cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Kesesuaian Galur-Galur Harapan Kapas Berdaun Okra dalam Sistem Tumpang Sari Dengan Kedelai Riajaya, Prima Diarini; Kadarwati, Fitriningdyah Tri
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Galur-galur kapas berdaun okra atau menjari berpotensiuntuk ditanam pada tata tanam rapat dalam sistem tumpangsari dengan palawija karena bentuk daun yang menjari dapat meneruskan intersepsi cahaya ke ca-bang bagian bawah, namun kesesuaiannya perlu diteliti. Penelitian lapang dilakukan di Kebun Percobaan Ka-rangploso, Malang mulai AprilsampaiSeptember 2011 bertujuan untuk mendapatkan galur-galur kapas ber-daun okra yang sesuai pada sistem tumpang sari dengan kedelai. Bahan tanaman yang digunakan adalah 4 galur harapan kapas berdaun okra dan 2 varietas kapas berdaun normal terdiri atas 98031/1/7, 98039/6, 98040/3, 98048/2, Kanesia 8, dan Kanesia 10. Galur-galur kapas tersebut tahan terhadap hama penggerek buah dan mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali. Monokultur kapas dan kedelai ditanam untuk menghitung penurunan produksi tumpang sari terhadap monokultur dan menghitung Nilai Kesetaraan Lahan (NKL). Parameter yang diamati pada ta-naman kapas adalah tinggi tanaman, lebar kanopi, jumlah cabang vegetatif dan generatif, serta jumlah buah/ tanaman setiap dua minggu mulai 60–120 HST. Bobot buah, jumlah buah terpanen, hasil kapas berbiji, dan hasil kedelai diamati saat panen. Parameter pertumbuhan yang diamati pada jagung maupun kedelai adalah tinggi tanaman dan lebar kanopi. Hasil penelitian menunjukkan galur kapas berdaun okra yaitu galur 98048/2 mempunyai kesesuaian yang tinggi bila ditumpangsarikan dengan kedelai dengan hasil kapas 1.888 kg/ha dan kedelai 1.492 kg/ha, dengan 67,3% dari potensi hasil galur tersebut dan NKL 1,3. Tingkat penurunan hasil kapas dan kedelai masing-masing 33% dan 39% terhadap monokultur. Hasil kapas monokultur galur 98048/2 tertinggi dibanding galur okra lainnya yaitu 2.837 kg/ha, dengan 101,1% dari potensi hasil galur tersebut. Penurunan hasil kedelai lebih tinggi (45–47%) bila ditumpangsarikan dengan kapas berdaun nor-mal dibanding galur okra (36–44%).    
Keragaan Kelembagaan Dalam Agribisnis Gula di Sulawesi Selatan Husnah, Nurdiah; Tandisau, Peter; Herniwati, .; Djuhry, Fadjry
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelembagaan dalam pengembangan agribisnis gula merupakan upaya peningkatan kualitas hidup masyara-kat tani, yang dicapai melalui investasi teknologi, pengembangan produktivitas tenaga kerja, pembangunan sarana ekonomi, serta penataannya, sumber daya manusia dan sumber daya alam. Permasalahan utama yang dihadapi berkaitan dengan agribisnis gula, yaitu (1) produktivitas yang cenderung turun yang disebab-kan antara lain karena penerapan teknologi on farm dan efisiensi pabrik gula yang rendah; (2) impor gula yang semakin meningkat; (3) harga gula domestik tidak stabil yang disebabkan oleh sistem distribusi yang kurang efisien dan (4) pemanfaatan kelembagaan penunjang agribisnis.  Dilihat dari berbagai aspek,seperti potensisumberdayayang dimiliki, arah kebijakan pembangunan nasional, potensi pasar domestik produk-produk agribisnis, Sulawesi Selatan memiliki prospek untuk mengembangkan sistem agribisnis gula.  Hasil penelitian menunjukkanbahwasistem agribisnis gula meliputi beberapa subsistem yang terdiri atas subsistem hulu, sub-sistem on farm, subsistem hilir, dan subsistem lembaga penunjang agribisnis yang masing-masing memiliki peran dan sebagai sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, saling menyatu dan saling terkait. Secara integral terkait antara sektor perkebunan di on farm dan sektor industri di hulu dan hilir, kon-disi inilah yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik secara nasional.  Institutions in the sugar agribusiness is efforts to increase the quality of life of farmers, which is achieved through technology investment, the development of labor productivity, the development of the economy, as well as arrangement of human and natural resources. The main problems associated with sugar agribusiness, namely: (1) productivity tends to decline due in part because the application of the technology on farm and factory efficiency of sugar mill is low, (2) increasing sugar imports, (3) the price of domestic sugar unstable due to the inefficient distribution system, and (4) the utilization of institutional support agribusiness. Viewed from various aspects, such as the potential resources, the direction of national development policies, domes-tic market potential for the products of agribusiness, South Sulawesi has the prospect to develop the sugar agribusiness system. The results showed that the sugar agribusiness system includes multiple subsystems consisting of upstream subsystems, on farm subsystems, and downstream subsystem. Those support agri-business institutions that each have a role and as a system, which can not be separated from each other, merge with each other and mutually related. Integrally, related to the plantation sector in the industrial sec-torona frame of upstream as well as downstream, would create the conditions foreconomic growth nationally.
Potensi Beberapa Isolat Bakteri Pelarut Fosfat Asal Lahan Tebu di Jawa Timur Berdasarkan Aktivitas Enzim Fosfatase Rahayu, Farida; Mastur, .; Santoso, Budi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Fosfor (P) merupakan hara esensial untuk pertumbuhan tanaman karena P berperan penting dalam banyak ak-tivitas metabolisme tanaman. Tanaman memperoleh P dari larutan tanah dalam bentuk anion. Namun, anion P sangat reaktif dan dapat mudah terikat oleh unsur Al, Fe, Mg, dan Ca. Dalam bentuk tersebut, P sangat tidak terlarut sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) berperan penting dalam meningkatkan ketersediaan P dalam tanah sehingga potensi BPF yang diisolasi dari lahan tebu perlu diidentifikasi. Kegiatan identifikasi potensi bakteri pelarut fosfat dilakukan mulai Januari–Desember 2012 di Laboratorium Bioprosesing Balai Penelitan Tanaman Pemanis dan Serat, Malang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan eksplorasi bakteri pelarut fosfat dan seleksi berdasarkan kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat. Isolat dieksplorasi dari lahan tebu di Jawa Timur yaitu di Kabupaten Sidoarjo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo. Dari 65 isolat bakteri yang berhasil diisolasi, 22 isolat bakteri diantaranya berpotensi sebagai bakteri pelarut fosfat (BPF). Setelah dilakukan uji lebih lanjut, diperoleh 9 isolat unggul bakteri pelarut fosfat yaitu SD-10, Bl-1, KD-5, ML-2, LJ II-3 yang menunjukkan aktivitas fosfatase tinggi di hari pertama, sedangkan LJ I -3 dan BD-2 menunjukkan aktivitas fosfatase pada hari kedua dan SD-7 serta BL-4 termasuk dalam 9 besar isolat dengan diameter zona bening terbesar. Luas daerah zona bening secara kualitatif menunjukkan besar kecilnya kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat. Isolat BPF tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki ketersediaan P di tanah dan mampu memperbaiki kualitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu. Phosphorus (P) is an essential nutrient for plant growth, because it plays an important role in many metabolisms activities. Plants obtain P from soil solution as anion. However, phosphate anions are very reactive and can be immobilized through precipitation with Al, Fe, Mg, and Ca. In these form, phosphate is insoluble and unavailable to plants. Phosphate solubilizing bacteria (PSB) plays important role in dynamics and availability of P in soil. So, the potency of PSB isolates which were explored from sugarcane soil of East Java might be important to be identified. Identification based on activity of phosphatase enzyme was conducted from January–December 2012 in Bioprocessing Laboratory Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute, Malang. The aim was to explore and select PSB based on their ability to dissolve of P. Isolation of PSB was collected from sugar cane land of East Java included Sidoarjo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Bondowoso and Situbondo. Among 65 bacterial isolates, 22 bacterial isolates were potentially as PSB. After a further test, we obtained 9 isolate had high enzyme activities, ie. SD-10, BL-1, KD-5, ML-2 and LJ II-3 had phosphatase activity on the first day, whereas LJ I-3 dan BD-2 had an activity at the second day, while SD-7 and BL-4 had largest diameter of clear zones. Phosphate solubilizing bacteria isolate is expected to increase improve availability of P in the soil, quality and development of plants.
Perencanaan Usaha Tani Lahan Kering Berkelanjutan Berbasis Tembakaudi Sub-DAS Progo Hulu (Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah) Suyana, Jaka
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akibat dari teknik budi daya yang kurang mengindahkan kaidah konservasi tanah dan air, pada kemiringan berbukit dan curam, serta curah hujan yang tinggi pada usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu telah menyebabkan terjadinya erosi yang parah dan degradasi lahan. Penelitian ini bertuju-an: (1) mengkaji kondisi biofisik lahan dan karakteristik usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo hulu; (2) mengkaji pengaruh teknologi konservasi tanah dan air (KTA) spesifik lokasi terhadap limpasan permukaan dan erosi; dan (3) merumuskan perencanaan sistem pertanian konservasi untuk mewu-judkan sistem usaha tani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei, percobaan lapangan, dan analisis di laboratorium. Data karakteristik lahan, karakteristik usaha tani, serta data limpasan permukaan dan erosi dianalisis secara deskriptif dan dilan-jutkan dengan analisis ragam (uji F) dan uji HSD 5%. Selanjutnya pengembangan rekomendasi agroteknolo-gi diformulasikan melalui teknik simulasi dengan program Powersim Versi 2.5d. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan lahan pada usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu pada umumnya (58,4%) sesuai dengan kelas kemampuan lahan dan sisanya 41,6% tidak sesuai dengan kelas ke-mampuan lahan. Terdapat 77,2% lahan memiliki nilai prediksi erosi lebih besar dari nilai erosi yang dapat di-toleransikan (ETol) dan perlu penyempurnaan dalam teknologi KTA. Usaha tani lahan kering berbasis usaha tani tembakau di Sub-DAS Progo Hulu didominasi pola tanam jagung-tembakau (51,0%) dan cabai-temba-au (29,2%), dengan pendapatan usaha tani masih di atas nilai kebutuhan hidup layak (KHL). Perlakuan pem-berian mulsa batang tembakau dikombinasikan rumput penguat teras (Setaria spacelata) dapat menekan erosi 15–19% pada dosis 7 ton/ha dan 31–43% pada dosis 14 ton/ha batang tembakau, sedangkan tumpang sari koro merah dengan tembakau dikombinasikan penggunaan mulsa batang tembakau 7 ton/ha dapat menekan erosi 13–20%. Pengembangan usaha tani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu dapat diwujudkan dengan penyempurnaan teknologi KTA yang meliputi: (a) perlakuan rumput setaria sebagai penguat teras + mulsa batang tembakau 7 ton/ha atau perlakuan tumpang sari koro merah dengan tembakau + mulsa batang tembakau 7 ton/ha pada kemiringan lereng 8–15%; (b) teras miring + perlakuan rorak pada kemiringan lereng 15–30%; dan (c) perlakuan rumput setaria sebagai penguat teras miring + mulsa batang tembakau 14 ton/ha + rorak pada kemiringan lereng >30%.  Due to inadequate soil and water conservation practices in farming activity at tobacco based farming sys-tems, severe erosion and land degradation had been occuring in almost all upland agriculture in Progo Hulu Sub-watershed. This research was conducted: (1) to study land’s biophysic conditions and the characteris-tics of tobacco based farming systems, (2) to study and analyze the impact of various soil and water conser-vation practices on erosion, (3) to study and design sustainable conservation farming systems in tobacco based farming systems. This research by using a survey method, field experiments, and laboratory analysis.Data characteristics of land, farm characteristics, surface run off and erosion by using descriptive analyzed and followed by analysis of variance (F test) and 5% HSD test. The development of agrotechnology recom-mendations formulated by simulation techniques using program Powersim Version 2.5 d. The results showed that land use in tobacco-based farming systems at Progo-Hulu sub-watershed was generally (58.4%) suitable to its land capability and 41.6% were not suitable. The predicted erosion on approximately 77.2% of lands were higher than local tollerable soil loss which need improvement of soil and water conservation techniques. Tobacco based farming systems was dominated by maize-tobacco (51.0%) and chili-tobacco (29.2%) cropping patterns; farmers income on this farming systems were higher than the income that can support worthed life living standard. The application of crop residue (tobacco stems) as mulch with rate of 7 tones/ha and 14 tones/ha combined with grassed bench terraces ((Setaria spacelata) reduced erosion as much as 15–19% and 31–43%, respectively. Meanwhile, red bean-tobacco intercropping combined with crop residue mulch of 7 tones/ ha had suppressed erosion 13–20%. Sustainable tobacco-based farming systems could be developed in this area by practicing improved soil and water conservation technologies with: (a) setaria grass to strengthen terraces + 7 tones/ha of crop residue mulch or red bean and tobacco intercropping + 7 tones/ha of crop residue mulch on 8–15% slope; (b) broad base terraces + adequate slit pit on 15–30% slope; and (c) setaria grass to strengthen broadbase terraces + 14 ton/ha of crop residue mulch + adequate slit pit on >30% slope.
Potensi dan Peluang Biji Jarak Pagar untuk Substitusi Bahan Bakar Kompor Masak Skala Rumah Tanggadi Pedesaan Hastono, Abi Dwi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang diprogramkan sebagai salah satu penghasil sum-ber energi baru dan terbarukan. Pemanfaatan biji jarak pagar sebagai sumber energi di pedesaan Indonesia belum banyak dipublikasikan.  Tulisan tinjauan ini bertujuan untuk membahas potensi biji jarak pagar yang sudah ada di pedesaan untuk bahan bakar kompor masak skala rumah tangga sebagai substitusi minyak ta-nah dan LPG. Kompor berbahan bakar biji jarak pagar hasil perekayasaan Balittas berpeluang besar untuk diaplikasikan guna memenuhi kebutuhan memasak skala rumah tangga di pedesaan.  Penyediaan biji jarak pagar sebagai bahan bakar kompor dapat diperoleh dengan mengusahakan tanaman jarak pagar yang sudah ada supaya berproduksi sesuai dengan kebutuhan, atau menanam lagi sesuai dengan program pengembang-an komoditas ini. Peningkatan produksi biji jarak pagar tersebut dapat dicapai melalui penerapan sistem budi daya yang tepat.  Penggunaan kompor berbahan bakar biji jarak pagar dengan kapasitas 600 g, konsumsi bahan bakar sebanyak 300 gram biji jarak per jam menghasilkan nyala api di dalam kompor sekitar 420oC dapat menyubstitusi penggunaan LPG sebesar 20% atau mengganti penggunaan kayu bakar sebesar35% untuk kebutuhan memasak skala rumah tangga.  Physic nut (Jatropha curcas L.) has been recommendedas one of a new and renewable energy source. Uti-lization of physic nut seeds as an energy source in Indonesian villages has not been intensively published.  This review is aimed to discuss a possibility of the utilization of existed jatropha seeds existing in some vi-llages for household stove as a substitute for kerosene or LPG.  The stove using jatropha seed was designed by Balittas and prospective to be applied to fulfill the cooking need at household level in the village. The seed supply could be obtained from the existing jatropha plants by applying cultural practices to get the seed pro-duction as much as needed for cooking.  The use of jatropha seed stove (capacity 600 g; consumption 300 g/h, heat production around 420oC would substitute or replace the use of LPG and/or fire woods the villagers usually used by 20% and 35%, respectively.
Stabilitas Hasil Sepuluh Genotipe Rosela Herbal (Hibiscus sabdariffa var. Sabdariffa) di Daerah Pengembangan Setyo-Budi, Untung; Marjani, .; Purwati, Rully Dyah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rosela herbal (Hibiscus sabdariffa var. Sabdariffa L.) baru berkembang secara komersial di Indonesia sejak 2005 untuk makanan dan minuman kesehatan. Keunggulan rosela herbal terletak pada kandungan vitamin C, vitamin A, vitamin B, dan bahan aktif (asam amino) seperti antosianin, gossypektine, glucoside hibiscin, dan flavonoid. Uji stabiltas hasil yang bertujuan untuk memperoleh beberapa genotipe unggul harapan rose-la herbal dilaksanakan di sembilan lokasi yakni Kabupaten: Malang, Blitar, Kediri, Situbondo, Grobogan, Ken-dal, dan Pati selama tiga tahun yakni dari tahun 2009–2012. Pada uji ini digunakan 10 genotipe rosela herbal yang ditanam pada petak berukuran 45 m2 (120 tan./plot). Pengujian ini menggunakan rancangan acak ke-lompok dengan 3 ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah kapsul per tanaman, bo-bot 100 kelopak kering, hasil kapsul segar, kelopak segar, dan kelopak kering per ha. Analisa kandungan nu-trisi terhadap kelopak bunga rosela dilaksanakan di Laboratorium Kimia (MIPA) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang. Pendugaan interaksi genotipe dengan lingkungan dilakukan dengan analisis gabungan semua lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe 455 (hijau), 1575 (merah), 1596 (ungu), dan 678-U (ungu) memiliki potensi hasil kelopak kering dan kandungan nutrisi yang tinggi de-ngan daya adaptasi luas. Potensi produksi kelopak kering genotipe-genotipe tersebut berturut-turut adalah: 544,98 kg; 478,60 kg; 554,73 kg; dan 471,46 kg per ha dengan kandungan vit. C/antosianin (mg/100 g ke-lopak kering): 345,40 mg/1,442 mg; 2.033,52 mg/14,697 mg; 188,00 mg/0,003 mg; 988,68 mg/9,814 mg. Herb roselle (Hibiscus sabdariffa var. Sabdariffa L.) is commercially planted in Indonesia since 2005 for the food and beverage health. Roselle herbal contents C, A, and B vitamins and other active ingredients (amino acids) as anthocyanin, gossypectine, hibiscin glucoside, and flavonoids. Stabilty trials results aimed to obtain superior genotypes of roselle herbs were conducted at nine locations (districts) namely: Malang, Blitar, Kediri, Situbondo, Grobogan, Kendal, and Pati for three years (2009–2012). Ten roselle herbs genotypes were tested in this experiment, planted in 45 m2 plots (120 plants/plot). The research was arranged in randomized block design with three replications. Parameters observed were: plant height, number of capsules per plant, dry weight of 100 calyx, weight of fresh capsules, fresh calyxs, and dried calyx per ha. Analysis of nutrient contents of roselle calyx was conducted at the Laboratory of Chemistry (MIPA) State Islamic University (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang. Estimation of genotype by environment interaction is done by combined analysis of data from all locations. Experimental results showed that genotypes 455 (green), 1575 (red), 1596 (purple), and 678-N (purple) have the potential of dried calyx and high nutrient content with wide adaptability, with dried calyx production potency is: 544.98 kg, 478.60 kg, 554.73 kg, and 471.46 kg per ha respectively. The content of vitamin C/anthocyanins (mg/100 g dried calyx) are: 345.40 mg/1.442 mg, 2,033.52 mg/14.697 mg, 188.00 mg/0.003 mg, and 988.68 mg/9.814 mg respectively.
Uji Antagonisme Bacillus cereus terhadap Rhizoctonia solani dan Sclerotium rolfsii Hidayah, Nurul; Yulianti, Titiek
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jamur Rhizoctonia solani dan Sclerotium rolfsii merupakan kelompok jamur steril (tidak menghasilkan spora) tetapi dapat menghasilkan sklerosia sebagai sumber inokulum primer, dan struktur istirahat jamur yang dapat bertahan selama beberapa tahun di dalam tanah saat kondisi lingkungan kurang menguntungkan. Penggunaan fungisida, fumigasi, dan solarisasi tanah telah digunakan untuk mengendalikan kedua jamur tersebut, namun hasil yang diperoleh masih beragam. Pengendalian hayati dengan menggunakan bakteri Bacillus sp. yang merupakan salah satu kelompok agens hayati patogen diketahui memberikan hasil yang baik pada beberapa tanaman. Penelitian yang bertujuan menguji potensi B. cereus dalam menghambat pertumbuhan jamur R. solani dan S. rolfsii secara in vitro dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Balittas dengan menggunakan metode dual culture pada media potato dextrose agar (PDA). Miselia jamur R. solani dan S. rolfsii masing-masing berumur 5 hari diambil dengan menggunakan cork borer ukuran 0,5 cm ditanam pada media PDA berhadapan dengan B. cereus dengan jarak 3 cm. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dan diulang empat kali. Pengamatan dilakukan terhadap persentase penghambatan pertumbuhan jamur oleh Bacillus sp. dan laju pertumbuhan jamur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bacillus sp. mampu menghambat pertumbuhan miselia R. solani dan S. rolfsii masing-masing sebesar 68,9% dan 33% pada hari ketiga setelah perlakuan. Keberadaan B. cereus dapat memperlambat laju pertumbuhan R. solani (15,5 mm/24 jam), dibandingkan perlakuan kontrol (tanpa B. cereus) sebesar 19,7 mm/24 jam. Hasil ini menunjukkan bahwa B. cereus dapat menghambat pertumbuhan R. solani dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai agens hayati. Rhizoctonia solani and Sclerotium rolfsii (the causal agents of damping off disease on various hosts) are the group of sterile fungi that cannot produce spores. Nevertheless, they produce sclerotia as primary inocula and resting spores when facing unfavorable condition. Several control methods using chemical fungicides and solarization had been conducted, but the results were still inconsistent. In addition, the use of Bacillus sp. as a biological control agent for several plant diseases had provided successful results. Furthermore, the research aimed to evaluate the potency of B. cereus towards R. solani and S. rolfsii in vitro was carried out in the laboratory of phytopathology using dual culture method on PDA medium. Five days of R. solani and S. rolfsii miselia were plugged and inoculated on PDA medium toward B. cereus. The research was arranged by completely randomized design with four replicates. The percentage of fungal inhibition and fungal growth rate were observed. The result showed that B. cereus exhibited mycelial growth inhibition activity of R. solani and S. rolfsii by 68,9% and 33% three days after treatments, respectively. The result also indicated thatB. cereus has a potential prospect to be developed as a biological control agent because the bacteria could suspend the growth rate of R. solani.
Sinkronisasi Source dan Sink untuk Peningkatan Produktivitas Biji pada Tanaman Jarak Pagar Mastur, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini dunia sedang menghadapi masalah penurunan cadangan minyak dan dampak lingkungannya. Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan sumber bahan baku biodiesel yang potensial. Pengembangan jarak pagarsaat ini masih terbatas disebabkan usaha tani yang belum menguntungkan terutama disebabkan produktivitas tanaman rendah. Makalah dimaksudkan untuk membahas pendekatan source dan sink untuk peningkatan produktivitas tanaman jarak pagar. Strategi penelitian untuk meningkatkan produktivitas dilakukan dengan peningkatan produksi biologi (biomassa) dan ekonomi (biji dan minyak). Produktivitas dapat meningkat jika terjadi sinergi antara source dan sink. Peningkatan source dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan tanaman dalam memanen energi cahaya melalui peningkatan produksi asimilat dengan peningkatan laju fotosintesis daun individual, perbaikan arsitektur kanopi, serta memperpanjang umur produktif daun terutama selama pembentukan biji. Perbaikan sink dapat dilakukan dengan meningkatkan proporsi bunga betina, meningkatkan proporsi buah jadi, serta meningkatkan laju dan lama pembentukan biji melalui dukungan source. Perbaikan source dan sink tersebut dilakukan melalui pemilihan genotipe tanaman dengan sifat-sifat source dan sink optimal untuk dijadikan bahan perakitan varietas. Perbaikan teknologi budi daya dapat dilakukan dengan pengaturan jarak tanam yang tepat, pemangkasan, pemupukan, pengairan, dan penggunaan ZPT yang tepat baik untuk mendukung kanopi yang produktif sebagai pemasok asimilat, maupun untuk memperbesar kemampuan biji sebagai sink utama dalam memanfaatkan semaksimal mungkin pasokan asimilat untuk sintesis biji dan lemak. Dengan demikian, diharapkan diperoleh tanaman jarak pagar dengan produktivitas tinggi sebagai hasil dari produksi biomassa dan indeks panen tinggi. Nowadays, the world is facing problem of lowering petroleum fuel stocks and its environmental impact. Physic nuts (Jatropha curcas L.) is a plant that can be used as biodiesel feedstock. Extention problem of physic nuts cropping area and its role as biodiesel source is still limited due to low economical value and low productivity. This paper elucidates source and sink and their correlation to productivity based on research. Research strategies are directed to study increase biological yield (biomass) and economical yield (seed and oil content) of physic nut. The yield can be increased by  synergizing between source and sink. Alleviating source could be done byincreasing the ability of plant in increasing photoshinthesis rate, arranging canopy architecture, and prolonging the age leaves especially during seed development. Sink process could be optimized through promoting numberof female flower, number of seeds, and increasing seed initiation and development. The source and sink improvement can be implemented through genotype selection for breeding materials. Cultivation technologyimprovement can be conducted plant optimum spacing and population arrangement, prunning, fertilizing, watering/irrigation, and plant growth regulator application to support productive canopy as assimilat supplier, and also enlarge seed capacity and strength as main sink trough optimum use assimilate for seed and lipid biosynthesis. Therefore, it will be achieved high productivity of physic nuts as a consequences of high biomass and highharvest index.
Keragaan Karakter Kualitatif, Kuantitatif, dan Identifikasi Senyawa Kimia Ekstrak N-Heksana Beberapa Aksesi Plasma Nutfah Tembakau Yulaikah, Sri; Khuluq, Ahmad Dhiaul
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap aksesi plasma nutfah tembakau memiliki keragaan karakter yang berbeda, baik karakter kualitatif, kuantitatif maupun kandungan senyawa kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi keragaan karakter kualitatif dan kuantitatif delapan aksesi tembakau dan menganalisa komponen kimia yang terkan-dung di dalam daunnya. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Karangploso, Malang dan laboratorium Kimia, Universitas Brawijaya tahun 2012. Aksesi plasma nutfah tembakau yang dievaluasi adalah S.2258, S.24/kml2, S.24/kml3, S.2132/sin, S.2224, S.2279, S.2355, dan S.2154/kas. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) diulang 3 kali. Karakter kualitatif yang diamati adalah tepi daun, ujung da-un, kerapatan internode, sudut, dan tangkai daun; karakter kuantitatif yang diamati meliputi jumlah daun, ukuran daun, dan umur berbunga. Kandungan senyawa kimia daun diekstrak dengan N-heksana dan diana-lisa dengan menggunakan GC-MS (gas chromatography mass spectrometry). Hasil karakterisasi kualitatif me-nunjukkan bahwa delapan aksesi yang dianalisa memiliki keragaman karakter. Empat aksesi yang memiliki tepi daun menggulung cenderung mengandung kadar nikotin tinggi. Dari delapan aksesi yang dikarakter, S.2279 menghasilkan daun terbanyak (43,18 lembar), dan S.2224 memiliki jumlah daun paling sedikit (17,45 lembar). S.2279 memiliki umur berbunga paling dalam (135,82 hari), sedangkan paling genjah S.2224 (57,33 hari) tidak beda nyata dengan S.24/kml3 (61,90 hari). Komponen senyawa kimia yang terkandung dalam daun terdiri atas 22 komponen, tergolong dalam kelompok senyawa alkaloid, hidrokarbon, alkohol, ester, eter, asam le-mak, dan isoamyl nitrit. Terdapat empat komponen besar senyawa kimia yang terdeteksi pada semua akse-si, yang salah satunya adalah senyawa nikotin. Kadar nikotin dalam daun berkorelasi negatif dengan jumlah daun, ukuran daun, dan umur berbunga. Each tobacco accession has specific qualitative and quantitative characteristics and contains different chemi-cal compositions. This study aimed to characterize qualitative and quantitative properties of eight tobacco accessions and to analyze chemical components of the tobacco leaves. The study has been conducted at Ka-rangploso Experimental Station of ISFRI, Malang and Chemistry Laboratory of Brawijaya University in 2012. Eight accessions of tobacco germplasm i.e. S.2258, S.24/kml2, S.24/kml3, S.2132/sin, S.2224, S.2279, S.2355, and S.2154/kas were evaluated in randomized block design (RBD) with 3 replications. Observation of quali-tative characters included type of leaf tip, leaf edge, internode, angle, and twig leaf; quantitative characters included leaf size, number of leaves, and flowering time. Chemical components of the leaf were extracted with N-heksana and identified by using GC-MS (gas chromatography mass spectrometry). Qualitative proper-ties of eight accessions showed various characteristics. Four accessions with rolling leaf edge tended to have high nicotine content. Of eight evaluated accessions, S.2279 produced highest leaf number (43.18 sheets), and S.2224 produced the smallest number of leaf (17.45 sheets). S.2279 had the latest flowering age (135.82 days), whilst S.2224 was the earliest (57.33 days) which was no significant different with S.24/kml3 (61.90 days). Chemical components of the evaluated tobacco leaf comprised of 22 compounds belong to alkaloids, hydrocarbons, alcohols, esters, ethers, fatty acids, and isoamyl nitrite. There were four major groups detected on all accessions, which one was nicotine. There was also noted that nicotine content negatively correlated with number of leaves, leaf size, and flowering time.
Pengaruh PVP dan DIECA terhadap Regenerasi Meristem Tebu Roostika, Ika; Wati, Rara Puspita Dewi Lima; Sukmadjaja, Deden
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman yang diperbanyak secara vegetatif sehingga berisiko besar akan terjadinya akumulasi virus di dalam jaringan tanaman. Kultur meristem merupakan salah satu teknik eliminasi virus yang umum digunakan, namun seringkali meristem memiliki daya hidup dan daya re-generasi yang rendah. Salah satu penyebabnya adalah karena akumulasi senyawa fenol. Akumulasi senyawa tersebut dapat direduksi melalui penggunaan senyawa adsorben dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan un-tuk mengetahui pengaruh polyvinylpyrrolidone (PVP) dan diethyldithiocarbamate sodium (DIECA) terhadap regenerasi meristem tebu. Bahan tanaman yang digunakan adalah tebu PS864. Eksplan yang digunakan adalah meristem dengan 1–2 primordia daun yang diisolasi di bawah mikroskop. Perlakuan meliputi PVP (100 dan 300 mg/l) dan DIECA (0 dan 20 mg/l) serta kombinasi antara kedua zat tersebut, dengan 3 ulang-an (botol) dan setiap botol terdiri atas 3 meristem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kon-sentrasi PVP atau kombinasi perlakuan PVP dan DIECA dapat meningkatkan persentase eksplan hidup, daya regenerasi, dan jumlah tunas. Kombinasi perlakuan PVP 300 mg/l dan DIECA 20 mg/l merupakan perlakuan terbaik karena persentase hidup dan daya regenerasi eksplan yang paling tinggi (100%) dengan jumlah tu-nas 3,8 tunas/eksplan. Being vegetatively propagated, sugar cane faces a high risk of virus accumulation. Meristem culture is one method that usually applied for virus elimination. However, it often has low survival and regeneration rate due to an accumulation of phenolic compounds. Accumulation of those compounds can be reduced by apply adsorbent antioxidant. This research aimed at evaluating the effect of PVP and DIECA on the regeneration capacity of meristem. The plant material was sugar cane PS864. Meristems with 1─2 primoridial leaves were used as the explants and isolated under microscope. The PVP (100−300 mg/l) and DIECA (0− 20 mg/l), or combined treatment of both antioxidants were used as treatments. Each treatment was replicated 3 times (bottles), and each bottle contained 3 meristems. The result showed that the higher concentration of PVP or combined treatment of PVP and DIECA could increase the percentage of survival, regeneration rate, and number of shoot. The combined treatment of 300 mg/l PVP, and 20 mg/l DIECA produced the highest level of survival rate (100%) which yielded 3.8 shoots/explants.

Page 6 of 20 | Total Record : 196