cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PEMURNIAN MINYAK NILAM DAN MINYAK DAUN CENGKEH SECARA KOMPLEKSOMETRI MA’MUN MA’MUN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n1.2008.36-42

Abstract

ABSTRAKMinyak nilam dan minyak daun cengkeh mempunyai arti pentingdalam ekspor minyak atsiri Indonesia, karena kedua jenis minyak atsiritersebut memiliki volume ekspor tertinggi. Sebagian minyak nilam danminyak daun cengkeh dihasilkan dari penyulingan yang masih mengguna-kan ketel penyuling terbuat dari logam besi, sehingga warnanya keruh dangelap. Keadaan tersebut menyebabkan kedua minyak tersebut sulit diteri-ma dalam perdagangan dan harganya lebih rendah. Minyak yang keruhdan gelap karena kontaminasi dari logam besi dapat dimurnikan dengancara kompleksometri, yaitu pengikatan logam menggunakan bahan kimiayang disebut bahan pengkelat (chelating agent). Penelitian pemurnianminyak nilam dan minyak daun cengkeh yang keruh dan gelap telahdilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Balai Penelitian TanamanRempah dan Obat, Bogor, dari bulan Januari sampai April 2005.Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap(RAL) dengan 3 perlakuan dan diulang 3 kali. Perlakuan yang diuji terdiriatas (1) jenis bahan pengkelat, yaitu etilen diamin tetra asetat (EDTA),asam sitrat dan asam tartarat; (2) konsentrasi pada masing-masingpengkelat terdiri atas 0,50%; 1,0% dan 1,50%; (3) lama waktu pengadukanyaitu 30; 60 dan 90 menit. Penilaian hasil pemurnian didasarkan padatingkat kejernihan minyak (%T), kandungan besi (Fe) dan kandungankomponen utama dalam minyak hasil pemurnian. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa bahan pengkelat, konsentrasi pengkelat maupun lamapengadukan sangat berpengaruh terhadap tingkat kejernihan dankandungan besi dalam minyak hasil pemurnian. EDTA dapat memurnikanminyak nilam dan minyak daun cengkeh lebih baik dibanding asam sitratdan asam tartarat. Semakin tinggi konsentrasi pengkelat serta semakinlama waktu pengadukan dapat meningkatkan kejernihan minyak nilam danminyak daun cengkeh dan menurunkan kandungan besi didalam keduaminyak tersebut. Bahan pengkelat EDTA 1,50% menghasilkan minyakpaling jernih serta kadar Fe paling rendah. Pada minyak nilam kadar Feterendah 17,66 ppm dan pada minyak daun cengkeh 27,16 ppm. Kom-ponen utama dalam minyak nilam yaitu patchouli alkohol dan komponenutama dalam minyak cengkeh yaitu eugenol serta karakteristik lainnyadalam kedua minyak tersebut tidak dipengaruhi oleh perlakuan. Minyaknilam dan minyak daun cengkeh hasil pemurnian tersebut memenuhipersyaratan Standar Nasional Indonesia.Kata kunci : Nilam, Pogostemon spp., cengkeh, Eugenia aromatica,minyak nilam, minyak daun cengkeh, prosesing, pemurnian,kompleksometri, patchouli alkohol, eugenol, Jawa BaratABSTRACTPatchouly oil and clove leaf oil purification usingcomplexometry methodPatchouly oil and clove leaf oil have the biggest volume in the totalIndonesian essential oil export. Some of the oil is produced using ironmetal distilling apparatus. So that, as the result the oil produced is dirtyand has dark colour. Its quality is low and its price is lower. Purification ofthe dirty and dark oil can be carried out using complexometry method,where the iron metals are attachted by chelating agent chemical to form thecomplex compound. The purification experiment was carried out toevaluate the influence of chelating agents (EDTA, citric acid, tartaric acid)their concentration and duration of mixing on the quality of pure oilproduced. Material used was the crude patchouly oil and clove leaf oilfrom the small distilling industry in Purwokerto, Central Java. Theexperiment used a completely randomized design, arranged factoriallywith three replications. Parameters used for evaluating the effect of thetreatment were the clearness of the oil, iron (Fe) content, and the maincomponent (patchouly alcohol in patchouly oil, eugenol in clove leaf oil)of oil produced. Experiment was conducted in the Postharvest TechnologyLaboratory, Research Institute for Spice and Medicinal Crops, Bogor, fromJanuary to April 2005. The result of the experiment showed that the bestpurification method is using EDTA chelating agent of 1.50% concen-tration. Such a purification method produced the clearest oil and the lowestiron content in purified patchouly oil and clove leaf oil. Meanwhile, themain component content and other characteristics of both oil were notaffected by the treatment. Patchouly oil and clove leaf oil of thepurification method meet the Indonesian National Standard.Key words: Patchouly, Pogostemon spp., patchouly oil, clove, Eugeniaaromatica,  clove  leaf  oil,  processing,  purification,complexometry, patchouli alcohol, eugenol, West Java
PARAMETER KEHIDUPAN DAN DEMOGRAFI KEPIK, Diconocoris hewetti (Dist.) (HEMIPTERA: TINGIDAE) PADA DUA VARIETAS LADA I WAYAN LABA; AUNU RAUF; UTOMO KARTOSUWONDO; M. SOEHARDJAN M. SOEHARDJAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n3.2006.121-127

Abstract

ABSTRAKKepik renda lada (KRL), Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera:Tingidae) adalah salah satu hama pada pertanaman lada di Indonesia.Penelitian bertujuan untuk membandingkan berbagai parameter kehidupandan demografi KRL pada dua varietas lada. Pengaruh varietas ladaterhadap parameter kehidupan dan demografi KRL diteliti di rumah kasadan pertanaman lada di Pulau Bangka, sejak Oktober 2003 hingga Februari2004. Penelitian mencakup pengaruh varietas Chunuk dan LDL terhadapmasa perkembangan telur dan nimfa, lama hidup imago jantan dan betina,serta keperidian. Selain itu juga diteliti pengaruh fase bunga, pucuk daun,dan buah muda terhadap lama hidup imago. Pengaruh varietas terhadapberbagai parameter demografi KRL dipelajari dengan memelihara kepikdari sejak telur hingga imago yang muncul meletakkan telur kembali.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan varietas mempengaruhiberbagai parameter kehidupan KRL. Lama perkembangan nimfa 17,3 dan13,0 hari, lama hidup imago jantan 10,2 dan 18,8 hari, lama hidup imagobetina 13,6 dan 16,9 hari, keperidian 13,9 dan 24,5 butir, berturut-turutpada varietas Chunuk dan LDL. Imago KRL hidup lebih lama pada bungafase-3 dibandingkan pada bunga fase-1 atau-2. Laju pertambahan intrinsik(r) 0,0741 dan 0,0827; laju reproduksi bersih (Ro) 6,98 dan 8,52, masagenerasi (T) 26,21 dan 25,91; laju pertambahan terbatas (λ) 1,0769 dan1,0862 berturut-turut pada varietas Chunuk dan LDL. Secara keseluruhan,varietas LDL lebih mendukung kehidupan dan perkembangan populasi D.hewetti. Jika tidak tersedia bunga lada KRL mampu bertahan hidup denganmengisap pucuk daun dan buah muda. Lama hidup imago 12,1 hari dan23,5 hari pada buah muda. Implikasi dari hasil penelitian ini adalahinformasi dasar dalam penelitian untuk pengendalian KRL.Kata kunci: Lada, Piper nigrum L., hama, kepik renda lada, Diconocorishewetti, parameter kehidupan, demografi, Propinsi BangkaBelitungABSTRACTLife parameters and demographic of bug peper laceDiconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera: Tingidae) on twopepper varietiesPepper lace bug (PLB), Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera:Tingidae), is one of the insect pests attacking pepper in Indonesia.Research was conducted with the objective to compare various life historyand demographic parameters of PLB on two pepper varieties. The effectof two pepper varieties on various life parameters and demographic ofPLB was conducted in green house and farmer field on Bangka Island,since October 2003 to February 2004. The experiment covered the effectof LDL and Chunuk varieties on eggs and nymphal development, maleand female adults longivity and fecundity. Besides the effect ofdevelopment stage on inflorescence, shoots and young berries to adultslongivity were observed. The effect of varieties to demographic parametersof PLB was studied by rearing the bugs since egg to adult laid eggs. Theresult revealed that difference variety was influenced life history anddemographic parameters of PLB. Nymphal development time of PLB were17.3 and 13.0 days, male adult longivity 10.2 and 18.8 days, female adultlongivity 13.6 and 16.9 days, fecundity 13.9 and 24.5 eggs per female,respectively on Chunuk and LDL. The life history of PLB adult was longeron stage-3 inflorescences than stage-1 or stage-2. The intrinsic rates ofincrease (r) were 0.0741 and 0.0827, net reproductive rate (Ro) 6.98 and8.52, mean generation time (T) 26.21 and 25.91 days, finite rate ofincrease  (λ)  1.0769  and  1.0862  on  Chunuk  and  LDLrespectively.Generally, variety LDL was much better food source for thedevelopment of D. hewetti. If there were no inflorescences available, thePLB was able to survive by feeding on shoots or young berries. Adultlongivity was 12.1 days on shoots and 23.5 days on young berries. Theimplication of this research is as the basic information in the next researchfor PLB control.Key words : Pepper, Piper nigrum L., pest, lace bug, Diconocoris hewetti,life parameters, demographic, Bangka Belitung Province
INTERAKSI ANTARA Trichogrammatoidea bactrae N. DAN Trichogrammatoidea armigera N. PADA TELUR KAMA PENGGEREK BUAH KAPAS Helicoverpa armigera Hbn. DWI ADI SUNARTO; NURINDAH NURINDAH; SUJAK SUJAK
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n4.2005.152-158

