied in the main experiment were type offiller substances (Al = dextrin and A2 = maltodextrin) and concentrationof filler subtances (Bl = 5%, B2= 10% and B3 = 15%). The experimentused randomized block design with three replications. The parametersobserved were yield, water content, ash content, vitamin C content, pH andsolubility. To find out the consumer preference the organoleptic test wasdone to 20 panels. The result of the experiment showed that type andconcentration of filler subtances and also replication influenced thecharacteristic of the instant nutmeg powder produced as well as theconsumer preference. Based on the high yield of the instant nutmegpowder, its characteristics and consumer preference, the best treatmentwas dextrin as the filler substance with 15% concentration.Key words : Nutmeg, Myristica fragrans Houtt, processing, nutmegfruit, instant powder, dextrin, maltodextrin, spray dryer,Bogor, West Java
PENGARUH AUKSIN IBA DAN NAA TERHADAP INDUKSI PERAKARAN INGGU SITTI FATIMAH SYAHID; NATALINI NOVA KRISTINA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n3.2014.122-129

Abstract

ABSTRAK Inggu (Ruta graveolens L.) merupakan salah satu tanaman obat langka di Indonesia yang perlu dilestarikan. Upaya konservasi tanaman inggu telah dilakukan secara in vitro di laboratorium Balittro selama 17 tahun pada kultur tunas. Untuk mengobservasi kestabilan genetik perlu dilakukan induksi perakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh auksin IBA dan NAA terhadap induksi perakaran inggu secara in vitro. Bahan tanaman yang digunakan adalah tunas steril inggu in vitro yang telah berumur 17 tahun, yang ditanam pada media dasar Murashige dan Skoog (MS) setengah konsentrasi (½ MS) yang diperkaya vitamin dari group B. Perlakuan yang diuji adalah beberapa taraf konsentrasi auksin IBA dan NAA (0; 0,001; 0,002; dan 0,003 mg/l). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima ulangan. Setiap ulangan terdiri dari lima botol yang berisi dua tanaman. Parameter yang diamati adalah jumlah, panjang, dan bentuk akar, serta jumlah tunas dan penampilan kultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media ½ MS yang diperkaya NAA pada konsentrasi rendah 0,001 mg/l menghasilkan jumlah akar terbanyak, yaitu 13,6 akar. Perlakuan ini juga menghasilkan banyak bulu-bulu akar yang menandakan akar yang sehat. Kata kunci: Ruta graveolens L., IBA, NAA, induksi perakaran, in vitro  The Effect of Auxin IBA and NAA to In Vitro Rooting Induction of Roe (Ruta graveolens L.)  ABSTRACTRoe (Ruta graveolens L.) is one of the Indonesian rare medicinal plants. An attempt to conserve roe, has been conducted through in vitro culture of sterile shoots at the laboratory of the Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institut (ISMCRI) for 17 years. To observe the genetic stability of culture following in vitro conservation for a long period, the collection must be tested in greenhouse and field. Therefore, it is necessary to induce rooting. The aim of the experiment was to observe the effect of IBA and NAA auxin to root induction of roe. The sterile shoots were used as material. They were planted on half-concentration (½ MS) on Murashige and Skoog (MS) medium, enriched with vitamin from group B. The experiment was arranged in a completely randomized design with five replications. Each replication consist of five bottles with two plants. The treatment tested were several concentrations of IBA and NAA (0; 0.001; 0.002; and 0.003 mg/l). The parameters observed were number, lenght, shape, and length of roots, and also the number of shoots and culture performance. The result showed that the use of ½ MS + NAA0.001 mg/l produced the highest number of roots  (13.6 roots). This treatment also produced a lot of root hairs which indicates a healthy roots. Key words: Ruta graveolens L., IBA, NAA, roots induction, in vitro

Page 10 of 56 | Total Record : 552


Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue