cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Alamat Kantor Editor Jurnal Jalan Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111 Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Plasma Nutfah
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14104377     EISSN : 25491393     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Plasma Nutfah (BPN) is an open access scientific journal published by The Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), The Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Ministry of Agriculture. This peer-refereed journal covering the area of genetic resources including exploration, characterization, evaluation, conservation, diversity, traditional knowledge, management and policy / regulation, of all kinds of genetic resources: plants, animals, fishes, insects and microbes. Manuscripts submitted to this journal are those that have never been published in other journals. This journal is published in one volume of two issues per year (June and December). We invite authors to submit the manuscripts to this journal in English or Indonesian. Detail information about the journal, including author guidelines and manuscript template, is available on the website (http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/bpn). The manuscript should be submitted electronically through our submission system. Buletin Plasma Nutfah (BPN) is an open access scientific journal published by Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Ministry of Agriculture. BPN Accredited by Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia (No. 21/E/KPTP/2018) for period of 2016-2020. This peer-refereed journal covers the area of genetic resources including exploration, characterization, evaluation, conservation, diversity, traditional knowledge, management and policy / regulation related to genetic resources: plants, animals, fishes, insects and microbes which has never been published in other Journal
Arjuna Subject : -
Articles 296 Documents
Pembentukan Genotipe Padi Berumur Sangat Genjah melalui Kultur Antera Iswari S. Dewi; A. Dinar Ambarwati; Aniversari Apriana; Atmitri Sisharmini; Ida H. Somantri; Bambang Suprihatno; Iman Ridwan
Buletin Plasma Nutfah Vol 18, No 2 (2012): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v18n2.2012.p54-61

Abstract

Development of Very Early Maturing Rice Genotypes through Anther Culture. Iswari S. Dewi, A. Dinar Ambarwati, Aniversari Apriana, Atmitri Sisharmini, Ida H. Somantri, Bambang Suprihatno, and Iman Ridwan. Rice is the most important food crop in Indonesia. Increase in production is needed due to population increase. Rice production in rainfed area is contributed the second after irrigated area. Rainfed condition requiring very early maturity (90-104 days) varieties. Rice anther culture can be applied to accelerate obtainment of doubled haploids (DHs) or pure lines needed in rice breeding. The experiment was aimed to obtain pure lines for developing very early maturing and high yielding rice varieties. Materials used for anther culture were F1s of Fatmawati/Kinamase, Inpari 1/Kinamase, Fatmawati/ Waseaikoku, Inpari 1/Waseaikoku, Fatmawati/IR71146, Inpari 1/IR71146, OM4495/Silugonggo, IR7146/Dodokan, and IR71730/OM1490. Anther culture media were N6 + NAA 2,0 mg/l + kinetin 0,5 mg/l for callus induction, MS+ NAA 0,5 mg/l + kinetin 2,0 mg/l for plantlet regeneration, and MS + 0,5 mg/l IBA for rooting. Putrescine 10-3 M was added to callus induction and regeneration media. The results shown that calli forming green plantlet (CFGP) were ranged from 0.25 to 83.33%. Fatmawati/Kinamase gave the highest CFGP (245 calli), followed by Inpari 1/Kinamase (78 calli) and Fatmawati/ Waseaikoku (68 calli). Total green plantlets obtained were 2.038 plantlets. After plantlet acclimatization and greenhouse grow-out, we obtained 507 DHs. The evaluation of 100 DHs at farmer field (Ciranjang District in Cianjur), based on their 50% heading date of 65 days, resulted in 33 lines cathegorized as very early maturing lines (+100 days). They were 18 lines from Fatmawati/Kinamase, 5 lines from Inpari 1/Kinamase, 8 lines from Fatmawati/Waseaikoku, and 2 lines from Inpari 1/ Waseaikoku. AbstrakPadi (Oryza sativa L.) merupakan komoditi pangan terpenting di Indonesia. Peningkatan produksi diperlukan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Lahan sawah tadah hujan merupakan lumbung padi kedua setelah sawah irigasi. Kondisi lahan sawah tadah hujan memerlukan varietas-varietas padi berumur sangat genjah (90-104 hari). Teknik kultur antera dapat digunakan untuk mempercepat perolehan tanaman dihaploid (DH) atau galur murni dalam pemuliaan padi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan galur-galur murni yang akan digunakan dalam perakitan padi berdaya hasil tinggi dan berumur sangat genjah. Bahan tanaman yang digunakan untuk kultur antera adalah malai dari tanaman F1 hasil persilangan Fatmawati/Kinamase, Inpari 1/Kinamase, Fatmawati/Waseaikoku, Inpari 1/Waseaikoku, Fatmawati/IR71146, Inpari 1/ IR71146, OM4495/Silugonggo, IR7146/Dodokan, dan IR71730/OM1490. Media kultur antera adalah N6 + NAA 2,0 mg/l + kinetin 0,5 mg/l untuk media induksi kalus, MS+ NAA 0,5 mg/l + kinetin 2,0 mg/l untuk media regenerasi, dan MS + 0,5 mg/l IBA untuk media perakaran. Putresine 10-3 M ditambahkan pada media induksi kalus dan regenerasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus yang menghasilkan tanaman hijau (KMTH) berkisar antara 0,25-83,33%. Persilangan Fatmawati/ Kinamase memberikan KMTH tertinggi (245 kalus), diikuti oleh Inpari 1/Kinamase (78 kalus) dan Fatmawati/ Waseaikoku (68 kalus). Total tanaman hijau yang diperoleh adalah 2.038 planlet dihaploid, namun diperoleh 507 tanaman setelah planlet diaklimatisasi dan tanaman ditumbuhkan di rumah kaca. Evaluasi terhadap 100 DH dilakukan di lahan petani Ciranjang, Cianjur. Berdasarkan hari berbunga 50% (65 hari setelah semai), diperoleh 33 galur yang termasuk kategori sangat genjah (dipanen +100 hari). Galur-galur tersebut adalah 18 galur dari persilangan Fatmawati/Kinamase, 5 galur dari persilangan Inpari 1/Kinamase, 8 galur dari persilangan Fatmawati/ Waseaikoku, dan 2 galur dari persilangan Inpari 1/ Waseaikoku.
Status Penelitian Purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) di Indonesia Ireng Darwati; Ika Roostika
Buletin Plasma Nutfah Vol 12, No 1 (2006)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v12n1.2006.p9-15

Abstract

Purwoceng was a commercial medicinal plant that could be used as aphrodisiac, diuretic, and body fit enhancer. The plant was indigenous of Indonesia that grew endemically at Dieng Plateau in Central Java, Pangrango Mountain in West Java, and mountaineos area in East Java. Recently the population was getting rare because of high genetic erosion. Based on the erosion level, the purwoceng was categorized as endangered species. In order to prevent from extinction, the conservation has to be done. The efforts of conservation could be conducted together with the efforts of its utilization optimally and sustainably. So far there were not many researches on purwoceng. Several aspects that had been reported were on agronomy, in vitro culture, phytochemistry, and pharmacology. However, the results of those researches had not been optimal and satisfying. Breeding research had not even been reported. This condition opened large opportunities for researchers to develop the researches that had been conducted to obtain the new technology. The supported technologies and the completed information would enhance the development of this commodity especially at industrial scale. Abstrakdigunakan sebagai afrodisiak, diuretic, dan tonik. Tanaman tersebut adalah tumbuhan asli Indonesia yang tumbuh secara endemik di dataran tinggi Dieng Jawa Tengah, Gunung Pangrango Jawa Barat, dan area pegunungan di Jawa Timur. Dewasa ini, populasinya sangat jarang yang disebabkan oleh erosi genetik secara besar-besaran. Berdasarkan tingkat erosinya, purwoceng dikategorikan sebagai spesies yang hampir punah. Untuk menghindari kepunahan, tindakan konservasi harus dikelola dengan baik. Upaya pelestarian sebaiknya dilakukan secara bersama dengan upaya pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan. Hingga saat ini tidak banyak laporan penelitian tentang purwoceng. Beberapa aspek yang sudah dilaporkan adalah aspek agronomi, kultur in vitro, fitokimia, dan farmakologi. Namun demikian, hasil penelitian tersebut belum memuaskan. Penelitian pemuliaan bahkan belum pernah dilaporkan. Kondisi demikian membuka peluang bagi pengembangan penelitian yang sudah pernah dilakukan hingga diperoleh teknologi yang mantap. Teknologi yang mendukung dan informasi yang lengkap diharapkan akan meningkatkan pengembangan komoditas tersebut, terutama dalam skala industri.
Pengelolaan Plasma Nutfah Tanaman Terintegrasi dengan Program Pemuliaan nFN Sumarno; Nani Zuraida
Buletin Plasma Nutfah Vol 14, No 2 (2008): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v14n2.2008.p57-67

Abstract

Plant breeding, as an applied of plant genetics, is based and is supported by various subdisciplines of genetic sciences, includeing plant germplasm, classical genetics, molecular genetics, cytogenetics, gene-transformation techniques, etc. Linkage and team work system between plant germplasm management and plant breeding program is most required, since the success of plant breeding maybe obtained from the contribution of gene donor parents, derived from the germplasm management. Without the flow of genes from the germplasm collection, varieties produced by the plant breeder would suffer a narrow genetical based or a bottle-necking genetic based. Plant germplasm research is an integral part of the germplasm management, aimed to (1) evaluate the genetic variation of the germplasm collection, to be readily available for the breeding program and to be used for scientific publications, (2) tracing the origin of plant species, and (3) officially release a selected germplasm, containing new economic gene (s). The linkage between germplasm management and plant breeding research program could be facilitated through the following activities (1) identifying an elit germplasm for varietal release, (2) selection and stabilization of a promising germplasm accession for possible varietal releases, (3) use of germplasm accession as a gene donor parent to incorporate adaptive genes into improved variety, (4) use of germplasm accession for a specific donor gene, (5) use of germplasm to broaden the genetical base of varieties through an introgression and nobilization, (6) use of germplasm to improve the genetic value of the breeding population, and (7) to develop multiple crossess involving many parents to broaden the genetical base of the breeding population. Another important function of the germplasm management is to conserve accessions carrying genes which may be useful in the future, to anticipate the dynamic changing of biological and environmental stresses on crop. Germplasm management is considered successfully conducted when it is continously supplying donor gene parents to breeders for parental crosses on their breeding program, conversely, breeding program in considered successfully managed, when it uses the rich genetic variability available on the germplasm collection. Separating the organizational units among the breeding program, germplasm management and molecular genetic research, is only for enhancing the intensity of the research, but should not separate the linkage program of the research. AbstrakPemuliaan tanaman merupakan ilmu genetika terapan yang didukung oleh berbagai cabang ilmu kegenetikaan, termasuk plasma nutfah, genetika klasik, genetika molekuler, sitogenetika, dan genetika transformasi. Keterpaduan antara pengelolaan plasma nutfah dengan pemuliaan tanaman tidak dapat ditawar, karena keberhasilan pemuliaan sangat tergantung dari ketersediaan sumber gen yang disediakan oleh pengelola plasma nutfah. Tanpa kontribusi sumber gen dari pengelola plasma nutfah, hasil pemuliaan tanaman mengalami penyempitan kandungan genetik, atau terjadi gejala leher botol genetik. Penelitian plasma nutfah merupakan bagian integral dari pengelolaan materi plasma nutfah, bertujuan untuk (1) menggali kekayaan sifat genetik plasma nutfah guna penyediaan tetua persilangan dan bahan publikasi ilmiah, (2) menelusuri asal-usul spesies tanaman, (3) melepas secara resmi plasma nutfah sebagai sumber gen yang diakui kepemilikannya. Keterkaitan pengelolaan plasma nutfah dengan program pemuliaan dapat dilaksanakan melalui (1) pemanfaatan langsung aksesi plasma nutfah elit untuk dilepas sebagai varietas unggul, (2) pemurnian dan pemantapan populasi aksesi plasma nutfah sebagai calon varietas, (3) pemanfaatan aksesi plasma nutfah sebagai donor gen untuk rekombinasi gen-gen unggul adaptif, (4) plasma nutfah sebagai donor gen spesifik, (5) plasma nutfah sebagai bahan perluasan latar belakang genetik varietas melalui proses introgresi dan nobilisasi, (6) pemanfaatan plasma nutfah untuk perbaikan genetik populasi seleksi, dan (7) pembentukan populasi dasar yang mengandung keragaman genetik luas melalui persilangan banyak tetua. Fungsi pengelolaan plasma nutfah lainnya adalah melestarikan sumber daya genetik untuk kebutuhan gen di masa depan, agar dapat menyediakan gen-gen untuk mengantisipasi perubahan ras patogen dan tipe baru serangga hama yang bersifat dinamis, serta penyediaan gen guna mengatasi cekaman abiotik alamiah. Pengelolaan plasma nutfah dinilai berhasil apabila telah mampu menyediakan aksesi plasma nutfah sebagai sumber gen donor dalam program pemuliaan. Pemuliaan tanaman berhasil secara optimal apabila telah memanfaatkan keragaman genetik sifat yang diinginkan, yang tersedia dalam koleksi plasma nutfah. Keterpisahan kelembagaan antara unit kerja pengelolaan plasma nutfah dengan program pemuliaan tidak boleh membatasi keterpaduan program penelitian antara kedua cabang disiplin keilmuan tersebut.
Evaluasi Pertumbuhan dan Hasil Plasma Nutfah Sorgum (Sorghum vulgare (L.) Moench.) dari Tanaman Induk dan Ratoon Mamik Setyowati; nFN Hadiatmi; nFN Sutoro
Buletin Plasma Nutfah Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v11n2.2005.p41-48

Abstract

Sorghum had been cultivated by farmers in certain area for a long time. It is used for food or feed and its production was relatively low. Germplasm collection have to be evaluated to obtain certain character which were important to plant breeding. The purpose of this study was to evaluate ratooning ability of sorghum. Research was conducted in Cikeumeuh Experiment Station, Bogor from April-December 1999 using randomized complete block design. There were three type of maturity were studied (21 accessions, 44 accessions and 35 accessions for short, medium and long maturity, respectively). Result showed that main crop was better than ratoon crops. Grain yield of accession No. 15/226 classified as short maturity in ratoon crop, was better than main crop, but total grain yield (main and ratoon crop) was not significantly different compare to Keris M3 and ICSV 93003. AbstrakTanaman sorgum telah lama dibudidayakan petani di daerah tertentu. Sorgum dapat digunakan sebagai pangan atau pakan dan umumnya memiliki produksi relatif rendah. Koleksi plasma nutfah perlu dievaluasi untuk mendapatkan karakter tertentu yang penting untuk pemuliaan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kemampuan ratoon dari plasma nutfah sorgum. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Percobaan Cikeumeuh Bogor yang berlangsung pada April- Desember 1999 dengan menggunakan rancangan acak kelompok. Umur masak tanaman sorgum yang dipelajari terdiri dari 3 kelompok umur panen (21 aksesi umur pendek, 44 aksesi umur sedang, dan 35 aksesi umur panjang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman utama lebih baik daripada tanaman ratoon. Bobot biji aksesi No. 15/226 lebih baik daripada tanaman utama, tetapi total bobot biji tanaman utama dan ratoon tidak berbeda nyata apabila dibandingkan dengan aksesi Keris-M3 dan ICSV 93003.
Ketersediaan Tumbuhan Pakan dan Daya Dukung Habitat Rusa timorensis de Blainville, 1822 di Kawasan Hutan Penelitian Dramaga Rozza T. Kwatrina; Mariana Takandjandji; M. Bismark
Buletin Plasma Nutfah Vol 17, No 2 (2011): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v17n2.2011.p129-137

Abstract

Feed Plant Availability and Carrying Capacity of Rusa timorensis deBlainville, 1822 at Dramaga Research Forest Area. The research was conducted to know potenstial feed plant availability and carrying capacity at Dramaga Research Forest Area. Data was collected by measuring feed plant productivity of 45 plots with size 1 m x 1 m, and consumption level of four rusa deer (Rusa timorensis de Blainville, 1822). The result showed that the highest feed plant productivity was 17,362.09 kg/ha/year, and the lowest was 502.22 kg/ha/year. Light intensity correlation (y. lux) with dry weight production in 20 days (x. kg/ha), is y = 4.64 x -15.46 (r = 0.95). Feed plant availability was 121,607.01 kg/year, while consupmtion level based on fresh weight was 6,4 kg/individual/day or 2,336 kg/individual/year. Carrying capacity on observation area (11.9 ha) was 52 individual/year or 3.13 individual/ha/year. AbstrakPenelitian bertujuan untuk mengetahui ketersediaan hijauan pakan potensial serta daya dukung kawasan Hutan Penelitian Dramaga sebagai sumber pakan rusa timor (Rusa timorensis de Blainville, 1822) di penangkaran. Pengukuran produktivitas hijauan pakan dilakukan dalam 45 plot contoh berukuran 1 m x 1 m, serta pengamatan tingkat konsumsi pakan terhadap empat individu rusa timor (R. timorensis) yang mewakili jantan, betina, kelas umur anak dan dewasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas bobot basah hijauan pakan rusa timor (R. timorensis) di Hutan Penelitian Dramaga tertinggi adalah 17.362,09 kg/ha/tahun dan yang terendah sebesar 502,22 kg/ ha/tahun. Korelasi produktivitas hijauan dengan intensitas cahaya (y, lux) dengan produktivitas bobot kering dalam 20 hari (x, kg/ha) adalah y = 4,64 x -15,46 (r = 0,95). Ketersediaan pakan rata-rata pada Hutan Penelitian Dramaga sebesar 121.607,01 kg/tahun sedangkan tingkat konsumsi pakan rusa timor (R. timorensis) berdasarkan bobot basah pakan adalah 6,4 kg/individu/hari atau 2.336 kg/individu/tahun. Pada areal yang diamati seluas 11,9 ha maka daya dukung habitat adalah 52 individu/tahun atau rata-rata sebesar 3,13 individu/ha/tahun.
Potensi Jenis Dipterocarpus retusus Blume di Kawasan Hutan Situ Gunung Sukabumi Titi Kalima; Marfu'ah Wardani
Buletin Plasma Nutfah Vol 19, No 2 (2013): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v19n2.2013.p102-110

Abstract

Potential of Dipterocarpus retusus Blume Species in Situ Gunung Forest, Sukabumi. Titi Kalima and Marfu'ah Wardani. Analysis of the potential of Dipterocarpus retusus Blume species in Situ Gunung forest, Sukabumi, West Java, carried out in 2010 in a village location Kadudampit, Kadudampit districts, with the goal of uncovering potential and habitat conditions D. retusus in Situ Gunung forest. Data collection using the Systematic Sampling Strip with units such examples observation of 50 m x 20 m. The results showed that D. retusus recorded five induvidu stems of tree, the saplings (four individu) and seedlings (11 individu) at an altitude of 864-865 m above sea level, slope of 45%, and the soil pH from 6.0 to 6.9. The potential of D. retusus diameter rods >10 cm are 50 stems per ha with 35,061 volume m3/ha. The level distribution D. retusus low, grow clustered and sparse. Abundance values for trees 2.50 stems/ha, 2.00 stems/ha for sapling and 2.20 seedling/ha. AbstrakAnalisis potensi jenis Dipterocarpus retusus Blume di kawasan hutan Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat dilakukan pada tahun 2010 di lokasi Desa Kadudampit, Kecamatan Kadudampit, dengan tujuan mengungkap potensi dan kondisi habitat D. retusus di kawasan hutan Situ Gunung. Pengumpulan data dengan menggunakan metode Systematic Strip Sampling dengan unit contoh berupa jalur pengamatan 50 m dan lebar 20 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa D. retusus tercatat lima induvidu batang tingkat pohon, tingkat pancang empat batang, dan semai diperoleh 11 batang pada ketinggian 864- 865 m dpl, kemiringan 45%, dan pada pH tanah 6,0-6,9. Potensi D. retusus berdiameter batang >10 cm adalah 50 batang/ha dengan volume pohon sebesar 35,061 m3/ha. Tingkat persebaran D. retusus rendah, tumbuh mengelompok dan jarang. Nilai kelimpahan untuk pohon 2,50 batang/ha, pancang 2,00 batang/ha, dan semai 2,20 batang/ha. 
Characterization of 56 Soybean Accessions on Yield Components and Maturity-related Traits I Made Tasma; Puji Lestari; Reflinur Reflinur
Buletin Plasma Nutfah Vol 21, No 1 (2015): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v21n1.2015.p25-38

Abstract

Peningkatan produktivitas kedelai nasional dapat dilakukan dengan penggunaan varietas produktivitas tinggi dan manipulasi indeks panen menggunakan varietas genjah. Pembentukan varietas di atas memerlukan plasma nutfah dengan potensi hasil tinggi dan berumur genjah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi aksesi kedelai yang mempunyai potensi hasil tinggi dan aksesi kedelai berumur genjah. Sebanyak 56 aksesi kedelai terdiri atas varietas elit dan introduksi, aksesi lokal dan galur-galur persilangan ditanam di Kebun Percobaan Cikeumeuh (250 m dpl) dan Pacet (1.200 m dpl) menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologi, komponen hasil dan karakter reproduktif yang meliputi umur berbunga (fase R1, R3, R7, dan R8). Hasil penelitian menunjukkan 28 aksesi (50%) diuji di Cikeumeuh dan 43 aksesi (76,79%) diuji di Pacet menunjukkan jumlah polong/tanaman lebih dari 50. Sekitar 35,71% aksesi di Cikeumeuh dan 41,07% aksesi di Pacet menghasilkan biji/tanaman lebih dari 10 g/tanaman. Aksesi kedelai yang menunjukkan komponen hasil tinggi hanya di KP Cikeumeuh adalah B2981, B3517, dan B3628. Aksesi kedelai yang menunjukkan komponen hasil tinggi hanya di KP Pacet adalah B4441, B3628, B382, B4334, dan B3414. Aksesi yang menunjukkan komponen hasil tinggi di kedua lokasi (Cikeumeuh dan Pacet) adalah B3417. Aksesi B3417 diklasifikasikan sebagai aksesi dengan adaptasi luas karena berkeragaan komponen hasil tinggi di dataran rendah dan di dataran tinggi. Aksesi dengan umur panen genjah ditunjukkan oleh B2973 (74 hari setelah tanam, hst) yang tidak berbeda nyata dengan aksesi B1430 (75 hst), B3611 (76 hst), B4433 (77 hst), dan B4439 (80 hst) berdasarkan uji DMRT (p<0,05). Berdasarkan karakter morfologi, sebagian besar plasma nutfah kedelai terbagi dalam tiga kelompok termasuk landraces tanpa mempertimbangkan asal daerahnya. Analisis klaster berdasarkan karakter agronomi mendukung analisis DMRT bahwa aksesi kedelai dengan hasil biji tinggi dan umur genjah dapat dibedakan. Aksesi kedelai dengan jumlah polong banyak, hasil biji tinggi, umur genjah potensial digunakan dalam program pemuliaan kedelai produktivitas tinggi dengan umur genjah. AbstrakOne effort to improve soybean production in Indonesia is by using high yielding and manipulating harvest index by using early maturing varieties. Such variety development requires the availability of soybean germplasm with high yield potential and early maturity. The objective of this study was to identify soybean genotypes showing high yield potential and early maturity. A total of 56 soybean accessions consisting of elite and introducing varieties, landraces, and breeding lines were characterized in the field with different altitudes i.e. Cikeumeuh (250 m above sea level) and Pacet (1.200 m asl). The experiments were arranged in a randomized block design using three replications. Characters observed were morphological chracters, yield components and maturity-related traits (days to R1, R3, R7, and R8). Results showed that 28 accessions (50%) tested at Cikeumeuh and 43 accessions (76.79%) tested at Pacet demonstrated pod number/plant more than 50. About 35.71% at Cikeumeuh and 41.07% at Pacet showed seed yield more than 10 g/plant. Soybean accessions demonstrating high yield components only at Cikeumeuh were B2981, B3517, and B3628. Soybean accessions demonstrating high yield components only at Pacet were B4441, B3628, B382, B4334, and B3414. The accession demonstrating high yield component performance at both locations (Cikeumeuh and Pacet) was shown by B3417. Accession B3417 is then classified as a broad adaptating soybean genotype. The early pod maturing accession was demonstrated by B2973 (74 dap) that was not significantly different from accessions B1430 (75 dap), B3611 (76 dap), B4433 (77 dap), and B4439 (80 dap) based on DMRT at p = 0.05. Three distinct clades were generated based on morpho-agronomical variables on both locations (Cikeumeuh dan Pacet). Cluster analysis of agronomical characters was able to distinguish accessions with high yield components in either one or both locations (B3417, B3628, and B2981), and accessions with early maturiy and least pod number (B4439 and B4433). Cluster analysis results were in well-agreement with the results based on DMRT. Soybean accessions having high pod number, high seed yield and early in maturity are potentially used for developing high yielding soybean varieties with early in maturity.
Daya Cerna Jagung dan Rumput sebagai Pakan Rusa (Cervus Timorensis) R. Garsetiasih
Buletin Plasma Nutfah Vol 13, No 2 (2007)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v13n2.2007.p88-92

Abstract

The experiment was done on two couples of deer to determine digestilibities and consumption of grass and corn. Each heads of deers of 12-14 months, each couple was managed on difference model of stable (mini ranch and traditional stable) the grass was kept available to deers during the periods of observation and corn was given every two days (250 g). Description analysis and Tillman et al. formula (1984) were implemented to know the level of consumption and digestibility of feed on difference model of stable. Quantitativelly, the deers on the mini ranch were the best; the digestilibities of its constituents were 58.4% crude fibre; 58.9% organic matter and 47.7% dry matter, digestilibities on the tradisional stable were 49.2% crude fibre; 52.2% organic matter and 50.7% dry matter. Feed consumption of the deers on the mini ranch and traditional stable were 1.570 kg and 1.440 kg. AbstrakPenelitian dilakukan terhadap dua pasang rusa untuk mengetahui daya cerna dan konsumsi ransum berupa rumput dan jagung. Umur rusa berkisar antara 12-14 bulan, setiap pasang rusa dipelihara dalam kandang yang berbeda, yaitu kandang tradisional (model panggung) dan kandang terbuka (mini ranch). Jenis pakan yang diberikan adalah rumput lapangan yang diberikan secara adlibitum dan jagung diberikan setiap 2 hari sekali, setiap pemberian sebanyak 250 g. Untuk mengetahui konsumsi dan daya cerna pakan oleh rusa di kandang yang berbeda dilakukan analisis secara deskriptif dan perhitungan dengan rumus Tillman et al. (1984). Dari hasil pengamatan diketahui daya cerna ransum pada kandang terbuka, yaitu bahan organik (58,9%), serat kasar (58,4%), dan bahan kering (47,7%). Daya cerna ransum pada rusa dengan model kandang panggung adalah serat kasar (49,20%), bahan organik (52,24%), dan bahan kering (50,7%). Konsumsi bahan kering ransum pada rusa dengan kandang model terbuka dan kandang model panggung masing-masing sebesar 1.570 kg dan 1.440 kg.
Stabilitas dan Adaptabilitas Varietas Padi Merah Lokal Daerah Istimewa Yogyakarta nFN Kristamtini
Buletin Plasma Nutfah Vol 16, No 2 (2010): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v16n2.2010.p103-106

Abstract

Stability and Adaptability of Local Varieties of Red Rice in Daerah Istimewa Yogyakarta. The objective of this research were to asses the yield performance, stability and adaptability of three genetic resources of local red rice in Yogyakarta Special Region. A randomized Block Design with three repicates was applied in all location. Three varieties were used i.e. Cempo merah, Saodah merah and Andel merah and were planted with changed plant system. Fertilizers were applied at rate 200 kg/ha urea, 50 kg/ha TSP and 25 kg/ha KCl. Yield stability was analyzed using the method of Eberhart and Russel (1966). The result indicated that the genetic resources test had different genetic potential. The yield of tested variety from 4.75-5.55 t/ha with an average of 5.08 t/ha. The variety of Cempo merah and Andel merah were under the average of yield stability and were only adapted to optimal growing environments. The stability of Saodah merah was higher than stability of average yield and was also well adapted to sub optimal environments. AbstrakTujuan penelitian ialah menilai daya hasil, stabilitas, dan adaptabilitas tiga varietas padi merah lokal Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Sleman dan Bantul. Rancangan percobaan di setiap lokasi ialah acak kelompok dengan tiga ulangan. Tiga varietas yang diuji ialah Cempo merah, Saodah Merah, dan Andel Merah, ditanam dengan sistem tanam pindah. Pemupukan dengan 200 kg/ha urea, 50 kg/ha TSP, dan 25 kg/ha KCl. Stabilitas hasil dianalisis dengan metode Eberhart dan Russe (1966). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan potensi genetik dari sumber daya genetik yang diuji. Kisaran hasil dari ketiga varietas padi merah lokal yang diuji antara 4,75-5,55 t/ha dengan rata-rata 5,08 t/ha. Varietas padi merah Cempo Merah dan Andel Merah memiliki stabilitas di bawah rata-rata, dan berpeluang adaptif di lingkungan optimal, sedangkan varietas Saodah Merah memiliki stabilitas di atas rata-rata dan beradaptasi pada lingkungan kurang optimal.
Identifikasi Sumber Ketahanan Aksesi Plasma Nutfah Kedelai untuk Ulat Grayak Spodoptera litura F. Suharsono Suharsono; M. Muchlish Adie
Buletin Plasma Nutfah Vol 16, No 1 (2010): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v16n1.2010.p29-37

Abstract

The importantaspect of development of resistant plant to insect pest is sourceof resistance. Study the resistance of 14 advance soybeanbreeding lines to common cutworm Spodoptera litura F. wasconducted at the Laboratory of Crop Protection, IndonesianLegumes and Tuber Crops Research Institute (ILETRI)Malang in February-September, 2006. Leaf damage and larvaldevelopment on resistant genotypes was recorded to measurethe level of resistance. It was found that the susceptibility ofsoybeans to the common cutworm significantly varied amongthe breeding lines. The leaf damage of IAC-100, IAC 80-596-2, and W/80-2-4-20 from larval feeding were 17.67, 18.52, and23.70% respectively lower than Wilis variety with 35.57% ofleaf damage. These breeding lines consistently possess samelevel of resistance to S. litura. In addition, the resistantbreeding lines affect on biological aspects i.e. prolongedduration of larval stage, reduced larval and pupae gain weight,and cause significant larval mortality compared with Wilisvariety. The study suggested that IAC-100, IAC 80-596-2, andW/80-2-4-20 could be used as a source of resistance for S.litura in breeding program.

Page 8 of 30 | Total Record : 296