Abstract

ABSTRAKPenggerek buah kapas, Helicoverpa armigera Hubner. (Lepidoptera;Noctuidae) dan Pectinophora gossypiella Saunders (Lepidoptera;Gelechiidae) merupakan hama Unaman kapas. Trichogrammatoideaarmigera N. yang dilepas secara inundasi telah terbukti mampumengendalikan populasi H. armigera, tctapi belum mampu mengendalikanP. gossypiella. Parasitoid telur yang berpotensi sebagai agens hayati bagi-P.gossypiella adalah Trichogrammatoidea bactrae N. Penelitian ini bertujuanmempelajari interaksi antara T. bactrae (muncul dari telur P. gossypiellayang berasal dari Lamongan (T. bactrae - L) dan Asembagus T. bactrae -A)) dengan T. armigera yang digunakan untuk pengendalian H. armigera.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hayati (parasitoid & predator)Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang pada bulan Maret2002 sampai dengan Desember 2002. Suhu ruang penelitian 25-27 derajat Cdan kelembaban nisbi 65-70 persen. Interaksi yang diuji adalah (1)interaksi imago dengan perlakuan variasi kepadatan populasi parasitoid daninang telur H. armigera; dan (2) interaksi pra imago yang berada di dalamtelur inang dengan perlakuan pemaparan telur H. armigera secarabergantian terhadap (a) T. armigera dan T. bactrae - A, dan (b) T. armigeradan T. bactrae - L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antaraimago T. armigera dengan T. bactrae - A dan T. bactrae - L, lebihdidominasi oleh T. armigera. Total dominasi dari semua perlakuanmencapai 6 : 95 atau proporsi parasitisasi terhadap telur inang H.armigera oleh T. armigera yang lebih tinggi dibanding proporsiparasitisasi oleh T. bactrae peluangnya adalah 0,94. Pada interaksi praimago, interaksi antara T. bactrae - A dan T. armigera didominasi olehT. armigera, sedangkan antara T. bactrae - L : T. armigera didominasioleh T. bactrae - L. Dominasi T. armigera terhadap T. bactrae adalah 0: 21 atau peluang proporsi T. armigera yang bertahan hidup di dalam telurH. armigera yang lebih tinggi dibanding proporsi T. bactrae - A adalah1. Sedangkan dominasi T. bactrae terhadap T. armigera adalah 16 : 3atau peluang proporsi T. bactrae - L yang bertahan hidup di dalam telurH. armigera yang lebih tinggi dibanding proporsi T. armigera adalah 0,84.Berdasarkan bentuk interaksi tersebut, maka T. bactrae - A dapat dipilihsebagai kandidat agens hayati P. gossypiella yang lebih ideal dibanding T.bactrae -L. Penggunaan T. bactrae - L sebagai agens hayati,berpeluang menyebabkan terganggunya efektifttas parasitisasi T. armigeradalam pengendalian H. armigera.Kata kunci: Kapas, Gossypium hirsutum, hama, penggerek kapas, agenshayati, Trichogrammatoidea armigera, Trichogrammatoideabactrae, Pectinophora gossypiella, Helicoverpa armigera,interaksi antar spesiesABSTRACTTrichogrammatoidea bactrae N, The objective of this research is to studythe interaction between T. bactrae (emerged from P. gossypiella collectedfrom Lamongan (7". bactrae - L) and collected from Asembagus T. bactrae- A)) with T. armigera. The study was conducted in Biological ControlLaboratory of ITOFCRI, March - December 2002. The tested interactionswere (1) adult interaction with different density of parasitoids and the hostH. armigera eggs; (2) pre-adult interactions in H. armigera eggs withsubsequently exposed the eggs to T. armigera and T. bactrae - A IT.bactrae - L. The results showed that T. armigera dominates the adultinteraction with T. bactrae - A / T. bactrae - L. Total domination of alltreatments was 6:95 or the probability of higher proportion of T. armigerato parasitize H. armigera than that of T. bactrae was 0.94. T. armigeraalso dominates pre-adult interaction with T. bactrae - A, but T. bactrae - Ldominates T. armigera. The dominance value of T. armigera against T.bactrae - A was 0:21 or probability of the higher proportion of T.armigera survival than tat of T. bactrae - A was 1. The dominance valueof the higher proportion of T. bactrae - L survival than that of T. armigerawas 0.84. Based on the results, prospective biocontrol agent of P.gossypiella is T. bactrae - A. Mass release of T. bactrae - L may interferethe effectiveness of T. armigera on H. armigera eggs.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum, pest, cotton bollworms, bioagents, Trichogrammatoidea armigera, Trichogrammatoideabactrae, Pectinophora gossypiella, Helicoverpa armigera,interspecific interactionInteraction of Trichogrammatoidea armigera N. andTrichogrammatoidea bactrae N. on cotton-bottwormsHelicoverpa armigera Hbn. eggsCotton bollworms Helicoverpa armigera Hubner. (Lepidoptera;Noctuidae) and Pectinophora gossypiella Saunders (Lepidoptera;Gelechiidae) are two of cotton pests in Indonesia. Inundation releases ofTrichogrammatoidea armigera N. could control H. armigera population,but not P. gossypiella. The potential egg parasitoid of P. gossypiella is
POTENTIAL OF MEDICINAL PLANT EXTRACTS IN INDUCING PLANT RESISTANCE ON GINGER AGAINST BACTERIAL WILT DISEASE SRI YUNI HARTATI; SUPRIADI SUPRIADI; SRI RAHAYUNINGSIH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n4.2014.187-194

Abstract

ABSTRACTBacterial wilt caused by Ralstonia solanacearum is one of the mostdestructive diseases on ginger. The aim of this study was to evaluate thepotential use of five different medicinal plants extracts (Acalypha indica,Andrographis paniculata, Centella asiatica, Curcuma xanthorrhiza, andSpinosa oleracea) as sources of plant resistance inducer compounds(elicitor) against bacterial wilt disease on ginger. Salicylic acid was usedas a standard synthetical compound, as well as, water as a controltreatment. The study was conducted at the Indonesian Spice and MedicinalCrops Research Institute, Bogor in 2010-2011. Research was conducted inCompletely Randomized Design that consisted of 7 treatments, 3replicates, and 10 plants/ replicate. Ginger seeds were planted in a mixtureof soil and manure in polybags. One-month old ginger plants were sprayedor drenched with each of the medicinal plant extract before and after R.solanacearum inoculation. This experiment indicated that the medicinalplant extracts tested were effective in reducing wilt disease incidence onginger. Their effectiveness varied depended on the plant species and theapplication method used. Among those five medicinal plant extracts tested,A. indica, A. paniculata, and C. xanthorrhiza were the most stable andeffective.  Their  effectiveness  were  comparable  with  the  standardcompound of salicylic acid. This finding indicated that A. indica, A.paniculata, and C. xanthorrhiza were potentially used as sources ofbotanical elicitor compounds. The use of those medicinal plant extracts assources of botanical elicitor, hopefully could increase ginger resistance andrhizome production, as well as reduce the use of synthetic pesticides.Keywords:  Medicinal  plant  extracts,  elicitor  compounds,  inducedresistance, ginger, wilt diseaseABSTRAKLayu  bakteri  yang  disebabkan  oleh  Ralstonia  solanacearummerupakan salah satu penyakit yang merusak tanaman jahe. Penelitian inibertujuan untuk mengevaluasi potensi lima jenis ekstrak tanaman obat(akar kucing, sambiloto, pegagan, temulawak, dan bayam duri) sebagaisumber senyawa penginduksi ketahanan (elisitor) tanaman jahe terhadappenyakit layu. Pada penelitian ini digunakan asam salisilat sebagaisenyawa sintetik standard dan air sebagai perlakuan kontrol. Penelitiandilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor padatahun  2010-2011.  Percobaan  dilaksanakan  dengan  menggunakanrancangan acak lengkap yang terdiri atas 7 perlakuan, 3 ulangan, dan 10tanaman/ ulangan. Rimpang jahe ditanam pada media campuran tanah danpupuk kandang di dalam polibeg. Jahe umur satu bulan disemprot ataudisiram dengan ekstrak tanaman obat sebelum dan setelah diinokulasi R.solanacearum. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa ekstrak tanamanobat yang diuji efektif dapat mengurangi kejadian penyakit layu padatanaman jahe. Efektivitas dari tanaman tersebut bervariasi tergantung darispesies tanaman dan cara aplikasinya. Diantara kelima tanaman obat yangdiuji, akar kucing, sambiloto, dan temulawak paling stabil dan efektifdalam mengurangi terjadinya penyakit layu. Efektivitas dari ketigatanaman obat tersebut sama dengan senyawa asam salisilat. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa akar kucing, sambiloto, dan temulawakberpotensi untuk digunakan sebagai sumber senyawa elisitor botanis.Penggunaan  ekstrak tanaman  obat  sebagai  sumber  elisitor  botanisdiharapkan dapat meningkatkan ketahanan tanaman dan produksi jaheserta mengurangi penggunaan pestisida sintetik.Kata kunci: Ekstrak tanaman, senyawa elisitor, induksi ketahanan, jahe,penyakit layu.
KEKERABATAN PLASMA NUTFAH JAMBU METE BERDASAR SIFAT MORFOLOGI SRI WAHYUNI WAHYUNI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n2.2006.58-66

Abstract

ABSTRAKHasil seleksi dari pengumpulan tanaman jambu mete yang didasarioleh warna buah semu, terutama dari daerah Jawa Tengah, Jawa Timur,Lampung dan Bengkulu yang ditanam di dua Instalasi (Tegineneng danMuktiharjo) menghasilkan 26 pohon induk. Secara vegetatif sebanyak 15nomor dari pohon induk tersebut ditanam di Muktiharjo tahun 1989.Tanaman ditanam dengan jarak tanam 8 x 8 meter. Tanaman tersebutkemudian digunakan sebagai bahan penelitian dan dilakukan pengamatanterhadap sifat morfologi sesuai dengan descriptor list yang diterbitkan olehIBPGR mengenai tanaman jambu mete. Pengamatan dilakukan pada tahun2002-2003 terhadap 50 karakter morfologi. Data dikelompokkan menjadidata umum, dan data morfologi daun, bunga, buah serta gelondong.Berdasarkan data tersebut telah dilakukan analisis kluster menggunakanprogram NTSYSpc-ver21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragam-an plasma nutfah jambu mete tergolong rendah dengan rata-rata tingkatkemiripan antar koleksi sebesar 0,513. Oleh karena itu masih perlumeningkatkan keragaman melalui introduksi atau penambahan koleksiplasma nutfah, terutama dari daerah luar Jawa. Berdasar karakter umumtanaman dan karakter keseluruhan, A3 dan L3 mempunyai kekerabatanyang relatif jauh dengan nomor-nomor lainnya. A3 merupakan kultivarintroduksi asal Thailand dan mempunyai sifat produksi tinggi sehinggadapat digunakan sebagai tetua persilangan untuk memperbaiki sifatproduksi atau meningkatkan keragaman. Nomor P3 dan V8 berdasarberbagai pengelompokan tersebut berada pada kluster yang sama dengantingkat kemiripan hampir 100%, kecuali pada pengelompokan berdasarpercabangan dan daun. Kemiripan antar nomor berdasar seluruh karaktertertinggi adalah antara P3 dengan V8 dengan nilai 0,750 dan terendahadalah antara L3 dengan XII/2 dengan nilai 0,302 disusul kemudian antaraA3 dengan XII/8 dengan nilai 0,326. Untuk memprediksi kekerabatanantar nomor jambu mete dapat digunakan karakter umum tanaman, namunakan lebih baik bila digunakan karakter secara keseluruhan tanaman sesuaidengan descriptor list IBPGR.Kata kunci : Jambu mete, Anacardium occidentale L, plasma nutfah, sifatmorfologi, keragaman genetik, Jawa TengahABSTRACTRelationship of cashew collections based on morpho-logycal characteristicsThe research was carried out at Muktiharjo Experimental Station,Pati, Central Java. Cashew collections were mostly collected from JavaIsland. A total of 15 accessions (from cuttings) were planted using 8 x 8 msquare in 1989. Observation was made according to the IBPGR list using50 morphological characteristics, i.e general characteristics, stem andleaves, flower-fruit and nut characteristics; the data were clustered usingNTSYSpc-21. Research results showed that the diversity of cashewcollections was low, with the average similarity among them were 0.513.It was meant that the introduction or plant collection especially fromoutside Java area are required to increase the cashew genetic variability.Clustering based on group characteristics, i.e. general characters and othermorphological characters showed that Tegineneng A3 and Madura L3 hada quite far relationship. A3 is an introduced kultivar from Thailand and hashigh yielding characteristics, which can be choosen as a parent to increaseplant yield or genetic variability. Moreover, based on several groupcharacteristics for clustering, it revealed that P3 and V8 have the closestrelationship among the collections. According to the total characteristicsthe highest similarity was between P3 and V8 which had value of 0.750.The lowest similarity was between L3 and XII/2 revealed by value of0.302 then between A3 and XII/8 which had value of 0.326. Those generalcharacteristics, can be used to asses relationship among cashew collections,preferably using IBPGR list.Key words : Cashew, Anacardium occidentale, genetic resources,clustering,  morphological  characteristics,  geneticvariability, Central Java
KAJIAN KELAYAKAN USAHATANI POLA TANAM SAMBILOTO DENGAN JAGUNG EKWASITA RINI PRIBADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n3.2007.98-105

Abstract

ABSTRAKSambiloto (Andrografis paniculata Nees) secara alami hidup suburdi antara tegakan hutan. Hal ini megindikasikan bahwa tanaman ini toleranterhadap naungan. Kajian pola tanam jagung dan sambiloto diharapkanmendorong efisiensi produksi dan meningkatkan daya saing. Percobaandilaksanakan di Kebun Percobaan Cimanggu Bogor pada tanah Latosol,ketinggian 240 m dpl, tipe iklim A. Penanaman pada bulan Nopember2003 dan panen mulai bulan Maret 2004 selama 5 kali panen denganselang setiap 2 bulan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok(RAK) 6 kali ulangan dengan 4 perlakuan, yaitu : (1) monokultursambiloto, (2) sambiloto + jagung jarak tanam 150 cm x 20 cm, (3)sambiloto + jagung jarak tanam 120 cm x 20 cm, (4) sambiloto + jagungjarak tanam 90 cm x 20 cm. Bibit sambiloto disemaikan selama 2 bulandan ditanam dengan jarak tanam 30 cm x 40 cm, dipupuk dengan 10 tonpupuk kandang, 150 kg urea, 150 kg SP-36, dan 150 kg KCl per ha.Pupuk kandang, SP-36, dan KCl seluruhnya diberikan pada saat tanam.Urea diberikan masing-masing 1/3 bagian pada umur 0, 1, dan 2 BST(Bulan Sesudah Tanam). Untuk setiap ha tanaman jagung dipupuk dengan5 ton pupuk kandang, 300 kg SP-36, dan 200 kg KCl yang diberikan padasaat tanam, dan 300 kg urea diberikan masing-masing 1/2 bagian padaumur 0, dan 1 BST. Benih jagung (Hibrida lokal R-01) ditanam 2 butir perlubang tanam, ditanam 2 kali selama musim tanam yaitu pertama 2 minggusebelum penanaman sambiloto, dan penanaman kedua 75 hari setelahpenanam jagung yang pertama. Data input-output usahatani dianalis secaradeskriptif dilanjutkan dengan analisis B/C rasio dan sensitivitas. Hasilpenelitian menunjukkan mutu simplisia semua pola tanam memenuhistandard Materia Medika Indonesia. Produktivitas sambiloto per m 2 makinmenurun dengan kerapatan pola tanam; pada pola monokultur diperolehhasil 1,1 kg/m 2 sedangkan pada pola tanam dengan jagung jarak tanam 90cm x 20 cm menghasilkan 0,5 kg/m 2 terna basah. Produktivitas jagung perm 2  meningkat dengan makin rapatnya pola tanam yaitu mencapai 13,3tongkol pada jagung jarak tanam 150 cm x 20 cm, dan 22,2 tongkol padajarak tanam jagung 90 cm x 20 cm. Biaya produksi sambiloto sebagianbesar untuk bibit (Rp. 300/tanaman); biaya bibit tertinggi pada pola tanammonokultur yaitu 66,5% dari total biaya usahatani dan terendah pada polatanam dengan jagung jarak tanam 90 cm x 20 cm yaitu 36%. Untukmenekan biaya usahatani disarankan petani melakukan penyemaian benihsendiri. Pola tanam sambiloto dengan jagung jarak tanam 90 cm x 20 cm,paling layak secara finansial dengan pendapatan bersih mencapaiRp1.188.360 dan B/C rasio 1,45 per 1.000 m2 lahan dan memberikansumbangan lebih dari 20% terhadap pendapatan petani sebagai managerusahatani, mempunyai daya adaptasi yang cukup fleksibel terhadapperubahan biaya produksi dan harga produk, serta memberikan tambahanpendapatan bersih (keuntungan sebesar) Rp.51.675/1.000 m 2 lahandibandingkan pola monokultur.Kata kunci : Sambiloto, Andrografis paniculata Nees, jagung, polatanam,usahatani, produksi, Jawa BaratABSTRACTFeasibility study of king bitter and corn cropping patternKing bitter (Andrografis paniculata Nees) is naturally grown wildlyunder forest trees. This indicates that the plant is shade tolerant. Thecropping pattern of the plant with corn was expected to improve itsproduction efficiency and compatibility. The experiment was conducted inthe Cimanggu Experimental Garden Bogor, Latosol soil type, elevation240 m above sea level, climate type A of Schmidt and Fergusson. Plantingwas done November 2003. The experiment was designed in a randomizedblock with 6 replications. Treatments were (1) monoculture of king bittercropping pattern, (2) king bitter and corn (in a plant spacing 150 cm x 20cm) cropping pattern, (3) king bitter and corn (in a plant spacing 120 cm x20 cm) cropping pattern, (4) king bitter and corn (in a plant spacing 90 cmx 20 cm) cropping pattern. King bitter was planted at 30 cm x 40 cmspacing, fertilized with 10 tons manure + 150 kg SP-36 + 150 kg KCl and150 kg urea fertilizer was applied one of third dosage in 0, 1, and 2 monthsafter planting. Corn was grown twice during the experiment; first wasplanted 2 weeks prior to planting of the king bitter, and second was 75days after the first planting. Corn was fertilized with 5 tons manure + 300kg SP36 + 200 kg KCl per ha, and 300 kg urea fertilizer was applied halfdosage in 0, and 1 months after planting. First harvest of the king bitterwas done in March 2004, followed with 5 harvests every 2 months.Farming efficiency was analyzed using descriptive analysis, B/C ratio andsensitivity analysis. The results showed that quality of dry raw material ofking bitter matched with MMI standard. Productivity of king bitterdecreased by the increasing population of corn in cropping pattern, inmonoculture bitter king productivity was 1.1 kg/m 2 decreased to 0.5 kg/m 2in cropping pattern king bitter and corn (in a plant spacing 90 cm x 20 cm).In opposite, the productivity of corn increased by the increasingpopulation of corn in cropping pattern, that were 13.3 cobs/m 2 in croppingpattern king bitter and corn (in a plant spacing 150 cm x 20 cm) increasedto 22.2 cobs /m 2  in cropping pattern king bitter and corn (in a plant spacing90 cm x 20 cm). Most of king bitter production cost (Rp. 300/polybag),isfor seedlings. In monoculture of king bitter, seedling cost of king bitterwas 66,5% of production cost, and in cropping pattern king bitter and corn(in a plant spacing 90 cm x 20 cm) the seedling cost was 36% ofproduction cost. To reduce production cost, farmers suggested to producethe seedlings by themselves. The study suggested that the best croppingpattern was king bitter planted with corn at 90 cm x 20 cm planting space.This cropping pattern financially acceptable as it raised income as much asRp.1,188,360, B/C ratio 1,45 per 1.000 m2 and gave more then 20% ofmanagement income which was more adaptable to fluctuation productioncost and price of product, and gave Rp. 51,675/1.000 m 2  net benefitcompared to monoculture of king bitterKey words: Sambiloto, Andrografis paniculata Nees, corn, croppingpattern, farming, production, West Java
IDENTIFIKASI DAN UJI KAPASITAS REPRODUKSI PARASITOID TELUR ULAT PENGGEREK BUAH MERAH JAMBU PADA TANAMAN KAPAS DWI ADI SUNARTO; NURINDAH NURINDAH; SUJAK SUJAK
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n3.2005.94-100

Abstract

ABSTRAKPectinophora gossypiella merupakan salah satu hama utamatanaman kapas yang menyerang dengan cara menggerek buah. Mulaistadia larva kecil hingga pupa berada di dalam buah. Perilaku tersebutmenjadi salah satu sebab kurang efektifnya beberapa cara pengendalian P.gossypiella dengan sasaran stadia larva. Untuk itu, peluang yangdiharapkan akan memberikan hasil pengendalian yang lebih baik adalahsasaran pada stadia telur yaitu antara lain pemanfaatan parasitoid telur.Dari hasil eksplorasi telah diperoleh parasitoid telur Trichogrammatidaeyang berasal dari pertanaman kapas di Lamongan dan Asembagus, JawaTimur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies parasitoidtelur P. gossypiella dan kapasitas reproduksinya. Penelitian inidilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Malangpada bulan Maret - Desember 2002. Hasil penelitian menunjukkan bahwaparasitoid telur Trichogrammatidae yang muncul dari telur P. gossypiellayang berasal dari kedua lokasi, berasal dari spesies yang sama dan berbedadengan spesies T. armigera yang memarasit telur H. armigera.Berdasarkan kapasitas reproduksinya, Trichogrammatoidea bactrae N & Nberpotensi sebagai agens hayati pengendali ulat penggerek buah kapasmerah jambu P. gossypiella.Kata kunci : Kapas,  Gossypium  hirsutum,  hama,  Pectinophoragossypiella,  parasitoid  telur,  Trichogrammatidae,  lajupertumbuhanABSTRACTIdentification and reproduction capacity test of eggparasitoid pink bollworm, Pectinophora gossypiellaSaunders on cottonPectinophora gossypiella is one of main pests of cotton. It attacksthe boll since small larvae until pupae and the insect is located in the boll.This could be the reason why any control actions targeted to the larvaewere not effective. Therefore, the use of egg parasitoid to control thebollworm population would be more promising. Exploration of the eggparasitoid of the bollworm was done in Lamongan and Asembagus, EastJava. The parasitoids were considered as new locality report. This studywas to identify egg parasitoid of P. gossypiella and to study theirreproduction capacity. The study was conducted in Biological ControlLaboratory of IToFCRI Malang, March – December 2002. The studyincluded identification morphologically and biosystematically. The resultsshowed that Trichogrammatid emerged from P. gossypiella egg collectedfrom Asembagus (Trichogrammatoidea sp-A) and Lamongan (Trichogra-mmatoidea sp-L) were the same species. Based on the reproductioncapacity of the parasitoids, Trichogrammatoidea bactrae N & N werepotential as biological control agent for P. gossypiella.Key words : Cotton,  Gossypium  hirsutum,  pest,  Pectinophoragossypiella, egg parasitoid, Trichogrammatidae, intrinsicrate
HUBUNGAN ANTARA KERAGAMAN BIOFISIK DAN FISIOLOGIS BENIH DENGAN VIGOR BENIH DAN BIBIT KAKAO HIBRIDA BAHARUDIN BAHARUDIN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n3.2014.158-168

