cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Potensi Sumber Daya Iklim di Kabupaten Bone untuk Pengembangan Tanaman Tebu Prima Diarini Riajaya; Fitriningdyah Tri Kadarwati; . Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n1.2015.28-44

Abstract

Salah satu wilayah pengembangan tanaman tebu lahan kering di Sulawesi Selatan terdapat di Kabupaten Bone dengan dua pabrik gula (PG) yaitu PG Bone dan PG Camming. Produktivitas tebu dan rendemen sangat berfluktuasi dan dipengaruhi oleh faktor iklim selain pengelolaan on farm. Dengan demikian potensi sumber daya iklim yang berpengaruh terhadap produktivitas tebu dan rendemen perlu diketahui. Analisis data iklim di Kabupaten Bone dilaksanakan mulai bulan Juni 2012 sampai Desember 2013. Data yang diperlukan terdiri atas curah hujan, suhu maksimum, suhu minimum, kelembapan, lama penyinaran, dan kecepatan angin yang terkumpul dari Dinas PU Pengairan Provinsi Sulawesi Selatan, PG Camming, dan PG Bone. Data produktivitas tebu dan rendemen diperoleh dari PG Camming dan PG Bone. Awal dan akhir musim hujan, peluang hujan, serta lama periode kering ditentukan berdasarkan metode Markov Chain FirstOrder Probability. Pola sebaran hujan ditentukan berdasarkan isohiet yang dibuat menggunakan program ArcGIS 9.03. Evapotranspirasi dihitung berdasarkan hasil analisis neraca air berdasarkan metode Penman-Monteith menggunakan program CROPWAT 8.0. Sebaran curah hujan tahunan di Kabupaten Bone didominasi oleh pola hujan tahunan >2.000 mm dan 1.500–2.000 mm dan sebagian kecil wilayah Timur dengan curah hujan tahunan <1.000 mm. Tingginya curah hujan yang berlangsung sepanjang tahun menyebabkan rata-rata periode hari kering relatif pendek yaitu 66–92 hari. Evapotranspirasi potensial di wilayah PG Camming berkisar 1.268–1.288 mm sehingga potensi curah hujan dapat memenuhi kebutuhan air tanaman tebu. Tekstur tanah di sebagian besar wilayah pengembangan tebu di Bone adalah tekstur berat dan drainase lahan jelek maka potensi lahan tergenang cukup tinggi. Dengan potensi sumber daya iklim tersebut mengindikasikan bahwa di sebagian besar wilayah PG Bone dan PG Camming optimasi masa tanam sangat penting dan menggunakan varietas tebu masak awal yang tahan kelebihan air terutama pada wilayah dengan curah hujan >2.000 mm/tahun. Selain itu perlu ditunjang dengan usaha memanen air hujan yang melimpah dan perbaikan drainase. Waktu tanam yang optimum adalah tengah bulan pertama Oktober sampai tengah bulan pertama November (10A–11A) di wilayah PG Camming dan tengah bulan pertama November (11A) di wilayah PG Bone. One of sugar cane cultivation area of dry land in South Sulawesi  concentrated in Bone regency with two sugar mills (Bone and Camming). The productivity of sugar cane and sugar are fluctuated and mostly causedby climatic factors. Therefore, climate resources in Bone regency that influence sugar cane growth and yield need to be evaluated. Analysis of climate data in Bone regency was conducted from June 2012 up to December 2013 based on the data of rainfall, maximum temperature, minimum temperature, humidity, sun shine duration, and wind speed collected from the Department of Irrigation Works South Sulawesi Province, Camming and Bone Sugar Mills. Cane and sugar production were collected from Camming and Bone Sugar Mills. The onset and end of rainy season, length of dryspell, and rainfall probability were analysed by The MarkovChain First Order Probability Method. Rainfall pattern was determined by using isohiet. Evapotranspiration was calculated by water balance analysis. Rainfall pattern in Bone was dominated by annual rainfall pattern >2,000 mm and 1,500–2,000 mm, eastern part of Bone has annual rainfall pattern <1,000 mm. The high rainfall that lasted throughout the year resulted in relatively short average dry day (66–92 days). Potential evapotranspiration in the region of Camming Sugar Mill ranges from 1,268 to 1,288 mm so the annual rainfall can meet crop water requirement of sugar cane. Heavy soil texture and bad soil drainage in Bone regions resulted in flooded land. Based on climate resources, it indicates that in most areas of the Bone and Camming Sugar Mills optimization of planting time is critical, use of sugar cane varieties with early maturity and resistant to excess water, and effort to harvest the abundant rainwater especially in areas with rainfall >2000mm/year, and improvement in drainage system. Optimum planting season in Camming Sugar Mill is the first half of October to second half of  November (10A–11A) and the first half of November (11A) in Bone SugarMill.
Pengaruh Waktu Inokulasi dan Jumlah Inokulum Terhadap Patogenisitas Phytophthora nicotianae pada Bibit Tembakau Nurul Hidayah; Titiek Yulianti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 2 (2010): Oktober 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v2n2.2010.75-80

Abstract

Waktu inokulasi yang tepat serta jumlah inokulum yang digunakan merupakan salah satu faktor yang me-nentukan keberhasilan inokulasi buatan yang lazim dilakukan dalam pengujian ketahanan suatu varietas ter-hadap patogen tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu inokulasi dan jumlah inokulum Phytophthora nicotianae yang paling efektif untuk dapat menimbulkan gejala penyakit lanas pada bibit tembakau. Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan rumah kasa Fitopatologi Balittas, Malang pada bulan Juli Oktober 2006. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, yaitu umur bibit saat inokulasi (faktor I), terdiri dari tiga tingkat yaitu: 1) bibit berumur 5 minggu setelah se-mai (mss), 2) bibit berumur 6 mss dan 3) bibit berumur 7 mss dan jumlah inokulum (faktor II), terdiri dari 4 tingkat yaitu: 1) tanpa inokulum (kontrol), 2) 1.3502.400 zoospora/bibit, 2) 2.7004.800 zoospora/bibit, dan 4) 5.4009.600 zoospora/bibit. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Pengamatan dilaku-kan pada masa inkubasi dan kejadian penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit dipengaruhi oleh umur bibit saat inokulasi. Bibit yang lebih muda mempunyai masa inkubasi lebih cepat yak-ni 4,5 hari dibandingkan dengan bibit yang lebih tua. Kejadian penyakit tertinggi yaitu sebesar 56,9% terjadi pada saat bibit diinokulasi berumur 5 mss dengan jumlah inokulum 1.3502.400 zoospora/bibit. Suitable time of inoculation and inoculum density are factors to determine the success of artificial inoculation to evaluate of resistant level of plant variety to pathogen. The aim of this research was to study the appro-priate time of inoculation and inoculum density of Phytophthora nicotianae, the causal agent of black shank and damping off on tobacco seedling. The research was conducted in Phytopathology laboratory and screen house of IToFCRI Malang from July-October 2006. This research was arranged in complete randomized de-sign which consisted two factors and three replicates. The first factor was comprised of three times of ino-culation, and the second was the density of P. nicotianae inoculum. The parameters observed were incuba-tion period and disease incidence. The result showed that the incubation period was affected by the age of seedling when it was inoculated. The younger seedling was more susceptible than the older one. The high disease incidence (56.9%) was reached when the seedling five weeks old and inoculated by inoculum con-tained of 1,3502,400 zoospores/seedling.
Potensi dan Peluang Biji Jarak Pagar untuk Substitusi Bahan Bakar Kompor Masak Skala Rumah Tanggadi Pedesaan Abi Dwi Hastono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n1.2014.50-58

Abstract

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang diprogramkan sebagai salah satu penghasil sum-ber energi baru dan terbarukan. Pemanfaatan biji jarak pagar sebagai sumber energi di pedesaan Indonesia belum banyak dipublikasikan.  Tulisan tinjauan ini bertujuan untuk membahas potensi biji jarak pagar yang sudah ada di pedesaan untuk bahan bakar kompor masak skala rumah tangga sebagai substitusi minyak ta-nah dan LPG. Kompor berbahan bakar biji jarak pagar hasil perekayasaan Balittas berpeluang besar untuk diaplikasikan guna memenuhi kebutuhan memasak skala rumah tangga di pedesaan.  Penyediaan biji jarak pagar sebagai bahan bakar kompor dapat diperoleh dengan mengusahakan tanaman jarak pagar yang sudah ada supaya berproduksi sesuai dengan kebutuhan, atau menanam lagi sesuai dengan program pengembang-an komoditas ini. Peningkatan produksi biji jarak pagar tersebut dapat dicapai melalui penerapan sistem budi daya yang tepat.  Penggunaan kompor berbahan bakar biji jarak pagar dengan kapasitas 600 g, konsumsi bahan bakar sebanyak 300 gram biji jarak per jam menghasilkan nyala api di dalam kompor sekitar 420oC dapat menyubstitusi penggunaan LPG sebesar 20% atau mengganti penggunaan kayu bakar sebesar35% untuk kebutuhan memasak skala rumah tangga. Physic nut (Jatropha curcas L.) has been recommendedas one of a new and renewable energy source. Uti-lization of physic nut seeds as an energy source in Indonesian villages has not been intensively published.  This review is aimed to discuss a possibility of the utilization of existed jatropha seeds existing in some vi-llages for household stove as a substitute for kerosene or LPG.  The stove using jatropha seed was designed by Balittas and prospective to be applied to fulfill the cooking need at household level in the village. The seed supply could be obtained from the existing jatropha plants by applying cultural practices to get the seed pro-duction as much as needed for cooking.  The use of jatropha seed stove (capacity 600 g; consumption 300 g/h, heat production around 420oC would substitute or replace the use of LPG and/or fire woods the villagers usually used by 20% and 35%, respectively.
Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Kapas Ramah Lingkungan Dwi Adi Sunarto; Anastasia Siti Murdiyati; . Nurindah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v3n1.2011.38-47

Abstract

Penerapan komponen teknologi pengendalian hama ramah lingkungan dilaksanakan di daerah pengembang-an kapas di Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah di lahan petani seluas ± 5 hektar yang dimiliki oleh 20 petani pada bulan Maret sampai dengan Oktober 2009. Komponen teknologi pengendalian hama ra-mah lingkungan diharapkan menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi masalah serangga hama pada tanam-an kapas dan dapat diterima oleh petani. Pengendalian serangga hama kapas yang diterapkan adalah pengen-dalian serangga hama ramah lingkungan dengan komponen pengendalian yang terdiri atas seed treatment dengan insektisida imidakloprit dan penyemprotan insektisida botani ekstrak biji mimba berdasarkan ambang kendali yang mempertimbangkan keberadaan musuh alami dibandingkan dengan pengendalian serangga ha-ma konvensional (pengendalian hama menggunakan insektisida kimiawi sintetis seperti yang biasa diterap-kan oleh petani). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan komponen teknologi pengendalian hama ra-mah lingkungan yang terdiri atas seed treatment, insektisida botani ekstrak biji mimba, dan ambang kendali dengan mempertimbangkan keberadaan musuh alami, terbukti dapat menekan populasi serangga hama ka-pas selalu di bawah batas ambang kendali dan tidak berbeda dengan pengendalian hama secara konvensio-nal. Pengendalian hama ramah lingkungan lebih aman terhadap musuh alami dengan pendapatan usaha tani kapas Rp621.250,00 lebih tinggi dibanding pengendalian hama secara konvensional. Teknologi pengendalian hama ramah lingkungan dapat diterima oleh petani, kecuali teknologi ambang kendali yang secara konsep da-pat diterima, tetapi petani masih enggan untuk melaksanakannya. Application of environmentally friendly pest control technology is expected to be the best solution to over-come insect pest problem on cotton crops and can be accepted by farmers. The research was conducted in the area of cotton development in Jati District, Blora Regency, Central Java on farmers' land area of 5 hectares owned by 20 farmers from March to October 2009. The applied treatments were: application of environmen-tally friendly pest insect control components, ie: seed treatment and botanical neem seed extracts insecticide sprayed based on an action threshold that considers the presence of natural enemies took in to account, compared with conventional pest control (pest control using synthetic chemical insecticides commonly used by the cotton farmers). The results showed that the application of environmentally friendly pest control tech-nology suppressed cotton insect pest population with no negative effect on natural enemies, and retained seed cotton production, increased the income of cotton farming as much as Rp621.250,00. Components of en-vironmentally friendly pest control technology can be accepted by cotton farmers, including the action thres-hold concept. However, the farmers were mind to implement the action threshold as it is too complicated for them.
Tanaman Perangkap untuk Pengendalian Serangga Hama Tembakau . Nurindah; Dwi Adi Sunarto; . Sujak
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 2 (2009): Oktober 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v1n2.2009.55-68

Abstract

Pengelolaan serangga hama dalam good agricultural practices (GAP) menerapkan cara-cara memproduksi tanaman yang berkualitas dengan menggunakan metode-metode pengelolaan serangga hama yang dapat meningkatkan keragaman genetik, keanekaragaman hayati dan habitatnya, serta terhadap struktur sosial dan komunitas pedesaan. Strategi ‘tolak-tarik’ (‘push-pull’ strategy) merupakan salah satu teknik pengenda-lian hama yang berprinsip pada komponen pengendalian non-toksik, sehingga dapat diintegrasikan dengan metode-metode lain yang dapat menekan perkembangan populasi hama dengan meningkatkan peran mu-suh alami pada pertanaman. Penelitian tanaman perangkap untuk pengendalian serangga tanaman temba-kau cerutu besuki dilaksanakan di Desa Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Jember pada bulan Agustus–De-sember 2008. Pada penelitian ini digunakan tanaman jarak kepyar, sorgum, dan kacang hijau sebagai ta-naman penarik yang ditanam secara berlajur sebanyak satu atau dua baris di antara delapan baris tanaman tembakau. Sebagai pembanding adalah tanaman tembakau monokultur dengan penyemprotan insektisida secara berjadwal setiap empat hari sejak 10–50 HST dan petak kontrol, yaitu tanaman monokultur tanpa pe-ngendalian hama sama sekali. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok dengan lima perlakuan yang diulang lima kali. Penelitian ini bertujuan untuk memilih tanaman perangkap yang dapat digunakan da-lam program pengendalian hama cerutu besuki secara terpadu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanam-an jarak kepyar, sorgum, dan kacang hijau dapat digunakan sebagai tanaman perangkap, sehingga populasi hama pada tembakau dapat ditekan hingga 50% dan diperoleh produksi daun basah (8,62–9,17 ton/ha vs 8,42 ton/ha) dan kerosok (1,01–1,07 ton/ha vs 0,96 ton/ha) dengan mutu yang lebih baik dibandingkan kontrol (indeks mutu: 62,5–64,4 vs 62,1). Penggunaan kacang hijau memberikan produksi kerosok dengan mutu baik tertinggi, sehingga memberikan penerimaan yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain. Pe-nyemprotan insektisida secara berjadwal untuk mengendalikan serangga hama tembakau cerutu besuki na-oogst merupakan tindakan pengendalian yang tidak efektif dan juga tidak efisien, karena sasaran serangga hama tidak tepat, sehingga terjadi pemborosan biaya input. Pest management in good agricultural practices concept use methods of qualified crop production processes with considering increasing genetic diversity, biodiversity and its habitat as well as social structure and village community. Push-and-pull strategy is a pest control method with a non-toxic method principal so that it can be integrated with other methods to suppress pest population and increase natural enemies’ populationin the ecosystems. Research on trap crops used for controlling insect pests on besuki-cigar tobaccowas conducted on besuki-cigar tobacco fields planted after rice (na-oogst) in Jember on August–December2008. In this research activity we used castor, sorghum, and mungbean as trap crops, each was intercroppedin one or two rows between eight rows of tobacco plants. We used monoculture tobacco plants withscheduled sprays of chemical insecticide, i.e. 4 days-spray interval on 10–50 days after planting and controlplots without any insect pest control for comparison with the use of trap crops. The research was arrangedin randomized block design with five treatments and five replicates. The aim of the research is to choose asuitable trap crop used in pest management of besuki cigar tobacco. The results showed that castor, sorghum,and mungbean could be use as trap crops to suppress insect pests population up to 25% on tobaccoplants and would give leaf production (1.01–1.07 ton/ha vs 0,96 ton cured leaves/ha) with a better quality(quality index: 62.5–64.4 vs 62.1) than those of control. Mungbean is the best trap crop as it gives a highestleaf production with a better quality, so that gives a better income than those of other treatments. Scheduledchemical insecticide sprays to control insect pest on na-oogst-besuki cigar tobacco was not either effectiveor efficient, because the target pest was not right, so that causing a wasteful input cost.
Kesesuaian Tipe Kemasakan Varietas Tebu pada Tipologi Lahan Bertekstur Berat, Tadah Hujan, dan Drainase Lancar Prima Diarini Riajaya; Fitriningdyah Tri Kadarwati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v8n2.2016.88-98

Abstract

Tanaman tebu merupakan salah satu tanaman perkebunan yang strategis berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gula.  Saat ini berbagai tipe kemasakan varietas tebu dapat ditemui pada tipologi lahan yang sama sehingga potensi varietas akan sulit dicapai pada tipologi lahan yang tidak sesuai. Untuk itu kesesuaian varietas tebu dengan tipe kemasakan yang berbeda perlu diuji dengan tipologi lahan.  Penelitian dilaksanakan di Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan dengan tipologi lahan tekstur tanah berat (B), lahan tadah hujan (H), dan drainase lancar (L) atau BHL mulai Oktober 2014 sampai September 2015.  Penelitian lapang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang 5 kali dengan 8 perlakuan varietas dengan tipe kemasakan yang berbeda yaitu PS 881 (Awal);  Cenning, PSJK 922, dan PS 882 (Awal Tengah);  KK, VMC 76-16, PSDK 923, dan BL (Tengah Lambat).  Varietas tebu yang ditanam menggunakan benih bagal mata 2–3 dengan PKP 135 cm.  Kesesuaian tipologi lahan BHL dengan tipe kemasakan varietas tebu menunjukkan bahwa varietas tebu tipe kemasakan awal bila ditanam tepat waktu menghasilkan produktivitas sama dengan varietas masak tengah lambat dengan tingkat produktivitas (92,98–109,28 ton/ha). Varietas tebu dengan  tipe ke masakan awal sampai awal tengah menghasilkan produktivitas tebu 93–96 ton/ha menggunakan varietas PS 881, Cenning, dan PSJK 922, dan varietas tengah lambat menghasilkan produktivitas tebu 92-109 ton/ha menggunakan varietas VMC-7616, PSDK 923, dan BL.  Produksi hablur tertinggi varietas masak awal 8,46 ton/ha (PS 881), varietas awal tengah 8,66 ton/ha (PSJK 922), varietas  tengah lambat 9,40 ton/ha (PSDK 923).  Panen tebu dilakukan berdasarkan tingkat kemasakan yang optimal, di lokasi penelitian (wilayah Bangkalan, Madura) varietas tipe kemasakan awal sampai awal tengah mencapai tingkat kemasakan optimal pada saat tanaman mencapai umur 9 bulan dan 9,5 bulan setelah tanam pada tipe kemasakan tengah lambat. Dengan demikian pada tipologi lahan BHL direkomendasikan penggunaan varietas tebu dengan tipe kemasakan awal sampai tengah lambat.  Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan penataan varietas tebu. Pemilihan varietas yang berproduksi tinggi dan tahan kepras serta sesuai dengan lingkungan setempat  sangat dianjurkan. Sugar cane is one of the strategic plantation crops associated with the fulfillment of sugar. At present various types of ripening sugarcane varieties can be found on the same land typology, so the potential productivity of a variety would be difficult to achieve on a typology that is not appropriate. The suitability of sugarcane varieties with different maturity types need to be checked with appropriate land typology. The research was conducted in East Gili, Kamal, Bangkalan on the land typology of heavy soil texture (B), the rainfed (H), and good drainage (L) or BHL started in October 2014 to September 2015. The field research was designed using a Randomized Block Design (RAK) with five replications with 8 varieties treatments namely PS 881 (early maturity), Cenning, PSJK 922 and PS 882 (middle early maturity); KK, VMC 76-16, PSDK 923 and BL (middle late maturity). Sugarcane stalks with 2-3 buds of each variety were planted per plot at 135 cm row spacing. Suitability of sugarcane varieties with different maturity types with land tipology showed that early maturity sugarcane varieties planted at the right time produced the similar productivity with late maturity varieties on lands with BHL tipology with a ranges of productivity 92.98 to 109.28 tons/ha. Sugarcane varieties with early maturity to mid early maturity of sugarcane produced 93-96 tons/ha using PS 881, Cenning, and PSJK 922, and varieties with mid late to late maturity produced 92-109 tonnes/ha using VMC-7616, PSDK 923, and BL. High sugar yields were produced by early variety of 8.46 tonnes/ha (PS 881), mid early variety of 8.66 tonnes/ha (PSJK 922), mid late variety of 9,40 tonnes/ha (PSDK 923). Cane harvesting was done based on the optimum maturity, in the study site (Bangkalan, Madura) cane varieties with early to middle early maturty reached the optimal maturity at the crop age of 9 months and 9.5 months in middle late maturity. Thus the land tipology of BHL recommended the use of sugarcane varieties with early to mid late maturity. This information can be used as a basis for the implementation of the planting management of sugarcane varieties.  Selection of high yielding varieties and ratooning ability and appropriate to the local environment is highly recommended. 
Pengaruh PGPR terhadap Penekanan Populasi Nematoda Puru Akar (Meloidogyne incognita (Kofoid and White) Chitwood) pada Tanaman Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Kristiana Sri Wijayanti; Bambang Tri Rahardjo; Toto Himawan
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v8n1.2016.30-39

Abstract

Tanaman kenaf yang terinfeksi nematoda Meloidogyne incognita  dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan produksi serat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dalam menekan populasi nematoda M. incognita pada tanaman kenaf di rumah kaca. Penelitian dirancang dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, faktor pertama adalah cara aplikasi PGPR yang terdiri atas 2 cara yaitu suspensi PGPR diberikan sebelum tanam dengan merendam benih selama 5 jam (C1), benih ditanam langsung dalam pot tanpa direndam dalam PGPR (C2), dan suspensi PGPR diberikan pada 15 hari setelah tanam (HST) dan 25 HST. Faktor kedua adalah jenis PGPR yang digunakan yaitu Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis, Azotobacter sp., P. fluorescens + B. subtilis, P. fluorescens + Azotobacter sp., B. subtilis + Azotobacter sp., dan P. fluorescens + B. subtilis + Azotobacter sp., serta kontrol (tanpa PGPR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman benih dengan kombinasi tiga bakteri memberikan pengaruh yang nyata terhadap populasi juvenil nematoda dalam tanah, sedangkan perlakuan tanpa perendaman tidak memberikan pengaruh. Populasi juvenil nematoda di dalam akar yang diberi PGPR baik tunggal maupun kombinasi melalui perendaman benih atau tanpa perendaman benih tidak berpengaruh, kecuali pada kombinasi P. fluorescens dan B. subtilis yang diberikan melalui perendaman benih mampu menekan populasi juvenil nematoda di akar 43,28% bila dibandingkan tanpa perendaman benih. Pemberian rizobakteri P. fluorescens  menurunkan jumlah telur nematoda terbanyak (86,39%) dan menekan intensitas penyakit sebesar 71,95% bila dibandingkan kontrol.Infection of Meloidogyne incognita on kenaf could affect its growth and the production of fiber. This study aimed to evaluate the effect of PGPR on the reduction of nematode M. incognita population on kenaf in the greenhouse. The factorial experiment was laid on randomized block design. The study consisted of two factors with three replicates . The first factor was method of PGPR application, ie: PGPR suspension was given before planting (kenaf seeds was soaked for 5 hours) (C1) and the seeds directly planted without submerged (C2), PGPR suspension was given at 15 days after planting (DAP) and 25 dap. The second factor was type of bacteria (Pseudomonas  fluorescens,  Bacillus  subtilis,  Azotobacter  sp.,  P.  fluorescens + B. subtilis, P. fluorescens + Azotobacter  sp., B. subtilis + Azotobacter  sp.,  and  P.  fluorescens  +  B. subtilis   + Azotobacter  sp.) and control. The results showed that submerged seed with the three bacterial rhizobacteria significant compared to the control treatment and single treatment and two combination rhizobacteria, while without submerged seed with single or combination rhizobacteria not significant on the population of juvenile nematodes in the soil. Combination of P. fluorescens and B. subtiliswith submerged seed capable of suppressing the population of  juvenile  nematodes  in the  roots  of 43.28%  when  compared with or without submerged seed.   Population  of  juvenile  nematodes  in the  roots by submerged seed and without submerged seed either single or combination rhizobacteria do not affect each other. P. fluorescens suppress nematode eggs are highest 86.39% and disease intensity by 71,95% where compared to control.
Uji Daya Hasil Genotipe Tebu Potensial di Lahan Kering Abdurrakhman Abdurrakhman; Bambang Heliyanto; Djumali Djumali; Damanhuri Damanhuri; Noer Rahmi Ardiarini
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n1.2018.31-40

Abstract

 Pengembangan tebu di Indonesia saat ini sebagian besar terdapat di lahan kering, oleh karena itu perakitan varietas toleran kekeringan merupakan suatu langkah yang bijaksana, karena merupakan pendekatan yang paling mudah aplikasinya dan ekonomis. Saat ini telah diperoleh beberapa genotipe harapan tebu untuk lahan kering. Penelitian ini bertujuan unuk mengkaji daya hasil genotipe tebu hasil persilangan untuk pengembangan di lahan kering. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Ngemplak, Pati dari bulan Januari sampai dengan November 2017, menggunakan 8 genotipe tebu yang berpotensi toleran kering dibandingkan dengan 2 varietas PS 864 dan Kenthung) sebagai pembanding. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok yang diulang tiga kali. Petak yang digunakan berukuran 5 m x 10 m, serta jarak pusat ke pusat (PKP) 1 m, atau 10 juring dengan panjang masing-masing 5 m. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah batang per meter juring, jumlah ruas, panjang batang, bobot batang, nilai brix nira batang bagian atas, tengah dan bawah, rendemen serta hasil hablur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh terhadap keragaan hasil tebu dan komponen hasilnya. Genotipe MLG 1308 mempunyai produksi hablur tertinggi diantara genotipe lain, 21% lebih tinggi dibandingkan varietas pembanding PS 864 dan 156% dibandingkan dengan Kenthung. Dengan demikian genotipe MLG 1308 adalah genotipe harapan untuk pengembangan tebu di lahan kering Yield Test of  Potential  Genotypes of Sugarcane in Dry  ConditionsSugarcane cultivation in Indonesia have been mostly done in dry lands, therefore consructing tolerant varieties to dry-agro-ecological condition is a wise decision as it is easily applicable and economically feasible. Currently, some genotypes tolerant to dry condition have been identified. This research was aimed to test the yield performance of potentially drought tolerant genotypes. The reserch was done in Research Station Ngemplak, Pati on January to December 2018, used 8 genotypes and two varieties (PS 864 and Kenthung) as comparision varieties. The research used randomized block design with 3 replicates. Plot size was 5 m x 10 m and the distance from center to center was 1 m, 10 rows with length 5 m per row. The parameters observed were plant height, stem diameter, number of stalk per m row, number of internode per stalk, length and weight of stalk, upper stem brix, mid and lower, sugar content/sucrose content and sugar yield per ha. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by Duncan Multiple Range Test at 5% level. Results showed that genotypes affected the performances of yield and its component characters. MLG 1308 showed the highest sugar yield per ha among the other genotypes, 21 % and 156 % higher than that of variety PS 864 and Kenthung varieties, respectively. Therefore, genotype MLG 1308 is considered as a promising genotype to support the development of sugarcane in dry areas.
Pengaruh Pupuk Majemuk Berbentuk Granul dan Briket Terhadap Pertumbuhan, Produktivitas, dan Rendemen Tebu Supriyadi Supriyadi; Nunik Eka Diana; Djumali Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n1.2017.34-41

Abstract

Program intensifikasi tebu dalam rangka meningkatkan produksi dan hablur dapat dilakukan dengan penambahan hara tanah melalui aplikasi pupuk.  Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas  pupuk majemuk NPK (22% N:12% P2O5:12% K2O) berbentuk granul dan briket terhadap pertumbuhan, produktivitas, dan rendemen tebu.  Penelitian dilakukan pada bulan November 2012-Oktober 2013 di Kebun Percobaan  Kalipare, Kabupaten Malang. Perlakuan meliputi (1) 600 kg/ha NPK granul (G1), (2) 700 kg/ha NPK granul (G2), (3) 800 kg/ha NPK granul (G3), (4) 1.000 kg/ha NPK granul (G4), (5)  600 kg/ha NPK granul (G5) + 300 kg/ha Ammonium Sulfat (AS), (6) 700 kg/ha NPK granul (G6) + 300 kg/ha AS, (7) 800 kg/ha NPK granul (G7) + 300 kg/ha AS, (8) 1.000 kg/ha NPK granul (G8) + 300 kg/ha AS, (9) 600 kg/ha NPK briket (B1), (10) 700 kg/ha NPK briket (B2), (11) 800 kg/ha NPK briket (B3), (12) 1000 kg/ha NPK briket (B4), (13) 600 kg/ha NPK briket (B5) + 300 kg/ha AS, (14) 700 kg/ha NPK briket (B6) + 300 kg/ha AS, (15) 800 kg/ha NPK briket (B7) + 300 kg/ha AS, (16)  1.000 kg/ha NPK briket (B8) + 300 kg/ha AS, (17) 600 kg/ha (N15, P15, K15) + 500 kg/ha AS (pembanding/aplikasi petani). Rancangan disusun secara acak kelompok dan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B8,  B6, B7, dan G8 menghasilkan pertumbuhan, produktivitas, rendemen, dan hasil hablur lebih tinggi dibanding dengan pembandingnya. Perlakuan B6 paling efisien dalam meningkatkan produktivitas (22,29 ton/ha), hasil hablur (2,03 ton/ha) dan keuntungan (Rp11.013.120,00/ha).The Influence of Granular and Briquette Compound Fertilizers on Growth, Productivity,and Sugar Content of SugarcaneIntensification program of sugarcane in order to increase production and sugar crystal can be done with the addition of soil nutrient through fertilizer application. This study aims to evaluate the effectiveness of NPK compound fertilizer (22% N:12% P2O5:12% K2O) in the form of granular and briquettes to growth, productivity, and sugar content. The research was conducted on November 2012–October 2013 at Kalipare Experiment Station, Malang. The treatments include (1) 600 kg/ha granule NPK (G1), (2) 700 kg/ha granule NPK (G2), (3) 800 kg/ha granule NPK (G3), (4) 1,000 kg/ha NPK granule (G6) + 300 kg/ha NPK granule (G5) + 300 kg/ha Ammonium Sulphate (US), (6) 700 kg/ha NPK granule (G6) + 300 kg / ha US, (7) 800 kg / ha NPK granule (G7) + 300 kg / ha US, (8) 1,000 kg / ha granule NPK (G8) + 300 kg/ha US, (9) 600 kg/ha NPK briquettes (B1), (10) 700 kg/ha NPK briquettes (B3), (12) 1.000 kg/ha NPK briquettes (B4), (13) 600 kg/ha NPK briquettes (B5) + 300 kg/ha US, (14) 700 kg/ha NPK briquette (B6) + 300 kg/ha US, (15) 800 kg/ha NPK briquette (B7) + 300 kg/ha US, (16) 1,000 kg/ha NPK briquettes (B8) + 300 kg/ha US, (17) 600 kg/ha (N15, P15, K15) + 500 kg/ha AS (famer’s application). The experiment was arranged design in randomized block design and repeated three times. The results showed that treatments B8, B6, B7, and G8 resulted in higher growth, productivity, and sugar production compared to farmer’s application. The treatment of B6 is the most efficient in increasing productivity (22.29 ton/ha), sugar production (2.03 ton/ha), and net profit (Rp11,013,120/ha).
Respon Fisiologis Tanaman Tebu Terhadap Kekeringan . Mastur
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v8n2.2016.99-112

Abstract

Produksi tebu nasional sering terhambat oleh adanya masalah kekeringan.  Tujuan dari penulisan tinjauan ini adalah untuk membahas hasil-hasil penelitian tentang respon fisiologi tanaman tebu terhadap kekeringan sebagai dasar bagi pengelolaannya baik secara genetik maupun teknologi budi daya. Melalui tinjauan ini diharapkan kegiatan perakitan varietas unggul toleran kekeringan dan teknologi budi daya untuk penurunan dampak kekeringan lebih efektif. Kekeringan menyebabkan perubahan aktivitas fisiologis  penting dimulai dari penutupan stomata untuk menekan transpirasi, penurunan input karbondioksida, penurunan jumlah klorofil, dan pada akhirnya penurunan laju fotosintesis netto. Akar merespon kekeringan dengan mensintesis dan mengirimkan sinyal asam absisat (ABA) yang mengakibatkan penutupan stomata sehingga menurunkan transpirasi dan serapan CO2. Kekeringan menyebabkan penurunan kandungan klorofil a, b, dan nisbah klorofil a/b. Penurunan laju fotosintesis dan kegiatan fisiologis lain menurunkan pertumbuhan tanaman tebu, dan akhirnya produktivitas gula. Genotipe yang toleran kekeringan menunjukkan kemampuan untuk meminimalkan pengaruh buruk kekeringan. Tingkat kerugian dari kekeringan paling besar pada fase perpanjangan, karena fase kebutuhan air yang besar untuk meningkatkan bobot tebu, terutama untuk pemanjangan batang. Fase pemasakan membutuhkan air paling sedikit, namun sangat penting karena menentukan rendemen gula. Konsentrasi senyawa osmoprotektan, yang membantu mengatasi peningkatan potensial osmosis sel, pada genotipe tanaman toleran kekeringan meningkat tinggi pada kondisi kekeringan.  Senyawa osmoprotektan dapat berupa kelompok asam amino, gula atau amonium kuarter, seperti prolin, trehalosa, dan glisin betain.  Senyawa lain untuk ketahanan kekeringan adalah larutan kompatibel yang memiliki bobot molekul rendah, mudah larut dan non-toksik dalam sitosol. Pemahaman biosintesis dan fungsi senyawa tersebut merupakan dasar dari upaya pemanfaatannya untuk penelitian dan pengelolaan kekeringan terutama melalui pemuliaan bioteknologi, konvensional, maupun produksi senyawa osmoprotek-tan untuk aplikasi eksogen. National sugarcane production is often inhibited by drought problem. The objective of this review is to discuss research findings on physiological responses of sugarcane to drought as a base for genetic and cultivation management. Through this review drought tolerance breeding activities and cultivation technology for mitigationimpact will be coped with more effectively.  Drought influencesesimportant physiological activities from stomata closure to minimize transpiration, reducing carbon dioxide input, chlorophylland nettphotosynthesis. Plant roots respond to drought througoutbiosynthesis and send signalto abscisic acid (ABA) for closing stomata to reduce transpiration and CO2 absorption. Drought reduces chlorophyll a, b, and a/b ratio. Reducing photosynthesis rate and other physiological activities inhibit sugarcanegrowth, and finally sugar productivity.  Drought tolerance genotype hasabilityto minimize these negative impacts.  The most lost productivity caused by drought is taking place during elongation phase, especially stalk elongation. Ripening phase requires least water, but it is very important to sucrose accumulation. Concentration of osmoprotectant compounds, which helps to cope with increasing cell osmosis potential on drought tolerance plant genotypes, increases during drought condition, however, it is high during drought, especially in tolerance genotype, Osmoprotectant compounds are amino acid, sugar, or quartenary ammonium, such as proline, trehalosa, and glicine betain.  Other compounds for plant tolerance to drought is compatible solute which has low molecular weight, high solable, and nontoxic cytosolic.  Understanding on biosynthesis and function of osmoprotectant are required as a base for further research on drought tolerance mechanism and managing drought especially in biotechnology plant breeding, conventional, and producttion of osmoprotectant for exogenous application.