cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Alamat Kantor Editor Jurnal Jalan Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111 Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Plasma Nutfah
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14104377     EISSN : 25491393     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Plasma Nutfah (BPN) is an open access scientific journal published by The Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), The Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Ministry of Agriculture. This peer-refereed journal covering the area of genetic resources including exploration, characterization, evaluation, conservation, diversity, traditional knowledge, management and policy / regulation, of all kinds of genetic resources: plants, animals, fishes, insects and microbes. Manuscripts submitted to this journal are those that have never been published in other journals. This journal is published in one volume of two issues per year (June and December). We invite authors to submit the manuscripts to this journal in English or Indonesian. Detail information about the journal, including author guidelines and manuscript template, is available on the website (http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/bpn). The manuscript should be submitted electronically through our submission system. Buletin Plasma Nutfah (BPN) is an open access scientific journal published by Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Ministry of Agriculture. BPN Accredited by Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia (No. 21/E/KPTP/2018) for period of 2016-2020. This peer-refereed journal covers the area of genetic resources including exploration, characterization, evaluation, conservation, diversity, traditional knowledge, management and policy / regulation related to genetic resources: plants, animals, fishes, insects and microbes which has never been published in other Journal
Arjuna Subject : -
Articles 296 Documents
Karakterisasi Kangkung (Ipomoea reptans) Varietas Sutera Berdasarkan Panduan Pengujian Individual Eri Sofiari
Buletin Plasma Nutfah Vol 15, No 2 (2009): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v15n2.2009.p49-53

Abstract

Characterization of kangkung variety Sutera was carried out in Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Experimental Garden, Lembang 1.250 m asl, West Java. The objective of this study was to identify and compare the important characters of kangkung Sutera variety and Mahar variety. Experimental design used was randomized complete block design, with three replication. Each entry consist of 90 plants/ plot. The result of the experiment shown that seven of 31 characters belong to Sutera were different to Mahar variety. Those phenotype are includes length of node, diameter of the 5th to the 7th node, shape of leaf attach to the stem, the length of expanded leaf, The length of leaf petiole, shape of flower margin, and the stigma. AbstrakKarakterisasi kangkung Sutera telah dilaksanakan di Kebun Pecobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m diatas permukaan laut), Jawa Barat. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengkarakterisasi varietas Sutera menggunakan acuan Panduan Pengujian Individual (PPI) dengan pembanding varietas Mahar. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tiga ulangan, dan setiap petak ditanami 90 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan tujuh karakter antara varietas Sutera dengan varietas Mahar. Ketujuh karakter tersebut adalah panjang ruas, diameter ruas ke-5, 6, dan 7, bentuk bagian daun yang melekat pada batang, ukuran daun dewasa, panjang tangkai daun, bentuk tepi bunga, dan posisi kepala putik.
Potensi Nipah (Nypa fruticans (Thunb.) Wurmb.) sebagai Sumber Pangan dari Hutan Mangrove Endro Subiandono; N. M. Heriyanto; Endang Karlina
Buletin Plasma Nutfah Vol 17, No 1 (2011): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v17n1.2011.p54-60

Abstract

Potency of Nypa as a Food Resource from Mangrove Forest. Research on potency of nypa (Nypa fruticans (Thunb.) Wurmb.) as a food resource was conducted at Sangkimah Lama Village Sangatta, East Kutai District, East Kalimantan Province from September to November 2009. The data collected from five plots with measurement of 10 m x 10 m laid in purposive random sampling procedure. The result showed that the number of tree per hectare was 1,984 included 1,067 trees bearing fruits. Every tree has 3.55 lump of fruit in average with 2.83 lump was ripe fruits and 0.76 lump was unripe. The average number of fruit was 196,120 per hectare. In a hectare of land could yield 1.89 ton unripe fruit and 3.27 tons of nypa powder. The powder was composed of high fiber with low fat and calory. So this food has potency for dietary program. AbstrakPenelitian potensi nipah atau Nypa fruticans (Thunb.) Wurmb. sebagai sumber pangan dari hutan mangrove dilakukan di Desa Sangkimah Lama, Kecamatan Sengatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur dari bulan September sampai Nopember 2009. Pengumpulan data menggunakan metode pengukuran plot berbentuk bujur sangkar ukuran 10 m x 10 m, dengan lima plot pengamatan. Penelitian dilakukan menggunakan teknik penarikan contoh bertingkat dengan peletakan/ pemilihan satuan contoh tingkat pertama secara terarah dan satuan contoh tingkat kedua secara sistematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pohon dapat mencapai 1.984 pohon/ha, 1.067 pohon/ha di antaranya berbuah. Setiap pohon nipah berbuah rata-rata 3,55 bonggol/pohon, 2,83 bonggol buah tua/pohon dan 0,76 bonggol buah muda/pohon; setiap bonggol rata-rata berisi 65 buah nipah. Jumlah buah nipah dalam 1 ha rata-rata 196.120 buah. Dalam 1 ha tegakan nipah dapat menghasilkan 1,89 ton buah muda semacam kolang kaling dan 3,27 ton tepung nipah. Tepung nipah mengandung serat cukup tinggi dengan kandungan lemak dan kalori rendah yang berpotensi untuk dijadikan makanan bagi orang diet.
Inbreeding pada Populasi Banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) di Kebun Binatang Surabaya Reny Sawitri; Mariana Takandjandji
Buletin Plasma Nutfah Vol 18, No 2 (2012): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v18n2.2012.p84-94

Abstract

Inbreeding Population of Banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) at Surabaya Zoo. Reny Sawitry and Mariana Takandjandji. Banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) is one of wildlife that is maintained in Surabaya Zoo, their mating system happened from a couples, and so overlap from generation to next generation. The purposed of this research was to determine effective population size, genetic diversity, and the change of physical and physiological of the herd. The methods used in this study were analysis DNA mitochondria from hair samples, description of physical and physiological change, and inbreeding coefficient. The results showed that effective populations size of herd in Surabaya Zoo tended to decline from productive age of banteng. Haplotype diversity of herd population was very low, the distance of genetic intra population zerro, and it’s genetic diversity was very homogen. This occured caused change in sex ratio of which male dominated the offspring population. Subsequently, the impact of inbreeding was the change of physic and physiology of banteng such as skin colour, sterile and infertile. Inbreeding that happened in Surabaya Zoo affected extinction of third population because of individual number of live sex less than one. The inbreeding coeficient was calculate using of pedigree analysis and inbreeding rate per generation based on the population structure. The calculation result of inbreeding coeficient was 0.42, while the inbreeding rate was 4.3% per generation. Finally, it’s needed to supply banteng from nature to fix offsprings and it’s genetic diversity. AbstrakBanteng (Bos javanicus d’Alton 1832) merupakan salah satu satwa liar yang dipelihara di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Sistem perkawinan banteng di lokasi ini dimulai dari bibit tunggal dan overlap antar generasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keragaman genetika banteng di KBS melalui analisis DNA mitokondria, deskripsi perubahan fisik dan fisiologi banteng, gambaran nilai koefisien dan laju inbreeding per generasi. Metode yang digunakan adalah penghitungan ukuran populasi efektif, deskripsi perubahan fisik dan fisiologi serta koefisien dan laju inbreeding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran populasi efektif banteng cenderung menurun dilihat dari umur produktif. Diversitas haplotipe populasi banteng di KBS sangat rendah, sehingga jarak genetik dalam populasi = 0 dan dapat dikatakan keragaman genetiknya sangat homogen. Rata-rata nilai koefisien inbreeding adalah 0,42 dan laju inbreeding 4,3% per generasi. Hal ini dapat dilihat dari keturunan jantan daripada betina. Perkawinan secara inbreeding penurunan fisik serta fisiologi banteng di KBS, seperti terjadinya kemandulan dan ketidaksuburan. Inbreeding juga mengakibatkan kepunahan pada populasi yang ada karena pada generasi ketiga jumlah individu tiap kelamin yang hidup kurang dari satu. Dengan demikian diperlukan pasokan banteng dari alam untuk memperbaiki keturunan dan keragaman genetik.
Kuantitas dan Kualitas Nutrisi Pakan Orangutan di Pusat Reintroduksi Orangutan, Wanariset Samboja-Kalimantan Timur nFN Zuraida
Buletin Plasma Nutfah Vol 12, No 1 (2006)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v12n1.2006.p34-39

Abstract

Orangutan (Pongo pygmaeus) was an endangered species with a decreasing population gradually. To overcome the problem, reintroduction was a good conservation program. This was done through a rehabilitation that aim was ad at increasing the adaptability of orangutan which were adapted to human environment, so that they can survive in their natural habitat. The nutrient adequacy for orangutans while staying in the reintroduction center was very important before they were released into natural habitat. Therefore, the objectives of this study were to find out the kinds of daily feed consumption, nutrient contents and nutrient intake of orangutans at Wanariset Samboja by measuring the average daily nutrient intake of individual orangutans. Data were obtained from eight samples of orangutans in individual cages containing a male and a female at the age of two year old, and three males and three females at the age of four year old. The data of feed consumption were recorded three times daily, namely, morning, noon, evening in terms of feed amount and types, then converted into the nutrient values based on table of nutrient contents listed in standardized table. The differences in nutrient intake based on sex and age were obtained by Duncan analysis. The results of the study showed that the daily nutrient intake of 8 orangutans during 24 hours more than energy expenditure in the cage. Total energy used for 24 hours by female and male orangutans at the age of two years old were 692.57 and 739.60 calories, respectively, whereas the energy used by orangutans at the age of four years old were 1088.84 and 945.57 calories, respectively. Calories consumed from feed at the age of two years for female and male were 1042,10 and 1066,60 calories respectively while at the age of four years for female and male were 1402,03 calories and 1227,40 calories respectively. According to the above data energy consumed from feed was more than energy expenditure. It was concluded that feeding consumption given at Wanariset samboja was adequate. AbstrakOrangutan (Pongo pygmaeus) adalah salah satu jenis satwa langka yang populasinya semakin menurun. Untuk mengatasi masalah ini dilakukan upaya pengembalian orangutan ke habitat aslinya dengan sistem rehabilitasi. Dalam hal ini ketersediaan pakan merupakan hal yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi penyediaan pakan, kandungan, dan asupan nutrisi harian orangutan di Wanariset Samboja. Data yang diambil berasal dari delapan sampel orangutan di kandang individu yang terdiri atas satu ekor jantan dan satu ekor betina umur 2 tahun, serta tiga ekor jantan dan tiga ekor betina umur 4 tahun. Jumlah dan jenis pakan yang dikonsumsi dikonversi ke nilai kandungan nutrisi yang terdapat dalam tabel kandungan bahan makanan. Perbedaan asupan nutrisi berdasarkan jenis kelamin dan umur diketahui dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan kalori harian delapan orangutan contoh selama 24 jam lebih banyak dibandingkan dengan kalori yang dikeluarkan orangutan selama di kandang. Total energi yang dikeluarkan selama 24 jam oleh orangutan betina dan jantan berumur 2 tahun berturutturut adalah 692,57 dan 739,60 kalori, sedangkan untuk umur 4 tahun adalah 1088,84 dan 945,61 kalori. Kalori yang didapat dari makanan untuk orangutan betina dan jantan umur 2 tahun berturut-turut adalah 1042,10 dan 1066,60 kalori dan untuk orangutan yang berumur 4 tahun berturut-turut adalah 1402,03 dan 1227,40 kalori. Dengan demikian, jumlah energi yang didapat dari makanan lebih besar dibandingkan dengan energi yang dikeluarkan. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan jumlah pakan yang diberikan di pusat rehabilitasi orangutan mencukupi kebutuhan.
Karakteristik dan Produktivitas Ayam Kedu Hitam Achmad Gozali Nataamijaya
Buletin Plasma Nutfah Vol 14, No 2 (2008): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v14n2.2008.p85-89

Abstract

The Black Kedu fowl, of Kedu origin district of Temanggung Central Java was one of rare types Indonesian local fowl and considered as productive egg layer amongst local fowls. Therefore, they need to be characterized to better utilize their potential to breed commercial stocks.This study was conducted to find out more reliable data on the characteristics and productivity of the fowl. Two hundred and forty day old chicks were raised in 20 brooders sized 1.5 m x 1.2 m x 0.75 m and fed starter diet contained 20% of crude protein and 3100 kcal metabolizable energy/kg until 4 weeks old, thereafter the birds diet contained 18% crude protein and 3000 kcal metabolizable energy/kg until 8 weeks old then 14% crude protein and 2,800 kcal/kg until 20 weeks old and placed at grower house, after week 20 these hens were removed into layer house. At the age of 21 weeks these birds were given layer diet with 16% crude protein and 2800 kcal metabolizable energy/kg of diet. Drinking water was given ad libitum. Results showed that the dominant plumage colour was shiny black either male or female with red comb and wattle, whilst the colour of shank and beak were mostly dark. The average mortality rate at 1st, 2nd and sixth week was 6.07, 2.16, and 0.43% respectively. The average chicks body weight at day one was 28.98 g. At the 1st to 8th week the average body weight was 40.58, 81.25, 123.60, 192.68, 286.02, 380.39, 487.68, and 578.08 g with feed conversion value of 1.02, 2.58, 2.82, 2.91, 2.98, 3.23, 3.86, and 4.42. Some of the hens started laying eggs at 20 weeks old, however most of them started at 22 weeks old when the production rate was 14.9%. Peak production (41.70%) was reached at 38 weeks old, the average egg production during observation period was 32.48% with feed conversion value for egg production around 6.58. These eggs were laid in the morning (54.36%), the rest were laid in the afternoon (45.64%), the color of the eggs were light brown (75.48%) and brown (25.52%). The average weight of egg was 28.64 g at initial laying period, 35.69 g at peak production and 43.33 g at 52 weeks old, the grade/USDA score of inner egg quality was A/4. It was concluded that the Black Kedu fowl has a distinctive appearance and better productivity compared to ordinary local fowl, and hence could be utilized as genetic resources to develop egg type commercial stock. AbstrakAyam Kedu Hitam, berasal dari Desa Kedu Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, adalah salah satu jenis ayam lokal langka dan dikenal sebagai tipe petelur yang cukup produktif. Penelitian bertujuan untuk memperoleh data lengkap karakteristik dan produktivitas ayam Kedu Hitam. Dua ratus empat puluh ekor anak ayam dibesarkan dalam kotak induk buatan berukuran 1,5 m x 1,2 m x 0,75 m dan diberikan pakan starter yang mengandung 20% protein kasar (PK) dan 3100 Kcal/kg energi metabolik (EM) sampai umur 4 minggu, selanjutnya diberikan pakan mengandung 18% PK dan 3000 Kcal/kg EM sampai umur 8 minggu, kemudian pada umur 20 minggu ditempatkan dalam kandang ayam dara serta diberikan pakan dengan 14% PK dan 2800 Kcal/kg EM pada umur 21 minggu ayam dewasa ditempatkan dalam kandang petelur dengan pemberian pakan mengandung 16% PK dan 2800 Kcal/kg EM. Air minum diberikan secara berlebihan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa warna bulu yang dominan adalah hitam berkilauan, baik jantan maupun betina, dengan jengger dan pial berwarna merah, sedangkan sisik kaki dan paruh berwarna gelap kehitaman. Angka kematian pada minggu pertama, kedua, dan keenam 6,07; 2,16; dan 0,43%, rata-rata bobot badan saat menetas 28,98 g, pada minggu pertama sampai minggu ke-8 bobot badan berturut-turut 40,58; 81,25; 123,60; 192,68; 286,02; 380,39; 487,68; dan 578,08 g dengan nilai konversi pakan 1,02; 2,58; 2,82; 2,91; 2,98; 3,23; 3,86; dan 4,42. Ayam betina pada umur 22 minggu telah menghasilkan telur sebanyak 14,9%, puncak produksi (41,70%) pada umur 38 minggu, sedangkan rata-rata produksi telur 32,48% dengan nilai konversi pakan 6,58. Sebanyak 54,36% telur diproduksi pada pagi hari, sedangkan 45,64% pada siang sampai sore hari. Sebagian besar kerabang telur (75,48%) berwarna coklat pucat, sisanya (25,52%) berwarna coklat. Rata-rata bobot telur 28,64 g pada awal masa bertelur, 35,69 g pada puncak produksi, dan 43,33g pada umur 52 minggu, kualitas bagian dalam telur/nilai USDA A/4. Disimpulkan bahwa ayam Kedu Hitam memiliki penampilan yang khas, petelur yang cukup produktif, dan dapat digunakan sebagai sumber daya genetik dalam pembentukan ayam petelur komersial.
Kajian Ekologi Pohon Burahol (Stelechocarpus burahol) di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur N. M. Heriyanto; R. Garsetiasih
Buletin Plasma Nutfah Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v11n2.2005.p65-73

Abstract

Ecological Study of Burahol Tree (Stelechocarpus burahol) Thomson at Meru Betiri National Park, East Java. The purpose of this research was to know the ecology of burahol tree (S. burahol). This research was conducted at Lodadi, Sub Section II of Conservation Regional Office, Ambulu-Meru Betiri National Park, East Java in Desember 2004. Data collection were using purposive random sampling to set the plots and transect line method to make a plot acrossed the slope. The size of plot was 20 m in width and 1.000 m in length, total of plot observation were three plots. The result showed that most of burahol habitat found at surrounding river with steep slope. The vegetative composition around burahol trees could be found Chydenanthus excelsus trees (IVI/important value index = 67.9%), and Sandoricum koetjape trees (IVI = 24.2%). However, C. excelsus tree was the closest asociation with burahol, because it always be found together with burahol. Physical environment that burahol trees found, showed that temperature is 26- 30oC, humidity is 50-85%, the slope of the land was 10-50% and the altitude was 10-210 m. The kind of soil was Latosol with 5.5-6.5 acidity. Regeneration of burahol trees was done by bat (Pteropus vampirus) and surface run of. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekologi pohon burahol (S. burahol). Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2004 berlokasi di blok Lodadi Subseksi II Ambulu, Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran jalur berpetak dengan lebar jalur 20 m dan panjang 1.000 m. Jalur diletakkan memotong lereng dan jumlah jalur pengamatan tiga jalur. Plot-plot penelitian untuk burahol ditetapkan secara sengaja dengan metode purposive sampling, di mana pengukuran dilakukan pada tempat-tempat yang terdapat pohon burahol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat burahol di TNMB banyak dijumpai di pinggir aliran sungai dengan topografi agak curam. Di sekitar pohon burahol banyak dijumpai besule (Chydenanthus excelsus) dengan indeks nilai penting (INP) 67,9% dan sentul (Sandoricum koetjape) dengan INP 24,2%. Lingkungan fisik yang berkaitan erat dengan burahol adalah suhu yang berkisar antara 26-30°C, kelembaban udara 50- 85%, kemiringan lahan 10-50%, dan ketinggian tempat di atas permukaan laut 10-210 m. Jenis tanah di lokasi penelitian adalah Latosol dengan tekstur geluh lempungan dengan pH 5,5-6,5. Besule (C. excelsus) merupakan jenis tumbuhan yang mempunyai hubungan asosiasi kuat dengan burahol. Hal ini ditunjukkan oleh nilai indeks Ochiai, indeks Dice, dan indeks Jaccard mendekati satu. Regenerasi alami pohon burahol di TNMB dibantu oleh satwa liar, terutama kalong (Pteropus vampirus) dan aliran air hujan.
Evaluasi Keseragaman dan Kestabilan Lima Varietas Kacang Panjang dalam Uji BUSS Nurdini Khadijah
Buletin Plasma Nutfah Vol 18, No 1 (2012): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v18n1.2012.p18-25

Abstract

Evaluation of Uniformity and Stability for Five Yardlong Bean Varieties on DUS Test. Nurdini Khadijah. Uniformity and stability aspects in DUS test for self pollination crop such as yardlongbean usually done by simple assessment methods. The aim of this research is evaluating the assessment of both aspects using statistical tools. The object of the research is five yardlongbean varieties applied for PVP right. The candidates are Brawijaya 1, Brawijaya 3, Brawijaya 4, Bagong 2, and Bagong 3 which belong to Prof. Kuswanto of Brawijaya University. The test was carried out into two planting seasons (April-June 2011 and September-December 2011). Randomized Block Design used as test design with a total population of 60 plants per variety, divided into three replicates and sample size were 21 plants or plant parts per variety. Six varieties of common knowledge KP1, KP7, Putih Super, Hijau Super, Parade, and Pangeran were used as comparable varieties. The observations were recorded on 50 DUS characteristics as listed in the test guideline document of PPU BUSS yardlongbean (PPU/PVT/19/2). Statistical analyses used are cluster analysis, relative variance and homogeneity test used to evaluate the assessment of candidates on uniformity and stability aspects. Results show statistical analysis gives the same decision with the usual simple assessment, but with more accuracy. AbstrakUji BUSS untuk tanaman menyerbuk sendiri seperti kacang panjang biasanya menyertakan uji keseragaman dan kestabilan dengan cara penilaian sederhana. Penelitian ini ditujukan untuk mengevaluasi penilaian kedua aspek tersebut dengan bantuan statistik. Obyek penelitian adalah lima varietas kacang panjang yang diajukan hak PVT, yaitu Brawijaya 1, Brawijaya 3, Brawijaya 4, Bagong 2, dan Bagong 3 hasil pemuliaan Prof. Kuswanto dari Universitas Brawijaya. Penelitian dilaksanakan pada dua musim tanam (April-Juni 2011 dan September- Desember 2011) di kebun percobaan Universitas Brawijaya Jatikerto, Malang, Jawa Timur. Pengujian dirancang menggunakan rancangan acak kelompok dengan populasi 60 tanaman per varietas terbagi dengan tiga ulangan. Enam varietas yang sudah dikenal umum dilibatkan dalam pengujian sebagai pembanding, yaitu KP1, KP7, Putih Super, Hijau Super, Parade, dan Pangeran. Pengamatan dilakukan terhadap 50 karakteristik tanaman yang tercantum dalam dokumen resmi panduan pengujian kacang panjang (PPU/PVT/19/2). Analisis statistik yang digunakan adalah analisis relatif varians untuk uji keseragaman dan analisis kluster serta uji homogenitas varians dua musim untuk uji kestabilan. Hasil menunjukkan bahwa analisis statistik memberikan akhir yang sama dengan penilaian yang selama ini dilakukan secara sederhana, namun dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi.
Evaluasi Beberapa Galur Harapan Padi Sawah di Bali nFN Rubiyo; nFN Suprapto; Aan Darajat
Buletin Plasma Nutfah Vol 11, No 1 (2005)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v11n1.2005.p6-10

Abstract

Superior variety is one of the main technology component in increasing rice production in Bali as well as in Indonesia. An experiment of several advanced rice lines as apart of multilocation trial had been conducted in Badung, Bali in the wet season of 2002/2003. The objective of this experiment was to evaluate the promoting rice lines having high yield and suitable for agroecological condition of Bali. The experiment was arranged in a randomized block design with 16 rice lines in 3 replication. Result of experiment showed 2 lines namely B10386E-02-ML-0019 and BP138E-02-ML-0024 possessing high yielding potential and adapted to Bali agroecology.AbstrakVarietas unggul padi merupakan salah satu komponen utama teknologi yang berperan sangat dominan dalam meningkatkan produksi beras di Bali. Pembentukan varietas melalui proses cukup panjang, di mana proses terakhir adalah uji multilokasi. Pada MT 2002/2003 telah dilakukan uji multilokasi padi sawah di Kabupaten Badung, Bali. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 16 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas 14 galur dan dua varietas sebagai pembanding. Tujuan pengujian adalah untuk mengevaluasi galurgalur lanjut padi sawah yang berdaya hasil tinggi, toleran cekaman lingkungan biotik dan abiotik, dan sesuai agroekosistem tertentu. Berdasarkan analisis data hasil pengamatan komponen hasil terdapat dua calon varietas yang sesuai dengan agroekosistem Bali dan mempunyai potensi hasil tinggi, yaitu B10836E-02-ML-0019, dan BP138E-02-ML-0024.
Initial Study of the Response of Ultra Early Maturing Rice Genotypes to Drought Stress Conditions in Vegetative and Generative Phase Untung Susanto; M. Y. Samaullah; R. H. Wening; M. J. Mejaya
Buletin Plasma Nutfah Vol 21, No 2 (2015): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v21n2.2015.p71-78

Abstract

Perubahan iklim global menyebabkan meluasnya daerah dengan risiko kekeringan. Cekaman kekeringan pada tanaman padi terutama terjadi di lahan gogo, tadah hujan, dan irigasi terbatas. Perakitan varietas yang cocok untuk daerah-daerah tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil padi secara nyata. Padi umur genjah efektif untuk mengantisipasi cekaman kekeringan fase generatif di akhir musim hujan melalui mekanisme escape. Namun demikian, kekeringan yang tidak dapat diprediksi yang dapat terjadi pada awal, tengah, maupun akhir musim tanam memerlukan varietas yang betul-betul toleran terhadap cekaman kekeringan. Penggabungan sifat umur genjah dan toleran kekeringan diharapkan mampu mengantisipasi kondisi cekaman kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons 23 genotipe padi umur genjah yang terdiri atas 3 varietas unggul, 10 varietas lokal, dan 10 galur introduksi yang diberi perlakuan optimum, tercekam kekeringan pada fase vegetatif (diairi hingga 7 hari setelah tanam dan diairi kembali ketika cek peka mengering), dan generatif (diairi hingga 28 hari setelah tanam dan diairi kembali hanya jika cek peka mengering). Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan BB Padi di Sukamandi pada MK 2009. Genotipe yang diuji diberi perlakuan pengairan tersebut di atas tanpa ulangan untuk mengetahui secara deskriptif kondisi karakter-karakter penting genotipe-genotipe yang diuji pada ketiga kondisi pengairan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakter hasil, Indeks Cekaman Kekeringan (IKK; Drought Sensitifity Index, DSS), Nilai Relatif (Relative Values, RV), dan keragaan agronomi, galur OM 1490 teridentifikasi toleran terhadap cekaman kekeringan fase vegetatif dan generatif dengan hasil 28,17 g/tanaman, 24,11 g/tanaman, dan 24,72 g/tanaman pada kondisi optimum, tercekam vegetatif, dan generatif. OM 1490 telah dilepas sebagai varietas Inpari 13 pada tahun 2010 dan varietas ini telah digunakan dalam kegiatan pemuliaan tanaman menghasilkan galur-galur harapan yang baru. AbstrakGlobal climate change has caused the spread of drought prone areas. Drought stress for rice mostly happen in upland, rainfed, and limited irrigation lowland areas. Development of varieties suitable for those areas would significantly increase rice yield. Early maturing genotypes are useful to anticipate predictable early or terminal drought by escape mechanism. Nevertheless, unpredictable drought happening during early, mid season and final planting season results in the need of genuinely droughttolerant genotypes. Combining early maturing and drought tolerant seems to be highly powerful to anticipate drought. This research was aimed to study the response of 23 early maturing rice genotypes consisting of 3 released varieties, 10 local varieties, and 10 introduced lines. The genotypes were exposed to vegetative (watered until 7 days after transplanting and rewater when the susceptible check was drying) and generative phase (watered until 28 days after transplanting and rewatered only if susceptible check was drying), drought stress conditions, and also optimum condition. The experiment was conducted in ICRR Experimental Station in Sukamandi during Dry Season (DS) of 2009. The genotypes were treated with three watering conditions mentioned above without replication to initially see the descriptive statistics of some agronomic traits of the genotypes under the mentioned conditions. The results showed that based on yield, Drought Sensitifity Index (DSS), Relative Values (RV), and agronomic performance, OM 1490 had been identified as tolerant to vegetative and generative drought stresses. It yielded 28.17 g/plant, 24.11 g/plant, and 24.72 g/plant at optimum, vegetative, and generative drought condition, respectively. OM 1490 had been released as Inpari 13 in 2010 and it had beed utilized for further breeding effort resulting new promising lines.
Ragam Karakter Morfologi Kulit Biji Beberapa Genotipe Plasma Nutfah Kedelai Ayda Krisnawati; M. M. Adie
Buletin Plasma Nutfah Vol 14, No 1 (2008): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v14n1.2008.p14-18

Abstract

Identification of morphological characters of soybean seed coat can be beneficial for industrial purposes and also important to enhance the seed quality genetically. The aims of the experiment were to identify the seed coat morphology of several soybean germplasm and to group them based on their seed coat morphological character. A total of 25 Balitkabi’s soybean germplasm were identified in Laboratory of Plant Breeding, Balitkabi and Laboratory of Biology, Malang University, from June until August 2005. The completely randomized design was used with three replications. Parameter measured include the thickness of seed coat layer and rate of imbibition. Cluster analysis was used to determine the index similarity of 25 soybean germplasms based on seed coat characters included epidermis, hypodermis, and parenchyma. The results shows that epidermis, hypodermis and parenchyma layer have mean of 0.051 mm, 0.160 mm, and 0.152 m, respectively. Imbibition’s rate ranged from 0.29-0.54% per hour. Cluster analysis was successfully clustering soybean genotypes into five groups, i.e. group with thin hypodermis layer, thin parenchyma, thick parenchyma, thick epidermis and hypodermis, and thinner parenchyma. AbstrakIdentifikasi karakter morfologi kulit biji kedelai tidak hanya bermanfaat untuk industri, namun juga penting untuk peningkatan mutu benih secara genetik. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi morfologi kulit biji beberapa genotipe plasma nutfah kedelai dan mengelompokkan berdasarkan karakter morfologi kulit biji. Bahan penelitian adalah 25 genotipe plasma nutfah kedelai yang dikoleksi oleh Balitkabi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Balitkabi dan Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang, pada bulan Juni-Agustus 2005. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, dengan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap ketebalan lapisan epidermis, hipodermis, parenkim, dan laju imbibisi. Sidik gerombol digunakan untuk menilai derajat kemiripan 25 genotipe kedelai berdasarkan karakter kulit biji (epidermis, hipodermis, dan parenkim). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan epidermis, hipodermis, dan parenkim 25 genotipe kedelai masing-masing mempunyai ketebalan ratarata 0,051 mm, 0,160 mm, dan 0,152 mm. Kecepatan imbibisi berkisar antara 0,29-0,54%/jam. Sidik gerombol berhasil mengelompokkan 25 genotipe kedelai menjadi lima kelompok, yaitu kelompok genotipe yang memiliki lapisan hipodermis tipis, lapisan parenkim tipis, lapisan parenkim tebal, lapisan epidermis, hipodermis tebal, dan genotipe dengan lapisan parenkim yang lebih tipis.

Page 6 of 30 | Total Record : 296