cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Karakter Tanaman Tembakau Temanggung yang Berpengaruh Terhadap Hasil dan Mutu Rajangan Kering . Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v3n2.2011.57-65

Abstract

Peningkatan hasil dan mutu rajangan kering tembakau temanggung dapat dilakukan bila telah diketahui ka-rakter tanaman yang berpengaruh terhadap hasil dan mutu rajangan kering. Penelitian yang bertujuan untuk menentukan karakter utama tembakau temanggung yang berpengaruh terhadap hasil dan mutu rajangan kering dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang pada Oktober−Desember 2010. Lima karakter fisiologis utama, lima karakter fenologis utama, dan lima karakter pertumbuhan tanaman uta-ma, hasil, dan mutu rajangan diambil dari data base penelitian tahun 2008. Analisis regresi linier berganda langkah mundur dilakukan untuk menentukan karakter utama yang mempengaruhi hasil dan mutu rajangan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 karakter utama tembakau temanggung yang mem-pengaruhi hasil rajangan kering dan 8 karakter utama yang mempengaruhi mutu rajangan kering. Keenam karakter utama yang mempengaruhi hasil rajangan kering mulai dari yang paling besar pengaruhnya secara verturut-turut adalah partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 0−30 hst, bobot kering daun, jum-lah satuan panas dari daun muncul−daun berhenti meluas, jumlah satuan panas dari panen pertama−pa-nen akhir, jumlah satuan panas dari berbunga−panen akhir, dan tinggi tanaman. Dari keenam karakter uta-ma tersebut, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 0−30 hst, jumlah satuan panas dari panen pertama−panen akhir, dan jumlah satuan panas dari berbunga−panen akhir berpengaruh negatif terhadap hasil rajangan kering, sedangkan yang lainnya berpengaruh positif. Adapun kedelapan karakter utama yang mempengaruhi mutu rajangan kering mulai dari yang paling besar pengaruhnya secara berturut-turut adalah partisi karbohidrat untuk pembentukan nikotin dan pertumbuhan tajuk pada 60 hst−panen akhir, partisi kar-bohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 30−45 hst, jumlah satuan panas dari tanam−pemangkasan, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan daun pada 0−30 hst, jumlah satuan panas dari daun berhenti meluas−daun dipanen, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan bunga, dan tinggi tanaman. Dari kedelapan karakter utama tersebut, partisi karbohidrat untuk pembentukan nikotin pada 60 hst−panen akhir dan untuk tajuk pada 30− 45 hst serta jumlah satuan panas dari daun berhenti meluas−daun dipanen berpengaruh positif terhadap mutu rajangan kering, sedangkan yang lainnya berpengaruh negatif. Yield and quality of dry sliced temanggung tobacco could increase when the plant characters which affect them have been identified. The aim of the research was to identify the important plant characters which affect yield and quality of dry sliced temanggung tobacco. The experiment was conducted at Indonesian To-bacco and Fiber Crops Research Institute (IToFCRI), Malang from October to December 2010. A data base of the research result in 2008 was used as data source for five physiological characters, five phenological characters, five plant growth characters, dry sliced yield, and quality. Backward stepwise analysis was used to determine the important plant characters wich affect the dry sliced yield and quality. The results showed that the were six important characters that affected dry sliced yield and eight main characters affected dry sliced quality. The six characters that affected dry sliced yield sorted from the largest were carbohydrate partitioning for shoot growth in 0−30 dap, leaf dry weight, total heat unit from leaf initiation to harvesting period, total heat unit from first harvesting to final harvesting, total heat unit from flowers initiation to final harvesting, and plant height. The carbohydrate partitioning for shoot growth in 0−30 dap, total heat unit from first harvesting to final harvesting, and total heat unit from flowers initiation to final harvesting had ne-gative effect on dry sliced yield, and the others had positive effects. The eight characters that affected dry sliced quality sorted from the largest were carbohydrate partitioning for nicotine formation and the shoot growth from 60 dap−final harvesting, carbohydrate partitioning for shoot growth in 30−45 dap, total heat unit from planting to topping, carbohydrate partitioning for leaf growth in 0−30 dap, total heat unit from ter-minal leaf expansion to harvesting period, carbohydrate partitioning for the flower growth, and plant height. The carbohydrate partitioning for nicotine formation from 60 dap−final harvesting, carbohydrate partitioning for shoot growth in 30−45 dap, and total heat unit from terminal leaves expansion to leaf harvest had posi-tive effect on dry sliced quality and the others had negative effect.
Pengaruh Perilaku Kewirausahaan terhadap Kinerja Usaha Tani Tembakau Rakyat di Kabupaten Bojonegoro dan Lamongan Felicia Nanda Ariesa; Rita Nurmalina; Wahyu Budi Priatna
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n2.2014.81-90

Abstract

Penyediaan sumber daya manusia yang kompeten penting dalam usaha tani tembakau. Komoditas tembakau ditekan oleh perubahan kondisi lingkungan global, sehingga diperlukan petani yang mampu beradaptasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kewira-usahaan dan kinerja pertanian, 2) Menganalisis pengaruh sifat individu dan faktor lingkungan terhadap peri-laku kewirausahaan, dan 3) Menganalisis pengaruh sifat individu, faktor lingkungan, dan perilaku kewirausa-haan terhadap kinerja tembakau rakyat. Pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas (terikat) diukur dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Sifat individu dan faktor lingkungan mempengaruhi perilaku kewirausahaan dengan pengaruh terbesar berasal dari sifat individu. Perilaku kewirausahaan berpe-ngaruh signifikan terhadap kinerja usaha, namun bukan menjadi faktor dominan yang mempengaruhi kinerja pertanian. Lingkungan ekonomi menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja pertanian. Peri-laku kewirausahaan saja tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Dengan demikian, perilaku kewirausa-haan harus dipandang sebagai salah satu faktor yang berperan dalam mendorong kinerja. Provision of competent human resources is important in tobacco farming. Tobacco as commodities pressured by changes in global environmental conditions so that required adaptable farmers. Therefore, this research aimed to: 1) Determine the factors that influence entrepreneurial behavior and performance of the farm; 2) Analyze the influence of personality trait and environmental factors to entrepreneurial behavior; and 3) Analyze the influence of personality trait, environmental factors, and entrepreneurial behavior to the perfor-mance of individual tobacco farming. The effect of independent variables on the measurement dependent variables were analyzed using multiple linear regression analysis. The personality trait and environment fac-tor influence entrepreneurial behavior with the greatest influence comes from the personality trait. Entrepre-neurial behavior has significant effect on the performance of the business, but not a dominant factor affect-ting the performance of the farm. Economic environment to be the most influential variable on the perfor-mance of the farm. Entrepreneurial behavour alone has no significant effect on performance. Thus, entre-preneurial behaviour should be viewed as only one causal factor in a complex model of factors that promote performance.
Kesesuaian Galur Harapan Kapas pada Sistem Tumpang Sari dengan Palawija Prima Diarini Riajaya; Fitriningdyah Tri Kadarwati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v2n1.2010.9-18

Abstract

Tanaman kapas selalu ditumpangsarikan dengan palawija, sehingga varietas harapan yang telah dirakit hen-daknya mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap persaingan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengevaluasi toleransi galur-galur harapan kapas tahan A. biguttula terhadap persaingan dengan kedelai dan jagung. Penelitian dilaksanakan di lahan petani Desa Sumber Soka, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamo-ngan pada bulan Maret sampai dengan Oktober 2008. Kegiatan penelitian disusun dalam rancangan petak terbagi dengan dua faktor yang diulang empat kali. Petak utama adalah galur unggul, yaitu: 99022/1 (G1); 99001/2 (G2); dan 199023/5 (G3). Anak petak adalah jenis tanaman tumpang sari, yaitu kedelai (Kd) dan jagung (J). Untuk menghitung nilai kesetaraan lahan (NKL) dilakukan penanaman monokultur kapas dari ke-tiga galur unggul, kedelai, dan jagung. Untuk masing-masing jenis tanaman monokultur diulang 2 kali. Peng-amatan dilakukan terhadap komponen pertumbuhan tanaman (vegetatif dan generatif), perkembangan po-pulasi A. biguttula, produksi kapas berbiji, jagung, dan kedelai, serta NKL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran kanopi tanaman, jumlah cabang vegetatif dan generatif yang terbentuk pada tumpang sari dengan jagung lebih besar dibanding tumpang sari dengan kedelai. Galur G1 membentuk square lebih ba-nyak dibanding galur yang lain jika ditumpangsarikan dengan jagung yaitu 10 square/tanaman pada 82 hst dan membentuk buah lebih banyak (9 buah/tanaman) pada 122 hst; galur G3 membentuk square lebih ba-nyak pada tumpang sari dengan kedelai yaitu 8 square/tanaman pada umur yang sama dan membentuk bu-ah yang lebih banyak (11 buah/tanaman). Persentase kerusakan square tertinggi terjadi pada galur G3 yang ditumpangsarikan dengan jagung (28%) dan galur G1 yang ditumpangsarikan dengan kedelai (15%). NKL dari galur-galur yang diuji tumpang sari dengan kedelai lebih tinggi (1,31,8) dibandingkan dengan tumpang sari dengan jagung (0,981,42). NKL tertinggi (1,8) ditunjukkan oleh galur G3 tumpang sari dengan kedelai. As a cash crop, cotton is intercropped with secondary food crops in Indonesia. Therefore, the promising lines of such cotton varieties should have a high tolerant to a competitions, so that their potential production would be less affected in intercropping system. The aim of this research was to evaluate the tolerance of promising-cotton lines resistant to A. biguttula in intercropping with soybean and maize. The research was conducted in farmer’s land at Sumber Soka Village, Mantup, Lamongan from March up to October 2008. The research used split plot design with two factors and four replicates. The main plots were the promising lines: 99022/1 (G1); 99001/2 (G2); and 199023/5 (G3) and sub-plots were the secondary crop species: soybean (Kd) and maize (J). For calculating land equivalent ratio (LER) we planted the cotton lines, soybean, and maize in monoculture, each of them with two replicates. Observations were made for plant growth compo-nents (vegetative and generative), development of A. biguttula population, productions of seed cotton, maize and soybean, LER, as well as a simple-partial farming analysis. In intercropping with maize, the canointercropped with soybean. Line G1 showed the highest number in forming squares in intercropping with maize (10 square/plant at 82 dap) and formed bolls more (9 bolls/plant) than the other lines; and so did line G3 in intercropping with soybean (8 square/plant) and formed 11 bolls/plant. However, square damage was also the highest occurrence in these two promising lines (1528%). LER of lines intercropped with soybean were higher (1.31.8) than that of lines intercropped with maize (0.981.42). Line G3 gives the highest LER (1.8) when intercropped with soybean. Cotton lines intercropping with soybean resulted in a better added income over monoculture system compare to that of maize intercropping.
Permasalahan dalam Implementasi Sistem Perbenihan . Sudjindro
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 2 (2009): Oktober 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v1n2.2009.92-100

Abstract

Benih merupakan cikal bakal dari suatu kehidupan tanaman yang harus memiliki mutu genetik, fisiologis, dan fisik yang baik. Namun untuk memahami benih itu apa dan bagaimana memperoleh mutu benih yang baik tidaklah mudah. Banyak faktor yang mempengaruhi proses untuk memperoleh mutu benih yang baik, yaitu faktor internal (faktor yang ada di dalam benih) dan faktor eksternal (faktor di luar benih atau ling-kungan). Konsep perbenihan dan implementasi di lapangan pada beberapa komoditas di Indonesia belum berjalan dengan baik, sehingga masih perlu penyempurnaan. Dalam konsep perbenihan yang menjadi fokus utama meliputi beberapa aspek, yaitu produksi, pengolahan benih, penyimpanan benih, analisis mutu benih, penanganan benih, distribusi, dan pemasaran benih. Permasalahan dalam usaha perbenihan mencakup ma-salah teknis dan nonteknis. Permasalahan nonteknis antara lain kondisi lingkungan masyarakat dan kebijak-an perbenihan pemerintah yang kurang mendukung lebih besar perannya dibanding dengan masalah teknis. Di samping itu juga pengertian/pemahaman benih masih kurang, informasi tentang teknologi benih juga ma-sih sangat sedikit, sosialisasi tentang tata cara permohonan ijin pemasukan dan pengeluaran benih dari dan ke luar negeri jarang dilakukan, dan sosialisasi pentingnya sertifikasi mutu benih masih sangat kurang. De-ngan demikian implementasi sistem perbenihan di Indonesia perlu disempurnakan. Untuk itu disarankan ke-pada pemerintah untuk membentuk “sistem kelembagaan perbenihan” sebagai pegangan dalam setiap usa-ha pengembangan/perluasan komoditas. Seeds are a set up of living plants, therefore it has to have a good genetic, physiology, and physic quality. However, to entirely understand what and how to get a good seed is not easy. Factors influencing to get a good quality of seed include internal and external factors. Seed production concept and implementation in Indonesia has not been well established. The concept comprises aspects, i.e. seed production, processing, storage, quality analysis, handling, distribution, and marketing. Problems involved in seed production include technical and non-technical problems. Non-technical problems are more troublesome than technical problem. These include society provision and less government-policy support for seed production system. Moreover, the people perception about seed are insufficient, information about seed technology is also limited, sociali-zation in seed import and export permit is rarely executed, and socialization about the importance of seed certification is inadequate. Therefore, implementation of seed production system needs to be improved. To do this, the government is suggested to put up a “seed institution system” as a guideline for crop develop-ment.
Pengaruh Inkubasi Bahan Organik yang Diperkaya dengan Mimba Terhadap Keparahan Penyakit Rebah Kecambah Titiek Yulianti; Cece Suhara; Nurul Hidayah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v4n2.2012.68-75

Abstract

Penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani Kühn merupakan salah satu penyakit me-rugikan pada tanaman kapas. Jamur ini dapat bertahan sebagai saprofit di tanah dengan bahan organik se-bagai sumber energinya, sehingga keberadaan bahan organik terkadang dapat meningkatkan populasi R. solani meskipun aktivitas mikroba di sekitarnya juga meningkat. Namun penambahan bahan organik yang mengan-dung senyawa fungisidal seperti mimba diharapkan mampu menekan populasi R. solani. Penelitian ini ber-tujuan mengevaluasi pengaruh inkubasi bahan organik yang berasal dari pupuk kandang atau serbuk rajungan yang diperkaya dengan mimba terhadap keparahan penyakit rebah kecambah akibat R. solani. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat yang disusun berdasarkan rancangan faktorial dalam kelompok dengan tiga ulangan yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah sumber bahan organik yang berasal dari (1) pupuk kandang ayam (PKA) atau (2) sapi (PKS) atau (3) serbuk kulit rajungan (SKR) diperkaya dengan serbuk biji mimba (SBM) dengan perbandingan 3:1. Bahan organik kemudian dicampur dengan tanah berpasir dengan perbandingan 9:1 (b/b), sebagai kontrol adalah tanah ber-pasir tanpa bahan organik. Faktor kedua adalah masa inkubasi bahan organik yang terdiri atas 1, 2, dan 3 bulan. Satu unit perlakuan adalah satu bak plastik berisi 5 kg tanah yang ditanami 25 biji kapas. Inokulasi 5 biji kapas yang terinfestasi R. solani ke dalam tanah dilakukan bersamaan dengan aplikasi bahan organik. Keparahan penyakit rebah kecambah dihitung pada hari ketujuh dan ke-14 setelah tanam dan populasi mikroba di tanah (bakteri, aktinomisetes, dan jamur) dihitung pada 1, 2, dan 3 bulan setelah aplikasi bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan inkubasi PKA+SBM atau PKS+SBM selama 2–3 bulan dapat mengu-rangi infeksi R. solani dan kejadian penyakit rebah kecambah pada tanaman kapas yang disebabkan oleh R. solani karena meningkatnya populasi mikroorganisme (jamur, bakteri, dan aktinomisetes). Namun, penam-bahan SKR+SBM baik diinkubasi 1, 2, maupun 3 bulan belum meningkatkan populasi mikroba secara nyata dan tidak dapat mengurangi keparahan penyakit. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin lama masa inkubasi, dekomposisi bahan organik yang berasal dari PKA atau PKS+SBM menjadi lebih sempurna. Kondisi tersebut dapat menekan kejadian penyakit rebah kecambah melalui penekanan populasi R. solani akibat peningkatan populasi mikroba tanah. Dengan demikian, penambahan PKA+SBM atau PKS+SBM dapat digunakan untuk mengendalikan R. solani asalkan sudah diinkubasi 2–3 bulan sebelum ditanami kapas. Damping off caused by Rhizoctonia solani Kühn is an important disease on cotton. The fungus survives as a saprophyte in soil with organic matter as its source of energy. Hence, the presence of organic matter could increase population of R. solani instead of the soil microbial activities in the vicinity. And yet, addition of organic matter with fungicidal activity such as neem was expected decrease population of R. solani. This study aimed to determine the effect of incubation period of some organic matters (farmyard manure or crab shell enriched with neem seed powder) on severity of damping off of cotton caused by R. solani. The organic matter was mixed with sandy soil at 9:1 (w/w). The test was arranged in factorial blocked design with three replicates. The first factor was source of organic matters i.e: (1) chicken manure: neem seed powder (nsp) 3:1; (2) cow manure: (nsp) 3:1; (3) crab shell powder: (nsp) 3:1; and (4) sandy soil without organic matter. The second factor was incubation period of the organic matter before cotton sowing (1, 2, and 3 months). Inoculation of five R. solani infested cotton seeds was done along with incorporation of organic matter. Damping off severity was counted at 7 and 14 days after sowing; population of soil microorganisms (bacteria, actino-mycetes, and fungi) was estimated 0, 1, 2, and 3 months. Incubation chicken manure+nsp or cow manure+ nsp for 2–3 months reduced damping off severity due to R. solani infection since population of microor-ganisms (fungi, bacteria, and actinomycetes) increased. However, addition of crab shell+nsp incubated for 1, 2, or 3 months did not increase population of soil mikrobes significantly and did not reduce disease severity. This result of this study indicated that the more duration period of incubation, the more farmyard manure decomposed hence, damping off severity declined through reduction of population of R. solani due to increasing population of soil microbes. So, addition of farmyard manure could control R. solani as long as it has been incubated for at least 2–3 months before sowing.
Potensi Tembakau Virginia Flue Cured Varietas NC 100 di Lombok . Suwarso; Anik Herwati; A.S Murdiyati; Deciyanto S.; Imam Santoso; Dian Haryanto; M. Yasin; Djadmiko Pambudi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v1n1.2009.1-9

Abstract

Tembakau virginia fc varietas NC 100 diimpor dari ProfiGen do Brasil Ltda. dan diuji potensi hasil dan mutunyadi Pringga Jurang, Kopang Rembiga, dan Semaya, Lombok pada musim tembakau tahun 2006. Sebagaipembanding digunakan PVH 09. Pengujian dilakukan pada dua waktu tanam, yaitu akhir bulan Juli dan akhirbulan Agustus 2006. Untuk membandingkan kedua varietas, pada setiap unit pengujian digunakan uji t.Hasil pengujian menunjukkan NC 100 dapat menghasilkan 1,932 ton/ha kerosok, indeks mutu 48,08, danindeks tanaman 94,01. Produktivitas PVH 09 1,861 ton/ha kerosok dengan indeks mutu dan indeks tanaman45,08 dan 83,97. Ketahanan lapangan NC 100 terhadap penyakit lanas dan layu bakteri lebih rendah dibandingPVH 09, tetapi NC 100 lebih tahan terhadap TMV dan TEV dibanding PVH 09.
Pemanfaatan Endofit Sebagai Agensia Pengendali Hayati Hama dan Penyakit Tanaman Titiek Yulianti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 5, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v5n1.2013.40-49

Abstract

Endofit merupakan mikroorganisme (bakteri, jamur, atau aktinomisetes) yang hidup dan berkoloni di dalam jaringan inang tanpa menimbulkan efek negatif, bahkan banyak memberi keuntungan terhadap inangnya. Salah satu keuntungannya adalah sebagai agensia pengendali hayati baik untuk serangga hama maupun pa-togen penyebab penyakit tanaman. Sebagai agensia hayati, endofit dapat mengurangi kerusakan tanaman oleh serangga, nematoda, atau patogen penyebab penyakit melalui induksi ketahanan tanaman. Selain itu endofit juga dapat berfungsi sebagai agensia hayati melalui interaksi antagonis dan kompetisi. Dalam artikel ini akan dibahas kemampuan endofit sebagai agensia hayati serangga hama dan patogen; mekanisme yang berlang-sung; serta aplikasi endofit dalam dunia pertanian, khususnya tanaman perkebunan. Endophytes are recognized as microorganisms (bacteria, fungi, or actinomycetes), living and colonizing within host tissues without causing any harm, but giving many benefits to their host. One of the advantages is their role as biocontrol agents for insect pest or plant pathogen. As biocontol agents, endophytes could re-duce plant damage by insects, nematodes, and pathogens through induction for plant resistant mechanisms. Endophytes can also act as biocontrol agents through antagonistic and competition interactions. This article reviews the ability of endophytes as biocontrol agents for insect pest and plant pathogen, the mechanism, and application of endophytes in agriculture, particularly in estate crops.
Studi Kelayakan Pengembangan Usaha Tani Tebu di Kabupaten Sampang Kuntoro Boga Andri; Prima Diarini Riajaya; Fitriningdyah Tri Kadarwati; Budi Santoso; Suminar Diyah Nugraheni
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n1.2015.15-27

Abstract

Dalam mendukung pencapaian swasembada gula, Pulau Madura menjadi salah satu sasaran lokasi pengembangan tebu. Di Kabupaten Sampang pengembangan usaha tani tebu dimulai sejak tahun 2009. Program inididukung oleh masuknya perusahaan perkebunan serta bantuan penganggaran dari APBN. Penelitian bertujuan mengetahui kelayakan secara sosial dan ekonomi serta potensi pengembangan usaha tani tebu ke depan dan untuk mengetahui peluang dari usaha tani tebu ini bagi masyarakat di Pulau Madura secara umum.  Penelitian dilaksanakan mulai September sampai Desember 2013 di lokasi-lokasi kecamatan pengembangan tebu Kabupaten Sampang. Informasi dikumpulkan dengan memanfaatkan data sekunder dan data primer melalui wawancara dengan individu maupun grup/kelompok masyarakat, dinas/institusi terkait. Data dianalisa menggunakan analisis deskriptif untuk memperoleh gambaran kondisi yang dihadapi dan pemecahan dari masalah yang dihadapi di wilayah yang diamati. Analisis aspek usaha tani meliputi data input-output komoditas existing dengan analisis finansial. Untuk melihat kelayakan usaha tani digunakan R/C Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kelayakan usaha tani tebu adalah kepemilikan lahan, insentif rangsangan dana bantuan sosial (Bansos) APBN dan subsidi pengembangan Tebu Madura (Dinas Perkebunan Provinsi), serta kerja sama kemitraaan dengan pabrik gula (PTPN X) yang menawarkan bantuan modal, subsidi saprotan, alat/mesin pertanian, serta jaminan pasar. Kemitraan yang telah ada antara PTPN X dengan petani tebu di Sampang dapat dikategorikan dalam tipe kemitraan subkontrak dan layak diteruskan.  Skema yang sudah diterapkan dalam kontrak ini adalah pola kemitraan antara pemerintah daerah, swasta (PTPN X), dan petani tebu. Usaha tani tebu dengan R/C ratio sebesar 1,05 dan 1,68 dan pendapatan bersih Rp1.358.920,00/ha dan Rp14.024.360,00/ha pada usaha tani tebu awal dan tebu kepras I, membuktikan usaha tani tebu di lokasi penelitian sangat layak untuk diusahakan dan menguntungkan. Selain peluang bagi masyarakat memanfaatkan potensi lahan tidur dan sub-optimal untuk pengembangan usaha tani tebu yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di Kabupaten Sampang. In order to achieve self-sufficient in sugar consumption, the Madura Island became one of the targets of sugar cane development area. In Sampang Regency, the development of sugar cane agribusiness have been started since 2009. This program was supported by the companies as well as financial supported from national budget (APBN). The study aims to determine the feasibility of social and economic as well as the potentialfor future development of sugar cane farming and to understand the opportunities of the farming for community in Madura Island on the whole. The study was conducted from September to December 2013 at 14 districts of sugar cane developing area in Sampang. Information was collected by using secondary data and primary data through interviews with individual and group/community groups, agencies/institutions concerned.  Data were analyzed using descriptive analysis to obtain a description of the conditions encountered and the solving of problems encountered in the observed region. The analysis covers aspects of farm commodity input-output data with the existing financial analysis. To look at the feasibility of farming used the R/C ratio. The results of the study showed that some factors which influenced the farmer to plant the cane were: land ownership; the stimuli of incentives from social grants (Bansos) from APBN and subsidy from projectdevelopment (from Provincial Agricultural office); the cooperation of partners through sugar company (PTPN X) which offered grants, input subsidy, equipments/agriculture machinery as well as market assurance. The partnership among PTPN X and the sugar cane farmers in Sampang was feasible and categorized a subcontract partnership type. Meanwhile, the scheme that had been implemented in this type of contract was thepartnership pattern between local government, private (PTPN X) and the sugar cane farmers. The sugar cane farming with R/C ratio of 1.05 and 1.68, or net income recieved of Rp1,358,920/ha and Rp14,024,360/ha atthe first harvested and second period harvested, proving that the farming in the study area is feasible to carry on and profitable. In addition, it is the opportunities to develop the potential of the unused and suboptialland for sugar cane agribusiness development that provides economic benefits to the community in Sampang Regency.
Tembakau Temanggung: Fotosintesis, Respirasi, Partisi Karbohidrat, Serta Keterkaitannya dengan Hasil dan Mutu Rajangan Kering . Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v2n2.2010.60-74

Abstract

Peningkatan hasil dan mutu tembakau temanggung dapat dilakukan bila sudah diketahui karakter tanaman serta keterkaitan antara karakter fisiologi dengan hasil dan mutu tersebut. Karakter fisiologi tanaman temba-kau temanggung (termasuk fotosintesis, respirasi, dan partisi karbohidrat) serta keterkaitan karakter terse-but dengan hasil dan mutu belum banyak diketahui. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi foto-sintesis, respirasi, partisi karbohidrat, serta kaitannya dengan hasil dan mutu rajangan kering dilakukan di rumah kaca Balittas, Malang pada Maret–Agustus 2008. Sembilan kultivar tembakau temanggung disusun dalam rancangan acak kelompok dan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis pada berbagai umur pengamatan bervariasi 0,6660,787 mg CO2/cm2/detik, sedangkan laju respirasi berva-riasi (0,040–0,238) x 10-2 mg CO2/g/det. Partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada berbagai umur pengamatan bervariasi 65,4–78,7% dari karbohidrat untuk pertumbuhan tanaman. Adapun untuk daun ber-variasi 34,8–78,3%, batang bervariasi 23,2–53,3%, bunga bervariasi 11,7–37,4%, dan tunas samping ber-variasi 10,6–27,5% dari karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk. Partisi untuk pembentukan nikotin bervariasi 1,8–9,4% dari karbohidrat untuk pertumbuhan akar. Karakter partisi untuk tajuk dan akar pada 030 hst, partisi untuk nikotin dan jaringan akar pada > 60 hst, serta laju respirasi pada 45 hst mempunyai pengaruh sebesar 92,3% terhadap hasil tembakau temanggung. Adapun karakter partisi untuk nikotin dan tajuk pada > 60 hst, partisi untuk tajuk pada 30–45 hst, partisi untuk daun pada 0–30 hst, partisi untuk bunga, dan laju respirasi pada 45 hst mempunyai pengaruh sebesar 90,8% terhadap mutu tembakau temanggung. Yield and quality temanggung tobacco could be increased if plant characteristics and the relationship be-tween plant physiology characteristic and yield quality had been identified in which such relationship has not yet been defined clearly. An experiment to find several information of photosynthesis, respiration, carbo-hydrate partitioning and its relationship with yield and quality was conducted in glasshouse IToFCRI, Malang since March–August 2008. Nine cultivars of temanggung tobacco were arranged in randomized block design with three replications. The results showed that the photosynthetic rates at different ages observations va-ried from 0.666 to 0.787 mg CO2/cm2/sec, while the respiration rate varied (0.040 to 0.238) x 10-2 mg CO2/ g/sec. Carbohydrate partitioning for shoot growth at various ages observations varied from 65.4 to 78.7% from carbohydrates for plant growth. As for the leaves varied from 34.8 to 78.3%, varying 23.2 to 53.3% for stems, flowers vary 11.7 to 37.4%, and suckers varied 10.6 to 27.5% from carbohydrates for shoot growth. Carbohydrate partitioning to the formation of nicotine varied from 1.8 to 9.4% from carbohydrates for root growth. Carbohydrate partitioning for shoot and root at 0–30 dap, the partition to nicotine and root tissue at > 60 dap, and respiration rate at 45 dap have influence 92.3% on yield temanggung tobacco. Carbohydrate partitioning for nicotine forming and shoot at > 60 dap, the partition for shoot at 30–45 dap, partitioning to leaves at 030 dap, the partition to flower, and respiration rate at 45 days having the effect of 90.8% for the quality temanggung tobacco.
Perencanaan Usaha Tani Lahan Kering Berkelanjutan Berbasis Tembakaudi Sub-DAS Progo Hulu (Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah) Jaka Suyana
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n1.2014.32-49

Abstract

Akibat dari teknik budi daya yang kurang mengindahkan kaidah konservasi tanah dan air, pada kemiringan berbukit dan curam, serta curah hujan yang tinggi pada usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu telah menyebabkan terjadinya erosi yang parah dan degradasi lahan. Penelitian ini bertuju-an: (1) mengkaji kondisi biofisik lahan dan karakteristik usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo hulu; (2) mengkaji pengaruh teknologi konservasi tanah dan air (KTA) spesifik lokasi terhadap limpasan permukaan dan erosi; dan (3) merumuskan perencanaan sistem pertanian konservasi untuk mewu-judkan sistem usaha tani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei, percobaan lapangan, dan analisis di laboratorium. Data karakteristik lahan, karakteristik usaha tani, serta data limpasan permukaan dan erosi dianalisis secara deskriptif dan dilan-jutkan dengan analisis ragam (uji F) dan uji HSD 5%. Selanjutnya pengembangan rekomendasi agroteknolo-gi diformulasikan melalui teknik simulasi dengan program Powersim Versi 2.5d. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan lahan pada usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu pada umumnya (58,4%) sesuai dengan kelas kemampuan lahan dan sisanya 41,6% tidak sesuai dengan kelas ke-mampuan lahan. Terdapat 77,2% lahan memiliki nilai prediksi erosi lebih besar dari nilai erosi yang dapat di-toleransikan (ETol) dan perlu penyempurnaan dalam teknologi KTA. Usaha tani lahan kering berbasis usaha tani tembakau di Sub-DAS Progo Hulu didominasi pola tanam jagung-tembakau (51,0%) dan cabai-temba-au (29,2%), dengan pendapatan usaha tani masih di atas nilai kebutuhan hidup layak (KHL). Perlakuan pem-berian mulsa batang tembakau dikombinasikan rumput penguat teras (Setaria spacelata) dapat menekan erosi 15–19% pada dosis 7 ton/ha dan 31–43% pada dosis 14 ton/ha batang tembakau, sedangkan tumpang sari koro merah dengan tembakau dikombinasikan penggunaan mulsa batang tembakau 7 ton/ha dapat menekan erosi 13–20%. Pengembangan usaha tani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu dapat diwujudkan dengan penyempurnaan teknologi KTA yang meliputi: (a) perlakuan rumput setaria sebagai penguat teras + mulsa batang tembakau 7 ton/ha atau perlakuan tumpang sari koro merah dengan tembakau + mulsa batang tembakau 7 ton/ha pada kemiringan lereng 8–15%; (b) teras miring + perlakuan rorak pada kemiringan lereng 15–30%; dan (c) perlakuan rumput setaria sebagai penguat teras miring + mulsa batang tembakau 14 ton/ha + rorak pada kemiringan lereng >30%. Due to inadequate soil and water conservation practices in farming activity at tobacco based farming sys-tems, severe erosion and land degradation had been occuring in almost all upland agriculture in Progo Hulu Sub-watershed. This research was conducted: (1) to study land’s biophysic conditions and the characteris-tics of tobacco based farming systems, (2) to study and analyze the impact of various soil and water conser-vation practices on erosion, (3) to study and design sustainable conservation farming systems in tobacco based farming systems. This research by using a survey method, field experiments, and laboratory analysis.Data characteristics of land, farm characteristics, surface run off and erosion by using descriptive analyzed and followed by analysis of variance (F test) and 5% HSD test. The development of agrotechnology recom-mendations formulated by simulation techniques using program Powersim Version 2.5 d. The results showed that land use in tobacco-based farming systems at Progo-Hulu sub-watershed was generally (58.4%) suitable to its land capability and 41.6% were not suitable. The predicted erosion on approximately 77.2% of lands were higher than local tollerable soil loss which need improvement of soil and water conservation techniques. Tobacco based farming systems was dominated by maize-tobacco (51.0%) and chili-tobacco (29.2%) cropping patterns; farmers income on this farming systems were higher than the income that can support worthed life living standard. The application of crop residue (tobacco stems) as mulch with rate of 7 tones/ha and 14 tones/ha combined with grassed bench terraces ((Setaria spacelata) reduced erosion as much as 15–19% and 31–43%, respectively. Meanwhile, red bean-tobacco intercropping combined with crop residue mulch of 7 tones/ ha had suppressed erosion 13–20%. Sustainable tobacco-based farming systems could be developed in this area by practicing improved soil and water conservation technologies with: (a) setaria grass to strengthen terraces + 7 tones/ha of crop residue mulch or red bean and tobacco intercropping + 7 tones/ha of crop residue mulch on 8–15% slope; (b) broad base terraces + adequate slit pit on 15–30% slope; and (c) setaria grass to strengthen broadbase terraces + 14 ton/ha of crop residue mulch + adequate slit pit on >30% slope.