cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Teknologi Pasca Panen
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 18583504     EISSN : -     DOI : -
Buletin Penelitian Pascapanen Pertanian memuat tinjauan (review) hasil-hasil penelitian dikaitkan dengan teori, aplikasi dan kebijakan dengan tujuan memberikan informasi teknologi dan kebijakan pascapanen pertanian kepada pengguna. Buletin ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 46 Documents
TEKNOLOGI PENANGANAN DAN PENGOLAHAN UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI, MUTU DAN KEAMANAN SUSU SAPI SEGAR DI INDONESIA nFN Abubakar
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 7, No 2 (2011): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak dari peningkatan kesejahteraan, pendapatan, pendidikan dan ketaqwaan masyarakat, maka kebutuhan akan pangan asal hewan termasuk susu yang berkualitas, bergizi, aman dan halal dikonsumsi akan terus menjadi tuntutan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan susu tersebut diatas, maka diperlukan teknologi penanganan dan pengolahan yang baik. Lonjakan permintaan susu dalam negeri terjadi akibat peningkatan harga susu dunia yang mencapai US $ 4000 per ton. Hal ini dipicu oleh kebijakan Uni Eropa dan beberapa negara penghasil susu yang mengurangi subsidi bagi usaha peternakan sapi perah, sehingga tidak ada insentif bagi peternak negara asing untuk mengembangkan usahanya. Kondisi ini menguntungkan bagi peternak sapi perah Indonesia karena akan terjadi peluang untuk meningkatkan posisi tawar kepada pembeli susu dan industri pengolahan susu. Usaha peningkatan produksi susu sapi dalam negeri terus dilakukan dan selalu diikuti dengan penerapan teknologi pascapanen tepat guna, hal ini untuk meningkatkan nilai tambah susu, maupun meningkatkan pertumbuhan agroindustri susu di daerah pedesaan. Sampai saat ini pemanfaatan produksi hasil ternak terutama susu dirasakan belum optimal oleh karena sifatnya yang mudah rusak, sehingga masih terdapat susu sapi yang dibuang. Disamping itu mutu produk susu masih beragam, keamanannya belum terjamin (TPC masih tinggi), belum diterapkannya HACCP, kurang berdaya gunanya cara-cara penanganan dan pengolahan, serta lemahnya sistem pemasaran. Untuk itu diperlukan teknologi penanganan dan pengolahan, sistem pengendalian yang intensif berupa pengamanan sejak pra-produksi, hingga pemasaran (preharvest food safety program), pengendalian infrastruktur dan penerapan UU Pangan, UU perlindungan konsumen dan SK Menteri tentang produksi dan keamanan susu sapi.
Pengaruh Pengeringan Absorpsi dan Microwave Oven Terhadap Kadar Vanilin Pada Proses Curing Vanili Termodifikasi Dwi Setyaningsih; Rizal Syarief; Farida Anggraini
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 5, No 1 (2009): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan vanilin pada vanili curing dari Indonesia lebih rendah dibanding potensi sesungguhnya. Usaha untuk meningkatkan kualitas dapat dilakukan dengan memodifikasi proses curing. Pada penelitian ini, modifikasi dilakukan dengan meningkatkan absorpsi aktivator enzim ?-glukosidase yaitu butanol 0,1 M and sistein 3 mM menggunakan infiltrasi vakum dan tekanan tinggi dan memodifikasi proses pengeringan vanili menggunakan pengeringan absorpsi dan microwave. Teknik infiltrasi vakum tekanan 5 kPa selama 10 menit menghasilkan aktivitas enzim dan kadar vanilin lebih tinggi dibanding tekanan vakum 50 kPa, tekanan normal, tekanan tinggi 100 dan 150 kPa di atas normal. Pengeringan absorpsi tidak dapat menstabilkan kadar vanilin yang diperoleh selama lima hari pertama pengeringan (1,0% bk). Kadar vanilin yang diperoleh dari pengeringan absorpsi adalah 0,82% bk. Pengeringan dengan oven microwave juga tidak dapat menstabilkan kadar vanilin yang diperoleh dari lima hari pertama pengeringan. Kadar vanilin yang diperoleh adalah 0,49% (bk). Pengeringan menggunakan oven suhu 60oC selama 3 jam per hari meningkatkan kadar vanilin menjadi 1,40% (bk). Nilai ini lebih tinggi dibanding yang diperoleh dari metode standar (Balitro II). Dari hasil penelitian ini dapat dinyatakan bahwa curing vanili dengan pengeringan absorpsi dan microwave tidak tepat untuk diaplikasikan.
Efek Pengeringan Infrared Terhadap Perubahan Mikrostruktur, Sifat Fisik Dan Kapasitas Rehidrasi Bahan Pangan Resa Setia Adiandri; Eka Rahayu; Ridwan Rachmat
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 9, No 1 (2013): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengeringan infrared memberikan beberapa keuntungan dibandingkan dengan pengeringan konvesional pada kondisi pengeringan yang sama. Beberapa keuntungan dari pemanfaaatan infrared yaitu laju pengeringannya cukup tinggi, hemat energi, dan distribusi suhu yang seragam sehingga menghasilkan mutu produk yang lebih baik. Dalam perkembangannya, radiasi infrared tidak hanya diapalikasikan secara tunggal tetapi dikombinasikan dengan metode pengeringan lainnya untuk memperbaiki karakteristik mutu produk akhir. Kondisi proses dan intensitas radiasi infrared yang diaplikasikan pada pengeringan bahan pangan berpengaruh terhadap karakterisitik produk akhir. Makalah ini membahas efek pengeringan infrared (tekstur, porositas, warna) dan kapasitas rehidrasi bahan pangan. Dari sejumlah literatur diketahui bahwa radiasi infrared memberikan efek terhadap dan kapasitas rehidrasi. Dengan radiasi infrared, mikrostruktur produk kering menjadi lebih berongga dan poros sehingga porositas dan kapasitas rehidrasinya lebih tinggi dan tekstur yang dihasilkan lebih renyah namun terjadi penyusutan pada produk kering. Laju pengeringan radiasi infrared yang cukup tinggi menyebabkan penguapan berlangsung cepat, kontak suhu panas dengan bahan relatif singkat sehingga degradasi warna pada produk akhir dapat diminimalisasi.
Potensi Likopen dalam Tomat untuk Kesehatan Sari Intan Kailaku; Kun Tanti Dewandari; nFN Sunarmani
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 3, No 1 (2007): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tomat adalah buah yang memiliki berbagai vitamin dan senyawa anti penyakit yang baik bagi kesehatan. Selain dikonsumsi dalam bentuk segar, buah tomat dapat juga dikonsumsi dalam bentuk olahan, seperti sari tomat, pasta tomat, pure tomat, saos tomat, jus tomat, dan lain-lain. Zat aktif utama dalam tomat yang ditemukan dalam jumlah besar adalah likopen. Likopen sangat bermanfaat bagi kesehatan, selain itu dapat berfungsi sebagai antioksidan alami, mencegah kanker prostat, penyakit pada wanita seperti kanker payudara serta menekan terjadinya osteoporosis. Berbagai penelitian menemukan bahwa likopen dalam tomat akan lebih mudah diserap tubuh jika diproses menjadi olahan seperti jus, pasta dan lain-lain.
Peningkatan Mutu dan Efisiensi Produksi Minyak Akar Wangi Melalui Teknologi Penyulingan Dengan Tekanan Uap Bertahap Edy Mulyono; Djajeng Sumangat; Tatang Hidayat
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 8, No 1 (2012): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak akar wangi (Java Vetiver Oil) merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang dihasilkan dari distilasi akar tanaman Vetivera zizanioides Stapf. Minyak akar wangi memiliki daya fiksasi aroma yang kuat sehingga banyak digunakan terutama dalam industri parfum, kosmetik, aromatherapy dan pewangi sabun. Mutu minyak akar wangi Indonesia relatif rendah jika dibandingkan dengan minyak asal Haiti dan Reunion. Warna yang gelap dan aroma gosong (smoky burn) pada minyak akar wangi Indonesia disebabkan oleh penggunaan tekanan tinggi (± 5 bar) yang konstan sejak awal penyulingan. Perbaikan mutu dan peningkatan efisiensi produksi minyak akar wangi perlu segera dilakukan agar minyak akar wangi Indonesia kembali dapat bersaing di pasar dunia. Peningkatan rendemen dan mutu minyak akar wangi dapat dilakukan melalui perbaikan cara panen dan penanganan pascapanen serta metode dan kondisi proses penyulingan. Penyulingan dengan tekanan uap bertahap merupakan salah satu solusi yang dapat digunakan untuk memperbaiki mutu minyak dan meningkatkan efisiensi produksi minyak akar wangi. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tekanan uap bertahap (tekanan uap 2,0; 2,5; dan 3,0 bar dengan total waktu penyulingan 9 jam) dapat menghasilkan recovery minyak sebesar 92,58%, lebih tinggi dibandingkan dengan recovery minyak pada tekanan uap 3 bar secara konstan (90,4%). Mutu minyak yang dihasilkan memenuhi syarat SNI No. 06-2386-2006. Penggunaan tekanan uap bertahap juga dapat menghemat konsumsi energi (bahan bakar) rata-rata sebesar 8,30% dibandingkan dengan konsumsi energi yang digunakan pada penyulingan rakyat.
Diversivikasi Produk Lada(Piper Nigrum) Untuk Peningkatan Nilai Tambah nFN Risfaheri
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 8, No 1 (2012): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nilai tambah komoditas lada sangat berpeluang ditingkatkan, mengingat lada Indonesia masih diperdagangkan dalam bentuk konvensional, yaitu: lada hitam dan lada putih yang diekspor dalam bentuk curah. Di negara pengimpor, lada tersebut diproses lebih lanjut melalui proses sterilisasi, grading, milling dan packaging, menjadi produk yang siap digunakan oleh industri makanan, rumah tangga, dan restoran. Dalam perdagangan dunia dikenal berbagai produk diversifikasi lada, seperti: aneka produk lada hijau, oleoresin, minyak lada dan produk turunannya. Publikasi ilmiah mutakhir menginformasikan bahwa lada juga memiliki khasiat bagi kesehatan, di antaranya dapat mengontrol lemak dalam darah dan mempunyai efek anti kanker. Kegunaan yang beragam tersebut, membuka peluang bagi pengembangan diversifikasi produk lada. Diversifikasi produk lada baik vertikal maupun horisontal akan meningkatkan nilai tambah dan akan memperluas pasar lada Indonesia. Diversifikasi produk lada sangat prospektif dan berpeluang dikembangkan, karena teknologinya sudah tersedia dan dapat diterapkan mulai dari tingkat perdesaan sampai pada skala usaha kecil dan menengah. Diperlukan dukungan kebijakan pemerintah yang kondusif untuk mendorong tumbuhnya agroindustri diversifikasi produk lada di Indonesia.