cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
EFEKTIFITAS PENAMBAHAN LAHAN USAHATANI METE DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI AGUS WAHYUDI; SUCI WULANDARI; I KETUT ARDANA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n1.2005.37-43

Abstract

ABSTRAKLahan usahatani yang sempit merupakan faktor utama penyebabkemiskinan di wilayah pedesaan. Reformasi agraria dengan redistribusilahan sering dianggap sebagai jalan efektif untuk mengatasi kemiskinan.Pengalaman di beberapa negara ternyata tidak selalu demikian. Mengingatbahwa wilayah usahatani mete merupakan wilayah yang memiliki tingkatkemiskinan yang tinggi maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisispola pengaruh penambahan lahan usahatani mete terhadap peningkatanpandapatan petani di dua wilayah dengan kondisi agribisnis yang berbeda.Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2002 di Propinsi SulawesiTenggara sebagai salah satu sentra produksi mete yang dapat dijadikangambaran kondisi Indonesia. Kabupaten Buton mewakili kondisi agribisnisyang belum berkembang dan Kendari mewakili yang berkembang (duakabupaten yang terbesar populasi rumah tangga mete). Pengambilancontoh acak sederhana digunakan untuk menarik contoh responden dengansatuan contoh usahatani mete, masing-masing 156 dan 136 untuk Butondan Kendari. Data dianalisis melalui regresi, dengan variabel independenluas lahan usahatani (L) dan variabel dependen pendapatan usahatani (I),diperoleh fungsi derivatifnya terhadap L untuk Buton ∂I B /∂L B  =131.925L B 2 – 502.858L B –510.069 (penambahan pendapatan positif mulai4,6 ha); dan Kendari ∂I K /∂L K = -20.967L K 2 +21.0694L K –113.550 (penam-bahan pendapatan positif mulai 0,6 ha dan cenderung menurun setelah 5ha). Hasil ini menunjukkan bahwa efektifitas penambahan lahan usahataniterhadap pendapatan petani ternyata berbeda pada wilayah yang kondisiagribisnisnya berbeda. Pada wilayah yang belum berkembang (sepertiButon), penambahan lahan kurang efektif dapat meningkatkan pendapatanuntuk melampaui garis kemiskinan, dan penambahan baru efektif lebihbesar dari 5 ha. Sedangkan pada wilayah yang sudah berkembang (sepertiKendari) penambahan lahan sudah efektif dengan penambahan 1,5 ha.Pengembangan agribisnis tersebut antara lain melalui pengembangan polatanam dan industri hilir (pengolahan sederhana) sangat efektif untukmeningkatkan pendapatan petani yang memiliki lahan sempit, danefektifitas ini akan semakin meningkat bila ditunjang dengan peningkatanakses pasar melalui perbaikan infrastruktur.Kata kunci : Mete, Anacardium occidentale L, lahan usahatani, pendapatanpetani, kemiskinan, agribisnisABSTRACTEffectiveness of farm land addition to additional incomeSmall farm is the main factor that causes poverty incidence in ruralarea. Land reform through land redistribution is often taken for granted asan effective way to alleviate poverty. However, experiences in somecountries do not always prove it. Since cashew farm areas generallycoincide with high poverty incidence, hence this research aimed to analyzeeffectiveness of farm land addition to the additional income in two areaswith different condition of agribusiness. The District of Buton is asrepresentative of underdeveloped agribusiness and Kendari Districtrepresents the developed one, both districts have the largest cashewpopulation in the Province of Southeast Sulawesi, as one of the maincashew area in Indonesia. Data were collected in June-July 2002. Thesimple random sampling was used to determine respondents and cashewfarm as unit of sample, and the sample size was 156 and 136 unitsrespectively for Buton and Kendari. Data were analyzed with regressionanalysis, where cashew farm land size (L) was used as independentvariable and farmer’s income (I) as dependent variable. The derivativefunction to L obtained is ∂I B /∂L B = 131.925L B 2 –502.858L B –510.069(Buton) (additional income will be positive, larger than 4.6 ha); and∂I K /∂L K = -20.967L K 2 +21.0694L K –113.550 (Kendari) (additional incomewill be positive, larger than 0.6 ha). The result showed that theeffectiveness of land addition to increase farmer’s income was proveddifferent in different agribusiness conditions. In underdeveloped area (likeButon), the land addition was less effective to increase income over thepoverty line and it would be effective if the addition was larger than 5 ha.While in developed area (like Kendari), the addition of land was effectiveby adding 1.5 ha. Developing agribusiness condition could be conductedby developing cropping system and forwarding home industry(processing). The development will be more effective if it is supported byimproving market access through improvement of infrastructure.Key words : Cashew, Anacardium occidentale L, farm land, farmer’sincome, poverty, agribusiness
PENENTUAN POLA PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI JAMBU METE CHANDRA INDRAWANTO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n2.2008.78-86

