cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Teknologi Pasca Panen
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 18583504     EISSN : -     DOI : -
Buletin Penelitian Pascapanen Pertanian memuat tinjauan (review) hasil-hasil penelitian dikaitkan dengan teori, aplikasi dan kebijakan dengan tujuan memberikan informasi teknologi dan kebijakan pascapanen pertanian kepada pengguna. Buletin ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 46 Documents
PENGOLAHAN BIJI JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) MENJADI SUMBER BAHAN BAKAR NABATI DAN PEMANFAATAN PRODUK SAMPING Niken Harimurti; Djajeng Sumangat
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 7, No 1 (2011): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biji jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan sumber bahan baku minyak non-pangan (nonedible oil)yang berasal dari tanaman. Minyak jarak pagar dapat diolah menjadi biodiesel yang berpotensi untuk alternatif substitusi minyak solar untuk bahan bakar mesin diesel atau substitusi minyak tanah. Ekstraksi minyak jarak pagar umumnya dilakukan dengan cara pengempaan mekanis yang lebih layak secara ekonomis. Minyak kasar yang dihasilkan memerlukan pemurnian sebelum digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Proses pembuatan biodiesel dilakukan melalui proses transesterifikasi dengan meraksikan minyak dengan metanol pada nisbah molar optimal (1:6) dan katalis basa K/NaOH pada suhu reaksi 60-680C. Metil ester yang dihasilkan adalah biodiesel kasar yang memerlukan pemurnian. Karakteristik biodiesel dari minyak jarak pagar dengan biji dari Nusa Tenggara Barat memenuhi syarat mutu SNI. Sebagai hasil samping pada ekstraksi minyak, diperoleh bungkil biji jarak pagar yang dapat diolah menjadi briket biomasa untuk bahan bakar tungku. Secara teknis dan ekonomis masih belum layak dengan sifat nyala api merah kuning dan berasap. Pengembangan minyak jarak sebagai bahan baku bahan bakar nabati masih terkendala oleh terbatasnya produksi biji jarak pagar dengan harga jual yang belum kompetitif.
Kontaminasi Patulin Pada Buah dan Produk Olahan Apel Christina Winarti; nFN Miskiyah; S Joni Munarso
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 5, No 1 (2009): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Patulin (4-hydroxy-4H-furo (3,2c) pyran-2(6H)-one) merupakan mikotoksin yang diproduksi sejumlah kapang yang terdapat pada buah dan produk olahan buah, terutama apel. Penelitian membuktikan bahwa patulin berpotensi menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan, antara lain hyperaemia, pendarahan, peradangan dan pembengkakan saluran cerna. Pada dosis tinggi patulin bersifat karsinogenik, imunotoksik dan neurotoksik. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kadar patulin pada buah apel segar maupun jus apel, baik jenis lokal maupun impor. Sejumlah sampel diambil secara acak untuk pengujian kadar patulinnya.Buah apel sebanyak 15 sampel (12 sampel jenis Manalagi dan 3 sampel jenis Rome beauty), sedangkan untuk apel impor yaitu jenis Fuji dan Washington sebanyak 8 sampel yang diperoleh dari pedagang buah dan supermarket. Untuk produk olahan apel terdiri atas 20 sampel jus apel produk lokal dan 5 merk jus impor, serta masing-masing 2 sampel makanan bayi dan cider apel. Pengujian kadar kontaminan patulin dilakukan dengan HPLC dan sebelumnya dilakukan identifikasi jenis kapang pada buah segar. Hasil pengujian menunjukkan pada apel lokal var Manalagi teridentifikasi kapang Penicillium sp., Aspergillus sp., dan Fusarium sp., sementara pada apel Fuji hanya ditemukan Penicillium sp, Aspergillus sp. Hasil pengujian kadar patulin diketahui bahwa 33,3 % sampel apel lokal yang diuji positif terdeteksi mengandung patulin, sedangkan pada apel impor 37,5% positif terdeteksi patulin. Dari 5 sampel buah apel lokal yang positif tersebut 1 sampel mempunyai kadar patulin >50 mg/kg. Hasil pengujian terhadap produk olahan apel menunjukkan bahwa 17,6% sari apel lokal positif terdeteksi adanya patulin, sedangkan untuk sari apel impor 60% positif terdeteksi patulin dengan kadar > 50 mg/l. Pada produk makanan bayi semua sampel yang diuji tidak terdeteksi adanya patulin, sedangkan pada sampel cider apel, terdapat satu sampel positif mengandung patulin.
Characteristics and Postharvest Technology of Fresh-Cut Fruits and Vegetables nFN Qanytah; Ridwan Rachmat; Irpan Badrul Jamal
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 9, No 1 (2013): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing demand for ready to eat fresh fruits and vegetables, has increased demand for fresh cut fruits and vegetables. Supply for fresh cut fruits and vegetables is still facing many problems due to their short shelf life and changes in nutritional composition and taste. This is because plant tissue is a living tissue that can isolate many reactions and substrates. Plant tissues of fresh cut products may be wounded plant tissue during grading, sorting, washing, trimming, slicing, packaging, transporting, and loading processes. Physical, physiological, and chemical processes may occur as a result of tissue wounding. Understandiing of these characteristics would help select appropriate technologies to maintain the product quality and to prolong their shelf life. The effects of physiological, chemical, and microbiological processes on fresh cut product could be minimized by treatment such as acidification, edible coating, natural antimicrobial, firming agents, modified atmosphere packaging, low temprature, and heat treatments. Abstrak Versi IndonesiaKarakteristik Dan Teknologi Penanganan Produk Buah Dan Sayuran Terolah Minimal (Fresh Cut)Meningkatnya permintaan buah dan sayuran segar yang dapat dikonsumsi secara langsung berdampak pada peningkatan permintaan terhadap produk buah dan sayuran terolah minimal (fresh cut). Penyediaan produk buah dan sayuran terolah minimal masih banyak menghadapi kendala terkait umur simpannya yang pendek dan mudah mengalami perubahan komposisi kandungan gizi dan rasa. Hal ini terjadi karena jaringan tumbuhan merupakan jaringan hidup yang dapat mengisolasi berbagai reaksi dan substrat. Dalam proses penanganan produk terolah minimal terjadi luka pada jaringan tanaman, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Luka dapat terjadi dalam proses grading, sortasi, pencucian, pengupasan, pemotongan, pengemasan, transportasi, dan proses bongkar muat. Pada jaringan tanaman yang mengalami luka tersebut, Pengetahuan tentang perubahan karakteristik tersebut diperlukan sebagai dasar pemilihan teknologi yang tepat untuk mempertahankan mutu dan penggunaan edible coating, anti mikroba alami Firming Agent, Modified Atmosphere Packaging. perlakuan dingin, dan perlakuan panas.
Pengaruh Perbandingan Berat Buah Lada Dengan Air dan Waktu Pemblansiran terhadap Mutu Lada Hitam yang Dihasilkan Nanan Nurdjannah; nFN Hoerudin
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 3, No 1 (2007): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengolahan lada hitam di tingkat petani masih dilakukan secara tradisional yang umumnya belum memperhatikan efisiensi pengolahan, segi kebersihan dan konsistensi mutu. Dengan demikian, mutu lada yang dihasilkan cenderung rendah atau bahkan tidak memenuhi mutu yang disyaratkan negara importir. Untuk meningkatkan mutu dan daya saing lada Indonesia di pasar dunia, perlu dilakukan perbaikan cara pengolahan di tingkat petani sehingga dihasilkan lada dengan mutu sesuai standar ekspor. Untuk meningkatkan mutu lada hitam telah tersedia paket teknologi pengolahan lada hitam secara masinal yang dilengkapi dengan proses blanching. Untuk mendapatkan kondisi proses blanching yang tepat telah dilaksanakan percobaan untuk melihat pengaruh perbandingan berat buah lada dengan air ( 1:5, 2:5, 3:5) dan waktu pencelupan dalam air panas ( 2,5 dan 5 menit) terhadap mutu lada hitam. Temperatur air panas yang dipakai pada prosess blanching adalah 80oC. Dari hasil percobaan tersebut diduga perbandingan berat buah lada dengan air berpengaruh terhadap rendemen, rasio rehidrasi, dan kadar minyak atsiri lada yang dihasilkan. Karena itu untuk memperoleh mutu lada hitam yang baik faktor tersebut diatas perlu diperhatikan. Lama waktu blanching 2,5 menit pada suhu 80oC untuk semua perbandingan berat buah lada dan air nampaknya sudah cukup efisien dan efektif untuk menghasilkan lada hitam dengan karakteristik mutu yang cukup baik. Namun demikian untuk penggunaan berat buah yang lebih besar perlu diverifikasi kembali untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif, mengingat bahan yang akan digunakan berbeda jenis dan karakteristiknya.
Inovasi Teknologi Pascapanen Untuk Mengurangi Susut Hasil dan Mempertahankan Mutu Gabah/Beras di Tingkat Petani Sigit Nugraha
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 8, No 1 (2012): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha untuk meningkatkan produksi telah berhasil dilakukan oleh pemerintah, namun belum diikuti dengan penanganan pascapanen dengan baik. Varietas padi yang ditanam pada saat ini adalah varietas unggul baru. Salah satu kelemahan dari varietas unggul adalah mudah rontok, sehingga menyebabkan kehilangan pada saat panen dan perontokan tinggi. Disadari bahwa penanganan pascapanen secara tidak tepat dapat menimbulkan susut atau kehilangan baik mutu maupun fisik. Teknologi penekanan susut hasil yang dipilih untuk diterapkan harus teknologi yang sesuai dengan spesifik lokasi. Teknologi tersebut tidak bertentangan dengan masyarakat pengguna, baik secara teknis, ekonomis maupun sosial budaya masyarakat setempat. Kegagalan dalam proses penanganan pascapanen disamping dapat berakibat penurunan mutu juga dapat menimbulkan terjadinya susut hasil yang besar. Oleh karena itu inovasi teknologi pascapanen mulai dari penentuan umur panen padi yang tepat, sistem dan cara panen dan alat panen, cara dan alat perontok yang digunakan, perawatan gabah hasil panen dan proses pengeringan gabah merupakan tindakan yang perlu diketahui dan dilaksanakan dengan benar untuk dapat mempertahankan kualitas gabah. Tulisan ini membahas tahapan penanganan pascapanen padi maupun inovasi teknologi yang mendukung setiap tahapan pascapanen, sehingga dapat mempertahankan kualitas gabah. Gabah yang berkualitas baik akan menghasilkan beras berkualitas yang mempunyai daya saing dan nilai jual tinggi.
POTENSI BAKTERIOSIN DARI Lactobacilus sp. GALUR SCG 1223 SEBAGAI BIOPRESERVATIF PADA DAGING SEGAR Sri Usmiati; Nur Richana
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 7, No 2 (2011): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusakan pangan oleh mikroba patogen antara lain Escherichia coli, Salmonella thypimurium, Listeria monocytogenes dan Staphylococcus aureus dapat menimbulkan kerusakan produk dan penyakit bahkan kematian. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan usaha pengawetan pangan merupakan salah satu cara untuk menjaga keamanan dan memperpanjang masa simpannya. Aplikasi metode pengawetan pangan secara kimiawi dengan senyawa kimia sintetik dan non food grade (formalin, pemutih, boraks) sangat berbahaya akumulasinya dalam tubuh, karena menimbulkan gangguan metabolisme dan merusak kesehatan. Salah satu pengawet yang aman untuk kesehatan adalah yang dihasilkan secara alamiah oleh bakteri asam laktat (BAL) yang dikenal dengan nama bakteriosin. Beberapa kelebihan bakteriosin sebagai biopreservatif antara lain tidak toksik, dapat terdegradasi oleh enzim proteolitik pencernaan, tidak membahayakan mikroflora usus, mengurangi penggunaan pengawet bahan kimia, penggunaannya fleksibel, dan tahan terhadap proses pengolahan asam, basa, dan kondisi panas atau dingin. Produksi bakteriosin dengan aktivitas hambat yang baik terhadap patogen dapat menggunakan media komersial seperti deMann Rogosa Sharpe dan Trypton Glucosa Extract yang harganya mahal atau media alamiah lain yang harganya relatif murah dan mudah diperoleh seperti sayuran, gula dan karbohidrat lain yang dapat menginduksi BAL untuk menghasilkan bakteriosin. Bakteri asam laktat Lactobacillus sp. galur SCG 1223 dapat menghasilkan bakteriosin dengan daya hambat yang baik terhadap E. coli, S. thypimurium, dan L. monocytogenes dengan kondisi optimum produksi pH 5, suhu 33,5oC selama waktu inkubasi 9 jam. Dalam bentuk cair, bakteriosin dari Lactobacillus sp. galur SCG 1223 tahan disimpan selama 12 minggu dalam pendingin bersuhu 4oC, kondisi pH 2-4 dan memiliki ketahanan terhadap panas hingga 100oC, sedangkan dalam bentuk enkapsulasinya menggunakan formula 16,67% maltodekstrin: 83,33% susu skim bubuk dengan kondisi suhu masukan spray drying 150oC pada kadar bakteriosin cair 20%, aktivitas hambatnya menurun pada kisaran 24,5-44,4% terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Aplikasinya pada daging ayam dan daging sapi segar dengan bakteri uji E. coli, S. thypimurium dan L. monocytogenes menunjukkan potensi daya hambat bakteriosin dari Lactobacillus sp. galur SCG 1223 yang cukup besar, sehingga digolongkan sebagai bakteriosin yang berspektrum penghambatan yang luas terhadap kelompok bakteri Gram negatif dan Gram positif. Dengan potensi tersebut, diperlukan upaya proses pemurnian yang lebih sempurna untuk lebih meningkatkan kemampuannya sebagai biopreservatif serta diuji terhadap berbagai jenis bakteri patogen yang dominan sebagai kontaminan bahan pangan, serta diproduksi dalam bentuk serbuk seperti halnya bakteriosin komersial yang telah beredar di pasar seperti Nisin.
KONTAMINAN Enterobacter sakazakii PADA SUSU FORMULA BAYI DAN PENGENDALIANNYA nFN Misgiyarta; Maria Bintang
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 7, No 1 (2011): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mutu dan keamanan pangan merupakan satu parameter terpenting pada produksi pangan, termasuk susu formula bayi. Susu formula bayi memerlukan standar mutu dan keamanan yang tinggi. Kontaminasi Enterobacter sakazakii pada susu formula bayi mengancam kesehatan dan jiwa bayi. Penanganan kontaminasi E. sakazakii pada susu formula bayi sangat penting dilakukan. Penanganan tersebut antara lain (a) pengendalian proses produksi dengan penerapan higienitas yang tinggi dan penerapan sistem Hazard Analytical Critical Control Point (HACCP) yang ketat, (b) edukasi cara penyajian produk untuk dikonsumsi bayi secara benar di rumah sakit maupun di rumah tangga. Penanganan kontaminasi E. sakazakii pada produk susu formula bayi dengan benar menekan tingkat kematian bayi akibat infeksi E. sakazakii patogen.
Aplikasi Ultrasonik untuk Pendugaan Kerusakan Serangan Lalat Buah pada Mangga Arumanis Rokhani Hasbullah; Ridwan Rachmat; Dondy A Setyabudi; nFN Warji
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 5, No 1 (2009): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusakan akibat lalat buah biasanya terlihat jika buahnya dibuka. Metode gelombang ultrasonik dapat digunakan untuk mengetahui mutu buah bagian dalam tanpa merusak. Tujuan penelitian adalah pendugaan kerusakan mangga Arumanis yang diakibatkan lalat buah dengan menggunakan gelombang ultrasonik. Karakteristik gelombang ultrasonik yang diaplikasikan untuk pendugaan kerusakan mangga Arumanis adalah atenuasi, kecepatan, dan zero moment power (Mo). Koefisien atenuasi mangga tidak rusak adalah 36,45 Np/M, dengan kecepatan gelombang ultrasonik 518,19 m/detik, dan zero moment power (Mo) 4,58. Dalam aplikasinya pendugaan kerusakan mangga Arumanis menggunakan gelombang ultrasonik dapat digunakan pada batas koefisien atenuasi sebesar 34,76 Np/M dan zero moment power (Mo) 5,60. Pada bentuk pendugaan koefisien atenuasi lebih dari 34,76 Np/M mangga dinyatakan normal/tidak terinfeksi lalat buah, sedangkan pada koefisien atenuasi kurang atau sama dengan 34,76 Np/M diindikasikan telah terinfeksi lalat buah. Pada Zero moment power (Mo) lebih dari 5,60 mangga Arumanis diindikasikan normal/tidak terinfeksi lalat buah, sedangkan kurang dari atau sama 5,60 dapat diindikasikan sebagai telah terinfeksi lalat buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien atenuasi rata-rata mangga Arumanis sebesar 30,67 Np/m, kecepatan rata-rata gelombang ultrasonik 731,72 m/detik, dan zero moment power (Mo) 6,40.
Model Penggilingan Padi Terpadu Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Ridwan Rachmat
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 8, No 2 (2012): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggilingan padi merupakan titik sentral dari agroindustri padi. Penggilingan padi yang berkembang saat ini belum dirancang dengan pendekatan sistem agribisnis yang terpadu. Lebih dari itu, peralatan penggilingan sudah berumur lebih dari 15 tahun menyebabkan mutu dan rendemen beras yang diperoleh juga rendah. Peningkatan mutu dan rendemen beras dapat dilakukan dengan meningkatkan penggunaan kapasitas terpasang, mengurangi biaya, meningkatkan nilai tambah produk, dan memantapkan kelembagaan. Sehubungan dengan hal ini, perlu strategi usaha penggilingan padi secara terpadu yaitu beras menjadi bentuk keuntungan dan pendapatan dari hasil samping serta limbah dapat menutup biaya operasional proses produksi. Penerapan sistem manajemen mutu diperlukan untuk menjaga konsistensi produksi, kualitas dan efisiensi proses penggilingan beras. Untuk membangun sistem penggilingan padi terpadu diperlukan fasilitas yang memadai untuk memproduksi beras berkualitas dan mengolah hasil samping menjadi produk bernilai komersial. Fasilitas untuk penggilingan padi terpadu dapat dikelompokkan sesuai skala usaha untuk memproduksi beras premium, hasil samping berupa tepung beras, produk bihun, pakan ternak, dan briket arang sekam. Penanganan dan pengolahan padi dengan limbahnya secara terpadu dan komersial berpotensi meningkatkan nilai tambah berkisar Rp 6,4 juta hingga Rp16,6 juta per hektarnya.
Bahaya Kontaminasi Logam Berat Dalam Sayuran dan Alternatif Pencegahan Cemarannya nFN Widaningrum; nFN Miskiyah; nFN Suismono
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 3, No 1 (2007): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini produk pangan mentah maupun matang banyak terpapar logam berat dalam jumlah dan tingkat yang cukup mengkhawatirkan, terutama di kota-kota besar dimana tingkat polusi oleh asap pabrik dan asap buangan kendaraan bermotor telah mencapai tingkat yang sangat tinggi serta konsumsi makanan yang dikemas dengan kemasan modern seperti kaleng telah umum dijumpai. Sayur-sayuran berdaun yang ditanam di pinggir jalan raya memiliki resiko terpapar logam berat yang cukup tinggi. Data terakhir pada caisim kandungan timbal (Pb) bisa mencapai 28,78 ppm. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding dengan sayuran yang ditanam jauh dari jalan raya (±0-2 ppm), sedangkan batas aman residu Pb yang diperbolehkan oleh Ditjen POM pada makanan hanya 2 ppm. Pencemaran tersebut menyebabkan sebagian sayuran dapat mengandung logam berat yang membahayakan kesehatan, padahal sayuran merupakan menu sehari-hari di dalam diet orang Indonesia. Akumulasi logam berat di dalam tubuh manusia dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu sistem peredaran darah, urat syaraf dan kerja ginjal. Pada tingkat rumah tangga, penurunan jumlah residu logam berat yang terlanjur terdapat dalam sayuran dapat dilakukan dengan mencuci sayuran menggunakan sanitizer komersial atau memblansirnya dengan air mendidih selama 3-5 menit sebelum dikonsumsi atau diolah lebih lanjut. Para ibu rumah tangga juga sebaiknya tidak menggunakan peralatan masak yang dipatri dengan timbal dan membiasakan keluarga mengkonsumsi makanan yang mengandung serat tinggi. Penanganan pra panen dan pascapanen dapat dilakukan dengan pemakaian pupuk dan insektisida yang benar, melakukan cara pengangkutan yang baik selama distribusi sayuran, misalnya dengan menutup sayuran menggunakan terpal atau penutup yang aman agar sayuran terhindar dari kontaminasi logam berat dari debu kendaraan bermotor atau asap pabrik selama perjalanan menuju pasar atau konsumen.