cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
SIMULASI USAHA TANI JARAK PAGAR ( Jatropha curcas L. ) SYAFRIL KEMALA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n3.2006.87-97

Abstract

ABSTRAKSimulasi usaha tani jarak pagar (Jatropha curcas L) bertujuan untukmengetahui status usaha tani jarak pagar secara finansial tentang layak atautidaknya diusahakan. Pengumpulan data dilakukan dengan desk study dansurvei. Desk study dilakukan dengan beberapa nara sumber dan pustakauntuk mendapatkan data sekunder. Survei lapangan dilakukan diKabupaten Sukabumi, pada kebun induk jarak pagar (KIJP) Pakuwon dandi Desa Tegal Kamulyaan, Kec. Cilacap Selatan dan Desa Jeruk LegiWetan, Kec. Jeruk Legi, Kabupaten Cilacap. Analisis kelayakan jarakpagar ini dilakukan atas 3 simulasi, yaitu: (1) simulasi teknologi rendah,produksi 4,35 ton/ha dengan kisaran harga Rp 500, Rp700, dan Rp 1.000per kg. (2) simulasi teknologi menengah, produksi 6,5 ton/ha, kisaranharga Rp 500, Rp 700, dan Rp1000 per/kg, (3) simulasi teknologi tinggi,produksi 8,7 ton/ha, kisaran harga Rp 500, Rp700 dan Rp 1.000 per/kg.Hasil analisis menunjukkan bahwa simulasi teknologi rendah, tingkatproduksi 4,35 ton/ha hanya layak bila harga Rp 700 dan Rp1000 per kg,untuk harga Rp700/kg keuntungan yang diterima Rp 737.000/ ha/tahun,tingkat keuntungan investasi 23,32% dan B/C rationya 1,24, untuk hargaRp1.000/kg keuntungan yang diterima Rp 5.423.000 per ha/tahun, tingkatkeuntungan investasi 31,35% dan B/C ratio 2.04. Untuk simulasi teknologimenengah, tingkat produksi 6,50 ton/ha hanya layak pada tingkat hargaRp700 dan Rp1.000/kg, untuk harga Rp700/kg keuntungan yangditerima (net present value) adalah Rp 3.895.000 tingkat keuntunganinvestasi 42% dan B/C ratio 2,2, sedangkan pada harga Rp1.000keuntungan yang diterima adalah Rp 11.528.000 tingkat keuntunganinvestasi >50% dan B/C ratio 5,78. Untuk simulasi teknologi tinggi/maju,tingkat produksi 8,7 ton hanya layak pada tingkat harga Rp 700/kg dengankeuntungan yang diterima Rp 6.102.000 dan keuntungan investasi 45,14%serta B/C ratio 2,39. Pada harga Rp 1000/kg keuntungan yang diterima Rp16.577.000, keuntungan investasi > 50% dan B/C ratio 5,59. Sejalandengan kriteria kelayakan yang didapat maka upaya peningkatan produksimelalui teknologi budidaya serta kebijakan harga adalah faktor penentudalam menjadikan jarak pagar sebagai komoditas alternatif bahan bakarminyak. Asumsi umur ekonomis jarak pagar 10 tahun dalam analisis iniakan berbias under estimate terhadap indikator kelayakan (NPV, IRR,B/C), berarti indikator kelayakan aktualnya akan lebih besar. Implikasinyamemberikan peluang mendapat-kan tingkat keuntungan usahatani lebihbesar.Kata kunci : Jarak pagar, Jatropha curcas L., usaha tani, kelayakan,biofuel, Jawa Barat, Jawa TengahABSTRACTSimulation of Jatropha farming systemSimulation of Jatropha farming system was aimed to find out the feasibilitystudy of Jatropha from financial point of view. Data were collected usingdesk study and survey. Desk study was carried out with some respondentsand references to collect secondary data. Field survey was carried out inJatropha Seed Garden (KIJP) Pakuwon, Sukabumi and in two villagesnamely Tegal Kamulyaan, Cilacap Selatan District and Jeruk Legi Wetan,District of Jeruk Legi, Cilacap. This feasibility study was carried out with3 simulations, that is : (1) low technology simulation, production 4.35ton/ha with level of price Rp 500 – Rp 700 and Rp 1,000 per kg. (2)middle technology simulation, production 6.5 ton/ha and level of price Rp500, Rp 700 and Rp 1,000 per/ kg, (3) high technology simulation,production 8.7 ton/ha, price level Rp 500 – Rp 700 and Rp 1,000 per/kg.The results of analysis showed that low technology simulation withproduction level 4.35 ton/ha was only feasible for price Rp 700 and Rp1,000 per kg. At price level Rp 700/kg, the profit was Rp 737,000/ha/year,Return on investment 23.32% and B/C ratio 0.24. For price of Rp 1000/kg,the profit was Rp.5,423,000 per ha/year, return on investment 31.35% andB/C ratio 2.04. For the middle simulation with production level 6.50ton/ha, the feasible price was Rp 700 and Rp 1000/kg. At price level Rp700/kg, the profit (net present value) was Rp 3,895,000 return oninvestment 42% dan B/C ratio 2.2, while at price level Rp 1,000 the netpresent value was Rp11,528,000 return on investment >50% and B/C ratio5.78. For high technology simulation with production level 8.7 ton, thefeasible price level was Rp700/kg, net present value was Rp 6,102,000 andreturn on investment 45.14% and B/C ratio 2.39. At price level Rp1,000/kg, the net present value was Rp 16,577,000 return on investment.>50% and B/C ratio 5.59. According to the result, it is necessary toimprove production through farming technology and price policy is adeterminant factor to make Jatropha as an alternative commodity forbiofuel. In this analysis, the assumption of 10 years economic age ofJatropha will be bias under estimate compared to the indicators (NPV,IRR, B/C), meaning that the indicators are bigger than the economic age.The implication that it is a chance to give bigger profit to the Jatrophafarming system.Key words : Jatropha, Jatropha curcas L., farming system, feasibilitystudy, biofuel, West Java, Central Java
RESPON LIMA NOMOR UNGGUL KENCUR TERHADAP PEMUPUKAN ROSITA SMD; OTIH ROSTIANA; W. HARYUDIN W. HARYUDIN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n4.2007.130-135

Abstract

ABSTRAKKencur (Kaempferia galanga) banyak dimanfaatkan oleh rumahtangga, industri obat maupun makanan serta minuman dan industri rokokkretek. Peningkatan pemakaian simplisia kencur dalam berbagai industri didalam negeri akan meningkatkan konsumsi simplisia ini, sehingga upayapeningkatan produksi masih perlu dilakukan melalui budidaya, diantaranya dengan penggunaan varietas unggul yang didukung denganpemupukan yang optimal. Di dalam penelitian ini dikaji respon limanomor unggul kencur terhadap paket pemupukan organik dan anorganikpada tanah latosol di dataran rendah, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober 2003 sampai Agustus 2004,dengan RAK dalam pola faktorial. Faktor I nomor unggul kencur (V1, V2,V3, V4 dan V5) dan faktor II paket pemupukan (6 paket), diulang 2 kali.Jarak tanam yang digunakan 20 x 20 cm, ukuran petak 4 x 1,2 m. Hasilpenelitian menunjukkan, empat nomor unggul kencur (V1, V3, V4, V5),dari lima nomor yang diuji, mempunyai kemampuan untuk menghasilkanrimpang segar dan kering yang sama, dengan kisaran bobot rimpang segar62,27-70,22 g/tanaman dan kisaran bobot rimpang kering 16,95-19,33 g/tanaman. Paket pemupukan yang dianjurkan untuk semua nomor yangdiuji adalah pupuk kandang 20 ton/ha + urea 250 kg/ha + SP36 200 kg/ha+ KCl 200 kg/ha, atau pemupukan organik dengan pupuk kandang kerbau40 ton/ha. Respon lima nomor unggul kencur terhadap aplikasi paketpemupukan memberikan mutu dengan hasil yang berbeda, yaitu kadarminyak atsiri V3 (2,03%) tergolong mutu I, sedangkan empat nomorlainnya tergolong mutu II (1,08 -1,97%), dengan hasil minyak atsiri 0,325– 0,466 ml/tanaman. Serapan hara lima nomor unggul kencur terhadappaket teknologi yang diuji memperlihatkan, serapan hara N berkisar antara149,60 – 415,60 mg/tanaman, hara P 41,50 – 112,50 mg/tanaman, hara K236,10 – 571,70 mg/tanaman.Kata kunci : Kencur, Kaempferia galanga, varietas unggul, pemupukan,serapan hara, produksi, mutuABSTRACTResponse of five galanga promising lines to fertilizationIndia galanga (Kaempferia galanga) is commonly used forhousehold consumption, medicines, food and drink supplement industriesas well as cigarette sauce. Increase in demand of this commodity fordomestic industries will raise the consumption of symplicia. Therefore,effort in increasing yield of the plant through cultivation techniqueimprovement, i.e. application of superior variety and fertilization, is worthto be accomplished. In this experiment five Galanga promising lines ofIndia galanga were subjected to organic and inorganic fertilizations atlow land latosol soil, Cileungsi, Bogor, West Java. Experiment was carriedout from October 2003 – August 2004 and arranged in randomized blockin factorial design, with two replications. First factor is the promising lines(V1, V2, V3, V4 and V5); factor II is fertilization packages (6 packages).Plot size of 4 x 1.2 m and plant spacing of 20 x 20 cm, were applied. Theresults showed that four of five tested promising lines yielded the sameresults of fresh and dry weight of rhizomes ranged from 62.27-70.22g/plant, and the dry weight was 16.95-19.33 g/plant respectively.Fertilization packages of dung manure 20 t/ha + urea 250 kg/ha + SP36200 kg/ha + KCl 200 kg/ha, or organic fertilizer by using dung manure 40ton/ha, are recommended. Application of fertilization package resulted indifferent response to the plant for their qualities. The essential oil contentof promising lines V3 belongs to the first grade of quality (2.03%), whilethe others are the second one (1.08-1.97%), with the yield of essential oilranged from 0.325 – 0.466 ml/plant. The nutrients uptake of the promisinglines to the applied technology package were 149.60 – 415.60 mg/plant ofN, 41.50 – 112.50 mg/plant of P, and 236.10 – 571.70 mg/plant of Knutrients.Key words: Kaempferia galanga , superior variety, fertilization, nutrientup take, yield, quality
PENAMPILAN BEBERAPA KLON KAPUK SEBAGAI TANAMAN LORONG DENGAN TANAMAN SELA UBI KAYU MOCH. SAHID; MARJANI MARJANI; TEGER BASUKI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n3.2005.123-127

Abstract

ABSTRAKPeningkatan produktivitas kapuk berdampak positif pada pening-katan pendapatan petani dan nilai ekspor. Usaha peningkatan produktivitastanaman kapuk antara lain dapat dilakukan dengan perbaikan potensigenetik tanaman. Usaha peningkatan pendapatan petani kapuk selaindengan peningkatan produktivitas tanaman dapat juga dilakukan denganpemanfaatan lahan yang ada di bawahnya. Penelitian ini bertujuan untukmemperoleh klon-klon kapuk yang sesuai sebagai tanaman lorong dengantanaman sela ubi kayu pada saat tanaman kapuknya masih muda.Penelitian dilakukan di KP Ngemplak, Pati mulai bulan Januari 2002 -Desember 2002. Kapuk ditanam pada bulan Januari 1998. Perlakuanterdiri dari 12 klon harapan kapuk berumur 4 tahun yang di bawahnyaditanami tanaman sela ubi kayu. Penelitian disusun dalam rancangan acakkelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari12 klon harapan kapuk sampai umur 4 tahun yang ditanam dengantanaman sela ubi kayu terdapat satu klon harapan kapuk yang sesuai yaituE 22. Klon E 22 yang ditanam bersama dengan tanaman sela ubi kayumemberikan pendapatan tertinggi sebesar Rp 2.999.010 dengan hasilgelondong 1.143,8 kg per ha dan hasil ubi kayu sebesar 13.896 kg per ha.Kata kunci : Kapuk, Ceiba petandra, tanaman lorong, hasil, ubi kayu,tanaman sela, Jawa TengahABSTRACTPerformance of kapok clones as alley crops with cassavaas their cash cropsIncreasing of kapok productivity gives positive impact to farmer’sincome and foreign exchange. One of the efforts to increase kapokproductivity is by genetic potential improvement. Beside increasing theproductivity, farmer’s income could be increased by utilization of landunder kapok trees with cash crops. The objective of this research was tofind out kapok clones having high yield and suitable as alley cropsintercropped with cassava. The activity was conducted at NgemplakExperimental Garden, Pati from January 2002 to December 2002. Kapokclones were planted on January 1998. This research was arranged inrandomized block design with 3 replications. Twelve kapok clones whichwere 4 years old were tested as alley crops with cassava as cash crops. Theresults showed that clone E22 was suitable as alley crop with cassava ascash crops. The yield of the clone was 1,143.8 kg pods per ha and cassavaproduction was 13,896 kg/ha. The combinations of clone E22 as alley cropwith cassava as cash crops gave income to the farmers Rp. 2,999,010 perha.Key words: Kapok, Ceiba petandra, alley crop, yield, cassava, cash crop,Central Java
DEHIDRASI DAN PEMBEKUAN JARINGAN APEKS TEBU UNTUK PENYIMPANAN JANGKA PANJANG IKA ROOSTIKA; RARA PUSPITA DEWI LIMA WATI; DARDA EFENDI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n1.2015.25-32

Abstract

ABSTRAKTebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman yangdiperbanyak secara vegetatif. Kriopreservasi merupakan metode yangpaling sesuai untuk penyimpanan jangka panjang bagi tanaman yangdiperbanyak secara vegetatif. Dehidrasi dan pembekuan jaringan merupa-kan tahapan paling kritis yang menentukan keberhasilan kriopreservasi.Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh durasi dehidrasi yang optimaldan metode pembekuan jaringan apeks tebu. Penelitian dilakukan diLaboratorium Kultur Jaringan, Kelompok Peneliti Biologi Sel danJaringan, Balai Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber-daya Genetik Pertanian, Bogor pada Mei 2013 sampai Februari 2014.Untuk optimasi metode dehidrasi, apeks direndam dalam larutan PVS2(MS + gliserol 30% + etilen glikol 15% + dimetil sulfoksida 15% +sukrosa 0,4 M) selama 10, 20, 30, dan 40 menit. Untuk optimasi metodepembekuan, diujikan kombinasi perlakuan prakultur (dengan sukrosa 0;0,1; dan 0,3 M selama 5 hari) dan pemuatan dalam larutan LS (MS +gliserol 2 M + sukrosa 0,4 M) selama 0, 10, 20, dan 30 menit sebelumtahapan dehidrasi dan pembekuan jaringan di dalam nitrogen cair (-196 o C). Hasil penelitian menunjukkan durasi dehidrasi jaringan yangterbaik adalah 30 menit dalam larutan PVS2. Kombinasi perlakuanprakultur dengan sukrosa 0,3 M dan pemuatan dengan larutan LS selama10 menit merupakan metode terbaik untuk pembekuan jaringan. Persentasetumbuh sebelum dan setelah pembekuan dalam nitrogen cair berturut-turutadalah 100 dan 40%. Setelah kriopreservasi, biakan mampu tumbuhdengan tingkat multiplikasi tunas sekitar 10 tunas/eksplan. Metode yangdiperoleh pada penelitian ini berpeluang diterapkan untuk penyimpananplasma nutfah tebu dalam jangka panjang secara kriopreservasi daneliminasi patogen obligat secara krioterapi.Kata kunci: Saccharum officinarum L., apeks, dehidrasi, pembekuan,nitrogen cairABSTRACTSugarcane (Saccharum officinarum L.) is vegetatively propagatedplant. Cryopreservation is the most suitable method for long-termpreservation of vegetatively propagated plant. Dehydration and freezingare critical steps of successful cryopreservation so that it should beoptimized. The research aimed to obtain the optimal duration ofdehydration and freezing method of sugarcane apex tissues. Theexperiments were conducted at Tissue Culture Laboratory, Plant CellTissue Biology Group, Indonesian Center for Agricultural Biotechnologyand  Genetic  Resources  Research  and  Development  on  May2013−February 2014. To optimize dehydration method, the tissues wereexposured in PVS2 solution (MS + 30% glycerol + 15% ethylene glycol +15% dimethyl sulphoxide + 0.4 M sucrose) for 10, 20, 30, and 40 minutes.To optimize freezing method, the combined treatment of preculture withsucrose (0, 0.1, dan 0.3 M) for 5 days and loading in LS solution (MS + 2M glycerol + 0.4 M sucrose) for 0, 10, 20, dan 30 minutes) were testedbefore dehydration for 30 minutes and freezing in liquid nitrogen (-196 o C).The best duration of dehydration was 30 minutes. The combined treatmentof preculture on 0.3 M sucrose and loading for 10 minutes was the bestmethod for tissues freezing. Percentage of regrowth before and afterfreezing in liquid nitrogen was 100 and 40% respectively. Aftercryopreservation, the cultures could grow with high shoot multiplicationrate about 10 shoots/explant. The method resulted in this study can beapplied for long-term storage of sugarcane germplasms by cryopreser-vation and (elimination of obligate pathogens by cryotherapy.Keywords: Saccharum officinarum L., apex, dehydration, freezing, liquidnitrogen.
DIVERSITAS GENETIK TUJUH AKSESI PLASMA NUTFAH PINANG (Areca catechu L.) ASAL PULAU SUMATERA MIFTAHORRACHMAN MIFTAHORRACHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n1.2006.27-31

Abstract

ABSTRAKAnalisis jarak genetik dilakukan terhadap tujuh populasi pinang(Areca catechu L.), yaitu Sumut-1, Sumut-2, Sumbar-1, Sumbar-2,Sumbar-3, Bengkulu-1 dan Bengkulu-2 hasil eksplorasi pada tahun 1994dan telah dikoleksi di kebun koleksi plasma nutfah palma Kayuwatu,Sulawesi Utara. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui seberapa besarjarak  genetik  antara  ke  tujuh  aksesi  pinang  sekaligus  untukmengelompokkan ketujuh aksesi tersebut. Analisis menggunakan UjiStatistik D 2 dari Mahalanobis, sedangkan untuk pengelompokan populasimenggunakan metode Tocher yang dikemukakan oleh RAO dalam SINGHdan CHAUDARY. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketujuh aksesipinang membentuk 4 kelompok yaitu, kelompok I terdiri dari aksesiSumbar-1 dan Sumut-1; kelompok II terdiri dari 3 aksesi yaitu Sumbar-3,Sumut-2 dan Bengkulu-1; kelompok III dan kelompok IV masing-masinghanya terdapat satu aksesi yaitu Sumbar-2 dan Bengkulu-2. Jarak genetikpaling jauh adalah antara kelompok I dan II dengan nilai D 2 = 1263.137.Sementara jarak genetik antar kelompok terdekat adalah antara kelompok Idan III dengan nilai D 2 = 108.587. Penyumbang terbesar terjadinyapengelompokan tersebut adalah karakter jumlah bekas daun.Kata kunci : Pinang, Areca catechu L., populasi, jarak genetik, SulawesiUtaraABSTRACTGenetic diversity of seven arecanut (Areca catechu L.)accessions from Sumatera IslandGenetic divergence analysis has been done on seven arecanut(Areca catechu L.) populations, i.e, Sumut-1, Sumut-2, Sumbar-1,Sumbar-2, Sumbar-3, Bengkulu-1, and Bengkulu-2 explorated in 1994 andhad been collected in Kayuwatu Experimental Garden, North Sulawesi.The purpose of the analysis was to know how far the genetic distanceamong the seven accessions of the arecanut. The analysis used D 2 statisticsof Mahalanobis, while to cluster the population used Tocher Method byRao. The result showed that there are four groups among the sevenaccessions of arecanut. Group I consisted of Sumbar-1 and Sumut-1, groupII consisted of Sumbar-3, Sumut-2, and Bengkulu-1, and both of group IIIand group IV consisted of one accession, namely Sumbar-2 and Bengkulu-2 respectively. The largest genetic distance occurred between group I andgroup II (D 2 = 1263.137) while the smallest genetic distance occurredbetween group I and group III (D 2 = 108.587). Number of leaf scars wasthe largest contribution of the grouping.Key words : Arecanut, Areca catehcu L., population, genetic distance,North Sulawesi
PENGGUNAAN ASAM FUSARAT DALAM SELEKSI IN VITRO UNTUK RESISTENSI ABAKA TERHADAP Fusarium oxysporum f.sp. cubense RULLY DYAH PURWATI; UNTUNG SETYO BUDI; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n2.2007.64-72

Abstract

ABSTRAKPenyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh cendawan Fusariumoxysporum Schlecht f.sp. cubense (E.F. Smith) Snyd & Hans (Foc)merupakan penyakit yang banyak menyerang tanaman Musa sp. (termasukabaka) dan dapat menurunkan produktivitas serat antara 20-65%. Salahsatu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah penggunaan klon abakayang resisten. Seleksi in vitro dengan menggunakan agens penyeleksiasam fusarat (AF) merupakan metode yang efektif untuk memperoleh klonabaka resisten terhadap infeksi Foc. Pengkulturan kalus embriogen dantunas abaka pada medium tunas (MT) yang mengandung berbagaikonsentrasi AF digunakan untuk mengetahui pengaruh daya hambat AF.Konsentrasi sub-letal ditentukan sebagai konsentrasi yang paling tinggimenghambat proliferasi kalus embriogen dan tunas abaka. Seleksi in vitrountuk mengidentifikasi embrio somatik yang insensitif AF dilakukandengan konsentrasi sub-letal. Setelah regenerasi dan aklimatisasi plantlet,klon abaka hasil regenerasi ditanam di rumah kaca untuk pengujianketahanan terhadap Foc menggunakan metode detached leaf dual culture.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi daya hambat pertumbuhankalus embriogen abaka, (2) mengetahui konsentrasi sub-letal AF, (3)mengidentifikasi varian embrio somatik abaka yang insensitif AF melaluiseleksi in vitro yang dilanjutkan dengan regenerasi plantlet, dan (4)mengevaluasi resistensi plantlet hasil regenerasi terhadap infeksi Foc.Hasil penelitian menunjukkan bahwa AF menghambat pertumbuhan kalusembriogen dan tunas abaka, sedangkan konsentrasi sub-letal AF adalah 50mg/l. Dari seleksi in vitro dihasilkan 85 plantlet klon Tangongon dan 28plantlet klon Sangihe-1 yang diregenerasikan dari embrio somatik yanginsensitif AF. Genotipe asli Tangongon termasuk dalam kelompok sangatrentan terhadap infeksi Foc, sedangkan dua dari tiga varian dari klonTangongon yang diuji menunjukkan resisten dan satu agak rentan. Padapenelitian ini, pengujian resistensi terhadap infeksi Foc varian yangberasal dari klon Sangihe-1 belum dapat dilakukan karena plantlet masihterlalu kecil sehingga belum dapat diaklimatisasi.Kata kunci: Abaka, Musa textilis Nee., penyakit, Fusarium, keragamansomaklonal, toksin cendawan, Jawa TimurABSTRACTThe usage of fusaric acid (FA) in vitro selection of abacaresistant to Fusarium Oxysporum f. sp. cubenseWilt Fusarium disease caused by Fusarium oxysporum Schlechtf.sp. cubense (E.F. Smith) Snyd & Hans (Foc) is one of the major diseasesof Musa sp. including abaca, and it could decrease 20-65% fiberproductivity. One of the method to solve this problem is utilization ofabaca resistant clones. In vitro selection using fusaric acid (FA) asselective agents is an effective method to produce abaca resistant clones toFoc infection. Culturing abaca embriogenic calli (EC) and shoots on MTmedium containing various FA concentrations was used to determine FAinhibition effects. Sub-lethal concentration was defined as one inhibiting >90% proliferation of abaca EC and shoots. In vitro selection to identify FAinsensitive SE was conducted using FA sub-lethal concentration.Following plantlet regeneration and acclimatization, the regenerated abacalines were grown in the glasshouse for testing against Foc using detachedleaf dual culture test. The objectives of this study were to (1) evaluategrowth inhibition of abaca EC and shoots by FA, (2) determine sub-lethalconcentration of FA, (3) identify FA insensitive variants of abaca somaticembryos (SE) through in vitro selection followed by plantlet regeneration,and (4) evaluate resistance of regenerated plantlets against Foc infection.Results of the experiment showed FA inhibited abaca EC and shootsgrowth while sub-lethal concentration of FA was 50 mg/l. Following invitro selection, 85 plantlets of Tangongon and 28 of Sangihe-1 wereregenerated from FA insensitive SE. The original Tangongon genotypewas very susceptible against Foc infection. Meanwhile, among three Foctested lines derived from Tangongon, two lines were considered resistantand one was slightly susceptible. However, resistance against Foc ofvariants derived from Sangihe-1 have not been evaluated in thisexperiment due to the plantlets were not strong enough to be acclimatized.Key words : Manila hemp, Musa textilis Nee., pest, Fusarium,somaclonal variation, fungal toxin, East Jav
EFEKTIVITAS NEMATODA ENTOMOPATOGEN Steinernema sp. PADA HAMA UTAMA BEBERAPA TANAMAN PERKEBUNAN DAN HORTIKULTURA I G.A.A. INDRAYANI; A. A. AGRA GOTHAMA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.60-66

Abstract

ABSTRAKNematoda  entomopatogen  Steinernema  sp.  telah  banyakdimanfaatkan sebagai agens hayati untuk mengendalikan serangga hama diluar negeri, namun di Indonesia masih terbatas. Tujuan penelitian adalahmengevaluasi efektivitas 3 strain Steinernema sp. lokal terhadap beberapahama utama tanaman perkebunan dan hortikultura. Penelitian ini dilakukandi Laboratorium Entomologi dan Kebun Percobaan, Balai PenelitianTanaman Tembakau dan Serat Malang, Jawa Timur, mulai April 2001sampai Mei 2002. Tiga strain nematoda lokal, yaitu BT02, ML07, danAB05 diuji masing-masing pada konsentrasi 50; 100; 200; 400; dan 800Juvenil infektif (JI)/ml dan satu kontrol (tanpa JI). Sembilan spesiesserangga hama yang diuji yaitu Helicoverpa armigera, dan Pectinophoragossypiella (hama kapas), H. assulta dan Myzus persicae (tembakau),Plutella xylostella, dan Crocidolomia binotalis (kubis), Spodoptera exigua(bawang merah), Liriomyza sp. dan S. litura (bunga krisan). Setiap spesiesserangga mewakili satu unit pengujian. Setiap perlakuan dalam unitdisusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat ulangan.Aplikasi perlakuan dilakukan dengan metode vial, kultur sel, dan sumuran,tergantung perilaku serangga uji dan menggunakan spray chamber. Dilaboratorium, parameter yang diamati adalah sublethal (LC 25 ) dan lethalconcentration (LC 50 ), sublethal and lethal time (LT), dan produksi JI. Dilapang, hanya satu perlakuan tunggal yang digunakan yaitu LC 50 darisetiap strain nematoda. Sebanyak masing-masing 20 inang seranggadipajankan daun atau bagian tanaman yang telah disemprot dengansuspensi nematoda di lapang, kemudian serangga uji diamati dilaboratorium hingga mati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketigastrain nematoda menunjukkan efektif membunuh C. binotalis (BT02), P.xylostella, M. persicae (ML07), dan P. gossypiella (AB05), tetapi kurangefektif terhadap H. armigera (AB05), S. exigua dan S. litura (ML07), danLiriomyza sp. (BT02). Waktu efektif yang diperlukan nematoda untukmembunuh inang (Lethal Time) pada ketiga strain berkisar antara 1-4 hari.Selain efektif membunuh stadia larva, Steinernema sp. juga efektifterhadap prepupa dan pupa.Kata kunci : Tanaman  perkebunan,  hortikultura,  Steinernema  sp.,Helicoverpa armigera, Pectinophora gossypiella, H.assulta, Myzus persicae, Plutella xylostella, Crocidolomiabinotalis, Spodoptera exigua, S. litura, Liriomyza sp., juvenilinfektif, mortalitasABSTRACTEffectiveness of entomopathogenic nematode Steiner-nema sp. against major insect pests of plantation andhorticultureEntomopathogenic nematode of family Steinernematidae is aprospective agent for biological control of insect pests. It has been knownthat many species of insects can be infected by nematode and sometimesshowed different levels of infection. Laboratory and field study on theeffectiveness of Steinernema sp. against major insect pests of plantationand horticulture was carried out in Laboratory of Entomology andExperimental Station of Indonesian Tobacco and Fiber Crops ResearchInstitute (IToFCRI), Malang, East Java. The objective was to find out theeffectiveness of three local strains of Steinernema sp. to any differentmajor of insect pests of plantation and horticulture. Three local strains ofnematode tested as BT02, ML07, and AB05 which each consist of fivelevel concentrations of IJ, viz. 50, 100, 200, 400 and 800 IJ/ml and oneuntreated with IJ as control were tested against nine species of insect, viz.H. armigera, P. gossypiella (cotton), H. assulta and M. persicae (tobacco),P. xylostella and C. binotalis (cabbage), S. exigua (red onion), Liriomyzasp. and S. litura (chrysanthemum). Each species of insect was tested asone unit of test and treated with the same level of concentration. Eachtreatment in every unit of test was arranged in randomized completedesign with four replications. Application method of treatment used werevial, cell culture plate, and well, depends on insect behaviour. Nematodesuspension was applied by using spray chamber. Parameters observedwere sublethal and lethal concentration, sublethal and lethal time and IJproduction. In field study, only one single treatment LC 50 was used toobserve the insect mortality. In this study, twenty of insect hosts were fedon treated-sample leaves collected from the field and observed till death.The result showed that all strains of Steinernema sp. were morepathogenic and effective against C. binotallis (BT02), P. xylostella and M.persicae (ML07), and P. gossypiella (AB05), but less pathogenic againstH. armigera (AB05), S. exigua and S. litura (ML07), and Liriomyza sp.(BT02). Time needed (LT) to kill the insect host was ranged from one tofour days. Strains of nematode tested were not only effective against larvaebut also effective to kill prepupae and pupae of insect host.Key words : Estate crops, horticulture, Steinernema sp., H. armigera, P.gossypiella, H. assulta, M. persicae, P. xylostella, C.binotalis, S. exigua, Liriomyza sp, S. litura, infectivejuvenile, mortality
PENGARUH PUPUK MAJEMUK TERHADAP HASIL DAN MUTU TEMBAKAU VIRGINIA DI BONDOWOSO, JAWA TIMUR DJAJADI DJAJADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n3.2008.95-100

Abstract

ABSTRAKUntuk mengetahui pengaruh pupuk majemuk terhadap hasil danmutu tembakau virginia yang ditanam di tanah ringan, telah dilakukanpenelitian di Desa Pengarang, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowosomulai bulan April sampai Nopember 2001. Penelitian ini menggunakanrancangan acak kelompok dengan tiga kali ulangan untuk menyusunperlakuan. Perlakuan yang dicoba adalah pupuk majemuk (PM) dengandosis 5, 6, 7, 8 dan 9 butir pertanaman dibandingkan dengan PM (dosismasing-masing) dicampur dengan biokonsentrat. Sebagai perlakuanpembanding adalah paket pupuk rekomendasi, yaitu 200 ZA + 200 PN +100 SP36 + 100 ZK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian PMsebanyak 6 butir per tanaman (setara dengan 185 kg/ha atau 40 kg N/ha)menghasilkan daun basah tembakau sebanyak 11,34 ton/ha. Hasil daunbasah tersebut tidak berbeda dengan hasil daun basah tertinggi (12,42ton/ha) yang dihasilkan tanaman tembakau dengan paket dosisrekomendasi. Dosis pupuk majemuk juga memberikan nilai indeks mututertinggi (55,90) tidak berbeda pengaruhnya dengan pupuk rekomendasi.Pemberian pupuk rekomendasi menghasilkan tanaman tembakau yangberkadar N dan P jaringan tanaman tertinggi pada pengamatan umurtanaman 75 hari setelah tanam dan pada saat akhir panen.Kata kunci: Tembakau virginia, tanah ringan, pupuk, KabupatenBondowoso, Jawa TimurABSTRACTEffect of compound fertilizer on yield and quality ofvirginia tobacco in light soil, Bondowoso, East JavaStudy to determine the effect of compound fertilizer on yield andquality of virginia tobacco was conducted in Pengarang, Pujer, Bondo-woso District, from April to November 2001. Factorial in randomizedblock design with three replicates was arranged to set the treatmentconsisting of two factors. The first factor of treatment consists of twovariables, i.e. compound fertilizer (PK) and PK +bio-concentrate. Thesecond factor was the rates of PK, i.e 5, 6, 7, 8, and 9 tablets per plant orequivalent to 185, 221, 258, 294 and 331 kg/ha. All the treatments werecompared to recommended fertilizer to farmers (200 ZA + 200 PN + 100SP36 + 100 ZK kg/ha). The results showed that 185 kg/ha PK gave thefresh tobacco yield of 11.34 tones/ha which was not significantly differentwith the highest fresh tobacco leave (12.42 tones/ha) produced byrecommended fertilizer. Grade index value of tobacco produce by PK andrecommended fertilizer was not significantly different. However, virginiatobacco with recommended fertilizer had the highest content of N and P inplant tissues which were observed at 75 days after planting and until theend of harvesting.Key words: Virginia tobacco, light soil, fertilizer, Bondowoso District,East Java
POTENSI SELASIH SEBAGAI REPELLENT TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti AGUS KARDINAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n2.2007.39-42

Abstract

ABSTRAKPenyakit demam berdarah yang ditularkan oleh nyamuk Aedesaegypti merupakan penyakit yang hampir selalu terjadi setiap tahunnya dibeberapa daerah di Indonesia. Salah satu cara untuk menghindarinyaadalah dengan penggunaan lotion anti nyamuk yang pada umumnyaberbahan aktif bahan kimia sintetis. Perlu dicari bahan alami yang lebihaman dalam menghindari gigitan nyamuk, salah satunya adalah denganpenggunaan selasih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dayaproteksi selasih (Ocimum gratisimum dan Ocimum bassilicum) terhadapserangan nyamuk Aedes aegypti (vektor penyakit demam berdarahdengue). Penelitian dilakukan di laboratorium Entomologi, FakultasKedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2006. Selasihdiuji dalam bentuk minyak atsiri yang diencerkan dengan parafin cair padakonsentrasi 20%; 10%; 5% dan 2,5%. Nyamuk betina hasil perbanyakan dilaboratorium merupakan serangga uji yang disimpan di dalam kurunganuji. Pengujian dilakukan dengan cara memasukkan lengan secarabergantian antara yang diberi perlakuan dan kontrol (tidak diberiperlakuan) ke dalam kurungan nyamuk dan dihitung jumlah nyamuk yanghinggap setiap jam, selama enam jam. Hasil menunjukkan bahwa selasihberpotensi sebagai pengusir (repellent) nyamuk dengan daya proteksitertinggi sebesar 79,7% selama satu jam dan rata-rata 57,6% selama enamjam. O. gratisimum lebih baik dua kali lipat daya proteksinya daripada O.bassilicum, hal ini terjadi karena diduga bahan aktifnya lebih beragam,yaitu selain mengandung eugenol 37,35%, juga thymol (9,67%) dancyneol (21,14%) dibandingkan dengan O. bassilicum yang hanya mengan-dung eugenol sebanyak 46%.Kata kunci : Selasih, Ocimum gratisimum, Ocimum bassilicum., Aedesaegypti, daya proteksi, Jawa BaratABSTRACTPotency of Ocimum spp. as repellent to Aedes aegyptimosquitoThe objective of the research is to evaluate the protection ability ofOcimum spp. (gratisimum and bassilicum) against Aedes aegypti mosquito(vector of Dengue Hemorrhagic Fever). Ocimum was evaluated in theform of essential oil diluted with liquid paraffin at concentrations of 20%;10%; 5% and 2,5%. Female mosquitos reared in the laboratory wereplaced in the cages. Alternately, treated and untreated hand (control) wereinserted into the cage containing mosquitos. The number of mosquitosperched on the hand were counted every hour, lasting for six hours. Resultshowed that Ocimum was prospecting to be developed as a mosquitorepellent, although its repellency was still under the repellency of syntheticrepellent (DEET). The repellency of O. gratisimum was better than O.bassilicum since O. gratisimum possessing variety of active ingredientbeside eugenol (37.35%), such as thymol (9.67%) and cyneol (21.14)compared to O. bassilicum which is only possessing eugenol as much as46%.Key words : Selasih, Ocimum gratisimum, Ocimum bassilicum, Aedesaegypti, protection ability, West Java
HUBUNGAN ANTARA KERAPATAN POPULASI KEPIK RENDA, Diconocoris hewetti (Dist) (HEMIPTERA : TINGIDAE) DAN KEHILANGAN HASIL PADA TANAMAN LADA I WAYAN LABA; A. RAUF; U. KARTOSUWONDO U. KARTOSUWONDO; M. SOEHARDJAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n1.2005.1-6

Abstract

ABSTRAKKepik renda, Diconocoris hewetti (Dist) (Hemiptera : Tingidae)merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman lada di Indonesia.Hama ini mengisap bunga lada, dan dapat menggagalkan pembuahan.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara kerapatanpopulasi D. hewetti dan kerusakan bunga serta pembentukan buah padaberbagai fase bunga. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan kebunpercobaan Petaling BPTP Kepulauan Bangka Belitung pada musim hujan(Nopember 2003 – Pebruari 2004). Penelitian rumah kaca menggunakanlada perdu varietas LDL umur ± 1 tahun. Kerapatan populasi nimfa instar5 dan imago masing-masing 0,1 dan 2 per tandan bunga masing-masingpada 3 fase bunga. Periode mengisap bunga selama 24 jam. Rancanganpercobaan yang digunakan adalah acak lengkap dengan pola faktorial dandiulang 5 kali. Percobaan lapangan menggunakan varietas LDL, umur ± 6tahun. Populasi imago 0, 1, 2, 3, dan 4 per 4 tandan bunga masing-masingpada 3 fase bunga. Periode mengisap bunga selama 72 jam. Untuk nimfamenggunakan kerapatan populasi 0, 1, 2, dan 3 per tandan. Pemaparanserangga selama 24 jam. Rancangan percobaan untuk nimfa menggunakanacak kelompok dengan pola faktorial dan diulang 5 kali, sedangkan untukimago juga menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorialdan diulang 6 kali. Parameter yang diamati adalah persentase kerusakanbunga, buah terbentuk, buah yang tidak terbentuk dan kehilangan hasil.Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang nyata antara kerapatanpopulasi kepik renda dengan kerusakan bunga lada dan pembentukanbuah. Pada kerapatan 2 ekor nimfa maupun imago menunjukkankerusakan bunga dan kehilangan hasil yang paling tinggi. Kerusakanbunga dan pembentukan buah akibat serangan imago dan nimfa tidakmenunjukkan perbedaan yang nyata. Tingkat kerusakan bunga di rumahkaca antara 67,00–87,89%, sedangkan di lapangan antara 61,10–85,30%,disebabkan oleh imago kepik renda, dan 71,00-93,30% oleh nimfa.Kehilangan hasil di rumah kaca antara 55,07–83,04%, sedangkan dilapangan antara 35,30–82,89%, disebabkan oleh imago, sedangkan olehnimfa berkisar antara 73,24–89,05%. Tingkat kerusakan bunga lebih tinggipada fase 1 dan 2 dibandingkan dengan fase 3. Hasil penelitian inimemberikan indikasi bahwa serangan oleh satu ekor nimfa maupun imagokepik renda mengakibatkan kerusakan bunga minimal 61,10% dankehilangan hasil minimal 35,30%.Kata kunci : Lada, Piper nigrum, hama, Diconocoris hewetti, kerusakanbunga, kehilangan hasilABSTRACTRelationship between the population densities of blossomsucking lace bug Diconocoris hewetti (Dist) (Hemiptera;Tingidae) and yield losses on pepper plantationBlossom sucking lace bug, Diconocoris hewetti (Dist) (Hemiptera;Tingidae) is one of the pest insect attacking pepper in Indonesia. This pestinsect sucks pepper blossom liquid and disturb fruit formation. Theobjective of this experiment was to find out the relationship between thepopulation densities of blossom sucking lace bug, D. hewetti and flowerdamage, number of fruits formed and yield losses of pepper at variousflower phases. These studies were conducted in a green house and pepperplantation in the Institute of Assessment Agricultural Technology, BangkaBelitung Island during rainy season (November 2003 to February 2004).The green house research used bushy pepper more or less 1 year old. Thelace bug of the last instar or 5 th instar nymph and adult were used atpopulation density : 0, 1 and 2 insects/bunch in 3 blossom phasesrespectively. Feeding period of lace bug was 24 hours. Design of thisexperiment was completely randomized with factorial design and 5replications. Field study used LDL pepper variety with aged ± 6 years.The population densities of adult lace bug were: 0, 1, 2, 3 and 4 per 4bunches on 3 types of pepper blossom phases respectively. Feeding periodof lace bug was 72 hours. Field study also used last instar nymph withpopulation density : 0, 1, 2 and 3/bunch. Feeding period was 24 hours.Randomized block design with factorial and 5 replications were used oninstar nymph, while on the adult stadium randomized block design withfactorial and 6 replications were also used. The intensity of flowerdamage, fruits formed, fruits unformed and yield losses were counted. Theresult revealed that the number of fruits formed and yield losses weresignificantly different among population density of lace bug. Thepopulation densities of two lace bug caused higher flower damage andyield losses than other population densities. Flowers damage, fruitsformation and yield losses caused by nymph and adult were notsignificantly different. The level of flower damage in green houseobservation was between 67.00 – 87.89%, while in the field was between61.10 – 85.30% caused by adult, and 71.00 – 93.30% caused by nymph.Yield loss of pepper was 55.07 – 83.04% in the green house, while theyield losses in the field was 35.30 – 82.89% due to the attack of adult.Yield loss caused by nymph was 73.24 – 89.05%. The level of flowerdamage on phases 1 and 2 were higher than the flower damage of phase3. This research indicated that the attack of one adult or one nymph oflace bug, D. hewetti caused flower damage minimum 61.10% and yieldloss minimum 35.30%.Key words : Pepper, Piper nigrum, pest insect, Diconocoris hewetti,flower damage, yield loss

Page 7 of 56 | Total Record : 552


Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue