cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Respon Pemberian Paclobutrazol pada Beberapa Varietas Kapas (Gossypium hirsutum L.) di Lahan Sawah Sesudah Padi Budi Santoso; Fitriningdyah Tri Kadarwati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v3n1.2011.30-37

Abstract

Kapas (Gossypium hirsutum L.) merupakan penghasil serat alam yang digunakan untuk bahan baku tekstil. Pengembangan kapas diarahkan ke lahan-lahan marginal, walaupun sebagian ada yang ditanam pada sawah sesudah padi. Tingkat produktivitas serat kapas, saat ini masih rendah sekitar 0,8 sampai dengan 1 ton per hektar. Usaha peningkatan produksi kapas antara lain dengan pemberian zat stimulan (paclobutrazol), teruta-ma untuk memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah bu-nga, dan jumlah buah. Kedua komponen tersebut menjadi penentu hasil serat. Paclobutrazol adalah zat stimu-lan bagi tanaman. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sumberrejo, Bojonegoro pada bulan Mei sam-pai dengan Oktober 2010, pada lahan sawah sesudah padi. Perlakuan disusun secara faktorial dengan meng-gunakan rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak empat kali. Sebagai faktor pertama adalah 4 varietas kapas yang terdiri atas 1) Kanesia 8, 2) Kanesia 13, 3) Kanesia 14, dan 4) Kanesia 15. Faktor kedua adalah pemberian paclobutrazol melalui penyemprotan pada tanaman dengan dosis: a) 0; b) 1,50 l/ha diberikan sekali pada umur 60 hari; dan c) 1,50 l/ha diberikan dua kali umur 60 hari dan 75 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapas varietas Kanesia 8 dan 13 yang ditanam di lahan sawah sesudah padi mempunyai pertumbuhan vegetatif dan generatif optimal, kemudian disusul dengan Kanesia 13, Kanesia 14, dan Ka-nesia 15. Paclobutrazol yang disemprotkan pada tanaman kapas, tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan baik vegetatif maupun generatif. Hasil kapas berbiji untuk varietas kapas Kanesia 8 dan Kanesia 13 sama, masing-masing sebesar 1.643 kg/ha dan 1.686 kg/ha. Cotton is a natural fibre crop for some textile raw material. The development of cotton is directed mainly to marginal lands, although few of it is planted in paddy fields after rice harvested. The productivity level of cotton fibre, is still low, about 0.8 to 1 ton per hectare. Effort to increase cotton production is done through the application of growth regulator aiming at enhancing to the growth of plant height, number of branches, number of flower, and boll. These components are fibre determinans. Research conducted at Sumberrejo Ex-perimental Garden, Bojonegoro from May to October 2010, in paddy fields after rice harvested. Factorial treat-ment arranged using randomized block design repeated four times. The first factor consisting of four cotton varieties: 1) Kanesia 8, 2) Kanesia 13, 3) Kanesia 14, and 4) Kanesia 15. The second factor is application of pa-clobutrazol by spraying the plants with usage of: a) 0, b) 1.50 l/ha given once at age 60 days, and c) 1.50 l/ ha given twice at the age of 60 days and 75 days. The research showed that Kanesia 8 and Kanesia 13 varie-ties gave optimum vegetative and generative growth followed with Kanesia 13, Kanesia 14, and Kanesia 15. Paclobutrazol did not contribute significant effect on the growth of both vegetative and generative of cotton. The productivity of seed cotton of Kanesia 8 and Kanesia 13, 1,643 kg/ha and 1,686 kg/ha, respectively.
Pengaruh Macam Tanaman Sela Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Hasil Rehabilitasi Tahun Ketiga Sri Mulyaningsih; Budi Hariyono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 5, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v5n2.2013.69-77

Abstract

Pada pertanaman jarak pagar yang masih muda (umur 1–2 tahun) dengan jarak tanam 2 m x 2 m ada lahan kosong yang tidak termanfaatkan. Upaya optimalisasi pemanfaatan lahan adalah menanam tanaman sela, sehingga petani mempunyai pendapatan dari tanaman sela sebelum jarak pagar menghasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tanaman sela terhadap pertumbuhan dan hasil jarak pagar dan men-dapatkan macam tanaman sela yang sesuai pada jarak pagar hasil rehabilitasi (penyambungan) pada tahun ketiga. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Muktiharjo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah mulai bulan Januari hingga Desember 2011, menggunakan rancangan acak kelompok diulang enam kali. Perlakuan yang diuji adalah: 1) jarak pagar + kacang tanah, 2) jarak pagar + kedelai, 3) jarak pagar + kacang hijau, 4) jarak pagar + wijen, dan 5) jarak pagar tanpa tanaman sela. Ukuran petak 8 m x 8 m, jarak tanam jarak pagar 2 m x 2 m. Jarak tanam tanaman sela kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau masing-masing 25 cm x 25 cm, sedangkan jarak tanam wijen 50 cm x 25 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil biji kering tanaman jarak pagar dengan tanaman sela kedelai, kacang hijau, dan wijen tidak berbeda nyata dengan hasil biji kering jarak pagar monokultur kecuali dengan kacang tanah. Hasil biji kering jarak pagar + kedelai 655,87 kg/ha + 1.316,07 kg/ha; jarak pagar + kacang hijau 644,70 kg/ha + 1.557,5 kg/ha; jarak pagar + wijen 511,49 kg/ha + 1.416,67 kg/ha; jarak pagar + kacang tanah yaitu 358,31 kg/ha + 1.015,28 kg/ha; dan hasil biji kering tanaman jarak pagar tanpa tanaman sela 602,27 kg/ha. Tumpang sari jarak pagar dengan keempat macam tanaman sela (kacang tanah, kedelai, kacang hijau, dan wijen), efisien dalam pemanfaatan lahan dan layak secara ekonomi untuk ditanam dan dikembangkan bersama dengan tanaman jarak pagar rehabilitasi tahun ketiga dengan nilai NKL masing-masing: 1,32; 1,64; 1,98; 1,72 dan B/C ratio 4,79; 1,88; 5,71; 7,03. In young jatropha plantation (1–2 years aged) with 2 m x 2 m spacing there is fallow land. The effort to optimize of land use was by planting intercrops, so that the farmers get income before the jatropha plant produce. This study aimed to determine the effect of intercrops on growth and yield of jatropha and get suitable intercrops in the jatropha rehabilitated plantation (by grafting) in the third year. Research was conducted at Muktiharjo Research Station, Pati, Central Java from January to December 2011. The experiment was arranged in randomized block design with 6 replications. Treatments were 1) intercropping physic nut + peanut, 2) intercropping physic nut + soybean, 3) intercropping physic nut + mungbean, 4) intercropping physic nut + sesame, and 5) physic nut monoculture. Plot size was 8 m x 8 m, plant distance of physic nut were 2 m x 2 m, and plant distances for peanut, soybean, and mungbean were 25 cm x 25 cm and for sesame was 50 cm x 25 cm. Result showed that intercropping was not significantly effect on seed yield of physic nut, however intercropping physic nut with peanut decreased the physic nut seed yield. Seed yield of intercropping physic nut + soybean 655.87 kg/ha + 1,316.07 kg/ha; physic nut + mungbean 644.70 kg/ha + 1,557.55 kg/ha; physic nut + sesame 511.49 kg/ha + 1,416.67 kg/ha; physic nut + peanut 358.31 kg/ha + 1,015.28 kg/ha; and physic nut monoculture 602.27 kg/ha. Intercropping physic nut with four kinds of intercrop plant (peanut, soybean, mungbean, and sesame), efficient land use and economically viable for the grown and developed along with physic nut rehabilitation third year with the value of each land equi-valent ratio (LER) 1.32; 1.64; 1.98; 1.72 intercropping and B/C ratio 4.79; 1.88; 5.71; and 7.03.
Keefektifan Nematoda Patogen Serangga Steinernema sp. Terhadap Achaea janata L., Serangga Pemakan Daun Jarak Kepyar (Ricinus communis) Heri Prabowo; I.G.A.A. Indrayani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 5, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v5n2.2013.58-68

Abstract

Penggunaan pestisida kimia yang cukup tinggi pada akhir-akhir ini telah menimbulkan dampak negatif ter-hadap lingkungan, sehingga pengendalian hama yang ramah lingkungan sangat diperlukan. Saat ini, peng-gunaan nematoda entomopatogen terutama Steinernema sp., membuka peluang untuk digunakan sebagai pengendalian Achaea janata. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keefektifan Steinernema sp. ter-hadap A. Janata , dilaksanakan di laboratorium patologi serangga Balai Penelitan Tanaman Pemanis dan Serat pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2011. Penelitian menggunakan rancanagan acak lengkap (RAL) dengan empat ulangan. Setiap ulangan menggunakan 25 larva A. janata instar 2. Larva diekspose de-ngan berbagai variasi konsentrasi Steinernema sp. dan kematian larva diamati setiap hari sampai 120 jam setelah infeksi. Konsentrasi Steinernema sp. yang digunakan adalah 0, 50, 100, 200, 300, dan 400 JI/larva. Hasil penelitian pemberian Steinernema sp. pada konsentrasi 200, 300, dan 400 JI/larva cukup efektif untuk membunuh A. janata dengan persentase berkisar antara 80–94% mulai 48–120 jam setelah perlakuan. Se-makin tinggi konsentrasi nematoda, semakin tinggi mortalitas A. janata. Steinernema sp. dengan konsen-trasi 400 JI/larva paling efektif membunuh larva, menurunkan bobot larva, bobot pupa, jumlah telur yang dihasilkan, dan fertilitas telur. High intensity of chemical pesticide application has become a serious concern of environmentalists in recent years, because of various negative impacts of it. Therefore, environmentally friendly techniques of controlling insect pest are needed. Recently, the use of entomopathogenic nematodes, especially Steinernema sp., has created new possibilities of promising control techniques against insect pests. The aim of this study was to evaluate the effectiveness of Steinernema sp. to A. janata larvae in laboratory. This research was conducted at the Laboratory of Insect Pathology Laboratory of Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Insti-tute from March to August 2011. Tests used the 2nd stage larvae of Achaea janata, the leaf eater of castor (Ricinus communis). Treatment arranged in a completely randomized design (CRD) with 4 replicates. For each test used 25 larvae which were exposed to various concentrations of Steinernema sp. Concentration of Steinernema sp. used was 0, 50, 100, 200, 300, and 400 infective juvenile/larvae. Daily mortality A. janata larvae, larval and pupal weight, the number of eggs laid, and number of hatch eggs were recorded. Steinernema sp. on concentration of 200; 300; and 400 IJ/larvae was effective to cause mortality of A. janata larvae (80–94% mortality after 48–120 hours). The higher the concentration of the nematode the higher larval mortality. Steinernema sp. with concentration of 400 IJ/ larvae was effective decreasing larval and pupal weight, the number of eggs laid, and fertility of the eggs produced.
Prospek Pengembangan Kapas Organik di Indonesia Titiek Yulianti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v3n2.2011.89-95

Abstract

Sistem pertanian organik pada tanaman pangan mulai diminati masyarakat karena produknya lebih sehat dan pengelolaannya memperhatikan lingkungan, siklus biologi, dan keanekaragaman hayati setempat. Kecende-rungan ini merembet ke tanaman nonpangan, seperti kapas yang menggunakan pestisida dan pupuk sintetis sangat besar. Syarat pengembangan kapas organik cukup ketat karena selain larangan menggunakan bahan kimia sintetis, juga pendokumentasian untuk memperoleh sertifikat organik. Meskipun serat kapas organik harganya lebih tinggi, namun produktivitasnya cenderung rendah. Keuntungan yang paling signifikan dalam pengembangan kapas organik adalah perbaikan lingkungan, mulai dari kesuburan lahan, aktivitas mikroba, dan siklus biologi sampai peningkatan keanekaragaman hayati. Pengembangan kapas di Indonesia masih menghadapi masalah rendahnya produktivitas dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri sehingga pengem-bangan kapas organik belum menjadi prioritas meskipun kelestarian biologi dan lingkungan harus tetap di-perhatikan. Oleh karena itu, sistem pertanian input rendah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan meru-pakan pilihan yang dapat dikembangkan untuk kapas. People are now paying more interest on healthy products from organic agriculture especially for food crops. Organic agriculture system based on ecological concern which enhances biodiversity, biological cycles of the land. This interest is now moving to nonfood crops, such as cotton that need high concentration of pesticide and fertilizer for its production. Developing organic cotton requires strictly standard and condition, such as no synthetic chemical fertilizers and pesticides, or detail documents to get organic sertificate. Although, price of organic cotton fiber is higher, but its production is lower compared to conventional one. However, there are still significant advantages in developing organic cotton, i.e. environmental improvements: from soil ferti-lities, microbial activities, biological cycles to promoting biodiversity. At the moment, the need of cotton fiber is mainly from import, on the other side organic cotton productivity tends to low. Hence, development of or-ganic cotton is not priority, yet biological and environmental sustainability ask for attention. Another alterna-tive choice which more practicable to develop cotton in Indonesia is a sustainable and ecofriendly with low input agricultural system.
Variasi Karakter Biji dan Korelasinya dengan Kadar Minyak pada Plasma Nutfah Tanaman Bunga Matahari (Helianthus annus L.) Anik Herwati; Tantri Dyah Ayu Anggraeni
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n2.2014.91-98

Abstract

Tanaman bunga matahari (Helianthus annus L.) adalah salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang sehat dan bermutu. Salah satu upaya peningkatan produksi minyak adalah dengan program pemuliaan ta-naman melalui perakitan varietas unggul yang mempunyai produktivitas dan kandungan minyak tinggi. Pro-ses pemuliaan tanaman memerlukan keragaman genetik dan proses seleksi. Oleh karena itu evaluasi sumber daya genetik yang ada perlu dilaksanakan, salah satunya pada karakter biji. Sedangkan untuk memudahkan proses seleksi perlu diketahui karakter yang berkorelasi positif dengan produksi minyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi karakter biji dan korelasinya dengan kadar minyak. Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2011 di Laboratorium Benih Balittas dan Laboratorium Kimia Universitas Brawijaya untuk uji ka-dar minyak. Jumlah aksesi bunga matahari yang diuji ada 19 aksesi bunga matahari hasil rejuvenasi tahun 2011. Dari tiap aksesi, diambil 300 gram benih hasil panen yang belum disortir, yang diambil secara acak dan diulang 3 kali. Pengamatan dilakukan pada karakter kualitatif yaitu warna biji, garis pada biji, dan ben-tuk biji, dan karakter kuantitatif yaitu bobot 100 biji, panjang, dan lebar biji, serta kadar minyak. Hasil pe-ngamatan pada karakter kualitatif menunjukkan variasi pada warna biji, garis (stripes), dan bentuk biji. Pada karakter kuantitatif, nilai koefisien keragaman (KK) pada semua karakter yang diamati mencapai lebih dari 20%. Karakter yang paling bervariasi adalah kadar minyak biji. Hasil pengujian korelasi menunjukkan karak-ter bobot 100 biji berkorelasi positif dengan karakter panjang, lebar, dan bentuk biji, dan berkorelasi negatif dengan karakter kandungan minyak. Sedangkan ukuran biji dan kadar minyak tidak menunjukkan korelasi yang nyata. Sunflower (Helianthus annus L.) is one of vegetable oil crops that produce healthy and high quality oil. In-creasing oil content could be reached by breeding programme to obtain new variety with high productivity and oil content. Breeding programme needs genetic diversity and selection process. So, germplasm evalu-ation, especially for seed characteristic must be done. To make selection process easier determination cha-racters that correlate with oil content needs to be conducted. This experiment aimed to evaluate variation in seed characteristics and to determine correlation between seed characters and oil content on sunflowers. Experiment was done in 2011 on Seed Laboratory ISFCRI and Brawijaya University Laboratory (oil content extraction). Plant materials are 19 s unflower accesions. For each accesion, 300 grams seed were taken ran-domly and replicated 3 times. Observation was done on qualitative characters i.e. seed colour, seed stripes, and seed shape and quantitative characters i.e. 100 seeds weight, seed length, and seed width, also oil con-tent. Result showed that there were variations among seed colour, seed stripes, and seed shape (qualitative characters). Coefficient variation (CV) was more than 20% for all quantitative characters and the highest was being reached by oil content. Correlation evaluation resulted that 100 seeds weight had positive corre-lations with seed length, seed width, and seed shape, but had a negative correlation with oil content. How-ever, seed size wasn’t correlate with oil content.
Skrining Provenan Jarak Pagar Terpilih di Beberapa Agroekosistem Hadi Sudarmo; Moch. Mahfud; . Djumali; Dibyo Pranowo; Tukimin S.W.
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 2, No 1 (2010): April 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v2n1.2010.19-25

Abstract

Pengembangan jarak pagar sebagai bahan bakar nabati (BBN) memerlukan bahan tanam yang unggul. Se-leksi rekuren sederhana terhadap populasi hasil eksplorasi dari beberapa daerah telah menghasilkan tiga po-pulasi unggul, yaitu IP-1A, IP-1M, dan IP-1P yang diprediksi mempunyai potensi produksi 45 ton per ha/ta-hun mulai tahun ke-4. Namun demikian populasi terpilih tersebut apabila dibudidayakan oleh petani secara sederhana, nilai ekonomis hasilnya belum menguntungkan. Penelitian skrining provenan ini dalam rangka mendukung pengembangan varietas unggul jarak pagar berproduktivitas tinggi dan berkadar minyak tinggi. Penelitian ini diawali pada tahun 2007, berlokasi di 3 tempat yaitu Kebun Percobaan (KP) Asembagus, KP Muktiharjo, dan KP Pakuwon. Genotipe yang diskrining sebanyak 20 provenan terdiri atas 17 genotipe yang berasal dari provenan terpilih yaitu HS-49/NTT, SP-16/Sulsel, SP-8/Susel, NTB-2555, NTB-554, NTB-3189, NTB-3052, NTB-575, Puncu/Jatim, PT-3/Lampung, PT-7/Lampung, PT-13/Lampung, PT-14/Lampung, PT-15/Lampung, PT-18/Lampung, PT-26/Banten, PT-33/Lampung, dan 3 populasi terpilih hasil seleksi masa ya-itu IP-1A, IP-1M, IP-1P, yang digunakan sebagai pembanding. Perlakuan disusun dalam rancangan acak ke-lompok dengan ulangan 3 kali. Setiap perlakuan ditanam dalam petak berukuran 10 m x 8 m dengan jarak tanam 2 m x 2 m. Hasil skrining provenan terpilih jarak pagar di Asembagus, Muktiharjo, dan Pakuwon ada-lah tiga provenan yang berpotensi produksi dan berkadar minyak tinggi, yaitu HS-49, NTB-3189, dan PT-7/Lampung. Ketiganya memiliki potensi produksi pada tahun 2009 masing-masing 1.150,70 kg; 1.113,30 kg; 1.064,60 kg/ha/th dan kadar minyak 37,66%; 35,39%; dan 35,84%. The main problem in developing physic nut as a source of biofuel is unavailability of the superior plant mate-rials. Recurent selection of collected physic nut population found three superior provenances i.e., IP-1A, IP-1M, and IP-1P which have been predicted to have production potency of 45 tones/ha/year in fourth year onwards. However, if selected provenances are cultivated with a simple crop management it would not give economically profitable. Therefore, it needs to develop high yield and oil varieties. Screening of selected pro-venances was started 2007 in three Research Stations (RS) Asembagus, Muktiharjo, and Pakuwon, with dif-ferent agroecosystem. The screened genotypes were: HS-49/NTT, SP-16/Sulsel, SP-8/Susel, NTB-2555, NTB-554, NTB-3189, NTB-3052, NTB-575, Puncu/Jatim, PT-3/Lampung, PT-7/Lampung, PT-13/Lampung, PT-14/Lampung, PT-15/Lampung, PT-18/Lampung, PT-26/Banten, PT-33/Lampung, and three of mass se-lected: IP-1A, IP-1M, IP-1P as comparison. This research used randomized block design with three replica-tions. Results showed that three provenances: HS-49, NTB-3189, and PT-7/Lampung have superior potential production and oil content in those three locations. The potential production and oil content of HS-49, NTB-3189, and PT-7/Lampung in 2009 were 1,150.70 kg; 1,113.30 kg; 1,064.60 kg/ha/year; and 37.66%; 35.39%; 35,84% respectively.
Potensi Nematoda Patogen Serangga Steinernema spp. dalam Pengendalian Hama Utama Tanaman Kapas Heri Prabowo; I.G.A.A. Indrayani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 2 (2009): Oktober 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v1n2.2009.101-110

Abstract

Steinernema spp. memiliki potensi untuk mengendalikan hama tanaman kapas seperti Helicoverpa armigera dan Pectinophora gossypiella. Steinernema spp. mampu menyebabkan mortalitas P. gossypiella dan H. armi-gera berturut-turut sebesar 31,6–55,4 dan 46,3–63,8%. Steinernema spp. memiliki kemampuan membunuh lebih baik pada P. gossypiella, sedangkan kemampuan reproduksi dalam inangnya lebih baik pada H. armi-gera. Steinernema spp. mampu menginfeksi serangga inang lebih baik pada stadium ulat lebih tua diban-dingkan stadium muda. Steinernema spp. dapat diproduksi secara in vivo dan in vitro. Produksi secara in vivo dapat menggunakan Tenebrio molitor, Tirathaba rufivena, dan Attacus atlas. Produksi secara in vitro dapat menggunakan usus ayam, lemak sapi, dan minyak kedelai. Perlu dikembangkan formulasi Steinerne-ma spp. yang murah dan efektif untuk mengendalikan hama di atas permukaan tanah. Selain itu diperlukan pencarian isolat Steinernema spp. yang virulen dan cepat membunuh hama sasaran. Steinernema spp. could be potentially used for controlling H. armigera and P. gossypiella on cotton. Steiner-nema spp. causes mortality on P. gossypiella and H. armigera 31,6–55,4 and 46,3–63,8% respectively. The nematode causes a higher mortality on P. gossypiella than on H. armigera, however, produces more juvenile infective on H. armigera than on P. gossypiella. Higher successful infections of Steinernema spp. occurs on late larval stadium than on early one. Production of Steinernema spp. can be in vivo using Tenebrio molitor, Tirathaba rufivena, and Attacus atlas; and in vitro using chicken intestinum, cow lipid, and soy bean oil. For effecttively use, this nematode need to be formulated especially for controlling insect pests on soil surface, as well as finding the more virulent isolates against the target insects.
Pengaruh Komposisi Media dan Sumber Eksplan Terhadap Induksi Kalus, Perkecambahan, dan Pertumbuhan Tunas Embrio Somatik Jarak Pagar Tantri Dyah Ayu Anggraeni; Emy Sulistyowati; Rully Dyah Purwati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v4n2.2012.76-84

Abstract

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman penghasil minyak nabati sebagai bahan baku bio-diesel. Selama ini, kebutuhan bahan tanam diperoleh dari benih dan setek. Teknik mikropropagasi khususnya melalui embriogenesis somatik merupakan alternatif untuk penyediaan bahan tanam dalam jumlah besar dengan waktu relatif lebih singkat. Jenis eksplan, genotipe, dan kondisi fisiologis tanaman donor serta jenis dan kondisi fisik mediummerupakan faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan embriogenesis somatik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui eksplan dan komposisi media yang tepat untuk induksi kalus embriogenesis somatik, perkecambahan embrio somatik dan pertumbuhan tunas hasil embriogenesis somatik. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat mulai bulan April sampai dengan November 2011, meliputi tiga tahap, yaitu 1) menguji komposisi media untuk induksi kalus embriogenesis somatik antara lain M1=MS+0,5 mg/l BAP+0,5 mg 2,4 D; M2= MS+1 mg/l BAP +0,5 mg/l 2,4 D; M3= MS+0,5 mg/l BAP+0,2 mg/l TDZ, dan M4= MS+1 mg/l BAP+0,2 mg/l TDZ; 2) menguji komposisi media untuk induksi perkecambahan embrio somatik antara lain MK1= MS+0,5 mg/l BAP+0,1 mg/l NAA dan MK2= MS+0,5 mg/l BAP+0,4 mg/l IBA; dan 3) menguji komposisi media untuk pertumbuhan tunas embrio somatik antara lain MP1= MS+0,5 mg/l BAP+0,1 mg/l IBA dan MP2= MS+0,5 mg/l BAP+0,1 mg/l IAA. Bahan tanam yang digunakan adalah genotipe IP-3A dan IP-3M dengan sumber eksplan kotiledon dan daun. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi MS+0,5 mg/l BAP+0,2 mg/l TDZ dengan sumber eksplan kotiledon paling sesuai untuk induksi kalus embriogenesis somatik. Genotipe IP-3M memiliki respon yang lebih baik disbanding IP-3A dan stabil dari tahap induksi kalus embriogenis somatik, induksi perkecambahan embrio somatik, dan pertumbuhan tunas embrio somatik. Jatropha (Jatropha curcas L.) is an oil producing plants as source of bio-diesel. Planting materials usually are obtained from seeds and stem-cuttings. Micro-propagation techniques especially through somatic embryo-genesis is an alternative to provide a large number of planting material in a relatively short time. Explant sources, genotype and physicological conditions of donor plants, also composition and physical condition of medium are the main factors affecting the successful of somatic embryogenesis. The study was conducted to determine the most suitable combination of explant and media composition for embryogenic calli induc-tion, somatic embryo germination, and shoots growth derived from somatic embryogenesis. The experiment was conducted in the Tissue Culture Laboratory, of Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Insti-tute from April to November 2011 covering three phases: 1) testing media composition to induce somatic embryogenic calli i.e. M1=MS+0.5 mg/l BAP+0.5 mg 2.4 D; M2 = MS+1 mg/l BAP+0.5 mg/l 2.4 D; M3 = MS+0.5 mg/l BAP+0.2 mg/l TDZ and M4 = MS+1 mg/l BAP+ 0.2 mg/l TDZ; 2) testing media composition to induce somatic embryo germination i.e. MK1 = MS+0.5 mg/l BAP+0.1 mg/l NAA and MK2 = MS+0.5 mg/l BAP+0.4 mg/l IBA; and 3) testing media composition to induce somatic embryo shoot growth i.e. MP1 = MS+0.5 mg/l BAP+0.1 mg/l IBA and MP2= MS+0.5 mg/l BAP+0.1 mg/l IAA. Plant material used are genotype IP-3A and IP-3M with cotyledone and leaf as explant sources. The results showed that combination of MS+0.5 mg/l BAP+0.2 mg/l TDZ and cotyledons as explants source is the most suitable for somatic embryogenic calli. IP-3M genotype showed a better response to IP-3A and stable from induction of somatic embryogenic calli, somatic embryo germination, and somatic embryo shoots growth.
Pengujian Efektivitas Penggunaan Pupuk ZK terhadap Hasil dan Mutu Tembakau Madura A.S Murdiyati; Anik Herwati; . Suwarso
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v1n1.2009.10-16

Abstract

Tembakau madura merupakan bahan baku rokok keretek. Tembakau ini berkembang utamanya di KabupatenPamekasan dan Sumenep, kemudian meluas sampai ke Kabupaten Sampang. Salah satu permasalahanyang dihadapi adalah status kalium (K) tanah di Madura umumnya rendah sampai sedang, dan gejala kekahatan(kekurangan) akan kalium ini sudah terdeteksi sejak tahun 1989. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahuiefektivitas pemberian pupuk ZK terhadap produksi dan mutu tembakau madura di lahan petani. Pengujiandilakukan pada 22 unit lahan petani di Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep. Perlakuanadalah pemupukan dengan 100 kg ZK per hektar. Sebagai kontrol adalah 22 unit lahan petani yang tidakmenggunakan pupuk ZK. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa pemberian 100 kg ZK per hektar padatembakau madura dapat meningkatkan indeks mutu 19,3%, harga tembakau Rp4.019,00/kg (19,4%), indekstanaman 27,3% dan penerimaan petani Rp2.267.818,00/ha (18,4%). Ratio tambahan keuntungan terhadaptambahan biaya dengan penggunaan pupuk ZK 100 kg per hektar adalah 1,57.
Pengaruh Pupuk Organik dan Anorganik Terhadap Produksi dan Kandungan Minyak Wijen Serta Kelayakan Usaha Tani di Lahan Pasir Pantai Dewi Ratna Nurhayati; Aris Eddy Sarwono; Budi Hariyono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 5, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v5n1.2013.31-39

Abstract

Wijen (Sesamum indicum L.) adalah komoditas perkebunan rakyat potensial sebagai sumber minyak pangan yang banyak dibutuhkan, dan mempunyai potensi agroindustri cerah untuk bahan pangan dan bahan dasar produk farmasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan terhadap produksi dan kandungan minyak wijen serta kelayakan usaha tani di lahan pasir pantai. Penelitian dilaksanakan di Purworejo, Jawa Tengah, bulan Juni hingga Desember 2011. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah pemupukan, yakni kontrol, pupuk kandang sapi 10 ton/ha, NPK rekomendasi (100:100:50), pupuk kandang sapi 7,5 ton/ha + 25% NPK, pupuk kandang sapi 5 ton/ha + 50% NPK, dan pupuk kandang sapi 2,5 ton/ha + 75% NPK. Faktor kedua adalah varietas, yakni Sumberrejo-1, Sumberrejo-2, dan Lokal hitam. Variabel yang diamati meliputi: tinggi tanaman, umur berbunga, umur panen, berat biji per tanaman, berat 1.000 biji, dan kadar minyak. Parameter kelayakan usaha meliputi internal rate of return (IRR), benefit and cost ratio (B/C ratio), dan payback period (PP). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh interaksi perlakuan pemupukan dan varietas. Umur berbunga tercepat 45 hari pada perlakuan kontrol. Umur panen hampir sama, yakni 105 hari. Kadar minyak total tertinggi 51,73% pada perlakuan pemupukan organik (pupuk kandang sapi) 10 ton/ha. Varietas unggul wijen Sumberrejo-1 dan Sumberrejo-2 memberikan produksi dan kadar minyak yang lebih tinggi dibandingkan varietas lokal. Budi daya wijen di lahan pasir pantai dengan menerapkan pemupukan organik memberikan kelayakan eko-nomi yang prospektif dan efisien, khususnya pada perlakuan pupuk kandang sapi 10 ton/ha dengan varietas Sumberrejo-2, dengan B/C Ratio 1,91, IRR 48%, dan PP 0,5. Sesame (Sesamum indicum L.) is a potential commodities as source of food oil, and has a high potential for agro-food industry and pharmaceutical products. This study was aimed to evaluate the effect of fertilizer on the production and seed oil content of sesame and the feasibility of cultivation in the sandy coastal land. This study conducted in Purworejo, Central Java, from June to December 2011. The experiment was arranged in factorial randomized block design with two factors, repeated three times. The first factor is fertilization: control, cow manure 10 ton/ha, NPK 100:100:50, cow manure 7.5 ton/ha + 25% NPK, cow manure 5 ton/ha + 50% NPK, and cow manure 2.5 ton/ha + 75% NPK. The second factor is the variety: Sumberrejo-1, Sumberrejo-2, and local black sesame. Variables observed were: plant height, days to flowering, day of harvest, seed weight, weight of 1,000 seeds, and seed oil content, as well as economic indicators (B/C ratio, IRR, and payback period). The result of study showed that no interaction effect between fertilization and variety. The fastest flowering (45 days) was on the control treatment. The age of harvest was almost the same, 105 days. Highest total seed oil content, 51.73%, obtained in the treatment of organic fertilizer 10 ton/ha. Sumberrejo-1 and Sumberrejo-2 provide production and seed oil content higher than those local varieties. Sesame cultivation in sandy coastal land provides prospective economic feasibiility and efficience, especially by applying organic fertilizer on Sumberrejo-2, with the achievements of B/C Ratio 1.91; IRR of 48%, and payback period of 0.5.