Abstract

ABSTRAKSebagai produsen mete, agroindustri mete di Indonesia masih belumberkembang. Sekitar 36% produksi masih diekspor dalam bentukgelondong. Pengembangan agroindustri mete yang mengandalkan industribesar tidak berjalan baik. Untuk itu perlu dicari pola yang tepat untukpengembangan agroindustri mete. Penelitian ini menggunakan pendekatansystem dengan menerapkan metode AHP (Analytic Hierarchy Process)untuk menentukan skenario terbaik pengembangan industri mete nasionalyang kuat. Akuisisi pendapat pakar dilakukan dengan wawancara intensifdan melalui FGD terhadap tujuh pakar di Bogor pada bulan Februari 2007.Faktor penentu keberhasilan pengembangan agroindustri mete dengantingkat kepentingan relatif tertinggi adalah ketersediaan bahan baku.Faktor ini sangat ditentukan oleh kinerja aktor petani dalam usahataninya,sehingga aktor petani memiliki tingkat kepentingan relatif tertinggi diantara ketiga aktor penentu. Kinerja usahatani ditentukan olehterpenuhinya obyektif dari aktor petani terutama obyektif pendapatanusahatani yang baik. Dari ketiga skenario pola pengembangan industrimete, pola industri dengan basis industri kecil skala rumah tangga untukpengacipan yang ditunjang industri pengolahan kulit mete ditingkatkabupaten sentra produksi mete dipilih sebagai pola terbaik karena dapatmemenuhi seluruh obyektif petani dengan baik. Kebijakan yang perludiambil dalam membangun industri mete dengan pola terpilih adalahdengan membentuk klaster industri mete di kabupaten sentra produksimete, meningkatkan pendapatan petani melalui pengenalan budidayaanjuran, tanaman sela dan diversifikasi hasil, serta mendorong per-dagangan kacang mete ke negara-negara terdekat pengimpor kacang meteseperti Australia, Jepang, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.Kata kunci : Jambu mete, Anacardium occidentale, AHP, agroindustri,klasterABSTRACTAssortment  of  patrons  of  cashew  agroindustrydevelopmentAs a cashew producer, Indonesia’s cashew agroindustry has notbeen developed yet. Around 36% of cashew production is exportedwithout being processed. For that reason, a proper patron of cashewagroindustry development should be found. This research used systemapproach. AHP method had been applied to judge the best scenario of thepatron of cashew agroindustry development. Acquisition of expertjudgement had been done by intensive interview and FGD to seven expertin Bogor in February 2007. The analysis showed that raw material ofcashew supply is the most important determinant factor in developingcashew agroindustry. Performance of this factor is depend on theperformance of farmers in managing their farming. This condition putfarmers as the most important actor in developing cashew agroindustry.The performance of the farmers depends on how the scenario can fulfillthe objectives of the farmers. From three scenarios judged, cashewagroindustry based on home industry in cashew central productionregencies is the best scenario that can fulfil all objectives of the farmer.Policies should be taken in developing cashew agroindustry using thisscenario are: building clusters of the cashew industry in cashew centralproduction regencies, Increasing farmers income from their farming byintroducing good farming systems, intercropping, product diversificationof cashew and increasing cashew nut export to importer countries such asAustralia, Japan, Uni Emirate Arab and Saudi Arabia.Key words: Cashew, Anacardium occidentale, AHP, agroindustry, cluster
DETECTION OF PHYTOPLASMAS ASSOCIATED WITH KALIMANTAN WILT DISEASE OF COCONUT BY THE POLYMERASE CHAIN REACTION J.S. WAROKKA J.S. WAROKKA; P. JONES P. JONES; M.J. DICKINSON M.J. DICKINSON
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n4.2006.154-160

Abstract

ABSTRACTCoconut is the second Indonesia’s most important social commodityafter rice. There are more than 3.6 million hectares of coconut plantationsin Indonesia equivalent to one third of the total world coconut area.However, the production and productivity of the coconut are very low andunstable for various reasons, including pests and diseases. Kalimantan wilt(KW) disease causes extensive damage to coconut plantation. In previousinvestigations, bacteria, fungi, viruses, viroids and soil-borne pathogenssuch as nematodes were tested, but none of them were consistentlyassociated with the disease. The objective of this research was to detectand diagnose the phytoplasma associating with KW. Two DNA extractionmethods, namely a modification of CTAB method involving grindingcoconut trunk tissue in pre-warmed CTAB instead of liquid nitrogen, and asmall scale DNA extraction method, were used to prepare DNA fromcoconut trunk tissues. Research results showed that both methods werefound equally suitable for preparing DNA from coconut trunk tissues forPCR analysis. The phytoplasmas aetiology of KW has been proved by thenested PCR approach using P1/P7 and R16F2n/R16R2 primercombinations. The study has further demonstrated that the nested PCRapproach can be employed to effectively detect the presence ofphytoplasma both in infected and in symptomless coconut trunk tissues.Phytoplasma DNA was amplified from 95 out of 116 samples (81.9%).Based on source of samples, phytoplasma DNA was amplified from KWinfected and symptomless samples, 95.1% and 67.3% respectively. Thisstudy confirmed that KW is caused by phytoplasma.Key words : Coconut, Cocos nucifera L., plant disease, Kalimantan wiltdisease, phytoplasma, polymerase chain reaction, CentralKalimantanABSTRAKDeteksi phytoplasma yang berasosiasi dengan penyakitlayu Kalimantan pada kelapa dengan reaksi rantaipolymeraseKelapa merupakan komoditi sosial kedua setelah padi di Indonesiadengan luasan areal lebih dari 3.6 juta ha pertanaman, ekuivalen dengansepertiga luas kelapa dunia, hal ini menjadikan Indonesia sebagai negaraprodusen kelapa terluas di dunia. Sekarang ini produksi dan produktivitaskelapa sangat rendah dan tidak stabil yang disebabkan oleh berbagai alasantermasuk serangan hama dan penyakit. Penyakit layu Kalimantan telahmengakibatkan kerugian yang besar pada pertanaman kelapa. Penelitiansebelumnya untuk mengetahui penyebab penyakit dilakukan denganmenguji bakteri, cendawan, virus, viroid dan patogen tanah sepertinematoda tetapi tidak ada yang secara konsisten berasosiasi denganpenyakit layu Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi danmendiagnosa phytoplasma sebagai penyebab penyakit yang berasosiasidengan layu Kalimantan. Penelitian ini menggunakan dua metode untukmengekstraksi DNA yaitu metode CTAB yang biasanya menggunakannitrogen cair dimodifikasi dengan menghancurkan sampel tanaman padaCTAB yang dipanaskan, dan metode skala kecil. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kedua metode yang digunakan menghasilkan DNAyang sama baiknya untuk analisis PCR. Teknik nested PCR menggunakankombinasi primer P1/P7 dan R16F2n/R16R2 dapat membuktikan bahwapenyebab penyakit layu Kalimantan adalah phytoplasma. Teknik ini jugasecara efektif dapat mendeteksi phytoplasma dalam jaringan tanamankelapa yang sudah terinfeksi maupun yang belum menunjukkan gejalapenyakit. DNA phytoplasma dapat dideteksi pada 95 sampel dari 116sampel (81.9%) yang dianalisis. Berdasarkan jenis sample yang diperiksaternyata phytoplasma dapat dideteksi pada sample yang terinfeksi maupunyang belum menunjukkan gejala penyakit masing-masing 95.1% dan67.3%. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi bahwa penyakit layuKalimantan disebabkan oleh phytoplasma.Kata kunci: Kelapa, Cocos nucifera L., penyakit tanaman, penyakit layuKalimantan,  phytoplasma,  reaksi  rantai  polymerase,Kalimantan Tengah
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SERTA PENDAPATAN PETANI PADA MODEL PEREMAJAAN KELAPA SAWIT SECARA BERTAHAP MUHAMMAD SYAKIR; MAMAN HERMAN; DIBYO PRANOWO; YULIUS FERRY
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v21n2.2015.69-76

Abstract

ABSTRAKLuas kelapa sawit rakyat yang perlu diremajakan saat ini mencapai 1,26 juta ha atau 35% dari luas total nasional. Namun peremajaannya terkendala   karena   biaya   sangat   mahal.   Tujuan   penelitian   adalah mendapatkan model peremajaan kelapa sawit rakyat yang efisien dan ekonomis. Penelitian dilaksanakan pada Januari 2010-Desember 2012 di Kabupaten   Rokan   Hilir,   Provinsi   Riau.   Rancangan   percobaan menggunakan Petak Terbagi dengan tiga ulangan. Petak utama adalah tiga model peremajaan, yaitu 20-20-60; 40-40-20, dan 60-40. Anak petak adalah dua jenis tanaman sela (jagung dan kedelai). Model peremajaan 20-20-60, yaitu penebangan dan peremajaan 20% dari jumlah pohon sawit tua pada tahun pertama, 20% pada tahun kedua, dan 60% pada tahun ketiga. Dilakukan pendekatan yang sama untuk kedua model lainnya. Setiap plot percobaan  terdiri  dari 25  pohon  sawit  muda  dan 25  tua.  Variabel pengamatan untuk tanaman sawit muda adalah tinggi tanaman, jumlah daun, lingkar pangkal batang, indeks luas daun, dan persentase tanaman berbunga;  tanaman  sawit  tua  adalah  produksi  tandan  buah  sawit; sedangkan  tanaman  sela  adalah  produksi  jagung  dan  kedelai.  Hasil penelitian menunjukkan pola peremajaan model 20-20-60 paling efisien karena penebangan sawit tua hanya mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman sawit muda pada tahun I dan II, namun tidak mempengaruhi persentase berbunga tanaman sawit muda. Secara ekonomis, model 20-20-60 dengan tanaman sela jagung paling menguntungkan karena selama tiga tahun pengujian, nilai NPV mencapai Rp. 34.580.627; B/C 1,43; dan R/C 2,43. Oleh karena itu, model 20-20-60 dapat diajukan untuk peremajaan kelapa sawit rakyat.Kata kunci:  Elaeis  gueneensis,  model  peremajaan,  tebang  bertahap, pertumbuhan, usahatani Growth and Crop Production as well as The Farmer’s Income in Stepwise Replanting PatternABSTRACTThe total area of small holders’ oil palms in Indonesia that must be replanted is 1.26 billion hectares or 35% of the national total area. Replanting of the oil palms is highly cost. The objective of study was to get a replanting pattern that is cheaper and more efficient.  The research was conducted for three years from 2010 to 2012 in Rokan Hilir, Riau Province. The research used a split plot design with, three replications. The main plots were three replanting patterns: 20-20-60; 40-40-20; and 60-40, the subplots were the intercrops plants: maize and soybean. The replanting pattern 20-20-60 was done by cutting then replanting of oil palms in three consecutive years, 20% of the population in the 1st year, 20% in 2nd year, and 60% in 3rd year. The similar approaches were applied to others. The variables observed of the young oil palms were plant height, number of leaves, girth, leaf area index, and percentage of flowering; intercropping plants were yield productions of maize and soybean. The results showed that the most efficient replanting pattern was 20-20-60, because it only affected to vegetative growth of young oil palms in the first and second years, but not the inflorescences. This pattern is economically the best since income from three consecutive years of replanting were positive; the NVP value was Rp. 34,580,627; B/C was 1.43; and R/C was 2.43. Based on these results, the replanting pattern 20-20-60 can be recommended for small holder oil palms.Keywords:Elaeis  guineensis,  replanting  pattern,  gradually  cutting,growth, farming
KERAGAMAN GENETIKA VARIAN ABAKA YANG DIINDUKSI DENGAN ETHYLMETHANE SULPHONATE (EMS) RULLY DYAH PURWATI; SUDJINDRO SUDJINDRO; ENDANG KARTINI; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n1.2008.16-24

