cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PENGARUH MACAM SETEK DAN MEDIA TUMBUH TERHADAP VIGOR BIBIT KEMUKUS (Piper cubeba LINN) ENDJO DJAUHARIYA; MONO RAHARDJO; AGUS SUDIMAN; SUKARMAN SUKARMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n2.2006.67-72

Abstract

ABSTRAKTanaman kemukus (Piper cubeba LINN.) sudah dikenal sejakjaman dahulu sebagai tanaman obat, rempah, pengharum dan penyedapmasakan. Di Jawa Tengah perbanyakan tanaman kemukus pada umumnyadilakukan melalui setek panjang yang terdiri dari 8 - 14 ruas. Perbanyakandengan cara demikian dianggap tidak ekonomis, oleh karena itu perludicari cara perbanyakan yang efisien dan efektif. Percobaan pengaruhmacam setek dan komposisi media tumbuh terhadap daya tumbuh danvigor bibit dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan teknologiperbanyakan kemukus. Percobaan dilakukan di Kebun PercobaanCimanggu, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor dari bulanSeptember sampai dengan Desember 2003. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial dengan 2 faktordan 3 ulangan. Sebagai faktor pertama adalah 3 macam setek pendek 3ruas yaitu : (1) setek bertapak, (2) setek sulur panjat dan (3) setek cabangbuah. Faktor kedua adalah tiga perlakuan komposisi media tumbuh terdiridari (tanah + pupuk kandang + pasir) dengan perbandingan: (a) 1:1:1, (b)2:1:1, dan (c) 3:1:1. Media dimasukkan ke dalam polibag ukuran 10 x 12cm. Variabel yang diamati meliputi persentase daya tumbuh, panjangtunas, jumlah daun, bobot kering tunas, jumlah akar, panjang akar danbobot kering akar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa vigor bibit yangdiekspresikan oleh persentase daya tumbuh, pertumbuhan tunas dan akartidak nyata dipengaruhi oleh interaksi jenis setek dan komposisi mediatumbuh. Jenis setek berpangaruh nyata terhadap semua variabel yangdiamati, kecuali terhadap jumlah daun. Jenis setek yang berasal dari setekbertapak dan sulur panjat manghasilkan persentase daya tumbuh 68,40%dan 62,00%, panjang tunas 2,87 cm dan 4,70 cm, bobot kering tunas 0,13g dan 0,14 g, jumlah akar 5,95 dan 5,76 dan bobot kering akar 0,05 g dan0.05 g, lebih baik dibandingkan setek cabang buah. Jenis media tumbuhhanya berpengaruh nyata terhadap bobot kering tunas tapi tidakberpengruh nyata terhadap variabel lainnya. Bobot kering tunas yangterbaik didapat pada komposisi media tumbuh tanah + pupuk kandang +pasir (1 : 1 : 1) (0,14 g) dan terendah pada komposisi media tumbuh tanah+ pupuk kandang + pasir (3 : 1 : 1) (0.11 g).Kata kunci : Kemukus, Piper cubeba LINN, bahan tanaman, macamsetek, media tumbuh, daya tumbuh, Jawa BaratABSTRACTEffect of cutting materials and growth media on thegrowth of cubeba cuttingsIn Indonesia, cubeba pepper plant (Piper cubeba LINN) has beenknown for years as a traditional medicine, spice, fragrant, and seasonings.In Central of Java, it is usually propagated by using eight or fourteen nodecuttings which is not an economical practice. The research on cuttingmaterials and growth media was conducted in Cimanggu ExperimentalGarden of the Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institutefrom September to December 2003. The objective of the research was tofind out an appropriate propagation technology of cubeba. The researchused two factors and three replications which was arranged in arandomized completely block design. The first factor was three kinds ofcutting nodes, i.e. (1) attached-rooted cuttings (2) vegetative branch and(3) generative branch. The second factor was three kinds of mediacompositions of soil, dung manure and sand (1) 1:1:1, (2) 2:1:1 and (3)3:1:1. Observations were conducted on the percentage of budding, lengthof bud, number of leaves, number of roots, length of root, dry weight ofthe roots, and the shoot. The results of the research indicated that the vigorof seedlings which was expressed by germination percentage, growth ofseedlings, and growth of root, did not significantly affected by theinteraction between kinds of cuttings and media composition. However,the kinds of cuttings significantly affected all variables, except the numberof leaves. Cubeba seedlings originated from attached-rooted cuttings andvegetative branch had higher germination percentage i.e. 68.40% and62.00%, length of shoot 2.87 cm and 4.70 cm, dry weight of shoot 0.13 gand 0.14 g, number of roots 5.95 and 5.76, length of root 7.32 cm and 7.27cm, and dry weight of root 0.05 g and 0.05 g, compared to the cubebaseedlings originated from generative branch. Media composition wassignificantly effected only on dry weight of shoots. The highest dry weightof shoot was resulted from composition of soil, dung manure and sand1:1;1 (0.14 g), while the lowest was found on ratio media composition ofsoil, dung manure and sand 3:1:1 (0.11g).Key words : Cubeba, Piper cubeba LINN, plant material, cuttingmaterials, growth media, growth, West Java
KARAKTER MORFOLOGI DAN MOLEKULER ISOLAT Phytophthora palmivora ASAL KELAPA DAN KAKAO HIASINTA FJ MOTULO; MEITY S-SINAGA; GEDE SUASTIKA; HAJRIAL ASWIDINNOOR; ALEX HARTANA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n3.2007.111-118

Abstract

ABSTRAKPhytophthora palmivora merupakan patogen penyebab penyakitgugur buah pada tanaman kelapa dan busuk buah pada tanaman kakao.Penelitian ini bertujuan untuk membedakan isolat P. palmivora asal kelapadan asal kakao berdasarkan karakter morfologi dan molekuler.Pengambilan sampel penyakit gugur buah kelapa dan busuk buah kakaodilakukan di Kabupaten Banyuwangi dan Jember, Jawa Timur, KabupatenMinahasa dan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, dan KabupatenGorontalo, Gorontalo. Analisis morfologi, ekstraksi DNA dan amplifikasiDNA dengan PCR dilakukan di Laboratorium Mikologi dan LaboratoriumVirologi, Departemen Proteksi Tanaman, Faperta IPB. Analisis perunutanDNA dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler, Balai BesarBioteknologi dan Sumberdaya Genetik dan Laboratorium Bioteknologi,LIPI Serpong. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2005 sampaiFebruari 2007. Berdasarkan karakter morfologi seperti diameter koloni,panjang dan lebar sporangium, tipe koloni, bentuk sporangium, per-bandingan panjang dan lebar sporangium serta runutan DNA ruas ITSmenunjukkan bahwa keduapuluh-dua koleksi isolat yang menunjukkangejala penyakit gugur buah kelapa dan busuk buah kakao adalah P.palmivora. Isolat P. palmivora asal kelapa berbeda dengan isolat P.palmivora asal kakao berdasarkan diameter koloni, panjang dan lebarsporangium serta runutan DNA ruas ITS. Duapuluh-dua isolat P.palmivora asal kelapa dan asal kakao mempunyai sporangium yang mudahlepas dari sporangiospora (caducous), pedikel yang pendek dan papilaserta bervariasi dalam bentuk dan ukuran sporangium. Bentuk sporangiumterdiri dari 4 tipe yaitu ovoid, limoniform, obturbinate, dan obpyriform.Ukuran sporangium berkisar antara 40 – 62 µm panjang dan 28 – 43 µmlebar. Isolat P. palmivora memiliki tipe koloni rosaceous, stelate dancottony. Rata-rata diameter koloni isolat asal kelapa 54.8 cm lebih tinggidari isolat asal kakao 43,4 cm. Hasil perunutan DNA hasil PCRmenunjukkan adanya keragaman genetik antar isolat asal kelapa dan kakaodi Indonesia. Isolat asal kakao berbeda dengan isolat asal kelapaberdasarkan perunutan DNA ruas ITS. Isolat P. palmivora asal kelapa dankakao dari Indonesia tidak berada dalam satu kelompok dengan isolatyang berasal dari Thailand, Taiwan, Korea, Puerto Rico, Ghana, danCameron.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera, kakao, Theobroma cacao, penyakit,P. palmivora, morfologi, molekuler, keragaman, runutanDNA-ITS, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, JawaBaratABSTRACTMorphology  and  molecular  characteristics  of  P.palmivora isolates from coconut and cacaoPhytophthora palmivora, is the pathogen of coconut nutfall andcacao black pod diseases. This study was conducted to differentiate theisolates of P. palmivora from coconut and those from cacao fruit based onmorphology and molecular characteristics. Samples of nutfall of coconutand black pod of cacao were collected from Banyuwangi and JemberDistricts, East Java, Minahasa and Bolaang Mongondow Districts, NorthSulawesi, and Gorontalo District, Gorontalo. Morphological analysis,DNA extraction and amplification of PCR-DNA were conducted inMicology Laboratorium and Virology Laboratorium, Plant ProtectionDivision, Faperta IPB. Sequencing DNA analysis was conducted inMolecular Biology Laboratory, Balai Besar Bioteknologi dan SumberdayaGenetik and Biotechnology Laboratory LIPI Serpong. This research wasconducted from April 2005 to February 2007. Comparative morphologicalevaluated i.e. diameter of colony, length and width of sporangium, l/wratio, type of colony and sequence Internal Transcribed Sequence (ITS)-DNA showed that all isolates of Phytophthora isolated from coconut andcacao  in  Indonesia  were  Phytophthora  palmivora.  Morphologycharacteristics of pathogen isolates from cacao were smaller andsignificantly different in length, width, length/width ratio ofsporangium and diameter of colony compared to coconut’s isolates.Sporangia of 22 isolates were caducous with short pedicel, but werevariable in shape and size. The culture produced ovoid, limoniform,obturbinate, dan obpyriform sporangia, average 40-62 µm in length and28-43 µm in width. The colony types were stelate, cottony and rossaceouswith average diameter of coconut isolates 54.8 cm and cacao isolates 43.4cm. Specific fragment of 900 bp was successfully amplify from coconutand cacao infected by P. palmivora. The DNA sequence analysis of thenuclear ribosomal internal transcribed spacer (ITS) region showed that thecoconut isolates were not in the same cluster with the cacao isolates. Basedon sequence analysis, the P. palmivora isolates from Indonesia showeddifferent cluster from those of Taiwan, Ghana, Puerto Rico and Costa Ricaisolates.Key words :  Coconut, Cocos nucifera, cacao, Theobroma cacao,diseases, P. palmivora, diversity, morphology, molecular,sequencing  ITS-DNA,  East  Java,  North  Sulawesi,Gorontalo, West Jav
PENGARUH KERAPATAN BULU DAUN PADA TANAMAN KAPAS TERHADAP KOLONISASI Bemisia tabaci GENNADIUS I G.A.A. INDRAYANI; EMY SULISTYOWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n3.2005.101-106

Abstract

ABSTRACTKetahanan tanaman terhadap serangga hama berdasarkan karaktermorfologi bulu (trichom) pada daun merupakan salah satu cara potensialmengurangi penggunaan insektisida kimia dalam pengendalian hama.Serangga hama pengisap Bemisia tabaci pada tanaman kapas juga dapatdikendalikan dengan menggunakan varietas kapas resisten berdasarkankarakter morfologi bulu daun. Penelitian peranan kerapatan bulu daunpada tanaman kapas terhadap kolonisasi B. tabaci Gennadius dilakukan diKebun Percobaan Pasirian, Kabupaten Lumajang, dan di LaboratoriumEntomologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Malang, mulaiApril hingga Juli 2005. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahuiperanan kerapatan bulu daun pada beberapa aksesi plasma nutfah kapasterhadap kolonisasi B. tabaci. Perlakuan terdiri atas 11 aksesi plasmanutfah kapas yang dipilih berdasarkan penilaian visual pada karakterkerapatan bulu daun yang mewakili kerapatan bulu rendah hingga tinggi,yaitu: (1) KK-3 (KI 638), (2) Kanesia 1 (KI 436), (3) A/35 Reba P 279 (KI257), (4) Acala 1517 (KI 174), (5) Asembagus 5/A/1 (KI 162), (6) 619-998xLGS-10-77-3-1 (KI 76), (7) DP Acala 90 (KI 23), (8) TAMCOT SP21 (KI 6)), (9) Kanesia 8 (KI 677), (10) CTX-8 (KI 494), dan (11) CTX-1(KI 487). Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan10 ulangan. Paramater yang diamati adalah jumlah bulu daun, telur dannimfa pada 1 cm2 luas daun, serta jumlah imago B. tabaci pada daunketiga dari atas tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatanbulu daun berkorelasi positif dengan kolonisasi B. tabaci (R=0,9701).Semakin tinggi kerapatan bulu daun, semakin meningkat kolonisasi B.tabaci. Kolonisasi B. tabaci lebih tinggi pada CTX-1, CTX-8, Kanesia 8,dan KK-3 (150-250 individu/cm 2 luas daun) karena tingkat kerapatan buludaun juga lebih tinggi (150-300 helai/cm 2 luas daun) dibanding TAMCOTSP 21, DP Acala 90, 619-998xLGS-10-77-3-1, Asembagus 5/A/1, Acala1517, A/35 Reba P 279, dan Kanesia 1 yang memiliki kerapatan bulu daun(0-100 helai/cm 2 luas daun) dan tingkat kolonisasi B. tabaci (<100individu/cm 2 luas daun) lebih rendah.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, plasma nutfah, hama, Bemisiatabaci, trichom, kolonisasi, Jawa TimurABSTRACTRole of trichome density of cotton leaf to colonization ofBemisia tabaci GennadiusTrichome-based host plant resistance offers the potential to reducechemical insecticides used in insect pest control. Cotton whitefly, Bemisiatabaci can be controlled by using resistant variety based on trichomedensity as plant morphological characteristics. The study on the role oftrichome density of cotton accessions on the colonization of B. tabaci wascarried out at Pasirian Experimental Station at Lumajang, and atEntomology Laboratory of Indonesian Tobacco and Fiber Crops ResearchInstitute (IToFCRI ) in Malang from April to July 2005. Treatmentsincluded 11 cotton accessions, viz. (1) KK-3 (KI 638), (2) Kanesia 1 (KI436), (3) A/35 Reba P 279 (KI 257), (4) Acala 1517 (KI 174), (5)Asembagus 5/A/1 (KI 162), (6) 619-998xLGS-10-77-3-1 (KI 76), (7) DPAcala 90 (KI 23), (8) TAMCOT SP 21 (KI 6)), (9) Kanesia 8 (KI 677),(10) CTX-8 (KI 494), and (11) CTX-1 (KI 487). The experiment wasarranged in completely randomized design with ten replications.Parameters observed were trichome density, number of eggs and nymphson one cm2 of leaf and adult of B. tabaci on 3rd highest leaf of cottonplant. The result showed that trichome density was positively correlatedwith B. tabaci colonization (R=0,9701) in which higher trichome densityof cotton leaf has resulted in great colonization of B. tabaci. Bemisiatabaci colonisation was higher on CTX-1, CTX-8, Kanesia 8, and KK-3(150-250 individu/cm2 of leaf) due to dense trichome (150-300trichomes/cm2 leaf) as compared with other accessions, viz. TAMCOTSP 21, DP Acala 90, 619-998xLGS-10-77-3-1, Asembagus 5/A/1, Acala1517, A/35 Reba P 279, and Kanesia 1 which showed less density of leaftrichome (0-100 trichomes/cm2 of leaf) and B. tabaci colonization (< 100individu/cm2 of leaf).Key words : Cotton, Gossypium hirsutum, cotton accession, pest,Bemisia tabaci, trichome, colonization
KERAGAMAN FENOTIPE DAN GENETIK TIGA VARIETAS KELAPA GENJAH KOPYOR ASAL PATI JAWA TENGAH ISMAIL MASKROMO; ELSJE T. TENDA; MEITY A. TULALO; HENGKY NOVARIANTO; DEWI SUKMA; SUKENDAH SUKENDAH; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n1.2015.1-8