Abstract

ABSTRAKPenentuan karakteristik biofisik guna menghasilkan benih dan bibit berkualitas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman hubungan mutu biofisik dan fisiologis benih terhadap vigor benih dan bibit kakao hibrida. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai November 2010, di Kebun Benih, Puslitkoka, Jember dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB serta di rumah kacaBalai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor. Penelitianmenggunakan Rancangan Acak Kelompok, lima jenis kakao hibrida danempat ukuran benih, dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman karakteristik biofisik benih kakao GC 7, ICS 13 dan 60,TSH 858 dan UIT 1 pada jumlah dan bobot benih sangat bervariasi. Keragaman hubungan karakteristik biofisik untuk panjang, diameter, tebal dan bobot per 100 benih optimal pada benih kakao ukuran besar GC 7, ICS60, dan TSH 858, sangat besar ICS 13 dan UIT 1. Ukuran benih berkaitan dengan mutu fisiologis perkecambahan benih, nilai, periode, daya, dan lajukecambah optimal ukuran benih sedang dan besar pada kakao GC 7, ICS60, dan TSH 858, ICS 13 dan UIT 1 pada ukuran benih sedang, besar dansangat besar. Ukuran benih berhubungan dengan daya hidup benih terbaikkakao GC 7, ICS 60, dan TSH 858 untuk ukuran sedang dan besar, ICS 13dan UIT 1 ukuran benih besar dan sangat besar. Pertumbuhan bibitberkaitan dengan panjang tunas, panjang akar, diameter batang, dan tunas,rasio bobot kering akar dan tunas terbaik kakao GC 7 dan TSH 858 padaukuran sedang dan besar, ICS 60 benih besar serta ICS 13 dan UIT 1ukuran besar dan sangat besar. Perkembangan hasil total bobot keringtunas, daun dan bibit, bobot kering akar, total bobot kering bibit, dan rasiobobot kering akar dan tunas (A:T) optimal pada benih ukuran sedang,besar dan sangat besar.Kata kunci: Theobroma cacao, benih hibrida, matriconditioning, seleksibenih, vigor benihABSTRACTDetermination of biophysical and physiological characteristics ofseeds is essential in order to produce quality seeds and seedlings. Thestudy aims to determine the diversity of biophysical and physiologicalrelationship quality seed from the seed vigor and hybrid cacao seedlings.The experiment was conducted in May and November 2010. The studywas conducted at Seed Gardens, Puslitkoka, Jember and Seed LaboratoryScience and Technology IPB and in greenhouse Indonesian BiotechnologyResearch for Estate Crops, Bogor. The study used a randomized block design, five and four types of hybrida cocoa seed size, with four replications. The results showed the diversity of biophysical characteristicsof cacao seeds GC 7, ICS 13 and 60, TSH 858 and UIT 1 on number andweight of seeds. The diversity of the biophysical characteristics of therelationship to length, diameter, thickness and weight per 100 seeds on theoftimal size of a large cocoa seeds GC 7, ICS 60, and TSH 858, a verylarge ICS 13 and UIT 1. Size physiological seed quality associated withthe germination of seeds, value, period, the power, and the optimal rate ofgermination medium and large seed size in cocoa GC 7, ICS 60, and TSH858, ICS 13 and UIT 1 seed sizes medium, large and very large. Seed sizeassociated with the best seed vitality of cacao GC 7, ICS 60, and TSH 858for medium and large size, ICS 13 and UIT 1 large seed size and verylarge. Seedling growth related to the length of shoots, root length, stemdiameter, and shoots, root dry weight ratio and best buds of cacao GC 7and TSH 858 on medium and large size, large seed ICS 60 and ICS 13 andUIT 1 large and very large size. The development of the dry weight of thetotal yield of shoots, leaves and seeds, root dry weight, total dry weight ofthe seeds, and the ratio of dry weight of roots and shoots (A:T) on theoptimal size of the seed medium, large and very large.Key words: Theobroma cacao, hybrid seeds, matriconditioning, seedselection, seed vigor
PERBAIKAN TANAMAN KAPAS GENJAH MELALUI PERSILANGAN DIALLEL Sudarmadji Sudarmadji; Rusim Mardjono; Hadi Sudarmo
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n1.2006.1-6

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan potensi hasil danmemperpendek umur panen kapas genjah melalui kombinasi hibrida (F 1 )dibandingkan dengan rata-rata kedua tetuanya. Penelitian dilakukan diKebun Percobaan Asembagus Kabupaten Situbondo mulai bulan Maretsampai Juli 2003. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompokdengan tiga ulangan yang terdiri dari 16 genotipe (4 tetua, 6 turunanpertama, 6 turunan pertama kebalikan). Keempat genotipe tetua adalah KI40, KI 74, KI 87 dan KI 121. 6 genotipe turunan pertama adalah KI 40 xKI 74, KI 40 x KI 87, KI 40 x KI 121, KI 74 x KI 87, KI 74 x KI 121 danKI 87 x KI 121, sedangkan 6 genotipe turunan pertama kebalikannyaadalah KI 74 x KI 40, KI 87 x KI 40, KI 87 x KI 74, KI 121 x KI 40, KI121 x KI 74 dan KI 121 x KI 87. Sifat-sifat yang diamati meliputi tinggitanaman, umur pertama bunga mekar, jumlah cabang generatif, jumlahbuah terpanen, umur panen pertama, umur panen terakhir dan hasil kapasberbiji. Data hasil penelitian ini dianalisis dengan analisis ragam padarancangan acak kelompok yang menghasilkan nilai Harapan KuadratTengah untuk asumsi Metode I dan Model I menurut GRIFFING (1956),sedangkan untuk mengetahui tinggi dan rendahnya daya gabung umum,khusus, dan pengaruh kebalikan dari efek tersebut menggunakan Model I(SINGH dan CHAUDHARY, 1979). Hasil penelitian menunjukkan bahwatetua KI 40 merupakan penggabung yang baik karena memiliki dayagabung umum yang tinggi untuk parameter hasil kapas berbiji dan dayagabung umum yang rendah untuk parameter umur panen terakhir.Kombinasi persilangan genotipe KI 40 x KI 87 maupun genotipe KI 87 xKI 40 memiliki daya gabung khusus tinggi untuk parameter hasil kapasberbiji dan daya gabung khusus yang rendah pada parameter umur panenterakhir. Ini menunjukkan bahwa KI 40 dapat digunakan sebagai tetuabetina untuk memperbaiki produksi kapas berbiji dan persilangan antara KI40 x KI 87 adalah kombinasi terbaik untuk tujuan tersebut.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, persilangan, hibrida, produksi,umur panen, Jawa TimurABSTRACTImprovement of cotton plant through diallel crossingThe objective of this research is to find out the yield potency and toshorten the harvest age of early maturity cotton through hybridcombinations compared with both parents. This research was conducted atAsembagus Research Station, Indonesian Tobacco and Fiber ResearchInstitute Crops (IToFRIC), from March to July 2003. The research used arandomized block design with three replications consisting of sixteengenotypes (four parents, six F 1 generations, and six reciprocal generations).The four parent genotypes were KI 40, KI 74, KI 87, and KI 121. The sixF 1 generation genotypes were KI 40 x KI 74, KI 40 x KI 87, KI 40 x KI121, KI 74 x KI 87, KI 74 x KI 121 and KI 87 x KI 121, while the six F 1reciprocal generations were KI 74 x KI 40, KI 87 x KI 40, KI 87 x KI 74,KI 121 x KI 40, KI 121 x KI 74 and KI 121 x KI 87. The charactersobserved were plant height, the first bloom of flowering date, number ofbranch, the harvested number of fruit, the first harvesting date, the lastharvesting date and cotton yield. The analysis used method I and model Iof GRIFFING (1956), while to evaluate general combining ability effect,specific combining ability effect, and reciprocal effect used model I ofSINGH and CHAUDHARY (1979). The research result indicated thatparent genotype KI 40 had high general combining values for cotton yieldparameter, and had low general combining values for last harvest age.Combinations of genotype crossing KI 40 X KI 87 and genotype of KI 87X KI 40 had high specific combining values for cotton yield, had lowspecific combining ability values for last harvest age. This indicated thatKI 40 can be used as parent to improve seed cotton yield, and the crossbetween KI 40 x KI 87 was the best combination for this purpose.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum, crossing, hybrid, production,harvest age, East Java
PENGARUH VARIETAS DAN POLA TANAM KAPAS TERHADAP KELIMPAHAN POPULASI PREDATOR HAMA PENGISAP DAUN Amrasca biguttula (ISHIDA) IGAA. INDRAYANI; NURINDAH NURINDAH; SUJAK SUJAK
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n1.2007.34-39

Abstract

ABSTRAKPenanaman varietas tahan hama adalah salah satu cara pengendalianserangga hama pengisap daun, A. biguttula, yang telah diadopsi petanikapas di Indonesia. Penggunaan varietas tahan hama cukup efektifmenekan serangan hama pengisap ini. Namun demikian, peluang adanyacara pengendalian alternatif patut dipertimbangkan, misalnya memanfaat-kan faktor mortalitas biotik A. biguttula, seperti musuh alami. Penelitianpengaruh varietas dan pola tanam kapas terhadap perkembangan populasipredator hama pengisap daun A. biguttula telah dilakukan di KebunPercobaan Asembagus, Situbondo, dan di laboratorium Entomologi BalaiPenelitian Tanaman Tembakau dan Serat di Malang, mulai Januari sampaiDesember 2005. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruhperbedaan varietas dan pola tanam kapas terhadap perkembangan predatorA. biguttula. Perlakuan terdiri atas dua faktor, yaitu faktor I adalah varietaskapas dengan tingkat ketahanan terhadap A. biguttula berbeda-beda, yaitu:(1) TAMCOT SP37 (peka), (2) Kanesia 7 (moderat), dan (3) LRA 5166(tahan). Faktor II adalah pola tanam kapas, yaitu: (1) monokultur, dan (2)tumpangsari dengan kedelai. Setiap perlakuan disusun secara faktorialdengan rancangan petak terbagi (Split Plot) dengan tiga kali ulangan.Parameter pengamatannya adalah populasi nimfa A. biguttula danpredator. Di laboratorium dilakukan uji pemangsaan terhadap predatorterpilih dengan cara memberi umpan nimfa A. biguttula untuk mengetahuikemampuannya memangsa per hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwaperbedaan tingkat ketahanan varietas terhadap A. biguttula mempengaruhiperkembangan populasi kompleks predator. Lebih banyak predatorditemukan pada TAMCOT SP37 dan Kanesia 7 dibanding pada LRA5166. Sedangkan perbedaan pola tanam tidak menyebabkan perbedaanpopulasi predator. Kapas monokultur maupun tumpangsari dapatmenyediakan lingkungan ideal bagi perkembangan kompleks predator.Laba-laba dan Paederus sp. adalah predator yang populasinya lebihdominan  dibanding  predator lainnya.  Pada uji  pemangsaan dilaboratorium, Paederus sp. mampu memangsa 15-25 nimfa A. biguttulainstar kecil dan 10-20 instar besar, sedangkan laba-laba per harimemangsa 2-12 nimfa A. biguttula instar kecil dan besar.Kata kunci: Kapas, Gossypium hirsutum, hama, Amrasca biguttula,Paederus sp., nimfa, mortalitas biotik, varietas, pola tanam,Jawa TimurABSTRACTEffect of variety and cropping pattern of cotton onpopulation density of insect predator Amrasca biguttula(Ishida)Planting resistant variety of cotton is one of cultural method forcontrolling sucking insect pest, A. biguttula. This method has widely beenapplied by cotton farmers in Indonesia. Nevertheless, alternative controlshould also be found to obtain better control of this pest, e.g. biologicalcontrol by using parasitoids and predators. Study on effect of variety andcropping pattern of cotton to population density of insect predator of A.biguttula was carried out at Asembagus Experimental Station and inEntomology Laboratory of Indonesian Tobacco and Fiber Crops Institutein Malang from January to December 2005. The objective of study was tostudy the effect of variety and cropping pattern of cotton to populationdensity of insect predators. Treatment consists of two factors. The firstfactor was cotton variety based on resistance to A. biguttula, viz.TAMCOT SP37, Kanesia 7, and LRA 5166 known susceptible,intermediate, and resistant to A. biguttula, respectively. The second factorwas cropping system with monoculture and intercropping with soybean.Each treatments was arranged in Split Plot Design with three replications.Parameter observed in field study were population of A. biguttula and itspredators. While, the laboratory study was to find out the daily preyability of selected predator by baiting nymph of A. biguttula.The result showed that difference resistance of cotton varietyinfluenced the population density of insect predator. More insect predatorswere found on TAMCOT SP37 and Kanesia 7 compared to LRA 5166,while the density of insect predator was not affected by different croppingpattern and it was due to the patterns provided better environment forinsect predator development. Spider and Paederus sp. were the dominantinsect predators found in the field because their population higher thanthose other predators. Laboratory study showed that Paederus sp. preyed15-25 younger and 10-20 older instar of nymph per day, while spider ate2-12 nymphs of both age of A. biguttula per day.Key words: Cotton, Gossypium hirsutum, pest, Amrasca biguttula,Paederus sp., nymph, biotic mortality, variety, croppingpattern, East Java

Page 8 of 56 | Total Record : 552


Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue