cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2016): April 2016" : 5 Documents clear
Pengaruh PGPR terhadap Penekanan Populasi Nematoda Puru Akar (Meloidogyne incognita (Kofoid and White) Chitwood) pada Tanaman Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Kristiana Sri Wijayanti; Bambang Tri Rahardjo; Toto Himawan
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v8n1.2016.30-39

Abstract

Tanaman kenaf yang terinfeksi nematoda Meloidogyne incognita  dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan produksi serat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dalam menekan populasi nematoda M. incognita pada tanaman kenaf di rumah kaca. Penelitian dirancang dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, faktor pertama adalah cara aplikasi PGPR yang terdiri atas 2 cara yaitu suspensi PGPR diberikan sebelum tanam dengan merendam benih selama 5 jam (C1), benih ditanam langsung dalam pot tanpa direndam dalam PGPR (C2), dan suspensi PGPR diberikan pada 15 hari setelah tanam (HST) dan 25 HST. Faktor kedua adalah jenis PGPR yang digunakan yaitu Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, Azotobacter sp., P. fluorescens + B. subtilis, P. fluorescens + Azotobacter sp., B. subtilis + Azotobacter sp., dan P. fluorescens + B. subtilis + Azotobacter sp., serta kontrol (tanpa PGPR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman benih dengan kombinasi tiga bakteri memberikan pengaruh yang nyata terhadap populasi juvenil nematoda dalam tanah, sedangkan perlakuan tanpa perendaman tidak memberikan pengaruh. Populasi juvenil nematoda di dalam akar yang diberi PGPR baik tunggal maupun kombinasi melalui perendaman benih atau tanpa perendaman benih tidak berpengaruh, kecuali pada kombinasi P. fluorescens dan B. subtilis yang diberikan melalui perendaman benih mampu menekan populasi juvenil nematoda di akar 43,28% bila dibandingkan tanpa perendaman benih. Pemberian rizobakteri P. fluorescens  menurunkan jumlah telur nematoda terbanyak (86,39%) dan menekan intensitas penyakit sebesar 71,95% bila dibandingkan kontrol.Infection of Meloidogyne incognita on kenaf could affect its growth and the production of fiber. This study aimed to evaluate the effect of PGPR on the reduction of nematode M. incognita population on kenaf in the greenhouse. The factorial experiment was laid on randomized block design. The study consisted of two factors with three replicates . The first factor was method of PGPR application, ie: PGPR suspension was given before planting (kenaf seeds was soaked for 5 hours) (C1) and the seeds directly planted without submerged (C2), PGPR suspension was given at 15 days after planting (DAP) and 25 dap. The second factor was type of bacteria (Pseudomonas  fluorescens,  Bacillus  subtilis,  Azotobacter  sp.,  P.  fluorescens + B. subtilis, P. fluorescens + Azotobacter  sp., B. subtilis + Azotobacter  sp.,  and  P.  fluorescens  +  B. subtilis   + Azotobacter  sp.) and control. The results showed that submerged seed with the three bacterial rhizobacteria significant compared to the control treatment and single treatment and two combination rhizobacteria, while without submerged seed with single or combination rhizobacteria not significant on the population of juvenile nematodes in the soil. Combination of P. fluorescens and B. subtiliswith submerged seed capable of suppressing the population of  juvenile  nematodes  in the  roots  of 43.28%  when  compared with or without submerged seed.   Population  of  juvenile  nematodes  in the  roots by submerged seed and without submerged seed either single or combination rhizobacteria do not affect each other. P. fluorescens suppress nematode eggs are highest 86.39% and disease intensity by 71,95% where compared to control.
Factors Influencing Net Return of Transgenic Cotton Worldwide Over Time Julian Witjaksono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v8n1.2016.21-29

Abstract

Meta data tentang manfaat ekonomi dari kapas transgenik yang bersumber dari hasil-hasil penelitian lebih dari satu dekade di empat negara, yaitu Amerika, Australia, China, dan India dapat dianalisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kapas transgenik dari sudut pandang nilai ekonomi atau keuntungan usaha tani petani kapas dengan menggunakan data global dari lebih dari satu dekade hasil percobaan dan survei la-pangan. Indikator ekonomi yang dilihat meliputi hasil panen, biaya benih, biaya pestisida, biaya manajemen dan tenaga kerja, serta keuntungan usaha tani sebagai parameter yang dianalisis. Data dari indikator yang dikumpulkan merupakan meta data dari penelusuran literatur yang terkait dengan tujuan penelitian ini dan dilakukan analisis regresi untuk mengetahui dan memperkirakan hubungan antara variabel respon dan varia-bel penjelas pada parameter ini. Hasil penelitian menggunakan pendekatan analisis regresi menunjukkan bahwa variabel produksi adalah faktor utama yang mempengaruhi keuntungan usaha tani kapas transgenik. Dengan demikian, kapas transgenik merupakan teknologi yang dapat meningkatkan hasil dan sebagai faktor utama yang mempengaruhi tingkat keuntungan usaha tani. Teknologi kapas transgenik Bt dapat dimanfaat-kan oleh petani miskin sumber daya di negara-negara berkembang dalam upaya meningkatkan pendapatan mereka. Pemanfaatan kapas transgenik di Indonesia harus mempertimbangkan kondisi agroekosistem dan sosial ekonomi, serta dukungan kebijakan agar teknologi ini dapat bermanfaat bagi petani. Oleh karena itu, masih perlu dilakukan penelitian dan kajian lebih lanjut dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.The evidence of metadata based on the economic benefits using genetically modified (GM) cotton with different patterns across space and time could be analysed. To this end, investigation on the effects of GM cotton using global data from more than one decade of field trials and surveys were done. More specifically, the effects of GM cotton on crop yields, seed costs, pesticide costs, management and labor costs, and net return were analyzed. Based on the literature searched, regression analysis was conducted to investigate and estimate the relationship between response variables and explanatory variables on these parameters. The results using a regression analysis approach indicated that yield gain was the high expectation of cotton growers to optimize net returns. Put in another way, yield gain is the main factor influencing net return. As such, this study concludes that GM cotton is the technology which can lead to yield increases and capture higher net return. More so, lessons from this study may contribute to the assessment of this technology especially for the poor-resource farmers in the developing countries. The application of this technology in Indonesia has to consider the agroecosystem and socioeconomic condition, as well as support from the government policy. Indeed, research and assessment in deep analysis should be done with the consideration of the factors above before implementing this technology.
DAYA HASIL 25 AKSESI ROSELA HERBAL DI LAHAN KERING Untung Setya Budi; Marjani Marjani; Mala Murianingrum
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v8n1.2016.1-9

Abstract

Untuk mendukung pengembangan suatu komoditas, diperlukan varietas-varietas unggul berdaya hasil tinggi. Kegiatan penelitian uji daya hasil aksesi-aksesi plasma nutfah rosela herbal telah dilakukan di Muktiharjo, Kabupaten Pati mulai bulan Januari–Juni 2011. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan beberapa aksesi unggul yang berpotensi tinggi di lahan kering. Sebanyak 25 aksesi plasma nutfah diuji daya hasilnya dengan rancangan acak kelompok (RAK) diulang dua kali. Benih ditanam dengan jarak tanam 100 cm x 50 cm pada plot berukuran 10 m x 5 m. Pemupukan dan pemeliharaan lainnya sesuai dengan standar budi daya untuk tanaman rosela herbal. Parameter pengamatan terdiri atas: jumlah kapsul per tanaman, bobot 100 kelopak kering, produksi kapsul segar, produksi kelopak segar, dan produksi kelopak kering per hektar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas tertinggi dicapai oleh delapan aksesi yaitu 677, 675, 679, 681, 682, 684, 689, dan 671, dengan produksi kelopak kering masing-masing sebesar: 676,0; 605,5; 540,0; 463,5; 427,5; 385,5; 420,0; dan 414,0 kg/ha. Ada korelasi positif yang sangat nyata pada karakter jumlah kapsul per tanaman dengan produksi kapsul per hektar, produksi kelopak segar per hektar dan produksi kelopak kering per hektar dengan nilai korelasi masing-masing sebesar 0,725; 0,617; dan 0,584. Korelasi yang sangat nyata juga terdapat pada karakter produksi kapsul dengan produksi kelopak segar dan kelopak kering, karakter produksi kelopak segar dengan produksi kelopak kering per ha, serta bobot 100 kelopak kering dengan produksi kelopak kering per ha dengan nilai korelasi masing-masing: 0,978; 0,907; 0,939; dan 0,502.To support herbal roselle development in the future, the availability of new high-yield varieties were required. Screening of 25 herbal roselle accessions have been carried out on dry land Muktiharjo, Pati District started in January–June 2011. The purpose of this study was to obtain some superior high-potential accessions suitable for dry land. The screening used a randomized block design (RBD) with two replicates. Seeds were planted with a spacing of 100 cm x 50 cm on a plot measuring 10 m x 5 m. Fertilizing and other maintenance in accordance with the standards for the cultivation of herbal roselle plant. Parameter observed consist of number of capsules per plant, weight of 100 dry petals, fresh capsule production, fresh petals production, and dried petals production per hectare. The results showed that eight accessions consistently showed productivity of dried roselle calyx higher than two varieties used as a control. Those accessions were no: 677, 679, 675, 681, 682, 684, 689, and 671, with the production of dried petals ranged between 385–676 kg/ha. There is a positive correlation between the number of capsules per plant with a production of capsules per hectare, production per hectare of fresh petals and dried petals, production per hectare with a correlation value 0.725, 0.617, and 0.584, respectively. A significant correlation was also found in the character of capsule production with the production of fresh petals and dried petals, the fresh petals production with the production of dried petals per hectare, and weights of 100 petals dried with dried petals production per hectare by correlation values: 0.978, 0.907, 0.939, and 0.502, respectively
Pengujian Tiga Paket Teknologi Budi Daya Jarak Pagar di Lahan Kering Prima Diarini Riajaya; Sri Mulyaningsih; Budi Hariyono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v8n1.2016.40-54

Abstract

Pengujian teknologi budi daya jarak pagar yang tepat sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas biji jarak pagar hasil rehabilitasi. Penelitian dilaksanakan tiga tahun (2012–2014) di Kebun Percobaan Asembagus, Situbondo dengan karakter lahan kering, bertujuan untuk menguji tiga paket teknologi budi daya jarak pagar yang dapat meningkatkan produksi biji jarak pagar.  Pengujian paket teknologi dilakukan pada sistem tanam baru IP-3A pada populasi rapat, pertanaman hasil rehabilitasi dengan sambung samping IP-3A dan pangkas IP-3A.  Tanaman sela kacang tanah ditanam di antara tanaman jarak pagar. Komponen produksi dan produksi biji jarak pagar diamati saat panen dan diakumulasi per tahun. Pengujian paket teknologi budi daya tanaman jarak pagar pada sistem tanam baru menghasilkan produktivitas biji yang meningkat dari tahun pertama sampai tahun ketiga masing-masing 253,6 kg/ha; 1.277,2 kg/ha; dan 1.640,3 kg/ha. Pengujian paket teknologi budi daya jarak pagar hasil rehabilitasi dengan sistem sambung samping menghasilkan produktivitas biji dari tahun pertama sampai tahun ketiga berturut-turut 436,0 kg/ha, 3.434,5 kg/ha, dan 1.409,1 kg/ha dan produktivitas tanaman sela kacang tanah berturut-turut 960,0 kg/ha, 913,6 kg/ha, dan 1.233,3 kg/ha polong kering. Pengujian paket teknologi budi daya jarak pagar hasil rehabilitasi dengan pangkas menghasilkan produktivitas biji dari tahun pertama sampai tahun ketiga berturut-turut 529,8 kg/ha; 2.460,2 kg/ha; dan 1.567,3 kg/ha dan produktivitas tanaman sela kacang tanah berturut-turut 856,5 kg/ha; 300,46 kg/ha; dan 533,30 kg/ha polong kering.  Teknologi budi daya tanaman jarak pagar yang diterapkan disesuaikan dengan kondisi tanaman yang ada. Penggunaan varietas yang dianjurkan yang sesuai dengan agroekosistemnya sangat dianjurkan melalui penanaman tanaman baru atau sambung samping. Tanaman yang telah meng-gunakan varietas baru dan telah melewati umur produktif (tiga tahun) dapat dilakukan pangkas bawah. Development of physic nut as an alternative energy source requires an optimized cultivation technology support. The field research was done in three consecutive years (2012–2014) in Asembagus Experimental Station, Situbondo to test physic nut cultivation technologies to improve  productivity. Testing the cultivation technology package was performed on the new planted physic nut IP-3A, crop rejuvenation by grafting with entresIP-3A and pruning the IP-3A clone.  Groundnut was planted as intercrop with physic nut, and after groundnut has been harvested, Crotalaria juncea was planted and harvested at the age of 45 days then mulched between physic nut plants.  Yield components and yields of physic nut were recorded andaccumu-lated within a year. The application of cultivation technologies on new plating system resulted in agradually increase in seed yield from the first year to the third year consecutively, 253.6 kg/ha, 1,277.2 kg/ha, and 1,640.3 kg/ha. Physic nut IP-3A rejuvenated with grafting produced seeds 436.0 kg/ha at the first year, 3,434.5 kg/ha at the second year, and 1,409.1 kg/ha at the third year, and groundnut yields from first tothird year were 960.0 kg/ha, 913.6 kg/ha, and 1,233.3 kg/ha dry pods respectively. Physic nut IP-3A rejuvenated with pruning system produced seeds 529.8 kg/ha at the first year, 2,460.2 kg/ha at the second year, and 1,567.3 kg/ha at the third year and groundnut yields from first tothirdyear were 856.5 kg/ha, 300.46 kg/ha, and 533.30 kg/ha dry pods consecutively. Thus physic nut cultivation technologies are applied according to the conditions of existing plants. The use of recommended varieties best fit to agro-ecosystem is highly recommended by planting new plants or grafting. It is ideal to take up pruning activities when the plant is no longer productive.
Pengaruh Pemupukan N dan K Terhadap Produksi dan Mutu Dua Varietas Baru Tembakau Madura Mochammad Sholeh; Fatkhur Rochman; Djajadi Djajadi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v8n1.2016.10-20

Abstract

Dua varietas baru tembakau madura yang memiliki daun 3–5 lembar lebih banyak dibanding varietas praktik Prancak-95, Prancak N-1, dan Prancak N-2, telah diperoleh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi beberapa dosis N dan K terhadap produksi dan mutu dua varietas baru tembakau madura.  Penelitian dilaksanakan di Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan mulai bulan Januari hingga Desember 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terbagi dan diulang 3 kali. Perlakuan petak utama adalah 2 varietas tembakau madura: Prancak S1 Agribun dan Prancak T1 Agribun. Sebagai anak petak adalah 9 kombinasi jenis dan dosis pupuk N dan K: 1) 40 kg N + 25 kg K2O, 2) 50 kg N + 25 kg K2O, 3) 60 kg N + 25 kg K2O, 4) 40 kg N + 50 kg K2O, 5) 50 kg N + 50 kg K2O, 6) 60 kg N + 50 kg K2O, 7) 40 kg N + 75 kg K2O, 8) 50 kg N + 75 kg K2O, dan 9) 60 kg N + 75 kg K2O/ha. Pupuk SP-36 sebanyak 36 kg P2O5/ha dan pupuk kandang 5 ton/ha diberikan 3 hari sebelum tanam sebagai pupuk dasar. Pupuk N bersumber dari pupuk ZA dan K dari ZK masing-masing 1/3 dosis diberikan pada 10 hari setelah tanam (HST), sedangkan sisa pupuk ZA dan ZK masing-masing 2/3 dosis diaplikasikan pada 21 HST. Pengamatan meliputi pertumbuhan, hasil dan mutu tembakau, rendemen, indeks mutu dan indeks tanaman, serta analisa kadar nikotin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh faktor dua varietas tembakau madura Prancak S1 Agribun dan Prancak T1 Agribun yang diuji relatif sama terhadap pertumbuhan, hasil, dan mutu. Hasil uji kontras menunjukkan bahwa peningkatan dosis pupuk N tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan, hasil, dan mutu. Namun peningkatan dosis pupuk K berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan, hasil, dan mutu pada dosis pemupukan N tertentu. Kombinasi pupuk N dan K yang diuji berbeda nyata terhadap parameter panjang dan lebar daun, hasil rajangan kering, rendemen, dan indeks tanaman. Berdasarkan nilai indeks tanaman dan keuntungan tertinggi, bahwa rekomendasi pemupukan untuk varietas tembakau madura Prancak S1 Agribun dan Prancak T1 Agribun adalah 50 kg N + 36 kg P2O5 + 75 kg K2O + 5 ton pupuk kandang/ha.Two varieties of madura tobacco which bears3–5 leaves, more than Prancak-95, Prancak N-1, and Prancak N-2 varieties, had been acquired. This study was aimed to obtain an optimal dose of N and K corresponding to those varieties.  Research was conducted at BajangVillage, PakongDistrict, Pamekasan on January to December 2013. The treatments were arranged in split plots design with varieties were as the main plots and N and K dose rates were a ssubplotwith 3 replicates. The varieties were: PrancakS1 Agribun andPrancakT1 Agribun. The subplots were 9 combinations of type and dose of N and K fertilizers: 1) 40 kg N + 25 kg K2O, 2) 50 kg N + 25 kg K2O, 3) 60 kg N + 25 kg K2O, 4) 40 kg N + 50 kg K2O, 5) 50 kg N + 50 kg K2O, 6) 60 kg N + 50 kg K2O, 7) 40 kg N + 75 kg K2O, 8) 50 kg N + 75 kg K2O, and 9) 60 kg N + 75 kg K2O/ha.Thirty six kg P2O5/ha and 5 tons manure/ha were addedat3 days before transplanting as a basic fertilizers. N was sourced from ZA and K of ZK, one third dose of N and K were added at 10 days after planting (DAP) and the rest of N and K dose were applied at 21 DAP. Observations included growth, yield, and quality of tobacco, rendement, grade and crop indexes, and nicotine analysis. In wet conditions of climate anomalies at the beginning of the dry season of 2013, the results showed that there were no difference between Prancak S1 Agribun and Prancak T1 Agribun varieties of madura tobacco in term of growth, yield, and quality. Contrast test results showed that increasing rates of N fertilizer had no effect on growth, yield and quality. However, increasing dose rates of K affected growth, yield and quality at a given rate of N. Combination of N and K affected length and width leaves, yield, and crop index. Based on crop index and benefit, that the fertilizer recommendation for varieties of madura tobacco Prancak S1 Agribun and Prancak T1 Agribun was 50 kg N + 36 kg P2O5 + 75 kg K2O + 5 tons manure/ha. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5