Abstract

ABSTRAKKelapa Genjah kopyor asal Pati, Jawa Tengah merupakankekayaaan hayati asli Indonesia dengan nilai ekonomi tinggi. Informasikeragaman genetik kelapa kopyor masih terbatas. Data keragamanmorfologi dan genetik diperlukan dalam program pemuliaan kelapakopyor. Penelitian ini mempelajari keragaman tiga varietas kelapa genjahkopyor asal Pati yang telah dilepas berdasarkan karakter morfologi,kuantitas endosperma, dan keragaman alel marka SSR. Penelitiandilakukan di Pati dan di Laboratorium Plant Molecular Biology,Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Evaluasi dilakukan terhadaptiga populasi kelapa Genjah kopyor (hijau, coklat, dan kuning) dengan 30tanaman sampel untuk setiap populasi. Rataan data morfologi digunakanuntuk menyusun dendogram. Kuantitas endosperma diamati pada satubuah kelapa kopyor per tanaman yang dievaluasi. Karakteristikendosperma dikelompokkan sesuai kategori yang telah ditetapkan. Untuksetiap populasi, analisis marka dengan lima pasang primer SSR dilakukanpada 10 tanaman sampel. Data yang didapat digunakan untuk menentukankeragaman genetik kelapa Genjah kopyor asal Pati. Hasil pengamatanmenunjukkan keragaman morfologis dan alel SSR antar tanaman dalamvarietasnya (keragaman intra-varietas) rendah. Sebaliknya, keragamanmorfologis dan alel SSR antar varietasnya tinggi. Kuantitas endospermakelapa Genjah kopyor asal Pati bervariasi antara skor 1–6. Keragamangenetik yang rendah dalam varietas dan tinggi antar ketiga varietas (coklat,hijau, dan kuning) memperkuat pelepasan ketiganya sebagai varietas lokal.Selain itu, keragaman genetik antar tanaman dalam varietas yang rendahmendukung penggunaan ketiga varietas lokal sebagai tetua dalam programperakitan varietas kelapa kopyor unggul baru. Tetua yang dipilih dapatdiseleksi intra-varietas berdasarkan persentase buah kopyor per tandandan skor kuantitas endosperma yang tinggi.Kata kunci: Keragaman morfologis, keragaman intra dan antar varietas,kuantitas endospermaABSTRACTKopyor dwarf coconuts are mutants from Pati, Central Java havinghigh economic values. However, morphological and genetic diversities ofthis coconut were still limited. Morphological and genetic diversity dataare needed for breeding program. The research objectives were to evaluateintra and inter-specific diversity based on morphology, endospermquantity, and SSR alleles. Field evaluations were conducted in Pati whilelaboratory activities were at Plant Molecular Biology Laboratory,Department of Agronomy and Horticulture, IPB. Three populations ofkopyor dwarf varieties (brown, green, and yellow) were evaluated. Thirtytrees were sampled for each population. The average of morphologicaldata were used to construct cluster analysis. Endosperm quantity wasscored (0 – 9) based on a single nut sample. Ten palms were analyzedusing five SSR loci for each population and used to determine geneticdiversity of populations. Results of observations indicated intra-varietymorphological and SSR allele variations among kopyor dwarf was low.However, inter-variety variations were high. The endosperm quantityscores among kopyor dwarf coconut ranged from 1–6. The low intra-variety and high inter-variety variations among the three kopyor dwarfcoconut supported their release as different local varieties. Moreover, thelow intra-variety phenotypic and genotypic diversities among kopyorbrown, green, and yellow dwarf coconut support their use as parents fornew and superior kopyor coconut variety development in the future. Forsuch purpose, however, it is necessary to conduct intra-variety selection toidentify desirable parents based on high kopyor fruit percentage per bunchand for high kopyor endosperm quantity.Key words: Morphological diversity, intra and inter variety diversities,quantity, endosperm
PENGARUH PUPUK KASTING DAN MACAM BENIH TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN MUTU JAHE MUDA Rosita SMD; I Darwati; H. Moko
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n1.2006.7-14

Abstract

ABSTRAKKendala utama dalam produksi jahe (Zingiber officinale, Rosc.)adalah kurang tersedianya benih yang bermutu dan komponen teknologipemupukan yang tepat. Upaya pemilihan bahan tanaman yang bermutuserta penggunaan kasting telah dilakukan melalui penelitian yangbertujuan untuk memberikan petunjuk tentang kondisi optimum benihberdasarkan posisi bagian rimpang (umur fisiologis) yang dapatmeningkatkan produktivitas tanaman serta dosis optimum dari penggunaankasting. Percobaan ini dilaksanakan di Instalasi Penelitian Cimanggu,Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, pada bulan Agustus1996 sampai Januari 1997 yang merupakan percobaan pot. Bahan tanamberasal dari jahe putih besar yang dipanen pada umur 10 bulan. Rancanganyang digunakan adalah rancangan acak kelompok yang disusun secarafaktorial, 3 ulangan. Faktor pertama terdiri atas perlakuan umur fisiologisposisi bagian rimpang : bagian rimpang ke II, III dan IV dan faktor keduaterdiri atas takaran pupuk kasting : 0; 0,25; 0,50; 0,75; 1,0 kg/tanaman/pot.Setiap perlakuan dalam satu ulangan terdiri atas 6 contoh tanaman. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pemberian kasting meningkatkan tinggitanaman, jumlah anakan dan jumlah daun, bobot segar rimpang, bobotkering tanaman (daun, batang, akar dan rimpang), produksi pati, serapanhara N, P, K dan C-organik. Penggunaan benih pada posisi bagian rimpangke II, III dan IV yang dikombinasikan dengan kasting 0,50 kg/tanamandapat meningkatkan bobot kering rimpang masing-masing 62,17g, 59,49gdan 58,65 g/tanaman dengan kadar pati 40,71%, 34,36% dan 39,57%.Kata kunci : Jahe,  Zingiber  officinale,  pupuk  kasting,  benih,pertumbuhan, produksi, mutu, Jawa BaratABSTRACTThe effect of casting fertilizer and types of seeds ongrowth, yield and quality of young gingerThe most important constrains in ginger (Zingiber officinale Rose)production are lack of good quality seeds and components of fertilizertechnology. The research was conducted to obtain the optimum conditionfor ginger production from different parts of rhizome (physiological age)and optimum dosage of casting. The research was conducted in CimangguResearch Instalation, Indonesian Spice and Medicinal Crops ResearchInstitute (ISMECRI) Bogor from August 1996 until January 1997 in potexperiment which was arranged in completely randomized design with 2factors and 3 replications. The first factor was 3 parts of rhizome position(secondary, tertiary and quarter rhizomes) while the second factor wasdosage of casting fertilizer (0; 0.25; 0.50; 0.75; 1.0 kg/plant). The resultsof the research indicated that the use of casting fertilizer could improve theheight of plant, number of leaves, number of tillers, fresh weight and dryweight of rhizome, dry weight of leaves, dry weight of stem and dryweight of root. Casting application improved starch content and nutrientabsorbtion of N, P, K and organic carbon. Combination treatment ofsecondary, tertiary and quarter rhizomes combined with application ofcasting 0.50 kg/plant, improved dry weight of rhizome 62.17 g, 59.49 gand 58.65 g/plant and starch content of rhizome 40.71%, 34.36% and39.57% respectively.Key words : Zinger, Zingiber officinale, casting fertilizer seeds, growth,yield, quality, West Java
KARAKTERISTIK FISIOLOGIS Ralstonia solanacearum PENYEBAB PENYAKIT LAYU BAKTERI NILAM NASRUN, NASRUN; CHRISTANTI, CHRISTANTI; ARWIYANTO, TRIWIDODO; MARISKA, IKA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n2.2007.43-48

Abstract

ABSTRAKPenelitian karakteristik Ralstonia solanacearum penyebabpenyakit layu bakteri nilam telah dilakukan di pertanaman nilam petani diPasaman Barat Sumatera Barat dan laboratorium serta rumah kacaFakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kegiatanlapangan meliputi identifikasi gejala penyakit dan pengambilan sampeltanaman sakit pada empat kebun nilam terinfeksi penyakit layu bakteriberdasarkan tingkat serangan tertinggi (di atas 75%) yang dilakukan padabulan Januari 2003. Kegiatan laboratorium dan rumah kaca meliputiisolasi dan pengamatan morfologi bakteri patogen, pengujian hipersensitif,patogenisitas, sifat-sifat bakteriologi, pigmen fluoresen, antibiotik, biovardan ras patologi yang dilaksanakan pada bulan Januari sampai Agustus2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan 31 isolat bakteripatogen yang menunjukkan reaksi hipersensitif pada daun tembakau, dan20 isolat dari isolat tersebut mampu menginfeksi bibit nilam dengan gejalalayu seperti gejala di lapangan dengan masa inkubasi menunjukkan gejala14,6 – 39,0 hari setelah inokulasi (HSI). Isolat Ns 31 adalah isolat palingvirulen. Hasil analisis sifat-sifat bakteriologi menyimpulkan isolat bakteriasal nilam dari Pasaman Barat Sumatera Barat adalah Ralstoniasolanacearum. Berdasarkan hasil pengujian biovar dan kisaran inang makaisolat tersebut dikelompokkan ke dalam biovar III dan ras satu.Kata kunci : Nilam, Pogostemon spp., penyakit, bakteri, Ralstoniasolanacearum, Sumatera Barat, D.I. YogyakartaABSTRACTPhysiological characteristics of Ralstonia solanacearumcausing bacterial wilt disease on patchouli plantThe study of characteristics of Ralstonia solanacearum causingbacterial wilt disease on patchouli plant was conducted in the patchouliplant field in Pasaman Barat West Sumatera and bacteriological laboratoryand green house of Agricultural Faculty of Gadjah Mada University,Yogyakarta. The field activity were identification of disease symptom andcollection of infected plant by bacterial disease from the patchouli plantfield that have the height disease intensity (more than 75%) that wasconducted on January 2003. Activity of laboratory and green house wereisolation and assay of bacterial morphology, hypersensitive andpathogenicity test, bacteriological characteristic, fluorescens pigment,antibiotic, biotype and ras pathology were conducted from January toAugust 2003. Results showed that 31 isolates showed hypersensitivereaction on tobacco leaf. Twenty isolates infected patchouly plant withwilt symptoms with incubation period 14.6 – 39.3 days after inoculation.Ns 31 was the most virulent isolate. Analytic results of bacteriologicalcharacteristic showed that the bacterial isolates of Patchouli plant fromWest Pasaman-West Sumatera is Ralstonia solanacearum. Based onbiotype and host range test, this isolates was grouped into biotype III andras one.Key words : Patchouli, Pogostemon spp., disease, bacteria, Ralstoniasolanacearum, West Sumatera, D.I. Yogyakarta
KAJIAN USAHATANI AKAR WANGI RAKYAT BERWAWASAN KONSERVASI DI KABUPATEN GARUT SABARMAN DAMANIK
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n1.2005.25-31

Abstract

ABSTRAKPenelitian usahatani akar wangi (Vetiver zizanoides Stapt) dilakukandari bulan Nopember 2003 sampai Oktober 2004 di Kecamatan Samarang,Kabupaten Garut, Jawa Barat. Data aspek sosial ekonomi diambil dari 120petani akar wangi dan 22 pabrik penyuling akar wangi. Percobaanlapangan dilaksanakan lahan pada seluas 3 hektar. Metode penelitian yangdigunakan yaitu rancangan acak kelompok dengan 3 pola tanam dan 2ulangan. Perlakuan yang dicoba adalah pola tanam petani, pola tanamintroduksi dan pola tanam konservasi. Parameter yang diamati adalah beratakar, kadar minyak, tingkat erosi, tingkat produktivitas dan kelayakanekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga pola yangditeliti ternyata pola konservasi mempunyai berat akar yang lebih tinggiyaitu 0,74 kg, sedangkan pola petani 0,60 kg dan pola introduksi 0,50 kg.Hasil analisis kadar minyak ketiga pola menunjukkan bahwa kadar minyakpola konservasi dan pola petani tidak berbeda nyata yaitu 2,60% dan2,25%, sedangkan pola introduksi hanya 1,25%. Dari kedua parameter diatas (berat akar dan kadar minyak) dapat disimpulkan bahwa polakonservasi lebih baik dibandingkan dengan pola lainnya. Tingkat erosiyang terjadi di pertanaman akar wangi adalah: (a) pola petani 26,20 ton/ha,(b) pola introduksi 19,40 ton/ha, dan (c) pola konservasi 17,80 ton/ha.Hasil pengukuran tingkat erosi ini diamati selama 6 (enam) bulan dankondisi di atas masuk kategori tingkat bahaya erosi (TBE), klasifikasisedang (30 sampai 60 ton/ha/tahun). Tingkat produktivitas yang dicapaidari ketiga pola usahatani tersebut yaitu (a) pola petani sebesar 16.000 kg/ha/tahun, (b) pola introduksi 15.000kg/ha/tahun, dan (c) pola konservasi18.000kg/ha/tahun. Dari ketiga pola tersebut yang tertinggi adalah polakonservasi, tetapi analisis kelayakan ekonomi pada ketiga pola adalah :Pola konservasi : B/C ratio 3,26, NPV Rp 7.852.000, dan IRR 18,75%;Pola introduksi : B/C ratio 2,03, NPV Rp 5.089.000, dan IRR 18,75%;Pola petani : B/C ratio 3,60, NPV Rp7.130.000, dan IRR 18,50%.Kata kunci : Akar wangi, Vetiver zizanoides Stapt, usahatani, konservasi,erosi, produksi, kadar minyak, Jawa BaratABSTRACTStudy on vetiver farming system in Garut DistrictThe study of Vetiver (Vetiver zizanoides Stapt) farming system wasconducted from November 2003 to October 2004 in Samarang, SubDistrict, Garut, West Java. The primary data were collected through theinterview of 120 vetiver farmers and 22 vetiver oil processors, and from 3hectars field trial. The study used a randomized block design with 3cropping patterns and two replications. Parameters observed were rootweight, oil content, erosion level, productivity level, and economicfeasibility. The research result indicated that conservation patternproduced the higher root weight, conservation pattern 0.74 kg, farmer0.60 kg and introduction pattern 0.50 kg. Result of oil analysis were the oilcontent of conservation and farmer patterns were not significantlydifferent, namely 2.60% and 2.25%, while the introduction pattern wasonly 1.25%. From the two parameters (root weight and oil content), it wasindicated that the conservation pattern was better. The erosion level onvetiver farms at farmer, introduction and conservation patterns were 26.20ton/ha, 19.40 ton/ha and 17.80 ton/ha, respectively. The erosion levelabove was classified as TBE, while moderate level (30 – 60 ton/ha/year).The productivity levels at farmer, introduction and conservation patternswere 16,000 kg/ha/year, 15,000 kg/ha/year and 18,000 kg/ha/year,respectively. It was clear that conservation pattern gave the highestproductivity, but the result of economic feasibility study showed :Conservation pattern : B/C ratio 3.26, NPV Rp. 7,852,000 and IRR18.75%; Introduction pattern : B/C ratio 2.03, NPV Rp. 5,089,000, andIRR 18.75%; Farmer pattern : B/C ratio 3.60, NPV Rp. 7,130,000 and IRR18.50%.Key words : Vetiver,  Vetiver  zizanoides  Stapt,  farming  system,conservation, erosion, production, oil content, West Java
POTENSI HASIL GALUR-GALUR F1 MANDUL JANTAN KAPAS PADA PERSILANGAN ALAMI SUMARTINI, SIWI; SULISTYOWATI, EMY; RUSTINI, SRI; ABDURRAKHMAN, ABDURRAKHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n2.2008.67-71

Abstract

ABSTRAKProduksi benih varietas kapas hibrida dapat ditempuh dengan duacara, yaitu dengan persilangan manual dan dengan memanfaatkan galurmandul jantan (male-sterile line). Memproduksi benih kapas secarapersilangan manual memerlukan tenaga dan biaya yang tinggi, dan biayatersebut dapat dikurangi dengan menggunakan galur male steril. Penelitiandilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Tembakaudan Serat, di Karangploso, Malang, Jawa Timur, dari bulan April sampaiOktober 2007. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi hasilgalur-galur mandul jantan kapas untuk memproduksi benih hibrida. Tigaaksesi kapas yaitu KI 487, KI 489, dan KI 494 yang memiliki persentasetanaman mandul jantan masing-masing 60,8%, 57,5%, dan 65% telahdigunakan sebagai donor sifat mandul jantan dan telah dilakukan introgresisifat mandul jantan dari ketiga aksesi tersebut ke varietas komersialKanesia 7, Kanesia 8, dan Kanesia 9 melalui persilangan pada tahun 2006dan diperoleh 9 set kombinasi persilangan. Pada tahun 2007, evaluasipotensi galur dilakukan terhadap 8 galur F1 mandul jantan, 3 tetua jantanyaitu varietas Kanesia 7, Kanesia 8, dan Kanesia 9, serta satu varietas baruyaitu Kanesia 12 sebagai pembanding yang disusun dalam rancangan acakkelompok yang diulang 3 kali. Plot percobaan berukuran 3 x 10 m 2dengan jarak tanam 100 cm x 25 cm; satu tanaman per lubang. Dosispupuk yang digunakan adalah 100 kg urea + 100kg ZA + 100kg SP 36 +100kg KCL per ha. Tidak dilakukan pengendalian hama denganinsektisida kimia selama penelitian. Pengamatan yang dilakukan adalahkemandulan benangsari secara visual dan mikroskopis, jumlah buah pertanaman, bobot buah, dan hasil kapas berbiji. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pengamatan secara visual dan mikroskopis terhadapstruktur bunga menunjukkan bahwa semua individu tanaman dari 8 galurF1 yang diuji adalah mandul jantan. Jumlah buah galur mandul jantan 7 –96% lebih banyak tetapi ukuran buahnya lebih kecil dibandingkan denganKanesia. Galur-galur mandul jantan KI 494 x Kanesia 7 dan KI 494 xKanesia 8 memberikan hasil kapas berbiji paling tinggi masing-masing2.609kg dan 2.153kg per hektar dibandingkan dengan galur-galur lain,atau sebesar 94 % dan 95% dibandingkan dengan Kanesia 7 dan Kanesia8. Persilangan alami galur-galur tersebut bervariasi sebesar 51 – 95%.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum. L., mandul jantan, benih hibridaABSTRACTCotton yield potential of F1 male sterile lines undernatural crossingCotton hybrid seed production can be done by manual crossing andby using male steril line methods. The manual crossing technique ishowever labor dan cost intensive, and the cost can only be reduced byusing male sterile lines. The experiment was conducted in KarangplosoExperimental Station of Indonesian Tobacco and Fiber Crops ResearchInstitute (IToFCRI), Malang, East Java, from April to Oktober 2007aiming to evaluate the yield potential of cotton male sterile lines. Threecotton accessions e.i KI 487, KI 489, and KI 494 which have male sterilitypercentage of 60.8%, 57.5%, and 65%, respectively, were used as donorfor male sterility and were then introgressed to three commercial cottonvariety, Kanesia 7, Kanesia 8, and Kanesia 9 through manual crossing, andthat resulted in nine sets of crossing combinations. In 2007, yield potentialwere studied including 8 F1 male sterile lines, 3 male parent lines (Kanesia7, Kanesia 8, and Kanesia 9), and one new cotton variety, Kanesia 12, ascontrol in a randomized block design with 3 replications. Plot size was 3 x10 m 2 with 100 cm x 25 cm plant spacing; one plant per hill. Fertilizerdosage was 100kg urea + 100kg ZA + 100kg SP 36 + 100kg KCl per ha.Chemical insecticide was not used for insect protection during theresearch. Parameters observed were plants male sterility, number of bollsper plant, boll weight, and seed cotton yield. The experimental resultshowed that both visual and microscopic observation of male sterility onindividual plants confirmed that the eight F1 lines tested were male sterile.Number of bolls per plant of male sterile lines were 7 – 96% higher thanthat of Kanesia’s, but boll size was smaller. Lines KI 494 x Kanesia 7 andKI 494 x Kanesia 8 produced highest cotton seed yield of 2609 kg and2153 kg per hectar, respectively, which were 94% and 95% of that of theirmale parents, Kanesia 7 and Kanesia 8, respectively. Natural crossing ofthose lines varied around 51 – 95%.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum. L., male sterile, hybrid seed
PENGARUH METODE APLIKASI BAKTERI ENDOFIT TERHADAP PERKEMBANGAN NEMATODA PELUKA AKAR (Pratylenchus brachyurus ) PADA TANAMAN NILAM HARNI, RITA; MUSTIKA, IKA; SUPRAMANA, SUPRAMANA; MUNIF, ABDUL
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n4.2006.161-165

Abstract

ABSTRAKBakteri endofit adalah salah satu agen antagonis yang akhir-akhirini banyak digunakan sebagai pengendalian biologi nematoda parasittanaman. Pada tanaman nilam nematoda Pratylenchus brachyurus merupa-kan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui metode aplikasi bakteri endofit yangeffisien untuk menekan nematoda P. brachyurus pada tanaman nilam.Penelitian telah dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balai PenelitianTanaman Rempah dan Obat dan Laboratorium Nematologi DepartemenProteksi Tanaman IPB, dari Januari sampai dengan Juli 2005. Penelitianmenggunakan rancangan acak lengkap dengan 2 faktor. Faktor pertamaadalah metode aplikasi (siram dan rendam), faktor kedua adalah jenisisolat (NJ2, NJ25, NJ41, NJ46, NJ57, NA22, ERB21, ES32, E26). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa populasi nematoda dipengaruhi olehadanya interaksi antara metode aplikasi dan isolat bakteri yang digunakan,sedangkan berat tajuk, panjang akar dan tinggi tanaman hanya dipengaruhioleh jenis bakteri. Isolat Bacillus NA22, Bacillus NJ46 dan Bacillus NJ2dengan metode perendaman akar mempunyai kemampuan yang tinggidalam menekan populasi P. brachyurus yaitu berturut-turut sebesar 75%,63% dan 60%. Semua isolat yang digunakan dapat meningkatkan berattajuk, panjang akar dan tinggi tanaman.Kata kunci: Nilam, Pogostemon cablin, penyakit tanaman, pengendalianbiologi, bakteri endofit, nematoda, Pratylenchus brachyurus,Jawa BaratABSTRACTEffect of application method of endophytic bacteria onroot lesion nematode (Pratylenchus brachyurus) onpatchouliEndophytic bacteria is one of the important agents recently usedfor controlling plant parasitic nematodes. P. brachyurus is one of thefactors affecting the productivity of patchouli (Pogostemon cablin Benth.)in Indonesia. The objectives of the research were to find out an efficientapplication method of endophytic bacteria to reduce P. brachyurus onpatchouli. The research was conducted in the Nematology Laboratory,Department of Plant Protection, Bogor Agricultural University and in theLaboratory and Greenhouse of Indonesian Spice and Medicinal CropsResearch Institute, from January to July 2005. The research usedrandomized complete design with two factors, the first factor wasapplication method (drencing and deeping), the second factor was bacteriaisolates (NJ2, NJ25, NJ41, NJ46, NJ57, NA22, ERB21, ES32, E26). Theresults showed that the population of nematode was affected by theinteraction between bacterial isolates and application method. While shootweight, root length and plant height were affected by bacterial isolates.Bacillus NA22, Bacillus NJ46 and Bacillus NJ2 applicated by deeping theroot into bacterial suspension significantly gave good result in reducing P.brachyurus, i.e. 75%, 63% and 60%. All bacterial isolates increased shootweight, root length.Key words: Patchouli, Pogostemon cablin, plant disease, biologicalcontrol, endophytic bacteria, nematode, Pratylenchusbrachyurus, West Java
KERAGAAN TANAMAN KAKAO ASAL EMBRIO SOMATIK DI LAPANGAN NUR AJIJAH; ENNY RANDRIANI; RUBIYO RUBIYO; DEWI SUKMA; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v21n2.2015.57-68

Abstract

ABSTRAKSekitar 75 juta bibit kakao asal embrio somatik (ES) telah ditanam di lapangan.  Evaluasi keragaan tanaman tersebut perlu terus dilakukan. Penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi keragaan tanaman kakao asal ES di lapangan telah dilaksanakan di delapan lokasi di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan dan kabupaten Mamuju (Sulawesi Barat) pada bulan Juni 2012 sampai  Desember 2013. Pengamatan dilakukan terhadap tanaman umur 1,5-4 tahun meliputi tinggi jorget, lingkar batang, jumlah cabang primer, persentase tanaman berbunga, persentase tanaman berbuah, jumlah buah per pohon, jumlah biji per buah, bobot kering biji serta kejadian serangan hama dan penyakit. Tanaman kakao asal ES memiliki arsitektur   seperti   tanaman   yang   berasal   dari   biji,   yaitu memiliki pertumbuhan  dimorfik  dan  membentuk  jorget.  Rataan  tinggi  jorget bervariasi antar lokasi, sebagian besar berkisar 100 -150 cm. Di lapangan ditemukan tanaman asal ES dengan tinggi jorget > 2 m. Perlu dievaluasi lebih lanjut apakah tinggi jorget > 2 m merupakan bentuk penyimpangan atau hanya pengaruh faktor lingkungan. Pada saat dilakukan pengamatan, tanaman kakao asal ES yang dievaluasi sudah berbunga dan berbuah dengan persentase berbunga 34-100%, berbuah 16-100%, dan dengan hasil buah per pohon 6-37 buah. Bobot buah yang dipanen berkisar 277-418 g dengan rataan jumlah biji per buah 43 biji dan bobot kering per biji 0.5 -1.4 g. Kejadian serangan penggerek buah di 3 lokasi pengamatan mencapai 82, 34.8 dan 49.6%, sedangkan busuk buah 2, 4.3 dan 18%. Studi lebih lanjut  diperlukan  untuk  memastikan  bahwa  tanaman  kakao  asal  ES mempunyai karakteristik tanaman dan hasil yang tidak berbeda dengan tanaman kakao  asal bibit tradisional yang telah biasa digunakan petani.Kata kunci:  Theobroma   cacao   L.,   bibit   ES,   perbanyakan   masal, pertumbuhan dan komponen hasil, variasi somaklonal Field Performance of Cacao Somatic Embryos Derived PlantsABSTRACTApproximately 75 millions of cacao seedlings propagated through somatic embryogenesis (SE) have been planted in the field. Evaluation of the performance of those SE derived plants needs to be continued. The research aimed to evaluate the performance of the cacao SE derived plants in the field have been implemented in 8 locations in Soppeng district, South Sulawesi and the Mamuju district, West Sulawesi in June 2012 and December 2013.   Collected   data   include:   jorquette   height,   trunk circumference,  jorquette branch  numbers,  flowering  and  fruiting tree percentages, fruit numbers per tree, pod weight, bean number per pod, bean dry weight and the disease and pest infection rates. Cacao plants derived from SE showed similar plant architectures to those of seed derived ones, such as having dimorphic growth and forming jorquette. The jorquette height of the majority of cacao trees in the evaluated regionsranged from 100-150 cm. A few SE derived cacao trees show jorquette height > 2 m. However, it needs further studies to determine whether they indicate either abnormality or environment effects. The SE derived cacao trees in the studied locations has bear flowers and fruits. The percentages of cacao trees with flowers or fruits at the age of 2.5 years ranged from 34-100% or 16-100%, respectively. The observed pods number per tree was 6-37 pods, the pod weight was 277-418 g, the beans number per pod was 42-43  and the bean dry weight was 0.5 -1.4 g. The incidences of fruit borer infection at the three evaluated locations were 82, 34.8 dan 49.6%, while the incidences of black pod infection were 2, 4.3 dan 18%. To conclude whether the SE derived cacao trees are comparable to those of the traditional cacao planting materials  requires  more comprehensive studies.Keywords:  Theobroma cacao L., SE derived seedling, mass propagation, growth and yield components, somaclonal variation

Page 11 of 56 | Total Record : 552


Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue