cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Keragaan Kelembagaan Dalam Agribisnis Gula di Sulawesi Selatan Nurdiah Husnah; Peter Tandisau; . Herniwati; Fadjry Djuhry
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n1.2014.1-10

Abstract

 Kelembagaan dalam pengembangan agribisnis gula merupakan upaya peningkatan kualitas hidup masyara-kat tani, yang dicapai melalui investasi teknologi, pengembangan produktivitas tenaga kerja, pembangunan sarana ekonomi, serta penataannya, sumber daya manusia dan sumber daya alam. Permasalahan utama yang dihadapi berkaitan dengan agribisnis gula, yaitu (1) produktivitas yang cenderung turun yang disebab-kan antara lain karena penerapan teknologi on farm dan efisiensi pabrik gula yang rendah; (2) impor gula yang semakin meningkat; (3) harga gula domestik tidak stabil yang disebabkan oleh sistem distribusi yang kurang efisien dan (4) pemanfaatan kelembagaan penunjang agribisnis.  Dilihat dari berbagai aspek,seperti potensisumberdayayang dimiliki, arah kebijakan pembangunan nasional, potensi pasar domestik produk-produk agribisnis, Sulawesi Selatan memiliki prospek untuk mengembangkan sistem agribisnis gula.  Hasil penelitian menunjukkanbahwasistem agribisnis gula meliputi beberapa subsistem yang terdiri atas subsistem hulu, sub-sistem on farm, subsistem hilir, dan subsistem lembaga penunjang agribisnis yang masing-masing memiliki peran dan sebagai sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, saling menyatu dan saling terkait. Secara integral terkait antara sektor perkebunan di on farm dan sektor industri di hulu dan hilir, kon-disi inilah yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik secara nasional. Institutions in the sugar agribusiness is efforts to increase the quality of life of farmers, which is achieved through technology investment, the development of labor productivity, the development of the economy, as well as arrangement of human and natural resources. The main problems associated with sugar agribusiness, namely: (1) productivity tends to decline due in part because the application of the technology on farm and factory efficiency of sugar mill is low, (2) increasing sugar imports, (3) the price of domestic sugar unstable due to the inefficient distribution system, and (4) the utilization of institutional support agribusiness. Viewed from various aspects, such as the potential resources, the direction of national development policies, domes-tic market potential for the products of agribusiness, South Sulawesi has the prospect to develop the sugar agribusiness system. The results showed that the sugar agribusiness system includes multiple subsystems consisting of upstream subsystems, on farm subsystems, and downstream subsystem. Those support agri-business institutions that each have a role and as a system, which can not be separated from each other, merge with each other and mutually related. Integrally, related to the plantation sector in the industrial sec-torona frame of upstream as well as downstream, would create the conditions foreconomic growth nationally.
Hubungan Antara Fenologi Tanaman dengan Hasil dan Mutu Rajangan Kering Tembakau Temanggung . Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v3n1.2011.1-16

Abstract

Hasil dan mutu tembakau temanggung merupakan hasil interaksi antara pengaruh genetik tanaman dan kondisi lingkungan tumbuh. Pada tembakau virginia, fenologi tanaman merupakan salah satu karakter gene-tik tanaman yang mempengaruhi hasil dan mutu, sedangkan pada tembakau temanggung belum banyak di-ketahui. Penelitian yang bertujuan untuk memperoleh informasi fenologi tanaman yang menjadi karakter ge-netik tanaman dan kaitannya dengan hasil dan mutu rajangan kering dilakukan di rumah kaca Balai Peneliti-an Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas), Malang sejak Maret–Agustus 2008. Sembilan kultivar tembakau temanggung disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali. Pengamatan dilakukan pada peubah saat muncul daun, daun berhenti meluas, daun dipanen, muncul bunga, pemangkasan, panen awal, dan panen akhir. Analisis stepwise digunakan untuk mengidentifikasi fenologi tanaman yang mempengaruhi hasil dan mutu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenologi tanaman yang mencakup lama waktu dari mun-cul daun sampai daun berhenti meluas, muncul daun sampai panen, daun berhenti meluas sampai panen, tanam sampai muncul bunga, tanam sampai pemangkasan, tanam sampai panen akhir, muncul bunga sam-pai panen akhir, pemangkasan sampai panen akhir, dan panen awal sampai panen akhir merupakan karak-ter genetik tanaman tembakau temanggung. Karakter fenologi utama yang mempengaruhi hasil rajangan ke-ring berurutan dari yang terbesar adalah lama waktu dari tanam sampai pemangkasan, muncul daun sampai daun berhenti meluas, tanam sampai panen akhir, panen awal sampai panen akhir, dan muncul bunga sam-pai panen akhir dengan total pengaruh sebesar 90,3%. Adapun karakter fenologi utama yang mempenga-ruhi mutu rajangan kering berurutan dari yang terbesar adalah lama waktu dari tanam sampai pemangkas-an, daun berhenti meluas sampai panen, muncul daun sampai daun berhenti meluas, tanam sampai panen akhir, dan panen awal sampai panen akhir dengan total pengaruh sebesar 84,7%. Yield and quality of temanggung tobacco are influenced by plant genetic and growth environmental factors. Plant phenology is one of genetic characters which affects on yield and quality of virginia tobacco. Plant phe-nology of temanggung tobacco is not yet well defined. The research, aimed to find plant phenology as gene-tic characters related to dry sliced yield and quality of temanggung tobacco, was conducted in glass house of Indonesian Tobacco Research and Fibre Crops Institute (IToFCRI) from March to August 2008. Nine cultivars of temanggung tobacco were arranged in randomized block design with three replications. Variables ob-served were leaf initiation, terminal leaf expansion, harvesting period, flowers initiation, and final harvesting. Stepwise analysis used to identify plant phenology which affect on yield and quality. The results showed that the phenology of plants that includes the length of time from leaf initiation to terminal leaf expansion, leaf initiation to harvesting period, terminal leaf expansion to harvesting period, planting to flowers initiation, planting to pruning, planting to final harvesting, flowers initiation to final harvesting, pruning to final har-vesting, and first harvesting to final harvesting were genetic characters of temanggung tobacco. The main phenological characters that affect on dry sliced yield sorted from the largest is the length of time from planting to pruning, leaf initiation to terminal leaf expansion, planting to final harvesting, first harvesting to final harvesting, and flowers initiation to final harvesting with total effect of them was 90.3%. The main phe-nological characters that affect on quality of dry slice sorted from the largest is the length of time from planting to pruning, terminal leaf expansion to harvesting period, leaf initiation to terminal leaf expansion, planting to final harvesting, and first harvesting to final harvesting with total effect of them was 84.7%.
Evaluasi Ketahanan Plasma Nutfah Kenaf terhadap Cekaman Fe pada pH Masam Evaluation of Kenaf Germplasm to High Fe Concentration and Low pH Resistance Rully Dyah Purwati; . Marjani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v1n1.2009.28-40

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi ketahanan plasma nutfah kenaf pada lingkungan konsentrasi Fe yang ekstrim dan pH masam telah dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca Pemuliaan Balittas, Malang, mulai bulan Januari–Desember 2008. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan ran-cangan acak kelompok yang diulang 3 kali. Bahan penelitian terdiri dari 100 aksesi kenaf yang diuji di labo-ratorium pada tingkat bibit. Pada setiap ulangan, masing-masing aksesi kenaf diuji sebanyak 20 bibit ber-umur 3–4 hari, yang ditanam pada stereo-foam berlapiskan kasa strimin. Bibit dipelihara pada larutan nu-trien ”Yoshida” dan diberi perlakuan konsentrasi unsur Fe 350 ppm dan pH 4. Sebagai pembanding diguna-kan nutrien yang sama dengan konsentrasi Fe = 0 ppm dan pH netral. Pengamatan dilakukan terhadap pan-jang akar, panjang hipokotil, berat kering akar, dan berat kering hipokotil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan 100 aksesi kenaf yang diuji terhadap kelebihan Fe pada pH masam bervariasi; tetapi ada 8 aksesi yang tergolong tahan, yaitu aksesi nomer 449, 461, 476, 782, 785, 833, 836, dan 839.The objective of this experiment was to find out information of kenaf germplasm resistance to high Fe con-centration and low pH of media. The experiment was conducted in laboratory and green house of plant breeding division, IToFCRI, Malang from January to December 2008. The experiment was designed in ran-domized block design with three replications. One hundred accessions of kenaf seedlings were evaluated in laboratory. Each accession in each replicate consisted of 20 seedlings (3–4 days old) were planted in stereo-foam trays with plastic gauze layer. Seedlings were maintained in “Yoshida” nutrient solution and treated with 350 ppm Fe concentration and pH 4. The same media with 0 ppm Fe and neutral pH was used as a control. The parameters observed were root and hypocotyls length, root and hypocotyls dry weight. Results of this experiment showed that the resistance to excess Fe in low pH of 100 accessions evaluated were va-ried. Out of 100 accessions, eight accessions were categorised as resistant i.e. accession no. 449, 461, 476, 782, 785, 833, 836, and 839.
Pengaruh Infeksi Cucumber Mosaic Virus (CMV) Terhadap Morfologi, Anatomi, dan Kadar Klorofil Daun Tembakau Cerutu Ruly Hamida; Cece Suhara
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 5, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v5n1.2013.11-19

Abstract

Penyakit virus pada tembakau cerutu menyebabkan kerugian yang cukup besar, yaitu dapat mengurangi produksi sekitar 7–30%. Secara morfologi, daun tembakau yang terserang virus pada umumnya menunjuk-kan gejala mosaik, berkerut atau menggulung, ukurannya menjadi lebih kecil, rapuh, elastisitas dan daya bakarnya menurun. Informasi tentang Cucumber Mosaic Virus (CMV) dalam bidang anatomi dan fisiologi ma-sih sangat sedikit, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menambah informasi tentang pengaruh infeksi CMV terhadap karakter morfologi, anatomi dan fisiologi daun tembakau cerutu. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-November 2011, di Kebun Percobaan Karangploso dan Laboratorium Fitopatologi Balittas, Ma-lang, menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Inokulum CMV diambil dari tanaman sakit di lapang dan diperbanyak pada tanaman indikator. Inokulasi dilakukan pada tanaman tembakau cerutu varietas H-382 menggunakan sprayer duco type Sagola pada tekanan kompresor 4,5 kg/cm2. Pengamatan dilakukan pada 3 bulan setelah tanam terhadap parameter morfologi, anatomi tanaman dan kadar klorofil daun tembakau pada skor 0–5. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara tanaman yang sehat dengan tanaman yang diinfeksi CMV. Makin tinggi tingkat infeksinya, makin besar penurunan luas daun dan kadar klorofil total tanaman tembakau. Penurunan rasio klorofil a/b daun lebih tinggi pada skor 4 dibandingkan skor 5, yaitu sebesar 74%, tetapi kerusakan morfologi paling parah terjadi pada skor 5, dimana terjadi perubahan bentuk dan secara anatomi terdapat bentukan kranz (spot-spot hitam) pada berkas pembuluh. Virus disease on cigar tobacco causes significant losses on yield, due to reduction on productivity 7–30%. Morphologicaly, tobacco leaf infected by virus generally shows symptoms of mosaic, wrinkled or curled, its size becomes smaller, fragile, elasticity, and burn down. Information about cucumber mosaic virus (CMV) in anatomy and physiology was still slightly, so objective of this study was to determine the effect of cucumber mosaic virus (CMV) infection to the character of the morphology, anatomy, and physiology of cigar tobacco leaves. The experiment was conducted in August–November 2011, at the Karangploso Experimental Station and Phytopathology Laboratory of ISFCRI, Malang, using a randomized block design with three replications. CMV was inoculated from diseased plants in the field and propagated on indicator plants. Inoculation was done on cigar tobacco H-382 varieties employing Sagola duco sprayer at a pressure of 4.5 kg/cm2 compressor. Observations were made at 3 months after planting for identifiying morphological and physiological parameters and leaf chlorophyl content of tobacco using score under 0–5. The results showed that there were significant differences between healthy plants and plants infected with CMV. The reduction in leaf area and total chlorophyl content of tobacco plants were greater as the rate of infection was higher.Decreasing in the ratio of chlorophyl a/b leaves was higher on plant with the score index of 4 than the score of 5 by 74%, but the most severe morphological damage occurs in plant with score of 5, indicating by change of shape and kranz formations (black spots) on the vascular bundle.
Sinkronisasi Source dan Sink untuk Peningkatan Produktivitas Biji pada Tanaman Jarak Pagar . Mastur
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n1.2015.52-68

Abstract

Saat ini dunia sedang menghadapi masalah penurunan cadangan minyak dan dampak lingkungannya. Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan sumber bahan baku biodiesel yang potensial. Pengembangan jarak pagarsaat ini masih terbatas disebabkan usaha tani yang belum menguntungkan terutama disebabkan produktivitas tanaman rendah. Makalah dimaksudkan untuk membahas pendekatan source dan sink untuk peningkatan produktivitas tanaman jarak pagar. Strategi penelitian untuk meningkatkan produktivitas dilakukan dengan peningkatan produksi biologi (biomassa) dan ekonomi (biji dan minyak). Produktivitas dapat meningkat jika terjadi sinergi antara source dan sink. Peningkatan source dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan tanaman dalam memanen energi cahaya melalui peningkatan produksi asimilat dengan peningkatan laju fotosintesis daun individual, perbaikan arsitektur kanopi, serta memperpanjang umur produktif daun terutama selama pembentukan biji. Perbaikan sink dapat dilakukan dengan meningkatkan proporsi bunga betina, meningkatkan proporsi buah jadi, serta meningkatkan laju dan lama pembentukan biji melalui dukungan source. Perbaikan source dan sink tersebut dilakukan melalui pemilihan genotipe tanaman dengan sifat-sifat source dan sink optimal untuk dijadikan bahan perakitan varietas. Perbaikan teknologi budi daya dapat dilakukan dengan pengaturan jarak tanam yang tepat, pemangkasan, pemupukan, pengairan, dan penggunaan ZPT yang tepat baik untuk mendukung kanopi yang produktif sebagai pemasok asimilat, maupun untuk memperbesar kemampuan biji sebagai sink utama dalam memanfaatkan semaksimal mungkin pasokan asimilat untuk sintesis biji dan lemak. Dengan demikian, diharapkan diperoleh tanaman jarak pagar dengan produktivitas tinggi sebagai hasil dari produksi biomassa dan indeks panen tinggi. Nowadays, the world is facing problem of lowering petroleum fuel stocks and its environmental impact. Physic nuts (Jatropha curcas L.) is a plant that can be used as biodiesel feedstock. Extention problem of physic nuts cropping area and its role as biodiesel source is still limited due to low economical value and low productivity. This paper elucidates source and sink and their correlation to productivity based on research. Research strategies are directed to study increase biological yield (biomass) and economical yield (seed and oil content) of physic nut. The yield can be increased by  synergizing between source and sink. Alleviating source could be done byincreasing the ability of plant in increasing photoshinthesis rate, arranging canopy architecture, and prolonging the age leaves especially during seed development. Sink process could be optimized through promoting numberof female flower, number of seeds, and increasing seed initiation and development. The source and sink improvement can be implemented through genotype selection for breeding materials. Cultivation technologyimprovement can be conducted plant optimum spacing and population arrangement, prunning, fertilizing, watering/irrigation, and plant growth regulator application to support productive canopy as assimilat supplier, and also enlarge seed capacity and strength as main sink trough optimum use assimilate for seed and lipid biosynthesis. Therefore, it will be achieved high productivity of physic nuts as a consequences of high biomass and highharvest index.
Pemanfaatan Ekstrak Tanaman untuk Atraktan Predator dan Parasitoid Wereng Kapas . Nurindah; Dwi Adi Sunarto; . Sujak; Nur Asbani; A.M. Amir
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v4n1.2012.21-31

Abstract

Salah satu kendala dalam peningkatan produksi kapas dalam negeri adalah serangan serangga hama. Hama utama tanaman kapas adalah wereng kapas, Amrasca biguttulla. Pengendalian wereng kapas dengan pe-nyemprotan insektisida berakibat pada meningkatnya populasi penggerek buah. Pemanfaatan predator dan parasitoid wereng kapas merupakan solusi pengendalian yang tepat. Penggunaan atraktan untuk mening-katkan populasi predator dan parasitoid pada pertanaman kapas akan meningkatkan peran musuh alami sebagai faktor mortalitas biotik yang efektif. Ekstrak tanaman, terutama yang berupa minyak atsiri, telah banyak digunakan sebagai atraktan musuh alami, tetapi belum banyak yang menggunakannya sebagai atrak-tan musuh alami wereng kapas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ekstrak beberapa tanaman yang diduga dapat berfungsi sebagai atraktan bagi parasitoid telur dan predator wereng kapas di laboratorium dengan pengujian secara olfaktometri dan mengujinya di lapangan dengan menggunakan metode perangkap yang dilengkapi dispenser untuk atraktan. Pengujian di lapangan dilakukan pada pertanaman kapas. Ekstrak tanaman yang diuji adalah daun kapas yang telah terinfestasi oleh A. biguttulla, batang dan daun jagung, dan daun teh hitam (Melalaeuca brachteata) dengan menggunakan pelarut organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri dari ekstrak daun kapas yang terserang A. biguttulla dan daun teh hitam dapat dimanfaatkan sebagai atraktan parasitoid telur wereng kapas. Parasitoid telur menunjukkan respon positif terhadap minyak atsiri dari ekstrak daun kapas yang terserang A. biguttulla dan daun teh hitam dalam uji olfaktometri di laboratorium. Pada uji lapangan, peningkatan populasi parasitoid dengan penam-bahan kedua atraktan tersebut dapat mencapai 176% dibandingkan kontrol. Minyak atsiri dari ekstrak tanaman yang diuji tidak mempunyai pengaruh terhadap predator jenis kumbang kubah, kumbang kembara, kepik mirid, dan sayap jala. ABSTRACTThe Use of Plant Extract for Attractant of Predators and Parasitoids of Cotton LeafhopperCotton production is restricted by pest attack. The key pest of cotton is cotton leafhopper, Amrasca biguttula. Aerial spray to control of this pest caused the increase of bollworm population. Therefore, the use of parasitoids and predators could be a proper method to control the leafhoppers. The use of attractant to in-crease predator and parasitoid population on cotton field would also increase the role of those natural enemies as an effective biotic mortality factor. Plant extracts, especially in the form of essential oils, have been used as attractants for the natural enemies; however attractant for natural enemies of cotton leafhopper has not been intensively developed. Therefore, this research aims were to evaluate some plant extracts that may function as an attractant for egg parasitoid and predators of cotton leafhopper in laboratory tests using olfactometry method, and also to test the effectiveness of the attractant in increasing population of parasi-toids and predators in cotton fields. The plant extracts were of leafhopper-infested-cotton leaves, maize stalks and leaves, and Melalaeuca brachteata leaves, using organic solvents. Results showed that the essential oils of leafhopper-infested-cotton leaves and black-tea tree leaves could be used as an attractant for the hopper egg parasitoids. The parasitoids showed positive response to the essential oils of leafhopper-infested-cotton leaves and black-tea tree leaves in olfactometry tests. The use of those attractants in cotton fields increased parasitoid population by 179% compared to the control. Essential oils of the tested pants did not have any effect on predators, such as ladybird beetles, staphylinid beetles, mirid bugs, as well as lacewings.Keywords: Essential oils, attractant, parasitoid, predator, cotton leafhopper.
Pengaruh Komposisi Media Terhadap Produksi Konidia Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin I.G.A.A. Indrayani; Heri Prabowo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v2n2.2010.88-94

Abstract

Penelitian pengaruh komposisisi media dan suhu terhadap produksi konidia Beauveria bassiana dilaksanakan di Laboratorium Patologi Serangga Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang mulai Mei sampai dengan November 2009. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan komposisi media terha-dap produksi konidia B. bassiana. Perlakuan yang digunakan adalah: (1) beras, (2) jagung, (3) beras+glu-kosa, (4) beras+yeast, (5) jagung+glukosa, dan (6) jagung+yeast. Setiap perlakuan disusun dalam rancang-an acak lengkap (RAL) dengan enam kali ulangan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan dan produksi konidia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beras dan jagung berpotensi menjadi media tumbuh yang baik bagi jamur B. bassiana. Proses pembentukan konidia sudah dimulai pada 3 minggu setelah inoku-lasi, lebih cepat dibanding pada media jagung (4,5 minggu). Penambahan yeast lebih nyata meningkatkan produksi konidia B. bassiana pada beras maupun jagung dibanding dengan penambahan glukosa. Rata-rata produksi konidia pada komposisi media beras+yeast dapat mencapai > 4,0 x 109 konidia/g media dan lebih tinggi dibanding produksi konidia pada media lainnya (< 3,0 x 109 konidia/g media). Study on the effects of solid medium composition and temperature on conidia production of B. bassiana was conducted at Insect Pathology Laboratory of Indonesian Tobacco and Fiber Crops Institute (IToFCRI), Malang from May to November 2009. The objective of the study was to find out the effects of different me-dium composition. Treatments used were (1) whole rice, (2) broken maize, (3) whole rice+glucose, (4) whole rice+yeast, (5) broken maize+glucose, and (6) broken maize+yeast. Each treatment was arranged in randomized complete design (RCD) with six replications. Parameters observed were growth rate and conidial production of B. bassiana at room temperature. Results showed that whole rice and broken maize could be used as solid medium for B. bassiana. Conidia production was faster on most of medium based on whole rice than that on broken maize. On whole rice medium conidia of B. bassiana were produced about 10 days earlier than that on broken maize. Yeast and glucose addition into medium was able to speed up the fungi growth and to increase conidia production. Addition of yeast potentialy increased conidia production com-pared with other medium with glucose addition. Average production of conidia on whole rice+yeast was more than 4,0 x 109 conidia/g medium compared with any other medium composition that produced less than 3,0 x 109 conidia/g medium.
Keragaan Karakter Kualitatif, Kuantitatif, dan Identifikasi Senyawa Kimia Ekstrak N-Heksana Beberapa Aksesi Plasma Nutfah Tembakau Sri Yulaikah; Ahmad Dhiaul Khuluq
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n2.2014.69-80

Abstract

Setiap aksesi plasma nutfah tembakau memiliki keragaan karakter yang berbeda, baik karakter kualitatif, kuantitatif maupun kandungan senyawa kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi keragaan karakter kualitatif dan kuantitatif delapan aksesi tembakau dan menganalisa komponen kimia yang terkan-dung di dalam daunnya. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Karangploso, Malang dan laboratorium Kimia, Universitas Brawijaya tahun 2012. Aksesi plasma nutfah tembakau yang dievaluasi adalah S.2258, S.24/kml2, S.24/kml3, S.2132/sin, S.2224, S.2279, S.2355, dan S.2154/kas. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) diulang 3 kali. Karakter kualitatif yang diamati adalah tepi daun, ujung da-un, kerapatan internode, sudut, dan tangkai daun; karakter kuantitatif yang diamati meliputi jumlah daun, ukuran daun, dan umur berbunga. Kandungan senyawa kimia daun diekstrak dengan N-heksana dan diana-lisa dengan menggunakan GC-MS (gas chromatography mass spectrometry). Hasil karakterisasi kualitatif me-nunjukkan bahwa delapan aksesi yang dianalisa memiliki keragaman karakter. Empat aksesi yang memiliki tepi daun menggulung cenderung mengandung kadar nikotin tinggi. Dari delapan aksesi yang dikarakter, S.2279 menghasilkan daun terbanyak (43,18 lembar), dan S.2224 memiliki jumlah daun paling sedikit (17,45 lembar). S.2279 memiliki umur berbunga paling dalam (135,82 hari), sedangkan paling genjah S.2224 (57,33 hari) tidak beda nyata dengan S.24/kml3 (61,90 hari). Komponen senyawa kimia yang terkandung dalam daun terdiri atas 22 komponen, tergolong dalam kelompok senyawa alkaloid, hidrokarbon, alkohol, ester, eter, asam le-mak, dan isoamyl nitrit. Terdapat empat komponen besar senyawa kimia yang terdeteksi pada semua akse-si, yang salah satunya adalah senyawa nikotin. Kadar nikotin dalam daun berkorelasi negatif dengan jumlah daun, ukuran daun, dan umur berbunga. Each tobacco accession has specific qualitative and quantitative characteristics and contains different chemi-cal compositions. This study aimed to characterize qualitative and quantitative properties of eight tobacco accessions and to analyze chemical components of the tobacco leaves. The study has been conducted at Ka-rangploso Experimental Station of ISFRI, Malang and Chemistry Laboratory of Brawijaya University in 2012. Eight accessions of tobacco germplasm i.e. S.2258, S.24/kml2, S.24/kml3, S.2132/sin, S.2224, S.2279, S.2355, and S.2154/kas were evaluated in randomized block design (RBD) with 3 replications. Observation of quali-tative characters included type of leaf tip, leaf edge, internode, angle, and twig leaf; quantitative characters included leaf size, number of leaves, and flowering time. Chemical components of the leaf were extracted with N-heksana and identified by using GC-MS (gas chromatography mass spectrometry). Qualitative proper-ties of eight accessions showed various characteristics. Four accessions with rolling leaf edge tended to have high nicotine content. Of eight evaluated accessions, S.2279 produced highest leaf number (43.18 sheets), and S.2224 produced the smallest number of leaf (17.45 sheets). S.2279 had the latest flowering age (135.82 days), whilst S.2224 was the earliest (57.33 days) which was no significant different with S.24/kml3 (61.90 days). Chemical components of the evaluated tobacco leaf comprised of 22 compounds belong to alkaloids, hydrocarbons, alcohols, esters, ethers, fatty acids, and isoamyl nitrite. There were four major groups detected on all accessions, which one was nicotine. There was also noted that nicotine content negatively correlated with number of leaves, leaf size, and flowering time.
Analisis Serapan Hara pada Tembakau Burley A.S. Murdiyati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v2n1.2010.1-8

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola serapan hara dan tingkat efisiensi dosis pemupukan N pada tembakau burley. Penelitian ini terdiri atas dua unit percobaan, yaitu: (1) Percobaan di rumah kaca, meng-gunakan varietas Ky 17 ditanam pada 100 pot dengan dosis pemupukan standar. Pengamatan secara perio-dik meliputi kadar N, P, K, Mg, dan berat kering daun, batang, akar, dan total; (2) Percobaan lapangan dila-kukan di Lumajang pada tipe tanah Entisol, dengan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Perla-kuan adalah dosis pemupukan N, yaitu 0, 75, 150, 225, dan 300 kg N/ha. Pengamatan meliputi: akumulasi bahan kering, serapan N, P, K, dan Mg total; hasil kerosok, indeks mutu, dan indeks tanaman. Hasil peneliti-an menunjukkan bahwa tembakau burley mulai memasuki pertumbuhan cepat pada 5 minggu setelah ta-nam, sejalan dengan peningkatan akumulasi bahan kering, N, P, K, dan Mg. Semakin tinggi dosis N, efisiensi pemupukan semakin menurun. Efisiensi serapan N tertinggi (51,56%) diperoleh pada dosis 150 kg N/ha, yang memberikan hasil kerosok 1,77 ton/ha; indeks mutu 59,55; dan indeks tanaman 105,51. Serapan P to-tal 14,26 kg/ha; 36,56% dari pupuk yang diberikan. Serapan K total 140,98 kg K/ha, 53,00% berasal dari K tanah, dan serapan Mg total 54,43 kg Mg/ha. Two experiments were conducted to study nutrient absorption pattern and efficiency of nitrogen utilization of burley tobacco. The first was conducted in screen house. Burley tobacco variety Ky 17 was planted in 100 pots with based recommended fertilization. The data of N, P, K, and Mg concentration and dry matter accu-mulation of leaf, stalk, root, and total were periodically collected. The second experiment was conducted in Pasirian, Lumajang, on Entisol soil, using randomized block design with three replications. The rate of 0, 75, 150, 225, and 300 kg N/ha were applied. The observation parameters were total dry matter, N, P, K, and Mg accumulation; yield, grade index, and crops index. Results showed rapid growth rate of burley tobacco began on 5 weeks after transplanting, related to rapid nutrient accumulation rate. Higher N rate resulted in lower efficiency of N fertilization. The highest N fertilizer absorption efficiency (51.56%) was achieved at 150 kg N/ha that produced 1.77 ton/ha dried leaves, grade index 59.55, and crops index 105.51. Absorption of total P was 14.26 kg/ha or equivalent to 36.56% of P fertilization. Total K absorbed was 140.98 kg K/ha, 53% from the soil, and total Mg absorbed was 54.43 kg Mg/ha.
Analisis Kelayakan Usaha Tani dan Persepsi Petani terhadap Penggunaan Varietas Unggul Kapas Teger Basuki; Dwi Adi Sunarto; . Nurindah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 2 (2009): Oktober 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v1n2.2009.82-91

Abstract

Balittas telah melepas tiga varietas baru kapas seri Kanesia yang mempunyai ketahanan moderat terhadap Amrasca biguttulla, yaitu Kanesia 11, Kanesia 12, dan Kanesia 13. Analisis ekonomi dan persepsi pengguna terhadap varietas-varietas kapas yang telah dilepas dapat memberikan informasi tentang kelayakan suatu varietas untuk dapat dikembangkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang analisis ekonomi dan persepsi pengguna tentang varietas kapas Indonesia (Kanesia) yang mempunyai sifat ketahanan terhadap A. biguttulla. Penelitian ini dilaksanakan di daerah pengembangan kapas di Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah dari Maret–Oktober 2008. Dalam penelitian ini digunakan varietas Kane-sia 10, 11, 12, 13, dan Kanesia 8 sebagai pembanding. Pada kegiatan ini digunakan metode demonstrasi plot dan wawancara. Demonstrasi plot merupakan petak percobaan yang ditanami varietas yang akan di-analisis kelayakannya. Kegiatan ini menggunakan lahan seluas 4 hektar yang dimiliki oleh 11 orang petani. Tata tanam mengikuti pola yang diterapkan petani di Blora dan teknologi budi daya lain diterapkan sesuai rekomendasi Balittas. Pada kegiatan ini analisis kelayakan usaha tani kapas varietas baru dilakukan dengan membandingkan hasil usaha tani secara parsial pada musim tanam jagung dan kapas, yaitu kegiatan pada akhir bulan April sampai dengan awal hingga akhir bulan Agustus. Analisis dilakukan dengan membanding-kan hasil usaha tani varietas-varietas baru pada lahan petani peserta kegiatan ini dengan usaha tani varietas yang sudah digunakan di wilayah tersebut (ISA 205A) di lahan petani IKR dan dengan hasil usaha tani ja-gung di lahan petani yang tidak menanam kapas tumpang sari dengan jagung. Produksi kapas berbiji dari varietas-varietas baru yang diuji pada lahan petani peserta tidak berbeda nyata, tetapi lebih tinggi diban-dingkan dengan produksi varietas pembanding Kanesia 8 sehingga dapat dikatakan bahwa varietas-varietas baru tersebut lebih unggul produktivitasnya dibandingkan Kanesia 8. Budi daya tumpang sari kapas varietas baru dengan jagung memberikan pendapatan yang lebih baik dibandingkan Kanesia 8. Akan tetapi, jika di-bandingkan dengan usaha tani jagung + kapas varietas ISA 205A atau dengan pendapatan usaha tani ja-gung monokultur, maka pendapatan usaha tani varietas-varietas baru ini jauh lebih rendah. Faktor yang ber-pengaruh terhadap perbedaan ini adalah waktu tanam, serta penggunaan input saprodi dan tenaga kerja. Di antara varietas-varietas unggul baru yang diintroduksikan, preferensi petani tertinggi adalah pada Kanesia 10, karena produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan produksi varietas lainnya. Indonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute (IToFCRI) has released three cotton varieties which are moderate resistant to A. biguttulla, namely Kanesia 11, Kanesia 12, and Kanesia 13. Economic analysis and users’ perception to the new varieties would provide in important information of the variety’s feasibility for cotton development. The aim of this research activity was to obtain information about economic analysis and user’s perception of the newly released cotton varieties with moderately resistant to A. biguttulla. This research was conducted in cotton development area, in Jati, Blora, Central Java from March–October 2008. This research used cotton varieties, i.e. Kanesia 10, 11, 12, 13, and Kanesia 8 as a comparison. This re-search used demonstration plots and interview. Demonstration plots were plots where the evaluated varie-ties will be analyzed for their feasibility. This research activity used 4 hectares owned by 11 farmers. Planting system was as farmer’s practice, i.e., cotton intercropped with maize and cultivation technology recom-mended by IToFCRI. This analysis was done by comparing partially farming output of the new varieties planted by participant farmers with that of established varieties (ISA 205A) planted by non-participant farmers and with maize planted by non-participant farmers on April–August 2008. Cotton seed production of the new varieties was not significantly different, however, it was significantly higher than that of the compa-rison variety (Kanesia 8), so that those newly releases varieties are superior to the previously released va-riety. Intercropping maize with new cotton varieties gave a higher income than that with Kanesia 8. How-ever, it was much lower when comparing with the farming output of monoculture maize. Factors affected this different include planting time, the use of farming inputs including man power. Among the introduced cotton varieties, farmer’s preference was to Kanesia 10, because of its production performance.

Page 10 of 20 | Total Record : 196