Abstract

ABSTRAKMutasi in vitro dengan perlakuan mutagen dapat digunakan untukmeningkatkan keragaman genetika abaka melalui keragaman somaklonal.Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk: (1) menentukan konsentrasioptimum EMS untuk induksi keragaman somaklonal dalam kultur kalusembriogen abaka, (2) meregenerasikan bibit abaka varian dari kalusembriogen yang diberi perlakuan EMS, dan (3) mengevaluasi tipe danfrekuensi keragaman karakter kualitatif dan kuantitatif di antara populasitanaman mutan abaka yang diperoleh dari regenerasi kalus embriogenyang diberi perlakuan EMS. Penelitian dilakukan mulai bulan Agustus2003 sampai Agustus 2006 di Laboratorium Kultur Jaringan dan KebunPercobaan Karangploso, Malang pada Balai Penelitian TanamanTembakau dan Serat, Malang (Balittas). Hasil penelitian menunjukkanbahwa 0,6% EMS merupakan konsentrasi optimum karena padakonsentrasi tersebut diperoleh keragaman somaklonal paling banyak.Varian yang diperoleh menunjukkan karakter kualitatif dan kuantitatifabnormal. Tipe varian tersebut umumnya bersifat negatif dan kurangmenguntungkan dibandingkan dengan populasi standar. Tipe dan frekuensikeragaman kualitatif dan kuantitatif pada klon Tangongon berbeda denganklon Sangihe-1, mengindikasikan adanya pengaruh genotipe terhadapkeragaman somaklonal. Varian dari abaka klon Tangongon denganproduksi serat tertinggi (161,0 g dan 154,0 g/tanaman) diperoleh dariperlakuan EMS 0,3% (T1 28.1.1 dan T1 11.2.2), sedangkan dari klonSangihe-1, hasil serat tertinggi (35,0 g dan 40,0 g/tanaman) diperoleh dariperlakuan EMS 0,6% (S4 28.1.0 dan S4 56.2.0). Produktivitas tersebutlebih rendah dibandingkan dengan produksi serat tanaman kontrol klonTangongon (193,0 g/tanaman) dan Sangihe-1 (70 g/tanaman).Kata kunci : Abaka, Musa textilis, keragaman somaklonal, EMS, muta-genesis, in vitro, hasil, Jawa TimurABSTRACTGenetic Variability of Abaca Variants Induced byEthylmethane Sulphonate (EMS)In vitro mutation with mutagen treatment can be used to increasethe genetic variability of abaca by inducing somaclonal variation. Theobjectives of the experiments were to (1) determine optimum concen-tration of EMS to induce abaca somaclonal variation, (2) produce abacalines from EMS treated embryogenic calli and evaluate their performancein the field, and (3) evaluate type and frequency of qualitative andquantitative variant characters among regenerated abaca lines. Thisexperiment was conducted in Tissue Culture Laboratory and KarangplosoExperiment Station of Indonesian Tobacco and Fibre Crops ResearchInstitute (ItoFCRI) Malang from August 2003 to August 2006. The resultsshowed that EMS treatment on abaca embryogenic calli induced variation,and the optimum EMS concentration was 0.6%. The variants exhibited anumber of abnormal qualitative and quantitative characters which weregenerally negative characters since they showed lower value as comparedto control population. The presence of different types of qualitative andquantitative variant characters was genotype dependent. Variants fromabaca clone Tangongon having the highest fibre yield (161.0 g and 154.0g/plant) were obtained from 0.3% EMS treatment (T1 28.1.1 and T1 11.2.2variants). While variants from abaca clone Sangihe-1 having the highestfibre yield (35.0 g and 40.0 g/plant) were obtained from 0.6% EMStreatment (S4 28.1.0 and S4 56.2.0 variants). The fibre yield of controlclones, Tangongon and Sangihe-1, were 193.0 g and 70 g/plant,respectively.Key words: Abaca, Musa textilis, induced mutation, somaclonalvariation, field evaluation, yield, East Java
PENGARUH DOSIS DAN CARA PELETAKAN PUPUK TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KAYUMANIS (Cinnamomum burmanii ROBX) AZMI DHALIMI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n3.2006.98-102

Abstract

ABSTRAKPenelitian lapangan dilaksanakan di Instalasi Kebun PercobaanLaing, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Solok, SumateraBarat pada tahun 2002 sampai dengan 2004. Penelitian bertujuan untukmendapatkan dosis pupuk NPK dan cara peletakan pupuk terbaik untukpertumbuhan kayumanis. Perlakuan yang diuji adalah (A) dosis pupukNPK yang terdiri atas 5 taraf; A1 = 15, A2 = 30 , A3 = 45, A4 = 60, danA5 = 75 g/ph/th.yang diberikan secara bertahap pada tahun ke-1, ke-2 danke-3, (B) daerah peletakan pupuk yang terdiri atas: B1 (sebar di arealkanopi), B2 (sebar dalam alur ring), dan B3 (tugal pada 4 sisi tanaman).Dosis pupuk pada tahun pertama dan kedua diberikan masing-masing 67dan 83% dari dosis penuh yang diberikan pada tahun ketiga. Penelitianmenggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial, diulang 4kali dengan ukuran plot 20 tan/perlakuan. Parameter yang diukur adalahtinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun dan lebar tajuk. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pada fase pertumbuhan tanaman umur 1tahun di lapangan tidak terdapat interaksi antara dosis dan cara peletakanpupuk. Pengaruh interaksi baru terlihat setelah tanaman berumur 2 tahun,yaitu dengan penggunaan NPK dosis pupuk 62,5 g/ph/th yang ditempatkanpada alur ring (B2) menghasilkan pertumbuhan jumlah daun yang terbaik,yaitu sebanyak 316,7 helai, meskipun hasilnya tidak berbeda nyata denganpenggunaan NPK dosis 25 g/ph/th yang disebar sekitar ring (B1) atau tugalpada 4 sisi tanaman (B3) dengan hasil masing-masing 303,8 dan 302,6helai daun/ph/th. Pada umur 3 tahun juga tidak terlihat adanya pengaruhinteraksi di antara perlakuan.Kata kunci : Kayumanis, Cinnamomum burmanii Robx, pemupukan,pertumbuhan, Sumatera BaratABSTRACTEffect of dosage and stoppage area of fertilizer for thegrowth of cinnamon (Cinnamomum burmanii ROBX)A field trial was conducted at the Laing Experimental Garden,Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute, Solok, WestSumatra from the years 2002 to 2004. The objective of the research was tofind out the best dosage and stoppage area of fertilizer for the growth ofcinnamon. The treatment tested were (A) dosage of NPK, comprised ofA1= 15, A2= 30 A3= 45 A4=60, and A5= 75 g/plant/year which wereapplied gradually in the 1 st , 2 nd , and 3 rd . (B) stoppage area of fertilizerconsisting of : B1 (spread under canopy area), B2 (spread in the at canopycircle, and B3 (spotted at 4 points at canopy circle frontier). The researchused a randomized block design, with two factors, and 2 replications and20 plants/treatment. The parameters observed were plant height, diameter,number of leaves and wide of canopy. The results showed that on the firstyear there was no interaction between fertilizer dosage and stoppage areaon the growth of cinnamon. The interaction between them was seen atsecond year where the treatment of 62.5 g NPK/plant/year which wereplaced on the ring (B2) produced the highest number of leaves 316.7, butthis was not significantly different compared to the treatment of 25g/plant/year which was spread on the ring (B1) and spotted at 4 points(B3) which produced 303.8 and 302.6 leaves/plant/year. At the 3 rd yearthere was no interaction between the two factors either.Key words : Cinnamon,  Cinnamomum  burmanii  Robx,  fertilizer,growth, West Sumatera
PENGARUH UKURAN BRAKTEA BEBERAPA AKSESI KAPAS TERHADAP TINGKAT SERANGAN HAMA PENGGEREK BUAH Helicoverpa armigera (HUBNER) IG.A.A. INDRAYANI; SIWI SUMARTINI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n4.2007.125-129

Abstract

ABSTRAKHingga kini teknik perakitan varietas kapas tahan hama masihdilakukan secara konvensional berdasarkan beberapa karakter morfologitanaman, seperti: bulu daun, daun okra, braktea berpilin, nektar, dangosipol tinggi. Karakter-karakter ini diketahui erat hubungannya denganketahanan terhadap hama, khususnya H. armigera. Berkaitan denganserangan H. armigera pada buah, diduga ada bagian-bagian buah kapasyang berkontribusi secara langsung pada serangan hama ini, misalnyabraktea buah. Namun demikian, besarnya pengaruh braktea terhadapkerusakan buah kapas perlu dipelajari dalam upaya meminimalkankerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuranbraktea terhadap tingkat kerusakan buah oleh H. armigera pada beberapaaksesi kapas. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai PenelitianTanaman Tembakau dan Serat, di Asembagus, Situbondo, Jawa Timurmulai bulan Januari hingga Desember 2006. Sebanyak 18 aksesi dari 50aksesi kapas dengan berbagai variasi ukuran braktea digunakan sebagaiperlakuan. Setiap perlakuan (aksesi) disusun dalam rancangan acakkelompok (RAK), dengan tiga kali ulangan. Lima tanaman kapas darimasing-masing aksesi ditentukan secara acak, dan sebanyak 5 buah kapasmuda (diameter ± 4 cm) dipetik dari masing-masing tanaman sampel,kemudian dibawa ke laboratorium untuk diukur luas braktea dan buahnya.Selain itu dilakukan pula pengamatan kerusakan buah dan hasil kapasberbiji di lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran brakteaberkorelasi positif dengan tingkat kerusakan buah (R 2 = 0,9014), sehinggabraktea berukuran besar dan lebar serta menutupi buah secara totalberpotensi mengalami kerusakan akibat serangan H. armigera lebih tinggidibanding braktea berukuran kecil dan sempit. Ukuran panjang dan lebarbraktea pada 18 aksesi kapas bervariasi antar aksesi dan masing-masingberkorelasi positif dengan luas (R 2 = 0,876; R 2 = 0,894). Hasil penelitianini dapat dimanfaatkan dalam merakit varietas tahan hama, dankombinasinya dengan karakter-karakter morfologi kapas yang sudah adauntuk menghasilkan varietas kapas baru dengan tingkat ketahanan yanglebih tinggi terhadap hama penggerek buah H. armigera.Katakunci : Braktea, Helicoverpa armigera, aksesi kapas, karaktermorfologi.ABSTRACTEffects of bract size of several cotton accessions toAmerican bollworm injury levelConventional  method  by  crossing  technique  based  onmorphological characters of plant is now still used in providing resistantvarieties of cotton against insect bollworms. A number of geneticcharacters are now available and have been studying for their assosiationwith insect pests resistance such as hairiness, okra leaf, frego bract,nectariless, and high gossypol. Regarding to boll damage by H. armigera,it can be mentioned that there are many other morphological characters ofcotton attributable to bollworm damage, such as floral bract. As a part ofboll, it is estimated that bracts assosiated with bollworm attacked due totheir larger size compared with boll size. Objective of the study was to findout the effect of bract size in relation to bollworm damage on cottonaccessions. The study was conducted at Experimental Station ofIndonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute in Asembagus,Situbondo, East Java from January to December 2006. Eighteen of fiftycotton accessions were used as treatment and they were arranged inRandomized Block Design (RBD) with three replications. Five randomlycotton plants from each accession and five young bolls were sampledfrom the selected plant with about 4 cm of diameter were brought in thelaboratory to collect information on bract and boll sizes. Bollwormdamage was determined by counting the damaged bolls in the field as wellas the seed cotton yield. Result showed that bract size was positivelycorrelated with boll damage (R 2 = 0.9014). Higher damaged bolls occuredon bolls which is covered completely by bracts. There is variation betweenlength and wide size of bracts among cotton accessions and both showedpositive correlation to bract area (R 2 = 0.876; R 2 = 0.894). Based on thisstudy, higher resistance of cotton variety against H. armigera willpossiblly be provided through combination between bract size and anyother morphological characters of cotton.Key words : Floral bract, Helicoverpa armigera, cotton accession,morphological character
KETAHANAN BEBERAPA AKSESI KENAF TERHADAP NEMATODA PURU AKAR (Meloidogyne spp) UNTUNG SETYO BUDI; RR. SRI HARTATI; CECE SUHARA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n4.2005.129-133

Abstract

ABSTRAKNematoda puru akar (Meloidogyne spp.) merupakan penyakit yangtergolong penting dan banyak menyerang pertanaman kenaf di lahanpengembangan  maupun  perbenihan  sehingga  banyak  menimbulkankerugian bagi petani karena terjadi penurunan produktivitas. Salah satucara untuk memecahkan masalah tersebut yaitu dengan menggunakanvarietas tahan. Evaluasi plasma nutfah merupakan tahap awal untukmengetahui potensi yang ada pada tiap-tiap aksesi yang nantinya bisadipergunakan sebagai sumber gen ketahanan. Kegiatan untuk mengetahuitingkat ketahanan 23 aksesi kenaf (Hibiscus cannabinus) dan 3 aksesikerabat liarnya (Hibiscus asetosela dan Hibiscus radiatus) terhadapserangan nematoda puru akar (NPA) dilakukan di rumah kaca danlaboratorium Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang padabulan Agustus - Desember 2003. Penelitian mengacu pada Metode Taylordan Sasser yang dimodifikasi, sedangkan penilaian tingkat ketahanan  jmenggunakan metode Canto-Saenz. Benih kenaf ditanam dalam pollybagberisi media tanah-pasir-pupuk kandang seberat 10 kg dengan perban-dingan 5:3:2, diulang 10 kali. Pada umur 15 hari setelah tanam, tanamandiinokulasi dengan massa larva Meloidogyine spp stadium dua sebanyak 40 larvaper 100 ml tanah (atau 4000 larva per polybag). Pengamatan dilakukan pada30  hari  setelah  inokulasi  atau  45  hari  setelah  tanam,  yaituterhadapjumlah puru akar, populasi larva NPA dalamtanah dan akar, sertatinggi dan diameter batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semuaaksesi kenaf (H. cannabinus) tidak tahan terhadap serangan NPA, namun tigaaksesi  dari  kerabat  liamya,  yaitu  SSRH/1010  H  (H.  asetosela),SSRH/1023 H (H. asetosela) dan Kal II (H. radiatus) memiliki sifat tahanterhadap NPA Ketiga aksesi tersebut diharapkan bisa dipergunakan sebagaitetua tahan nematoda puru akar pada persilangan interspesifik dengan kenafkomersial.Kata kunci : Kenaf, Hibiscus cannabinus, plasma nutfah, penyakit ketahanan, nematoda puru akarABSTRACTResistance of kenaf accessions to root knot nematodes Root knot nematode (Meloidogyne spp) is the main pest of kenafboth the field and nursery. This reduced kenaf farmer's income because itdecreased the productivity. One of the solutions to eliminate this problemis utilization of resistant variety. Evaluation of germplasm is one of themethods to identify tolerant accessions to root knot nematode. Theexperiment aimed to screen the level of resistance of kenaf and allied fibreaccessions to root knot nematodes (RKN). The activity was conducted at thelaboratory and the green house of Indonesian Research Institute for Tobacco andFibre  Crops,  Malang  from  August  to  December  2003.  Theexperiment used modified Taylor and Sasser method, while to determinelevel of plant resistance used Canto-Saenz method. Kenaf seeds were plantedin  polybags  consisting  of  media  soil-sand-cattle  manure  10  kgpolybag with both in the replicated ten times. Number of RKN larvaetested were 40 larvae/l00 ml soil or 4000 larvae/polybag, which wereinoculated 15 days after planting. Observation was done 30 days afterinoculation or 45 days after planting on the numbers of galls on root,population of RKN in the soil and root, plant height and stem diameter.Research result showed that three accessions from allied fibre of kenaf,namely SSRH/1010 H (H. asetosela), SSRH/1023 H (H. asetosela) and Kal II(H. radiatus) were resistant to RKN, while, all of 23 accessions of kenaf (H.cannabinus) were susceptible to highly susceptible to RKN. There threeaccessions can be used as resostant parent on inter specific hybridization.
AKTIVITAS INSEKTISIDA EKSTRAK BUAH CABAI JAWA (Piper retrofractum) TERHADAP Helopeltis antonii (HEMIPTERA: MIRIDAE) GUSTI INDRIATI; DADANG DADANG; DJOKO PRIJONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n1.2015.33-40

Abstract

ABSTRAKHelopeltis antonii merupakan salah satu hama pada tanaman kakao,teh, dan jambu mete yang menyerang pucuk dan buah dengan menusukkanstiletnya untuk mengisap cairan sehingga menyebabkan kerusakan.Penelitian bertujuan menguji toksisitas ekstrak buah Piper retrofractum(cabai jawa) terhadap imago, pengaruh konsentrasi subletal terhadap nimfaketurunan, persistensi terhadap mortalitas dan oviposisi H. antonii.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan ToksikologiSerangga, Institut Pertanian Bogor dan Laboratorium Proteksi Tanaman,Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Sukabumi, mulai Mei2013 sampai April 2014. Buah mentimun digunakan sebagai inangpengganti untuk perbanyakan serangga uji H. antonii di laboratorium danmedia pengujian. Hasil penelitian menunjukkan kematian imago H.antonii, akibat perlakuan ekstrak P. retrofractum 0,05-0,3%, sudah terjadipada 24 jam setelah perlakuan (JSP). Sementara itu, pada 24 dan 48 JSPterjadi penurunan tingkat kematian H. antonii. Setelah 48 JSP, hanyaterjadi sedikit peningkatan kematian H. antonii. LC 50 dan LC 95 ekstrak P.retrofractum pada 120 JSP masing-masing 0,20 dan 0,49%. Jumlah nimfaketurunan yang dihasilkan pada perlakuan subletal ekstrak P. retrofractum0,203% (LC 50 ) lebih sedikit dibandingkan dengan konsentrasi 0,141%(LC 25 ). Ekstrak P. retrofractum yang dipajankan di bawah sinar mataharihingga 5 hari masih efektif terhadap imago (mortalitas 80%), tetapi tidakefektif dalam menghambat peletakan telur H. antonii. Penghambatanpeletakan telur terhadap imago H. antonii pada perlakuan ekstrak P.retrofractum 0,98% (2 × LC 95 ) yang dipajankan di bawah sinar matahariselama 0 dan 1 hari, dengan indeks penghambatan oviposisi 22,7 dan23,8%. Keefektifan ekstrak P. retrofractum perlu diuji di lapangan untukmenilai kelayakan dalam pengendalian H. antonii.Kata kunci: insektisida botani, mortalitas, oviposisi, persistensiABSTRACTHelopeltis antonii is cocoa, tea, and cashew nuts important pest thatcauses damage by sucking plant sap from shoots and nuts. This study wasconducted to test toxicity of Piper retrofractum fruit extract on adults,sublethal effect on the production nymphal progeny, and persistenceagainst mortality and oviposition of H. antonii. This study was conductedat The Fisiology and Insect Toxicology Laboratory, Plant ProtectionDepartement, Bogor Agricultural University and The Plant ProtectionLaboratory of Indonesian Industrial and Beverage Crops Research Institutefrom Mey 2013 to April 2014. Cucumber was used as a host substitute forrearing the test insect and as the testing medium. The results show thatadult mortality, due to the P. retrofractum leaf extract treatment 0.05-0.3%, has occured at 24 hours after treatment (HAT). Meanwhile, H.antonii mortality has decreased on 24 and 48 HAT. After 48 HAT, only aslight increased in H. antonii mortality. LC 50 and LC 95 of P. retrofractumextract at 120 HAT were 0.20 and 0.49%, respectively. The treatment atsublethal concentrations (LC 25 and LC 50 ) markedly decreased nymphalprogeny number. P. retrofractum extract suspensions at LC 95 and 2 × LC 95exposed under sunlight for 5 days were still effective against H. antoniiadults (80% mortality), but were not effective in females inhibitingoviposition. The oviposition inhibiting activity was observed only in thetreatment with P. retrofractum extract at 2 × LC 95  exposed under sunlightfor 0 and 1 day in which the oviposition deterrency indices were 22.7 and23.8% respectively. Key words: botanical insecticides, mortality, oviposition, persistence
PENGARUH BATANG ATAS DAN BAWAH TERHADAP KEBERHASILAN PENYAMBUNGAN JAMBU METE (Anacardium occidentale L.) DEVI RUSMIN; SUKARMAN SUKARMAN; MELATI MELATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n1.2006.32-37

Abstract

ABSTRAKRata-rata produksi jambu mete Indonesia masih rendah (350 kggelondong/ha/tahun), dibandingkan dengan India dan Brazil (800 – 1000kg gelondong/ha/tahun). Hal itu antara lain disebabkan oleh teknikbudidaya yang masih tradisional, rendahnya mutu bibit, dan kurang ter-sedianya pohon induk sebagai sumber benih. Berdasarkan permasalahantersebut, telah dilakukan percobaan penyambungan 1 varietas dan 3 nomorharapan jambu mete. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bibit hasilsambungan bermutu tinggi, sebagai dasar pendirian kebun benih jambumete. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Muktiharjo, Jawa Tengah,bulan Januari - Desember tahun 2001. Percobaan disusun dalam rancanganpetak terbagi (RPT) dengan 3 ulangan. Petak utama adalah 4 jenis batangatas yaitu: Gunung Gangsir 1, Gunung Gangsir 2, Muktiharjo 1 danMuktiharjo 2. Anak petak adalah empat jenis batang bawah yaitu: GunungGangsir 1, Gunung Gangsir 2, Muktiharjo 1 dan Muktiharjo 2. Parameteryang diamati adalah keberhasilan penyambungan pada fase pembibitan,data pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, diameter batang, diameterkanopi, jumlah cabang primer, sekunder dan tersier). Hasil percobaanmenunjukkan bahwa penyambungan batang bawah Muktiharjo 1 denganbatang atas Muktiharjo 1 dan Muktiharjo 2, menghasilkan persentasekeberhasilan penyambungan tertinggi (50%). Penyambungan denganGunung Gangsir 1 sebagai batang bawah dan Muktiharjo 1 danMuktiharjo 2 sebagai batang atas, keberhasilan penyambungannya palingrendah (38,89%). Tidak ada interaksi antara batang atas dan batangbawah terhadap pertumbuhan tanaman. Batang atas berpengaruh nyataterhadap jumlah daun, tetapi tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman,diameter batang, dan lebar kanopi. Penyambungan Gunung Gangsir 1 danMuktiharjo 2 sebagai batang atas, menghasilkan pertumbuhan tanamanyang lebih baik dibandingkan dengan batang atas Gunung Gangsir 2 danMuktiharjo 1. Penyambungan Gunung Gangsir 1, Gunung Gangsir 2, danMuktiharjo 1 sebagai batang bawah menghasilkan diameter batang dantinggi tanaman lebih baik dibandingkan Muktiharjo 2. Setelah tanamanmencapai umur 3 tahun, batang atas tidak berpengaruh terhadap pertum-buhan tanaman, sedangkan batang bawah memberikan pengaruh terhadappertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman terbaik diperoleh padatanaman dengan batang bawah Gunung Gangsir 1.Kata kunci : Jambu mete, Anacardium occidentale L., klon, penyam-bungan, batang bawah, batang atas, pertumbuhan, JawaTengahABSTRACTEffect of scion and root stock on successful grafting ofcashew plantCashew nut production of Indonesia is lower (350 kg/ha/year)compared to India and Brazil (800 and 1000 kg/ha/year). There are manyfactors causing low production of cashew in Indonesia such as lowcultivation technology, poor quality of seedlings and insufficient of motherplants. The purpose of the research was to find out good quality seedlingsfrom grafting as a basic to establish cashew mother plants gardens. Theexperiment was conducted in Muktiharjo Experimental Garden, CentralJava, in 2001. The experiment was arranged in split-plot design with 3replications. The main plot was 4 kinds of scions namely Gunung Gangsir1, Gunung Gangsir 2, Muktiharjo1 and Muktiharjo 2. The sub plot was 4kinds of root stocks the same as the scions. Variables observed weresuccessful grafting at nursery phase and plant growth such as height ofplants, diameter of trunk, diameter of canopy, and number of primer,secondary and tertiary branches. The results of experiment showed thatgrafting by using clone Muktiharjo 1 as root stock, and Muktiharjo 1 andMuktiharjo 2 as scions produced the highest percentage of successfulgrafting (50%). Grafting by using Gunung Gangsir 1 as root stock and,Muktiharjo 1 and Muktiharjo 2 as scions produced the lowest percentageof successful grafting (38.89%). There were no significant interactionsbetween root stock and scion on the growth of cashew plant. Scion hadsignificant effect on the number of leaves, but, it did not have significanteffect on the plant height, diameters of trunk and diameters of canopy.Grafting by using Gunung Gangsir 1 and Muktiharjo 2 as scions producedbetter plant growth compared to those of Gunung Gangsir 2 andMuktiharjo 1 as scions. Grafting by using Gunung Gangsir 1, GunungGangsir 2 and Muktiharjo 1 as root stocks produced diameter of trunk andheight of plants better than that of Muktiharjo 2 as rootstock. At 3 yearsold after planting, scions did not significantly affect the plant growthneither did their interaction. While rootstock significantly affected thegrowth of cashew plant. As a rootstock, Gunung Gangsir 1, produced thebest cashew plant growth compared to other clones.Key words: Cashew, Anacardium occidentale L, clones, grafting,rootstock, scion, growth, Central Java

Page 9 of 56 | Total Record : 552


Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue