cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Pengaruh Perilaku Kewirausahaan terhadap Kinerja Usaha Tani Tembakau Rakyat di Kabupaten Bojonegoro dan Lamongan Ariesa, Felicia Nanda; Nurmalina, Rita; Priatna, Wahyu Budi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyediaan sumber daya manusia yang kompeten penting dalam usaha tani tembakau. Komoditas tembakau ditekan oleh perubahan kondisi lingkungan global, sehingga diperlukan petani yang mampu beradaptasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kewira-usahaan dan kinerja pertanian, 2) Menganalisis pengaruh sifat individu dan faktor lingkungan terhadap peri-laku kewirausahaan, dan 3) Menganalisis pengaruh sifat individu, faktor lingkungan, dan perilaku kewirausa-haan terhadap kinerja tembakau rakyat. Pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas (terikat) diukur dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Sifat individu dan faktor lingkungan mempengaruhi perilaku kewirausahaan dengan pengaruh terbesar berasal dari sifat individu. Perilaku kewirausahaan berpe-ngaruh signifikan terhadap kinerja usaha, namun bukan menjadi faktor dominan yang mempengaruhi kinerja pertanian. Lingkungan ekonomi menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja pertanian. Peri-laku kewirausahaan saja tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Dengan demikian, perilaku kewirausa-haan harus dipandang sebagai salah satu faktor yang berperan dalam mendorong kinerja. Provision of competent human resources is important in tobacco farming. Tobacco as commodities pressured by changes in global environmental conditions so that required adaptable farmers. Therefore, this research aimed to: 1) Determine the factors that influence entrepreneurial behavior and performance of the farm; 2) Analyze the influence of personality trait and environmental factors to entrepreneurial behavior; and 3) Analyze the influence of personality trait, environmental factors, and entrepreneurial behavior to the perfor-mance of individual tobacco farming. The effect of independent variables on the measurement dependent variables were analyzed using multiple linear regression analysis. The personality trait and environment fac-tor influence entrepreneurial behavior with the greatest influence comes from the personality trait. Entrepre-neurial behavior has significant effect on the performance of the business, but not a dominant factor affect-ting the performance of the farm. Economic environment to be the most influential variable on the perfor-mance of the farm. Entrepreneurial behavour alone has no significant effect on performance. Thus, entre-preneurial behaviour should be viewed as only one causal factor in a complex model of factors that promote performance.
Studi Kelayakan Pengembangan Usaha Tani Tebu di Kabupaten Sampang Andri, Kuntoro Boga; Riajaya, Prima Diarini; Kadarwati, Fitriningdyah Tri; Santoso, Budi; Nugraheni, Suminar Diyah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam mendukung pencapaian swasembada gula, Pulau Madura menjadi salah satu sasaran lokasi pengembangan tebu. Di Kabupaten Sampang pengembangan usaha tani tebu dimulai sejak tahun 2009. Program inididukung oleh masuknya perusahaan perkebunan serta bantuan penganggaran dari APBN. Penelitian bertujuan mengetahui kelayakan secara sosial dan ekonomi serta potensi pengembangan usaha tani tebu ke depan dan untuk mengetahui peluang dari usaha tani tebu ini bagi masyarakat di Pulau Madura secara umum.  Penelitian dilaksanakan mulai September sampai Desember 2013 di lokasi-lokasi kecamatan pengembangan tebu Kabupaten Sampang. Informasi dikumpulkan dengan memanfaatkan data sekunder dan data primer melalui wawancara dengan individu maupun grup/kelompok masyarakat, dinas/institusi terkait. Data dianalisa menggunakan analisis deskriptif untuk memperoleh gambaran kondisi yang dihadapi dan pemecahan dari masalah yang dihadapi di wilayah yang diamati. Analisis aspek usaha tani meliputi data input-output komoditas existing dengan analisis finansial. Untuk melihat kelayakan usaha tani digunakan R/C Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kelayakan usaha tani tebu adalah kepemilikan lahan, insentif rangsangan dana bantuan sosial (Bansos) APBN dan subsidi pengembangan Tebu Madura (Dinas Perkebunan Provinsi), serta kerja sama kemitraaan dengan pabrik gula (PTPN X) yang menawarkan bantuan modal, subsidi saprotan, alat/mesin pertanian, serta jaminan pasar. Kemitraan yang telah ada antara PTPN X dengan petani tebu di Sampang dapat dikategorikan dalam tipe kemitraan subkontrak dan layak diteruskan.  Skema yang sudah diterapkan dalam kontrak ini adalah pola kemitraan antara pemerintah daerah, swasta (PTPN X), dan petani tebu. Usaha tani tebu dengan R/C ratio sebesar 1,05 dan 1,68 dan pendapatan bersih Rp1.358.920,00/ha dan Rp14.024.360,00/ha pada usaha tani tebu awal dan tebu kepras I, membuktikan usaha tani tebu di lokasi penelitian sangat layak untuk diusahakan dan menguntungkan. Selain peluang bagi masyarakat memanfaatkan potensi lahan tidur dan sub-optimal untuk pengembangan usaha tani tebu yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di Kabupaten Sampang. In order to achieve self-sufficient in sugar consumption, the Madura Island became one of the targets of sugar cane development area. In Sampang Regency, the development of sugar cane agribusiness have been started since 2009. This program was supported by the companies as well as financial supported from national budget (APBN). The study aims to determine the feasibility of social and economic as well as the potentialfor future development of sugar cane farming and to understand the opportunities of the farming for community in Madura Island on the whole. The study was conducted from September to December 2013 at 14 districts of sugar cane developing area in Sampang. Information was collected by using secondary data and primary data through interviews with individual and group/community groups, agencies/institutions concerned.  Data were analyzed using descriptive analysis to obtain a description of the conditions encountered and the solving of problems encountered in the observed region. The analysis covers aspects of farm commodity input-output data with the existing financial analysis. To look at the feasibility of farming used the R/C ratio. The results of the study showed that some factors which influenced the farmer to plant the cane were: land ownership; the stimuli of incentives from social grants (Bansos) from APBN and subsidy from projectdevelopment (from Provincial Agricultural office); the cooperation of partners through sugar company (PTPN X) which offered grants, input subsidy, equipments/agriculture machinery as well as market assurance. The partnership among PTPN X and the sugar cane farmers in Sampang was feasible and categorized a subcontract partnership type. Meanwhile, the scheme that had been implemented in this type of contract was thepartnership pattern between local government, private (PTPN X) and the sugar cane farmers. The sugar cane farming with R/C ratio of 1.05 and 1.68, or net income recieved of Rp1,358,920/ha and Rp14,024,360/ha atthe first harvested and second period harvested, proving that the farming in the study area is feasible to carry on and profitable. In addition, it is the opportunities to develop the potential of the unused and suboptialland for sugar cane agribusiness development that provides economic benefits to the community in Sampang Regency.
Variasi Karakter Biji dan Korelasinya dengan Kadar Minyak pada Plasma Nutfah Tanaman Bunga Matahari (Helianthus annus L.) Herwati, Anik; Anggraeni, Tantri Dyah Ayu
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman bunga matahari (Helianthus annus L.) adalah salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang sehat dan bermutu. Salah satu upaya peningkatan produksi minyak adalah dengan program pemuliaan ta-naman melalui perakitan varietas unggul yang mempunyai produktivitas dan kandungan minyak tinggi. Pro-ses pemuliaan tanaman memerlukan keragaman genetik dan proses seleksi. Oleh karena itu evaluasi sumber daya genetik yang ada perlu dilaksanakan, salah satunya pada karakter biji. Sedangkan untuk memudahkan proses seleksi perlu diketahui karakter yang berkorelasi positif dengan produksi minyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi karakter biji dan korelasinya dengan kadar minyak. Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2011 di Laboratorium Benih Balittas dan Laboratorium Kimia Universitas Brawijaya untuk uji ka-dar minyak. Jumlah aksesi bunga matahari yang diuji ada 19 aksesi bunga matahari hasil rejuvenasi tahun 2011. Dari tiap aksesi, diambil 300 gram benih hasil panen yang belum disortir, yang diambil secara acak dan diulang 3 kali. Pengamatan dilakukan pada karakter kualitatif yaitu warna biji, garis pada biji, dan ben-tuk biji, dan karakter kuantitatif yaitu bobot 100 biji, panjang, dan lebar biji, serta kadar minyak. Hasil pe-ngamatan pada karakter kualitatif menunjukkan variasi pada warna biji, garis (stripes), dan bentuk biji. Pada karakter kuantitatif, nilai koefisien keragaman (KK) pada semua karakter yang diamati mencapai lebih dari 20%. Karakter yang paling bervariasi adalah kadar minyak biji. Hasil pengujian korelasi menunjukkan karak-ter bobot 100 biji berkorelasi positif dengan karakter panjang, lebar, dan bentuk biji, dan berkorelasi negatif dengan karakter kandungan minyak. Sedangkan ukuran biji dan kadar minyak tidak menunjukkan korelasi yang nyata. Sunflower (Helianthus annus L.) is one of vegetable oil crops that produce healthy and high quality oil. In-creasing oil content could be reached by breeding programme to obtain new variety with high productivity and oil content. Breeding programme needs genetic diversity and selection process. So, germplasm evalu-ation, especially for seed characteristic must be done. To make selection process easier determination cha-racters that correlate with oil content needs to be conducted. This experiment aimed to evaluate variation in seed characteristics and to determine correlation between seed characters and oil content on sunflowers. Experiment was done in 2011 on Seed Laboratory ISFCRI and Brawijaya University Laboratory (oil content extraction). Plant materials are 19 s unflower accesions. For each accesion, 300 grams seed were taken ran-domly and replicated 3 times. Observation was done on qualitative characters i.e. seed colour, seed stripes, and seed shape and quantitative characters i.e. 100 seeds weight, seed length, and seed width, also oil con-tent. Result showed that there were variations among seed colour, seed stripes, and seed shape (qualitative characters). Coefficient variation (CV) was more than 20% for all quantitative characters and the highest was being reached by oil content. Correlation evaluation resulted that 100 seeds weight had positive corre-lations with seed length, seed width, and seed shape, but had a negative correlation with oil content. How-ever, seed size wasn’t correlate with oil content.
Potensi Sumber Daya Iklim di Kabupaten Bone untuk Pengembangan Tanaman Tebu Riajaya, Prima Diarini; Kadarwati, Fitriningdyah Tri; Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu wilayah pengembangan tanaman tebu lahan kering di Sulawesi Selatan terdapat di Kabupaten Bone dengan dua pabrik gula (PG) yaitu PG Bone dan PG Camming. Produktivitas tebu dan rendemen sangat berfluktuasi dan dipengaruhi oleh faktor iklim selain pengelolaan on farm. Dengan demikian potensi sumber daya iklim yang berpengaruh terhadap produktivitas tebu dan rendemen perlu diketahui. Analisis data iklim di Kabupaten Bone dilaksanakan mulai bulan Juni 2012 sampai Desember 2013. Data yang diperlukan terdiri atas curah hujan, suhu maksimum, suhu minimum, kelembapan, lama penyinaran, dan kecepatan angin yang terkumpul dari Dinas PU Pengairan Provinsi Sulawesi Selatan, PG Camming, dan PG Bone. Data produktivitas tebu dan rendemen diperoleh dari PG Camming dan PG Bone. Awal dan akhir musim hujan, peluang hujan, serta lama periode kering ditentukan berdasarkan metode Markov Chain FirstOrder Probability. Pola sebaran hujan ditentukan berdasarkan isohiet yang dibuat menggunakan program ArcGIS 9.03. Evapotranspirasi dihitung berdasarkan hasil analisis neraca air berdasarkan metode Penman-Monteith menggunakan program CROPWAT 8.0. Sebaran curah hujan tahunan di Kabupaten Bone didominasi oleh pola hujan tahunan >2.000 mm dan 1.500–2.000 mm dan sebagian kecil wilayah Timur dengan curah hujan tahunan <1.000 mm. Tingginya curah hujan yang berlangsung sepanjang tahun menyebabkan rata-rata periode hari kering relatif pendek yaitu 66–92 hari. Evapotranspirasi potensial di wilayah PG Camming berkisar 1.268–1.288 mm sehingga potensi curah hujan dapat memenuhi kebutuhan air tanaman tebu. Tekstur tanah di sebagian besar wilayah pengembangan tebu di Bone adalah tekstur berat dan drainase lahan jelek maka potensi lahan tergenang cukup tinggi. Dengan potensi sumber daya iklim tersebut mengindikasikan bahwa di sebagian besar wilayah PG Bone dan PG Camming optimasi masa tanam sangat penting dan menggunakan varietas tebu masak awal yang tahan kelebihan air terutama pada wilayah dengan curah hujan >2.000 mm/tahun. Selain itu perlu ditunjang dengan usaha memanen air hujan yang melimpah dan perbaikan drainase. Waktu tanam yang optimum adalah tengah bulan pertama Oktober sampai tengah bulan pertama November (10A–11A) di wilayah PG Camming dan tengah bulan pertama November (11A) di wilayah PG Bone. One of sugar cane cultivation area of dry land in South Sulawesi  concentrated in Bone regency with two sugar mills (Bone and Camming). The productivity of sugar cane and sugar are fluctuated and mostly causedby climatic factors. Therefore, climate resources in Bone regency that influence sugar cane growth and yield need to be evaluated. Analysis of climate data in Bone regency was conducted from June 2012 up to December 2013 based on the data of rainfall, maximum temperature, minimum temperature, humidity, sun shine duration, and wind speed collected from the Department of Irrigation Works South Sulawesi Province, Camming and Bone Sugar Mills. Cane and sugar production were collected from Camming and Bone Sugar Mills. The onset and end of rainy season, length of dryspell, and rainfall probability were analysed by The MarkovChain First Order Probability Method. Rainfall pattern was determined by using isohiet. Evapotranspiration was calculated by water balance analysis. Rainfall pattern in Bone was dominated by annual rainfall pattern >2,000 mm and 1,500–2,000 mm, eastern part of Bone has annual rainfall pattern <1,000 mm. The high rainfall that lasted throughout the year resulted in relatively short average dry day (66–92 days). Potential evapotranspiration in the region of Camming Sugar Mill ranges from 1,268 to 1,288 mm so the annual rainfall can meet crop water requirement of sugar cane. Heavy soil texture and bad soil drainage in Bone regions resulted in flooded land. Based on climate resources, it indicates that in most areas of the Bone and Camming Sugar Mills optimization of planting time is critical, use of sugar cane varieties with early maturity and resistant to excess water, and effort to harvest the abundant rainwater especially in areas with rainfall >2000mm/year, and improvement in drainage system. Optimum planting season in Camming Sugar Mill is the first half of October to second half of  November (10A–11A) and the first half of November (11A) in Bone SugarMill.
Konservasi Musuh Alami Mendukung Budi Daya Tanaman Kapas Tanpa Penyemprotan Insektisida Nurindah, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengendalian serangga hama pada pertanaman kapas pada umumnya masih menggunakan insektisida kimia sintesis, walaupun sistem PHT telah dikenal dan diterapkan. Pengelolaan hama yang berdasarkan pemaham-an agroekologi dengan memperhatikan musuh alami sebagai faktor mortalitas biotik serangga hama yang efektif menghasilkan pengendalian hama tanpa penyemprotan insektisida. Pengelolaan hama dalam sistem budi daya kapas tanpa penyemprotan insektisida tersebut meliputi penggunaan varietas kapas yang mempu-nyai ketahanan penuh atau moderat terhadap wereng kapas, konservasi musuh alami melalui perlakuan benih dengan imidakloprit sebelum tanam atau penyediaan pakan musuh alami dengan penyemprotan molases (te-tes) tebu, dan penerapan ambang kendali dengan mempertimbangkan keberadaan predator. Penerapan sis-tem budi daya kapas tanpa penyemprotan insektisida menyebabkan budi daya kapas lebih efisien dan ramah lingkungan, sehingga dapat berdampak pada minat petani untuk berusaha tani kapas. Although IPM concept has been recognized and applied in cotton fields, the use of synthetic chemical insec-ticides are still widespread in many places across the country. One of the reasons is because the role of na-tural enemies to control the pests is not yet well understood. Pest management based on understanding of natural enemies of pests as an effective biotic mortality factor is important and will result in cotton pest con-trol without insecticide sprays. The strategy for pest management without insecticide sprays consists of the use of resistant or moderately resistant cotton varieties, conservation of natural enemies through seed treat-ment or artificial food spray with molasses, and the application of action threshold that consider the preda-tor’s presence. Cotton cultivation system without insecticide spray will cause more efficient and environ-mentally friendly cultivation that provides a positive impact on the farmers eager to grow cotton.
Hubungan Antara Hasil dan Komponen Hasil Wijen (Sesamum indicum L.) pada Generasi F1 dan F2 Persilangan Sbr2, Sbr3, dan Dt36 Adikadarsih, Sri; Permata, Siska; Taryono, .; Suyadi, .; Basunanda, Panjisakti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam program pemuliaan tanaman wijen, informasi keragaman genetik dan hubungan antarsifat sangat penting untuk menentukan keberhasilan seleksi. Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik dan hubungan antara komponen hasil dan hasil wijen pada generasi F1 dan F2 persilangan Sbr 2, Sbr 3, dan Dt 36 telah dilaksanakan dari bulan November 2012 sampai dengan Februari 2013 di Padangan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Bahan tanam yang digunakan adalah benih tetua, F1, dan F2 hasil persilangan antara Sbr 3 x Sbr 2, Sbr 3 x Dt 36, Sbr 2 x Dt 36, dan resiproknya. Benih bulk hasil persilangan ditanam secara rapat dalam baris pada petak-petak yang berukuran 4 x 1 m. Pengamatan dilakukan pada parameter tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong, berat polong, berat biji, jumlah ruas, panjang ruas, umur berbunga, umur panen, dan berat 1.000 biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen hasil yang memiliki keragaman genetik besar adalah berat biji per tanaman (68,437%), berat polong (40,532%), jumlah cabang (33,251%), jumlah polong (30,269%), dan tinggi tanaman (21,256%). Nilai heritabilitas yang tinggi terdapat pada tinggi tanaman (65,52%) dan umur panen (55%). Komponen hasil yang memiliki korelasi nyata terhadap hasiladalah jumlah cabang, jumlah polong, berat polong, dan umur berbunga, sedangkan yang berpengaruh langsung terhadap hasil wijen adalah jumlah cabang dan berat polong. In sesame breeding program, information about genetic variations and relationships ammongs characters is very important to determine the success of line selection. Studies about correlation between yield and yieldcomponents of F1 and F2 from crosses of Sbr 2, Sbr 3, and Dt 36 was conducted on November 2012 to February 2013 in Padangan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. The treatments were arranged in completerandom design (CRD) with three replications. Planting materials used were the seed of parents, F1, and F2 from crossing between Sbr 3 x Sbr 2, Sbr 3 x Dt 36, Sbr 2 x Dt 36, and their reciprocals. Bulk breeding seeds planted in rows in high density to reach maximum populations as the genetic resource in the plots according to its genotypes. The observation was made on plant height, number of branches, number of pods, weight of pods, number of nodes, nodes length, day of flowering, plant maturing age, and 1,000seed weight. The results showed that, components which showed high genetic variation were weight of seeds per plant (68.437%), weight of pods (40.532%), the number of branches (33.251%), number of pods(30.269%), and plant height (21.256%). High heritability values was shown in parameters of plant height (65.52%) and plant maturing age (55%). Yield components which have significant correlation with the yield were number of branches, number of pods, pod weight, and days to flowering, while those have a direct effect on the yield of sesame are the number of branches and pods weight.
Analisis Usaha Tani Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Hasil Peremajaan Supriyadi-Tirtosuprobo Supriyadi-Tirtosuprobo; Prima Diarini Riajaya
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n2.2015.90-101

Abstract

Penelitian keragaan usaha tani jarak pagar hasil peremajaan dilakukan berdasarkan data yang terkumpul dari kegiatan peremajaan tanaman jarak pagar di Kebun Percobaan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur tahun 2012–2013 yang bertujuan untuk mengetahui komponen dan besarnya biaya, tingkat produktivitas usaha tani jarak pagar, dan harga pokok produk hasil peremajaan tanaman jarak pagar. Perlakuan yang dicoba meliputi: sistem tanam ulang (paket A), sambung samping (paket B), dan pangkas (paket C). Pada perlakuan paket B dan C ditanami tanaman sela kacang tanah kemudian ditumpang gilir dengan Crotalaria juncea L. setelah kacang tanah dipanen. Data usaha tani terdiri atas penggunaan sarana produksi, tenaga kerja, dan produksi dikumpulkan selama penelitian berjalan. Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif dan usaha tani enterprise. Dalam tahun I paket A menyerap biaya relatif tinggi Rp23.580.000,00/ha dengan produksi biji 253,63 kg/ha menghasilkan harga pokok produk Rp92.970,00/kg. Total biaya ini berkurang pada paket B dan paket C menjadi Rp13.445.000,00/ha dan Rp11.005.000,00/ha dengan tingkat produktivitas 436,04 kg/ha dan 529,75 kg/ha dan menghasilkan harga pokok produk lebih rendah, masing-masing Rp12.120,00/kg dan Rp7.031,00/kg. Biaya produksi tahun II (2013) pada semua paket masing-masing turun 76%, 28%, dan 22%, diikuti menurunnya harga pokok produk menjadi Rp4.345,00/kg, Rp547,00/kg, dan Rp2.468,00/kg. Penanaman tanaman sela kacang tanah dalam perlakuan paket B dan paket C dapat membantu secara komplemen terhadap total biaya usaha tani. Selama dua tahun kegiatan, paket B secara konsisten berpotensi meningkatkan produktivitas, menurunkan harga pokok produk, dan efisiensi penggunaan biaya. Research on cost variability of physic nut rejuvenation was done based on data collected from physic nut re-juvenation in the Asembagus Experimental Station in, Situbondo, East Java during 2012–2013 to determine the components of production cost, productivity, and cost of product of physic nut rejuvenation. Three treat-ments of physic nut were tested, namely replanting system (package A), side grafting (package B), and pruning system (package C). Under physic nut stands on package B and C peanut crops were planted and relayed with Crotalaria after peanut harvest. Data collected were use of farm production components, labor, and production. Data were analysed using descriptive analyses and farming enterprise. Replanting system (package A) on physic nut absorbed the relatively high cost Rp23,580,000.00/ha with seed production 253,63 kg/ha resulted in product cost Rp92,970.00/kg. The total cost is reduced in package B and C to Rp13,445,000.00/ha and Rp11,005,000.00/ha with the seed productivity ware 436.04 kg/ha and 529.75 kg/ha, resulted in lower product cost Rp12,120.00/kg and Rp7,031.00/kg, respectively. The cost of production in the second year (2013) for all packages down 76%, 28%, and 22% respectively, followed by decline cost of products into Rp4,345.00/kg, Rp547.00/kg, and Rp2,468.00/kg respectively. Peanut crops under physic nut on package B and C over a period of year I and II resulted in farm receipts that can contribute and complement to the total cost of farming. During two years of activity, the package B consistently high potential to increase productivity, lower product cost, and efficiency of farming costs.
Varietas Unggul Tembakau Bondowoso Sri Yulaikah; Anik Herwati; Djajadi Djajadi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n2.2015.102-113

Abstract

Tembakau di Kabupaten Bondowoso diolah dalam bentuk rajangan dan digunakan sebagai pengisi (filler) dalam blending industri pabrik rokok. Areal penanaman tembakau tiap tahun berkisar antara 7.000–9.000 ha, dengan total produksi per tahun berkisar antara 6.000–8.000 ton. Permasalahan yang ada adalah terbatasnya varietas unggul yang telah dilepas. Eksplorasi telah dilakukan pada tahun 2008, dan m endapatkan 6 aksesi. Uji multilokasi 6 aksesi yaitu Somporis 1, Serumpung, Marakot, Somporis ah, Somporis lokal, dan Somporis ch dilakukan di 2–3 lokasi pada tahun 2009 sampai 2011. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memilih kultivar yang memiliki penampilan terbaik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Somporis 1 dan Somporis ch merupakan kultivar yang unggul berdasarkan indeks penampilan. Produktivitas Somporis 1 se-besar 0,94 ton/ha, indeks mutu 70,73, dan warna kuning tua (cemerlang). Sedang Somporis ch produktivi-tas 0,73 ton/ha, indeks mutu 71,8, dan sangat aromatis. Kedua kultivar tersebut dapat direkomendasikan sebagai varietas yang unggul dan legal di Bondowoso. Tobacco which was planted in Bondowoso Regency, East Java is processed as air-dried-sliced tobacco and is used as filler in cigarette blending. Tobacco planting area is about 7,000–9,000 ha per year with total pro-duction is about 6,000–8,000 tons. The problem was on Bondowoso tobacco is a shortage availability of superior varieties. The exploration of Bondowoso tobacco was started in 2008 and found six cultivars i.e. Somporis 1, Serumpung, Marakot, Somporis ah, local Somporis, and Somporis ch. Multilocation trials of the six cultivars at 2–3 sites were conducted from 2009–2011. The objective of this research was to select the superior Bondowoso tobacco cultivars. Result showed that Somporis 1 and Somporis ch were the superior varieties based on performance index parameters. Somporis 1 had yield 0.94 tons/ha, quality index 70.73, and dark yellow colour (bright). The yield of Somporis ch were 0.73 tons/ha, it’s quality index 71.8, and very aromatic. These cultivars might be recomended as legalized superior varieties tobacco in Bondowoso.
Ecobiology of Bacterial Wilt of Physic Nut in Indonesia Titiek Yulianti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n2.2015.114-122

Abstract

Budi daya jarak pagar (Jatropha curcas) dengan sistem monokultur pada hamparan yang luas telah menim -bulkan ledakan suatu penyakit. Layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit utama jarak pagar dan ditemukan di beberapa daerah pengembangan. Gejala yang terlihat pada tanaman yang terinfeksi adalah layu dan daun menguning sebelum waktunya atau daun layu tanpa adanya perubahan warna dan masih melekat di batang. Jaringan pembuluh berubah warna kecokelatan. Akar utama dan sekunder busuk berwarna cokelat kehitaman. Pada tanaman yang terinfeksi cukup berat, daun-daunya akan gugur, bagian batang menjadi cokelat, dan akhirnya tanaman mati. Berdasar reaksi oksi-dasi sumber gula, biovar R. solanacearum yang diisolasi dari tanaman jarak pagar dari Malang, Jawa Timur mirip dengan biovar 5, sedangkan yang dari Pati, Jawa Tengah, berbeda dengan biovar standar yang ada. Bakteri ini menginfeksi tomat, cabai merah, dan terong, tetapi tidak menginfeksi tembakau ataupun jagung. Observasi lapangan untuk mengetahui perkembangan layu bakteri pada tanaman jarak pagar dan penyebar-annya menunjukkan bahwa fluktuasi kejadian penyakit berkorelasi positif dengan curah hujan. Streptomycin sulfat atau kombinasi beberapa jenis antagonis merupakan cara pengendalian yang baik. Selain itu, mengoleskan CaCO3 pada luka akibat pemangkasan dapat mencegah penyakit berkembang lebih lanjut. Arah pene-litian ke depan untuk pengendalian penyakit ini adalah pengendalian terpadu yang menitik-beratkan kepada pertanian dan lingkungan yang keberlanjutan, misalnya penambahan antagonis, mikroorganisme berguna, bahan organik, serta pemupukan seimbang. Growing physic nut (Jatropha curcas) under monoculture system in large areas has generated disease out-break. Bacterial wilt caused by Ralstonia solanacearum is one of the major diseases found in several regions. The symptom of the infected plant is wilting and premature leaf yellowing or leaves wilting without changing colour and still attaching to the stem. The vascular tissues show a brown discoloration. The primary and secondary roots may become brown to black. Severe infection causes leaves of diseased plant to fall, the stem to become brown and eventually death. Based on oxidation reaction of sugar source the biovar of R. solanacearum isolated from physic nut in Malang (East Java) was similar to biovar 5, but isolate from Pati, Central Java was different from the standard biovar. The pathogen infected tomato, red chili, and egg plant but not tobacco or maize. A field observation to determine the development of bacterial wilt in physic nut and its spread pattern demonstrated that disease fluctuation incidence was positively correlated to rainfall. Streptomycin sulphate or combination of antagonists gave a good disease control. Furthermore, smearing CaCO3 on wound caused by prunning could prevent disease development. The best control measure is inte-gration of several control measures which encourage sustainable agriculture and environment, including the addition of antagonists, effective microorganism, organic matter, and balanced fertilizer. 
Keragaman Karakter Morfologi Plasma Nutfah Wijen (Sesamum indicum L.) Rully Dyah Purwati; Tantri Dyah Ayu Anggraini; Hadi Sudarmo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n2.2015.69-78

Abstract

Usaha pengembangan wijen saat ini banyak diminati petani terutama untuk lahan-lahan sawah sesudah padi. Untuk itu diperlukan varietas wijen yang berumur genjah sehingga sesuai dengan pola tanam di lahan tersebut. Untuk merakit varietas diperlukan keragaman genetik yang dicerminkan oleh keragaman karakter morfologi, sehingga perlu dilakukan karakterisasi plasma nutfah. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi karakter morfologi plasma nutfah wijen. Karakterisasi dilaksanakan di KP Karangploso, Malang yang terletak di ketinggian 515 m dpl. dengan curah hujan 1.500 mm/tahun, dan jenis tanah Gleymosol Gleik/Inceptisol, mulai bulan Maret sampai dengan Agustus 2012. Pada penelitian ini digunakan 35 aksesi. Penanaman wijen dilakukan pada 12 Maret 2012, masing-masing aksesi ditanam dalam satu baris pada petak berukuran 1 m x 5 m dengan jarak tanam 25 cm, satu tanaman per lubang. Hasil karakterisasi morfologi menunjukkan bahwa keragaman morfologi yang tinggi ditunjukkan oleh karakter kuantitatif yaitu panjang petiol, lebar daun, rasio panjang : lebar daun, dan jumlah cabang dengan nilai masing-masing KK 27,49%;39,43%; 40,79%; dan 49,59%. Semua karakter kualitatif menunjukkan adanya keragaman morfologi kecuali tipe pertumbuhan, tanda ‘v’ pada korola bagian dalam, dan warna kapsul. Pengelompokan plasma nutfah menghasilkan keragaman yang tinggi; pada tingkat kemiripan 36,06% koleksi plasma nutfah wijen terbagi menjadi dua kelompok besar dan pada tingkat kemiripan 57,37% terbagi menjadi sembilan kelompok. Development of sesame is directed to rice field after rice has been harvested, and thus requires early ma-turing varieties which are suitable for cropping system in these areas. The genetic diversity of sesame germ-plasm is reflected by the diversity of agromorpho-logical characters, therefore collection of sesame germ-plasm have to be characterised. The objective of this research was to collect information of morphological characters of sesame germplasm. Characterization activities was held in Karangploso Experimental Station, Malang which is laid on 515 above sea level, rainfall 1,500 mm/year, and soil type Gley-mocol Gleik/Incepticol, from March to August 2012. Sesame accessions were planted on 12 March 2012, each accession was planted in a row in 1 m x 5 m plot size, with 25 cm plant spacing, and one plant per hole. Fertilizer used was 45 kg N + 36 kg P 2O5 + 30 kg K2O. Characterization of quantitative morphological characters resulted in high diversity of pe-tiole length, leaf width, leaf length : width ratio, and number of branches characters, each character had CV value 27.49%; 39.43%; 40.79%; and 49.59%. Diversity was observed for all quali-tative morphological characters, except plant growth type, ‘v’ mark of inner side of corolla, and seed coat color. Clustering showed that sesame germplasm had high genetic diversity ; sesame germplasm is divided into two large groups on 36.06% similarity level, whereas based on 57.37% similarity, sesame germplasm is divided into nine groups.

Page 7 of 20 | Total Record : 196