cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PENGARUH RETARDAN PACLOBUTRAZOL TERHADAP PERTUMBUHAN TEMU LAWAK (Curcuma xanthorrhiza) SELAMA KONSERVASI IN VITRO SYAHID, SITTI FATIMAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n3.2007.93-97

Abstract

ABSTRAKTemu lawak (Curcuma xanthorrhiza) merupakan salah satu jenistanaman obat potensial untuk dikembangkan. Rimpangnya berguna untukmengobati penyakit hepatitis dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh.Untuk mendukung kegiatan plasma nutfah temulawak saat ini telahdilakukan upaya konservasi secara in vitro di laboratorium Kultur JaringanBalai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor mulai bulan Juni2005 sampai April 2006. Bahan tanaman yang digunakan adalah matatunas temulawak yang telah tersedia secara in vitro. Media dasar yangdigunakan adalah Murashige dan Skoog (MS) yang diperkaya vitamin darigroup B. Sebagai sumber energi digunakan sukrosa sebanyak 30 g/l.Perlakuan yang diuji adalah beberapa taraf konsentrasi paclobutrazolyaitu: Paclobutrazol 1,0 mg/l; 3,0 mg/l dan 5,0 mg/l. Sebagai kontrol digu-nakan media dasar MS tanpa paclobutrazol. Rancangan yang digunakanadalah acak lengkap dengan tujuh ulangan. Parameter yang diamati adalahjumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun dan akar pada umur 4 dan 7bulan serta penampilan kultur secara visual. Setelah dikonservasi selamatujuh bulan, maka dilakukan uji regenerasi kultur setelah perlakuanpaclobutrazol ke dalam media MS + BA 0,1 mg/l. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa penggunaan retardan paclobutrazol mampu menekanpertumbuhan kultur dan dapat mengurangi periode sub kultur yangbiasanya setiap dua bulan menjadi tujuh bulan. Konsentrasi paclobutrazol5,0 mg/l merupakan konsentrasi terbaik karena kultur masih mampuberegenerasi normal setelah konservasi. Hasil aklimatisasi plantlet dirumah kaca dapat tumbuh dengan baik. Plantlet tumbuh dan berkembangtanpa menunjukkan adanya penyimpangan dalam penampilan visualnya.Kata kunci: Temulawak, Curcuma xanthorrhiza, paclobutrazol, konser-vasi regenerasi, in vitro, pertumbuhan, Jawa BaratABSTRACTEffect of paclobutrazol on temulawak growth during invitro conservationTemulawak (Curcuma xanthorrhiza) is one of medicinal plantwhich is potential to be developed. The rhizome is used to heal hepatitisand to improve the imune system of human body. To support themedicinal germplasm conservation, in vitro conservation of temulawakwas conducted in Tissue Culture Laboratory of Indonesian ResearchInstitute for Medicinal and Aromatic, Bogor from June 2005 to April2006. Sterile shoots in vitro were used as plant explants. The basicmedium used was Murashige and Skoog (MS) medium, supplementedwith vitamine from B group. Sucrose as carbon sources, was given 30 g/linto the medium. The treatment tested were several concentrations ofpaclobutrazol: (1) Paclobutrazol 0.0 mg/l; 1.0 mg/l; 3.0 mg/l; dan 5.0 mg/l.The treatments were arranged in a completely randomized design withseven replications. The parameters observed were number of shoots, shootlength, number of leaves and roots during conservation. After sevenmonths conserved, shoots were regenerated into regeneration medium.The result showed that paclobutrazol at 5.0 mg/l could reduce the plantgrowth during seven months in conservatioan period and the culture couldregenerate normally after transferring into multiplication medium. Thistechnique can be applied to prolong the conservation culture. Plantlets oftemoe lawak which were acclimatisized in the glass house grew wellwithout any changes in their performance.Key words : Temulawak, Curcuma xanthorrhiza, paclobutrazol , in vitroconservation, regeneration, growth, West Java
PENGARUH BAHAN ORGANIK DAN PUPUK NPK TERHADAP HASIL SERAT ROSELA DI LAHAN PODSOLIK MERAH KUNING KALIMANTAN SELATAN Budi SANTOSO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n3.2005.85-93

Abstract

ABSTRAKLahan podsolik merah kuning (PMK) berpotensi untuk pengem-bangan tanaman rosela. Kendala utama dalam lahan PMK adalah miskinunsur hara makro dan mikro, kandungan Al dan Fe tinggi, pH tanah rendahdan sering terjadi fiksasi P. Daya dukung lahan ini dapat diperbaiki denganmemberikan bahan amelioran seperti kapur atau bahan organik. Penelitiandilaksanakan di Desa Sabuhur II, Kecamatan Jorong, Kabupaten TanahLaut, Kalimantan Selatan pada bulan Januari sampai dengan Desember2001. Perlakuan disusun dalam rancangan petak terbagi yang diulang tigakali. Sebagai petak utama terdiri atas lima jenis bahan organik, yakni (1)pupuk kandang kotoran ternak sapi, (2) pupuk kandang dari kotoranunggas, (3) kompos dari jerami, (4) kompos dari alang-alang, dan (5)kompos dari serpihan kayu rosela, masing-masing dosisnya 5 t/ha. Anakpetak terdiri atas tiga dosis pupuk anorganik yaitu (A) Tanpa pupukanorganik, (B) (45 kg N + 80 kg P 2 O 5  + 60 kg K 2 O) /ha, dan (C) (90 kg N+ 80 kg P 2 O 5  (fosfat alam) + 60 kg K 2 O) /ha. Bahan tanaman yangdigunakan galur rosela CPI 115357. Ukuran petak 4 m x 6 m dengan jaraktanam 20 cm x 20 cm. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmendapatkan jenis bahan organik dan dosis pupuk anorganik (NPK) yangdapat mendukung hasil serat rosela yang tinggi di lahan PMK KalimantanSelatan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kombinasi perlakuanpemberian (5 t pupuk kotoran unggas + 45 kg N + 80 kg P 2 O 5  (fosfat alam)+ 60 kg K 2 O) /ha memberikan pertumbuhan tinggi tanaman, diameterbatang, hasil brangkasan dan hasil serat kering tertinggi rosela masing-masing 262,33 mm; 17,65 mm; 47,78 t dan 2,83 t/ha.Kata kunci : Rosela, Hibiscus sabdarifa L., podsolik merah kuning,bahan organik, pupuk organik, hasil, Kalimantan SelatanABSTRACTEffect of NPK fertilizer and organic materials on rosellafiber yield in red yellow podzolic soil of South KalimantanRed yellow podzolic soil is potential for rosella development. Themajor problem of red yellow podzolic soil is low fertility of soil, especiallymacro and micro elements, high content of Al and Fe and P fixation oftenhappened. The soil capacity can be improved by application of ameliorantmaterials such as lime or organic materials. The experiment was conductedin Sabuhur II Village, Jorong Sub District, Tanah Laut District in SouthKalimantan during growing season of January to December 2001. Theexperiment was designed in split-plot with three replications. The mainplots were source of organic materials (1) cows manures, (2) chickenmanures, (3) compost of rice hays, (4) compost of alang-alang, and (5)compost of rosella stems with dose 5 t/ha respectively. The sub plots werethe dosage of NPK fertilizer (A) zero fertilizer, (B) 45 kg N + 80 kg P 2 O 5  +60 kg K 2 O /ha, and (C) 90 kg N + 80 kg K 2 O 5  + 60 kg K 2 O/ ha. The rosellaclone was CPI 115357 line, plot size 4 m x 6 m, and plant spacing 20 cm x20 cm. The purpose of this experiment was to find out the kind of organicmaterials and dosage of unorganic fertilizer which can support rosella fiberyield in red yellow podzolic soil of South Kalimantan. The result showedthat the application of 5 tons chicken manures + 45 kg N + 80 kg P 2 O 5(rock phosphate) + 60 kg K 2 O/ha gave the best plant height, stemdiameter, fresh and dry fiber yield of rosella which were 262,33 cm; 17,65mm; 47,76 tons and 2,83 tons respectively.Key words : Rosella, Hibiscus sabdarifa L., red yellow podzolic, organicmaterials, unorganic fertilizer, yield, South Kalimantan
KADAR FOSFOR DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DAN KORELASINYA DENGAN FOSFOR TANAH TERSEDIA DARI BEBERAPA METODE EKSTRAKSI RIVAIE, A. ARIVIN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n3.2014.151-157

Abstract

ABSTRAKPercobaan untuk mengetahui kesesuaian beberapa metoda uji Ptanah untuk tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) dan pengaruhberbagai dosis pupuk P terhadap kadar P daun dan berat kering tanamanterhadap jarak pagar telah dilakukan pada tanah Ultisol Citayam, Bogor.Percobaan dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Rempahdan Aneka Tanaman Industri Pakuwon, Jawa Barat, dari bulan September2006 sampai Juni 2007. Perlakuan terdiri atas dosis P (SP-36), yaitu 0, 50,100, dan 150 mg P O2 5 /kg tanah, yang disusun dalam Rancangan AcakLengkap (RAL) dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kadar P daun dan berat kering tanaman jarak pagar meningkatsejalan dengan dosis pupuk P yang diberikan. Peningkatan dosis pupuk Pjuga diikuti oleh peningkatan kadar P tanah yang diekstraksi denganmetoda Olsen-P, Bray-1 P, dan HCl 25%. Nilai-nilai kadar P tanah tersediayang diukur dengan ketiga metoda uji P tanah tersebut mempunyai hubungan yang nyata dengan kadar P tanah yang diekstraksi dengan determinasi (R 2 ) tertinggi ditunjukkan oleh persamaan regresi dari nilai-nilai P tanah dengan metoda Bray-1 P (R 2 = 0.92) dibandingkan denganmetoda Olsen-P dan HCl 25%, yang menunjukkan bahwa metoda ujitanah Bray-1 P lebih sesuai untuk penyusunan rekomendasi pemupukan Puntuk tanaman jarak pagar di tanah Ultisol.Kata kunci: Jatropha curcas L., P daun, metode uji P tanah, hubunganantara P daun dan P tanahABSTRACTA study was conducted to compare the suitability of several soil Ptest methods for physic nut (Jatropha curcas L.) and to determine theeffect of various doses of P fertilizer on the leaf P content and the plant drymatter on Ultisol Citayam, Bogor. The experiments were carried out in aglasshouse from September 2006 up to July 2007. The employedtreatments, namely 0, 50, 100, and 150 mg P O2 5 /kg soil (in form of SP-36),were arranged in a Completely Randomized Design (CRD) with fourreplications. The results showed that the leaf P content and plant drymatter of physic nut on Ultisol increased in line with increasing doses of Pfertilizer applied. Increase of P fertilizer P rates was also followed by theincrease of soil P concentrations extracted by the three soil P test methods(Olsen-P, Bray-1 P, and HCl 25%). The values of available soil P concentration measured by the three soil P test methods had significant relationship with leaf P contents. The highest coefficient of determination (R 2 ) showed by the regression equation of available soil P concentrationmeasured by the Bray-1 P (R 2 = 0,92) compared to those measured by theOlsen-P and HCl 25% methods, indicated that the Bray-1 P method islikely  more  suitable  to  be  used  in  establishing  P  fertilizerrecommendations for the physic nut in Ultisol.Key words: Jatropha curcas L., leaf P, soil P test methods, relationshipbetween soil P and leaf P contents
PENGARUH LOKASI PRODUKSI DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP MUTU BENIH JAHE (Zingiber officinale L.) SUKARMAN, SUKARMAN; RUSMIN, DEVI; MELATI, MELATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n3.2008.119-124

Abstract

ABSTRAKSalah satu permasalahan dalam budidaya jahe (Zingiber officinaleL.) adalah masih rendahnya produktivitas dan mutu jahe, yang antara laindisebabkan oleh penggunaan bahan tanaman/benih yang masih asalan/kurang memenuhi persyaratan. Usaha untuk penyediaan benih yangbermutu di antaranya dapat dilakukan dengan penanaman di daerah yangtepat serta menyimpan benih dengan cara yang baik dan benar. Sampaisaat ini informasi mengenai mutu benih jahe dari lokasi produksi(ketinggian tempat, jenis lahan dan jenis tanah) yang berbeda masihterbatas. Oleh karena itu, percobaan ini dilakukan dengan tujuan untukmempelajari mutu fisik dan fisiologik benih jahe dari lokasi produksiyang berbeda selama periode penyimpanan. Percobaan dilakukan di daerahsentra produksi jahe di Dusun Cipanas, Desa Werasari, KecamatanBantarujek, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat dari bulan Juli sampaiNovember 2003, dengan menggunakan tiga jenis jahe yaitu: Jahe PutihBesar/JPB (Z. officinale var. officinale), Jahe Putih Kecil /JPK (Z.officinale var. amarum), dan Jahe Merah/JM (Z. officinale var. rubrum).Untuk masing-masing jenis jahe diperlakukan dengan kombinasi lokasiproduksi dan lama penyimpanan. Untuk masing-masing jenis jahepercobaan disusun dalam rancangan petak terbagi (RPT) dengan tigaulangan. Petak utama yaitu asal lokasi produksi benih: (1) Cipanaslingkungan tumbuh dengan tinggi tempat ± 600 m dpl, lahan sawah tadahhujan, tekstur tanah liat berpasir, kemiringan 0-10% dan (2). Cipicunglingkungan tumbuh dengan tinggi tempat ± 800 m dpl, lahan tegalan,tekstur tanah debu berpasir, kemiringan 10-20%. Anak petak yaitu periodepenyimpanan : 0, 1, 2, dan 3 bulan. Parameter yang diamati meliputi kadarair benih, penyusutan bobot benih dan daya tumbuh benih. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa untuk masing-masing jenis jahe (JPB,JPK, dan JM) yang berasal dari Cipanas maupun Cipicung, mempunyaimutu fisik (kadar air dan penyusutan bobot rimpang) tidak nyatadipengaruhi oleh interaksi lokasi produksi dan lama penyimpanan, sertafaktor tunggal lokasi produksi, tetapi nyata dipengaruhi oleh faktortunggal lama penyimpanan Setelah tiga bulan penyimpanan kadar airbenih rimpang dari lokasi produksi Cipanas dan Cipicung untuk JPB masih82,43% dan 80,67%, JPK kadar airnya masih 84,16% dan 81,31%, danJM 69,49% dan 65,88%. Penyusutan bobot rimpang untuk masing-masingjenis jahe dari lokasi produksi Cipanas dan Cipicung sebagai berikut : JPB14,44% dan 14,82% ; JPK 17,84% dan 26,11% ; JM 48,40% dan 37 14%.Daya tumbuh benih setelah 3 bulan penyimpanan untuk masing-masingjenis jahe dari lokasi produksi Cipanas dan Cipicung sebagai berikut : JPB92,00- 93,32%, JPK 85,33- 86,67% dan JM 86,67-89,33%. Kadar airbenih/rimpang jahe menurun, sedangkan penyusutan bobot rimpangmeningkat sejalan dengan lamanya penyimpanan. JPB, JPK dan JM yangberasal dari Cipanas maupun Cipicung dapat disimpan selama tiga bulan,tanpa mengalami penurunan mutu fisik dan fisiologik yang berarti.Kata kunci : Zingiber officinale, lokasi produksi benih, lamapenyimpanan, mutu benihABSTRACTProduction effect of locations and storage periods onginger seeds qualityProblems of ginger cultivation are low productivity and quality ofginger due to low quality of ginger seed for planting materials. Highquality of ginger seed will be achieved by planting ginger seed in suitableplace and methods. Recently, the information concerning the quality ofginger seed from different production location (altitude, soil types andarea) is still limited. Based on the problems, this experiment wasconducted with special aim to study the physical and physiological qualityof ginger seed from different sources of seed during storage periods. Theexperiment was conducted at the producer center i.e. of ginger, Cipanas,Werasari Village, Sub District Bantarujek, District Majalengka, from Julyto November, 2003. The experiment used three kinds of ginger namelywas white big ginger (Z. officinale var. officinale), small white ginger (Z.officinale var. amarum) and red ginger (Z. officinale var. rubrum). Theexperiment was arranged in split-plot design with 3 replications. The mainfactor was two productions location, there were: ginger seed produced inCipanas (altitude ± 600m above sea level, rain fed area, clay sandy, andslope 0-10%) and ginger seed produce in Cipicung (altitude ± 800m abovesea level, upland area, clay sandy, and slope 10 -20%). The sub plot were0, 1, 2 and 3 month periods of storage. Variables were observed includemoisture content, weight and germination percentage of gingerseed/rhizome after three months storage. The results of experimentindicated that for each kind of ginger (white big ginger, white small gingerand red ginger) physical quality (moisture content of seeds and loosingweight of seed) had no significant interaction between location productionand period of storage or single factor of location production. However,they were significantly effected by single factor periods of storage. After 3months storage, the moisture content of white big ginger produced fromCipanas were 82,43% and 80,67%. For white small ginger the moisturecontend were 84,16% and 81,31%, especially white small ginger producedfrom Cipanas and Cipicung. While the moisture content of red ginger seedproduced from Cipanas and Cipicung were 69,47% and 63,88%. Weightdecrease for each kinds of ginger produced from Cipanas and Cipicungwere as follows white big ginger 14,44% and 14,82%, white small ginger17,84% and 26,11%, red ginger 48,40% and 37,14%. After 3 monthsstorage the germination percentage for each kind of ginger produced fromCipanas and Cipicung were as follows white big ginger 92,00% and93,32%, white small ginger 86,67% and 83,33% and red ginger 89,33%and 86,67%.Key words : Zingiber officinale, location of seed production, storageperiods, seed quality
KANDUNGAN ASAM LAURAT PADA BERBAGAI VARIETAS KELAPA SEBAGAI BAHAN BAKU VCO NOVARIANTO, HENGKY; TULALO, MEITY
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n1.2007.28-33

Abstract

ABSTRAKPeluang pengembangan agribisnis kelapa dengan produk bernilaiekonomi tinggi sangat besar, antara lain Virgin Coconut Oil (VCO). Mutuproduk dari VCO di antaranya ditentukan dari kandungan asam lemakrantai medium, MCFA (C 6 -C 12 ) dan asam laurat (C12:0). Penelitiananalisis keragaman asam lemak pada koleksi plasma nutfah kelapa telahdilakukan pada 35 varietas kelapa yang ditanam di Kebun PercobaanMapanget, Balitka tahun 2005. Teknologi proses VCO sebagai sampelmenggunakan proses pemanasan bertahap, dan sebagian sampel meng-gunakan cara fermentasi. Sampel VCO dari 35 varietas kelapa ini dikirimke Laboratorium Terpadu IPB Bogor untuk dianalisis kadar asamlemaknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragamankandungan asam lemak, khususnya asam laurat pada berbagai varietaskelapa yang cocok untuk bahan baku VCO. Hasil penelitian menunjukkanbahwa keragaman kandungan MCFA dan kadar asam laurat dipengaruhioleh varietas kelapa, tinggi tempat tumbuh, teknologi proses VCO dantempat analisis laboratorium. Hasil analisis asam lemak dari VCO pada 35aksesi kelapa koleksi Balitka Manado diperoleh bahwa total kandunganMCFA pada kelapa Dalam lebih tinggi dari kelapa Genjah. Totalkandungan MCFA kelapa Dalam antara 47,35% sampai 57,89%,sedangkan pada kelapa Genjah antara 45,45% sampai 55,68%. Dari 35aksesi kelapa ini diperoleh bahwa total MCFA di atas 56% ditemukanpada 10 aksesi kelapa Dalam, yaitu Dalam Kinabuhutan, Dalam Tontalete,Dalam Kalasey, Dalam Wusa, Dalam Pungkol, Dalam Mapanget 55 danDalam Mapanget 99 asal Sulawesi Utara, lalu Dalam Lubuk Pakam asalSumatera Utara, Dalam Banyuwangi asal Jawa Timur, dan Dalam Paluasal Sulawesi Tengah. Kandungan asam laurat (C12:0) pada VCO darikelapa Dalam lebih tinggi sekitar 2%-3% dibandingkan dengan kelapaGenjah. Kadar asam laurat pada 35 aksesi kelapa beragam antara terendah36,04% pada kelapa Genjah Hijau Nias asal Sumut, sampai tertinggi44,19% pada kelapa Dalam Kinabuhutan asal Sulut. Aksesi kelapa yangmengandung kadar asam laurat di atas 43% adalah kelapa DalamKinabuhutan, Dalam Tontalete, Dalam Lubuk Pakam, Dalam Wusa danDalam Mapanget 55. Kelapa yang sama varietasnya dan ditanam pada dualokasi yang berbeda tinggi tempatnya diperoleh kadar asam laurat padakopra di dataran rendah (80 m dpl.) ternyata lebih tinggi antara 1,78%sampai 3,94% dibandingkan yang berasal dari dataran tinggi (450 m dpl.).Teknologi fermentasi menghasilkan kandungan asam laurat rata-rata lebihtinggi antara 2,03% sampai 3,48% pada empat varietas kelapa Dalam darilima varietas yang diuji.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera, varietas, pasca panen, asam lemak,asam laurat, minyak kelapa, Sulawesi UtaraABSTRACTLauric acid profile of various coconut varieties as rawmaterial for VCOCoconut agribusiness development has large opportunity to producehigh value coconut product, such as Virgin Coconut Oil (VCO). Thequality of VCO is determined by the content of medium chain fatty acid,MCFA (C 6 -C 12 ) and lauric acid (C12:0). Analysis of fatty acid variationfrom coconut germplasm collection was done on 35 coconut varietiesplanted at Mapanget Experimental Garden, ICOPRI in 2005. Theprossesing technology of VCO used step heating, and some samples alsoused fermentation. The VCO samples of 35 coconut varieties was sent toIntegrated Laboratory of IPB Bogor to find out the content of fatty acids.The purpose of the study was to know the variability of fatty acid contents,especially for lauric acid content in various coconut varieties as rawmaterials for VCO. The research result showed that the content of MCFAand lauric acid was influenced by coconut varieties, altitude of coconutpalm growth, processing technology of VCO and defferent laboratories foranalysis the fatty acids. The result of fatty acids analysis of VCO from 35coconut accessions of ICOPRI germplasm collection found that total ofMCFA content on tall coconut is higher than dwarf coconut. Total ofMCFA content on tall coconut ranges 47.35%-57.89%, whereas on dwarfcoconut it ranges of 45.45%-55.68%. From 35 coconut accessions, therewere 10 accessions that showed total MCFA higher than 56% namely:Kinabuhutan Tall, Tontalete Tall, Kalasey Tall, Wusa Tall, Pungkol Tall,Mapanget 55 Tall and Mapanget 99 Tall from North Sulawesi, and thenLubuk Pakam Tall from North Sumatera, Banyuwangi Tall from East Java,and Palu Tall from Central Sulawesi. Lauric acid content of VCO of tallcoconut was higher 2%-3% compared to dwarf coconut. Lauric acidcontent of 35 coconut accessions varied from the lowest 36.04% on NiasGreen Dwarf from North Sumatera, up to the highest 44.19% onKinabuhutan Tall from North Sulawesi. Coconut accessions that havelauric acid content higher than 43% were Kinabuhutan Tall, Totalete tall,Lubuk Pakam Tall, Wusa Tall and Mapanget 55 Tall. The same varietiesof tall and hybrid coconut planting on two different altitudes showed thelauric acid content of copra on lowland plain (80 m above sea level) washigher between 1.78% to 3.94% compared to the same varieties on uplandplain (450 m above sea level). The fermentation processing technology ofVCO has resulted average of lauric acid content are higher between 2.03%to 3.48% on four varieties of coconut tall, from the five varieties. In thefuture it is necessary to develope the protocol of VCO which is matchedwith Indonesian National Standardization of VCO.Key words: Coconut, Cocos nucifera, variety, pest harvest, fatty acid,lauric acid, coconut oil, North Sulawes
PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU BAKTERI NILAM MENGGUNAKAN PSEUDOMONAD FLUORESEN NASRUN NASRUN; CHRISTANTI CHRISTANTI; TRIWIDODO ARWIYANTO; IKA MARISKA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n1.2005.19-24

Abstract

ABSTRAKPenelitian pengendalian penyakit layu bakteri nilam (Ralstoniasolanacearum) menggunakan pseudomonad fluoresen di kebun petaninilam Desa Situak Pasaman Barat, Sumatera Barat telah dilakukan padabulan Oktober 2003 sampai dengan Juni 2004. Penelitian ini bertujuanuntuk mendapatkan pseudomonad fluoresen yang berpotensi untukmengendalikan penyakit layu bakteri, dan meningkatkan pertumbuhandan produksi nilam. Isolat pseudomonad fluoresen Pf 63, Pf 90, Pf 91, Pf147, dan Pf 180 sebagai perlakuan diisolasi dari rizosfer nilam sehat, dandiseleksi  berdasarkan  kemampuan  antagonistik  terhadap  R.solanacearum secara in vitro di Laboratorium Bakteriologi TumbuhanFakultas Pertanian UGM. Isolat pseudomonad fluoresen tersebutdiintroduksikan ke nilam dan diadaptasikan selama 1 minggu sebelumditanam. Tanaman yang telah diperlakukan dengan isolat pseudomonadfluoresen ditanam pada kebun yang telah terinfeksi dengan patogen padabulan Oktober 2003. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok(RAK) dengan 6 ulangan. Parameter pengamatan adalah masa inkubasi,intensitas penyakit, pertumbuhan tanaman dan produksi minyak nilam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat pseudomonad fluoresendapat mengendalikan penyakit layu bakteri dengan perpanjangan masainkubasi 6-52 hari dan penekanan intensitas penyakit 31,11 – 50,56%.Disamping itu isolat pseudomonad fluoresen dapat mempengaruhipeningkatan pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman (6,7 – 26,3 cm),jumlah daun (4,6 – 30,1 daun/tanaman) dan berat kering daun (24,5 –154,3 g/tanaman), dan produksi minyak nilam terutama jumlah minyak(4,8 – 22,3 ml/tanaman). Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa isolatPf 91 mempunyai kemampuan antagonistik tertinggi dalam mengen-dalikan penyakit layu bakteri di lapangan.Kata kunci : Nilam, Pogostemon cablin Benth, penyakit layu, bakteri,pengendalian hayati, pseudomonad fluoresenABSTRACTControlling bacterial wilt disease on patchouli plant withfluorescent pseudomonadThe study of controlling bacterial wilt disease on patchouli plant(Ralstonia solanacearum) with fluorescent pseudomonad was carried outin a farmer’s field in Situak Village West Pasaman, West Sumatera fromOctober 2003 to June 2004. The aims of the study were to find out theeffectiveness of fluorescent pseudomonad for controlling bacterial wiltdisease, increasing plant growth and production. Isolates of fluorescentpseudomonad Pf 63, Pf 90, Pf 91, Pf 147 and Pf 180 as treatments wereisolated from the rhizosphere of healthy patchouli plant, and selectedbased on antagonistic activity on R. solanacearum in vitro at theLaboratory of Plant Bacteriology, Faculty of Agriculture, UGM. Theisolates were inoculated on patchouli plant and adapted for one weekbefore planting. The plants treated with fluorescent pseudomonadisolates were planted in the field infected with pathogen on October2003. The experiment was arranged in a randomized block design(RBD) with six replications. The assessment parameters were incubationperiod, disease intensity, plant growth and production of patchouli plants.The results showed that fluorescent pseudomonad isolates could controlthe bacterial wilt disease and delay the incubation period 6-52 days anddecrease the disease intensity 31,11–50,56%. In addition fluorescentpseudomonad isolates could affect the increase of plant growth, i.e. plantheight ( 6,7 – 26,3 cm ), leaf numbers (4,6 – 30,1 leaves/plant) and dryweight of leaves (24,5 – 154,3 g/plant), and plant production, especiallyoil content (4,8 – 22,3 ml/plant). The results of the experiment showedthat Pf 91 isolate had the highest antagonistic activity on controlling thebacterial wilt disease on field.Key words : Patchouli, Pogostemon cablin Benth, wilt disease,bacterial, biological control, fluorescent pseudomonad
PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN AIR PADA TIGA AKSESI SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees )TERHADAP MUTU DAN PRODUKSI SIMPLISIA M. JANUWATI; NUR MASLAHAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n2.2008.54-60

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian airterhadap tiga aksesi sambiloto untuk meningkatkan produktivitas dan mutusimplisia. Dilaksanakan di rumah kaca Balittro (Balai Penelitian TanamanObat dan Aromatik), Bogor, dari bulan Juni sampai Desember 2006.Rancangan yang digunakan adalah petak terbagi, dengan ulangan tigakali. Petak utama adalah aksesi sambiloto (3 nomor) yaitu Cmg-1, Cmg 2,dan Blali-1, anak petak adalah pemberian air (5 perlakuan) yaitu 3, 4, 5, 6,dan 7 mm/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksiantara aksesi sambiloto dan tingkat pemberian air terhadap pertumbuhantanaman (tinggi tanaman, jumlah cabang dan luas daun), kecuali padaproduksi berat segar 2 bulan setelah tanam (BST) dan produksi beratkering pada 4 BST. Perlakuan Cmg-2 dikombinasi dengan pemberian air 5mm/hari menghasilkan berat segar dan kering tertinggi. Perlakuanpemberian air 3-7 mm/hari/tanaman dapat menghasilkan produksi danmutu simplisia yang dapat memenuhi standar Materia Medika Indonesia(MMI) berdasar kadar air, kadar abu, dan kadar sarinya. Dengan demikiankebutuhan air sambiloto setara dengan palawija atau sayur-sayuran. MutuBlali-1 dan pada perlakuan pemberian air 3 mm/hari menunjukkan kadarsari larut alkohol tertinggi (22,28%) dan Cmg-2 pada perlakuan pemberianair 4 mm/hari menunjukkan kadar sari larut air paling tinggi (28,14%) dankadar andrografolid simplisia 1,78%.Kata kunci : Sambiloto,  Andrographis  paniculata  Nees,  tingkatpemberian air, produksi, mutu simplisiaABSTRACTThe effects of water treatment on some numbers ofaccessions on the quality and production of the sympliciaof sambiloto, the king of bitter (Andrographis paniculataNees )The experiment was carried out to study the effect of watertreatment three accession of sambiloto, the king of bitter, to increase itsproductivity and symplicia. The experiment was conducted in the greenhouse of the Indonesian Medicinal and Aromatic Crop Research Institute(IMACRI), Bogor, from June to December 2006. The experimentarranged in split plot design with three replications, The main factor wasthree accession number of sambiloto i.e. Cmg-1, Cmg-2, and Blali-1,whereas the sub factor was water treatments i.e. 3 mm, 4 mm, 5 mm, 6mm, and 7 mm/day. The results showed that there was no interactionbetween the numbers of accessions and water treatment on the plantgrowth except for fresh weight production at 2 Month After Planting(MAP) and dry weight production at 4 MAP. Cmg-2 treatment combinedwith water treatment (5 mm/day) produced the highest fresh and dryweight. Water treatment of 3 - 7 mm/day produce the yield and quality thatmeet standard of the Materia Medika Indonesia (the material medical ofIndonesia) based on the water, ash, and gist contents. Therefore, waternecessity of sambiloto is evenly balanced with secondary crops orvegetables. The quality of Blali-1 on the water treatment of 3 mm/dayindicated the highest dissolved gist of alcohol (22.28%) meanwhile theCmg-2 on the water treatment of 4 mm/day showed the highest dissolvedgist of water (28.14%) and andrographolid content of symplicia is 1.78%.Key words : King of bitter, Andrographis paniculata Nees, watertreatment, yield, quality of symplicia
ANALISIS MUTU, PRODUKTIVITAS, KEBERLANJUTAN DAN ARAHAN PENGEMBANGAN USAHATANI TEMBAKAU DI KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH MAMAT H.S; S.R.P. SITORUS SITORUS; H. HARDJOMIDJOJO H. HARDJOMIDJOJO; A.K. SETA A.K. SETA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n4.2006.146-153

Abstract

ABSTRAKTembakau Temanggung merupakan komoditas penting bahan bakuindustri rokok kretek, sumber pendapatan petani dan PAD KabupatenTemanggung. Selain itu, tembakau juga menjadi pemicu pertumbuhankegiatan ekonomi lainnya yang terkait dengan usahatani, sepertitransportasi, penyediaan sarana produksi pertanian serta penyediaanlapangan kerja. Usahatani tembakau Temanggung menghadapi 3 (tiga)masalah utama, yaitu: sifat tembakau Temanggung yang tergolong fancyproduct, struktur pasar yang monopsonistik dan kondisi lahan usahataniyang beragam (beragam menurut elevasi, arah lereng dan tingkatkemiringan lereng). Kondisi lahan tersebut mengakibatkan mutu tembakaumenjadi beragam, dan cenderung menurun bahkan mengancam keber-lanjutan usahatani tembakau. Penelitian ini dilaksanakan bulan Januari2004 - Maret 2005 di sentra produksi tembakau Temanggung, yangmemiliki beberapa perbedaan berdasarkan elevasi, arah lereng dan tingkatkemiringan. Untuk mengetahui ragam mutu dan produktivitas dianalisisdengan sidik ragam. Untuk mengetahui pengaruh elevasi, arah dankemiringan  lereng  digunakan  analisis  regresi  berganda.  Dalammenganalisis keberlanjutan usahatani, digunakan multi atribut non-parametrik yang diolah dengan multidimentional scaling (MDS). Mutu danproduktivitas tembakau Temanggung cukup beragam. Elevasi dan arahlereng (slope aspect) merupakan faktor utama yang mempengaruhi mutudan produktivitas tembakau Temanggung. Mutu tembakau yang ditanampada lahan berelevasi di atas 1.000 m dpl, nyata lebih baik dibandingkandengan mutu tembakau yang ditanam pada lahan yang berelevasi kurangdari 1.000 m dpl. Produktivitas tembakau yang ditanam pada lahan arahlereng ke timur nyata lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitastembakau pada lahan arah lereng ke timur laut dan utara. Tingkatkemiringan lereng tidak berpengaruh terhadap mutu maupun produktivitastembakau. Indeks keberlanjutan usahatani tembakau Temanggung,termasuk kedalam kategori cukup (IKb = 55,53 pada skala keberlanjutan 0– 100).Kata kunci : Tembakau, Nicotiana tabacum L., tembakau Temanggung,mutu, produktivitas, indeks keberlanjutan, usahatani, JawaTengahABSTRACTAnalysis of quality, productivity and sustainability anddevelopment direction of tobacco farming in TemanggungDistrict, Central JavaTemanggung tobacco is an important commodity for cigaretteindustry, farmers’ income and product domestic regional brutto (PDRB)of Temanggung District. Tobacco stimulates economy activities, so that itcan grow other bussiness activities, such as transportation, agroproductand employment availability. Uncontrolled cultivation intensity andmarket structure monopsonistic resulted in weak bargaining position offarmer in marketing tobacco. Tobacco is a fancy product, it means that itsmarketing and transaction are very determined by quality. Theseconditions affected the sustainability of tobacco farm. This research wascarried out from January 2004 to March 2005 in the center of Temanggungtobacco production, which varies in terms of elevation, slope aspect andtopography. Temanggung tobacco varies in terms of quality andproductivity. Elevation and slope aspect were the primary factorsinfluencing tobacco productivity and quality. The quality of tobaccoplanted at farmer location at the elevation more than 1.000 m above sealevel (asl) with slope facing east, was significantly better than the qualityof tobacco planted at the elevation less than 1.000 m asl with slope facingnorth-east and north. The tobacco productivity planted on the slope facingeast differed significantly with the tobacco productivity planted on north-east and north slope facing. The slope did not significantly influencetobacco quality and productivity. Sustainability index of tobacco farmbelongs to enough category (IKb = 55.53 at scale of sustainability 0 –100).Key words : Nicotiana tabacum L. Temanggung tobacco, quality,productivity, sustainability index, farming system, CentralJava
KARAKTER FISIK DAN FISIOLOGIS JENIS RIMPANG SERTA KO RELASINYA DENGAN VIABILITAS BENIH JAHE PUTIH BESAR (Zingiber officinale Rosc.) MELATI MELATI; SATRIYAS ILYAS; ENDAH RETNO PALUPI; ANAS D SUSILA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v21n2.2015.89-98

Abstract

ABSTRAKSalah satu kendala dalam produksi jahe putih  besar (Zingiber treatments tested were five types of rhizomes, control (2-3 vegetative officinale Rosc.) adalah tingginya kebutuhan benih yaitu sekitar 2 juta ton buds), mother rhizome, primary rhizome, secondary rhizomes, and tertiary per ha. Efisiensi penggunaan benih tanaman telah dilakukan melalui penelitian yang bertujuan untuk menentukan karakter awal rimpang yang berhubungan/berkorelasi dengan viabilitas benih rimpang dan peluang perbanyakan jahe dengan menggunakan satu jenis rimpang. Percobaan ini dilaksanakan di rumah kaca dan laboratorium benih Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor pada bulan Mei 2014 sampai Agustus 2014. Benih tanaman berasal dari jahe putih besar yang dipanen pada umur 9 bulan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu lima jenis rimpang  yaitu kontrol (2-3 propagul), rimpang induk, rimpang primer, rimpang sekunder, dan rimpang tersier. Pengamatan karakteristik awal rimpang/mutu fisik (bobot, diamater, panjang dan kekerasan) dilakukan terhadap masing-masing jenis rimpang. Mutu kimia meliputi kadar pati, kadar serat, kadar air, kandungan hormon GA3 dan hormon IAA serta laju respirasi. Peubah yang diamati untuk menduga viabilitas benih yaitu daya tumbuh yang diukur 1 BST (bulan setelah tanam). Viabilitas potensial benih yaitu tinggi tunas,  jumlah  tunas,  jumlah  daun,  bobot  kering  tunas,  bobot  basah rimpang, bobot kering rimpang, panjang akar bobot kering akar diamati pada 1,5  BST.  Data  awal (karakter  fisik  dan  fisiologis  rimpang) dikorelasikan dengan viabilitas benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  kadar  pati  berkorelasi  positif  dengan  viabilitas  benih (daya tumbuh).  Viabilitas  benih  berkorelasi  negatif  dengan  karakter  fisik rimpang (bobot, kekerasan, dan diameter). Rimpang induk mempunyai kadar pati dan kekerasan yang tinggi. Kontrol yang selama ini digunakan sebagai   kriteria   benih   mempunyai   daya   tumbuh   rendah.   Efisiensi penggunaan rimpang dapat dilakukan menggunakan satu jenis rimpang (satu propagul). Rimpang induk, primer, sekunder dan  tersier yang terdiri atas satu propagul dengan bobot rimpang antara 20 dan 40 g dapat digunakan sebagai sumber benih.Kata kunci:  Zingiber  officinale  Rosc,  efisiensi  benih,  jenis  rimpang, korelasi, viabilitas benih Correlation Among Physical, Physiological Characters of Rhizome Type and Viability of Large White Ginger (Zingiber officinale     Rosc.)ABSTRACTOne  of the problems  in the  large white ginger  production  of (Zingiber officinale Rosc.) is high requirement for seed rhizome (± 2 ton per ha). Efficiency of propagation material has been carried out through research that aims to determine the initial character of rhizome related to seed viability of ginger rhizome and opportunity’s of propagation using one type of rhizome. This experiment was conducted in the greenhouse  and laboratory of  Seed Research Institute for Spices and Medicinal Crops,  Bogor from May 2014 to August 2014. The plant material derived from a large white ginger is harvested 9 months after planting. The design used was a randomized complete block design with four replications. The treatments tested were five types of rhizomes, secondary rhizomes, and tertiary rhizomes. Observations  baseline  characteristics  of  rhizomes  /physical characters (weight, diameter, length and hardness) carried out on each type of rhizome. Physiological characters (starch content, fiber content, water content, GA3, IAA and respiration rate). Viability (growth ability) was observed at 1 MAP (month after planting). Potential viability (sprout height,  number  of  shoots,  number  of  leaves,  dry  weight  of  shoots, rhizomes wet weight, dry weight of rhizomes, root length root dry weight) were observed at 1.5 MAP. The physical, physiological characters and viability observations were subjected to correlation. The  results  showed  that starch  content  positive  significant correlation with viability (growth   ability).   Viability was   negative significant  correlation  with physical character  of rhizome (weight, hardness, and diameter). Mother rhizome has high starch content and high hardness.  Efficiency of seeds can be done by using single rhizome (one propagule) as propagation material, with rhizome weight ± 20 - 40g.Keywords:  Zingiber  officinale  Rosc,  seed  efisiensi,    rhizome  type, correlation, viability
PROSPEK PERBAIKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA DAN PASCAPANEN KUMIS KUCING DI KABUPATEN SUKABUMI EKWASITA RINI PRIBADI; WAWAN LUKMAN; BAGEM SOFIANA SEMBIRING
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n4.2014.211-219

Abstract

  Prospect Improvement Cultivation Technology and Postharvest of Cats Whiskers in Sukabumi RegencyABSTRAK Penerapan teknologi pertanian diarahkan pada teknologi yang tepat guna dan tepat terap sesuai dengan komoditas yang dikembangkan, untuk itu  perlu  didahului  studi  kelayakan.  Penelitian  bertujuan  mengetahui prospek perbaikan teknologi budidaya dan pascapanen kumis kucing, dilakukan dalam bentuk sosilisasi dan demplot di kebun petani Kecamatan Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat dari bulan Maret sampai Desember 2012. Perbaikan   teknologi   budidaya   kumis   kucing   melalui   penerapan pemupukan SOP rekomendasi Balittro dengan dosis pupuk kandang 20 ton/ha, diberikan 1-2 minggu sebelum tanam, Urea, SP-36, dan KCl masing-masing dengan dosis 200, 200, dan 150 kg/ha diberikan setiap habis panen. Pengeringan simplisia menggunakan kain penutup hitam pada terna basah yang dihamparkan di atas plastik. Data dianalisis secara deskriptif. Tingkat kelayakan teknologi budidaya diukur berdasarkan : tingkat efisiensi teknis, efisiensi ekonomis, serta efisiensi alokatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SOP budidaya dan pascapanen anjuran Balittro dapat meningkatkan produksi dan pendapatan usaha tani kumis kucing, hasil terna basah kumis kucing untuk enam kali panen per tahun pada budidaya monokultur 3.333 kg/1.000 m2 dan tumpang sari dengan ubi kayu 2.592 kg/1.000 m2, lebih tinggi 62,70 dan 81,75% dibanding  pada  petani. Analisis  efisiensi  ekonomi  terna  basah  SOP pemupukan  Balittro  pada  budidaya  monokultur  diperoleh  pendapatan Rp.2.486.667,- dan tumpang sari dengan ubi kayu Rp.946.000,- per 1.000 m 2 , masing-masing dua kali dan sepuluh kali lebih tinggi dari pendapatan dengan  pemupukan  petani  setempat.  Pengembangan  budidaya  kumis kucing dengan pemupukan anjuran perlu upaya penyuluhan, penyediaan kredit usaha, dan promosi produk secara luas. Kata kunci:  Orthosipon aristatus Miq., perbaikan teknologi, budidaya,   pascapanen, sistem usaha tani  ABSTRACT The application of agricultural technologies directed at appropriate technology and applicability according to the commodity which was developed, for that require to be preceded by feasibility studies.  Research prospect improvement cultivation technology and postharvest of java tea in the form dissemination and demonstration plots was conducted in the farmer’s plantation at Nagrak District, Sukabumi, West Java, from March to December 2012. ISMCRI fertilizer recommendations were applied manure 20 tonnes/ha, applied 1-2 weeks before planting and inorganic fertilizer consisting of urea, SP36 and KCl respectively at a dose of 200, 200, and 150 kg/ha was given after every harvesting. Dissemination of the drying using black slipcover on the wet herbaceous plant spread on plastic. The feasibility technological was measured based on the level of technical efficiency, economic efficiency and price efficiency. The results showed SOP fertilizer introduced technically and economically more efficient, herbaceous  plant  production  java  tea  for  six  harvest  per  year  on monoculture farming 3,333 kg/1.000 m2 and intercropped with cassava 2,592 kg/1.000 m2, were higher than the farmer production, and more efficient in the allocation of inputs there were 62.70 (monoculture) and 81.75% (in intercropping with cassava). Economic efficiency analysis of the wet herbaceous plant product showed, cultivation with SOP fertilizer recommendation on monoculture cultivation income earned Rp.2,486,667,- and intercropping with cassava Rp. 946,000, - per 1,000 m2, respectively twice  and  ten times higher  than  income  to  local  farmers  fertilizing cultivation.  The  development  of  java  tea  cultivation  using  fertilizer recommendation should efforts of counseling, provision of business loans and promotion the product extensively.  Keywords:   Orthosipon   aristatus   Miq.,   technology   improvement,   cultivation, postharvest, farming system

Page 6 of 56 | Total Record : 552


Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue